• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERAN PENGADILAN AGAMA DALAM MEMBERIKAN PENETAPAN PENGANGKATAN ANAK

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "PERAN PENGADILAN AGAMA DALAM MEMBERIKAN PENETAPAN PENGANGKATAN ANAK "

Copied!
212
0
0

Teks penuh

PENDAHULUAN

Pertanyaan Penelitian

Tujuan dan Manfaat Penelitian

Diharapkan penelitian ini dapat menjadi sumbangsih bagi masyarakat agar dapat mengetahui dan memahami pentingnya penetapan pengangkatan anak sehingga memiliki kekuatan hukum jika suatu peristiwa hukum terjadi di kemudian hari dalam masyarakat.

Penelitian Relevan

Oleh karena itu, permohonan adopsi di pengadilan agama harus memiliki kekuatan hukum yang mengikat. Kasus pengangkatan anak di Pengadilan Agama masih sangat sedikit karena belum banyak yang mengetahuinya. Pada penyelesaian perkara nomor 0114/Pdt.P/2014/PA.Mt di Pengadilan Agama Metro, pemohon mengajukan permohonan penetapan pengangkatan anak secara tertulis.

Menyatakan pengangkatan anak secara sah oleh pemohon (HFB dan HY) untuk anak perempuan bernama NR (anak angkat), berumur 9 tahun. Dalam penyelesaian perkara nomor 0009/Pdt.P/2015/PA.Tnk di Pengadilan Agama Tanjungkarang, pemohon mengajukan permohonan penetapan pengangkatan anak secara tertulis. Apakah jumlah perkara mengenai putusan pengangkatan anak di Pengadilan Agama Metro sangat minim atau meningkat setiap tahunnya.

Menurut anda faktor apa saja yang mempengaruhi minimnya jumlah perkara penetapan adopsi di Pengadilan Agama Metro. Apa alasan calon orang tua angkat mengajukan penetapan pengangkatan anak di Pengadilan Agama Metro?

LANDASAN TEORI

Pengertian Pengangkatan Anak

Istilah “mengangkat anak” berkembang di Indonesia sebagai terjemahan dari bahasa Inggris “adopsi”, to adopt a child yang berarti “mengangkat anak orang lain untuk dijadikan sebagai anak sendiri dan mempunyai hak yang sama dengan anak kandung”. Ketika Islam disebarkan oleh Nabi Muhammad SAW, adopsi menjadi tradisi di kalangan mayoritas masyarakat Arab yang dikenal dengan istilah tabanni yang artinya. Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, istilah pengangkatan disebut juga dengan “pengangkatan” yang artinya.

Pengangkatan atau pengangkatan anak adalah suatu perbuatan mengambil anak orang lain ke dalam keluarga sendiri, sehingga tercipta hubungan hukum antara orang yang mengambil anak tersebut dengan orang yang diangkat. Hal ini demi kepastian hukum sehubungan dengan perubahan status anak angkat dalam keluarga orang tua angkat. Tafsir Hukum Keluarga ayat 1, (Yogyakarta: Idea Press, 2013), h. Pengangkatan anak adalah perbuatan hukum memindahkan anak dari kekuasaan orang tua, wali yang sah atau orang lain yang bertanggung jawab atas pemeliharaan, pengasuhan dan pengasuhan anak, ke dalam lingkungan keluarga orang tua angkat.

Anak angkat adalah anak yang dialihkan haknya oleh kuasa keluarga orang tua, wali yang sah atau orang lain yang bertanggung jawab atas pemeliharaan, pengasuhan dan pendidikan anak dalam lingkungan keluarga orang tua angkat berdasarkan keputusan atau penetapan hakim. Orang tua asuh adalah orang yang diberi kuasa untuk mengasuh, mendidik, dan membesarkan anak berdasarkan peraturan perundang-undangan dan kebiasaan.

Pengaturan Pengangkatan Anak di Indonesia

Ketentuan ini berlaku bagi anak yang belum cerdas dan bertanggung jawab, dan penyesuaian agamanya dilakukan oleh mayoritas penduduk setempat (tingkat desa atau kecamatan) yang sedang dimusyawarahkan dan dilakukan penelitian yang serius. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama dan diubah dengan Undang-undang No. 3 tahun 2006.

Jenis Pengangkatan Anak

Syarat Anak Yang Akan Diangkat dan Syarat Calon Orang

Oleh karena itu pengangkatan anak harus sesuai dengan syarat-syarat orang yang diangkat dan syarat-syarat pengadopsi yang akan datang, sehingga diketahui dengan jelas tujuan dari pengangkatan itu sendiri, sehingga tidak terjadi peristiwa hukum yang sewenang-wenang terhadap orang yang diangkat, karena salah satu tujuan pengangkatan anak adalah: adalah kesejahteraan hidup sehari-hari, biaya pendidikan dan sebagainya.

Sifat Pengangkatan Anak

Persepsi Hakim dan Panitera Muda Permohonan menjelaskan minimnya masyarakat yang mengajukan perkara pengangkatan anak di Pengadilan Agama Metro dan Tanjungkarang. Dampak pemahaman antar masyarakat dalam membangun pengetahuan khususnya mengenai penetapan pengangkatan anak di Peradilan Agama sangat diperlukan. Pada tahun 2014-2017, Pengadilan Agama Metro dan Tanjungkarang menerima, memeriksa, mengadili dan memutus perkara permohonan penetapan pengangkatan anak.

Proses persidangan permohonan penetapan pengangkatan anak di Pengadilan Agama Metro Tahun 2014 dengan nomor perkara 0114/Pdt.P/2014/PA.Mt hanya melalui 3 (tiga) kali persidangan hingga berakhir dengan penetapan Majelis Hakim. . Kemudian, perkara bernomor 0085/Pdt.P/2015/Pa.Tnk di Pengadilan Agama Tanjungkarang tahun 2015 menerima berkas perkara putusan pengangkatan anak. Pengadilan Agama Tanjungkarang telah mengabulkan permohonan penetapan pengangkatan anak tahun 2015 dengan nomor perkara 0009/Pdt.P/2015/PA.Tnk.

Apakah jumlah kasus pengangkatan anak di Pengadilan Agama Metro sangat minim atau meningkat setiap tahunnya dan bagaimana pendapat anda? Kasus pengangkatan anak di Pengadilan Agama Metro masih sangat sedikit karena belum banyak orang yang mengetahuinya dan seterusnya.

Prosedur Pengangkatan Anak dalam Surat Edaran

Prosedur Pengangkatan Anak dalam Undang-Undang

Prosedur Pengangkatan Anak dalam Peraturan Pemerintah

Prosedur Pengangkatan Anak Dalam Hukum Adat di

Penetapan dan Status Hukum Anak Angkat Yang Berlaku di

Peradilan dan Pengadilan

  • Pengertian Peradilan dan Pengadilan
  • Kekuasaan Badan Peradilan Agama
  • Peradilan Agama Dalam Sistem Peradilan di Indonesia

Peradilan Agama adalah upaya mencari keadilan atau penyelesaian sengketa untuk mencari keadilan atau penyelesaian sengketa hukum yang dilakukan menurut ajaran agama. Peradilan Agama adalah proses mengadili berdasarkan hukum Islam bagi umat Islam yang mencari keadilan di Pengadilan Agama dan Pengadilan Tinggi Agama dalam sistem peradilan nasional di Indonesia. Sebagai lembaga peradilan, peradilan agama dalam bentuknya yang paling sederhana adalah tahkim, yaitu lembaga penyelesaian sengketa antara orang-orang yang beragama Islam dan dijalankan oleh para ahli agama Islam.

Yurisdiksi Relatif adalah kekuasaan dan kewenangan yang diberikan antar Pengadilan dalam Lingkungan Peradilan yang sama atau kewenangan yang berkaitan dengan kewenangan antar Peradilan Agama dalam Lingkungan Peradilan Agama. Artinya kewenangan Pengadilan Negeri dan Pengadilan Agama didasarkan pada batas wilayah Kabupaten dan Kotamadya setempat. Penjelasan tersebut merupakan kewenangan sebagai tugas Peradilan Agama, yaitu kewenangan mutlak yang ditangani oleh Peradilan Agama yang bersifat perdata bagi para pencari keadilan yang beragama Islam.

Peradilan Agama diberi wewenang untuk mengadili perkara perdata yang kedua belah pihak beragama Islam dan berdasarkan hukum yang diatur oleh hukum Islam.59 Peradilan Agama diatur dalam Undang-Undang Peradilan Agama No. 7 Tahun 1989. Tugas dan Wewenang Peradilan Agama sebagaimana dimaksud dalam Pasal 49 mempunyai tugas dan wewenang untuk memeriksa, memutus dan menyelesaikan perkara pada tingkat pertama antara orang-orang yang beragama Islam dalam bidang perkawinan, waris, wasiat dan hibah yang dilakukan menurut hukum Islam, wakaf. dan sadaqah. 61.

Penetapan

  • Pengertian Penetapan
  • Bentuk dan Isi Penetapan

Proses persidangan permohonan penetapan pengangkatan anak di Pengadilan Agama Metro Tahun 2015 dengan Nomor Perkara 0085/Pdt.P/2015/PA.Mt hanya melalui 1 (satu) kali sidang hingga diakhiri dengan putusan pencabutan. oleh Dewan Hakim.

METODOLOGI PENELITIAN

Sumber Data

Sumber data yang dimaksud dalam penelitian ini adalah subjek dari mana data tersebut dapat diperoleh. 73 Penelitian ini menggunakan dua sumber data yang berkaitan dengan masalah utama yang akan dijelaskan, yaitu sumber data primer dan sumber data sekunder. 74 Sumber data dalam penelitian ini adalah informan yang terkait dengan judul penelitian ini yaitu Hakim Pengadilan Agama Metro dan Tanjungkarang yang menetapkan kasus Pengangkatan Anak dan Panitera Muda Permohonan yang menerima dan memeriksa kelengkapan berkas permohonan. 75 Sumber data sekunder diharapkan dapat mendukung peneliti dalam mengungkapkan data yang dibutuhkan dalam penelitian ini, sehingga sumber data primer menjadi lengkap.

Berdasarkan pengertian sumber data sekunder, dapat dipahami bahwa sumber data sekunder adalah pendukung atau pendukung sumber data. Bahan hukum utama dalam penelitian ini adalah: UU No. 3 tahun 2006 tentang perubahan atas UU No. 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama dan Ikhtisar Hukum Islam. Bahan hukum tersier adalah bahan yang memberikan petunjuk dan interpretasi terhadap bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder.76 Sebagai bahan hukum tersier dalam penelitian ini adalah kamus dan ensiklopedia yang berkaitan dengan penelitian ini.

Teknik Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini digunakan wawancara bebas terbimbing yaitu gabungan antara wawancara bebas dan wawancara terbimbing. Wawancara dilakukan kepada hakim Pengadilan Agama Metro dan hakim Pengadilan Agama Tanjung Karang yang mengadili perkara pengangkatan anak, mengenai persepsi hakim dalam mengadili dan mengeluarkan putusan adopsi, serta panitera muda permohonan yang menerima dan mengkaji kelengkapan dari file aplikasi. Teknik pengumpulan data dengan metode dokumentasi adalah mencari informasi tentang hal-hal atau variabel berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, rambu-rambu, risalah rapat, poster, agenda, dll.

Dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode dokumentasi dalam mengumpulkan data berupa: Gambaran umum Pengadilan Agama Metro dan Tanjung Karang, dan buku-buku yang berkaitan dengan penetapan pengangkatan anak.

Teknik Analisis Data

Bahwa pada tanggal 18 Maret 2015, Pemohon mengajukan permohonan penetapan pengangkatan anak yang telah didaftarkan ke Kepaniteraan Pengadilan Agama Tanjungkarang dengan Nomor Pendaftaran 0114/Pdt.P/2014/PA.Mt.

Referensi

Dokumen terkait

From the data of the in-depth interview and informal conversation, participant teachers reported that the challenges they faced are shortage of professional training,