PENDAHULUAN
Identifikasi Masalah
Pembatasan Masalah
Rumusan Masalah
Tujuan Penelitian
Manfaat Penelitian
Sistematika Penulisan
LANDASAN TEORI
Boarding School
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), asrama adalah tempat tinggal bagi mahasiswa, pegawai dan sebagainya, sedangkan rumah kos tinggal bersama dalam satu gedung atau kompleks. Boarding school adalah sistem sekolah berasrama dimana para siswa serta guru dan pimpinan sekolah tinggal di asrama dalam lingkungan sekolah untuk jangka waktu tertentu, biasanya satu semester diselingi dengan liburan sebulan, sampai mereka tamat sekolah. Maskudin mengutip dari Wikipedia bahwa menurut Ensiklopedi, pesantren adalah lembaga pendidikan dimana para santri tidak hanya belajar, tetapi mereka tinggal dan tinggal bersama dalam lembaga tersebut.
Pesantren menggabungkan tempat tinggal siswa di lingkungan sekolah yang jauh dari rumah dan keluarga mereka sambil mengajarkan mereka pelajaran agama dan mengajarkan beberapa mata pelajaran lain yang sama dengan sekolah umum. Jadi asrama atau dormitory adalah tempat tinggal siswa sekaligus tempat belajar, agar proses pembelajaran dapat berjalan sesuai jadwal. Di asrama, mahasiswa tidak hanya mendapat pendampingan dalam bidang akademik, tetapi mahasiswa juga mendapat perhatian lebih dalam aspek lainnya.
Di asrama inilah sebenarnya berlangsung proses pendidikan yang dapat dilakukan, dalam hal ini mendidik atau menawarkan pembelajaran, tidak hanya mentransfer ilmu dan pengetahuan, tetapi disini juga memberikan penanaman nilai dalam perilaku setiap siswa.
Sistem Boarding School
Oleh karena itu, guru atau pendidik lebih mudah mengontrol pembinaan karakter peserta didik karena berada dalam sistem asrama. Kurikulum pendidikan dan pembentukan karakter santri di pondok pesantren dirancang dengan tujuan untuk membentuk santri yang berkarakter. Sistem asrama memadukan pelajaran agama dan pendidikan umum dengan harapan santri dapat menyeimbangkan ilmu dengan praktek di lingkungannya.
Pesantren memiliki peran yang sangat berpengaruh dan sangat penting untuk memberikan pembinaan akhlak yang sesuai dengan ajaran agama, dalam hal ini dapat kita lihat asal muasal berdirinya pesantren yang dalam hal ini adalah sistem pesantren. Sistem pesantren ini dinilai lebih efektif dalam mewujudkan pembentukan karakter setiap individu siswa. Karena dalam sistem pesantren, santri akan dengan mudah menanamkan karakter positif dan tutor dalam waktu 24 jam, juga akan mudah memantau perkembangan karakter positif yang telah ditanamkan kepada santri.
Dari penjelasan teori di atas dapat disimpulkan bahwa sistem pesantren merupakan tempat tinggal santri sekaligus tempat belajar, sehingga proses pembelajaran dapat berkembang secara terencana.
Kajian Pustaka
Perbedaan peneliti ini dengan penelitian yang peneliti selidiki adalah lokasi alokasi waktu penelitian dan teori penelitian. Skripsi yang ditulis oleh Khamdiyah Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta pada tahun 2013 berjudul “Sistem Boarding School Dalam Pendidikan Kelas Bagi Siswa Kelas VII MTs Nurul Ummah Kotagede Yogyakarta”. Dalam penelitian ini, penulis mengungkapkan tentang sistem pesantren dalam penanaman karakter santri melalui proses pembelajaran, pembiasaan, pengembangan diri, keteladanan, menjalin komunikasi yang baik dengan orang tua santri, nasehat, perhatian dan hukuman. teori.
Kerangka Berfikir
Kemudian muncul pesantren atau biasa disebut pondok pesantren di Indonesia, dan hal ini menjadi angin segar bagi orang tua dan guru untuk menerapkan pembentukan karakter pada siswa.
Jenis Penelitian
Metode ini digunakan untuk mengetahui proses pelaksanaan program pembentukan karakter di Asrama MTs Al-Mubaarak Kota Bengkulu dan untuk mengetahui gambaran umum tentang keberadaan, situasi dan kondisi asrama tersebut. Adapun kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam pembentukan karakter siswa diatur dengan sistem asrama yaitu segala kegiatan yang berhubungan dengan apa yang dilakukan siswa mulai dari bangun tidur hingga tidur kembali, kegiatan tersebut diatur dalam asrama itu sendiri. Metode yang digunakan dalam membangun karakter santri di al-Mubaarak Bengkulu meliputi penggunaan metode pengajaran, metode konvensional, metode disiplin, metode penyuluhan, metode ceramah, metode tanya jawab, dan metode hukuman.
Mengenai kegiatan yang dilakukan di sekolah untuk pembentukan karakter siswa, seperti diungkapkan Bu Julia. Mengenai peranan sistem pesantren dalam membangun karakter siswa MTs Al-Mubaraak berdasarkan penelitian yang peneliti lakukan di asrama MTs Al-Mubaraak yaitu di kota Bengkulu. Program kegiatan yang dilakukan dalam pembentukan karakter siswa yaitu segala sesuatu yang berhubungan dengan kegiatan siswa dari bangun tidur sampai tidur kembali, semua itu dilakukan untuk membentuk karakter siswa.
Berdasarkan hasil penelitian tentang peran sistem pesantren dalam membentuk karakter siswa VII. kelas di Mts Al-Mubaarak Kota Bengkulu penulis mencoba memberikan saran yang diharapkan dapat membantu dalam memberikan kontribusi kepada pihak terkait.
Waktu dan Tempat Penelitian
Sumber Data
Sumber data primer diperoleh dari sumber pertama melalui prosedur dan teknik pengumpulan data berupa wawancara, observasi dan penggunaan alat ukur yang dirancang khusus sesuai dengan tujuannya. Sumber data primer dalam penelitian ini adalah sistem asrama dan asrama siswa MTs Al-Mubaarak di Kota Bengkulu. Sumber data sekunder adalah sumber pendukung penelitian atau bahan kajian yang bukan berasal dari pihak yang hadir.
Sumber data sekunder diperoleh dari sumber tidak langsung, biasanya berupa buku-buku yang berhubungan dengan judul penelitian. Data diperoleh dari sumber-sumber pendukung dan buku-buku penunjang yang berkaitan dengan penelitian ini, seperti dokumentasi, surat kabar, majalah, buku teks, dll.
Teknik Pengumpulan Data
Metode dokumentasi adalah mencari data yang berkaitan dengan kondisi atau variabel berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, risalah rapat, legger, agenda, dll. Mubaarak Kota Bengkulu yang berkaitan dengan penelitian, seperti sejarah, sekolah lokasi, visi dan misi sekolah, kondisi guru, siswa, sarana dan prasarana.
Uji Keabsahan Data
Kegiatan yang dilakukan dalam pembentukan karakter siswa asrama dimulai dengan kegiatan pagi, siang dan malam Dari kegiatan tersebut para siswa juga melakukan kegiatan belajar mengajar di kampus dan di madrasah pada umumnya (melaksanakan kegiatan belajar mengajar). 34;Biasanya metode yang digunakan di perguruan tinggi adalah metode orang tua dimana pengasuh melakukan pembiasaan, pembiasaan dan pembentukan karakter siswa agar kegiatan di asrama berjalan dengan lancar. Peran sistem pesantren dalam membangun karakter santri Dalam tesis Isnaini, mengutip dari Soekanto, peran merupakan aspek dinamis dari status (status.
Metode yang digunakan dalam pembentukan karakter siswa adalah metode pembelajaran, metode kebiasaan dan adat istiadat, metode keteladanan, metode pengasuhan, metode pendisiplinan, metode pemberian nasehat dan metode hukuman. Peran sistem pondok pesantren dalam pembentukan karakter santri di Gunung Al-Mubaarak cukup optimal, hal ini dibuktikan dengan: pengenalan nilai-nilai pendidikan santri, pengenalan nilai-nilai karakter siswa, implementasi nilai pendidikan karakter siswa dan penilaian kegiatan penilaian siswa. Anisa Rizkiani, 2016, Dampak Sistem Boarding School Terhadap Pembentukan Karakter Mahasiswa, Jurnal Pendidikan Universitas Garut Vol.
Salma Putra, (2017), Membangun Karakter Melalui Pendidikan Asrama Bagi Santri di Pondok Pesantren, Skripsi Fakultas Psikologi Universitas Medan Medan Area.
Teknik Analis Data
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Hasil Pembahasan
Hamalik menyatakan bahwa kurikulum mencakup segala kegiatan yang dirancang bagi para pendidik yang diperlukan dalam membentuk karakter peserta didik menjadi insan terdidik sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan. Kegiatan lain yang dapat mendukung pembentukan karakter siswa diantaranya adalah menghafal Al Quran, sholat dhuha, sholat berjamaah, piket pesantren, olah raga, organisasi, muhadhoroh dan lain sebagainya. pendidikan karakter dan untuk program di sekolah termasuk pembelajaran yang hanya ada di sekolah, misalnya pembelajaran akhlak akidah dan kalau untuk pendidikan karakter bagaimana guru mendidik dan mendidik anak agar menjadi lebih baik.
Adapun kegiatan yang mendukung pembentukan karakter siswa yaitu kegiatan (Tahsinul qiro'ah, tadabur al-Qur'an, hafalan Al-Qur'an, hafalan kitab kuning, muhadoroh, amalan ibadah dan fiqih, olahraga, seni dan keterampilan). Menurut hasil wawancara yang peneliti terima dari Ny. Marti selaku wakil presiden bidang kurikulum di Mts al-Mubaarak Kota Bengkuu menyatakan bahwa ada faktor pendorong dalam pembentukan karakter siswa antara lain: Adanya anggaran dari lembaga seperti tersedianya fasilitas seperti gedung sekolah, asrama dan mesjid, serta fasilitas lainnya, seperti buku-buku penunjang pembelajaran, terjalin komunikasi yang baik. Sedangkan faktor penghambat pembentukan karakter santri antara lain: Latar belakang santri pondok pesantren Al-Mubarak berbeda-beda (berasal dari daerah yang berbeda, latar belakang pendidikan santri pondok pesantren yang berbeda dan perbedaan kemampuan santri dalam memahami ajaran di pondok pesantren al-mubarak kota Bengkulu yang tidak sama, sehingga pelatih/pengajar harus memberikan cara yang tepat untuk memberikan pengajaran karakter ini.
Sedangkan faktor penghambat pembentukan karakter santri antara lain: Latar belakang santri Pondok Pesantren Al-Mubarak berbeda (asal. Sebaiknya pihak pondok meningkatkan hubungan kerjasama antara pihak pondok dengan orang tua santri. , masyarakat) dan pihak sekolah dalam membangun karakter siswa dan lebih meningkatkan sistem yang ada di asrama agar siswa lebih terarah dan menjadi pribadi Khamdiyah yang lebih baik, (2013), Sistem Asrama pada Pendidikan Karakter Kelas VII MTs Nurul Ummah Kotagede Yogyakarta, Skripsi, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, UIN Sunan Yogyakarta Kalijaga.
PENUTUP
Saran
Sebaiknya pengawas Aramean meningkatkan pengawasan dan dukungan terhadap kehidupan sehari-hari mahasiswa di asrama, selain itu pengawas juga harus aktif berkomunikasi dengan mahasiswa agar terjalin hubungan yang baik antara mahasiswa dan pendamping asrama. Sebaiknya pihak sekolah memperketat pengawasan terhadap seluruh siswa, khususnya bagi siswa yang mengikuti kegiatan pesantren. Sebaiknya siswa meningkatkan kedisiplinan dan mematuhi peraturan yang ada agar pembelajaran lebih bermakna dan menjadi manusia yang lebih baik.
Irfan Prasetyo, 2017, Peran Pondok Pesantren Dalam Pengembangan Pendidikan Karakter Siswa (Studi Kasus di Asrama Baitul Hikmah MTs N Surakarta Tahun 2016, Skripsi S1 Universitas Muhammadiyah Surakarta Fakultas Agama Islam Program Studi Pendidikan Agama Islam Negeri Polewali. Alauddin Makassar Keguruan Manajemen Fakultas Tarbiyah dan Pendidikan Islam, Tintin Ulviani, (2012), Peran pesantren di SMP IT Abubakar Yogyakarta sebagai salah satu penerapan pendidikan karakter, Skripsi S1, Universitas Negeri Yogyakarta, Fakultas Ekonomi, Jurusan Ekonomi .
Umi Khalidah, (2011), Pendidikan Karakter dalam Sistem Pesantren di MAN Wonosari Gunung Kidul, Skripsi, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.