1
PERAN ORANG TUA DALAM MENGATASI MASALAH INTERAKSI SOSIAL PELAJAR BERBAHASA KASAR DI JORONG AIR TAWAR
UTARA KENAGARIAN KAMPUNG BATU DALAM KECAMATAN DANAU KEMBAR
KABUPATEN SOLOK
ARTIKEL
RAHMIATIL FITRI NPM: 11070068
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SOSIOLOGI
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (STKIP) PGRI SUMATERA BARAT
PADANG 2015
2
1
PERAN ORANG TUA DALAM MENGATASI MASALAH INTERAKSI SOSIAL PELAJAR BERBAHASA KASAR DI JORONG AIA TAWA
UTARA KENAGARIAN KAMPUNG BATU DALAM KECAMATAN DANAU KEMBAR
KABUPATEN SOLOK
Rahmiatil Fitri 1 Adiyalmon, S.Ag M.Pd 2 Yuhelna, MA. 3 Program Studi Pendidikan Sosiologi
STKIP PGRI Sumatera Barat ABSTRACT
This research was motivated by often encountered lapses in social interactions teenagers (students) that communicates with coarse language (offensive) in their daily lives.Purpose of this study was to 1). Factors causing teenagers (students) interact using abusive language in their daily lives in Jorong Aia Tawa Nagari Kampung Batu Dalam Kecamatan Danau Kembar Solok 2).
The role of parents in overcoming social interaction behavior of teenagers (students) who uses abusive language in Jorong Aia Tawa Nagari Kampung Batu Dalam Kecamatan Danau Kembar Kabupaten Solok.. The theory used is the theory of Functional Strukutural According to Talcott Parsons. The method is performed which is used in this study is a qualitative approach with descriptive type to portray the problems examined. The data used in this study are primary and secondary data. And the results of this research revealed that 1). Factors causing roughly speaking students teenager is due to environmental factors such as:. a). Family environment b). Peer environment 2). The role of parents in addressing the problem of interaction teenage students who spoke with abusive language, namely: a). Increase attention and supervision of child behavior b).
Teach children to speak good manners and polite c). Impose penalties
1. Mahasiswa Program Studi Pendidikan Sosiologi STKIP PGRI Sumatera Barat Angkatan 2011
2. Pembimbing I dan Dosen STKIP PGRI Sumatera Barat 3. Pembimbing II dan Dosen STKIP PGRI Sumatera Barat
2 PENDAHULUAN
Keluarga adalah merupakan pengelompokkan primer yang terdiri dari sejumlah kecil orang yang mempunyai hubungan pertalian darah. Keluarga dikenal sebagai lingkungan pendidikan yang pertama dan utama. Prediket ini mengindikasikan betapa esensialnya peran dan pengaruh keluarga dalam pembentukan prilaku dan kepribadian anak. Pandangan seperti ini sangat logis dan mudah dipahami karena keluarga merupakan pihak yang paling awal memberikan banyak perlakuan pada anak, sebagian besar waktu anak berada dilingkungan keluarga, karakteristik hubungan orang tua-anak berbeda dari hubungan anak dengan pihak- pihak lainya (guru, teman, dan sebagainya), serta interaksi kehidupan orang tua-anak bersifat
“asli”, seadanya dan tidak dibuat- buat (Syafril, 2012:84).
Salah satu interaksi dalam keluarga adalah sosialisasi anak.
Sosialisasi menunjuk pada peranan keluarga dalam membentuk kepribadian anak. Keluarga berusaha mempersiapkan bekal selengkap- lengkapnya kepada anak dengan memperkenalkan pola tingkah laku, sikap, keyakinan, cita-cita, dan nilai- nilai yang dianut masyarakat serta mempelajari peranan yang diharapkan akan dijalankan mereka (Hendi, 2001:45).
Di daerah pedesaan, sifat orang-orang desa adalah lugu, bersahaja, apa adanya dalam berkomunikasi (Effendy, 1986:61).
Namun sikap lugu dan bersahaja ini sudah jarang ditemukan pada
masyarakat pedesaan saat ini terutama dikalangan pelajar khusnya di Minangkabau.
Peranan Pelajar yang besar dalam berbagai kepentingan menyangkut juga masalah penerapan kebudayaan minangkabau yang akan diwariskan pada generasi penerus adat dan budaya minang dimasa selanjutnya. Salah satu budaya minang terlihat dalam ruang lingkup kecil yang mulai mencair kekentalannya adalah "tatakrama berbicara". Aturan- aturan bicara, tehnik-tehnik bicara, serta tutur kata bicarapun juga diatur dalam minang sudah tidak diindahkan lagi oleh rmaja dan pelajar zaman sekarang . Hal inilah yag sangat disayangkan terhadap remaja dan pelajar minang sekarang. Lengah akan kebudayaan sendiri dan membiarkan kebudayaan minang mencair adalah suatu hal yang sangat fatal dalam pembentukan remaja dan pelajar minang yang baik dan beradat pada
generasi yang akan
datang(http://hajrulaf.blogspot.co.id/
2012/06/tergerusnya-budaya-kato- nan-ampek.html
Seperti yang terjadi di daerah yang menjadi lokasi penelitian yaitu di Jorong Aia Tawa Kenagarian Kampung Batu Dalam Kecamatan Danau Kembar Kabupaten Solok.
Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan banyak pelajar yang berinteraksi dan berkomunikasi dalam keseharian nya menggunakan bahasa yang tidak sopan dan berbicara asal-asalan baik pelajar laki-laki maupun perempuan.
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka yang menjadi
3 rumusan masalahnya adalah 1).
faktor penyebab pelajar berbahasa kasar di jorong Aia Tawa Nagari Kampung Batu Dalam Ke. Danau Kembar, Kab. Solok. 2). Peran Orang tua dalam mengatasi prilaku pelajar berbahasa kasar. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan 1). faktor penyebab pelajar berbahasa kasar di jorong Aia Tawa Nagari Kampung Batu Dalam Ke. Danau Kembar, Kab. Solok. 2). Peran Orang tua dalam mengatasi prilaku pelajar berbahasa kasar.
Teori yang digunakan adalah teori Struktural Fungsional dipelopori oleh Talcott Parsons Parsons mengembangkan konsep peran yang didiskusikan terlebih dahulu dalam hubungan dengan variabel-variabel yang menunjuk pada organisasi dalam tindakan hubungan interaksi. Fungsionalisme struktural ini akan dimulai dengan empat fungsi penting untuk semua sistem “tindakan”, terkenal dengan skema AGIL (Ritzer, 2007:120).
Dimana menurut Parsons agar tetap bertahan (survive) suatu sistem harus memiliki empat fungsi yaitu AGIL (Adaptation, Goal Attainmen, Integration, Latency).
.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini dilakukan di Jorong Aia Tawa Kenagarian Kampung Batu Dalam Kecamatan Danau Kembar Kabupaten Solok..
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu pendekatan kualitatif dengan tipe penelitian deskriptif. Teknik pemilihan informan dilakukan dengan cara purposive sampling. Mengingat banyaknya masyarakat yang berstatus sebagai pelaja dan orangtua
maka diperlukan penetapan informan berdasarkan kriteria tertentu yaitu Pelajar yang berbahasa kasar yang sudah menginjak usia remaja dan Orang tua yang mempunyai anak berstatus pelajar usia remaja. Jenis data yang digunakan adalah data primer. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini adalah observasi pdan wawancara mendalam. Unit analisis dalam penelitian ini adalah kelompok. Analisis data yang digunakan yaitu model analisis data interaktif.
HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Faktor Penyebab Pelajar
Berinteraksi Sosial Menggunakan Bahasa Kasar.
Di Jorong Aia Tawa Utara sering sekali dijumpai pelajar remaja yang berkomunikasi menggunakan bahasa kasar, dari hasil penelitian yang telah dilakukan, ditemukan faktor penyebab pelajar berbahasa kasar adalah sebagai berikut:
a. Faktor Lingkungan Keluarga Lingkungan tempat tinggal sangatlah mempengaruhi kepribadian seseorang, terutama keluarga, karena keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama yang ditemui oleh seseorang.
Namun dalam penelitian ini ditemukan bahwa penyebab remaja berbahasa kasar salah satunya disebabkan oleh keluarga itu sendiri, dimana karena kebiasaan orang tua berbicara kasar didepan anak-anak mereka dan tidak bisa mengontrol pembicaraan mereka sehingga anak menjadi ikut-ikutan dan lama kelamaan menjadi kebiasaan oleh anak dan terbawa keluar lingkungan keluarga atau ketengah-tengah lingkungan masryarakat.
4 b. Faktor Teman Sebaya
penyebab remaja pelajar berinteraksi dengan kata-kata kasar adalah karena pengaruh dari teman sebaya atau teman sepermainan, baik itu di sekolah maupun di luar sekolah. Karena kebiasaan-kebiasaan berbicara seperti itu dengan teman- teman sepermainannya remaja jadi hilang kontrol diri dan pertahanan diri sehingga terbawa oleh suasana bersama temannya.
para remaja pelajar yang ada di Jorong Aia Tawa banyak yang berbicara dengan bahasa yang menurut masyarakat sekitar itu tidak sopan dan tidak enak didengar, apa lagi ketika berbicara dengan teman- temannya remaja pelajar seakan lepas kontrol terhadap apa yang diucapkanya. Seperti yang terdengar oleh informan yaitu ketika berbicara dengan teman nya sering memanggil temannya dengan nama binatang.
Hal ini disebabkan karena disekitar para remaja ada yng berbicara kasar tersebut sehingga remaja terbawa suasana dan mengikutinya.
Selain itu informan juga memandang bahwa tidak terlihat perbedaan adab berbicara antara remaja yang sekolah dengan remaja yang tidak sekolah yang berarti tidak ada perbedaan antara orang yang berpendidikan dan terdidik dengan orang yang tidak terdidik, yang maknanya belum sepenuhnya sekolah mampu untuk mendidik remaja di sekolah, oleh karenanya peranan dari orang tua sangat dibutuhkan.
2. Peran Orang Tua Terhadap Masalah Prilaku Interaksi Sosial Remaja (Pelajar) yang Berinteraksi Menggunakan Bahasa Kasar
Pendisiplinan merupakan salah satu bentuk kontrol peran tua untuk melakukan kontrol terhadap anak.
Pendisplinan biasanya dilakukan orang tua agar anak dapat menguasai kompetensi, melakukan pengaturan diri, dapat menaati aturan, dan mengurangi prilaku-prilaku menyimpang atau beresiko.
Pendisiplinan antara ditentukan oleh cara yang digunakan. Adapun peran yang dilakukan orang tua untuk mengatasi masalah interaksi pelajar yang berbahasa kasar adalah sebagai berikut:
a. Meningkatkan Perhatian dan Pengawasan Terhadap Anak Berdasarkan hasil penelitian di atas mengenai tindakan orang tua terhadap prilaku interaksi remaja pelajar yang menggunakan bahasa kasar saat berkomunikasi dengan orang-orang dilingkunganya, dapat ditarik kesimpulan bahwa orang tua melakukan tindakan berupa teguran, yaitu orang tua sudah menegur dan berusaha menasehati anak-anak mereka agar menjaga cara bicara mereka sebagai pelajar. Kemudian peningkatan perhatian dan pengawasan terhadap anak juga dilakukan oleh orang tua seperti membatasi dengan siapa-siapa saja anak bergaul, serta lebih menekankan pada penanaman nilai- nilai moral, nilai kesopanan dan nilai agama kepada anak sejak dini.
5 b. Mengajarkan Kepada Anak
Adab Berbicara Yang Baik dan Sopan
Sebagai orang tua, dalam melihat fakta saat ini bahwa para anak remaja pelajar mereka yang berkomunikasi dengan bahasa- bahasa yang kurang sopan maka orang tua harus segera melakukan tindakan-tindakan pencegahan agar tidak terjadi lagi hal-hal yang seperti ini di masa yang akan datang. Sebab dari hasil pengamatan peneliti di lapangan ditemukan bahwa tidak hanya di lingkungan teman bermain di luar sekolah saja para pelajar berkomunikasi dengan bahasa kasar, akan tetapi di lingkungan sekolahpun mereka masih tetap berbicara dengan bahasa kasar
Dari hasil penelitian, ditemukan bahwa langkah yang ingin dilakukan orang tua dalam mengatasi masalah berkomunikasi pelajar yang berbicara dengan bahasa kasar adalah dengan mengajarkan kepada anak adab berbicara yang baik dan sopan terlebih sebagai orang minang, salah satunya mengajarkan cara menggunakan Kato Nan Ampek di Minagkabau.
c. Memberikan Hukuman
Hukuman memang dapat mengubah cara seorang berperilaku, namun berbagai penelitian membuktikan bahwa efektifitas hukuman sangat bervariasi, dan hukuman bukan merupakan solusi yang ideal untuk mengajarkan anak mengenai tata cara berperilaku yang baik.
Bagi sebagian orang, menghukum dengan cara mencubit, memukul, menjewer, mengikat, membentak dan memarahi anak dianggap sebagai hal yang wajar. Hal ini didukung oleh pandangan bahwa anak adalah milik orang tua, sehingga anak harus hormat dan tunduk pada perintah dan keinginan orang tua
Dalam mendidik dan membimbing anak anak di rumah orang tua perlu menjaga komunikasi yang baik dengan anak agar dapat mengawasi aktifitas anak di rumah serta memantau prilaku mereka.
Dari penelitian yang telah dilakukan ditemukan bahwa Hukuman yang diberikan oleh orang tua adalah sebagai berikut:
a) Memberi Teguran
Yaitu orang tua melakukan tindakan hanya berupa teguran, yaitu orang tua sudah menegur dan berusaha menasehati anak-anak mereka agar menjaga cara bicara mereka sebagai pelajar. Namun cara ini belum efektif, karena anak-anak belum bisa mengubah prilaku berbicara mereka.
b) Memberi hukuman fisik
Dari hasil penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti, ditemukan bahwa tak seorangpun dari informan yang memberikan hukuman fisik kepada anak-anak mereka, hal ini dikarenakan karena anak-anak yang sudah remaja dan para orang tua beranggapan bahwa memberikan hukuman fisik tidak baik karena akan berdampak buruk bagi sang anak, seperti misalnya anak akan melawan atau tidak pulang kerumah.
6 Kemudian orang tua masih sangat ragu-ragu untuk menggunakan hukuman fisik, hal ini dikarenakan usia pelajar yang sudah remaja dan orang tua sekarang juga sudah tidak dibenarkan untuk melakukan kekerasan terhdap anak, namun sesekali orang tua lepas kendali dan melayangkan hukuman ke anak berupa sentilan di bibir dan menendang jika anak laki-laki dan itupun cukup memberikan efek jera terhadap pelajar agar tidak berbicara dengan bahasa kasar lagi.
KESIMPULAN DAN SARAN KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian pada Bab V maka dapat disimpulkan bahwa:
1. Faktor penyebab para remaja pelajar berbicara dengan bahasa kasar di Jorong Aia Tawa Utara adalah faktor Lingkungan yaitu:
a) Lingkungan Keluarga, dimana dalam lingkungan keluarga seorang anak sudah terbiasa mendengar orang tuanya berbicara dengan bahasa kasar sehingga tertanam dalam diri anak yang kemudian menjadi kebiasaannya dalam berkomunikasi dengan orang lain menggunakan bahasa kasar.
b) Teman Sebaya, karena merasa seumuran remaja (pelajar) sering hilang kontrol dalam mengucapkan kata-kata kasar dengan teman-temannya, sehingga menjadi kebiasaan dikalangan mereka.
2. Peran orang tua dalam mengatasi masalah interaksi sosial pelajar yang mengunakan bahasa kasar dalam berkomunikasi adalah sebagai berikut:
a) Meningkatkan perhatian dan pengawasan terhadap anak, seperti membatasi pergaulan anak.
b) Mengajarkan kepada anak adab berbicara yang baik dan sopan. Yaitu dengan memberikan pengajaran sejak dini.
c) Memberi Hukuman, baik itu berupa teguran maupun hukuman fisik.
SARAN
Berdasarkan simpulan penelitian diatas, maka rekomendasi yang penulis ajukan adalah:
1) Bagi para pelajar, agar menjunjung tinggi norma sosial yang ada dalam masyarakat terutama nilai kesopanan.
2) Bagi para orang tua, agar dapat menanamkan nilai moral dan etika dalam keluarga
3) Bagi pemerintah jorong dan tokoh masyarakat , hendaknya ikut mengontrol dan menegur jika terjadi hal-hal yang demikian, kemudian pemerintah nagari juga bisa membuat paraturan tentang adab berbicara dan memberi sanksi bagi pelanggarnya sehingga para pelajar menjadi takut untuk berbicara kasar dan tidak sopan tersebut.
7 DAFTAR PUSTAKA
Effendy, Onong Uchjana. 1986. Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek. Bandung: Remandja Karya CV Bandung
Goodman J.Douglas,George Ritzer,2007. Teori Sosiologi Modern. Jakarta: Kencana Prenada Group
http://hajrulaf.blogspot.co.id/2012/06 /tergerusnya-budaya-kato- nan-ampek.html
Suhendi, Hendi, Ramdani Wahyu.
2001. Pengantar Studi Sosiologi Keluarga. Bandung:
CV Pustaka Setia
Zen, Syafril Zulhendi. 2012.
Pengantar Pendidikan.
Padang: Sukabina Press