PENDAHULUAN
Identifikasi masalah
Aisyiyah Bustanul Athfal 5 Gunung Agung Tengah Kota Pagar Alam diketahui adanya ketidaktahuan orang tua akan batasan tindakan bullying dengan perilaku kenakalan anak usia dini di rumah dan di tempat bermain. Anak usia dini sangat rentan terhadap perilaku bullying, baik sebagai pelaku bullying maupun sebagai korban bullying.
Pembatasan masalah
Anak usia dini dalam penelitian ini adalah anak usia 5 sampai 6 tahun yang bersekolah di TK Aisyiyah Bustanul Athfal 5 Gunung Agung Tengah Kota Pagar Alam. Guru yang dimaksud dalam penelitian ini adalah guru yang mengajar di TK Aisyiyah Bustanul Athfal 5 Gunung Agung Tengah Kota Pagar Alam.
Rumusan masalah
Tingkat percaya diri yang dimaksud dalam penelitian ini adalah tindakan dimana anak berani melakukan sesuatu yang baik untuk dirinya sendiri sesuai dengan pengetahuan dan kemampuannya.
Tujuan Penelitian
Manfaat Penelitian
Menambah pengetahuan dan pengalaman pendidik dalam mengatasi perilaku bullying terhadap harga diri anak usia dini. Dapat digunakan untuk sekolah dalam pengetahuan tentang perilaku bullying terhadap harga diri anak usia dini.
LANDASAN TEORI
Konsep Guru
Agama Islam sangat menjunjung tinggi orang-orang yang berilmu (guru/ulama), sehingga hanya orang-orang yang sejalanlah yang berhak mencapai jenjang dan kesempurnaan hidup yang lebih tinggi. Peran guru memegang peranan penting dalam proses pendidikan yang meliputi transformasi nilai-nilai moral, sosial, hukum, dan agama.Keberhasilan guru sebagai pendidik dapat dilihat dari berubahnya perilaku moral peserta didik, yaitu kedisiplinan, tanggung jawab dalam melaksanakan tugas, kesopanan, ketaatan beribadah dan yang kedua dalam hal mencegah terjadinya tindak kekerasan yang terjadi antar siswa 25 Peran guru sebagai pembimbing, yang harus dilakukan oleh guru, berdasarkan pengetahuan dan pengalamannya.
Konsep Orang Tua
Hal ini tentunya bisa dilakukan oleh orang tua dalam hal pendidikan, khususnya pendidikan agama dalam keluarga. Dalam melaksanakan pendidikan anak, orang tua harus berperan sebagai pembimbing dan.
Konsep Bullying
Komunikasi antara guru dan orang tua harus terus berlanjut selama anak bersekolah. Peran orang tua dalam kasus bullying terutama sebagai mediator perilaku bullying. Orang tua dapat menjadi jembatan untuk menyelesaikan kasus-kasus perundungan yang dilakukan oleh anak atau apabila anaknya menjadi korban perundungan.
Orang tua bisa menjadi pihak yang memperbaiki perilaku bullying atau bahkan mendukungnya dengan gaya pengasuhan yang mereka terapkan pada anak di rumah. Sebaliknya, orang tua yang memberikan perhatian penuh kepada anak dan selalu bersikap adil merupakan orang yang tepat untuk menghadapi perilaku bullying tersebut. Peran orang tua dalam kasus bullying tentu saja sebagai orang yang dapat memberikan semangat kepada anak ketika ia sedang terpuruk.
Peran orang tua dalam kasus penganiayaan ini sangat besar sebagai pihak yang melindungi anak demi anak. tidak terkutuk pada kejadian buruk dalam hidupnya. Hanya orang tua yang selalu mendampingi anak yang bisa membantu anak korban atau pelaku bullying. Kedekatan anak dengan orang tuanya juga dapat mempengaruhi penyelesaian kasus bullying yang tepat.
Konsep Tingkat Percaya Diri
73 Aprianti Yofita Rahayu, Menumbuhkan Rasa Percaya Diri Melalui Kegiatan Bercerita, (Jakarta: Indexs, 2013), hal. 64. bercerita, emosi anak tampak sangat antusias dan penuh kegembiraan. Rasa percaya diri terbentuk sebagai hasil proses belajar bagaimana menyikapi berbagai rangsangan dari luar diri melalui interaksi dengan lingkungan. Lauster, ciri-ciri percaya diri adalah tidak egois, cukup toleran, tidak membutuhkan dukungan berlebihan dari orang lain, optimis dan bahagia.
Anak dengan harga diri tinggi umumnya adalah individu yang mampu dan mau belajar, mengendalikan perilakunya sendiri, dan berinteraksi secara efektif dengan orang lain. Selain itu ada juga anak yang memiliki rasa percaya diri yang rendah, anak yang memiliki rasa percaya diri yang rendah terlihat dari segala tingkah lakunya dalam menghadapi berbagai situasi dan permasalahan yang muncul baik pada dirinya maupun lingkungannya. Harga diri yang rendah harus dikenali sejak dini karena dapat berubah menjadi harga diri negatif jika diabaikan.
77 Aprianti Yofita Rahayu, Menumbuhkan Rasa Percaya Diri Melalui Kegiatan Bercerita, (Jakarta: Indexs, 2013), hal. 71. akan menghindari aktivitas apa pun yang akan diberikan. Rasa percaya diri anak dapat diamati dalam kegiatan sekolah, misalnya: anak mampu melaksanakan tugas dengan baik, bercerita, bekerja dalam kelompok, melaksanakan instruksi dan menyikapi berbagai rangsangan dari guru. Merumuskan beberapa aspek Lauster dan Guilford yang menjadi ciri dan indikator rasa percaya diri, yaitu: 82.
Konsep Anak Usia Dini
Anak usia dini disebut juga anak usia prasekolah yang hidup pada masa anak usia dini dan masa sensitif. Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa anak usia dini merupakan anak yang berusia 0-8 tahun, dan merupakan masa emas (golden age) dimana tumbuh kembang anak sangatlah penting. Sulit bagi anak usia dini untuk belajar hanya dengan duduk diam dan kemudian mendengarkan penjelasan dari pendidik PAUD-nya dalam waktu lama.
20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 1 Ayat 14 menyatakan bahwa: “Pendidikan prasekolah adalah suatu usaha pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan umur enam tahun, yang dilaksanakan dengan memberikan insentif pendidikan untuk membantu pertumbuhan jasmani dan rohani serta pendidikan anak usia dini dapat diartikan sebagai pendidikan yang sadar dan upaya terencana untuk menciptakan lingkungan belajar dan proses pembelajaran bagi anak usia 0 sampai dengan 6 tahun, secara aktif dan kreatif, sehingga mereka memiliki kecerdasan emosional dan spiritual, serta kecerdasan intelektual yang diperlukan bagi dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara. 93.
Pendidikan anak usia dini harus diiringi dengan kegiatan bermain, karena anak menghabiskan sebagian besar waktunya untuk bermain, hal ini mendukung Pasal 7:3 Deklarasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang berbunyi: “Anak-anak harus diberikan setiap kesempatan untuk bermain dan bersenang-senang.” rekreasi, serta kesempatan memperoleh pendidikan; masyarakat dan pemerintah harus berperan aktif dalam mendukung realisasi hak-hak tersebut.” Karena anak-anak menghabiskan sebagian besar waktunya untuk bermain, maka bermain adalah “pekerjaan” bagi anak-anak, melalui bermain anak-anak akan tumbuh dan berkembang. 94 Retno Pudjiarti, Permainan untuk anak usia dini dan alat bermain sesuai usia, Direktorat Pembinaan Pendidikan Prasekolah, Direktorat Jenderal Pendidikan Prasekolah Informal dan Santai, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2011, h. Dari penjelasan di atas dapat kita simpulkan bahwa pendidikan prasekolah adalah pendidikan bagi anak usia 0 sampai dengan 6 tahun, dengan adanya dorongan dan rangsangan dalam pengembangan berbagai aspek perkembangannya, guna mempersiapkan anak memasuki pendidikan lebih lanjut.
Hasil Penelitian Yang Relevan
120 Interview met ouderinformant GF Aisyiyah Kleuterschoolleerlingen Bustanul Athfal 5 Gunung Agung Tengah, Pagar Aalam City, 9 september 2020. 121 Interview met ouderinformant GF Aisyiyah Kleuterschoolleerlingen Bustanul Athfal 5 Gunung Agung Tengah Stad Pagar Aalam, 9 september 2020. 128 Interview met ouders van GF Aisyiyah kleuterschoolleerlingen Bustanul Athfal 5 Gunung Agung Tengah Stad Pagar Aalam, 9 september 2020.
131 Onderhoud met ouerinformant GF Aisyiyah Kleuterskoolstudent Bustanul Athfal 5 Gunung Agung Tengah, Pagar Aalam City, 9 September 2020. 135 Onderhoud met ouerinformant Aisyiyah Kleuterskoolstudent Bustanul Athfal 5 Gunung Agung Tengah City Pagar Aalam 3, 209 September Onderhoud met informante. ouers van TK Aisyiyah Bustanul Athfal 5 Gunung Agung Tengah City of Pagar Aalam, 9 September 2020.
137 Wawancara Orang Tua Informan TK Aisyiyah Bustanul Athfal 5 Gunung Agung Tengah Kota Pagar Aalam, 9 September 2020. Peran Orang Tua dalam Mencegah Tindakan Bullying pada Anak Usia Dini TK Aisyiyah Bustanul Athfal 5 Gunung Agung Tengah Kota Pagar Alam. Peran Orang Tua Dalam Meningkatkan Harga Diri Pada Anak Usia Dini Aisyiyah Bustanul Athfal 5 Gunung Agung Tengah Kota Pagar Alam.
Kerangka Pikir
METODE PENELITIAN
Informan Penelitian
Informan adalah orang yang menjawab pertanyaan peneliti.100 Teknik pengambilan informan menggunakan teknik non-probability sampling.
Tempat dan Waktu Penelitian
Teknik Pengumpulan Data
Selain itu dilakukan observasi untuk mengetahui sarana dan prasarana yang digunakan siswa untuk belajar, serta keadaan dan kondisi sekolah yang berkaitan dengan penelitian ini. Wawancara ini ditujukan kepada kepala sekolah dan orang tua siswa di TK Aisyiyah Bustanul Athfal 5 Gunung Agung Tengah Kota Pagar Alam. Wawancara dalam penelitian ini adalah wawancara bebas terstruktur dimana peneliti menggunakan pedoman wawancara yang disusun secara sistematis dan komprehensif untuk pengumpulan data 105.
Teknik Keabsahan Data
Bandingkan apa yang orang katakan tentang situasi pasokan dengan apa yang mereka katakan sepanjang waktu.
Teknik Analisis Data
122 Wawancara Informan Orang Tua FDF Siswa TK Aisyiyah Bustanul Athfal 5 Gunung Agung Tengah Kota Pagar Aalam, 9 September 2020. 123 Wawancara Informan Orang Tua RF Siswa TK Aisyiyah Bustanul Athfal 5 Kota Gunung Agung Tengah Pagar Aalam 24 September Wawancara Informan Orang Tua RF Aisyiyah Siswa TK Bustanul Athfal 5 Kota Gunung Agung Tengah Pagar Aalam 24 September. informan orang tua siswa TK KA Aisyiyah Bustanul Athfal 5 Gunung Agung Tengah Kota Pagar Aalam, 9 September 2020.
125 Wawancara dengan informan orang tua siswa TK BO Aisyiyah Bustanul Athfal 5 Gunung Agung Tengah, Kota Pagar Aalam, 9 September 2020. 126 Wawancara dengan informan orang tua siswa TK PA Aisyiyah Bustanul Athfal 5 Gunung Agung Tengah 2 September 2020, Kota Pagar 09. BO informasikan kepada orang tua siswa TK Aisyiyah Bustanul Athfal 5 Gunung Agung Tengah Kota Pagar Aalam, 9 September 2020.
129 Onderhoud met ouer-informant GF Aisyiyah Kleuterskoolstudente Bustanul Athfal 5 Gunung Agung Tengah, Pagar Aalam City, 9 September 2020. 130 Onderhoud met ouer-informant PA Aisyiyah Kleuterskoolstudente Bustanul Athfal 5 Gunung Agung Tengah City Pagar Aalam, 3 September 20209 Onderhoud met 1 September 209. BF-ouers van Aisyiyah-kleuterskoolstudente Bustanul Athfal 5 Gunung Agung Tengah City of Pagar Aalam, 9 September 2020.
133 Wawancara dengan orang tua informan TK Islam Aisyiyah Bustanul Athfal 5 Gunung Agung Tengah Kota Pagar Aalam, 9 September 2020. 134 Wawancara dengan orang tua informan GF siswa TK Aisyiyah Bustanul Athfal 5 Gunung Agung Tengah Kota Pagar Aalam 9 September 2020.
HASIL PENELITIAN DAN ANALISIS PEMBAHASAN
Interpretasi Hasil Penelitian
PENUTUP
Saran
Sekolah sebagai institusi hendaknya mampu memberikan program yang lebih tepat dan intensif dengan bekerjasama dengan orang tua dan lingkungan untuk mencegah terjadinya perundungan dan meningkatkan rasa percaya diri siswa di sekolah maupun di luar sekolah. Harus melakukan inovasi dalam pembelajaran, baik dalam penggunaan model, strategi, metode maupun yang dapat memberikan kemampuan pada anak untuk mencegah bullying dan meningkatkan rasa percaya diri pada anak. Orang tua sebagai wali siswa hendaknya lebih memperhatikan tumbuh kembang anak, sehingga dapat mencegah anak melakukan perilaku menyimpang.
Direktorat Pendidikan Prasekolah Direktorat Jenderal Pendidikan Nonformal dan Kasual Kementerian Pendidikan Nasional, Pedoman Teknis NSPK Penyelenggaraan Kelompok Bermain, Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2015. Hubungan antara kepercayaan dan kecurangan pada siswa XI. Madrasah Aliyah Salafiyah Bangil Pasuruan. Novan Ardy Wiyani, Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini, (Yogyakarta: Gava Media, 2016 Novan Ardy Wiyani, Menangani Kebutuhan Khusus pada Anak Usia Dini,.
Peran Guru Pendidikan Kewarganegaraan dalam Mencegah Bullying pada Siswa Studi Kasus di SMK Muhammadiyah 1 Surakarta Tahun 2013.