• Tidak ada hasil yang ditemukan

View of Perbedaan Hasil Belajar Matematika Siswa dengan Model Problem Based Learning dan Discovery Learning

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "View of Perbedaan Hasil Belajar Matematika Siswa dengan Model Problem Based Learning dan Discovery Learning"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

Journal of Classroom Action Research

http://jppipa.unram.ac.id/index.php/jcar/index

___________

Email: [email protected]

P erbedaan Hasil Belajar Matematika Siswa dengan Model Problem Based Learning dan Discovery Learning

Pratiwi Adsa Ramdhani1*, Nyoman Sridana 1, Wahidaturrahmi1, Amrullah1

1 Program Studi Pendidikan Matematika, FKIP, Universitas Mataram, Mataram, Indonesia.

DOI: https://doi.org/10.29303/jcar.v5i2.3319

Received: 30 Januari 2023 Revised: 07 April 2023 Accepted: 20 April 2023

Abstract: The purpose of this study was to determine differences in the results of learning Mathematics for class VII students of SMPN 3 Moyo Hilir using problem based learning and discovery learning models.

This type of research is an experiment. Data collection techniques in the form of observation, tests, and documentation. The population of this study were all students of class VII SMPN 3 Moyo Hilir, with the sample being class VII.1 and VII.2. Hypothesis testing with covariance analysis that combines regression analysis and analysis of variance. The N-Gain results show an increase in student mathematics learning outcomes with the problem based learning model in the medium category and an increase in student mathematics learning outcomes with the discovery learning model in the medium category. The results of testing the covariance analysis of the data show that there are differences in student learning outcomes with problem based learning and discovery learning models. The problem based learning model has the characteristics of learning starting with a problem related to the real world. The characteristics of the discovery learning model are discovery-based learning. Of the two characteristics of the learning model, the characteristics of the problem based learning model are suitable in solving PLSV material which uses a lot of contextual questions.

Keywords: Discovery learning, learning outcomes, problem based learning.

Abstrak : Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan hasil belajar Matematika siswa kelas VII SMPN 3 Moyo Hilir menggunakan model problem based learning dan discovery learning. Jenis penelitian adalah eksperimen. Teknik pengumpulan data berupa observasi, tes, dan dokumentasi. Populasi dari penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VII SMPN 3 Moyo Hilir, dengan sampel yakni kelas VII.1 dan VII.2. Pengujian hipotesis dengan analisis covariansi yang menggabungkan analisis regresi dan analisis varian. Hasil N-Gain menunjukan peningkatan hasil belajar matematika siswa dengan model problem based learning pada kategori sedang dan terjadi peningkatan hasil belajar matematika siswa dengan model discovery learning pada kategori sedang. Hasil dari pengujian analisis covariansi data menunjukkan bahwa terdapat perbedaan hasil belajar siswa dengan model problem based learning dan discovery learning. Model problem based learning memiliki karakteristik belajar dimulai dengan satu masalah yang berhubungan dengan dunia nyata. Karakteristik model discovery learning merupakan pembelajaran berbasis penemuan.

Dari kedua karakteristik model pembelajaran, karakteristik model problem based learning cocok dalam menyelsaikan materi PLSV yang banyak menggunakan soal kontekstual.

Keywords: Discovery learning, Hasil belajar, Problem based learning.

(2)

PENDAHULUAN

Matematika merupakan salah satu bidang studi yang amat penting dalam kehidupan sehari-hari. Hampir seluruh aktivitas kehidupan kita bersinggungan dengan matematika, sehingga perlu adanya penguasaan yang tepat terhadap bidang studi ini.

Akan tetapi ketika melihat keadaan di lapangan, sebagian besar siswa menganggap bahwa matematika merupakan bidang studi yang sulit. Hal itu timbul oleh karena keabstrakan matematika yang terkadang sulit dicerna oleh siswa sehingga siswa membutuhkan waktu yang lebih banyak untuk bisa memahaminya. Oleh karena itu, tidak heran mengapa hasil belajar siswa juga rendah karena siswa kurang memahami materi yang di ajarkan.

Pembelajaran matematika di sekolah tidak hanya bertujuan agar siswa memahami materi matematika yang diajarkan, tetapi tujuan-tujuan utama lainnya, yaitu agar siswa memiliki kemampuan penalaran matematika, komunikasi matematika, koneksi matematika, representasi matematika dan pemecahan masalah matematika, serta perilaku tertentu yang harus siswa peroleh setelah ia mempelajari matematika. Oleh karena itu, dibutukan model pembelajaran yang dapat menyokong tercapainya tujuan pembelajaran yang sesungguhnya. Model pembelajaran memberikan suatu rancangan yang di dalamnya menggambarkan sebuah proses pembelajaran yang dapat dilaksanakan oleh guru dalam mentransfer pengetahuan maupun nilai-nilai kepada siswa Dinnullah (2018). Model pembelajaran berperan penting terhadap kesuksesan kegiatan belajar mengajar. Dimana guru dituntut untuk mampu memilih dan mengembangkan model pembelajaran matematika sesuai dengan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai.

Berdasarkan pengamatan peneliti dengan melihat hasil ulangan harian siswa kelas VII.I menunjukkan rata-rata hasil ulangan harian kurang dari 50% siswa yang mampu mencapai kriteria ketuntasal minimal. Hal ini dikarenakan beberapa siswa tidak bertanya kepada guru tentang materi yang tidak dipahami, siswa hanya menyimak dan menerima materi tanpa memahami apa yang disampaikan sehingga pengetahuan yang dimiliki siswa tidak dimiliki seutuhnya, oleh karena itu hasil belajar siswa pun rendah. Selain itu, berdasarkan wawancara (Hasil Wawancara Siswa dan Guru) menunjukan bahwasannya siswa lebih senang ketika siswa dilibatkan langsung dalam memecahkan masalah matematika bukan hanya monoton mendengarkan guru menjelaskan materi saja, dampaknya hasil belajar siswa pun menjadi rendah.

Berdasarkan pengamatan hasil belajar siswa melalui ulangan harian, dan hasil wawancara peneliti kepada guru dan siswa dapat disimpulkan

bahwa yang dibutuhkan siswa ialah suatu model pembelajaran yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa, model pembelajaran dimana siswa dapat menemukan pemecahkan masalah mereka sendiri, seiring dengan meningkatnya kemampuan pemecahan masalah siswa maka hasil belajar pun akan meningkat. Oleh karena itu, guru dituntut untuk mampu memilih dan mengembangkan model pembelajaran matematika sesuai dengan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai Dinnullah (2018).

Beberapa model pembelajaran yang ada model discovery learning dan problem based learning yang memiliki kesamaan yakni dapat membuat siswa terlibat langsung dalam pemecahan masalah dan dapat meningkatkan interaksi guru dan siswa dalam pembelajaran.

Menurut Saefuddin & Budiarti dalam Purwati (2020) salah satu kelebihan model discovery learning berpusat pada peserta didik dan guru berperan sama-sama mengeluarkan gagasan-gagasan.

Discovery learning menekankan siswa untuk menemukan konsep dalam menguasai materi pelajaran yang diduga dapat meningkatkan hasil belajar siswa yang maksimal. Guru menjadi fasilitator siswa untuk menemukan pengetahuan mereka sendiri melalui pengalaman yang mereka alami sebelumnya. Siswa akan lebih memahami dan mengingat apa yang mereka pelajari saat mereka dilibatkan dalam proses pembelajaran, tidak hanya duduk, mendengarkan, dan pulang. Akan tetapi terjadi tanya jawab antara guru dan siswa sehingga dapat membatu siswa guna menkonstruksi pengetahuan mereka sendiri. Siswa dapat memecahkan masalah atau soal latihan dengan mudah karena mereka sudah terjun langsung dalam proses menyelsaikan masalah (soal), tidak Cuma menghapal saja tetapi siswa dilatih untuk menemukan pemecahan masalah. Siswa telah memahami dan mengkontruksi pengetahuan mereka sendiri maka hasil belajar pun akan meningkat.

Menurut Syamsidah dan Suryani (2018) problem Based Learning (pembelajaran berdasarkan masalah) merupakan suatu pendekatan dalam pembelajaran dimana siswa dihadapkan pada masalah kemudian dibiasakan untuk memecahkan melalui pengetahuan dan keterampilan mereka sendiri, mengembangkan inkuiri, membiasakan mereka membangun cara berpikir kritis dan terampil dalam pemecahan masalah. Sebelum mempelajari suatu hal, mereka diharuskan mengidentifikasi suatu masalah, baik yang secara nyata maupun telaah kasus. Pemilihan model problem based learning didasarkan pada kelebihannya yaitu siswa mempresentasikan gagasannya, siswa terlatih merefleksikan persepsinya, mengargumentasikan dan mengomunikasikan ke pihak lain sehingga guru pun memahami proses bepikir siswa, dan guru dapat membimbing serta mengintervensikan ide baru

(3)

berupa konsep dan prinsip. Dengan demikian, pembelajaran berlangsung sesuai dengan kemampuan siswa, sehingga interaki antara guru dan siswa, serta siswa dengan siswa menjadi terkondisi dan terkendali. Dengan model problem based learning (PBL) diharapkan dapat menciptakan suasana belajar yang lebih menyenangkan dan dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran matematika.

Menurut Sarira, Priyayi & Astuti (2019) pembelajaran problem based learning dapat melatih siswa untuk mengungkapkan pernyataan dengan disertai bukti dan interpretasinya. Hal ini dapat menumbuhkan keterampilan argumentasi ilmiah dan hasil belajar siswa secara bertahap. Kemampuan argumentasi ilmiah pada siswa dihubungkan dengan pemahaman konsep seseorang. Pemahaman konsep siswa dapat dilihat melalui hasil belajar, yang dimana dengan menggunakan problem based learning dapat mempengaruhi hasil belajar siswa. Selain itu, pada pembelajaran yang menggunakan discovery learning dapat meningkatkan hasil belajar siswa karena siswa dilatih mengamati, menanya, mencoba, menalar dan mengkomunikasikan. Dengan model discovery learning diharapkan dapat lebih mempermudah pemahaman materi pembelajaran yang diberikan dan nantinya dapat mempertinggi kualitas proses pembelajaran yang selanjutnya dapat menghasilkan hasil belajar siswa.

Berdasarkan Permendikbud nomor 65 tentang standar proses model pembelajaran yang untuk dalam implementasi kurikulum 2013. Model pembelajaran discovery learning mengarahkan peserta didik untuk menemukan dan memahami konsep, arti, dan hubungan melalui proses yang berakhir dengan sebuah kesimpulan. Pembelajaran problem based learning adalah metode mengajar yang menggunakan masalah-masalah dalam kehidupan sehari-hari sebagai wadah bagi siswa belajar berpikir baik ingatan maupun keterampilan berpikir kritis.

Jika kita melihat masalah yang ada di sekolah dan pemaparan dari kedua model pembelajaran tersebut keduanya sama-sama dapat meningkatkan pemecahan masalah siswa dan interaksi guru dan siswa guna meningkatkan hasil belajar. Oleh karena itu peneliti disini nantinya akan menerapkan model pembelajaran dengan menekankan pada proses belajar sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa untuk melihat kemungkinan adanya perbedaan dari kedua model pembelajaran tersebut.

METODE

Penelitian ini termasuk jenis penelitian eksperimen, yaitu penelitian yang dimaksudkan untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan hasil belajar siswa yang diajar dengan Model problem based learning dan discovery learning. Desain yang

digunakan adalah desain true eksperimen dengan pretest, posttest dan control group. Penelitian ini melibatkan dua kelas, yaitu kelas eksperimen I dan kelas eksperimen II yang diberi perlakuan berbeda.

Untuk mengetahui hasil belajar matematika siswa yang diperoleh dari penggunaan model pembelajaran tersebut maka diberikan tes. Sumber data dalam penelitian ini adalah siswa Kelas VII.1 SMPN 3 Moyo Hilir yang diajar dengan model discovery learning dan siswa kelas VII.2 SMPN 3 Moyo Hilir yang diajar dengan menggunakan model problem based learning. Jenis data yang diperoleh adalah data kuantitatif berupa hasil tes belajar yang diberikan berupa tes uraian untuk pretest dan untuk posttest.

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini yaitu RPP, Lembar Observasi dan tes. RPP dibuat untuk merancang bagaimana pembelajaran akan dilakukan di kelas, RPP akan dibuat dalam dua model pembelajaran yang akan peneliti lakukan yakni model problem based learning dan discovery learning. Lembar observasi dalam penelitian digunakan peneliti untuk mengetahui bagaimana keaktifan siswa selama proses pembelajaran. Tes digunakan untuk memperoleh data tentang hasil belajar matematika siswa. Tes hasil belajar yang akan digunakan oleh peneliti yaitu tes awal (Pre-test) dan tes akhir (Post-test). Tes berupa tes uraian yang terdiri dari 3 item pertanyaan. Tes yang akan dibuat kemudian akan dianalisis validitas. Dalam penelitian ini tes digunakan untuk mengetahui hasil belajar dan tingkat kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal matematika dengan menggunakan model discovery learning dan problem based learning terhadap penguasaan materi yang telah diajarkan.

Uji validitas isi oleh 1 dosen ahli dan 1 orang guru mata pelajaran matematika di sekolah tempat penelitian. Instrumen dapat dikatakan valid dengan menghitung kevalidan instrumen menggunakan indeks Aiken V Azwar (dalam Bashooir & Supahar 2018).

Teknik analisis data yang digunakan pada penelitian ini adalah Analisis deskriptif digunakan untuk mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah terkumpul sebagaimana adanya tanpa bermaksud membuat generalisasi. Pada penelitian ini analisis deskriptif digunakan untuk mendeskripsikan skor hasil belajar matematika siswa. Analisis ini meliputi keterlaksanaan pembelajaran dan skor siswa pada pretest dan posttest. Pengujian hipotesis dengan analisis kovarians (Anacova) adalah teknik statistik yang menggabungkan analisis regresi dan analisis varian.

Kriteria pengujian adalah Jika < atau nilai sig > 0,05 maka diterima dan ditolak.

Hal ini berarti kovariabel pretest tidak ada hubungan linier dengan hasil belajar (Tidak terdapat perbedaan

(4)

hasil belajar matematika antara siswa dengan model problem based learning dan model discovery learning).

Jika atau nilai sig < 0,05 maka ditolak dan diterima. Hal ini berarti kovariabel pretest ada hubungan linier dengan hasil belajar (terdapat perbedaan hasil belajar matematika antara siswa dengan model problem based learning dan model discovery learning ). Perhitungan nilai gain bertujuan untuk mengetahui peningkatan hasil belajar matematika siswa. Perhitungan tersebut diperoleh dari nilai pre-test dan post-test masing-masing kelas yaitu kelas problem based learning dan discovery learning.

HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian

1. Hasil Keterlaksanaan Pembelajaran

Berdasarkan observasi guru, guru melakukan kegiatan sesuai dengan indikator, pertemuan 1,2 dan 3 model problem based learning di dapatkan dari 22 indikator guru telah melakukan semua indikator dan model discovery learning dari pertemuan 1,2 dan 3 dari 22 indikator guru juga telah melakukan semua indikator.

Berikut ini Tabel 1 hasil keterlaksanaan pembelajaran pada lembar observasi siswa di kelas problem based learning dan discovery learning.

Tabel 1 : Hasil Keterlaksanaan Penelitian di Kelas problem based learning dan discovery learning

Berdasarkan Tabel 1 hasil analisis lembar observasi kegiatan siswa, diketahui kelas problem based learning pada pertemuan pertama memperoleh Skor sebesar 3,81 dengan kategori sangat baik.

Pertemuan kedua untuk lembar observasi kegiatan siswa memperoleh Skor sebesar 3,77 dengan kategori sangat baik. Pertemuan ketiga untuk lembar

observasi kegiatan siswa memperoleh Skor sebesar 3,72 dengan kategori sangat baik.

Kelas discovery learning pada pertemuan pertama memperoleh Skor sebesar 3,77 dengan kategori sangat baik. Pertemuan kedua untuk lembar observasi kegiatan siswa memperoleh Skor sebesar 3,72 dengan kategori sangat baik. Pertemuan ketiga untuk lembar observasi kegiatan siswa memperoleh Skor sebesar 3,68 dengan kategori sangat baik.

2. Hasil Belajar Siswa

Hasil keterampilan berbicara pada penelitian ini terdiri dari hasil pretest dan posttest, uji normalitas data, uji homogenitas data, dan uji hipotesis.

Hasil Pretest dan Posttest dengan Model Problem Based Learning

Untuk mengetahui hasil belajar dari pretest dan posttest problem based learning disajikan pada Tabel 2

Tabel 2 : Nilai Pretest dan Posttest Problem Based Learning

Kelas PBL Pretest Posttest

Jumlah siswa 20 20

Rata-rata 67,15 85,25

Kategori Sedang Tinggi

Nilai tertinggi 80 90

Nilai terendah 55 80

Berdasarkan Tabel 2 diperoleh nilai pretest siswa yang diterapkan model problem based learning adalah 67,15 pada kategori sedang. Nilai tertinggi pretest yang diperoleh yaitu 80 dan nilai terendah yang diperoleh yaitu 55 dengan jumlah siswa 20 orang.

Sedangkan nilai posttest siswa yang diterapkan model problem based learning adalah 85,25 pada kategori tinggi. Nilai tertinggi yang diperoleh yaitu 90 dan nilai terendah yang diperoleh yaitu 80 dengan jumlah siswa 20 orang.

Hasil Pretest dan Posttest dengan Model Discovery Learning

Untuk mengetahui hasil belajar dari pretest dan posttest discovery learning sebagai berikut disajikan pada Tabel 3.

Tabel 3:Nilai Pretest dan Posttest Discovery Learning Kelas Discovery Learning

Pretest Posttest

Jumlah siswa 20 20

Rata-rata 67,55 79,85

Kategori Sedang Sedang

Nilai tertinggi 80 88

Nilai terendah 55 70

Berdasarkan Tabel 3 diperoleh nilai pretest siswa yang diterapkan model discovery learning adalah Kelas

VII.1 Problem

based learning

Kelas VII.2 Discovery

learning Pertemuan

1 Skor 3,81 3,77

Keterangan Sangat baik

Sangat baik Pertemuan

2

Skor 3,77 3,72

Keterangan Sangat baik

Sangat baik Pertemuan

3 Skor 3,72 3,68

Keterangan Sangat baik

Sangat baik

(5)

67,55 pada kategori sedang. Nilai tertinggi pretest yang diperoleh yaitu 80 dan nilai terendah yang diperoleh yaitu 55 dari 20 siswa. Sedangkan nilai posttest siswa yang diterapkan model discovery learning adalah 79,85 pada kategori sedang. Nilai tertinggi yang diperoleh yaitu 90 dan nilai terendah yang diperoleh yaitu 60 dari 20 siswa.

Hasil Uji Normalitas

Untuk mengetahui hasil uji normalitas disajikan pada Tabel 4.

Tabel 4 : Nilai Uji Normalitas Data Kelas Nilai

Sig Kriteria

Keputusan Kesimpulan Pretest VII.1 0,363 Jika sig >

(0,05) maka data

berdistribus i normal

Data berdistribus i normal

VII.2 0,686 Data

berdistribus i normal Posttes

t

VII.1 0,113 Data

berdistribus i normal

VII.2 0,117 Data

berdistribus i normal Berdasarkan Tabel 4 menunjukkan bahwa variabel hasil belajar siswa pada pretest yang diterapkan model problem based learning dan discovery learning dengan nilai signifikasi (Sig.) sebesar 0,363 dan 0,686.

Sedangkan pada posttest yang diterapkan model problem based learning dan discovery learning memiliki nilai signifikan (Sig.) sebesar 0,113 dan 0,117. Hal ini menunjukkan bahwa nilai signifikansi dari problem based learning dan discovery learning pada pretest serta posttest tersebut lebih besar dari 0,05 yang berarti data pretest dan posttest pada kelas problem based learning dan discovery learning berdistribusi normal.

Hasil Uji Homogenitas

Untuk mengetahui hasil uji homogenitas disajikan pada Tabel 4.

Tabel 5 Nilai uji homogenitas Data Nilai

Sig

Kriteria Keputusan

Kesimpulan Pretest 0,516 Jika sig >

(0,05) maka data homogeny

Data homogen

Posttest 0,138 Data

homogen

Berdasarkan Tabel 5 menunjukkan bahwa variabel hasil belajar problem based learning dan discovery learning pada pretest memiliki nilai signifikansi 0,516 sedangkan hasil belajar problem based learning dan discovery learning pada posttest

memiliki nilai signifikansi sebesar 0,138. Dari kedua data tersebut dapat diketahui bahwa nilai signifikansi baik itu pretest maupun posttest lebih besar dari 5% atau 0,05 yang berarti data hasil belajar pada pretest dan posttest memiliki varian yang sama atau homogen.

Hasil Uji Hipotesis (Uji F)

Untuk mengetahui hasil uji hipotesis disajikan pada Tabel 6:

Tabel 6 : Nilai uji hipotesis Sourc

e

Type III Sum of

Squares Df Mean

Square F Sig.

Corre cted Model

385.589a 2 192.794 10.424 .000

Interc

ept 1983.901 1 1983.90

1 107.26 7 .000 Kelas 300.855 1 300.855 16.267 .000 Pre 93.989 1 93.989 5.082 .030 Error 684.311 37 18.495

Total 273650.00 0

40 Corre

cted Total

1069.900 39

Berdasarkan Tabel 6 dapat disimpulkan bahwa nilai signifikansi untuk kovariabel pretest kelas problem based learning dan discovery learning adalah 0,030 artinya nilai Sig 0,05. Artinya dapat disimpulkan bahwa kovariabel pretest ada hubungan linier terhadap hasil belajar siswa. Dengan demikian memenuhi syarat untuk pengujian Anacova.

Selanjutnya dilakukan pengujian hipotesis terkait dengan penggunaan model belajar dengan mengendalikan pretest. Dari hasil pengolahan terlihat nilai Sig (kelas) = 0,000 artinya nilai Sig 0,05 maka Ha diterima dan H0 ditolak sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan hasil belajar matematika dengan problem based learning dan discovery learning kelas VII SMPN 3 Moyo Hilir.

Setelah dikendalikan kovariabel pretest kelas problem based learning dan discovery learning secara bersamaan.

Hasil Uji N-Gain

Untuk mengetahui hasil uji N-Gain disajikan pada Tabel 7 :

Tabel 7 : Nilai uji N-Gain

Model Pembelajaran Nilai gain Kategori Problem based

learning

0,5356 Sedang Discovery learning 0,3661 Sedang

(6)

Terjadi peningkatan hasil belajar pada kedua kelas tersebut. Kelas problem based learning terjadi peningkatan hasil belajar sebesar 0,5356 atau sebesar 53,56% dan berada pada kategori sedang. Sedangkan pada kelas discovery learning terjadi peningkatan hasil belajar sebesar 0,3661 atau sebesar 36,61% dan berada pada kategori sedang.

PEMBAHASAN

Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen dengan desain penelitian Quasi Eksperimental Desain. Penelitian ini dilaksanakan selama 10 hari di mulai dari 14 November sampai dengan 30 November 2022 pada siswa kelas VII.1 dan VII.2 SMPN 3 Moyo Hilir Tahun 2022/2023.

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar matematika siswa dengan model problem based learning; untuk meningkatkan hasil belajar matematika siswa dengan model discovery learning;

untuk mengetahui perbedaan peningkatan hasil belajar matematika siswa dengan model problem based learning dan model discovery learning

Sebelum melaksanakan penelitian, peneliti mempersiapkan segala bahan yang dibutuhkan pada saat penelitian, diantaranya materi pokok yang diajarkan yaitu persamaan linier satu variabel.

Mempersiapkan instrumen-instrumen penelitian berupa RPP problem based learning dan discovery learning, lembar observasi guru dan siswa, pretest dan posttest. Adapun langkah-langkah yang dilakukan ada saat penelitian yaitu: memberikan tes awal (pretest) kepada kelas problem based learning dan discovery learning yaitu siswa kelas VII SMPN 3 Moyo Hilir yang masing-masing berjumlah 20 siswa dengan menggunakan instrument penelitian yang telah diuji validitasnya. Melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan model problem based learning di kelas VII.1 dan discovery learning di kelas VII.2.

Kemudian memberikan tes akhir (posttest) kepada kelas problem based learning dan discovery learning.

Pada tahap akhir penelitian, peneliti menganalisis data hasil hasil pretest dan posttest kelas problem based learning dan discovery learning.

Pelaksanaan penelitian menggunakan model problem based learning dan discovery learning pada kelas VII.1, pada pertemuan pertama guru mengajar dengan menggunakan model problem based learning, pada pertemuan kedua dan ketiga guru memberikan perlakuan yang sama. Sedangkan untuk kelas VII.2 menggunakan model discovery learning dipertemuan pertama, kedua dan ketiga. Berdasarkan hasil observasi guru yang dinilai oleh observer yaitu Nova Arianti Putri dapat diketahui bahwa hasil observasi mengajar guru pada pertemuan pertama, kedua dan ketiga model problem based learning dan discovery learning terlaksana dengan baik terbukti dari hasil

observasi guru dari 22 aspek semua telah dilakukan guru. Selain itu untuk hasil observasi siswa dapat dilihat dari hasil keterlaksanaan pembelajaran pada pertemuan pertama, kedua dan ketiga model problem based learning dan discovery learning terlaksana dengan sangat baik

Pada saat penelitian ini dilaksanakan, sebelum diberikan pembelajaran dengan model problem based learning dan discovery learning siswa diberikan teks bacaan sebagai pretest untuk mengetahui kemampuan belajar awal siswa.

Dilanjutkan dengan kegiatan pembelajaran yang diterapkan model problem based learning pada kelas VII.1. Sedangkan pada kelas VII.2 diterapkan model discovery learning. Kemudian setelah masing-masing melaksanakan kegiatan pembelajaran siswa diberikan posttest untuk melihat hasil belajar siswa baik itu kelas problem based learning dan discovery learning. Sehingga didapatkan hasil belajar siswa pada kelas VII.1 yang diterapkan model problem based learning mengalami perbedaan hasil belajar siswa sebelum (pretest) pada kategori sedang dan sesudah (posttest) pada kategori tinggi. Hal ini sejalan dengan penelitian Siregar & Listiadi (2015) menunjukkan bahwa terdapat perbedaan hasil belajar siswa dengan model discovery learning dan model problem based learning. Untuk meningkatkan hasil belajar dengan menerapkan problem based learning bisa juga menggunakan beberapa media yang sejalan dengan penelitian Zulva, Turmuzi, dan Saputra (2022) terdapat pengaruh yang signifikan dalam penggunaan model problem based learning terhadap hasil belajar matematika siswa. Begitupun untuk meningkatkan kemampuan menyelsaikan soal cerita yang sejalan dengan penelitian dari Irnawati, Gunayasa, & Turmuzi (2022) hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan dalam penggunaan model problem based learning terhadap kemampuan menyelsaikan soal cerita matematika siswa. Kemudian hasil belajar siswa pada kelas VII.2 yaitu yang diberikan model discovery learning tidak terdapat perbedaan hasil belajar sebelum (pretest) dan sesudah (posttest) diberikan perlakuan. Hal ini tidak sejalan dengan penelitian dari Fathurrahmah, Arjudin, dan Dwi (2022) bahwa terdapat pengaruh yang signifikan dalam penggunaan metode discovery learning terhadap hasil belajar matematika siswa. Begitupun penelitian dari Agustina, Kurniati, & Saputra (2019) menunjukkan bahwa terdapat peningkatan aktivitas dan prestasi belajar siswa yang diterapkan model discovery learning. Dari data hasil belajar siswa tersebut selanjutnya dilakukan uji prasyarat analisis yaitu uji normalitas dan homogenitas dengan tujuan untuk mengetahui apakah data tersebut berdistribusi normal atau tidak dan apakah data tersebut homogen atau tidak. Adapun hasil analisis data yang diperoleh yaitu menunjukkan bahwa data pretest dan

(7)

posttest pada kelas eksperimen maupun kontrol berdistribusi normal. Begitupun juga dengan hasil uji homogenitas pretest dan posttest pada kelas eksperimen maupun kontrol dapat dikatakan homogen atau memiliki varian yang sama.

Setelah dilakukan uji prasyarat analisis data hasil belajar siswa didapatkan bahwa kovariabel pretest ada hubungan linier terhadap hasil belajar siswa. Selanjutnya dilakukan analisis data hasil belajar siswa melalui uji hipotesis dengan menggunakan analisis covarians yakni analisis kovarians satu jalur dengan berbantuan SPSS dan diperoleh hasil anacova menunjukan ada perbedaan hasil belajar dengan model problem based learning. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Dinnullah (2018) Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan peningkatan hasil matematika siswa yang diajar dengan menggunakan model problem based learning dan discovery inquiry.

Penelitian ini relevan dengan penelitian peneliti dimana model problem based learning berpengaruh atau dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Hasil analisis covarians juga menunjukan terdapat perbedaan hasil belajar dengan model discovery learning dan problem based learning. Hal ini sejalan dengan Penelitian yang dilakukan oleh Satriani (2020) Dimana terdapat perbedaan yang signifikan dari penggunaan model discovery learning dan problem based learning terhadap hasil belajar siswa.

Peningkatan hasil belajar siswa yang dianalisis melalui uji N-Gain, Perhitungan tersebut diperoleh dari nilai pre-test dan post-test masing- masing kelas yaitu kelas problem based learning dan discovery learning. Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh bahwa terjadi peningkatan hasil belajar pada kedua kelas tersebut. Kelas problem based learning terjadi peningkatan hasil belajar berada pada kategori sedang. Hal ini sejalan dengan penelitian Iskandar, Ermiana, dan Rosyidah (2021) dimana terjadi peningkatan hasil belajar siswa pada kategori sedang setelah diterapkan model problem based learning. Pada kelas discovery learning terjadi peningkatan hasil belajar berada pada kategori sedang. Hal ini sejalan dengan penelitian Priliza, Lestari, Merta dan Artayasa (2020) dimana terjadi peningkatan hasil belajar siswa berada pada kategori sedang setelah diterapkan model discovery learning.

Dari hasil perhitungan N-Gain tersebut peningkatan hasil belajar siswa dengan model problem based learning lebih besar dari hasil belajar siswa dengan model discovery learning. Hal ini dapat disimpulkan terdapat perbedaan hasil belajar siswa yang diajar dengan model problem based learning dan discovery learning, namun model problem based learning lebih efektif daripada discovery learning karena peningkatan hasil belajar model problem based learning lebih besar dari model discovery learning terhadap hasil belajar siswa. Hal ini sejalan dengan

penelitian Suaib, dkk (2022) dimana diperoleh peningkatan hasil belajar dengan model Problem Based Learning lebih efektif di bandingkan model discovery Learning.

Model problem based learning memiliki karakteristik belajar dimulai dengan satu masalah yang berhubungan dengan dunia nyata.

Karakteristik model discovery learning merupakan pembelajaran berbasis penemuan dimana siswa tidak disajikan dengan pelajaran dalam bentuk finalnya tetapi diharapkan mengorganisasi sendiri. Kelas problem based learning siswa memiliki perhatian, rasa ingin tahu dan kemampuan berpikir dalam memecahkan masalah. Sedangkan model discovery learning siswa memiliki perhatian, rasa ingin tahu tapi masih ada beberapa siswa masih belum pada tahap ingin menemukan sesuatu dari materi PLSV.

Dari kedua karakteristik model pembelajaran, karakteristik model problem based learning cocok dalam menyelsaikan materi PLSV yang banyak menggunakan soal kontekstual. Hal ini sesuai dengan penelitian Damayanti (2022). Model problem based learning terdapat pengaruh terhadap kegiatan pembelajaran, dimana siswa lebih berpikir kritis mampu menyelsaikan masalah bersama teman kelompok, siswa lebih memahami materi yang disampaikan dan siswa terlihat aktif. Oleh karena itu juga terdapat peningkatan hasil belajar menggunakan problem based learning dalam materi persamaan linier satu variabel. Hal ini dapat menjadi acuan guru saat melakukan pembelajaran di sekolah, penelitian ini guru dapat menggunakan model problem based learning saat materi persamaan linier satu varibel.

KESIMPULAN

a. Hasil belajar matematika siswa meningkat sebesar 53,56% pada kategori sedang dengan menerapkan model problem based learning pada kelas VII SMPN 3 Moyo Hilir tahun ajaran 2022/2023.

b. Hasil belajar matematika siswa meningkat sebesar 36,61% pada kategori sedang dengan menerapkan model discovery learning pada kelas VII SMPN 3 Moyo Hilir tahun ajaran 2022/2023.

c. Terdapat perbedaan hasil belajar matematika siswa yang signifikan antara model problem based learning dengan model discovery learning kelas VII SMPN 3 Moyo Hilir tahun ajaran 2022/2023.

REFERENSI

Agustina, Kurniati, N., & Saputra I. (2019). Penerapan Model Discovery Learning pada Pembelajaran Lingkaran untuk Meningkatkan Aktivitas dan

(8)

Prestasi Belajar Siswa Kelas VIII SMPN 3 Lingsar Tahun Pelajaran 2016/2017. Indonesia Journal of STEM Education, 1(2), 78-82.

Dinnullah, R.N.I. (2018). Perbedaan Model PBL dan Discovery Inquiry Ditinju dari Hasil Belajar Matematika Siswa. Jurnal Mercumatika: Jurnal Penelitian Matematika dan Pendidikan Matematika, 3(1), 1-8.

Fathurrahmah, Arjudin, & Dwi. N.K. (2022).

Pengaruh Motode discovery learning Terhadap Hasil Belajar Matematika Kelas IV SDN 1 Memben Baru Kabupaten Lombok Timur.

Jurnal Ilmiah Profesi Pendidikan, 7(4b), 2448-2452.

Irnawati, Gunayasa, I.B.K., & Turmuzi, M. (2022) yang berjudul: “Pengaruh Model problem based learning (PBL) Terhadap Kemampuan Menyelsaikan Soal Cerita Matematika Siswa Kelas V. Primary Education Journal, 1(2), 104-112.

Iskandar, L.D.D., Ermiana, I., & Rosyidah, A.N.K.

(2021).Pengaruh Model Problem Based Learning Terhadap Kemampuan Komunikasi Matematis Siswa SD. Jurnal Renjana Pendidikan Dasar, 1(2), 66-76.

Priliza, M.D., Lestari, N., Merta, I.W., & Artayasa, I.P.

(2020) . Efektivitas penerapan model discovery learning Terhadap Hasil Belajar IPA. J. Pijar MIPA, 15(2), 130-134.

Purwati, R.P. (2020). Upaya Peningkatan Keaktifan Belajar Peserta Didik dengan Pendekatan Discovery Learning Menggunakan Google Classroom. Habitus: Jurnal Pendidikan Sosiologi dan Antropologi, 4(1), 202-212.

Sarira, P.M., Priyayi, D.F., & Astuti, S.P. (2019).

Hubungan Argumentasi Ilmiah dan Hasil Belajar Kognitif pada Model PBL. Jurnal Pendidikan Sains dan Matematika, 7(2), 2-10.

Satriani. (2020). Perbandingan Model Discovery Learning dan Problem Based Learning terhadap Hasil Belajar Biologi Siswa Kelas X SMA Negeri 14 Bulukumba Tahun 2019.

Biolearning Journal, 7(1), 16-19.

Siregar, Y.I., & Listiadi, A. (2015). Studi Komparasi Hasil Belajar Siswa yang Menggunakan Model Pembelajaran Problem Based Learning dengan Discovery Learning pada Mata Pelajaran Akuntansi di SMKN 2 Nganjuk.

Jurnal Pendidikan Akuntansi, 3(3), 1-9.

Suaib, N., dkk. (2022). Perbedaan model Problem Based Learning dan discovery learning pada materi hukum dasar kimia terhadap hasil belajar siswa di SMAN 1 Suwawa. Jurnal Pendidikan Kimia dan Ilmu Kimia, 5(2), 55-61.

Wulandari, B., & Surjono, H.D. (2013). Pengaruh PBL Terhadap Hasil Belajar Ditinjau dari Motivasi Belajar PLC di SMK. Jurnal Pendidikan Vokasi, 3(2). 178-191.

Zulva, M., Turmuzi, M., & Saputra, H.H. (2022).

Pengaruh Model problem based learning (PBL)

Berbantuan Media Si Bula (stik bilangan bulat) Terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa SD Kelas IV SDV 18 Cakranegara Tahun Ajaran 2021/2022. Jurnal Ilmiah Profesi Pendidikan, 7(2c), 812-820.

Referensi

Dokumen terkait

Peningkatan Kemandirian dan Hasil Belajar Siswa Menggunakan Model Problem Based Learning dalam Pembelajaran Matematika di Kelas VII SMP Negeri 2 Sungai Raya Kabupaten