MAKALAH SKENARIO 3
KEDOKTERAN GIGI KLINIK 7 KELOMPOK 7 “PERAWATAN SALURAN AKAR PADA ANAK”
Instruktur : drg. Dzanuar Rahmawan, M. Si Disusun Oleh :
1. Asna Radifa Islam (10621007) 2. Rudy Firman Maulann (10621068) 3. Safhira Hayatunnisa (10621069) 4. Shyntia Nadya Irawan (10621070) 5. Tiarajiylan Larasati Sulistyo (10621071) 6. Wisnu Brata Dali Prastika (10621072) 7. Zumrotul Aini (10621073) 8. Siti Aisyah (10621074) 9. Evelline Rose Iga Kurnia (10621076) 10. Ghaniz Lukman Setiawan (10621078) 11. Afniar Jumadi (10619002) PROGRAM STUDI S1 PENDIDIKAN DOKTER GIGI
FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI
INSTITUT ILMU KESEHATAN BHAKTI WIYATA KEDIRI TAHUN AKADEMIK 2023/2024
I
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami ucapkan atas kehadirat Allah SWT, karena atas rahmat dan karunia-Nya kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini. Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas Tutorial Skenario 3 Blok Kedokteran Gigi Klinik 7 dari dosen pengampu. Penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah membantu dalam arahan dan bimbingan menyelesaikan laporan.
Oleh karenanya, dengan penuh rasa syukur penulis ingin menyampaikan rasa hormat dan terima kasih kepada:
1. Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan karunia-Nya yang telah diberikan.
2. drg. Dzanuar Rahmawan, M. Si yang berkenan meluangkan waktunya untuk membimbing kami.
3. Orang tua yang telah memberi doa dan restu sehingga proses penyusunan makalah ini berjalan dengan lancar.
4. Teman-teman semua yang turut membantu dalam menyusun makalah ini.
Kami menyadari bahwa dalam makalah ini masih terdapat banyak kekurangan, baik dari segi isi maupun penyusunannya. Oleh karena itu, dengan segala kerendahan hati dan keterbukaan kami menerima setiap kritik dan saran yang membangun sehingga dalam proses penyusunan makalah makalah selanjutnya didapatkan hasil yang lebih baik. Terimakasih.
Kediri, 13 Juni 2024 Penyusun
II
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... 1
DAFTAR ISI ... 2
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1. Latar Belakang ... 1
1.2. Rumusan Masalah ... 3
1.3. Tujuan Penelitian ... 3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 4
2.1 PSA Pada Anak ... 4
2.2 Tujuan ... 4
2.3 Macam-Macam PSA Pada Anak ... 4
2.4 Indikasi dan Kontraindikasi Pulpotomi dan Pulpektomi ... 6
2.5 Bahan Pengisian Saluran Akar Pada Anak ... 8
2.6 Restorasi Post-PSA Pada Anak ... 10
2.7 Prosedur Kerja Pulpotomi ... 14
2.8 Prosedur Kerja Pulpektomi ... 15
2.9 Medikamen Pulpotomi dan Pulpektomi ... 16
2.10 KIE ... 17
BAB III PETA KONSEP ... 19
BAB IV PEMBAHASAN ... 20
BAB V PENUTUP ... 22
DAFTAR PUSTAKA ... 24
1
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Menjaga kesehatan gigi dan mulut merupakan suatu tindakan yang perlu dijaga. Salah satu permasalahan gigi dan mulut yang sering ditemui adalah adanya karies gigi. Karies gigi banyak ditemui pada orang dewasa dan juga anak-anak.
Kesehatan gigi dan mulut pada anak sangat penting karena mempengaruhi perkembangan anak. Karies gigi adalah penyakit yang mengenai jaringan keras gigi baik pada email, dentin dan sementum yang terjadi karena proses secara bertahap dalam melarutkan mineral permukaan gigi yang terus berkembang ke bagian dalam gigi (Widayati, 2014). Tujuan utama dari perawatan gigi dan mulut pada anak yaitu untuk mencegah bertambah parahnya penyakit gigi dan untuk memperbaiki gigi yang rusak agar dapat berfungsi kembali sehingga dapat mempertahankan gigi tersebut sesuai lengkung gigi hingga nanti digantikan oleh gigi permanennya (Saleh, 2017).
Menurut data survei World Health Organization tercatat bahwa di seluruh dunia 60– 90% anak mengalami karies gigi. Menurut hasil survei Riset Kesehatan Dasar Tahun 2018, menyebutkan bahwa sebanyak 57,6% masyarakat Indonesia memiliki permasalahan kesehatan gigi dan mulut (Napitupulu, et al., 2019). Hal ini menunjukkan adanya peningkatan tajam dari 23,2% pada tahun 2007 menjadi 57,6% pada tahun 2018 (Soni, et al., 2020). Prevalensi karies gigi di Indonesia 88,8% untuk kelompok usia 5 hingga 9 tahun 92,6%, usia 10-14 tahun 73,4%
(Supriyanto, et al., 2019). Hal ini menunjukkan masih tingginya prevalensi karies pada anak-anak. WHO merekomendasikan usia untuk pemeriksaan kesehatan rongga mulut adalah usia 12 sampai 18 tahun, karena pada usia tersebut gigi tetap telah bertumbuh seutuhnya (Napitupulu, et al., 2019). Peningkatan angka karies gigi salah satunya dipengaruhi oleh faktor perilaku masyarakat. Sebagian besar masyarakat belum menyadari pentingnya merawat kesehatan gigi dan mulut yang menyebabkan bertambah parahnya kerusakan jaringan keras gigi (Widayati, 2014).
2
Gigi berlubang yang tidak segera dilakukan perawatan beresiko menyebabkan mengenai pulpa gigi bahkan mengakibatkan kematian gigi (Boss et al., 2020). Perawatan pulpa gigi pada gigi sulung dan gigi permanen pada dasarnya memiliki tujuan yang sama, yaitu menghilangkan rasa sakit dari pulpa dan jaringan periapikal di sekitar gigi tersebut. Selain itu, perlu pertimbangan khusus saat akan memutuskan rencana perawatan yang tepat pada gigi sulung yaitu dapat mempertahankan gigi pada lengkung rahang hingga gigi sulung tanggal secara fisiologis (Fajriani, 2018). Perawatan gigi harus dimulai sejak gigi sulung erupsi, karena pada masa gigi sulung, sedang terjadi pembentukan gigi permanen di dalam tulang. Hal ini menyebabkan apabila terdapat kerusakan pada gigi sulung yang parah maka dapat mengganggu proses pembentukan gigi permanennya dan mengakibatkan gigi permanen anak tumbuh tidak normal (Saleh, 2017).
Tanggalnya gigi sulung sebelum waktunya (Premature loss) dapat menyebabkan maloklusi, masalah fungsional, dan estetika. Pada kedokteran gigi anak perlu mempertahankan vitalitas gigi sulung hingga gigi tersebut dapat tanggal secara normal. Keuntungan dari tanggalnya gigi sulung secara normal yaitu dapat mempertahankan integritas lengkung rahang, estetik, membantu fungsi pengunyahan, bicara dan secara tidak langsung berperan sebagai space maintainer bagi gigi tetap (Annisa et al., 2018).
Pulpa gigi merupakan organ formatif dan membentuk dentin primer selama perkembangan gigi, dentin sekunder setelah gigi erupsi, dan dentin reparatif sebagai respon terhadap stimulasi selama odontoblas tetap utuh. Pulpa bereaksi terhadap stimulus panas dan dingin, biasanya pulpa tahan terhadap panas dengan temperatur antara 60˚F (16˚C) dan 130˚F (55˚C). Oleh sebab itu, pulpa berperan penting dalam proses pertumbuhan dan perkembangan kesehatan gigi secara menyeluruh (Fajriani, 2018).
Penatalaksanaan karies gigi yang sudah mendekati dan bahkan sudah mengenai pulpa gigi berbeda antara gigi sulung dan gigi permanen, ditinjau dari segi morfologi gigi. Gigi sulung memiliki ukuran yang kecil, ruang pulpa yang besar dan kecepatan terkenanya pulpa oleh karies. Perawatan pulpa pada gigi sulung meliputi perawatan pulpa konservatif dan perawatan pulpa radikal. Perawatan pulpa
3
secara radikal yaitu jaringan pulpa yang dilakukan perawatan baik pada kamar pulpa maupun saluran akar. Perawatan pulpa secara radikal pada gigi sulung yaitu pulpektomi (Fajriani, 2018). Perawatan pulpa konservatif merupakan perawatan pulpa dengan pengambilan pulpa yang terinfeksi sebatas kamar pulpa dan meninggalkan pulpa yang vital pada saluran akarnya. Perawatan pulpa konservatif pada gigi sulung yaitu pulpotomi (Fajriani, 2018).
1.2. Rumusan Masalah
Apakah terdapat pengaruh pada pemilihan bahan perawatan pulpa gigi sulung dengan pemulihan vitalitas gigi?
1.3. Tujuan Penelitian
a. Untuk mengetahui dan memahami pengaruh pada pemilihan bahan perawatan pulpa gigi sulung dengan pemulihan vitalitas gigi.
b. Untuk Mengetahui dan mampu menjelaskan macam-macam PSA pada anak.
c. Untuk mengetahui dan mampu menjelaskan macam-macam restorasi post-PSA pada anak.
d. Untuk mengetahui macam-macam medikamen pada perawatan pulpotomi dan pulpektomi.
4
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 PSA Pada Anak 2.1.1 Definisi
Perawatan saluran akar, atau yang dikenal sebagai perawatan endodontik, pada anak adalah prosedur yang dilakukan untuk mengobati infeksi atau kerusakan pada pulpa gigi (jaringan di dalam gigi yang berisi saraf dan pembuluh darah).
Meskipun lebih umum dilakukan pada orang dewasa, prosedur ini juga bisa diperlukan pada anak-anak dalam kasus tertentu.
Perawatan saluran akar pada anak mungkin diperlukan jika:
• Gigi mengalami kerusakan akibat cedera atau trauma
• Gigi terinfeksi karena kerusakan gigi yang parah atau tidak diobati
• Ada abses atau infeksi di sekitar akar gigi (Widhianti dan suwelo, 2011).
2.2 Tujuan
Tujuan utama dari perawatan gigi dan mulut pada anak yaitu untuk mencegah bertambah parahnya penyakit gigi dan untuk memperbaiki gigi yang rusak agar dapat berfungsi kembali sehingga dapat mempertahankan gigi tersebut sesuai lengkung gigi hingga nanti digantikan oleh gigi permanennya (Saleh, 2017).
Tujuan pengisian saluran akar adalah memasukan suatu bahan pengisi dengan teknik pengisian saluran akar tertentu ke dalam ruangan yang sebelumnya terdapat jaringan pulpa, guna mencegah terjadinya infeksi ulang. Bahan pengisi saluran akar berfungsi untuk menggantikan pulpa yang sudah diambil dan menghilangkan semua pintu masuk antara periodonsium dan saluran akar sehingga kebocoran cairan dari periodonsium dapat dihindari (Grossman et al., 2013).
2.3 Macam-Macam PSA Pada Anak 1. Pulp Capping
Pulp capping adalah suatu tindakan perlindungan terhadap pulpa vital dengan cara memberikan selapis tipis material proteksi pada pulpa yang hampir terbuka.
5
Teknik perawatan pulp capping dapat dilakukan dengan dua cara yaitu: perawatan indirect pulp capping dan direct pulp capping.
a. Perawatan indirect pulp capping dianjurkan pada gigi sulung vital dengan lesi karies yang luas dan hampir mendekati pulpa, tanpa ada gejala degenerasi pulpa atau penyakit periapikal. Tujuan utama perawatan indirect pulp capping adalah mempertahankan vitalitas pulpa dengan cara:
menghentikan proses karies; meningkatkan sklerosis dentin (mengurangi permeabilitas dentin); merangsang pembentukan dentin reparatif, dan;
meremineralisasi dentin yang terkena karies.
b. Perawatan direct pulp capping dilakukan pada gigi yang pulpanya terbuka secara mekanis tanpa kontaminasi bakteri dan tidak boleh dilakukan pada perforasi pulpa gigi sulung karena karies. Dengan demikian pulpa dapat bertahan dalam keadaan sehat dan bahkan dapat menyembuhkan diri sebagai respon terhadap bahan atau obat pelindung pulpa.
2. Pulpotomi
Pulpotomi adalah pengambilan jaringan pulpa pada bagian koronal gigi yang telah mengalami infeksi, sedangkan jaringan pulpa yang terdapat dalam saluran akar ditinggalkan. Pulpotomi bertujuan untuk mempertahankan vitalitas pulpa radikular dan membebaskan rasa sakit pada pasien dengan pulpagia akut.
Metode pulpotomi untuk gigi-gigi molar sulung yaitu vital pulpotomi dengan menggunakan formokresol atau glutaraldehid, dan devitalisasi pulpotomi.
a. Pulpotomi Vital
Pulpotomi vital atau amputasi vital adalah tindakan pengambilan jaringan pulpa bagian koronal yang mengalami inflamasi dengan melakukan anestesi, kemudian memberikan medikamen di atas pulpa yang diamputasi agar pulpa bagian radikular tetap vital. Pulpotomi vital dapat dilakukan pada gigi sulung dan permanen muda. Pulpotomi gigi sulung tidak menggunakan kalsium hidroksida, sebab dapat menyebabkan resorbsi interna
b. Pulpotomi Devital (Mumifikasi)
Pulpotomi devital (mumifikasi) adalah pengambilan jaringan pulpa yang terdapat dalam kamar pulpa yang sebelumnya telah didevitalisasi, kemudian
6
dengan pemberian obat-obatan, jaringan pulpa dalam saluran akar ditinggalkan dalam keadaan aseptik dan diawetkan. Pulpotomi devital dilakukan hanya terbatas pada ruang pulpa.
3. Pulpektomi
Pulpektomi adalah suatu tindakan pembuangan jaringan nekrotik dan saluran akar gigi sulung yang pulpanya non vital atau mengalami radang kronis.
Tujuannya adalah untuk menghilangkan infeksi dan mempertahankan fungsi gigi sulung hingga waktunya tanggal tanpa membahayakan benih gigi permanen dan kesehatan anak. Ada dua macam kegiatan pulpektomi, yaitu pulpotomi parsial, dan juga pulpektomi total.
a. Pulpektomi parsial (vital)
Pulpektomi parsial dilakukan pada gigi sulung bila jaringan pulpa bagian koronal dan dalam saluran akar masih vital tetapi menunjukkan gejala klinis hiperemia, atau bila perdarahan pada pemotongan pulpa yang tidak dapat dikontrol. Prosedur ini dapat dilakukan dalam satu kali kunjungan.
b. Pulpektomi total (nonvital)
Pulpektomi lengkap atau menyeluruh dilakukan untuk merawat gigi sulung non vital, dan dilakukan dalam beberapa kali kunjungan. Bila gigi goyang, terdapat pembengkakan atau fistula, terdapat pus pada saluran akar, atau instrumetasi saluran akar tidak boleh dilakukan pada kunjungan pertama
2.4 Indikasi dan Kontraindikasi Pulpotomi dan Pulpektomi 1. Pulpotomi
➢ Indikasi
1. Gigi yang bisa dikembalikan (restorable) 2. Tidak ada riwayat nyeri yang spontan
3. Tidak ada abses atau sinus dalam hubungan gigi tersebut, 4. Tidak ada resorpsi internal
5. Tidak ada bukti radiografi dari kehilangan tulang pada bagian interradicular
7
6. Tidak ada kelainan jaringan periodontal
➢ Kontraindikasi
1. Gigi yang sudah tidak bisa dikembalikan (unrestorable) 2. Terdapat rasa nyeri yang spontan
3. Terdapat abses atau sinus
4. Terdapat bukti radiografi dari kehilangan tulang pada bagian interradikula
5. resorpsi internal
6. Sudah dekat waktu erupsi gigi permanan 7. Adanya perdarahan pulpa yang tidak berhenti 2. Pulpektomi
➢ Indikasi
1. Gigi sulung dengan pulpitis ireversibel, atau gigi yang semula akan dilakukan pulpotomi tapi ternyata pulpa menunjukkan tanda-tanda pulpitis ireversibel (misalnya, perdarahan berlebihan yang tidak dapat dikendalikan dengan kapas dalam beberapa menit, sehingga harus dilakukan pulpektomi).
2. Inflamasi kronis atau nekrosis pulpa (misalnya, suppration, purulence).
3. Tidak ada resorpsi internal, resorbsi eksternal masih terbatas.
4. Kegoyangan gigi minimal.
5. Tidak ada gigi permanen pengganti.
➢ Kontraindikasi
1. Pada gigi dengan kerusakan yang luas dan tidak dapat direstorasi.
2. Panjang akar kurang dari 2/4 disertai resorbsi internal atau eksternal.
3. Kelainan pada pulpa yang menyebabkan dasar pulpa terbuka ke arah furkasi.
4. infeksi periapikal yang melibatkan benih gigi pengganti.
5. Pasien dengan penyakit kronis
8
2.5 Bahan Pengisian Saluran Akar Pada Anak
Bahan pengisi saluran akar gigi desidui idealnya harus memenuhi syarat- syarat sebagai berikut yaitu kecepatan resorpsi bahan sama dengan kecepatan resorpsi akar gigi desidui, tidak membahayakan jaringan periapikal dan benih gigi permanen penggantinya, dapat diresorpsi saat terjadi kelebihan pengisian, bersifat antiseptik, proses pengisian saluran akar mudah dan memiliki perlekatan yang baik dengan dinding saluran akar. Bersifat radiopak serta tidak merubah warna gigi yang dirawat bersifat bioaktif pada proses penyembuhan.
Bahan obturasi yang sering digunakan yaitu ZOE. ZOE telah lama digunakan sebagai bahan pengisi saluran akar pada gigi sulung dan hingga saat ini merupakan bahan yang direkomendasikan sebagai bahan pengisi saluran akar oleh American Academy of Pediatric Dentistry (AAPD). ZOE memiliki beberapa keuntungan yaitu biaya yang relatif murah, mempunyai efek antimikroba yang baik, tidak sitotoksik untuk sel sel yang berkontak langsung ataupun tidak langsung, plastisitasnya baik, tidak sitotoksik, merupakan materi yang radiopak, tidak menyebabkan diskolorisasi pada gigi, memiliki bahan anti inflamasi dan analgesik yang sangat berguna setelah prosedur pulpektomi. ZOE adalah bahan yang dibuat dari kombinasi seng oksida (zinc oxide) dan eugenol yang terkandung dalam minyak cengkeh. Indikasi penggunaan ZOE adalah perawatan nekrosis pulpa, pulpotomi dan pulpektomi. Mekanisme kerja ZOE adalah ketika bahan tersebut dimasukan dalam rongga dentin, jumlah kecil dari eugenol menyebar melalui dentin ke pulpa. Konsentrasi rendah eugenol memberikan efek anti inflamasi pada pulpa gigi. Dengan demikian, penggunaan ZOE memfasilitasi penyembuhan pulpa.
Namun konsentrasi eugenol yang berlebihan dan masuk ke periapikal dapat bersifat sitotoksik. Bahrlolomi dkk, mengungkapkan bahwa tingkat keberhasilan ZOE sebagai bahan pengisi pada perawatan pulpektomi dalam evaluasi 24 bulan, kekurangannya hanya memiliki spektrum antibakteri yang kecil. Aplikasi bahan yang sulit sehingga sering terjadi kekurangan pengisian. Adanya perbedaan kecepatan resorpsi bahan pengisi dengan akar gigi sulung yang dirawat, dimana akar gigi sulung resorpsi nya lebih cepat dari pada ZOE, sehingga partikel nya
9
tertinggal di dalam tulang alveolar saat akar sudah teresorbsi, hal tersebut mengganggu erupsi gigi permanen pengganti (Hartomo et al, 2021).
Kalsium hidroksida diperkenalkan di kedokteran gigi pada tahun 1838 oleh Nygren. Pada tahun 1930 Herman menunjukkan bahwa kalsium hidroksida dapat menstimulasi pembentukan dentin baru. Kalsium hidroksida digunakan pada perawatan inderect pulp capping, direct pulp capping dan pulpotomi pada gigi sulung, karena memiliki sifat bakterisidal dan mampu membentuk dentinal bridge.
Sifat kalsium hidroksida yaitu dapat meningkatkan kalsifikasi pada dentin dengan memberikan perlindungan pada pulpa ketika dentin yang tersisa sangat tipis dan mendekati pulpa, tidak menimbulkan iritasi pada struktur gigi atau jaringan di sekitarnya, pada perawatan endodontik digunakan pada saluran akar sebagai agen anti mikroba, merangsang perbaikan jaringan gigi atau mengaktivasi enzim jaringan dan menghasilkan efek mineralisasi. Manfaat kalsium hidroksida dapat merangsang pembentukan dentin reparatif, melindungi pulpa dari agen toksik dan menghambat proliferasi bakteri. Kekurangan dari kalsium hidroksida adanya tunel deffect yaitu proliferasi multiple antara bahan dengan pulpa sehingga terjadi kebocoran yang menyebabkan terjadinya infeksi bakteri (Hartomo et al, 2021)
Salah satu jenis pasta campuran yang telah beredar di pasaran sebagai bahan pengisi saluran akar yaitu campuran kalsium hidroksida dan pasta iodoform yang dipercaya merupakan sediaan yang paling mendekati ideal sebagai bahan pengisi saluran gigi sulung. Keuntungan dari pasta iodoform campuran dengan kalsium hidroksida yaitu pada kasus dengan radiolusensi pada daerah periapikal, pengisian saluran akar dengan bahan ini tampak mengurangi ukuran radiolusensi tersebut dan menghasilkan regenerasi tulang di daerah yang terinfeksi pada pemeriksaan lebih lanjut, tidak sekeras ZOE sehingga tidak mengakibatkan kerusakan benih gigi permanen pengganti, mudah diambil bila dilakukan perawatan ulang, dapat diresorbsi dari jaringan apikal dalam waktu 1 minggu sampai 2 bulan, mudah diaplikasikan, bersifat antiseptik, perlekatan pada dinding saluran akar baik, bersifat radiopak dan tidak menyebabkan diskolorisasi pada gigi yang dirawat.
Namun terdapat kekurangan pada pasta iodoform campuran kalsium hidroksida
10
yaitu harga bahan relatif mahal dan tidak menutup permukaan fraktur pada kasus injuri traumatik pada gigi vital (Hartomo et al, 2021).
2.6 Restorasi Post-PSA Pada Anak
Pertimbangan dalam memilih suatu restorasi direk atau indirek pada restorasi gigi anak:
1. Ukuran lesi;
2. Pertimbangan estetik, oklusi, endodontik dan periodontal;
3. Banyaknya gigi yang terkena;
4. Kepatuhan, kebiasaan dan keinginan pasien;
5. Kompetensi dokter gigi.
Bahan restorasi di klasifikasikan menjadi metode direct dan indirect. Berikut macam-macamnya:
a. Direct 1) Amalgam
• Bahan restorasi yang mengandung logam berasal dari campuran silver/tin/copper alloy dan merkuri.
• Kelebihan: mudah dimanipulasi, penyesuaian marginal sangat memuaskan, karakteristik amalgam sebanding dengan email dan dentin, penggunaan resistensi yang baik, harga relatif murah dan dapat mengganti struktur gigi.
• Kekurangan: kurang estetik, preparasi luas, waktu berlebihan, diskolorasi, tidak berikatan dengan gigi, retorasi tidak berstimulasi dan daya renggangan kurang baik.
11 2) Glass Ionomer Cement (GIC)
• Bahan restorasi ini terdiri atas powder (meliputi: silicon carbide, alumunium oxide, calcium fluoride, natrium fluoride, alumunium phosphate, ianthanum, strontium dan barium/ oxide zinc) dan liquid (meliputi: 50% asam policarbocylate dan asam tricarbocylate)
• Kelebihan: porositas kecil dan marginal seal yang baik, biocompatible dan warna baik dengan translusensi membuat estetik.
• Kekurangan: rapuh dan mudah patah, penggunaan kurang opaque yang membuat kurang estetik, dan resistensi sensitivitas air selama fase setting sehingga mempengaruhi sifat GIC.
3) Resin Komposit
• Bahan restorasi ini terdiri dari matriks organik (BIS-GMA atau UDMA), matriks inorganik, filler, coupling agent (organosilane), sistem aktivator-inisiator, inhibitor dan agen pewarna
12
• Kelebihan: estetiknya baik, konduktivitas termal rendah, restorasi dapat selesai dengan hanya satu kali kunjungan, dan memiliki radiopaque kuat sehingga mudah dideteksi saat penggunaan radiologi.
• Kekurangan: pembentukan gap pada margin, lebih mahal daripada amalgam, tehnik lebih sensitif, dan tidak tahan lama untuk tumpatan.
4) Resin-Modified Glass Ionomer (RMGIC)
• Bahan restorasi ini terdiri dari powder yang mirip dengan glass ionomer dan liquid-nya mengandung monomer, polyacids dan air. Resin- modified glass ionomer terikat dengan struktur gigi tanpa menggunakan agen bonding.
• Sifat yang dimiliki oleh resin-modified glass ionomer hampir sama dengan sifat generasi pertama (GIC). Penambahan HEMA mampu memperbaiki kekurangan dari GIC terutama dari sifat mekanik dan estetik
• Kekerasan permukaan material ini sedikit lebih rendah dibandingkan dengan bahan restorasi lain (resin komposit dan kompomer).
• Melepaskan ion fluor dan mampu bertahan dalam kondisi rongga mulut lebih baik dibandingkan GIC.
5) Compomers
• Compomer atau polyacid modified composite resins adalah komposit dengan modifikasi polyacid yang dibentuk dengan penggabungan partiket GIC dalam cairan monomer polyacids bebas air dengan inisiator yang sesuai.
• Compomer merupakan komposit berbasis polimer yang dimodifikasi agar memiliki karakteristik melepaskan fluor.
• Bahan ini diindikasikan untuk restorasi dengan tekanan rendah seperti pada preparasi kavitas Klas III atau V dengan alternatif GIC atau resin- based composite.
13
• Sejak tahun 2003 selain sewarna dengan gigi, compomers juga tersedia dalam beberapa warna (adanya kandungan partikel glitter dari silikat).
b. Indirect
1) Resin Strip Crowns
• Nama lain resin celluloid strip crown/ pedo celluloid strip/ acetate strip crown
• Kelebihan: estetik baik, penyesuaian gigi mudal, ideal untul gigi yang dilakukan build up, ukuran bervariasi, prosedur perbaikan mudah
• Kekurangan: teknik yang sensitif, kontrol pendarahan, preparasi gigi, aplikasi adesif dan penempatan resin harus tepat.
2) Stainless Steel Crowns
• Mahkota ini berupa crown metal prefabricated yang diadaptasikan ke gigi dan disemenkan dengan bahan lutting yang kompatibel.
• SSC diklasifikasikan berdasarkan bentuknya, sebagai berikut:
a. Untrimmed, merupakan SSC yang panjang dan biasanya membutuhkan trimming (contoh: Sankin, Unitek Crown)
14
b. Pretrimmed (prefestoned), crown ini biasanya pendek namun belum dikontur sehingga mempunyai sisi-sisi yang sejajar (contoh:
3M dan Denovo)
c. Precontoured, crown ini sudah dikontur dan memiliki bentuk lonceng (contoh: 3M Ni-chromium ion., Unitek)
d. Prevented crown, crown ini memiliki ikatan resin berbasis komposit di bagian bukal dan beberapa bagian di permukaan oklusal (Nu Smile).
2.7 Prosedur Kerja Pulpotomi
Pulpotomi harus dilakukan pada gigi yang masih sehat, pulpa hiperemik atau terinflamasi ringan, seperti pada gigi anterior anak-anak dengan apeks terbuka lebar yang mengalami fraktur, atau gigi posterior anak-anak dengan apeks terbuka lebar, yang memiliki pembukaan karies kecil yang asimptomatik.
Suatu radiograf diagnostik harus diperiksa untuk menentukan kedekatan ke kamar pulpa, untuk mengevaluasi bentuk dan ukuran saluran akar, dan untuk memastikan keadaan jaringan periradikular, gigi harus dicatat vitalitasnya. Gigi diberikan anestesi lokal dengan metode infiltrasi atau konduksi. Isolator karet dipasang , medan operasi didisinfeksi dengan antiseptik yang cocok.
Pada pengambilan struktur gigi yang karies pembukaan menuju kamar pulpa dilakukan sepanjang garis lurus menggunakan daerah yang terbuka sebagai titik permulaan dan mengambil seluruh atap pulpa dengn bur steril.
Pendarahan dapat dikendalikan dengan gulungan kapas steril basah. Bagian koronal pulpa diambil dengan ekskavator sendok yang besar, tajam, steril atau kuret periodontal Pada gigi anterior, dimana kamar pulpanya kecil dan tidak jelas dari saluran akar, perlu digunakan suatu bur untuk mengambil jaringan pulpa pada bagian mahkota. Pada gigi posterior, pada bagian membulat (seperti bulbus) pulpa yang terkandung dalam kamar pulpa dibawah orifice saluran akar harus diambil.
Pada gigi anterior bagian membulat sampai tetapi tidak mencapai sepertiga servikal saluran akar harus diambil. Sebanyak mungkin jaringan harus
15
ditinggalkan di dalam pulpa. Kamar pulpa selanjutnya diirigasi dengan air steril atau dengan larutan anesstetik dengan kandungan epinefrin yang dapat mengontrol pendarahan dan enak dipakai. Lalu kamar pulpa dikeringkan dengan kapas steril. Pendarahan dikontrol dengan gulungan besar kapas steril dan ditinggalkan selama 2-3 menit. Kalsium hidroksida dalam bentuk pasta yang dibuat dengan air atau suatu pasta komersial yang terdiri dari kalsium hidroksida dan methyl cellulose (pulpdent). Kemudian diaplikasikan pada kamar pulpa yang telah diamputasi.
Sejumlah kecil pasta dengan menggunakan alat semprit (shyring) dibiarkan berkontak dengan pulpa yang sudah di amputasi lalu di tekan/ dipadatkan pada pulpa dengan gulungan dengan kapas steril. Kamar pulpa harus terisi kalsium hidroksida paling tidak 1-2mm dan di atasnya diaplikasikan suatu bahan dasar (base) semen. Dapat seng oksida eugenol atau seng fosfat. Suatu bahan perantara tidak diperlukan karena keasaaman semen seng fosfat dapat dinetralkan dengan kalsium hidroksida. Suatu restorasi permanen diletakkan di atas bahan dasar. Isolator karet kemudian diambil, dan oklusi diperiksa.
Kemudian suatu radiograf harus diperiksa untuk catatan operasi dan untuk mengetahui penutupan apikal, pembentukan jembatan, resorbsi dalam, degenerasi kalsifik, atau perkembangan penyakit apikal diwaktu mendatang (Kumar, S. 2012).
2.8 Prosedur Kerja Pulpektomi
Pulpektomi adalah prosedur yang lebih ekstensif daripada pulpotomi dan biasanya dilakukan jika seluruh pulpa (termasuk saluran akar) terinfeksi atau mati.
Prosedur ini mirip dengan perawatan saluran akar pada orang dewasa.
Prosedur Pulpektomi a. Anestesi
Anestesi lokal diberikan untuk menghilangkan rasa sakit selama prosedur.
b. Isolasi Gigi
Gigi yang akan dirawat diisolasi dengan rubber dam untuk menjaga area tetap kering dan steril.
c. Pengangkatan Seluruh Pulpa
16
• Membuat lubang pada mahkota gigi untuk mengakses pulpa.
• Seluruh pulpa, baik di ruang pulpa maupun saluran akar, diangkat menggunakan instrumen endodontik.
d. Pembersihan dan Pembentukan Saluran Akar:
Saluran akar dibersihkan dan dibentuk menggunakan alat khusus untuk memastikan semua jaringan yang terinfeksi dihilangkan.
e. Pengisian Saluran Akar:
Saluran akar yang telah dibersihkan diisi dengan bahan pengisi biokompatibel untuk mencegah infeksi ulang dan mendukung struktur gigi.
f. Penutupan dan Restorasi:
• Gigi ditutup dengan tambalan sementara atau permanen.
• Gigi mungkin juga membutuhkan mahkota untuk melindungi dan memperkuat struktur yang tersisa. (American Dental Association (ADA), 2023).
2.9 Medikamen Pulpotomi dan Pulpektomi 1. Formokresol
- komposisi: formaldehid 19%, kresol 35%, gliserin 15%, dan aquadest.
- Formokresol memiliki sifat bakteriostatik dan paling sering digunakan pada perawatan pulpotomi.
- Formokresol memerlukan aplikasi selama 3-5 menit sebelum cotton pellet diangkat, sedangkan biodentine langsung diisi segera. Selama beberapa dekade, formokresol telah menjadi obat pilihan pada pulpotomi gigi sulung karena mudahnya penggunaan serta tingkat keberhasilan klinis yang tinggi. Namun selain penggunaannya yang luas, formokresol dikenal bersifat toksik, dan beresiko mutagenik, karsinogenik pada manusia ketika diabsorbsi secara sistemik. Pada saat pengaplikasiannya memakai cotton pellet yang diberikan formokresol tadi bisa terdapat kemungkinan adanya serabut kapas yang mengenai bekuan darah dan menyebabkan perdarahan ulang pada pulpa.
2. Fecric sulfat
17
Digunakan khusus gigi molar sulung karena memiliki efek kontrol perdarahan yang lebih cepat daripada formokresol
3. Mineral trioxide aggregate (MTA)
Digunakan pada perawatan pulp capping dan pulpotomi karena mampu merangsang dentinal bridge. Tapi jika digunakan pada anak-anak akan ada kekurangan yaitu terjadinya kontaminasi bakteri karena microleakage. Kekurangan MTA yaitu berpotensi mengalami diskolorisasi, sulit dalam penanganan bahan, setting time lama, harga mahal, tidak adanya pelarut, sulit untuk dibuang setelah mengeras.
4. Biodentine
Bahan yang diperkenalkan baru-baru ini di dunia kedokteran gigi memiliki kegunaan beragam bagi beberapa kondisi klinis seperti pulp capping, pulpotomi, dan pulpektomi/penutupan ujung akar. Biodentine adalah bahan berbasis bioactive calcium-silicate yang diperkenalkan oleh perusahaan Septodont dan memiliki sifat mekanis, biokompatibilitas, dan sifat bioaktif yang baik. Biodentine dikembangkan berdasarkan bahan dental yang memiliki sifat biokompatibilitas terbaik yaitu kalsium silikat yang bila berinteraksi dengan air dapat mengeras.
Biodentine menarik perhatian di dunia kedokteran gigi karena sifatnya yang cepat mengeras, biokompatibilitas tinggi, kekuatan tekan tinggi, kemampuan sealing yang sangat baik, dan mudah diaplikasikan dan dapat digunakan baik pada perawatan endodontik dan prosedur restorasi tanpa menimbulkan pewarnaan pada gigi. Biodentine juga terbukti memiliki sifat antimikroba yang baik karena memiliki pH sangat tinggi (pH:12) dan efektif secara biaya dibanding bahan lain dengan kemampuan yang setara.
2.10 KIE
1. Komunikasi
• Menjelaskan rencana perawatan dan prosedur perawatan yang akan dilakukan
• Menjelaskan tentang gejala-gejala yang mungkin terjadi
• Menginformasikan kepada pasien bahwa sedikit nyeri atau ketidaknyamanan setelah prosedur endodontik adalah normal..
18 2. Informasi
• Menjelaskan obat-obatan apa yang diresepkan untuk membantu mengurangi nyeri dan mencegah infeksi (Paracetamol dan amoxilin)
• Menyarankan kepada pasien untuk menghindari makanan atau minuman yang keras atau lengket setelah prosedur. Ini dapat membantu mencegah kerusakan pada gigi yang baru dilakukan tambalan PSA
• Menginstruksikan px untuk melakukan kunjungan follow-up ke dokter gigi untuk memeriksa kemajuan pemulihan dan memastikan bahwa perawatan saluran akar berhasil.
3. Edukasi
• Menghindari makanan atau minuman panas atau dingin
• Menyikat gigi dengan teknik yang benar (tekanan ringan dengan sikat yang halus) serta menjaga oh
• Menggunakan dental floss untuk membersihkan daerah interdental, berhati- hati dengan gerakan mengunyah di bagian gigi yang telah dilakukan tindakan perawatan saluran akar
• Datang kembali untuk kontrol 1 minggu dan 2 minggu setelah insersi.
19
BAB III
PETA KONSEP
20
BAB IV PEMBAHASAN
Perawatan saluran akar atau yang dikenal sebagai perawatan endodontik adalah prosedur yang dilakukan untuk mengobati infeksi atau kerusakan pada pulpa gigi (jaringan di dalam gigi yang berisi saraf dan pembuluh darah). Tujuan dari perawatan saluran akar pada anak yaitu untuk mencegah bertambah parahnya penyakit gigi dan untuk memperbaiki gigi yang rusak agar dapat berfungsi kembali sehingga dapat mempertahankan gigi tersebut sesuai lengkung gigi hingga nanti digantikan oleh gigi permanennya (Saleh, 2017).
Diagnosa pada kasus diskenario yaitu pulpitis irreversible untuk gigi 54 dan pulpitis reversible untuk gigi 55. Pulpitis ireversibel ini merupakan kelanjutan dari pulpitis reversibel yang tak kunjung dilakukan perawatan. Gejala dari pulpitis ireversibel diantaranya adalah nyeri spontan yang terus menerus meski tanpa adanya penyebab dari luar, nyeri yang sangat mengganggu pekerjaan, nyeri tidak dapat terlokalisir, dan nyeri yang berkepanjangan jika terdapat stimulus eksternal seperti rangsangan panas atau dingin. Pulpitis reversibel adalah inflamasi pulpa yang ringan hingga sedang disebabkan oleh rangsang noksius.Namun apabila penyebab radang dihilangkan maka pulpa akan kembali normal. Faktor-faktor yang menyebabkan pulpitis reversibel adalah erosi servikal, stimulus ringan contohnya karies insipien, atrisi oklusal, kesalahan dalam prosedur operatif, kuretase perodontium yang dalam, dan fraktur email yang menyebabkan tubulus dentin terbuka.Gejala-gejala pulpitis reversibel diantaranya rasa sakit hilang saat stimulus dihilangkan (nyeri tajam dan berlangsung sesaat),rasa sakit sulit terlokalisir, radiografik periradikuler terlihat normal, dan gigi masih normal saat diperkusi kecuali jika terdapat trauma pada bagian oklusal.
Perawatan pulpa pada gigi decidui berfungsi untuk menjaga kesehatan dan vitalitas pulpa, mengembalikan perkembangan benih gigi yang ideal dan tidak mengganggu erupsi gigi permanen. Perawatan pulpa gigi decidui dapat dilakukan dengan beberapa cara diantaranya pulpotomi dan pulpektomi. Pulpektomi merupakan perawatan saluran akar yang dilakukan dengan menggunakan jarum
21
endodontik untuk mencegah bakteri meluas hingga area periapikal. Pulpektomi dilakukan apabila perdarahan di area pulpa tidak bisa teratasi dan menjadi pilihan utama apabila terdapat lesi periapikal. Sementara itu, pulpotomi merupakan teknik perawatan kamar pulpa tanpa melakukan perawatan hingga ke ujung akar dengan tujuan mempertahankan vitalitas gigi.
22
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan
Gigi berlubang yang tidak segera dilakukan perawatan beresiko menyebakan mengenai pulpa gigi bahkan mengakibatkan kematian gigi (Boss et al., 2020).
Perawatan pulpa gigi pada gigi decidui dan gigi permanen pada dasarnya memiliki tujuan yang sama, yaitu menghilangkan rasa sakit dari pulpa dan jaringan periapikal disekitar gigi tersebut. Selain itu, perlu pertimbangan khusus saat akan memutuskan rencana perawatan yang tepat pada gigi decidui yaitu dapat mempertahankan gigi pada lengkung rahang hingga gigi decidui tanggal secara fisiologis (Fajriani, 2018).
Perawatan gigi harus dimulai sejak gigi decidui erupsi, karena pada masa gigi decidui, sedang terjadi pembentukan gigi permanen di dalam tulang. Hal ini menyebabkan apabila terdapat kerusakan pada gigi decidui yang parah maka dapat mengganggu proses pembentukan gigi permanennya dan mengakibatkan gigi permanen anak tumbuh tidak normal (Saleh, 2017).
Pulpa gigi merupakan organ formatif dan membentuk dentin primer selama perkembangan gigi, dentin sekunder setelah gigi erupsi, dan dentin reparatif sebagai respon terhadap stimulasi selama odontoblas tetap utuh. Pulpa bereaksi terhadap stimulus panas dan dingin, biasanya pulpa tahan terhadap panas dengan temperature antara 60˚F (16˚C) dan 130˚F (55˚C). Oleh sebab itu, pulpa berperan penting dalam proses pertumbuhan dan perkembangan kesehatan gigi secara menyeluruh (Fajriani, 2018).
Perawatan pulpa konservatif merupakan perawatan pulpa dengan pengambilan pulpa yang terinfeksi sebatas kamar pulpa dan meninggalkan pulpa yang vital pada saluran akarnya. Perawatan pulpa konservatif pada gigi decidui yaitu pulpotomi (Fajriani, 2018). Pulpotomi merupakan perawatan yang paling umum untuk gigi geraham decidui yang terkena karies (Juwitaningrum & Sasmita, 2018). Pulpotomi adalah tindakan pengambilan jaringan pulpa bagian koronal yang mengalami inflamasi dengan melakukan anestesi, kemudian memberikan medikamen di atas pulpa yang diamputasi agar pulpa bagian radikular tetap vital (Annisa et al., 2018).
Teknik pulpotomi menjadi pilihan yang efektif yang dapat digunakan pada gigi
23
decidui dan dapat dilakukan dalam satu kali kunjungan dengan menggunakan bahan medikasi yang sesuai. Pemilihan teknik perawatan kamar pulpa itu sendiri tergantung dari kondisi kamar pulpa yang sesuai indikasi perawatan (Hartman, 2018).
B. Saran
Berdasarkan penjelasan materi yang dipaparkan pada makalah ini, terdapat beberapa saran yang dapat dikemukakan adalah sebagai berikut:
1. Melampirkan gambar untuk memperjelas setiap teori 2. Melampirkan sitasi pada pengisian tinjauan pustaka
3. Penyusun diharapkan mampu memahami materi dengan mencari berbagai referensi pada textbook dan jurnal yang berkaitan pada pediatric dan endodontik.
Makalah yang kami buat tentunya masih banyak kekurangan dan membutuhkan evaluasi untuk perbaikan pembuatan makalah kedepannya. Demi kesempurnaan makalah ini kami sebagai penyusun mengharapkan kritik dan saran yang membangun supaya makalah ini bisa tersusun secara lebih baik. Dan kami berharap makalah ini dapat digunakan untuk memenuhi penugasan Blok KGK 7 Skenario 3 serta dapat dijadikan sebagai referensi untuk pembuatan karya ilmiah selanjutnya.
24
DAFTAR PUSTAKA
Ahmed F, Thosar N, Baliga MS and Rathi N. Single visit endodontic therapy: A review. Austin J Dent. 2016;3(2):1-4.
Chandra, B., Gopikrishna, V. and Grossman, L. 2014. Grossman's endodontic practice. 13th ed. Gurgaon: Wolters Kluwer (India), pp.343-348.
Dirgantara, D., Fatimah, S., Tyawarman, E., Pujiyati, A., Surya, L. S., Zia, H. K.,
& Pertiwi, O. S. (2024). Pulp polyp in children. Makassar Dental Journal, 13(1), 54–56. https://doi.org/10.35856/mdj.v13i1.885 Grossman I.L., Oliet S., Rio C.E.D., 2015. Imu Endodontik Dalam Praktek, Ed.
11, EGC, Jakarta. hal. 196-264.
Hartman, Henri. (2018). The Effectiveness of One Visit Vital Pulpotomy in Primary Teeth. Journal of Medicine & Health. 2.
10.28932/jmh.v2i1.746.
Hutami, O. S., & Muryani, A. (2020). Perawatan saluran akar (PSA) satu kali kunjungan pada gigi molar pertama bawah kanan dengan restorasi endocrown resin komposit. Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran, 32(2), 53. https://doi.org/10.24198/jkg.v32i2.18040 McCracken, Giles, 2021, Master Dentistry, Restorative Dentistry,
Paedetric Dentistry and Orthodontics 4th edition, London, Elsevier, Hal: 48-60.
Netto MS, Saavedra F, Júnior JS, Machado R, Silva EJLN, Vansan LP.
Endodontists perceptions of single and multiple visit root canal treatment: A survey in florianópolis- brazil. RSBO. 2014;11(1):14- 9.
Noor Hafida Widyastuti, Y. D. (2021). Perawatan Saluran Akar Dan Restorasi Porcelain Fusi Metal Pada Gigi Fraktur Mahkota Nekrosis Pulpa.
JIKG (Jurnal Ilmu Kedokteran Gigi), 4(1), 1–5.
25
Pratiwi, S., & Herdiyati, Y. (2018). Gutta Percha Sebagai Bahan Pengisian pada Perawatan Endodontik Pasien Celah Langit-langit. Jurnal Material Kedokteran Gigi, 7(2), 17. https://doi.org/10.32793/jmkg.v7i2.369 Sari D.P., Ichrom M.Y., Budiarti L.Y., 2017. Efektivitas Daya Hambat Ekstrak
Umbi Bawang Dayak Terstandarisasi Fenol terhadap Pertumbuhan Enterococcus faecialis, Dentino Jurnal Kedokteran Gigi, Vol. 1 (1):
59-60.
Sibarani, Merry. 2014. Karies: Etiologi, Karakteristik Klinis dan Tatalaksana, Majalah Kedokteran UKI, Vol. 30(1): 14-22
Taringan R, 2002. Perawatan pulpa gigi (Edodonti). Jakarta: penerbit Buku Kedokteran EGC.
W. Niu, T. Yoshioka, C. Kobayshi, H. Suda, 2002. A Scanning Electron Microscopic Study of Dentinal Erosion by Final Irrigation with EDTA and NaOCl Solution, International Endodontic Journal, Vol.
35 (11): 1-2.
W., Agustin D., 2005. Perbedaan Khasiat Antibakteri Bahan Irigasi Antara Hidrogen Peroksida 3% dan Infusum Daun Sirih 20% terhadap Bakteri Mix, Majalah Kedokteran Gigi, Vol. 38 (1): 46-47.
Widyastuti, 2017. Penyakit Pulpa dan Periapikal beserta Pelaksanaannya, Surakarta, Muhammadiyah University Press.
Winarto, W.P. 2007. Tanaman Obat Indonesia Untuk Pengobatan Herbal. Jakarta, Kryasari Herba Media, hIm. 1 - 15.