1
PERAN NILAI SENTIMENTAL KECUKUPAN DALAM PENGUKURAN NILAI EKONOMIS ASET TETAP
Setiawan Parenda Hamonangan Sitorus FakultasEkonomi dan BisnisUniversitas Brawijaya
Email : [email protected]
ABSTRAK
This study aims to find and find out the role of sentimental value in measuring the economic value of fixed assets. Sentimental value is needed to balance the role of materialistic, selfish, secular and atheistic (MESA) in the measurement of the economic value of fixed assets in modern accounting. By using a case study with a spiritualist paradigm, this research uses “renungan malam” as a data analysis technique. Thus, the role of the nature of MESA can be balanced by including the altruistic and spiritualist traits contained in the role of sentimental values.The results of this study find the sentimental value of “kecukupan” and its role in measuring the economic value of fixed assets. These roles are: (1) Making sufficient money as a measure of the economic value of fixed assets and providing a sense of comfort and peace; (2) Positioning care based on love and affection over money in the measurement of the economic value of fixed assets; (3) Throwing away the secular nature and bringing back the spiritualist element in the measurement of the economic value of fixed assets; (4) Presents God in measuring the economic value of fixed assets. The four roles above present a sense of comfort and peace, love, and happiness (Nyata Bahagia).
Kata Kunci: Sentimental Value of “Kecukupan”, MESA, “Nyata Bahagia”
PENDAHULUAN
Pengukuran aset tetap memiliki urgensi dalam dunia akuntansi. Widati (2011) menyebutkan bahwa aset merupakan pos penting dalam akuntansi.
Menurut International Accounting Standards Comitte (IASC) aset adalah suatu sumber daya yang dikendalikan oleh perusahaan sebagai hasil kejadian masa lalu dimana diharapkan perusahaan akan mendapatkan manfaat ekonomis di masa depan. Definisi tersebut secara eksplisit menyatakan bahwa sebuah aset harus memiliki manfaat ekonomis di masa depan. Dengan kata lain, ketika manfaat ekonomis sebuah aset telah habis, ia tidak dapat lagi dikatakan sebagai aset.
Berdasarkan penjelasan di atas, nilai ekonomis sebuah aset ditentukan dari kemampuan sebuah aset untuk menghasilkan manfaat ekonomis bagi sebuah entitas. Sebuah aset memiliki nilai ekonomis yang tinggi ketika aset itu
2
menghasilkan manfaat ekonomis yang tinggi. Sebaliknya, ketika sebuah aset menghasilkan manfaat ekonomis yang rendah, maka aset tersebut memiliki nilai ekonomis yang rendah.
Hal tersebut dapat terjadi karena adanya peran dari nilai sentimental materialistik yang terdapat dalam pengukuran nilai ekonomis sebuah aset. Nilai tersebut berperan dalam menentukan nilai ekonomis sebuah aset dengan cara menjadikan manfaat ekonomis sebagai tolak ukur dalam pengukuran nilai ekonomis dari sebuah aset. Nilai sentimental merupakan sebuah nilai yang muncul akibat keterikatan emosional antara manusia dan sebuah objek. Nilai sentimental materialistik merupakan nilai yang terdapat dalam sebuah aset dalam akuntansi modern (Sitorus, 2015).
Dalam akuntansi modern terdapat dua metode dalam pengukuran nilai ekonomis aset tetap. Metode tersebut adalah fair value accounting (FVA) dan Historical cost accounting (HCA) (Elwood, 2006). Para peneliti akuntansi modern menyebutkan bahwa terdapat paradigma akuntansi bebas nilai (value free) pada kedua metode tersebut. Namun pandangan tersebut menuai kritik. Menurut Triyuwono (2006) Akuntansi tidak terbebas dari nilai sejak pada proses pembentukannya sendiri melibatkan manusia sebagai makhluk yang penuh dengan kepentingan. Dengan kata lain, pengukuran aset tetap dalam akuntansi modern yang berbasis value free tidak benar-benar bebas dari nilai. Sebaliknya, terdapat nilai materialistik dan egoistik dalam kedua metode pengukuran tersebut.
Nilai materialistik tersebut berimplikasi pada penggunaan aset hanya dijadikan alat untuk menghasilkan laba bagi perusahaan. Aset tidak digunakan untuk kepentingan apapun selain penambahan laba perusahaan. Di sisi lain, nilai egoistik menjadikan aset hanya untuk alat pemenuhan kepentingan pemilik saham yang berorientasi pada materi saja. Aset tidak digunakan untuk kepentingan apapun selain kepentingan material pemilik saham.
Nilai materialistik secara eksplisit terlihat dari definisi kedua metode tersebut. Menurut Suwardjono (2008; 475) HCA merupakan rupiah kesepakatan atau harga pertukaran yang telah tercatat dalam sistem pembukuan. Sedangkan FVA menurut Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan 68 (PSAK 68) ialah harga
3
yang akan diterima untuk menjual suatu aset atau harga yang akan dibayar untuk mengalihkan suatu liabilitas dalam transaksi teratur antara pelaku pasar pada tanggal pengukuran. Dari kedua definisi tersebut, kedua metode tersebut mengukur sebuah aset melalui ukuran harga atau rupiah yang tidak lain ialah sebuah materi.
Nilai egoistik di dalam metode pengukuran nilai ekonomis aset muncul ketika entitas beranggapan bahwa aset yang menghasilkan laba bagi perusahaan merupakan miliknya sendiri dan bukan menjadi milik orang lain. Hal tersebut tidak dapat disalahkan karena cara berfikir modern yang reduksionis, mekanis, linier, dikhotomis dan materialistik (Bashir 1986a; 1986b; Dhaouai 1993; dan Ragab 1993; Bakar 1994). Nilai egoistik berperan menyebabkan dehumanisasi pada diri manusia itu sendiri (Triyuwono ,2011).
Kedua metode tersebut memiliki kesamaan yaitu ingin mengukur nilai ekonomis aset tetap dalam bingkai angka. Pengukuran nilai ekonomis aset tetap tersebut didasari oleh nilai sentimental materialistik yang menjadikan manfaat ekonomis sebagai tolak ukur nilai ekonomis aset tetap. Fenomena tersebut memberikan kesimpulan bahwa FCA dan HCA merupakan bagian dari akuntansi modern yang menjadikan nilai materialistik untuk mengukur nilai ekonomis aset tetap.
Dalam perkembangan penelitian ilmu akuntansi, ditemukan nilai-nilai selain nilai material yang memiliki peran dalam perkembangan ilmu akuntansi, termasuk pengukuran nilai ekonomis aset tetap. Nilai tersebut merupakan nilai sentimental non materialistik. Adapun nilai sentimental non materialistik tersebut dijelaskan pada sub bab pembahasan selanjutnya
Peran nilai sentimental dalam tubuh akuntansi telah diteliti dan memiliki pengaruh terhadap perkembangan keilmuan akuntansi. Dalam pengukuran nilai ekonomis aset, nilai sentimental juga dapat memengaruhi pengukuran suatu objek atau aset. Peran nilai sentimental dalam pengukuran nilai ekonomis aset tetap baru ditemukan dalam konteks aset pada akuntansi yang terlembaga. Namun, belum terdapat penelitian mengenai peran nilai sentimental dalam pengukuran nilai ekonomis aset tetap pada konteks personal accounting.
4
Akuntansi yang tidak terlembaga merupakan konteks yang tidak dapat dianggap remeh. Pengukuran nilai ekonomis aset tetap pada konteks akuntansi yang tidak terlembaga juga erat hubungannya dengan nilai sentimental materialistik yang menimbulkan dehumanisasi pada manusia (Triyuwono, 2011).
Oleh karena itu saya merasa perlu adanya penelitian mengenai peran nilai sentimental non materialistik dalam pengukuran nilai ekonomis aset tetap pada konteks akuntansi yang tidak terlembaga untuk menyeimbangkan nilai sentimental materialistik yang ada di dalamnya.
Metode Penelitian
Penelitian merupakan proses yang dilakukan secara bertahap, yakni dari perencanaan dan perancangan penelitian, menentukan fokus penelitian, waktu penelitian, pengumpulan data, analisis dan penyajian hasil penelitian. Menurut Rahardjo (2010) berdasarkan karakteristik masalah yang diteliti, penelitian kualitatif dapat diklasifikasikan ke dalam delapan kategori, yaitu: (1) etnografi (ethnography), (2) studi kasus (case studies), (3) studi dokumen/teks (document studies), (4) observasi alami (natural observation), (5) wawancara terpusat (focused interviews), (6) fenomenologi (phenomenology), (7) teori dari dasar (grounded theory), (8) studi sejarah (historical research). Namun dalam perkembangannya terdapat penelitan dalam kategori paradigma spiritualis dalam penelitian akuntansi (Triyuwono 2011).
Desain penelitian yang digunakan dalam penulisan ini berdasar pada studi kasus menggunakan paradigma spiritualis. Yin (2002) menyebutkan bahwa studi kasus dapat dilakukan ketika kasus mewakili (1) kasus kritis untuk menguji teori, (2) kasus yang tidak biasa atau unik, (3) kasus umum yang dapat menambah pemahaman pada peristiwa tertentu, (4) kasus yang sebelumnya tidak dapat diakses, (5) kasus longitudinal. Kasus yang ada pada penelitian ini merupakan kasus yang tidak biasa atau unik yang berkaitan dengan latar belakang pada penelitian ini. Kasus tersebut adalah nilai ekonomis aset tetap yang tidak digambarkan melalui metode pengukuran nilai ekonomis aset tetap historical cost accounting maupun fair value accounting. Selain itu, Yin (2002) juga menyebutkan bahwa studi kasus dapat digunakan dengan mempertimbangkan
5
fokus penelitian untuk menjawab pertanyaan “bagaimana” dan “mengapa”. Dalam penelitian ini, studi kasus digunakan untuk menjawab pertanyaan bagaimana peran nilai sentimental dalam pengukuran nilai ekonomis aset tetap?
Studi kasus dalam penelitian ini menggunakan paradigma spiritualis untuk menemukan jawaban atas pertanyaan penelitian. Paradigma spiritualis bukan merupakan karakteristik baru dalam penelitian akuntansi. Paradigma spiritualis menekankan keutuhan pada sebuah konsep, yaitu keutuhan aspek kemanusiaan, spiritualitas, dan ketuhanan (Triyuwono 2015). Pada bab satu, saya menjelaskan bahwa dalam akuntansi modern, pengukuran nilai ekonomis aset tetap hanya terdapat peran nilai sentimental materialistik dan nilai sentimental egoistik. Hal tersebut belum menunjukan adanya keutuhan dalam pengukuran nilai ekonomis aset tetap.
Berdasarkan penjelasan di atas, studi kasus yang menggunakan paradigma spiritualis mampu menemukan jawaban atas pertanyaan pada penelitian ini. Pada satu sisi, karakteristik penelitian studi kasus dapat membantu saya menemukan peran nilai sentimental dalam pengukuran nilai ekonomis aset tetap. Di sisi lain, paradigma spiritualis dapat memberikan keutuhan aspek dalam pengukuran nilai ekonomis aset tetap. Berkaitan dengan hal tersebut, Saya merasa bahwa studi kasus yang menggunakan paradigma spiritualis merupakan desain penelitian yang dapat menjawab pertanyaan dalam penelitian ini:
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pada suatumalam, seharisebelummelakukanwawancara dengan informan pada penelitianini. Saya memulairenunganmalam dengan membacadoaBapa Kami secaraterus-menerus. Tidakadabatas yang sayatetapkan untuk mengakhiridoa tersebut. Dengan memejamkanmata dan melipattangan, sayamengucapkandoaBapa Kami dengan suara yang lirih. Dalam heningnyamalam dan lirihnyalantunandoa yang sayaucapkan, sayamerasakanTuhanhadirbersamasaya di dalam kamar yang sudahsayakunci.
6
Dalam suasana tersebut,
sayamerasabahwaTuhansedangmemeluksayadaribelakang. Pelukan tersebut
nyatasayarasakanmelaluikehangatan yang
menyelimutisetiaptubuhsayadaridinginnyaanginmalam yang masukmelaluibilikjendelakamarsaya.
Seketikatanpaalasansayaberhentimengucapdoa. Pada saat yang bersamaan dalam pikiransayaterngiangpotongandoaBapa Kami yang telahpuluhan kali sayaucapkan pada malamitu. Potongandoa tersebut sepertiberikutini:
“Bapa kami yang di sorga, dikuduskanlahnama-Mu, datanglahkerajaan- Mu, jadilahkehendak-Mu di bumiseperti di surga. Berilah kami pada hariinimakanan kami yang secukupnya dan ampunilahkesalahan kami, seperti kami juga mengampuni yang bersalahkepada kami”
SaatitusayamerasakanbahwaTuhansedangmemberikanpetunjukkepadasaya.
Apabilaada yang mempertanyakanapakahpetunjukitudatangnyadariTuhan?
Saya menjawab, betulpetunjuk tersebut datangdariTuhan. Saya seringmendapatkanpemahamanlangsungsepertiitusejakmengikutipersekutuandoa pada usia 12 tahun. Namunsayabarumenyadaribahwaitu adalah caraTuhanmemberikanpetunjukkepadaumat-Nya sejakmengikutikelas teori akuntansi syariah dan etikabisnis yang diberikan oleh Prof. IwanTriyuwono1.
Melaluikelas tersebut,
kepekaansayaataspetunjukTuhanmulaimunculhinggasaatini.
Berdasarkanpenjelasan di atas, sayayakinbahwapetunjuk yang sayadapatkanmerupakanpetunjukdariTuhan.
Petunjuk yang
telahsayadapatkankemudiansayaserahkankembalikepadaTuhan dengan berdialog
1 Dosen Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya Malang
7
dalam doamalamitu. Sebelumberdialog dengan Tuhan dalam doa, sayamenyanyikansebuahnyanyianpujian untuk Tuhan. Saya menyanyikansebuahpujianberjudul “Manis Kau Dengar”. Liriklagu tersebut sepertiini:
YaTuhanku, aku hendakbernyanyibagi-Mu selamakuhidup, yaAllahku, aku hendakbermazmurbagi-Mu selagikuada, yaTuhanku, aku hendakbernyanyibagi-Mu selamakuhidup, yaAllahku, aku hendakbermazmurbagi-Mu selagikuada, inilahygkurenungkan, setiapwaktu,
nyanyianpujian dan pengagungankepada-Mu,
biarlahmanis Kau dengarTuhan, manis Kau dengarTuhan, dan hatikubersukakarna-Mu.
Saya larut dalam nyanyian tersebut. Dalam nyanyian tersebut sayatidakmampumenahan air mata yang telahmenggenang pada keduamatasaya.
Air mata tersebut tidakterasajatuhmembahasi pipi saya. Bahkansaatmenulisini, sayamasihmeneteskan air matamengingathadiratTuhanmalamitu.
BiarlahsegalakemuliaanhanyamenjadimilikTuhan.
Setelah menyelesaikannyanyian dan pujian tersebut sayamengusap air mata dan menenangkankembalidiri dan hatisaya. Setelah diri dan hatisayatenang, sayakembalimemusatkanhati dan pikiransaya dalam hadiratTuhan dan mulaiberdialog dalam doakepada-Nya. Doa tersebut adalah sebagaiberikut:
“Bapa, Allah Abraham, Allah Ishak, Allah Yakub dalam pribadiTuhanYesusKristus. Inianak-Mu kembalikepada-Mu untuk menyerahkansemuapetunjuk yang telah Kau berikepadaanak-Mu ini.
Biarlahmelaluipetunjuk-Mu, kehendak-Mu
dapatdiwujudkanmelaluianak-Mu ini. Bapa, anak-Mu inimengucapkanterimakasih dan syukuratasberkat yang Kau berikankepada kami setiapharinyasehingga kami tidakkekurangansedikitpun.
SegalanyatelahEngkaucukupkanyaaBapa. YaaBapa, terkhusus untuk hariinianak-Mu berdoalancarkanlahkegiatanwawancara yang besokakan kami lakukan. Berikanlahpetunjuk-Mu selalu dalam wawancara tersebut. Lancarkanlahsehinggaanak-Mu dapatmenemukanperan nilai sentimental dalam pengukuran nilai
8
ekonomis aset tetap. Biarlahsemuanyahanya untuk kemuliaannama- Mu. Terimalahnyanyian, pujian dan doa yang anak-Mu persembahkanhanya untuk-Mu yaBapa. Hanya dalam nama-Mu kami berdoa dan mengucapsyukur, terpujilahTuhan, haleluya, aamiin.”
Setelah mengucapkandoa tersebut dalam pikiransayaterbesitbeberapakalimat yang telahsayaucapkan dalam doa tersebut. Kalimat tersebut adalah “biarlahkehendak- Mu dapatdiwujudkanmelaluianak-Mu” dan “berkat yang Kau berikankepada kami setiapharinyasehingga kami tidakkekurangansedikitpun.
SegalanyatelahEngkaucukupkanyaaBapa.” Saya merasabahwakeduakalimat tersebut merupakanpetunjuklanjutan yang sayadapatkandariTuhan.
Meskipunbelummengertisepenuhnyamaknadaripetunjuk yang Tuhanberikan, hatisayamerasatenang dan legakarenatelahmemperolehpetunjuk.
Saya memintakepadaTuhan agar diberikanpemahamanataspetunjuk yang Iaberikankepadasayamalamini. Renunganmalam pada saatitutelahusai. Saya kemudianberistirahat dan bersiap untuk melakukanwawancara dan observasi pada esokhari.
Keesokanharinyasayabersiappukul 06.00 WIB untuk membantu Bambang Prayudono (Pak Puh) untuk mempersiapkanbarangdagangannya.
Sebelumberanjakdarikamar, sayakembalimengucapkandoaBapa Kami.
Sebelumberanjak, sayateringatbahwa Pak
Puhpernahmemberitahukankepadasayabahwamobil yang
dimiliknyasempatditawar dengan harga tingginamuntidakdirelakannya.
Mengingathal tersebut sayakembalimemintatuntunan dan petunjukdariTuhan agar dapatmenemukanhalapa yang membuat Pak Puhtidakmerelakanmobilnya.
9
Setelah mempersiapkan dan memasukkanbarangdaganganke dalam mobil, saya dan Pak Puhmenujutempatberjualan. Tempatberjualan yang dipilih oleh Pak Puhberada di pinggirjalanraya yang tidakjauhdarirumahbeliau.
Hanyamengendaraimobilselama lima menit, kami sudahsampai di tempatberjualan dan menataperlengkapanberjualan di sekitarmobil.
Tidaklebihdarisepuluhmenitmempersiapkanperlengkapandagang, Pak Puh dan sayasiapmenunggu dan melayanipelanggan yang akandatang.
Sembarimenunggupelanggan, sayabertanya dan Pak
Puhmenceritakanawalperjalanannyaketikamemutuskanberjualan nasi gudeg.
“mulaijualanituginiceritanya, sayapensiun, trusmikir, Lhokoknganggur? Laluterkena stroke, stroke sampailumpuh, pernahlumpuh. Tapi alhamdulillah sembuh. Trus orang-orang bilangjanganbegitu Pak, anuu, cariusaha lain. Trussayaberfikir, udahlah, anuu, Ibukan (Bu Puh) pinterbikingudeg, dan yang ngajarinitu juga Eyang, jadiyaitubukaitu. Mulaijualangudegtahun 2011. Biaradakegiatannya” (Pak Puh).
Kalimatterakhirdarijawaban Pak Puhmenarikperhatiansaya. Dari kalimat tersebut sayamengertibahwakeputusan Pak Puh untuk berjualan adalah untuk
memberikankesibukan di masa pensiunnya. Di
sampingitusayatelahmengamatimemangsebagianbesarwaktu yang dimiliki Pak Puh dalam seharidihabiskan untuk berjualan nasi gudeg.
Selainitu Pak Puh juga menceritakanbagaimanamobil yang awalnyahanyadigunakansebagaimodatransportasipribadiberubahmenjadi aset tetap yang digunakan untuk berjualan.
“iyaa, tapiitu, pertama kali buka di rumah, bukawarung di situ, pertama kali ramai, trus lama-lama sepi lama-lama sepi, karenaapa? Karena posisirumahsayaituberada di kampung sedikit,
10
jadipelangganitu malas,
pengennyakanbeliberhentisebentarlalupergi.
Akhirnyayasudahkarnamelihatpolapelanggansepertiitu,
akhirnyaberubahjadipakaimobil. Pertama kali jualan pun sebenarnya Bu Puhragu, bisalakunggak? Dicobaaja, begitusayacobajualan, 3 jam habis, truskaget, kok 3 jam
sudahpulang, ternyatasudahhabis,
sejakdariitumulailebihsemangatjualan di Mobil.
Begituceritaawalnya.” (Pak Puh).
Ekspresi Pak Puhsaatmengungkapkankejadian tersebut begitupenuh dengan kebahagiaan dan kepuasan. Melaluipernyataan Pak Puh di atas, sayamenyimpulkanbahwamobil yang notabenemerupakanmodatransportasipribadi Pak Puh dan keluarganyatelahberubahmenjadi aset tetap usahanya. Selainitu, aset
tetap tersebut telahmemberikankepuasanbagi Pak
Puhkarenatelahberhasilmemberikankemampuan dalam
mencukupikebutuhanfisiologis.
Dari jawaban yang telahdiberikan Pak Puh, mobilmiliknyatelahmemenuhikarakteristik aset menurut International Accounting Standards Comitte(IASC) yang telahdisebutkan pada bagianpendahuluanbabini.
Mobil yang diperoleh oleh Pak Puh di masa
lalutelahmemberikanmanfaatekonomisbaginya. Lebihspesifik, Pak Puhmenegaskan dalam pernyataannyabahwapemenuhankebutuhanfisiologis tersebut diwujudkandariuang yang diperolehdarihasilberjualan.
“iyaaduluawalawalberjualan di mobilmemangmenjanjikan, sayaseharibisadapatsatujuta, tapi lama-lama turun,
gataumungkinbanyakpenjual lain dan
dayabelimasyarakatmenurun,
tapitetepalhamdulilahpenghasilandarimobilinibisasayabuatmakans ehari-hari”. (Pak Puh).
11
Pernyataanmenarikdarijawaban Pak Puh adalah
meskipunkondisipendapatanpenjualancenderungmenurundariwaktukewaktu, Pak Puh tetap menjadi orang yang selalumensyukuriatasapa yang didapatkan dan mengganggapnyasebagaipemberiandariTuhansebagaisaranapemenuhankebutuhan hidupnya.
Selainitu, terdapatpernyataan yang menarik lain darijawaban Pak Puh di atas. Iamenyebutkanbahwapenghasilandarimobil yang dipakainyaberjualandapatdigunakan untuk memenuhikebutuhanmakansehari- harikeluarganya. Saya kemudianterdiamsejenak dan kembalimemikirkanapa yang
sayadapatkan pada saatrenunganmalam. Dalam
renunganmalamseharisebelummelakukanwawancara, sayateringatkalimat dalam doaBapa Kami yang pada saatituterbesit dalam pikiransaya. Doa tersebut adalah sepertiini “berkat yang Kau berikankepada kami setiapharinyasehingga kami tidakkekurangansedikitpun. SegalanyatelahEngkaucukupkanyaaBapa”. Selainitu pada saatrenunganmalam, sayaselaluterngiangsatukalimat dalam doaBapa Kami.
Kalimat tersebut adalah “Berilah kami pada hariinimakanan kami yang secukupnya”.
Saya kemudianmenyadaribahwaterdapathubunganantarakalimatdoa yang selaluterngiang dalam pikiransayasaatrenunganmalam dengan perkataan Pak Puh.
Di satusisi, Pak Puhmenyebutkanbahwapendapatan yang diperolehnyamampumencukupikebutuhanmakandirinya dan keluarganya. Di sisi yang lain, potongandoaBapa Kami yang terngiang di
pikiransayamengajarkanmanusia untuk
selalumemintakecukupankebutuhanmakansehari-harikepadaTuhan.
12
Kecukupanmerupakan kata yang selaluada dalam setiapkalimat di atas. Pada titikinisayamerasayakinbahwakecukupanmerupakanjawaban yang diberikan oleh Tuhanataspertanyaan yang sayaberikanadarenunganmalam yang lalu.
Saya merasasenangkarenasayasadar dan
dapatmemahamibetulbahwaTuhanmemberikanjawabanataspertanyaansaya. Nilai Sentimental Kecukupan adalah jawabanataspertanyaan dalam doasaya. Saya kemudianbersyukurkepadaTuhan yang telahmemberikanjawabanbahwa nilai sentimental yang ada pada aset tetap milik Pak Puh adalah nilai sentimental kecukupan.
Peran Nilai Sentimental Kecukupan
Sebelumkembalibertanyakepada Pak Puhmengenaitopikpenelitianini, saya dan Pak Puhsedang duduk di depanmobilsambilmenunggupelanggan yang takkunjungdatang. Pada waktuitusayatiba-tibasayamengingatperkataan Pak Puh yang menyebutkansepertiini:
“tapitetepalhamdulilahpenghasilandarimobilinibisasayabuatmakan sehari-hari. (Pak Puh).”
Saatitu juga sayateringatkalimat yang terdapat dalam doaBapa Kami. Kalimat tersebut berbunyi “Berilah kami pada hari I nimakanan kami yang secukupnya”.
Saya kemudiankembalimemikirkankaitanantara nilai sentimental kecukupan dan pemenuhankebutuhanhidup.
Saya kemudiankembaliberfikirbahwa dalam akuntansi modern terdapat nilai sentimental materialistik (Triyuwono, 2011). Nilai tersebut juga dijadikandasar dalam pengukuran nilai ekonomis aset tetap. Pada pemaparanbabsatu, sayamenyampaikanbahwa nilai sentimental materialistik tersebut menjadikan aset tetap hanyasebagaialat untuk menimbunkekayaan. Nilai
13
tersebut juga menjadikan aset tidakdigunakan untuk kepentinganapapunselainpenambahan laba perusahaan.
Namun dalam penelitianini, ataskemurahanTuhan, sayamenemukan nilai sentimental kecukupan yang mampumenjadisintesisdari nilai sentimental materialistik. Berbeda dengan nilai sentimental materialistik, nilai sentimental
kecukupanberperan untuk menjadikan aset tetap
sebagaialatpemenuhankebutuhanhidup. Pada titikini, sayamenyadaribetulbahwapemahamanmengenaiperan nilai sentimental kecukupanberasaldariTuhanmelaluilogika spiritual yang iaberikan.
Untuk lebihmeyakinkansayaterhadapperan tersebut, sayamemberikansebuahpertanyaankepada Pak Puh. Saya menanyakantentangbagaimanakalaupendapatan yang beliauterimahanyasedikit?
Pertanyaaninisayaberikan untuk mengetahuiapakah nilai sentimental materialistik pada akuntansi modern juga terdapat dalam usaha Pak Puh? Pak Puh dengan santaimenjawabpertanyaansaya. Jawabanbeliau adalah sebagaiberikut:
“Namanya berkahsudahada yang atur,
jadikalaupenghasilanbanyakyaadisyukuri, kalausedikityaagak papa, kanini juga ibadah. Semuapastisudahdijaminsama Allah.”(Pak Puh).
Dalam jawaban tersebut Pak
Puhmenegaskanbahwasedikitataubanyaknyapendapatan yang iaperolehbukanlahhal yang penting. Jawaban Pak Puh kali ini juga menegaskanbahwauangbukanlahtujuanakhirdaripenggunaan aset tetap. Hal inilah yang membedakanantaraperan nilai sentimental materialistik dengan peran nilai sentimental kecukupan. Nilai sentimental kecukupanmenjadikan aset
14
tetaplahobjek yang berhargaketikamampumemenuhikebutuhanekonomi, terlepasdarisedikitataubanyaknyauang yang didapatkan.
Mendengarjawaban Pak Puhhatisayamenjadilega. Rasa syukurtidakberhentisayaucapkanhanyakepadaTuhan. Dalam hatisayaberkata
“TrimakasihyaaTuhanatasjawaban-Mu terhadappertanyaananak-Mu ini”.
Mendapatkanperanpertamadari nilai sentimental kecukupan membuat sayasemakinsemangat dan bersyukur. Saya juga bersyukurbahwainforman yang sayapilihmerupakan orang yang dapatmenjadi media bagiTuhan untuk menyampaikanjawabannya. BiarlahkemulianhanyabagiTuhan, terpujilahTuhan.
Setelah menemukanperanpertamadari nilai sentimental kecukupan. Dalam
hatisayakembaliberdoakepadaTuhan agar
kembalidiberikanjawabanataspertanyaansaya pada penelitianini. Doa tersebut adalah sebagaiberikut:
“Bapaterimakasihatasjawaban-Mu. Sekaranganak-Mu inimengertibahwaperandari nilai sentimental kecukupan adalah menajdikan aset sebagaialatpemenuhankebutuhanekonomi.
YaaaBapa, berikanlahkembalikepadaanak-Mu inijawabanataspertanyaanpenelitianini.
Berilahpetunjukbilamasihterdapatperan lain dari nilai sentimental kecukupan. TerimakasihyaaBapa, hanyapadamusegalakemuliaan, terpujilahTuhan, Aamiin.”
Setelah mengucapsyukur dan berdoa, sayakembalimelanjutkanwawancara dengan Pak Puh.
Sebelumbertanya, sayamengamatidiri Pak Puh, beliaumerupakanpensiunan yang mengisiaktivitassehari-harinya dengan berjualan. Hal tersebut menarikperhatiansaya. Saya mengetahuibahwa Pak
15
Puhmemilikiuangpesiunan yang dapatdijadikanpemenuhanhidupnya, namun, beliau tetap melakukankegiatanusahasetiapharinya. Saya pun menanyakanhal tersebut kepadanya, Pak Puhkembalimenjawabsepertiberikutini:
jadimobiliniemangbeli, jadisayawaktudinas di Semarang sayabelimobilini,
tapihampirgakpernahdipakekarnasayapakaimobildinas.
Nyarisgakterpakai, yaakepakenyasetelahpensiunitu. Setelah pensiuntidakadakegiatan, sayasakit, untungbisajualanini, anuuu, jadiadakegiatannya, jadiseneng, jadisehatlagi. (Pak Puh).
Saya melihatekspresisedihbercampursenang pada Pak Puh. Saya merasakanbahwa Pak Puhsedihkarenapernahmenderitastroke dan secarabersamaanmerasasenangkarenakesehatannyatelahpulih.
Selainitu, melaluipernyataan tersebut saya juga melihatbahwaaktualisasidiri dalam bentukaktivitaskeseharian juga didapatkan Pak Puhmelaluipemanfaatanmobil tersebut. Hal tersebut tampakjelasdaripernyataanbeliaubahwamobil tersebut digunakansetelahpensiun.
Pada masa sebelumpensiun tersebut Pak Puhmengaktualisasikandirinya dalam pekerjaannyasebagaikaryawanperusahaanswasta. Namunsetelahpensiun, Pak Puhmengaktualisasikandirinya dengan berjualan.
Saya
kemudianberfikirbahwaTuhantidakhanyamemenuhikebutuhanhidupmanusia dalam konteksfisiologismelainkan juga dalam kontekskebutuhan mental atauaktualisasidiri. SaatitusayamerasaTuhanmengingatkansaya pada sebuahayat dalam alkitab yang menyatakanbahwaTuhanselalumemberikankebahagiaan dalam bentukdamaisejahtera. Ayat tersebut berbunyisebagaiberikut:
16
Sebab Aku inimengetahuirancangan-rancanganapa yang ada pada- Ku mengenaikamu, demikianlahfirmanTuhan, yaiturancangandamaisejahtera dan bukanrancangankecelakaan, untuk memberikankepadamuharidepan yang penuhharapan.
(Yeremia 29:11)
Saya mencobamenangkapmaksudTuhan dalam ayat tersebut. Saya kembalimenyerahkanayatinikepadaTuhan. Dalam hatisayaberdoakepadaTuhan untuk memberikanpemahamanatasayat tersebut.
Belumusaisayaberdoa di dalam hati, datangseorangpelangganmembeli nasi gudegmilik Pak Puh. Pada saatmelayanipelanggan tersebut, sayamemperhatikanbetulrautekspresi Pak Puh. Pak Puhterlihatsangatsenang dan melayanipelanggan dengan penuhsenyumansertaucapan yang ramah. Dalam hatisayaberkatakepadaTuhan “apakahini yang Kau maksud dengan Damai
Sejahtera yaaBapa?” Rupanya kali
iniTuhanmemberikanjawabanmelaluirautekspresi Pak Puh.
Saya kemudianberfikirbahwa nilai sentimental
kecukupantidakhanyamenjadikan aset
sebagaialatpemenuhankebutuhanekonomimelainkan juga menjadikan aset sebagaialataktualisasidiri untuk mendapatkankebahagiaanataudamaisejahtera.
Saya
bersyukurkepadaTuhankarenatelahkembalimemberikanjawabankepadasayamenge naipertanyaan dalam penelitianini. Saya merasasangatdekat dengan Tuhan.
sayakembalidapatmerasakanbahwaTuhanhadir dalam setiaplangkahsaya.
TerpujilahTuhan.
17 Saya
kemudiankembaliberfikirbahwakebahagiaanmerupakankepuasanbatin.
Kepuasanbatinpernahdiungkapkan oleh Belkaoui (2000:129) yang menyatakanbahwa laba ekonomisebagairangkaiankejadian yang berhubungan dengan kondisi yang berbeda, yaitu laba kepuasanbatin. Dalam penelitianinisayamenemukanbahwa rasa senang dan kepuasan yang diperoleh oleh Pak Puhmencerminkankepuasanbatin. Hal ini juga diperkuat oleh Sari (2014) yang menyatakan laba sesungguhnya adalah pernyataanataskejadian yang meningkatkankesenanganbatin. Berdasarkanpenjelasan di atassayamerasayakin dan sangatsenangkarenadapatmenemukansatuperanlagi dalam penelitianini.
Setelah mendapatkankeduaperan di atas, sayamasihmerasakansesuatuhal yang mengganjal dalam benaksaya. Saya merasamasihterdapatperan lain dalam nilai sentimental kecukupanini. Saya kembalimenyerahkankepadaTuhanagar diberikanpetunjukkembali. Dalam hatisayakembaliberdoakepadaTuhan. Doa tersebut sebagaiberikut:
“YaaaBapa, terimakasihatasjawaban yang
telahEngkauberikankembalikepadaanak-Mu ini. YaaaBapa, dalam hatianak-Mu inimasihterdapatganjalan, anak-Mu merasabahwamasihterdapatperan lain dalam nilai sentimental kecukupaniniyaaBapa. BerilahpetunjukmuyaBapa, hanyakehendak-Mu yang jadi. SegalaPujihanyabagi-Mu, Aamiin.”
Setelah mengucapkandoa tersebut dalam hati, sayakembalimelanjutkanwawancara dan observasi dalam penelitianini. Sebelumkembalibertanya, sayamengamatiterlebihdahuludiri Pak Puh.
18
Saya mengamati dalam kesehariannya, Pak Puhhidupsaturumahbersama dengan istri dan seorangcucunya yang sedangmenempuh Pendidikan di Kota Malang. Selainitu, Pak Puh juga memilikibeberapasaudara yang tidaktinggal dalam saturumahnamunmasihberada dalam satukota, yaitu Malang. Di sampingitu, Pak Puhmerupakananaktertua dan dituakan dalam keluarganya.
Kondisi tersebut terkadangmemberikankewajiban moral pada Pak Puh untuk menyediakanakomodasibagikeluargasaatterdapat acara keluarga. Jumlahkeluarga yang dimiliki Pak Puh di Kota Malang memaksabeliau untuk menyediakanmobiljikaterdapat acara keluarga. Hal tersebut terlihat dalam pernyataan Pak Puhmengenaikondisi tersebut.
“yaaaadanyainiyaaini yang dipakai, sebenernyabanyak yang bilangsayangkalaupakaimobilini untuk jualan.
Mungkinsayabisayaasayagantimobilini dengan mobil grand max, tapienggaklah, mobilinienak, perawatannya juga mudah, daribarutidakpernahmenyusahkansaya, allhamdullilah (sambal sedikittertawa)…Kalaukeluargamaupergi, iyasayagunakan, sempatdua kali mobilinisayapakaiberlibur dengan keluargake Bali (sambiltersenyumbangga)” (Pak Puh).
Ekspresi Pak Puh kali inilebihsemangat dalam menyatakanhal tersebut. Saya merasakanbahwaiabangga dengan adanyamobil tersebut. Saya
merasahalitudapatterjadikarena Pak
Puhmerasabahwabukanhanyakebutuhandirinyasendiri yang dicukupkanmelainkankebutuhankeluarganya juga telahdicukupkan.
Saya merasaterdapatsebuahhal yang menarik pada pernyataan tersebut.
Dalam pernyataan tersebut Pak
Puhmenyebutkanbahwaketikakeluarganyamembutuhkan, mobil tersebut dapatdigunakan untuk kebutuhankeluarganya. Pernyataan tersebut
19
kembalimemberikansebuahhal yang berbedamengenaikegunaan aset. Pada akuntansi modern, manfaat aset tetap diberikanhanya untuk aktivitasoperasionalperusahaanataudigunakan untuk memberikanmanfaatekonomibagiperusahaan. Hal tersebut terlihat dalam definisi aset menurut International accounting standards comitte(IASC) yang menyatakanbahwa aset adalah suatusumberdaya yang dikendalikan oleh
perusahaansebagaihasilkejadian masa
laludimanadiharapkanperusahaanakanmendapatkanmanfaatekonomis di masa depan. Namun dalam penelitianini aset digunakan juga untuk aktivitas di luaroperasionalusaha. Hal tersebut terlihatdaridigunakannyamobil Pak Puhsebagaisaranabepergiankeluarga Pak Puhtanpaadanyamanfaatekonomi yang diperoleh.
Saya kemudianmemikirkankaitanantara nilai sentimental kecukupan dengan terpenuhinyakebutuhan non ekonomiskeluarga Pak Puh. Saya kemudiansecaratiba-tibateringatsatuayat dalam alkitab yang menyatakanbahwaTuhanmenjaminkebutuhankeluargaumat-Nya. Ayat inimerupakanayatemas yang sayaperolehketikaperayaan natal di tahun 2018.
Beginibunyiayat tersebut:
“Dahulu aku muda, sekarangtelahmenjaditua, tetapitidakpernahkulihat orang benarditinggalkan, atauanakcucunyameminta-minta roti” (Mazmur 37:25)
Saya kembalimencobamenangkapmaksudTuhanmelaluiayat tersebut. Saya kembaliberdoakepadaTuhanmemintapetunjuknya. Dalam hatisayaberdoa
20
“YaaaBapa, berikanlahpetunjukatasayat yang Engkauingatkankepadaanak-Mu ini”.
Sesaatsetelahmengucapkandoa tersebut,
sayamendapatkanpemahamansecaralangsung dalam pikiransaya. Saya
memahamibahwa nilai kecukupan sentimental
tidakhanyamemberikandampakkepadapribadiseseorang, namun juga
memberikandampakkepada orang yang berada di
sekitarnyabahkansampaikecucunya. Nilai kecukupan yang memberikandampakkepadakeluarga Pak Puhmampumenghadirkan rasa cinta dan kasihsayang dalam keluarga Pak Puh. TerpujilahTuhan, hanyabagimukemuliaanyaaBapa.
Saya kemudiankembaliberfikirbahwa aset tetap yang dimiliki Pak Puhtidakdigunakanhanya untuk mencariuangsemata. Namun aset tersebut juga digunakanatasdasar rasa cintaterhadapkeluarga. Melaluikesehariannya, sayadapatmelihatbahwa Pak Puhmerupakanseorangsuami yang sayangtehadapistrinya, seorang ayah yang sayangterhadapanaknya dan seorangkakek yang sayangterhadapcucunya. Aset yang dimilikinya pun juga digunakan untuk memberikankecukupanbagikeluarganya.
Mendapatkanpemahaman tersebut membuat hatisayamenjadilega, seakanganjalan yang sebelumnyaada, kinitelahhilang.
KinisayayakinbahwaTuhantelahmemberikanjawabanataspertanyaansaya. Saya semakinsadarbahwabukansebuahkebetulandapatdipertemukan dengan Pak Puhsebagaiinformansaya. TerpujilahTuhan.
21 Menutup dengan Doa
Saya rindu untuk kembali duduk di kaki Tuhan dan berdoakepada-Nya. Kasih
kemurahan-Nya nyata dalam hidupsaya. Saya
tidakmenyadaribahwasayabukanlahsiapa-siapatanpapertolonganTuhan:
Bapa dalam kerjaansurga yang kami sembah dalam pribadiTuhanYesusKristus. Anak-Mu mengucapkansyukur dan terimakasihataskasihkemurahan-Mu. YaaBapa, penelitianinimencoba untuk memformulaskan konsep pengukuran nilai ekonomis aset tetap berdasarkanperan nilai sentimental kecukupan. Penelitianinimencobamenyeimbangkan nilai sentimental materialistik dan egoistik dengan memasukkan nilai-nilai non materiberupa nilai mental dan nilai spiritual, sehinggadiharapkanpembacaanmengenai konsep pengukuran nilai ekonomis aset tetap kedepannyamenjadisemakin kaya dan beragam dengan masuknya nilai-nilai non-materi tersebut. YaaBapa, dalam penelitianiniengkautelahmembimbinganak- Mu inihinggatahapakhirpenelitianini. yaaaBapa, perjalanan yang anak-Mu jalanibukanlahhal yang ringan. SejakbulanJuli 2018 yang laluanak-Mu inidatangmenemui Prof. IwanTriyuwono untuk mengajukantopikpenelitian.
Anak-Namunhanyaatasijin yang kau berikan,
penelitianinisempattertundaselamadelapanbulankarenaanak-Mu
iniharusmenjalaniaktivitasmagangsebagaikaryawan di salah satukantorakuntanpublik di Jakarta.
YaaaBapa, bukanhal yang mudah dalam menentukantopik, jenispenelitian, desain penelitian dan intrumenpenelitianlainnya dalam penelitianini. anak-Mu telahmelakukanberbagaimacamperubahan dan perbaikan
22
dalam penelitianinihingga pada akhirnyadapatmenemukan instrument penelitian yang tapat. Tentuinisemuaatasijin dan kehendak-Mu yaaBapa.
TerimakasihyaaaBapaatasijin dan kehendak-Mu
penelitianiniakhirnyamenggunakanjenispenelitiankualitatif dengan desain penelitianstudi kasus yang menggunakanparadigmaspiritualis. Penyertaan-Mu juga anak-Mu rasakan dalam pemilihan situs dalam penelitianiniyaaaBapa. Anak- Mu menyadaribahwaanak-Mu bolehmerencanakansesuatu, namunkehendak-Mu lah yang jadi. Sebanyaktiga kali anak-Mu mengganti situs penelitianhinggaakhirnyaEngkautetapkanusahamilik Pak Puhsebagai situs penelitianini.
YaaBapa, atasijin dan kehendak-Mu juga lahanak-Mu dapatmenemukanperan nilai sentimental dan memformulasikannyamenjadisebuah konsep baru yang menghasilkan rasa “Nyata Bahagia”. Meskipun konsep tersebut belumdapatdikatakansepenuhnyasebagai konsep pengukuran nilai ekonomis aset tetap karenabelumadanyacarakonkret dalam pelaksanaannya, anak-Mu bersyukurkarena konsep inimenunjukkanperbedaannya dengan konsep lama yang berlandaskan MESA. Dalam konsep lama dalam akuntansi modern terdapatracun MESA yang mengabaikan nilai spiritualistik dan altruistik. Hal tersebut berperanmenjadikanpengukuran aset tetap hanyadidasari oleh hal yang bersifatmateri. Hamba-Mu bersyukurbahwa nilai sentimental kecukupanmampumenyeimbangkanhal tersebut dan menjadikan rasa cinta, kasihsayang, dan kebahagiaansebagaidasarpengukuran nilai ekonomis aset tetap.
23 Daftar Pustaka
Alkitab. 1997. Alkitab, cetakan ke-159. Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia
Aman, S. (2014). KalimatZikirBergaransiKeberuntungan. Banten:
PenerbitRuhama.
Arikunto, S. (2006). Suhardjono, dan Supardi. 2006. Penelitiantindakankelas.
Bashir, Zakaria. 1986a. Towards an Islamic theory of knowledge, part one.
Arabia. April: 74-5.
Bashir, Zakaria. 1986b. Towards an Islamic theory of knowledge, part two.
Arabia. April: 74-5.
Bhasin, M. L. (2013). Corporate accounting fraud: A case study of Satyam Computers Limited. Open Journal of Accounting, 2, 26-38.
Belkaoui, A. R. (2000). Teori akuntansi. Jakarta: SalembaEmpat.
Briando, B., Triyuwono, I., &Irianto, G. (2017). GurindamEtikaPengelola Keuangan Negara. Jurnal Akuntansi Multiparadigma, 8(1), 1-17.
Cojanu, V. (2017). Self-Interest and the Modernity of Homo Economicus.
International Journal of Social Economics, 44(5), 670-682.
Dixon, J. (2017). Exchange Transactions Revisited: On the Universal Applicability of Homo Economicus. International Journal of Social Economics, 44(4), 459-473.
24
Ellwood, S., & Greenwood, M. (2016). Accounting for heritage assets: does measuring economic value ‘kill the cat’?. Critical Perspectives on Accounting, 38, 1-13.
Gunawan, Adi W. 2007b. Hypnosis – The Art of Subconscious Communication, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Husaini, A. (2013). UrgensiEpistemologi Is-lam. In A. Husaini (Eds.), FilsafatIlmu: Perspektif Barat dan Islam (pp. 27-48). Jakarta: GemaInsani.
IkatanAkuntan Indonesia (IAI). (2015). Standar Akuntansi Keuangan ETAP.
Jakarta.
International Accounting Standards Board (IASB). 2010. The Conceptual Framework for Financial Reporting. London, U.K.: IASC Foundation.
Jensen, M. C., &Meckling, W. H. (1994). The nature of man. Journal of applied corporate finance, 7(2), 4-19.
Kartanegara, M. (2007b). NalarReligius: MemahamiHakikatTuhan, Alam, dan Manusia. Jakarta: Erlangga.
Kramer D. (2017). From Worker to Self Entrepreneur: The Transformation of Homo Economicus and the Freedom of Movement in the European Union.
European Law Journal, 23(3-4), 172–188.
McLeod, S. (2007). Maslow's hierarchy of needs. Simply psychology, 1.
Moleong, J. Lexy. 2014, MetodologiPenelitianKualitatif, Bandung: PT.
RemajaRosdakarya.
25
Newberg, A., & Waldman, M. R. (2009). How God Change Your Brain. New York: Ballantine Books.
Nurindrasari, D. (2018). Konsep pengukurankinerja berbasis kesejahteraan.
Jurnal Akuntansi Multiparadigma, 9(3).
Nyamori, R., &Gekara, V. (2016). Performance Contracting and Social Capital (Re)Formation: A Case Study of Nairobi City Council in Kenya. Critical Perspective on Accounting, 40, 45-62.
Pedrag, K. [2017]. Self-Interest and Greed: Is the Homo Economicus Unethical?
SociološkiPregled, 51(2), 343-362.
Pekkanen, P., & Niemi, P. (2013). Process Performance Improvement in Justice Organizations Pitfalls of Performance Measurement. International Journal Production Economics, 143, 605-611.
Ragab, Ibrahim A. 1993 Ilamic perspective on theory building in the social science. The American Journal of Islamic Social Science 10 (1): 1-22.
Rahardjo, Mudjia. 2010. Jenis dan Metode PenelitianKualitatif.
(http://mudjiarahardjo.com/artikel/215.html?task=view), diakses 10 Agustus 2019).
Rendra. (2011). Valuasi aset biologis: kajian kritis atas IAS 41 mengenai akuntansi pertanian. JurnalIlmiahMahasiswa FEB.
Salampessy, Z. (2011). Konsep Kepemilikan Dalam Akuntansi BerdasarkanFalsafah Pancasila (Doctoral dissertation, Tesis. Malang:
Program Strata 2 Universitas Brawijaya).
Sentanu, Erbe. 2008. Quantum Ikhlas: TeknologiAktivasiKekuatanHati, Cetakan 10, PenerbitElex Media Komputindo, Gramedia, Jakarta.
26
Sitorus, J. H. E. (2015). Membawa Pancasila dalam SuatuDefinisi Akuntansi.
Jurnal Akuntansi Multiparadigma, 6(2), 254-271.
Subiyantoro, E. B., &Triyuwono, I. (2004). Laba Humanis: Tafsir Sosialatas Konsep Laba dengan PendekatanHermeneutika. Malang: Bayumedia Publishing.
Sugiyono, P. D. (2013). Metode Penelitian Manajemen. Bandung: Alfabeta, CV.
Sugiyono, P. D. (2014). Cara MudahMenyusun: Skripsi (Doctoral dissertation, Tesis, dan Disertasi. Bandung: ALFABETA, cv).
SutrisnoHadi. 1993. Metodologi Research. Jilid III. Yogyakarta. Andi Offset.
Suwardjono (2008). Teori Akuntansi: Perekayasaan Laporan Keuangan.
Yogyakarta: BPFE.
Smith, A. (1761). Considerations concerning the first formation of languages.
Triyuwono, I. (2006). Perspektif, Metodologi, dan Teori Akuntansi Syariah. PT Raja GrafindoPersada.
Triyuwono, Iwan. 2006a. Perspektif, Metodologi, dan Teori Akuntansi Syari’ah.
Jakarta: Radjawali Press.
Triyuwono, I. (2008). Pendidikan Akuntansi Syari’ah:
StrategiMelampauiKecerdasan dan Kompetensi untuk Menyatu Dalam DiriSejati. In Workshop KurikulumEkonomiSyari’ah.
Triyuwono, I. (2012). Akuntansi Syariah: Perspektif, Metodologi, dan Teori 2nd.
27
Triyuwono, I. (2015). Awakening the conscience inside: the spirituality of code of ethics for professional accountants. Procedia-Social and Behavioral Sciences, 172, 254-261.
Triyuwono, I. (2015b). Salam Satu Jiwa dan Konsep Kinerja Klub Sepak Bola.
Jurnal Akuntansi Multiparadigma, 6(2), 290–303.
http://dx.doi.org/10.18202/ jamal.2015.08.6023
Triyuwono, I. (2011). Mengangkat” sing liyan” untuk Formulasi Nilai TambahSyari’ah. Jurnal Akuntansi Multiparadigma, 2(2), 186-200.
Widati, S., Triyuwono, I., &Sukoharsono, E. G. (2011). Wujud, makna dan
akuntabilitas “amalusaha” sebagai aset
ekonomiorganisasireligiusfeminis. Jurnal Akuntansi Multiparadigma, 2(3), 369-380.
Yin, R. K. (2002). Studi kasus: desain dan metode. Jakarta: PT. Raja Grafindo Perkasa.