PERAN TUO TENGGANAI DAN ALIM ULAMA DALAM MEMBINA PERILAKU REMAJA DI DESA PAGAR PUDING KECAMATAN
TEBO ULU KABUPATEN TEBO
ARTIKEL
ILHAM FAUZAN 10070010
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SOSIOLOGI
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (STKIP) PGRI SUMATERA BARAT
PADANG
2015
The Role of Tuo Tengganai and Alim Ulama in Fostering Adolescent Behavior in Pagar Pudding village Tebo Ulu District Tebo Region
Oleh :
Ilham Fauzan *Surya Prahara**Darmairal Ramhad **
* The Sosiology education student of STKIP PGRI Sumatera west.
** The Sosiology staff of sosiology education of STKIP PGRI Sumatera west
ABSTRACT
The background of this research by teenage problems that occur in Pagar Pudding with various things that influence it. The problem is limited research on the role of Tuo Tengganai and Alim Ulama in fostering adolescent behavior and constraints faced by Tuo Tengganai and Alim Ulama in fostering adolescent behavior in Pagar Pudding village district of Tebo Ulu Tebo region.
The theory used in this study are Functional Structure by Robert K Merton. This research use qualitative and descriptive. Informants are 20 people divided into 5 Tuo Tengganai, 5 people Alim Ulama, 5 teenagers and 5 people in in Pagar Pudding village. The technique of collecting data through observation and interviews, Data analysis technique through: reduction, presentation, and conclusion. The results showed: 1) The role of Tuo Tengganai in coaching the customs of the young people in Pagar Puding village, because customs regulates how to speak and behave in society, an obligation as citizens Pagar pudding and other forms of violations are included in the customary law and supporting sports and cultural activities, while the scholars give instructions and guide the course of the ceremony. Alim ulama role as a leader in activities at the mosque, such as the Friday prayers, praying feast and so on are good and foster religious activities conducted adolescents held in juvenile Pagar pudding and 2) constraints faced by Tuo Tengganai and Alim ulama are still many young people who lack the spirit of doing activities that there was less concerned for adolescents with problems of custom and religion because of the perception problems of custom and religion is a matter of parents and social environment adolescents who are less good, because a lot of teenagers who drop out of school and affects teenagers others to follow the activities of customs and religion.
Key Words: role, teenage, behavior
i
PENDAHULUAN
Masalah-masalah perilaku yang terjadi belakangan ini jauh lebih banyak dan lebih kompleks. Merebaknya isu-isu perilaku di kalangan remaja seperti penggunaan narkotika dan obat-obatan terlarang, tawuran pelajar, merusak milik orang lain, penipuan, aborsi dan lain-lain sudah menjadi masalah perilaku remaja yang sampai saat ini belum teratasi secara tuntas. Akibat yang ditimbulkan cukup serius dan tidak dapat lagi dianggap sebagai salah satu persoalan sederhana, karena tindakan-tindakan tersebut sudah menjurus kepada tindakan kriminal. Kondisi ini sangat memprihatinkan masyarakat khususnya tokoh masyarakat, sebab pelaku-pelaku dan korban dari semua tindakan tersebut adalah kaum remaja (Sarwono, 2004).
Masa remaja merupakan masa peralihan dari masa anak menuju ke masa dewasa. Pada masa ini anak ditandai dengan pertumbuhan dan perkembangan fisik, mental, dan emosional.
Secara psikologis, masa remaja adalah masa usia saat individu berintegrasi dengan masyarakat dewasa, usia saat anak tidak lagi merasa di bawah tingkat orang-orang yang lebih tua, melainkan berada dalam tingkat yang sama sekurang-kurangnya dalam masalah hak. Salah satu perkembangan yang harus dicapai pada periode remaja adalah memiliki seperangkat nilai untuk menjadi pedoman bertingkah laku dalam kehidupan sosial di masyarakat.
Dicapainya perkembangan ini, merupakan bukti bahwa remaja tersebut mencapai perkembangan perilku yang ditandai dengan remaja memiliki seperangkat nilai yang mempribadi dalam bertingkah laku sosial. Penguasaan perilaku anak mulai ditinggalkan secara pelan-pelan dikuasai dan diperkuat dengan nilai-nilai sebagai orang dewasa, sejalan dengan perkembangan kemampuan mereka berpikir, remaja yang memiliki perilaku yang tinggi cenderung berpikir positif, memiliki kemampuan yang tinggi untuk memahami pesoalan perilaku yang dihadapinya (Ali dan Asrori, 2006:9).
Remaja dikatakan berperilaku jika mereka memiliki kesadaran perilaku yaitu dapat menilai hal-hal yang baik dan buruk, hal-hal yang boleh dilakukan serta hal-hal yang tidak boleh dilakukan. Remaja yang berperilaku dengan sendirinya akan tampak dalam penilaian atau penalaran pada perilakunya yang baik dan benar sesuai dengan etika yang ada (Budiningsih 2013:5).
Perilaku manusia merupakan hasil dari pada segala macam pengalaman serta interaksi
manusia dengan lingkungannya yang terwujud dalam bentuk pengetahuan, sikap dan tindakan.
Dengan kata lain perilaku merupakan respon/reaksi seorang individu terhadap stimulus yang berasal dari luar maupun dari dalam dirinya. Respon ini dapat bersifat pasif tanpa tindakan berpikir, berpendapat, bersikap, maupun aktif melakukan tindakan. Sesuai dengan batasan ini, perilaku kesehatan dapat dirumuskan sebagai bentuk pengalaman dan interaksi individu dengan lingkungannya, khususnya yang menyangkut pengetahuan dan sikap tentang kesehatan. Perilaku aktif dapat dilihat, sedangkan perilaku pasif tidak tampak, seperti pengetahuan, persepsi, atau motivasi.
Beberapa ahli membedakan bentuk-bentuk perilaku ke dalam tiga domain yaitu pengetahuan, sikap, dan tindakan atau sering kita dengar dengan istilah knowledge, attitude, practice (Sarwono, 2004).
Masa remaja adalah masa peralihan dimana perubahan secara fisik dan psikologis dari masa kanak-kanak ke masa dewasa (Hurlock, 2003). Perubahan psikologis yang terjadi pada remaja meliputi intelektual, kehidupan emosi, dan kehidupan sosial.
Perubahan fisik mencakup organ seksual yaitu alat-alat reproduksi sudah mencapai kematangan dan mulai berfungsi dengan baik Remaja adalah generasi yang berumur 15 tahun sampai 20 tahun. Apabila mereka bersekolah, batasnya adalah mereka yang belajar di tingkat SLTP, SLTA, dan tahun-tahun awal memasuki perguruan tinggi (Sarwono, 2006).
Peran dari tokoh masyarakat pimpinan dalam suatu masyarakat merupakan suatu kedudukan sosial, tetapi juga suatu proses sosial memberikan pemikiran dan perilaku yang baik bagi masyarakat. Pemikiran dan perilaku tersebut sejalan dengan apa yang diharapkan masyarakat dan sejalan dengan yang dicita-citakan oleh bangsa yang menginginkan keharmonisan dalam kehidupan sosial masyarakat.
Kerjasama antara tokoh/pimpinan masyarakat sangat erat dan penting terutama dalam menyelesaikan masalah-masalah yang ada dalam masyarakatnya. Hal ini seperti kata pepatah adat Jambi yang melambangkan hubungan antara pimpinan masyarakat adat
“tali nan bepintal tigo” yang mempunyai makna hubungan erat antara ketiga komponen tokoh/pimpinan masyarakat yaitu pejabat pemerintahan dusun, pemangku adat, dan pegawai syarak. Sebagai kedudukan sosial, pimpinan merupakan suatu kompleks dari hak- hak dan kewajiban yang dapat dimiliki oleh seorang pemimpin/tokoh masyarakat. Sebagai
proses sosial pimpinan, meliputi segala tindakan yang dilakukan oleh pimpinan.
Tanggung jawab penuh terhadap pengawasan perilaku remaja merupakan peran tokoh masyarakat yang sangat berpengaruh terhadap pembinaan perilaku remaja. Tokoh masyrakat juga harus mengontrol pergaulan remaja agar tidak terpengaruh kepada pergaulan yang tidak baik. (Koentjaraningrat,1992:198).
Desa Pagar Puding, salah satu desa yang ada di Kecamatan Tebo Ulu, Kabupaten Tebo, Provinsi Jambi yang merupakan masyarakat dalam kesatuan adat Daerah Jambi. Oleh sebab itu persoalan perilaku yang dilakukan kaum remaja harus diatasi oleh selain keluarga, pimpinan/tokoh masyarakat setempat yang berada di Desa Pagar Puding.
Daerah Jambi merupakan suatu daerah yang sebagian besar wilayahnya dihuni oleh masyarakat suku Melayu. Dalam sistem kemasyarakatannya diatur oleh suatu ketentuan yang dinamakan adat. Dalam adat ini juga terdapat ketentuan yang mengatur tata cara kepemimpinan masyarakat yang disebut dengan kepemimpinan adat atau dikenal dengan sebutan Tuo Tengganai, nenek mamak, alim ulama dan cerdik pandai”. Tuo Tengganai adalah kumpulan orang-orang yang dituakan di dalam suatu desa atau kampung (Arsyad dalam Wenanda, 2013:10).
Berdasarkan hasil observasi di Desa Pagar Puding, salah satu desa yang ada di Kecamatan Tebo Ulu, Kabupaten Tebo, Provinsi Jambi wawancara peneliti dengan Bapak Holil, selaku sekretaris Desa Pagar Puding, pada tanggal 27 April 2014 pada pukul 17.00 WIB sebagai berikut:
Adapun bentuk-bentuk tindakan yang dilakukan oleh remaja yang tidak sesuai dengan Norma yang ada dalam masyarakat dalam kurun waktu 5 tahun terakhir dari tahun 2009 sampai tahun 2014, meliputi: pencurian, minuman keras, menggunakan atau mengkonsumsi barang sejenis narkoba, perkelahian baik di lingkungan sekolah maupun di lingkungan masyarakat umum, dan beberapa tindakan lainnya yang dilakukan oleh remaja yang ada di Desa Pagar Puding.
Tabel 1. Perilaku Remaja yang Bertentangan dengan Norma tahun 2009-2014 di Desa Pagar Puding Kecamatan Tebo Ulu Kabupaten Tebo
No Remaja Jumlah
1 Pencurian 10 Orang
2 Minuman Keras 22 Orang 3 Mengkonsumsi Narkoba 35 Orang
4 Perkelahian 40 Orang
Sumber: wawancara dan obsevasi dengan Kepala Desa Pagar Puding
Untuk mengantisipasi berbagai persoalan- persoalan perilaku remaja di Desa Pagar Puding Kecamatan Tebo Ulu Kabupaten Tebo.
Hal ini merupakan peran tokoh masyarakat yaitu Tuo Tengganai dan Alim Ulama dalam membina perilaku remaja dimana remaja tersebut banyak melakukan tindak-tindakan kriminal dan tindakan-tindakan perilaku meyimpang yang lainnya, seperti tindakan kriminal yang sering dilakukan oleh remaja seperti pencurian, minuman keras, menggunakan atau mengkonsumsi barang sejenis narkoba, perkelahian baik di lingkungan sekolah maupun di lingkungan masyarakat umum, dan beberapa tindakan kriminal lainnya, yang meresahkan masyarakat di Desa Pagar Puding tersebut, peran Tuo Tengganai dan Alim Ulama dalam membina perilaku remaja di Desa Pagar Puding Kecamatan Tebo Ulu Kupaten Tebo.
Tuo Tengganai dan Alim Ulama sangat berperan penting dalam membina perilaku remaja sebagai bentuk tanggung jawab tokoh masyarakat adat dan agama. Perilaku remaja dapat diatasi selain perhatian dan kasih sayang dari tokoh masyarakat serta kontrol yang lebih dari pihak Tuo Tengganai dan Alim Ulama, dapat juga dengan melakukan berbagai kegiatan yang dianjurkan oleh tokoh mayarakat dalam membina perilaku remaja yang ada di Desa Pagar Puding tersebut, berupa, wirid remaja, takziah, karang taruna, kegiatan olah raga dan kegiatan lainnya yang memberikan efek yang positif bagi perkembangan dan kebutuhan pertumbuhan remaja yang ada di Desa Pagar Puding Kecamatan Tebo Ulu Kabupaten Tebo
Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan peran Tuo Tengganai dan Alim Ulama dalam membina perilaku remaja g dan kendala yang dihadapi oleh Tuo Tengganai dan Alim Ulama dalam membina perilaku remaja di Desa Pagar Puding
METODOLOGI PENELITIAN
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Tipe penelitian adalah deskriptif, yang berupaya untuk lebih memahami lebih mendalam tentang peran Tuo Tengganai dan Alim Ulama dalam membina perilaku remaja di Desa Pagar Puding Kecamatan Tebo Ulu Kabupaten Tebo.
Pemilihan informan dalam penelitian ini dilakukan dengan teknik Purposive sampling, yang mana dengan pertimbangan yaitu Tokoh masyarakat yaitu Tuo Tengganai dan Alim Ulama, Remaja, Masyarakat dan Aparat dan
perangkat Desa yang ada di Desa Pagar Puding Kecamatan Tebo Ulu Kabupaten Tebo. Informan berjumlah 20 orang.
Analisis Data dilakukan dengan reduksi data, display data dan penarikan kesimpulan.
Penelitian dilakukan di Desa Pagar Puding Kecamatan Tebo Ulu Kabupaten Tebo.
DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN
Desa Pagar Puding adalah suatu desa yang masuk kedalam tatanan keprajaan pemerintahan Provinsi Jambi. Lebih tepatnya di Kecamatan Tebo Ulu Kabupaten Tebo Provinsi Jambi, dengan bentuk kepemerintahan Desa yang dipimpin oleh seorang Kepala Desa.
Letak Astronomis Kecamatan Tebo Ulu Kabupaten Tebo 10 26’30”-10 11’30” LS dan 1020 09’05”-1020 24’05” BT. Dilihat dari topografi wilayah, Desa Pagar Puding berada diketinggian antara 0-100 Meter Dari Permukaan Laut, memiliki suhu rata-rata tahunan yang berkisar di angka 26 °C dengan curah hujan dibawah 2000 mm/thn. Luas daratan Desa Pagar Puding ±23 km2 yang dihuni oleh tingkat populasi penduduk per April 2015 yang berjumlah 3.554 jiwa atau sama dengan 1.988 Kepala Keluarga. Batas Desa Pagar Puding Kecamatan Tebo Ulu Kabupaten Tebo Provinsi Jambi
Jumlah penduduk Desa Pagar Puding berdasarkan jenis kelamin yaitu, laki-laki berjumlah 955 jiwa dan perempuan berjumlah 2599 jiwa serta Desa Pagar Puding Memiliki 8 RT dan memiliki 1.988 KK. Jumlah penduduk terbanyak terbanyak berada di Dusun Permatang Bungur yaitu 1.101 jiwa dan penduduk terkecil berada di Dusun Muara Sungai yaitu 139 jiwa.
Mata pencarian yang beragam mulai dari petani karet, petani padi petani kelapa sawit, perdagangan, tukang dan PNS. Namun sebagian besar mata pencarian penduduk Desa Pagar Puding bermata pencarian sebagai petani karet dan petani padi.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Kepemimpinan dalam masyarakat desa Pagar Puding sesuai dengan kata-kata adat
"berjenjang naik bertanggo turun" sangat dipatuhi dan diikuti. Berjenjang naik bertanggo turun mengandung arti bahwa segala sesuatu di dalam adat berlaku dan berbuat tidak sembarangan semua ada aturan nilai-nilai dan norma-norma, sehingga dalam adat tata krama yang mengatur secara berjenjang dan tidak melompat-lompat.
Tuo Tengganai memiliki hak dan kewajiban. Di dalam adat hak dan kewajiban pemimpin maupun yang dipimpin telah diatur walaupun secara tidak tertulis tetapi hak dan kewajiban itu telah diikuti dan dipatuhi sejak dahulu sebagaimana disebut dalam adat.
Peran Tuo Tengganai sangat penting dalam membangun dan membentuk pola perilaku masyarakat. Tuo Tengganai juga merupakan tempat sandaran dan tempat untuk meminta nasihat. Adanya Tuo Tengganai di Desa Pagar Puding ini juga untuk memastikan adat istiadat Melayu Jambi dapat terlaksana sebagai masa mestinya.
Keberadaan Alim Ulama sangatlah dibutuhkan sebagai salah satu unsur kepemimpinan dalam Masyarakat Melayu Jambi termasuk di Desa Pagar Puding. Alim Ulama tidak hanya memakai ilmu tersebut hanya untuk dirinya sendiri, tetapi di sebarkan kepada masyarakat. Setiap orang yang datang dan bertanya kepadanya ia siap membantu dan menjawab sesuai dengan ilmu agama yang dimilikinya. Alim Ulama juga mengajarkan banyak hal tentang ilmu agama kepada masyarakat. Terutama kepada anak-anak yang dalam tahap belajar. Disini peran Alim Ulama sangat dibutuhkan. Dalam setiap musyawarah negeri, alim ulama tidak bisa ditinggalkan karena merekalah yang paham seluk-beluk agama. Merekalah yang menentukan bahwa suatu peraturan itu bertentangan atau tidak dengan agama atau mungkin keputusan Depati itu tidak sesuai atau salah menurut kaidah agama.
Peran Tuo Tengganai dalam pembinaan Adat Istiadat Terhadap Remaja di Desa Pagar Puding, terlebih dahulu dilaksanakan di lingkungan Tuo Tengganai, bentuk pembinaan diantaranya tentang adat istiadat yang berlaku di desa Pagar Puding, diantaranya cara berbicara dan bersikap di tengah masyarakat, kewajiban sebagai warga Desa Pagar Puding serta bentuk- bentuk pelanggaran yang termasuk dalam hukum adat. Adanya pembinaan ini, memperlihatkan bahwa Tuo Tengganai sebagai tokoh masyarakat telah melakukan hak dan kewajibannya sebagai pimpinan adat di Desa Pagar Puding. Remaja sebagai generasi penerus sangat penting untuk mengetahui dan menjalankan adat istiadat, karena dalam adat sangat banyak yang dapat diambil sebagai pedoman menjalani kehidupan. Peran Tuo Tengganai sebagai tokoh masyarakat di Desa Pagar Puding tidak terbatas pada masalah adat istiadat, tetapi masalah sosial remaja. Hal ini masih sejalan dengan status Tuo Tengganai sebagai orang yang dituakan dan berhak untuk
mengambil keputusan secara bersama sehingga berbagai kegiatan remaja yang positif dapat dilaksanakan di Desa Pagar Puding.
Peran Alim Ulama dalam membina perilaku remaja di Desa Pagar Puding sudah baik. Peran Alim Ulama terlihat dari peran yang mereka jalankan sebagai seorang teladan di tengah masyarakat, sehingga menjadi contoh terutama bagi remaja, Alim Ulama juga berperan sebagai penerang dan menjadi penunjuk jalan yang lurus, jalan yang sesuai dengan ajaran agama. Peran selanjutnya yang dijalankan Alim Ulama adalah mengajarkan nilai-nilai dari agama kepada anak-kepenakannya. Ia mengajarkan hal- hal yang baik dan berguna bagi anak kepenakannya, sebagai penunjuk jalan kebenaran, jalan yang lurus dan jalan yang sesuai dengan ajaran agama. Hal tersebut bertujuan, agar masyarakatnya selamat di dunia serta sebagai penunjuk jalan yang lurus menuju ke akhirat. Semua itu bertujuan agar masyarakatnya nanti selamat dan bahagia hidup di akhirat kelak. Selain itu, ia juga berfungsi sebagai pemberi nasehat dan memberitahukan segala hal yang seharusnya di lakukan untuk mendapatkan kebahagian di akhirat nanti.
Peran Alim Ulama yang dijalankan di Desa Pagar Puding adalah sebagai orang yang meluruskan halal dan haram untuk di lakukan.
Setiap masyarakat yang tidak mengerti dengan segala hal yang halal atau haram, dapat bertanya kepada alim ulama dan tempat bertanya bagi masyarakat tentang hal-hal yang sah dan batal menurut agama serta mampu memberikan pandangan dan pendapat dalam membuat keputusan. Pandangan dan pendapat tersebut di sampaikan berdasarkan Al-qur’an dan hadist.
Alim Ulama juga mampu berkewajiban untuk memberikan pertimbangan-pertimbangan kepada pangulu untuk mengambil keputusan dalam bidang agama Islam.
Hal tersebut diwujudkan dengan kegiatan- kegiatan yang dapat membina akhlak remaja dengan jalan memberi arahan dialog-dialog atau komunikasi langsung dengan remaja-remaja yang berkeinginan untuk lebih memahami ketentuan adat dan ajaran agama yang jadi sumber utamanya. Alim Ulama Desa Pagar Puding memberi dukungan terhadap kegiatan yang dilakukan oleh remaja. Bentuk dukungan berupa menjadi Pembina bagi kegiatan remaja dalam bidang keagamaam
Kendala yang dihadapi oleh Tuo Tengganai dan Alim Ulama dalam membina prilaku remaja di Desa Pagar Puding juga disebabkan oleh lingkungan pergaulan remaja, dimana remaja di Desa Pagar Puding banyak yang putus sekolah, mereka mempengaruhi remaja lain untuk tidak
mengikuti kegiatan pembinaan dalam bidang adat dan kegiatan keagamaan yang diadakan di Deasa Pagar Puding
Analisis struktural fungsional memusatkan perhatian kepada kelompok, organisasi, masyarakat dan kultural. Ia mengatakan bahwa setiap objek yang dapat dijadikan sasaran analisis struktural fungsional mencerminkan hal yang standar (terpola dan berulang) (Rizer.
1949/1968; 104 ). Di dalam pemikiran Merton, sasaran studi struktural fungsional antara lain adalah peran sosial, pola intitusional, proses sosial, pola kurtul, emosi yang terpola secara kultural, norma sosial dan organisasi kelompok.
Struktur sosial, perlengkapan untuk pengendaliaan sosial dan sebagainya (Rizer, 1949/1968; 104).
PENUTUP
1. Peran Tuo Tengganai dalam membina perilaku remaja di Desa Pagar Puding, a. Tuo Tengganai berperan dalam pembinaan
adat istiadat terhadap remaja di desa Pagar Puding,
b. Tuo Tengganai mendukung kegiatan olahraga dan kesenian, sementara alim ulama memberikan petunjuk-petunjuk dan memandu jalannya upacara tersebut.
2. Peran Alim Ulama dalam membina perilaku remaja di Desa Pagar Puding,
a. Berfungsi sebagai pemimpin dalam kegiatan-kegiatan di masjid, seperti shalat jum’at, shalat hari raya dan sebagainya sudah baik
b. Membina kegiatan keagamaan yang dilaksanakan remaja yang diadakan remaja di Desa Pagar Puding.
3. Kendala-kendala yang dihadapi oleh Tuo Tengganai dan Alim Ulama dalam membina perilaku remaja di Desa Pagar Puding, a. Kurang pedulinya remaja dengan masalah
adat dan agama karena adanya anggapan masalah adat dan agama adalah masalah orang tua
b. Lingkungan pergaulan remaja yang kurang baik, karena banyak remaja yang putus sekolah dan mempengaruhi remaja lain untuk mengikuti kegiatan adat dan agama.
DAFTAR PUSTAKA
Ali, Mohhamad dan Muhammad Asrori. 2006.
Psikologi Perkembangan. Jakarta: Bumi Aksara.
Budiningsih, C. Asri. 2013. Pembelajaran Moral. Jakarta: Rineka Cipta.
Soekanto, Soerjono. 2005. Sosiologi Suatu Pengantar. Cetakan, ke-38. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Somad, Kemas Arsyad. 2002. Mengenal Adat Jambi dalam Perspektif Modern. Jambi:
Dinas Pendidikan Provinsi Jambi.
Sugiyono. 2011. Metodologi Peneltian Pendidikan Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif dan R & D. Bandung: Alfabeta.