Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1983 Nomor 50, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3263) sebagaimana telah beberapa kali diubah, terakhir dengan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan. Perubahan Keempat Atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 133, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4893); Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1995 Nomor 75, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3612) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2006 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 93, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4661);. Dalam melaksanakan tugas berdasarkan Peraturan Pemerintah ini dan peraturan perundang-undangan lainnya, yang pelaksanaannya dilaksanakan oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, pejabat bea dan cukai dalam rangka melindungi hak negara mempunyai kewenangan sebagaimana diatur. dalam peraturan perundang-undangan dan bea cukai. peraturan di bidang kepabeanan dan cukai.
Ketentuan mengenai tata cara pemberian informasi kepada Dewan Zonasi dan/atau Badan Pengusahaan Zonasi diatur dengan atau berdasarkan peraturan menteri. Ketentuan lain mengenai pemasukan barang ke kawasan bebas atau pengeluaran barang dari kawasan bebas berlaku ketentuan Undang-Undang Kepabeanan. Ketentuan mengenai sanksi yang diatur dalam peraturan perundang-undangan di bidang kepabeanan dan perpajakan tetap berlaku di kawasan bebas.
PENGOLAHAN BEA, PERPAJAKAN, DAN CUKAI SERTA PENGAWASAN TERHADAP IMPOR DAN PENGELUSAN BARANG KE DAN DARI.
UMUM
Sesuai dengan undang-undang no. 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan sebagaimana telah diubah dengan UU No. 17 Tahun 2006 tentang Perubahan Atas UU No. dan berlokasi di kawasan yang telah ditetapkan sebagai kawasan perdagangan bebas dan/atau pelabuhan bebas. Segala ketentuan di bidang impor berlaku terhadap pengeluaran barang dari kawasan bebas ke tempat lain dalam daerah pabean dan segala ketentuan di bidang ekspor berlaku terhadap pengeluaran barang dari kawasan bebas ke tempat lain dalam daerah pabean. Semua ketentuan UU No. 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan sebagaimana telah diubah dengan UU No. 17 Tahun 2006 tentang Perubahan Atas UU No. 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan.
PASAL DEMI PASAL Pasal 1
Dengan demikian, pemeriksaan pabean berupa pemeriksaan fisik terhadap barang yang dikeluarkan dari kawasan bebas di luar daerah pabean harus dikurangi seminimal mungkin, sehingga hanya pemeriksaan dokumen saja. Ketentuan ini mengatur tentang kewajiban pengangkut untuk melaporkan rencana kedatangan sarana pengangkutnya sebelum sarana pengangkut tersebut tiba di daerah pabean, baik bagi sarana pengangkut yang melakukan kegiatannya secara tetap (liner) maupun bagi sarana pengangkut yang tidak melaksanakan kegiatannya. aktivitas rutin. di daerah pabean (perusuh). Pemberitahuan pabean pada ayat ini memuat keterangan tentang semua barang niaga yang diangkut dengan alat pengangkut, baik barang impor, barang ekspor, atau barang asal daerah pabean yang diangkut ke tempat lain dalam daerah pabean melalui luar daerah pabean.
Ketentuan tambatan pada ayat ini dihitung sejak kedatangan alat pengangkut sebagaimana diatur dalam penjelasan alinea pertama. Pada hakekatnya barang impor hanya dapat dibongkar setelah menyampaikan pemberitahuan pabean kedatangan alat pengangkut. Namun apabila alat pengangkut mengalami keadaan darurat seperti kebakaran, kerusakan mekanis yang tidak dapat diperbaiki lagi, terkena cuaca buruk atau hal-hal lain di luar kendali manusia, maka pengecualian dapat dilakukan dengan cara membongkar tanpa pemberitahuan terlebih dahulu kepada kedatangan alat pengangkut. .dana.
Pelaporan keadaan darurat sebagaimana dimaksud dalam ketentuan ini dapat dilakukan melalui radio, telepon atau fax. Yang dimaksud dengan “sanksi di bidang kepabeanan” adalah sanksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 102 Undang-Undang Kepabeanan. Kewajiban dalam ayat ini yang harus dilaksanakan oleh pengangkut atau agennya adalah mengumumkan kedatangan alat pengangkutnya dengan pemberitahuan pabean kepada pejabat bea dan cukai, dan dokumen ini harus memuat atau memuat semua barang yang diangkut dalam pengangkutannya, baik berupa barang maupun perbekalan kapal.
Yang dimaksud dengan “dikeluarkan” adalah pengeluaran barang dari daerah pabean ke kawasan bebas, ke tempat lain dalam daerah pabean, atau ke luar daerah pabean. Penumpang adalah setiap orang yang melintasi batas negara dengan alat pengangkut, tetapi bukan merupakan awak alat pengangkut dan bukan merupakan pelintas batas. Awak alat pengangkut adalah setiap orang yang karena sifat pekerjaannya harus berada di dalam alat pengangkut dan harus datang dengan membawa alat pengangkut tersebut.
Pemberitahuan pada ayat ini dimaksudkan sebagai sarana pengawasan terhadap barang yang akan keluar dari daerah pabean. Yang dimaksud dengan sanksi di bidang kepabeanan adalah sanksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 102A Undang-Undang Kepabeanan. Yang dimaksud dengan “tempat lain dalam daerah pabean” adalah daerah pabean tidak termasuk kawasan bebas dan gudang pabean.
Pemberitahuan Pabean pada ayat ini dimaksudkan untuk menjamin terpenuhinya kewajiban pembayaran bea masuk, PPN, cukai, dan Pajak Penghasilan Pasal 22, serta ketentuan larangan dan pembatasan terhadap barang asal luar Daerah Pabean sebelum dimasukkan ke dalam wilayah pabean. zona Cuti Bebas. ke tempat lain dalam daerah pabean. Penumpang adalah setiap orang yang melintasi batas kawasan Kawasan Bebas dengan menggunakan sarana pengangkut, namun bukan merupakan awak sarana pengangkut dan bukan merupakan pelintas batas.