PENDAHULUAN
Identifikasi Masalah
Keluarga yang berprofesi sebagai petani kemudian berperan sebagai pendidik ketika muncul kendala atau kesulitan dalam mendampingi anak dalam situasi pandemi pasca-covid-19.
Pembatasan Masalah
Rumusan Masalah
Tujuan Penelitian
Pengetahuan Metode Pendidikan Agama Islam (PAI) dalam Pemenuhan Peran Orang Tua Bagi Anak Keluarga Petani Pasca Pandemi Covid-19 di Desa Karangwaru Plupuh Sragen Tahun 2023.
Manfaat Penelitian
LANDASAN TEORI
Peran Orang Tua
Sebagai pemimpin dalam keluarga, orang tua harus mengedepankan pendidikan dalam keluarganya agar tidak terjerumus ke dalam hal-hal buruk. Yang dapat timbul dari dalam diri (melekat) adalah dorongan yang timbul dari dalam hati, umumnya karena adanya kesadaran akan pentingnya suatu hal. Dan motivasi yang berasal dari luar (ekstrinsik), yaitu dorongan yang berasal dari luar diri (lingkungan), misalnya dari orang tua, guru, teman, dan anggota masyarakat.
Di sinilah peran orang tua dalam menggalakkan motivasi atau rangsangan dari luar yang kemudian secara alami dapat memicu motivasi dari dalam diri anak. Kebutuhan belajar anak, selain kebutuhan pokoknya, juga fasilitas belajar seperti ruang belajar, meja, kursi, penerangan, alat tulis, buku dan lain sebagainya. Sekolah merupakan suatu kegiatan yang sulit, dalam proses belajarnya banyak kendala, terkadang semangat anak kurang baik.
Orang tua berkewajiban untuk memastikan pemahaman dan mendorong mereka untuk membantu sedapat mungkin mengatasi kesulitan yang dialami anak mereka di sekolah.
Pendidikan Agama Islam (PAI)
Belum ada penelitian di Desa Karangwaru Kecamatan Plupuh Sragen mengenai Peran Orang Tua dalam Pendidikan Agama Islam (PAI) Pasca pandemi Covid-19 pada anak keluarga petani di Desa Karangwaru. Observasi dalam penelitian ini digunakan untuk memperoleh data yang komprehensif dan mengetahui peran orang tua dalam pendidikan agama Islam (PAI) pasca pandemi Covid-19. Peran Orang Tua dalam Pembelajaran PAI Pasca Pandemi Covid-19 pada Anak Keluarga Petani di Desa Karangwaru Kecamatan Plupuh Sragen.
Perbedaan Peran Orang Tua dalam Pendidikan Agama Islam (PAI) Pasca Pandemi Covid-19 pada Anak Keluarga Petani di Desa Karangwaru, Plupuh, Sragen. Metode Pendidikan Agama Islam (PAI) Untuk Melaksanakan Peran Orang Tua Bagi Anak Keluarga Petani Pasca Pandemi Covid-19 di Desa Karangwaru, Plupuh, Sragen. Metode Pendidikan Agama Islam (PAI) dalam menjalankan peran orang tua bagi anak keluarga petani pasca pandemi Covid-19 bagi anak keluarga petani melalui metode.
Apa yang diajarkan orang tua saudara Anda tentang Islam di masa pascapandemi Covid-19? Peneliti: Apa yang diajarkan orang tua saudara Anda tentang Islam di masa pascapandemi Covid-19? Peneliti: Apa yang diajarkan orang tua saudara Anda tentang Islam di masa pascapandemi Covid-19?
Kajian Hasil Penelitian Terdahulu
Kerangka Berfikir
METODOLOGI PENELITIAN
- Setting Penelitian
- Subjek dan Informan Penelitian
- Teknik Pengumpulan Data
- Teknik Keabsahan Data
- Teknik Analisis Data
Faktor pendukung apa yang Anda temui dalam memberikan bantuan pengajaran pendidikan agama Islam kepada anak di masa pascapandemi Covid-19? Nasihat atau motivasi apa yang Anda berikan kepada anak Anda selama mendampingi mereka belajar pendidikan agama Islam di masa pandemi pasca-covid-19? Apa saja yang diajarkan tentang pendidikan agama Islam kepada anak pasca pandemi Covid-19.
Kendala atau kendala apa saja yang Anda temui dalam mempelajari agama Islam pascapandemi Covid-19? Peneliti: Bagaimana cara mengajar atau membimbing anak dalam pendidikan agama Islam di masa pandemi Covid-19? Peneliti: Bagaimana peran bapak/ibu dalam mengajarkan atau memperkenalkan pendidikan agama Islam di masa pandemi Covid-19?
Peneliti: Apa yang dipelajari tentang pendidikan agama Islam pada anak di masa pasca pandemi Covid-19. Peneliti: Apakah proses penerapan dukungan orang tua membantu pembelajaran adik di masa pandemi pasca-covid-19? Peneliti: Kesulitan atau kendala apa saja yang bapak/ibu temui dalam mempelajari pendidikan agama Islam pada masa pascapandemi Covid-19?
Peneliti: Bagaimana cara bapak mengajar atau membimbing anak dalam pendidikan agama Islam di masa pandemi Covid-19? Peneliti: Apa yang dipelajari tentang pendidikan agama Islam pada anak di masa pasca pandemi Covid-19. Peneliti: Apakah proses penerapan dukungan orang tua membantu pembelajaran adik di masa pandemi pasca-covid-19?
Peneliti: Kesulitan atau kendala apa saja yang bapak/ibu temui dalam mengajarkan pendidikan agama Islam pada masa pascapandemi Covid-19? Peneliti : Bagaimana pendapat anda mengenai penyaluran materi pendidikan agama islam yang diberikan oleh guru pada masa pasca pandemi covid-19?
HASIL PENELITIAN
Gambaran Umum Desa Karangwaru, Plupuh, Sragen
Desa Karangwaru merupakan bagian dari kecamatan Plupuh yang terletak pada ketinggian +120 diatas permukaan laut dengan suhu rata-rata 32 oC. Desa Karangwaru terdiri dari 9 dusun yaitu Jambean, Karangwaru, Keyongan, Kolutan, Ngrayapan, Pedak, Putat, Tulusari dan Winong. Berdasarkan tabel diatas dapat dikatakan bahwa jumlah penduduk Desa Karangwaru yang mata pencahariannya sebagai petani berjumlah 625 jiwa, 49 jiwa bekerja sebagai buruh/pegawai swasta, 47 jiwa bekerja sebagai PNS, 31 jiwa bekerja sebagai guru swasta, 20 jiwa. penduduk bekerja sebagai perajin, 39 orang bermata pencaharian sebagai pedagang, 42 orang bermata pencaharian sebagai peternak, 6 orang bermata pencaharian sebagai montir, 4 orang bermata pencaharian sebagai supir, 12 orang bermata pencaharian sebagai a tukang kayu, 9 orang mencari nafkah sebagai tukang batu.
Berdasarkan hasil wawancara dengan Bpk. Ruswant Sebagai Sekretaris Desa Karangwaru 19 September 2022 Bisa dikatakan seluruh penduduk Desa Karangwaru beragama Islam. Itu sebabnya di Desa Karangwaru terdapat 7 masjid dan 15 musala yang tersebar di beberapa RT. Biasanya dilaksanakan selama 7 hari 7 malam, biasanya pada malam hari pukul 19.30 WIB, tahlilan dilakukan oleh ibu dan bapak di tempat orang yang meninggal.
Deskripsi Data Peran Orang Tua dalam Pendidikan Agama Islam (PAI) Pasca Pandemi Covid-19 pada Anak Keluarga Petani di Desa Karangwaru Plupuh.
Deskripsi Data Peran Orang Tua dalam Pendidikan Agama Islam (PAI) Pasca
Saat peneliti melakukan wawancara dengan Ny. Lastri ingin bercerita tentang implementasi peran orang tua dalam Pendidikan Agama Islam (IRA) pada anak di keluarga petani, beliau menyampaikan bahwa pendidikan anak dimulai dari bangun tidur hingga tidur kembali. Setelah sholat subuh Ny. Lastri memasak sarapan dan Pak. Priyadi sedang mencuci sepeda motor dan menyiapkan peralatan untuk dibawa ke sawah. Tn. Priyadi dan Ny. Lastri mengajarkan anak-anaknya untuk selalu bangun pagi dan memberi contoh yang baik serta taat kepada orang yang lebih tua.
Ketika azan Dhuhur sudah dikumandangkan, tak lama kemudian Pak Priyadi pulang, lalu membersihkan diri dan bersiap menuju musala untuk salat bersama Nasya, sedangkan saya dan Bu Lastri salat di rumah. Melaksanakan atau menanamkan Pendidikan Agama Islam (PAI), khususnya pada masa pasca-covid-19, Ibu Lastri memberikan pendidikan agama di lembaga TPA. Dalam pelaksanaan pendidikan agama, peneliti melihat Ibu Lastri mengajarkan agama kepada anaknya dengan menggunakan bahan bacaan Al-Quran dan menggunakan metode pembiasaan.
Saat jam menunjukkan pukul 21.00 WIB, Bu Lastri meminta kami segera tidur, karena takut kami akan bangun kesiangan dan keesokan harinya Nasya harus berangkat ke sekolah. Tn. Priyadi dan Ny. Lastri dalam mendidik anaknya sama-sama sangat tegas namun fokus, tidak menggunakan kekerasan sehingga anaknya bisa menerimanya. Setelah itu ibu Lastri membangunkan kami semua untuk bergegas melaksanakan sholat subuh, sementara ibu Lastri memasakkan sarapan untuk kami, saya pun membantunya.
Saat itu pukul 14.05 WIB, Nasya bersiap-siap menuju TPA. Sebelum meninggalkan TPA, Nasya terlebih dahulu belajar membaca juz amma dengan didampingi Bu Lastri. Ibu Lastri terlihat mendampingi anaknya mengerjakan tugas yaitu mata pelajaran agama Islam. Saat Nasja kesulitan menjawab soal, Bu Lastri mencoba membantu menjelaskan materi yang belum dikuasai Nasja.
Orang tua Nasya yakni Bapak Priyadi dan Ibu Lastri berupaya memberikan bantuan pembelajaran agama kepada anaknya di era pasca-covid-19. Mereka masih menyediakan waktu untuk pendidikan anak-anaknya. Saat itu pukul 11.30 WIB Khotimah pulang sekolah, tak lama kemudian Pak Juwari dan Bu Sugiyanti pulang dari sawah.
Interpretasi Hasil Penelitian
Peneliti: Bagaimana cara Anda menghabiskan waktu bersama anak di masa pascapandemi Covid-19? Peneliti: Apakah ada faktor penghambat atau kendala yang bapak/ibu temui ketika mendampingi anak belajar pendidikan agama islam di masa pascapandemi Covid-19? Peneliti: Faktor pendukung apa saja yang ibu temui dalam pelaksanaan pendampingan pengajaran agama Islam pada anak pasca pandemi Covid-19?
Peneliti: Apakah bapak/ibu mendapat tambahan wawasan atau ilmu ketika mendampingi pembelajaran pendidikan agama islam anak anda pada masa pascapandemi Covid-19? Peneliti: Nasihat atau motivasi apa yang Anda berikan kepada anak Anda selama mendampingi mereka belajar pendidikan agama Islam di masa pandemi pasca-covid-19? Peneliti : Apakah kedua orang tua selalu mendampingi/mendampingi adik anda selama masa belajar di masa pandemi Covid-19?
Peneliti: Bagaimana cara Anda menghabiskan waktu mendampingi anak di masa pascapandemi Covid-19? Peneliti: Apakah bapak mendapatkan tambahan wawasan atau ilmu ketika membantu pendidikan agama islam anak bapak/ibu di masa pascapandemi Covid-19? Peneliti: Nasihat atau motivasi apa yang Anda berikan kepada anak Anda dalam mendampingi mereka mempelajari pendidikan agama Islam di masa pascapandemi Covid-19?
Peneliti: Apakah kedua orang tua selalu mendampingi adiknya belajar di masa pascapandemi Covid-19? Peneliti : bagaimana keadaan keluarga bapak?
PENUTUP
Saran
Saat itu Pak Juwari dan Bu Sugiyanti baru saja pulang dari perjalanan dan Khotimah masih bermain dengan teman-temannya. Meski hanya berprofesi sebagai petani, Pak. Juwari dan Ibu Sugiyanti tetap mencintai dan memperhatikan pendidikan Khotimah khususnya dalam urusan ibadah. Sepulang dari jamaah, pukul 19.10 Khotimah menyiapkan buku pelajaran kemudian belajar dengan didampingi Ibu Sugiyanti.
Saat itu pukul 11.30 WIB Khotimah pulang sekolah, tak lama kemudian Pak Juwari dan Bu Sugiyanti pulang dari sawah. Seperti kemarin saya tidur dengan Bu Sugiyanti dan Khotimah, sedangkan Pak Juwari tidur dengan Amin, anak sulungnya. Peneliti : Bagaimana keadaan Pak Priyadi dan Bu Lastri yang masih memiliki anak di bangku SD?
Peneliti : Benarkah Pak Juwari dan Ibu Sugiyanti selalu berusaha mengikuti Khotimah ketika mempelajari pendidikan agama Islam ataukah mereka mengambil les privat?