PENDAHULUAN
Identifikasi Masalah
Rumusan Masalah
Bagaimana perbandingan hasil belajar matematika pada pembelajaran daring siswa IV. kelas di MIN 1 Kota Bengkulu. Untuk mengetahui perbandingan hasil belajar matematika pada pembelajaran daring pada siswa IV. kelas di MIN 1 Kota Bengkulu.
Tujuan Pembelajaran
Manfaat Penelitian
Menambah wawasan keilmuan mengenai pemanfaatan media internet bagi guru dan siswa dalam optimalisasi pembelajaran daring pada masa wabah Covid-19 yang akan dijadikan referensi untuk penelitian selanjutnya. Penelitian ini dapat memberikan kontribusi terhadap pemahaman guru terhadap pemanfaatan media internet untuk mencari sumber belajar bagi siswa.
KAJIAN TEORI
Pengertian Perbandingan
Pengertian Hasil Belajar
Faktor internal siswa meliputi masalah kesehatan, keterbatasan fisik, faktor psikis (kecerdasan), minat belajar, perhatian, bakat, motivasi, kematangan dan kesiapan siswa, serta faktor kelelahan. Faktor eksternal yang mempengaruhi proses dan hasil belajar peserta didik antara lain adalah keluarga, sekolah dan masyarakat.
Pengertian Pembelajaran
Kegiatan tatap muka merupakan kegiatan pembelajaran yang berupa interaksi langsung antara siswa dan guru, materi pembelajaran dan lingkungan. Ha : terdapat perbandingan hasil belajar matematika pada pembelajaran daring dan luring siswa IV. kelas di MIN 1 Kota Bengkulu. Ho : Tidak terdapat perbandingan hasil belajar matematika pembelajaran daring dan luring siswa IV. kelas di MIN 1 Kota Bengkulu.
Variabel terikat dalam penelitian ini adalah pembelajaran daring dan luring pada siswa kelas IV MIN 1 Kota Bengkulu. Untuk mengetahui perbandingan hasil belajar matematika pada pembelajaran daring dan luring di Kelas IV MIN 1 Kota Bengkulu. Sebab tidak semua orang tua mampu dan mampu dalam mendidik siswanya nilai-nilai akhlak dan budi pekerti sesuai dengan apa yang diajarkan guru di sekolahnya.
Siswa akan fokus mengerjakan soal atau saat belajar karena langsung dalam pengawasan guru tanpa ada gangguan. Selain itu juga terdapat peraturan-peraturan yang ada di kelas yang harus dipatuhi oleh siswa sehingga akan membuat siswa lebih terjamin keberhasilan belajarnya. Pada pembelajaran tatap muka, kemandirian siswa dalam mencari materi masih kurang dibandingkan dengan pembelajaran daring karena mereka hanya akan menunggu guru memberikan materi dan hanya bisa mengambil pelajaran dari guru.
Oleh karena itu, guru harus memvariasikan metodenya agar dapat menunjang siswa dalam belajar dan membuat mereka bersemangat serta mampu memahami pembelajaran yang diberikan. Pengaruh Kerjasama Orang Tua-Guru Terhadap Disiplin Siswa di Sekolah Menengah Negeri (Smp) Kecamatan Jagakarsa, Jurnal Ilmiah Widya, Vol.1 No.1.
Daring (dalam jaringan)
Luring (luar jaringan)
Pembelajaran Matematika
Berdasarkan perhitungan di atas maka hipotesis kerja (Ha) diterima dalam penelitian ini yaitu terdapat perbandingan hasil belajar pada pembelajaran daring dan tatap muka di kelas IV. Hasil belajar siswa kelas IV yang diajar melalui pembelajaran daring dengan rata-rata 81,3. Hasil belajar matematika siswa kelas IV yang diajarkan melalui pembelajaran langsung (luring) lebih baik dibandingkan siswa yang diajarkan menggunakan pembelajaran daring di MIN 1 Kota Bengkulu.
Nah dengan adanya hal ini sebagian besar siswa akan kesulitan untuk memahami apa yang ingin diperintahkan guru, walaupun internet banyak yang bisa digunakan, namun jika siswa sendiri tidak memahami tugas yang diberikan maka akan berdampak pada nilai. dan pemahaman anak itu sendiri. Oleh karena itu, banyak sekali kesulitan siswa dalam mendapatkan materi ketika belajar e-learning, dan jika pembelajaran yang dilakukan secara tatap muka digantikan secara online maka akan sangat menyulitkan siswa seperti kelas pendidikan jasmani, praktikum. di kelas dan matematika. Dengan begitu, siswa akan kesulitan belajar dan nilainya turun drastis, apalagi dengan masih adanya virus corona yang mengharuskan orang tua memiliki gadget.
Namun selama belajar di rumah, sebagian siswa memanfaatkan masa libur panjang dengan hal-hal yang tidak produktif. Ilmu bisa dicari dimana-mana, namun pendidikan karakter hanya bisa diajarkan langsung oleh guru, karena dengan begitu siswa akan meniru gurunya dalam melakukan beberapa hal dalam pendidikan dan pembelajaran. Jangan sampai siswa merasa bosan sehingga cenderung bermain di kelas bersama temannya jika pembelajaran sudah tidak menarik lagi.
Kajian Peneliti Terdahulu
Kerangka Berfikir
Hipotesis Penelitian
Jenis Penelitian
Penelitian kuantitatif dapat diartikan sebagai suatu metode penelitian yang berlandaskan filsafat positivisme, yang digunakan untuk menyelidiki populasi atau sampel tertentu, pengumpulan data menggunakan instrumen penelitian, analisis data bersifat kuantitatif statistik, dengan tujuan untuk memverifikasi hipotesis yang telah dikemukakan. tes 28 Penelitian ini dibagi menjadi 3 tahap yaitu pre-test, treatment dan post-test.
Tempat dan Waktu Penelitian
Populasi Dan Sampel Penelitian
Teknik pengambilan sampelnya adalah probabilitas sampling dengan menggunakan simple random sampling. Teknik ini merupakan teknik pengambilan sampel yang memberikan kesempatan yang sama kepada setiap anggota populasi terpilih untuk dijadikan sampel.
Variabel Penelitian
Teknik Pengumpulan Data
Instrumen Penelitian
Teknik Analisis Data
Apabila L hitung < L tabel berarti data berdistribusi normal, sebaliknya data tidak berdistribusi normal. Tujuan uji homogenitas adalah untuk mengetahui sama atau tidaknya beberapa varian populasi sehingga perbandingannya adil. Uji hipotesis digunakan untuk mengetahui perbandingan pembelajaran luring dan pembelajaran daring terhadap tingkat pemahaman matematika anak di MIN 1 Kota Bengkulu.
Uji perbandingan sampel t berarti sebaran data yang dibandingkan berasal dari kelompok subjek yang sama. MD = Hasil selisih skor pertama dan kedua dibagi jumlah sampel. Jika angka t ≥ t tabel berarti hipotesis Ha diterima, Ho ditolak yang berarti perbandingan pembelajaran luring dan daring dengan tingkat pemahaman matematika anak di MIN 1 Kota Bengkulu. Jika angka t ≤ t tabel berarti hipotesis Ho diterima dan Ha ditolak yang berarti tidak terdapat perbandingan antara pembelajaran luring dan daring dengan tingkat pemahaman anak pada mata pelajaran matematika di MIN 1 Kota Bengkulu.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Deskripsi Data
Soal pre-test dan post-test diberikan kepada siswa kelas IV A dan IV B secara tatap muka dan daring. Setelah mentabulasi dan menilai contoh soal dalam kasus pengajaran tatap muka ini, dilakukan prosedur sebagai berikut. Setelah mentabulasi dan menilai contoh soal, dalam hal ini pembelajaran online, dilakukan prosedur sebagai berikut.
Perhitungan uji normalitas dilakukan dengan membandingkan nilai X2hitung dengan X2tabel pada taraf signifikansi variabel X d.b = k-3 = 4-3. 2 = 0,05 diperoleh X2tabel = 5,991 dengan kriteria pengujian sebagai berikut: Jika X2hitung X2tabel maka distribusinya normal dan sebaliknya jika X2hitung X2tabel maka distribusi datanya tidak normal. Berdasarkan hasil perhitungan uji normalitas tatap muka (variabel X) memiliki nilai X2 = 15,21, sedangkan perhitungan uji normalitas pretest pada pembelajaran daring (variabel Y) memiliki nilai Y2 = 81,51.
Dari perhitungan uji Fisher, tabel bantu pembelajaran tatap muka dan pembelajaran online dapat digunakan untuk menghitung nilai varians masing-masing variabel sebagai berikut. Perhitungan uji homogenitas dilakukan dengan membandingkan nilai Fhitung dengan Ftabel pada taraf signifikansi α = 0,05 dan pembilang dk = na - 1 serta penyebut dk. Dari analisis di atas dapat disimpulkan bahwa pada kelas IV B terdapat: 6 siswa pada kelompok tinggi/tinggi (40%), 7 siswa pada kelompok sedang/sedang (46,7.
Pada variabel X pembelajaran daring dan variabel Y pembelajaran tatap muka yang akan diuji normalitasnya adalah uji chi square.
Uji Hipotesis Data
Hasil menunjukkan Fhitung = 1,09, maka nilai Fhitung = dibandingkan dengan Ftabel sebesar = 0,05 dk pembilang = 15 dan dk penyebut = 15, diperoleh F tabel = 4,26. Berdasarkan tabel di atas, langkah selanjutnya adalah memasukkan data ke dalam rumus menghitung uji “t”, dengan langkah pertama mencari mean dari x dan y.
Pembahasan
Berkurangnya interaksi dengan guru ketika menggunakan metode ini cenderung bersifat satu arah, yaitu guru menjelaskan kepada siswa sedangkan siswa hanya dapat melihat, mendengarkan tanpa dapat bertanya langsung kepada guru. Sebab jika semua siswa diperbolehkan berkomentar maka terdapat beberapa kelemahan yaitu hanya dapat menimbulkan kegaduhan di dalam kelompok dan yang hanya dapat menggunakan handphone tentu akan mengirimkan pesan yang tidak sesuai dengan yang diperintahkan guru. Tak sedikit siswa yang mengeluhkan rasa bosan dan bosan, sulit berkonsentrasi, kesepian, cemas, stres berlebihan, dan emosi yang tidak stabil karena sulit beradaptasi dengan kondisi di masa pandemi.
Pembentukan karakter melalui sekolah jarak jauh ketika siswa belajar di rumah tetap dapat diawasi dan diawasi oleh para guru. Kemudian jika ada anak yang tidak dapat menyelesaikan tugas karena tidak memiliki kuota/data internet, guru dapat mengajak siswa untuk mentransfer pulsa kepada anak yang tidak memiliki kuota tersebut, untuk melatih karakter empati dan kepedulian. Seperti halnya guru, siswa di grup wa harus terus melakukan kontrol sebagai bentuk penanaman karakter santun dalam berbicara dan bertanggung jawab dalam setiap perkataan dan perbuatan.
Berbeda dengan pembelajaran tatap muka yang mana guru dan siswa dapat bertatap muka secara langsung dan berkomunikasi serta berpartisipasi dalam pembelajaran dengan lebih mudah dan dalam hal kedekatan antara guru dan siswa maka guru dapat langsung menjelaskan materi, guru dapat langsung mengawasi siswa dalam mengerjakan tugas, dan siswa juga dapat bertanya secara langsung jika ada yang sulit dipahami, sehingga pembelajaran dapat berjalan dengan lancar dan baik, dampaknya terhadap nilai siswa dapat diperoleh lebih baik lagi dibandingkan dengan pembelajaran daring. Siswa tidak mudah stres ketika di sekolah, siswa akan banyak bermain dengan teman-temannya di lingkungan sekolah sehingga membuat mereka lebih bahagia dan santai. Selain itu, sebagian besar metode yang digunakan guru hanya mempunyai satu metode yaitu metode ceramah, dimana guru hanya menyampaikan materi hanya dengan menjelaskannya kepada siswa, kemudian siswa harus mencatat apa yang dikatakan guru, sehingga siswa sulit mencerna jika apa yang disampaikan guru tidak jelas.
PENUTUP
Saran
Permasalahan pembelajaran daring pada masa pandemi Covid-19 dan solusi penyelesaiannya, Jurnal Pendagoguy: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pendidikan, Vol. Kerjasama Orang Tua dan Guru dalam Pembentukan Kepribadian Anak Islami dalam Roudlotul Atfal, Jurnal Pendidikan Anak, Vol. Efektivitas Model Pembelajaran Daring pada Perkuliahan Bahasa Indonesia di Perguruan Tinggi, Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Vol.
Membantu Orang Tua dalam Pembelajaran Daring di Sekolah Dasar: Evaluasi Pembelajaran Daring di Masa Pandemi Covid-19, Jurnal Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Vol.4 No.2 Melia, Astuti. Peran Orang Tua dalam Membentuk Kepribadian Anak di Era Digital, Jurnal Kajian Gender Anak, Vol.12 No. Strategi Pembelajaran Daring dan Luring Pada Masa Pandemi Covid-19 di SD Negeri Sugihan 03 Bendosari, Jurnal Ilmiah Pendidikan, Vol.2 No.2.
Kesiapan Kompleksitas dan Harapan Pembelajaran Jarak Jauh: Perspektif Mahasiswa IAIN Ponegoro, Jurnal Pendidikan Islam Rosita, Euis. Efektif Mengelola Pembelajaran Daring Saat Pandemi di SDN 1 Tanah Tinggi, Jurnal Pendidikan, Vol.2 No.2. 2020. Membandingkan Kehadiran Sosial dalam Pembelajaran Online Menggunakan Grup WA dan Webinar Zoom Berbasis Sudut Pandang.