PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Dan pada tahun 2011, jumlah perceraian meningkat menjadi 65 orang Batak Toba yang bercerai di Pengadilan Negeri Medan. Upacara adat yang umum dilakukan masyarakat Batak Toba untuk mengukuhkan suatu perkawinan menurut hukum adat.
Perumusan Masalah
Tujuan Penelitian
Manfaat Penelitian
Masalah ini menjelaskan perceraian orang tua dan hubungannya dengan pengasuhan anak pada keluarga etnis Batak Toba di Kota Medan. Kegiatan yang dilakukan masyarakat etnis Batak Toba di kota Medan mulai beroperasi sejak matahari terbit.
Definisi Konsep
TINJAUAN PUSTAKA
Dengan kata lain, kemampuan untuk menempatkan diri pada posisi orang lain juga mulai terbentuk pada tahap ini. Tingkat penerimaan norma kolektif (generalized level/generalized other) Pada tingkat ini, seseorang sudah dianggap dewasa.
METODE PENELITIAN
- Jenis Penelitian
- Lokasi Penelitian
- Unit Analisis Dan Informan
- Teknik Pengumpulan Data
- Teknik Analisis Data
Seperti halnya Dalihan Na Tolu pada suku Batak Toba yang berfungsi memberikan keseimbangan dalam hubungan kekerabatan. Kegiatan perekonomian yang banyak dilakukan masyarakat Batak Toba di Kota Medan adalah berjualan di pasar pagi. Banyak sekali kegiatan ekonomi yang dilakukan masyarakat Batak Toba untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Pernikahan pada masyarakat Batak Toba diiringi dengan berbagai ritual adat dan upacara pernikahan, seperti di gereja. Menurut saya, perceraian dalam masyarakat Batak Toba sebenarnya tidak tetap dan jarang terjadi. Hingga saat ini, keyakinan bahwa pendidikan merupakan faktor penting bagi kemajuan (mobilitas sosial ke atas) masih sangat kuat di masyarakat Batak Toba.
Tujuan hidup tertinggi masyarakat Batak Toba adalah menjadi seseorang yang disebut na martua (yang beruntung). Walaupun ada prinsip masyarakat Batak Toba yang harus berjuang mati-matian demi pendidikan anaknya, masih saja ada orang tua yang benar-benar tidak mampu lagi membiayai pendidikan anaknya, padahal sudah berusaha sekuat tenaga berjuang. Oleh karena itu, masyarakat Batak Toba bisa mendapatkan Hasangapon dengan status anaknya yang sudah sukses atau terpelajar.”
INTERPRETASI DATA
Setting Lokasi
- Sejarah Asal-Usul Kota Medan
Kota Medan mempunyai posisi strategis sebagai pintu gerbang kegiatan perdagangan barang dan jasa, baik perdagangan dalam negeri maupun perdagangan luar negeri (ekspor-impor). Kehadiran kota Medan sebagai bentuk perkotaan mempunyai proses sejarah yang panjang dan kompleks. Pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 terjadi dua gelombang besar migrasi ke kota Medan.
Keberagaman suku bangsa di Kota Medan terlihat dari banyaknya masjid, gereja, kelenteng, dan vihara yang tersebar di seluruh wilayah. Penduduk Kota Medan saat ini adalah suku Jawa, dan suku Tapanuli (Batak, Mandailing, Karo). Kota Medan merupakan salah satu kota di Indonesia yang memiliki jumlah penduduk etnis Tionghoa yang cukup besar.
Kota Medan merupakan salah satu dari 17 daerah tingkat II di Sumatera Utara yang terletak di bagian timur provinsi Sumatera Utara dan berada di antara keduanya. Jenjang pendidikan tertinggi yang diselesaikan para pencari kerja di Kota Medan paling sering hanya SMA. Peningkatan nilai IPM Kota Medan tidak lepas dari berbagai upaya yang dilakukan pemerintah Kota Medan.
Gambaran Etnik Batak Toba Di Kota Medan
Dalam ritual masyarakat Batak Toba, teori pemahaman Durkheim dan Levi Strauss mengenai religiusitas organisasi sosial diungkapkan dengan jelas. Di Medan, laki-laki yang berprofesi sebagai sopir angkutan umum sebagian besar adalah etnis Batak Toba. Bapak-bapak ini juga melakukan aktivitasnya sejak pagi hari 4 meninggalkan rumah untuk mencari uang sewa.
Selain itu, bapak-bapak ini juga mencari sewa terminal amplas, serta pajak. Hal ini dilakukan oleh masyarakat Batak Toba, misalnya dengan menarik diri semaksimal mungkin dari kegiatan-kegiatan non-Batak Toba, dan ikut serta secara penuh dalam kelompoknya sendiri dengan cara saling membantu dengan baik antar tetangga Batak Toba dan perkumpulan marga Batak Toba di seluruh kota. Mereka aktif dalam kegiatan Gereja Batak Toba Toba di Medan dan mengikuti sebanyak mungkin ritual adat Batak Toba yang menurut aturan adat merupakan hak mereka karena hubungan kekeluargaan.
Masyarakat Batak Toba Medan belum berasimilasi dengan budaya dan masyarakat kota, namun masih menjaga hubungan yang sangat erat dengan keluarganya di desa. Pertama, dari segi struktural, masyarakat Batak Toba di kota-kota besar dan kecil merupakan bagian dari satu sistem sosial dan seremonial. Kelima, perkawinan antara Batak desa dan kota Toba merupakan hal yang lumrah, karena seringnya terjadi interaksi di antara mereka.
Profil Informan
- Informan Kunci
- Informan biasa
Ia sering merindukan sosok ibu di sampingnya, nyatanya ibunya juga menjadi motivasi baginya untuk belajar karena ayahnya bekerja sebagai sopir angkot dan pulang hanya pada malam hari, sehingga perhatiannya terhadap Evi dan saudara-saudaranya pun tertuju. sangat terbatas, terutama perhatian terhadap pendidikannya. . Hingga saat ini, Roganda bekerja di sebuah toko di Aksara tak jauh dari rumahnya. Saya bekerja di toko di Jalan Aksara, Kak, mengangkat barang dari mobil ke toko.
Sejak kecil Desma bekerja sebagai petugas pesanan di sebuah restoran, ia bekerja sebagai pencuci piring di sebuah restoran. Perceraian yang terjadi di rumah Bu Rotua dikarenakan ayah Erna tidak bekerja namun pekerjaannya hanya sekedar minum di warung tuak, oleh karena itu Bu Rotua tidak dapat bertahan hidup dengan suami yang tidak bertanggung jawab seperti itu. keluarganya. Bu Rotua sebenarnya tidak ingin Erna putus sekolah akibat perceraiannya dengan suaminya, apalagi keadaan ekonomi memaksa Erna berhenti sekolah. Meski Bu Rotua berjuang keras untuk menyekolahkan Erna, namun gajinya yang hanya 20.000 lek per hari masih belum cukup.Sekolah Erna.
MS. Heny Tambunan adalah ibu dari Penus Pasaribu yang berprofesi sebagai pengusaha yang tinggal di kawasan Garuda 3, Mandala. Tuan Dohardo Marudut Harianja adalah seorang ayah yang tinggal bersama kedua anaknya karena ia dan anak-anaknya ditinggal oleh istrinya, Ibu Kartini Sihombing yang bekerja sebagai guru, namun ia meninggalkan keluarganya dan menikah dengan pria lain karena Tuan. Dohardo dinilai tidak mampu mencukupi biaya hidupnya. Setelah istrinya meninggalkannya, Tn. Dohardo hanya bekerja sebagai tukang becak, oleh karena itu putri dari Pak. Dohardo memutuskan untuk putus sekolah dan sekarang bekerja sebagai SPG di salah satu mall di Medan karena ingin membantu ayahnya agar bisa menyekolahkan adik perempuannya agar tidak sama dengannya.
Hasil Intepretasi Data
- Makna Lembaga Perkawinan Masyarakat Batak Toba
- Pandangan Masyarakat Batak Toba Terhadap Perceraian
- Pendididkan Bagi Masyarakat Batak Toba
- Faktor yang Menyebabkan terjadinya Putus Sekolah pada Anak Korban
- Prinsip pada Masyarakat Batak Toba (Hamoraon, hagabeon, Hasangapon)
- Disfungsional Keluarga
- Konsep Daliha Na Tolu di dalam Pendidikan pada Masyarakat batak
- Faktor yang Mempengaruhi Terjadinya Perceraian di kalangan Masyarakat
Berikut hasil wawancara saya dengan Penus Pasaribu (Lk, 16 tahun) tentang faktor kurangnya perhatian dan motivasi belajar pada orang tua yang bercerai sehingga menyebabkan anak putus sekolah. Selain kurangnya perhatian dan motivasi orang tua yang bercerai terhadap pendidikan anaknya, juga faktor ekonomi dari orang tua. Hal ini juga menjadi salah satu faktor penyebab anak putus sekolah setelah orangtuanya bercerai.
Faktor ekonomi dalam konteks ini adalah bekerjanya orang tua tunggal dalam keluarga untuk mencari nafkah guna membiayai kebutuhan sehari-hari dan membiayai pendidikan anaknya. Akibat dari perceraian orang tua adalah terjadinya ketimpangan ekonomi dalam keluarga, dimana orang tua tunggal tidak mampu membiayai kebutuhan sehari-hari. Diharapkan adanya kesadaran di kalangan orang tua yang telah bercerai untuk tetap menaruh perhatian dan perhatian terhadap anaknya, terutama perhatian pada pendidikan.
Apakah Anda masih menerima pendidikan moral atau agama di rumah setelah orang tua Anda bercerai? Apa pendapat Anda tentang anak putus sekolah karena perceraian orang tuanya? Apakah faktor ekonomi dan kurangnya perhatian orang tua membuat anak enggan bersekolah?
PENUTUP
Kesimpulan
Akibat perselisihan dalam hubungan suami istri yang memicu konflik keluarga, hubungan suami istri tidak lagi harmonis, permasalahan dalam rumah tangga yang tidak dapat lagi diselesaikan oleh suami istri secara kekeluargaan menjadi kendala dalam mengarungi rumah tangga. Faktor yang mempengaruhi terjadinya perceraian pada masyarakat Batak Toba adalah faktor eksternal yaitu faktor yang berasal dari luar keluarga itu sendiri dan dapat mempengaruhi kegagalan rumah tangga dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya. Faktor eksternal antara lain: perkembangan di era dimana budaya barat masuk dan banyak dianut oleh masyarakat Batak Toba, kekuatan perkawinan yang semakin tegas dalam menyelesaikan permasalahan keluarga.
Seperti halnya terjadinya permasalahan rumah tangga yang menjadi pemicu terjadinya konflik dalam keluarga, seperti terjadinya perselingkuhan, adanya pihak ketiga seperti mertua dalam keluarga, tidak mau menikah dan salah satunya. meninggalkan keluarga. Keluarga memegang peranan penting dalam pendidikan, yaitu lembaga pertama dalam kehidupan seorang anak, tempat ia mempelajari segala sesuatu dan mengekspresikan dirinya sebagai makhluk sosial. Setelah terjadi perceraian, anak tinggal bersama salah satu orang tuanya (ayah atau ibu), sehingga otomatis anak kurang mendapat perhatian dari salah satu orang tuanya, terutama perhatian di bidang pendidikan, baik itu pendidikan.
Akibat kurangnya komunikasi dan interaksi antara anak dengan orang tua yang tinggal berjauhan, menyebabkan anak menjadi kurang termotivasi dalam pendidikannya, karena merasa sekolah tidak penting karena tidak mendapat perhatian atau pengawasan dari orang tuanya. Hal ini didasari oleh terbatasnya kondisi ekonomi orang tua yang tinggal bersama mereka, meskipun mereka bekerja keras dengan cara apapun tidak mampu membiayai pendidikan anaknya. Pasalnya, kondisi perekonomian memaksa anak korban perceraian orang tuanya menjadi anak yang tidak bisa mengenyam pendidikan seperti anak pada umumnya.
Saran
Apakah Anda ingin memberikan anak Anda pendidikan yang layak bahkan setelah perceraian? Pasca perceraian, apakah Anda masih memberikan perhatian yang cukup, terutama terhadap pendidikan anak Anda? Apakah Anda setuju dengan keputusan anak Anda untuk tidak melanjutkan sekolah setelah perceraian?
Tidakkah Anda ingin melihat anak Anda sukses dalam pendidikan seperti masyarakat lainnya? Sindiran apa yang Anda terima dari masyarakat bahwa anak Anda tidak bersekolah karena kurang mendapat perhatian dari orang tuanya yang bercerai?