PENDAHULUAN
Latar Belakang
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbandingan kadar aspal yang diekstrak dari Asphalt Mixing Plant (AMP) pada saat. 43 Grafik kadar aspal hasil ekstraksi 6 (enam) sampel hasil core dapat dilihat pada gambar 4.3.
Rumusan Masalah
Tujuan Penelitian
Manfaat Penelitian
Batasan Penelitian
TINJAUAN PUSTAKA
Perkerasan Lentur
- Lapis Permukaan (Surface Course)
- Lapis Pondasi Atas (Base Course)
- Lapis Pondasi Bawah (Subbase Course)
- Lapis Tanah Dasar (Subgrade)
Lapisan dasar bawah (LPB) terletak di bawah lapisan dasar atas (LPA) dan di atas dasar atau tanah timbunan. Merupakan lapisan resapan agar air tidak terkumpul pada lapisan pondasi atas dan mencegah air masuk ke lapisan pondasi.
Material Penyusun Campuran Perkerasan
- Agregat
- Bahan pengisi (Filler)
- Aspal
Jika dilihat dari bentuknya pada suhu kamar, aspal dibedakan menjadi aspal padat, aspal cair dan aspal emulsi.Aspal padat adalah aspal yang pada suhu kamar berbentuk padat atau semi padat dan menjadi cair jika dipanaskan. Aspal Emulsi Aspal emulsi adalah campuran aspal dengan air dan bahan pengemulsi yang dibuat di pabrik pencampuran.
Kadar Aspal Optimum
- Kriteria Perancangan Campuran
- Estimasi Kadar Aspal Optimum
Karena padat maka rongga antar agregat tercampur (VMA) lebih rendah sehingga kadar aspal yang dibutuhkan pun lebih rendah. Jika digunakan tambahan karena beban lalu lintas yang berulang, aspal dapat memberikan efek pelumas. Karena VIM yang tidak cukup, apalagi pada cuaca tinggi, aspal bisa meleleh (bleed).
21 Daya tahan berkaitan dengan ketahanan suatu campuran aspal terhadap kerusakan (disintegrasi) akibat pengaruh cuaca, air atau beban lalu lintas. Ketahanan lapisan permukaan sangat diperlukan agar mampu menahan keausan yang terjadi karena pengaruh cuaca, air dan perubahan suhu atau keausan akibat gesekan roda kendaraan. Semakin tinggi kandungan aspal yang digunakan dalam campuran maka semakin kecil jumlah putaran yang diperlukan untuk memadatkan aspal tersebut. Untuk menentukan kadar aspal optimal diperkirakan dengan menentukan kadar optimal secara empiris dengan menggunakan persamaan (Pb) menurut persamaan 2.1. Nilai Pb yang dihitung dibulatkan ke 0,5%.
Aspal Beton AC-BC
Karakteristik Marshall
- Ketahanan (stability)
- Kelelehan (flow)
- Rongga antar Butiran/ Void in Mineral Aggregate (VMA)
- Rongga Dalam Campuran/Void in Mix (VIM)
- Rongga Terisi Aspal/Void Filled with Bitumen (VFB)
- Kerapatan (density)
- Marshall Quotient (MQ)
Asphalt Filled Void (VFB) adalah bagian rongga antar mineral agregat (VMA) yang terisi aspal efektif yang dinyatakan dalam persentase. Tentu saja terdapat rongga-rongga dalam campuran yang mana rongga-rongga tersebut dapat terisi atau tidak. Massa jenis adalah berat campuran aspal padat per satuan volume dan nilai tersebut menunjukkan tingkat kepadatan campuran setelah pemadatan (Kusharto, 2007).
Campuran dengan massa jenis yang tinggi mampu menahan beban yang lebih besar dibandingkan dengan campuran yang massa jenisnya rendah.
Pengujian Ekstraksi
Porositas Agregat
Penelitian Sebelumnya
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbandingan kadar aspal hasil ekstraksi di AMP, pada saat penghamparan (dibelakang aspal paver) dan setelah pemadatan lapangan dengan kadar aspal Design Mix Formula (DMF). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hasil perbandingan kadar aspal hasil ekstraksi campuran aspal AC-BC antara Job Mix Formula (JMF) dengan benda uji yang dihasilkan oleh alat pengaduk aspal (Asphalt Mixing Plant), pada saat penghamparan (di belakang alat pengeras jalan aspal). ). ), dan setelah kompresi lapangan (hasil kernel). Disarankan agar dilakukan pengujian lebih lanjut untuk mengetahui kandungan aspal hasil tambang pada campuran aspal AC-Base dan campuran Lataston.
Kajian Hasil Ekstraksi Kadar Aspal dari Penyebaran Campuran AC-WC Bergradasi Kasar Menggunakan Formula Campuran Kerja. Kajian kadar aspal hasil ekstraksi overlay dan mix design pada campuran aspal beton bergradasi halus (AC-WC). Studi Banding Kadar Aspal Hasil Ekstraksi Campuran Coarse Grading AC-WC dengan Cairan Ekstraksi Menggunakan Bensin.
METODE PENELITIAN
Jenis Penelitian
Lokasi Penelitian
Tahapan Penelitian
- Pendahuluan
- Tinjauan Pustaka
- Pengumpulan Data
- Penyiapan Peralatan dan Bahan Pengujian
- Penyiapan Sampel
- Pengujian Ekstraksi
- Hasil Pengujian Ekstraksi
- Pembahasan
33 lapangan (hasil inti), dengan menggunakan Trichlor ethylene sebagai pelarut, kadar aspal mempengaruhi keawetan aspal. Tabung kaca refluks lengkap dengan sistem pendingin uap pelarut, rangka wadah fasilitas pengujian, dan keranjang. Berat campuran yang diperoleh sebanyak satu sekop atau kurang lebih 3 kilogram dengan jumlah benda uji yang akan diambil sebanyak 6 buah.
Benda uji diambil dari AMP (asphalt mixing plant) sebanyak 6 buah, 6 buah pada saat alinyemen (setelah finishing aspal), dan 6 buah setelah pemadatan di lapangan (hasil core), sehingga terdapat 18 buah benda uji. Tempatkan tabung kaca berisi bingkai berlapis filter, benda uji, dan pelarut pada pelat pemanas listrik. Sisa benda uji setelah dikeringkan dalam oven ditimbang, kertas saring ditimbang tersendiri dengan ketelitian penimbangan 0,1 gram.
Simpulan dan Saran
Keluarkan bingkai dari tabung dan biarkan mengering. Keluarkan kertas saring beserta benda uji dari keranjang dan pindahkan ke dalam mangkuk. Keringkan dalam pengering pada suhu 110°C ± 5°C hingga berat mencapai berat . tetap konstan (24 jam). Setelah melakukan serangkaian pengujian ekstraksi kadar aspal dengan menggunakan pelarut bensin pada setiap item pengujian, maka akan dapat diketahui nilai kadar aspal AMP, dibalik paver dan hasil core, apakah nilai kadar aspalnya sama atau ada. adanya perbedaan, apabila nilai kadar aspal setiap sampel berbeda-beda, maka akan dapat dianalisis penyebab perbedaan tersebut.
Tahapan Kerangka Penelitian
42 Dari gambar diatas dapat disimpulkan bahwa perbandingan kadar aspal hasil ekstraksi dari belakang finisher menjadi berkurang, oleh karena itu rumus kadar aspal (KA) hasil ekstraksi dapat dirumuskan sebagai berikut: Formula Campuran Pekerjaan KA (JMF) > K A tertinggal dari rata-rata finisher - Rata-rata ∶ 6,33%>6,28. Dari gambar di atas dapat disimpulkan bahwa jika dibandingkan kadar aspal hasil ekstraksi dengan hasil inti maka nilai kadar aspal lebih kecil, sehingga dapat dibuat rumus kadar aspal (KA) dari hasil ekstraksi sebagai berikut : K A Job Mix Formula (JMF) > K A Rata-rata hasil inti: 6,33%>6,21. 46 waktu ± 4 jam, ditambah dengan proses pengolesan dengan alat penyebar (asphalt finisher) yang menyebabkan aspal mulai meresap ke dalam pori-pori agregat sehingga menyebabkan hasil pengujian penggalian kadar aspal di belakang finisher lebih rendah dibandingkan AMP.
Untuk sampel inti yang diekstraksi, kadar aspalnya lebih kecil dari AMP dan finish, karena adanya beban lalu lintas yang melintasi jalan, ditambah jarak antara waktu pengambilan sampel dengan waktu rambat. Hal ini juga membuktikan bahwa kadar aspal yang diekstraksi dari AMP lebih besar dibandingkan setelah difinishing, dan yang penting hasilnya, alhasil saat diuji nilai kadar aspalnya, hasilnya lebih kecil dari nilai kadar aspal JMF. Terjadi penurunan kadar aspal hasil ekstraksi JMF, dengan rata-rata deviasi dari AMP sebesar -0,02%, dari finalis terdapat deviasi sebesar -0,05%, dan dari hasil core terdapat deviasi sebesar -0,12%. .
ANALISIS DAN PEMBAHASAN
Kadar Aspal Job Mix Formula (JMF)
Job Mix Formula (JMF) merupakan suatu rancangan pencampuran aspal beton atau campuran panas (hot mix) berdasarkan metode Marshall, dengan metode ini dapat digunakan jumlah aspal yang tepat sehingga dapat menghasilkan komposisi yang baik. Kadar aspal paket Job Mix Formula (JMF) proyek sepanjang 2,04 km Provinsi Semarapura-Klotok tahun anggaran 2018 dapat dilihat pada Tabel 4.1.
Pengujian Ekstraksi
- Pengujian Ekstraksi sampel di AMP
- Pengujian Ekstraksi Sampel di Belakang Finisher
- Pengujian Ekstraksi dari hasil Core
- Rekapitulasi Pengujian Kadar Aspal Hasil Ekstraksi
Dari gambar diatas dapat disimpulkan bahwa dengan membandingkan kadar aspal hasil ekstraksi dari Asphalt Mixing Plant (AMP) maka nilai kadar aspalnya berkurang, sehingga dapat dibuat rumus kadar aspal (KA) hasil ekstraksi sebagai berikut: Rumus Campuran Pekerjaan K A (JMF) > K A Asphalt Mixing Plant (AMP) Rata-rata ∶ 6,33%>6,31%, sehingga dapat disimpulkan bahwa hasil uji kadar aspal dari Asphalt Mixing Plant (AMP) masih dalam batas toleransi Spesifikasi Umum Revisi 3 Tahun 2010 yaitu ± 0,3% dengan nilai toleransi batas bawah sebesar 6,03% dan toleransi batas atas sebesar 6,63. Hasilnya, aspal tersebut masih layak untuk ditebar di lapangan. Uji pengambilan sampel dari bagian belakang mesin potong babi dilakukan setelah pengambilan sampel di lapangan, sampel tersebut merupakan hasil hamparan aspal yang dimuat oleh dump truck, sama dengan pengambilan sampel di tempat pencampuran aspal ( AMP), setelah dilakukan pengujian di laboratorium diketahui kadar aspal berada di bawah kadar aspal Job Mix Formula (JMF) dan kadar aspal mixing plant (AMP) dengan nilai rata-rata sebesar 6,28%, sedangkan nilainya. Uji ekstraksi dari bahan inti dilakukan yaitu setelah aspal dipadatkan dengan menggunakan alat pemadat aspal, selanjutnya dilakukan uji pengeboran inti untuk mengambil contoh aspal yang telah dipadatkan, selanjutnya dilakukan uji ekstraksi. Dari hasil pengujian ekstraksi dari hasil core diketahui nilai kadar aspal berada dibawah kadar aspal JMF, kadar aspal AMP dan kadar aspal belakang Finisher dengan nilai rata-rata sebesar 6,21%, sedangkan nilai kadar aspal JMF adalah 6,33%, kadar aspal AMP rata-rata 6,31% dan kadar aspal belakang finisher rata-rata 6,31% rata-rata 6,28%.
KA Job Mix Formula (JMF) > Asphalt Mixing Plant (AMP) > KA Belakang Finisher > KA Hasil Core. Kadar aspal AMP lebih besar dibandingkan kadar aspal belakang finisher dan hasil core, dengan selisih 0,03% antara kadar aspal AMP dengan kadar aspal belakang finisher (saat pengolesan), dan selisih 0,07%. . Kadar aspal AMP lebih besar dibandingkan kadar aspal di belakang finisher dan lebih besar dibandingkan kadar aspal core. Hal ini dikarenakan aspal dari AMP merupakan aspal lepas yang baru diproses dari AMP, sehingga pada saat dilakukan ekstraksi efek kehilangan kandungan aspal lebih kecil karena aspal belum meresap ke dalam pori-pori agregat.
Pengujian penyerapan Air Agregat Gabungan
47 Gambar 4.5 Perbandingan penyerapan air total campuran sebelum ekstraksi dan pasca ekstraksi dari hasil AMP, post-finisher, dan core. Perbedaan nilai kandungan pori sebelum dan sesudah ekstraksi disebabkan karena aspal masih terdapat pada pori-pori agregat. Perbedaan kadar aspal ini disebabkan karena aspal dari AMP merupakan aspal lepas yang baru didaur ulang dari AMP, sehingga pengaruh kehilangan kadar aspal pada saat ekstraksi lebih kecil karena aspal belum menembus pori-pori agregat.
Hal ini dikarenakan waktu dari proses pembuangan aspal ke dump truck dan pengangkutan ke lokasi proyek dari AMP dengan jarak 34 km hingga aspal mulai diratakan adalah ± 4 jam, ditambah dengan proses penghamparan. dengan alat penyebar (pembuat aspal) mengakibatkan aspal mulai meresap ke dalam pori-pori - Pori-pori agregat, perbedaan kadar aspal hasil inti disebabkan oleh beban lalu lintas penyeberangan ditambah jarak waktu pengambilan sampel dengan waktu penghamparan. Kandungan pori agregat mempengaruhi penurunan kadar aspal. Dari hasil pengujian diketahui kandungan pori sebelum dan sesudah ekstraksi mengalami penurunan yaitu kandungan pori sebelum ekstraksi sebesar 2,328% sedangkan kandungan pori setelah ekstraksi pada AMP sebesar 2,282%, kandungan pori belakang finisher sebesar 2,138%. Untuk penelitian lebih lanjut mengenai kadar aspal diharapkan menggunakan jenis pelarut dengan nilai oktan yang lebih tinggi sehingga hasil ekstraksi akan lebih cepat.
PENUTUP
Simpulan
Saran
Pemanfaatan batu kapur sebagai bahan pengisi pada campuran pengikat aspal beton kasar (AC – BC) dengan metode massa jenis mutlak (PRD). Karakteristik campuran aspal beton dressing course (AC-WC) menggunakan abu vulkanik dan abu batu sebagai bahan pengisi. Lampiran F15: Sampel dan pelarut ditempatkan dalam tabung dan ekstraksi akan dimulai sampai pelarutnya jernih.
Estimasi Kadar Aspal Optimum
Void in Mineral Aggregat (VMA)
Void in Mix (VIM)
VMA terhadap berat total agregat …
Void Filled with Bitumen (VFB).…
Marshall Quotient (MQ)