Skripsi ini saya persembahkan kepada kedua orang tua saya yang selalu mendoakan dan menyemangati saya, serta sahabat, sahabat, saudara, keluarga yang selalu membantu saya dalam berbagai hal, serta orang-orang yang saya sayangi. Hasil penelitian yang diperoleh terdapat lima maksim yaitu maksim kebijaksanaan, maksim kesederhanaan, maksim penghargaan, maksim simpati dan maksim mufakat. Segala puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.
Tujuan penyusunan skripsi ini adalah untuk memenuhi persyaratan memperoleh gelar sarjana bahasa dan sastra Indonesia di Universitas Muhammadiyah Makassar. Saya pengajar skripsi siap memberikan ilmu dan solusi terhadap permasalahan atau persoalan apa pun dalam pembuatan dan penulisan skripsi ini. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi para pembaca dan pelanggan khususnya dalam bidang bahasa Indonesia.
- Latar Belakang
- Rumusan Masalah
- Tujuan Penelitian
- Manfaat Penelitian
Oleh karena itu, guru bahasa Indonesia harus mampu menjadi teladan atau figur pengguna bahasa Indonesia yang baik, baik dalam bentuk lisan maupun tulisan. Oleh karena itu, pembelajaran bahasa Indonesia tidak memberikan kontribusi yang signifikan dalam mengubah pola perilaku negatif menjadi positif. Pembelajaran bahasa Indonesia belum sepenuhnya dikemas dalam skenario yang mencerminkan penanaman karakter bangsa dan pendidikan karakter.
Oleh karena itu, guru bahasa Indonesia diharapkan mampu memberikan contoh kepada guru mata pelajaran lain pada umumnya dan siswa pada khususnya dalam penggunaan bahasa yang santun, baik dan benar. Alasan peneliti memilih judul ini karena tertarik untuk meneliti penerapan kesantunan berbahasa di suatu sekolah untuk mendapatkan gambaran sejauh mana penerapan kesantunan berbahasa dalam proses pembelajaran bahasa Indonesia untuk mencapai tujuan pendidikan secara umum. Agar mental siswa meningkat atau berkembang dalam berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik di lingkungan sekolah.
Penelitian Relavan
Relevansi penelitian terdahulu dengan penelitian yang sedang diteliti adalah baik penelitian kualitatif maupun data penelitian berupa tindak tutur yang digunakan. Kesantunan Berbahasa dalam Pedoman Guru Tindak Pidato dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia di SMA Negeri 15 Padang". Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan menggunakan metode deskriptif. Penelitian ketiga yang dilakukan oleh Rachman adalah “Tindakan Pidato dalam Proses Belajar Mengajar di TK Dharma Wanita, Desa Wapunto Kecamatan Duruka Kabupaten Muna : Kajian Pragmatis". Penelitian ini tergolong penelitian lapangan dan metode yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif. .
Perbedaan penelitian terdahulu dengan penelitian yang akan diteliti terletak pada data, sumber data, metode pengumpulan data. Relevansi penelitian terdahulu dengan penelitian yang akan diteliti adalah sama-sama menggunakan penelitian kualitatif dan menggunakan pendekatan pragmatis, data kedua penelitian tersebut berbentuk pidato. Oleh karena itu penelitian ini dirumuskan dengan judul “Perbandingan Strategi Kesantunan Berbahasa dalam Interaksi Belajar Mengajar Siswa Sekolah Negeri dan Siswa Madrasah Ibtidaiyah”.
Landasan Teori
- Hakikat Bahasa
- Hakikat Bicara
- Hakikat Pragmatik
- Hakikat Konteks
- Hakikat Kesantunan Berbahasa
Junaidi & Wardani (2019) mengatakan bahwa teori tindak tutur dan pragmatik melihat konteks dari segi pengetahuan, yaitu apa yang dapat diketahui oleh penutur dan lawan bicaranya dan bagaimana pengetahuan tersebut memandu/menunjukkan penggunaan bahasa dan penafsiran tuturan. Artinya ketika penutur dan mitra tutur mempunyai pengetahuan yang sama tentang apa yang dibicarakan atau yang bisa disebut dengan suatu pokok bahasan, maka tidak akan terjadi kesalahpahaman atau penafsiran yang tidak tepat. Menurut Prasetya (2016), keragaman linguistik mencakup banyak ciri kebahasaan yang pemilihannya bergantung pada hubungan penutur dengan mitra tuturnya.
Dari kedua pendapat di atas dapat kita simpulkan bahwa asas kesantunan adalah kaidah-kaidah dalam bercakap-cakap yang memerintahkan penutur dan lawan bicaranya untuk memperhatikan kesantunan dalam bercakap-cakap. Skala preferensi (choices) mengacu pada banyaknya pilihan yang disampaikan penutur kepada lawan bicaranya dalam percakapan. dalam kegiatan berbicara. Semakin banyak pilihan dan kebebasan yang diberikan penutur kepada lawan bicaranya dalam bertutur, maka semakin santun pula tuturannya.
Skala autoriti merujuk kepada hubungan status sosial antara penutur dan rakan tutur yang terlibat dalam sesuatu pertuturan, semakin besar jarak sosial antara penutur dan rakan tutur, pertuturan yang digunakan akan cenderung lebih sopan. Skala jarak sosial ini merujuk kepada tahap sosial penutur dan rakan tutur yang terlibat dalam sesuatu ucapan. Kewujudan prinsip kesantunan yang dipatuhi diharapkan antara penutur dan rakan tutur dapat menggunakan bahasa dengan sopan dalam setiap tutur kata sebagai satu bentuk kesantunan dan penghormatan.
Faktor penentu kesantunan dari aspek non-linguistik antara lain adalah pranata sosial budaya masyarakat, pranata adat seperti jarak bicara antara penutur dan lawan bicaranya, dan lain sebagainya. Penggunaan bahasa dan kalimat yang santun tentu saja bertujuan agar tuturan tersebut terkesan santun dan penuh hormat kepada pembicara. Suatu tuturan dikatakan santun apabila penutur menyampaikan maksudnya dengan cara yang lembut dan jarak penuturnya cukup dekat dengan lawan bicaranya.
Perlunya asas kesantunan berbahasa adalah menghormati dan menghindari konflik antara penutur dan mitra tutur yang merupakan salah satu bentuk kesantunan. Dengan memperhatikan prinsip kerjasama dan kesantunan dalam menggunakan bahasa, maka makna atau pesan yang ingin disampaikan mudah diterima oleh lawan bicara. Tuduhan terhadap lawan bicaranya hanya didasarkan pada kecurigaan saja, tanpa disertai bukti nyata, sehingga akan membuat tuturannya menjadi kasar. e) Sengaja menempatkan pembicara di sudut.
Kerangka Pikir
- Pendekatan Penelitian
- Metode Pengumpulan Data
- Metode Observasi
- Metode Dokumentasi
- Metode Analisis Data
- Lokasi dan Waktu Penelitian
Pendapat lain mengemukakan bahwa observasi adalah alat untuk mengumpulkan data berupa suatu perilaku tertentu (Ramdhani, 2011). Proses observasi ini dilakukan peneliti untuk memperoleh keterampilan objek atau guru dan siswa yang menjadi sasaran peneliti serta kesantunan berbahasa dalam pembelajaran. Metode observasi yang digunakan adalah ketika guru dan siswa berpidato pada saat belajar mengajar, peneliti mengamati langsung bahasa yang mereka gunakan.
Dokumentasi merupakan catatan peristiwa masa lalu dalam bentuk teks, gambar atau karya monumental seseorang (Hasibuan et al., 2010). Menurut Deby Harlia (2019), istilah dokun diartikan dalam tiga arti (1) dalam arti luas yaitu mencakup semua sumber, baik sumber tertulis maupun sumber lisan, (2) dalam arti sempit yaitu mencakup semua sumber saja, dan (3) dalam arti khusus, yaitu hanya mencakup dokumen-dokumen resmi dan negara, seperti perjanjian, undang-undang, konsesi, subsidi dan sebagainya. Dalam penelitian ini, metode dokumentasi digunakan untuk menganalisis isi visual suatu objek.
Analisis data penelitian, metode analisis deskriptif kualitatif digunakan dalam penelitian ini, yaitu metode untuk menjelaskan gambaran orang-orang dengan latar belakang alaminya mengenai pola pikir, minat, keinginan, keinginan, cita-cita dan kecenderungannya (DI et al., n.d. ). Dengan analisis deskriptif kualitatif ini peneliti ingin mengetahui kata sapaan apa yang digunakan dalam komunikasi atau apa yang diucapkan orang. Mengidentifikasi kata-kata secara jelas dan rinci berdasarkan data yang dikumpulkan di lingkungan sekolah.
Klasifikasi data adalah data yang terwujud dalam tuturan percakapan, kalimat dan perkataan guru dan siswa, yang dipusatkan pada bentuk tuturan langsung yang digunakan oleh guru dan siswa dalam kesantunan berbahasa dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Penafsiran data yaitu data yang dipilih dan kemudian dianalisis, dilanjutkan dengan penelaahan terhadap data yang dianalisis untuk diverifikasi relevansinya dengan mengajukan masalah penelitian mengenai kesantunan berbahasa guru dan siswa. Kesimpulannya, inferensi merupakan tahap akhir analisis data dalam penelitian ini, yaitu terkait penggunaan kesantunan berbahasa oleh guru dan siswa.
Pelaksanaan penelitian ini berlangsung kurang lebih dua bulan sejak izin penelitian dikeluarkan, yang mana bulan pertama proses pengumpulan dan satu bulan proses pengolahan data, yang meliputi proses pengelolaan dan presentasi skripsi.
Deskripsi Data
- Analisis Data
- Pembahasan Hasil Penelitian
Dengan mengacu pada maksim ini diharapkan proses komunikasi dapat berjalan dengan baik dan tidak terjadi perasaan saling menyakiti antara penutur dan mitra tutur. Tuturan ini disampaikan oleh pembicara yang menghadirkan kepada seluruh mitra tutur (siswa) pada saat proses pembelajaran dimulai. Tuturan ini ditujukan kepada seluruh mitra tutur (siswa) pada saat pembicara harus memulai proses pembelajaran.
Misalnya dalam proses komunikasi, ketika penutur dan lawan bicara mempunyai pemahaman yang berbeda, diharapkan tidak saling berkonfrontasi, sehingga hubungan antara penutur dan lawan bicara tetap baik dan harmonis. Tuturan merupakan reaksi siswa ketika menerima masukan dari mitra tuturnya (guru) bahwa ruangan sangat gelap. Tuturan merupakan reaksi siswa ketika menerima masukan/bantahan dari mitra tuturnya (guru) bahwa ruangan sangat gelap.
Tuturan tersebut merupakan respon siswa 2 ketika mendapat informasi dari rekan bicaranya (siswa 2) bahwa pembicara tidak dapat memfotokopi buku karena tidak mempunyai uang yang cukup. Dalam berbicara juga harus diperhatikan kebijaksanaannya, agar proses komunikasi antara pembicara dengan lawan bicara dapat berjalan lancar dan terasa santun. “Alhamdulillah hari ini kita bisa bertemu kembali dengan topik Bahasa Indonesia”, hal ini menunjukkan bahwa penutur bermaksud menghormati mitra bicaranya (siswa). 7) Kedermawanan Maksimal.
Apabila penutur dan mitra tutur menaati kaidah ini dalam proses komunikasi, maka dapat dipastikan proses komunikasi tersebut akan berjalan dengan baik dan santun, karena penutur dan mitra tutur mempunyai keinginan untuk saling menghormati. Tuturan tersebut merupakan respon Siswa 2 dalam menerima masukan/penolakan dari rekan tuturnya (Siswa 1) bahwa ruangannya sangat kotor. Tuturan yang dilakukan penutur menunjukkan bahwa penutur sependapat dengan mitra tuturnya bahwa ruangan yang mereka gunakan sangat kotor.
Misalnya dalam proses komunikasi, apabila penutur dan mitra tutur mempunyai makna yang berbeda, diharapkan tidak saling berkonfrontasi, sehingga hubungan antara penutur dan mitra tutur tetap baik dan harmonis d.
Simpulan
Saran
Kesopanan wajib dalam proses pembelajaran di Program Pascasarjana Magister Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Mataram. Bentuk Kesantunan Berbahasa di Buku Ajar Bahasa Indonesia Sekolah Dasar Bawah Karya Muhammad Jaruki. Penyimpangan prinsip kerjasama dan prinsip kesantunan dalam wacana humor verbal terekam dalam buku Mangkunteng.
Kesantunan berbahasa kalimat perintah yang dilakukan guru dan pengasuh bagi siswa Taman Kanak-Kanak (Tpa) Sanggar Rubinha Samarinda (Kesantunan berbahasa kalimat perintah yang dilakukan guru dan pengasuh bagi siswa Tpa Rubinha Studio Samarinda). Penggunaan Deiksis dalam proses belajar mengajar bahasa Indonesia pada tahun ajaran Kelas Sekolah Sman 7 Tangerang Selatan Pelanggaran prinsip kerjasama dan kesantunan berbahasa siswa terhadap guru melalui tindak tutur verbal di SMP Ma’arif Tlogomulyo-Temanggung (studi sosiopragmatik).
Variasi bahasa; Bahasa Gaul dan Jargon Pengemudi Ojek di Pangkalan Ojek, Jalan Oscar Raya Bambu Apus Pamulang, Tangsel, Banten. Variasi Bahasa dalam Situasi Informal di Kalangan Mahasiswa Program Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Tadulako. Belajar mengkomunikasikan kesepakatan pada teks negosiasi sebagai sarana melatih keberanian siswa berbicara dengan model reciprocal teaching di kelas
Peran komunikasi interpersonal kepala sekolah terhadap motivasi kerja guru di SMA Islam Samarinda.