Sanksi Pelanggaran Pasal 113
Undang-Undang Nomor 28 tahun 2014 tentang Hak Cipta
1. Setiap Orang yang dengan tanpa hak melakukan pelanggaran hak ekonomi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf i untuk Penggunaan Secara Komersial dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp100.000.000 (seratus juta rupiah).
2. Setiap Orang yang dengan tanpa hak dan/atau tanpa izin Pencipta atau pemegang Hak Cipta melakukan pelanggaran hak ekonomi Pencipta sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf c, huruf d, huruf f, dan/atau huruf h untuk Penggunaan Secara Komersial dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).
3. Setiap Orang yang dengan tanpa hak dan/atau tanpa izin Pencipta atau pemegang Hak Cipta melakukan pelanggaran hak ekonomi Pencipta sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf a, huruf b, huruf e, dan/atau huruf g untuk Penggunaan Secara Komersial dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).
4. Setiap Orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud pada ayat (3) yang dilakukan dalam bentuk pembajakan, dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp4.000.000.000,00 (empat miliar rupiah).
Pengantar:
Prof. Utami Widiati, M.A., Ph.D.
Editor:
Arini Nurul Hidayati Tenia Ramalia
Nuraeni, Linna Meilia Rasiban, Candradewi Wahyu Anggraeni, Diana Hernawati, Muthmainnah, Erni, Milawati, Risqi Ekanti Ayuningtyas Palupi, Sitti Hadijah, Sri Yuliani, Andi Suwarni, Hijjatul Qamariah, Novita Eka Tristiana, Winda Lestari, Asri
Siti Fatimah, Marliza Oktapiani, Rita Inderawati, Vita Melyani, Melisa Sri, Ratu Sarah Pujasari, Yuyun Elizabeth Patras, Nurul Hasanah Fajaria
Perempuan Pemimpin
di Perguruan Tinggi
Penulis:
Nuraeni, Linna Meilia Rasiban, Candradewi Wahyu Anggraeni, Diana Hernawati, Muthmainnah, Erni, Milawati, Risqi Ekanti Ayuningtyas Palupi, Sitti
Hadijah, Sri Yuliani, Andi Suwarni, Hijjatul Qamariah, Novita Eka Tristiana, Winda Lestari, Asri Siti Fatimah, Marliza Oktapiani, Rita Inderawati, Vita
Melyani, Melisa Sri, Ratu Sarah Pujasari, Yuyun Elizabeth Patras, Nurul Hasanah Fajaria
ISBN:
978-623-6428-78-8
Editor:
Arini Nurul Hidayati & Tenia Ramalia
Tata Letak:
Hamim Thohari Mahfudhillah
Desain Sampul:
Ananda Ramadhani Penerbit:
DOTPLUS Publisher
Jln. Penepak RT 12 RW 06, Bengkalis-Riau, 28771 No. Telp/HP: +62 813 2389 9445
Email: [email protected] www.dotpluspublisher.co.id
Cetakan Pertama, November 2022 xii + 218 halaman; 15,5 x 23 cm
© Hak cipta dilindungi undang-undang Dilarang memperbanyak karya tulis ini dalam bentuk
dan cara apa pun tanpa izin tertulis dari penerbit
Puji syukur ke hadirat Allah SWT. yang telah memberikan kesempatan kepada Ibu Arini Nurul Hidayati dan Ibu Tenia Ramalia untuk mengambil peran sebagai penyunting dalam penyelesaian buku berjudul Perempuan Pemimpin di Perguruan Tinggi, yang secara keseluruhan memerlukan waktu lima bulan.
Buku ini merupakan kumpulan karya dari para wanita hebat yang sudah berkiprah dalam bidang keilmuan masing-masing dan sudah berhasil melakoni berbagai macam peran yang disematkan oleh keluarga, oleh lembaga tempat mengabdi, maupun oleh masyarakat.
Sejumlah 22 wanita terundang untuk menuangkan pengalaman pribadi, keluarga, maupun karier mereka dalam bentuk tulisan singkat, yang berhasil ditata oleh penyunting dengan cerdik dan apik untuk menggambarkan keutuhan pribadi para wanita tersebut dalam konteks yang relevan. Para wanita tersebut dipilih berdasarkan pertimbangan rekam jejak dalam kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat, maupun lembaga, yang merepresentasikan keragaman dan kebhinekaan dalam bingkai Indonesia sebagai nusantara.
Buku ini berpotensi memberikan inspirasi kepada para perempuan akademisi di Indonesia untuk terus memberikan kontribusi terbaik bagi bangsa, karena sejatinya perempuan selalu memberi warna dalam seni berorganisasi. Bagi sebagian pembaca, isi buku yang berupa pengalaman dalam menjalani hidup dan kehidupan ini dapat memberikan nuansa déjà vu.
Prof. Utami Widiati, M.A., Ph.D.
Kata Pengantar ... v
Daftar Isi ... vii
Kepemimpinan Perempuan dalam Islam ... 1
A. Pendahuluan... 1
B. Pemimpin Perempuan dalam Sejarah Islam ... 3
C. Pandangan Islam terhadap Pemimpin Perempuan ... 5
D. Penutup ... 7
“I am a Supermom” ... 9
A. Pendahuluan... 9
B. Perempuan dalam Pandangan Islam ... 10
C. Perempuan di Era Digital ... 12
D. Peran Perempuan Multitasking di Era Kenormalan Baru ... 15
E. Penutup ... 16
Perempuan Pemimpin: Kesetaraan Gender?... 19
A. Pendahuluan... 19
B. Manajemen Waktu ... 20
C. Manajemen Partisipatif ... 22
D. Manajemen Hati ... 24
E. Hikmah menjadi Perempuan Pemimpin ... 25
Perempuan dan Representasi Diri dalam Filantropi
Pekerjaan...27
A. Pendahuluan...27
B. Representasi Filantropi Perempuan...28
C. Perempuandalam Konstruksi Jabatan...30
Perempuan Sang Pemimpi(n) dan iGen...37
Perempuan denganPemikiran HOTS...45
A. Pendahuluan...45
B. Strategi Berpikir Kritis dan Kreatif...46
C. Strategi Belajar Secara Sadar (ConsciouslyUsed)...48
D. StrategiBelajar Tanpa Disadari (Unconsciously Used)...50
E. Strategi Belajar Perempuan, Pemilihan, Fleksibilitasnya...51
F. Perempuan yang Berpikir Kritis dan Kreatif...53
G. Kesimpulan...56
Problematika Pendidikan Dasar Sekolah Perintis...59
A. Pendahuluan...59
B. Kecenderungan Interdependency...61
C. Kecenderungan Pendidikan sebagai Komoditas yang Diperdagangkan...62
D. Kecenderungan Disorientasi MindsetWali Murid...63
E. Penutup...64
Perempuan: Antara Stereotip, Profesionalisme, dan Kompetensi...67
A. Pendahuluan...67
B. Melawan Stereotip...70
C. Akses Pendidikan dan Profesionalisme Kompetensi...74
Sepenggal Pelajaran dan Perjalanan Hidup tentang
Kepemimpinan ... 77
A. Pendahuluan... 77
B. Nilai-Nilai Kepemimpinan yang Sudah Tertanam Sejak Kecil ... 78
C. Pesan Tersirat Ayah tentang Kepemimpinan ... 80
D. Memetik Bekal untuk Menjadi Seorang Pemimpin ... 82
E. Menjadi Pemimpin di Kelas ... 84
F. Menjadi Seorang Pengelola Jurnal ... 87
G. Penutup ... 91
Ibu (Karier atau Anak?)... 93
A. Pendahuluan... 93
B. Kegiatan Riweuh ... 94
C. Kasihan Anak-Anakku ... 97
D. Hikmah Kisah Hidupku ... 100
My Job Experiences ... 103
Pendahuluan ... 103
Being a Leader Does Not Mean You Are the Bosses but You Are Leading Yourself ... 113
A. Pendahuluan... 113
B. Perempuan dan Jati Diri ... 114
C. Hanya Sekadar Jabatan ... 115
D. Chief Editor Jurnal... 117
E. Pada Akhirnya Hanya Perempuan Biasa ... 118
Kiprah Perempuan dalam Perguruan Tinggi ... 121
A. Pendahuluan... 121
B. Pendiri Universitas Pertama di Dunia adalah Perempuan .. 122
C. Perempuan sebagai Pimpinan Perguruan Tinggi ... 124
D. Gaya Kepemimpinan Perempuan dalam Memimpin
Perguruan Tinggi ... 126
E. Hambatan dan Tantangan Kepemimpinan Perempuan di Perguruan Tinggi ... 127
F. Penutup ... 129
Bahasa Baik Perempuan ... 131
A. Pendahuluan... 131
B. Kodrat Perempuan ... 133
C. Apa Bahasa yang Baik untuk Perempuan? ... 134
D. Tebar Bahasa Baik untuk Semua Perempuan ... 136
Perempuan dengan Jabatan: Antara Logika dan Perasaan ... 139
A. Istimewanya Seorang Perempuan ... 139
B. Perempuan Menjadi Pemimpin, Bisakah? ... 140
C. Perempuan dengan Jabatan: Antara Logika dan Perasaan . 142 D. Menyeimbangkan Tuntutan Pekerjaan dan Keluarga ... 144
E. Dukungan Keluarga: Sumber Segala Kewarasan ... 145
Setengah Pikiranmu ada Pada Saudaramu melalui Kesadaran Mutu dan Continuous Quality Improvement ... 147
A. Pendahuluan... 147
B. Membangun Budaya Mutu ... 151
C. Lingkaran Mutu dan Perbaikan Berkelanjutan ... 151
D. Penutup ... 154
Kreativitas Perempuan Pemimpin Laboratorium Pendidikan di Perguruan Tinggi ... 157
A. Pendahuluan... 157
B. Pelaksanaan Mata Kuliah Praktik ... 159
C. Pusat Lokakarya Dosen dan Mahasiswa ... 160
D. Pengembangan Karakter Mahasiswa ... 161
E. Penyelenggaraan Podcast Pendidikan ... 162
F. Website Laboratorium Pendidikan Bahasa Indonesia ... 163
G. Youtube Laboratorium Pendidikan Bahasa Indonesia ... 164
H. Penutup ... 164
Perempuan Pemimpin dalam Perspektif Islam ... 167
A. Pendahuluan... 167
B. Mampukan Perempuan Memimpin? ... 168
C. Perempuan Pemimpin dalam Perspektif Islam ... 170
D. Penutup ... 179
Saya, Perempuan Pemimpin Tanpa Jabatan ... 181
A. Pendahuluan... 181
B. Pemimpin ... 182
C. Guru Pemimpin... 184
D. Pentingnya Guru Pemimpin... 184
E. Kemampuan Guru Pemimpin ... 185
1. Kemampuan Teknis ... 185
2. Kemampuan Manusiawi ... 186
3. Kemampuan Konseptual ... 186
F. Pemimpin tanpa Jabatan ... 186
Own Your Power, Be a Powerful Woman ... 189
A. Pendahuluan... 189
B. Being a Mom and a PhD Student ... 190
C. Ketua Laboratorium Bahasa di Pendidikan Bahasa Inggris ... 192
D. Founder Edutech Siliwangi ... 194
Kolaborasi adalah Kunci ... 197
Pendahuluan ... 197
Kala Plegmatis Bertopeng Retoris... 209
A. Pendahuluan... 209
B. Skenario Ayam Geprek ... 210
C. Komunikasi adalah Kunci ... 212
D. The Show Must Go On ... 213
E. Epilog... 216
Nuraeni
“Setiap kita adalah pemimpin, dan akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya.”
(HR. Bukhari Muslim).
Isu tentang perempuan menjadi pemimpin dalam perspektif Islam masih menjadi pro dan kontra. Pendapat yang mendukung perempuan diperbolehkan menjadi pemimpin di segala bidang berangkat dari Al-Quran surah At-Taubah ayat 71 yang menyatakan kesetaraan antara laki laki dan perempuan dalam tolong-menolong, berbuat baik dan amal ibadah lainnya. Juga berdasarkan hadis riwayat Bukhari Muslim yang menyatakan bahwa setiap kalian adalah pemimpin dan akan bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya. Hadis ini juga menjelaskan bahwa tugas dan kewajiban semua manusia baik laki-laki maupun perempuan yaitu menjadi seorang pemimpin, minimal untuk diri sendiri. Dengan demikian, siapa pun boleh memimpin, termasuk perempuan terutama untuk mewujudkan kemaslahatan umat dan bangsa.
Adapun yang tidak mendukung perempuan menjadi pemimpin berdasar pada Al-Quran, surah An-nisa ayat 34, bahwa laki laki adalah pemimpin kaum perempuan. Dari ayat ini tersurat bahwa perempuan itu dipimpin, bukan memimpin. Hal ini didukung juga oleh hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari, Turmudzi, dan An- Nasa’i, bahwa Rasulullah SAW. bersabda: “Tidak akan pernah beruntung keadaan suatu kaum yang menyerahkan kepemimpinannya pada seorang perempuan.”
Sampai sekarang, isu antara boleh tidaknya perempuan memimpin masih diperdebatkan. Namun dalam hal ini penulis termasuk kepada kelompok yang mendukung perempuan menjadi pemimpin karena penulis sendiri adalah seorang perempuan yang menduduki salah satu posisi pimpinan di Perguruan Tinggi.
Sejarah Islam telah mencatat banyak perempuan muslim yang menjadi pemimpin, baik sebelum zaman Rasulullah SAW.
ataupun pada masa Rasulullah SAW. Oleh karena itu, tulisan ini akan memaparkan beberapa pemimpin perempuan muslim pada zaman Rasulullah dan sebelumnya yang sudah sangat terkenal dalam sejarah Islam. Selanjutnya tuntutan Islam bagi seorang pemimpin melengkapi tulisan ini, dan diharapkan dapat menjadi teladan bagi kita sebagai pemimpin perempuan dan juga sebagai bahan introspeksi, apakah kepemimpinan kita sudah sesuai dengan syariat Islam, dan tentu saja dapat membuka wawasan tentang karakteristik apa yang harus dimiliki oleh kita sebagai pemimpin perempuan.
Dalam sejarah Islam, banyak perempuan mulia sebagai representasi perempuan yang berhasil memimpin, di antaranya, Khadijah, Aisyah, Ratu Bilqis, Fatima Al-Fihri, Umm Salamah Ra., dan lainnya. Namun dalam tulisan ini hanya akan dipaparkan tiga perempuan hebat yang sudah diketahui khalayak ramai yaitu Khadijah, Aisyah, dan Ratu Bilqis.
Khadijah, istri pertama Nabi Muhammad SAW., sebelum menikah dengan Nabi Muhammad adalah seorang pengusaha.
Beliau adalah perempuan mandiri yang memimpin perusahaan besar peninggalan ayahnya di Makkah. Dalam mengelola usahanya, Khadijah memperlihatkan jati dirinya sebagai seorang pemimpin yaitu memiliki integritas, keluhuran budi dan jiwa kemanusiaan yang tinggi, dermawan dan mempunyai rasa empati yang besar (Parhani, 2020). Khadijah mendermakan seluruh harta, tenaga, dan pikirannya untuk mendukung dakwah Rasulullah SAW. Di samping itu, Khadijah juga tetap memainkan peranan pentingnya sebagai seorang istri dan ibu bagi anak-anaknya.
Kedua adalah Aisyah, istri ketiga Nabi Muhammad SAW.
Aisyah adalah perempuan yang berwawasan luas, kritis dalam memandang suatu perkara yang terjadi, memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, cerdas dalam menyerap pengetahuan, dan mampu menghafal ribuan hadits dalam waktu singkat (Parhani, 2020; Hadi, 2021). Aisyah juga menjadi pemimpin komunitas muslim di Jazirah Arab, dan dijuluki Ummu Al-Mu'minin (ibu orang-orang Mukmin).
Aisyah merupakan istri yang taat dan berbakti kepada suaminya, yaitu Rasulullah SAW.
Berikutnya adalah Ratu Bilqis yang memimpin negeri Saba’
dan hidup pada zaman Nabi Sulaiman. Selain parasnya yang jelita, dia adalah seorang pemimpin bijaksana. Dia sukses memimpin rakyatnya sehingga mereka makmur dan sejahtera. Ratu Bilqis juga memiliki kecakapan dalam kepemimpinannya seperti menjadi pemimpin yang demokratis, cerdas, berwibawa dan memperhatikan kesejahteraan rakyat (Susanti, 2019). Dalam memimpin, dia mengedepankan bermusyawarah, melibatkan bawahan dalam pengambilan keputusan, penuh pertimbangan, dan selalu mementingkan keselamatan rakyatnya.
Dari pemaparan tentang ketiga perempuan hebat di atas, sepatutnya kita sebagai perempuan yang memimpin bisa meneladani karakteristik yang mereka miliki antara lain memiliki integritas, keluhuran pribadi, jiwa kemanusiaan yang tinggi, dermawan, rasa empati yang besar, berwawasan atau berpengetahuan luas, kritis, memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, demokratis, cerdas, berwibawa, dan memperhatikan kesejahteraan bawahannya. Semoga kita diberi kekuatan oleh Allah SWT. untuk mencontoh sifat-sifat yang baik tersebut.
Selain dari meneladani kepemimpinan Khadijah, Aisyah, dan Ratu Bilqis, Islam juga memberi tuntunan bagi seorang pemimpin baik laki-laki maupun perempuan, di antaranya bersikap adil, memiliki kapasitas keilmuan (dunia dan akhirat), sehat fisik dan mental, bijak dalam menampung keluhan bawahan, berperilaku baik, dan cepat tanggap. Selain itu, pemimpin juga harus memiliki sikap penuh percaya diri, mempunyai keyakinan yang kuat akan tindakannya, mampu menyatakan perasaan dan pendapatnya, tegas dalam pengambilan keputusan, menjaga hubungan baik dengan atasan maupun bawahan dan pihak luar, mampu berkomunikasi dengan baik, bisa berkoordinasi dengan segala pihak, dan menangani perbedaan pendapat.
Sikap, perilaku, dan kompetensi seorang pemimpin tersebut bisa kita pelajari seiring dengan berjalannya waktu kita memimpin.
Perilaku negatif yang kita miliki bisa kita hilangkan apabila kita terus menerus berintrospeksi diri terhadap kepemimpinan kita.
Di dalam Islam menjadi seorang pemimpin itu harus dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab, karena Rasulullah SAW. bersabda: “Ketahuilah, setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya (HR Bukhari Muslim). Artinya, menjadi pemimpin bukan berarti bebas menggunakan kekuasaan untuk kepentingan sendiri serta bebas melakukan apa saja sesuai dengan hawa nafsu kita sebagai manusia.
Namun sebagai pemimpin kita diberi amanah untuk melakukan pekerjaan kita sesuai ketentuan dan syariat yang sudah ditetapkan, terutama dibatasi oleh syariat agama di mana setiap apa yang kita lakukan akan diminta pertanggungjawabannya kelak di hadapan Allah SWT. Oleh karena itu, kita harus berhati-hati dalam mengemban amanah yang mulia ini karena diberi kepercayaan oleh orang-orang di sekitar kita, dan jangan sampai melakukan perbuatan yang tidak terpuji demi untuk memperkaya diri dan berbangga diri dengan jabatan yang kita miliki sekarang.
Di samping perannya sebagai pemimpin di tempat kerja, perempuan juga harus mengingat kodrat keperempuanannya apabila sudah berkeluarga, yaitu sebagai seorang istri dan seorang ibu.
Seorang istri adalah pemimpin atas rumah tangganya dan wajib berbakti kepada suaminya. Sebagai seorang ibu, dia wajib mengurus dan membesarkan anak-anaknya. Seperti halnya Khadijah, ia merupakan seorang istri dan ibu yang berhasil memimpin rumah tangganya. Begitu pula dengan Aisyah, seorang istri yang taat dan patuh terhadap suaminya, yaitu Rasulullah SAW. Oleh karena itu, meskipun seorang perempuan sudah menjadi pemimpin di tempat kerjanya, dia tidak boleh mengabaikan tugas mulia ini.
Menurut syariat Islam, perempuan dalam keluarga fungsinya tetap sebagai ibu rumah tangga, istri bagi suaminya, dan ibu bagi anak-anaknya yang harus menjadi prioritas utama. Perempuan tidak bisa bekerja jika tidak ada izin dari suami. Oleh karena itu, supaya kehidupan kita menjadi berkah dan bernilai ibadah, seorang
perempuan sekaligus pemimpin harus tetap melaksanakan kewajiban yang sudah Allah SWT. tetapkan kepadanya yaitu sebagai seorang istri dan ibu, serta menjaga diri dan kehormatan saat sedang menjalankan tugas sebagai seorang pemimpin.
Setelah menelusuri sejarah perempuan pemimpin dalam Islam, dan pandangan Islam terhadap seorang pemimpin, sudah saatnya kita sebagai perempuan muslim yang menjadi pemimpin memiliki panduan dan arahan dalam melaksanakan tugas yang diembannya berdasarkan Al-Quran dan hadis. Sepatutnya menjadi pemimpin harus diniatkan untuk beribadah karena Allah SWT., mudah-mudahan dengan niat seperti ini apa yang kita lakukan akan mendapatkan keberkahan di dunia dan mendapatkan pahala di akhirat kelak.
Terlepas dari pro kontra pemimpin perempuan dalam Islam, tulisan ini memaparkan sejarah kepemimpinan perempuan dalam Islam dan pandangan Islam terhadap seorang perempuan yang memimpin. Sejarah menemukan beberapa karakteristik yang dimiliki oleh perempuan muslim yang berhasil dalam kepemimpinannya seperti memiliki integritas, keluhuran pribadi, jiwa kemanusiaan yang tinggi, dermawan, rasa empati yang besar, berwawasan atau berpengetahuan luas, kritis, memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, demokratis, cerdas, berwibawa, dan memperhatikan kesejahteraan bawahannya. Di samping itu, Islam
memberi panduan juga bahwa meskipun memiliki posisi sebagai pemimpin, seorang perempuan jangan melupakan kodratnya sebagai perempuan terutama yang sudah berkeluarga, yaitu peran sebagai istri bagi suaminya dan ibu bagi anak-anaknya. Di atas semua itu, mari kita jadikan amanah sebagai seorang pemimpin ini sebagai bentuk ibadah kepada Allah SWT. Mudah-mudahan dengan niat seperti ini, Allah SWT. akan memberikan keberkahan di dunia dan pahala di akhirat kelak.
Dr. Nuraeni, S.Pd., M.Ed. bekerja di Universitas Ibnu Khaldun, Bogor. Saat ini beliau menjabat sebagai Dekan pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan pada universitas tersebut.
Biodata Penulis
Linna Meilia Rasiban
“Kita tidak butuh sihir untuk mengubah dunia. Kita sudah punya semua kemampuan itu dalam diri kita.”
(J.K. Rowling).
Kebanyakan orang masih memiliki perspektif yang stereotip bahwa perempuan itu kaum lemah. Sifat feminin yang lemah lembut menjadi karakter yang menonjol dalam diri perempuan. Tanpa disadari ternyata kekuatan itulah yang menjadikan perempuan mampu menjalani multiperan dalam kehidupan pribadinya sampai di ranah publik.
Pada zaman dahulu, perempuan harus berada di bawah kaum pria. Perempuan tidak boleh mengenyam pendidikan tinggi apalagi beraktivitas di luar rumah. Perempuan hanya berkutat dalam aktivitas rumah tangga, seperti mengurus rumah, anak, dan suami.
Namun di era modern ini, perempuan memiliki kesetaraan dengan kaum pria. Perempuan bisa berkarier dan menempuh pendidikan tinggi.
Di zaman Rasulullah, istri Baginda Nabi yakni Khadijah binti Khuwailid bin Asad bin Abd Al-'Uzza biasanya dipanggil Ummu Hindun dengan gelar Ummul Mu'minin (ibunya orang-orang beriman) menjadi pemimpin perempuan. Islam tidak melarang perempuan untuk menjadi pemimpin, walau mayoritas pemimpin adalah mereka yang berjenis kelamin laki-laki, seperti yang tercantum dalam surah Al-Baqarah ayat 30:
آْْوُلاَق ۗ ًةَفْيِلَخ ِضْرَ لْا ِفِ ٌلِعاَج ْ ِِنّاِ ِةَكِٕىٰۤ لَمْلِل َكُّبَر َلاَق ْذِاَو ْ ُحِِب َس ُن ُنْ َنََو . َءٰۤاَمِِلا ُكِف ْسَيَو اَهْيِف ُدِسْفُّي ْنَم اَهْيِف ُلَعْ َ
تََا نْوُمَلْعَت َ
لْ اَم ُمَلْعَا ْْٓ ِ ِنِّا َلاَق ۗ َكَل ُسِِدَقُنَو َكِدْمَ ِبِ
Artinya:
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.”
Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”
Ayat tersebut menjelaskan bahwa semua umat manusia itu kedudukannya sama, yaitu menjadi khalifah dan menciptakan kemaslahatan di muka bumi. Al-Quran menjelaskan bahwa kedudukan perempuan dalam Islam sama dengan laki-laki, tidak berbeda dengan kaum laki-laki dalam masalah kemanusiaan dan
hak-haknya. Seperti sabda Rasulullah SAW.: “Ketahuilah, setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya.”
Hal ini memperjelas bahwa seorang pemimpin yang memimpin manusia akan bertanggung jawab atas rakyatnya, seorang laki-laki adalah pemimpin atas keluarganya, dan bertanggung jawab atas mereka semua. Seorang perempuan juga pemimpin atas rumah, suaminya, dan anak-anaknya, serta bertanggung jawab atas mereka semua.
Perempuan pemimpin dalam sejarah Islam juga hadir dalam berbagai bidang, mulai dari perekonomian sampai dengan pendidikan. Istri Rasullah, Khadijah, adalah seorang saudagar kaya dan perempuan mandiri yang memimpin perusahaan besar peninggalan sang ayah di Makkah. Meski Khadijah merupakan pengusaha sukses dengan kekayaan berlimpah, namun ia mempunyai jiwa kemanusiaan yang tinggi. Ia dikenal sebagai muslimah dermawan dan punya rasa empati yang besar terhadap sesama. Selain itu ada Aisyah, sebagai istri Rasullah setelah Khadijah wafat, ia menjadi intelektual muslimah yang paling dipercaya Nabi dan dipercaya memimpin komunitas Muslim di Jazirah Arab. Di masa kepemimpinan Aisyah pula, banyak tercetak intelektual-intelektual yang berpengaruh besar dalam Islam.
Hadis Riwayat Muslim yang berbunyi, “Setiap kalian adalah pemimpin dan akan bertanggung jawab atas kepemimpinannya,”
mempertegas bahwa tugas dan kewajiban semua manusia sama, yaitu menjadi seorang pemimpin, siapa pun adalah pemimpin baik untuk memimpin dirinya sendiri atau memimpin orang lain, dan setiap kepemimpinannya dimintai pertanggungjawaban nanti.
Perspektif agama Islam menempatkan perempuan pada posisi yang sangat terhormat dan mulia sesuai kodratnya. Perempuan diciptakan sebagai pasangan buat laki-laki bukan sebagai budak atau harta yang bisa diperjualbelikan.
Perempuan punya peran penting terhadap roda ekonomi masyarakat di zaman serba digital seperti saat ini. Terbukti, saat pandemi Covid-19 melanda, banyak perempuan bergerak untuk menumbuhkan perekonomian dengan membuka usaha sampingan rumahan. Riset yang dilakukan Lembaga Penyelidikan Ekonomi Masyarakat (LPEM) Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia mendapati 18,6 persen pelaku baru usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) berasal dari kalangan perempuan dengan memanfaatkan layanan e-commerce (Noviyanti, kompas.com - 23/03/2022).
Seperti diketahui, imbas dari wabah Covid-19 berdampak terhadap perekonomian nasional hampir di semua lini. Tidak sedikit industri yang merampingkan atau bahkan merumahkan karyawannya, sehingga mengakibatkan tingginya angka
pengangguran. Sebagai perempuan yang setiap harinya mengurusi rumah tangga, hal ini membuat putus asa dan mati langkah, ditambah lagi jika suami terkena PHK (Pemutusan Hubungan Kerja). Melihat situasi dan kondisi seperti ini perempuan sebagai istri sekaligus ibu rumah tangga berpikir dan mencari solusi untuk mengatasi hal tersebut. Tidak sedikit perempuan di Indonesia yang melakukan aktivitas usaha sampingan disesuaikan dengan minat dan kemampuannya dan sesuatu yang dekat dan ada di sekitarnya, seperti berjualan makanan, masakan, pakaian, kosmetik, aksesoris, produk rumah tangga, produk kesehatan, sampai homemade cendera mata.
Kehadiran masa pandemi Covid-19 yang telah mengubah hal-hal yang biasa menjadi luar biasa, mengubah cara pandang dari normal ke digital, artinya telah banyak aktivitas yang dilakukan secara digital di masa pandemi Covid-19. Digitalisasi merupakan kenyataan yang harus dihadapi. Digitalisasi merupakan tantangan yang harus dinikmati, karena teknologi informasi semakin canggih, perkembangan zaman semakin dinamis, maka dari itu perempuan pun harus memiliki pola pikir dan cara pandang yang realistis, namun tetap kreatif dan produktif (Iceu, diskominfo.bantenprov.go.id/21/04/2021).
Kehadiran era digitalisasi menjadikan perempuan semakin andal dalam segala hal, dengan memanfaatkannya seperti berjualan online, tutorial kecantikan dan memasak melalui berbagai kanal medsos (media sosial), Youtube, bahkan sampai menjadi ojek online. Digitalisasi merupakan kenyataan yang harus dihadapi
sekaligus tantangan yang harus dinikmati. Karena teknologi informasi semakin canggih, perkembangan zaman semakin dinamis, maka dari itu perempuan pun harus memiliki pola pikir dan cara pandang yang realistis, namun tetap kreatif dan produktif.
Hadirnya revolusi industri 4.0 telah menjadikan perempuan terbiasa dan mampu beradaptasi dengan digitalisasi melalui kemauan dan semangat yang kuat untuk melek teknologi informasi.
Kontribusi perempuan dalam dunia bisnis online telah maju sangat pesat. Banyak lembaga survei dan riset mencatat kenaikan angka usaha online yang dilakukan perempuan melalui berbagai bidang.
Mulai dari ibu rumah tangga sampai karyawati yang bermimpi membangun bisnis dan komunitas mereka sendiri.
Perempuan Indonesia hadir dan eksis di semua aspek kehidupan sejak kemerdekaan sampai era digital. Era digital tidak membuat perempuan Indonesia surut dalam membangun bangsa dan negara. Bahkan, perempuan Indonesia berada di barisan depan dalam pembangunan bangsa di era digital meski tekanan pandemi mesti dihadapi. Hal ini sesuai sabda Rasulullah: “Perempuan adalah tiang negara, apabila perempuannya baik, maka negara akan baik.
Dan apabila perempuan rusak, maka negara pun akan ikut rusak.
Baiknya negara karena baiknya perempuan dan rusaknya negara karena rusaknya perempuan.”
Begitu pentingnya kedudukan perempuan dalam Islam. Jika salat tiangnya agama, maka perempuan adalah tiangnya negara.
Potensi dan peran perempuan di era digital tetap penting dan strategis dalam kemajuan bangsa. Perempuan Indonesia siap dalam transformasi digital di Indonesia. Terbukti banyak tokoh perempuan yang menjadi founder startup teknologi, bos dan founder e- commerce, dan aktif dalam pelatihan teknologi digital dan lainnya yang sukses di era digital. Banyak hal positif yang telah ditorehkan, juga kemajuan dan kesejahteraan yang didapat banyak perempuan di berbagai bidang melalui digitalisasi.
Perempuan memiliki potensi dalam memajukan bangsa Indonesia. Perempuan Indonesia bisa maju dan berkembang luar biasa berkat perjuangan Kartini. Di masa pandemi seperti saat ini, tantangan tersebut semakin terasa dan nyata, perempuan dituntut harus serba bisa dalam segala hal (multitasking). Mulai dari mendampingi anak belajar daring, sekolah daring, segalanya serba daring seperti rapat daring, olahraga daring, begitu pula seminar daring. Tidak sedikit perempuan yang menyandang status sebagai seorang ibu dengan anak yang masih sekolah turut membimbing anaknya untuk belajar daring melalui aplikasi, sambil bekerja dari rumah (Work From Home) bagi perempuan yang bekerja.
Selain itu, dalam waktu bersamaan harus menyiapkan makan, menyapu rumah, sampai mengurus keperluan suami.
Kegiatan multitasking ini harus dijalani setiap hari oleh perempuan di era kenormalan baru ini. Dalam hal ini, tentunya perempuan (ibu) sangat berperan penting bagi perkembangan pencapaian belajar anak-anak, keharmonisan rumah tangga sampai menyeimbangkan dengan tanggung jawab pekerjaannya. Dalam hal pekerjaan, di masa pandemi seperti ini telah terbukti banyak perempuan yang melakukan pekerjaan multitasking beralih menjadi serba digital atau bekerja secara daring seperti menjadi dosen, guru, pengajar secara daring, menjadi instruktur senam secara daring, memimpin rapat secara daring, mengajar kelas kecantikan secara daring, mengajar kursus memasak secara daring, mengaji secara daring, bahkan menyanyi pun secara daring dan masih banyak lagi kegiatan yang dilakukan secara daring, mungkin salah satu kegiatan lain yakni arisan daring. Namun bagi perempuan yang andal, era digital ataupun nondigital, ia tetap dapat melakukan aktivitas secara profesional (selesai tepat waktu, disiplin, dan bertanggung jawab).
Kaum perempuan tidak boleh takut melangkah untuk berkarier, dan hilangkan interpretasi pandangan yang menganggap
‘sebaik-baiknya pemimpin adalah laki-laki’ yang selalu menghambat perempuan untuk berkembang dan maju. Peranan perempuan yang multitasking memiliki tantangan yang berat. Mulai
dari menjaga keseimbangan multiperan dalam dirinya sendiri, menjaga keharmonisan rumah tangga, dan kemampuan literasi digital. Perempuan memiliki potensi dan peranan strategis di era digital yang perlu didukung dan difasilitasi agar potensi dan peran perempuan dalam pembangunan Indonesia semakin besar dan dapat memberikan manfaat.
Dr. Linna Meilia Rasiban, S.Pd., M.Pd. adalah dosen tetap di Departemen Pendidikan Bahasa Jepang Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra Universitas Pendidikan Indonesia. Pendidikan S1, S2, dan S3 ditempuh pada tempat ia mengajar sekarang. Penerima beasiswa Nippon Foundation on Japanese Language Education Program (NFJLEP) untuk studi Masternya pada Prodi Pendidikan Bahasa Jepang Sekolah Pascasarjana UPI, dan mendapatkan beasiswa BPPDN Dikti untuk program doktoral di Prodi Linguistik pada kampus yang sama.
Ia pernah mengikuti Long-Term Training Program for Teachers of the Japanese Language tahun 2006-2007 yang disponsori oleh The Japan Foundation di Urawa, Tokyo dan 10 tahun kemudian mengikuti Short-Term Training Program for Teachers of the
Biodata Penulis
Japanese Language pada tempat yang sama. Ia aktif melakukan penelitian dan menulis artikel di berbagai jurnal Nasional Terakreditasi, prosiding Internasional dan jurnal Internasional terindeks Scopus. Selain itu, ia aktif juga berorganisasi profesi dan sekarang menjabat sebagai Ketua Asosiasi Studi Pendidikan Bahasa Jepang (ASPBJI) Koordinator Wilayah Jawa Barat (2017- sekarang).
Candradewi Wahyu Anggraeni
“Perempuan itu, karier terbaiknya boleh apa saja yang ia lakukan sesuai dengan kemampuan, kebutuhan, passion, dan kehendak sadarnya dalam memilih prioritas hidup. Kata kuncinya adalah
prioritas dan pilihan.”
-Kalis Mardiasih-
Bulan Mei 2019 menjadi momen bersejarah bagi saya karena secara resmi mengemban amanah menjadi Koordinator Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Tidar. Universitas Tidar yang dikenal dengan akronim UNTIDAR merupakan sebuah Perguruan Tinggi Negeri di Magelang, Jawa Tengah. Saya memulai meniti karier di UNTIDAR pada tahun 2016. Banyak pengalaman akademik maupun nonakademik yang saya dapatkan. Dari pengalaman yang berharga tersebut, saya belajar dan mempraktikkan langsung mengenai konsep kesabaran, keikhlasan, semangat daya juang, kerja sama, ketekunan, dan kepercayaan diri.
Tahun demi tahun terlewati, ketika hal-hal yang berkaitan dengan pekerjaan mulai datang silih berganti, saya teringat pesan Bapak, “Apa pun yang kamu hadapi dan kerjakan sekarang, lakukanlah yang terbaik dan semaksimal mungkin, jangan mudah menyerah, kamu akan belajar banyak dari pekerjaanmu, banyak orang yang ingin ada di posisimu saat ini, jadi bersyukurlah.” Pesan dari Bapak saya selalu menjadi pedoman untuk saya agar tidak pantang menyerah ketika terkadang dalam hati ini terbesit rasa mengeluh, khususnya ketika saya menjadi Koordinator Program Studi (Koorprodi) periode Mei 2019-September 2021. Menjadi seorang pemimpin perempuan dalam sebuah institusi adalah amanah yang luar biasa karena adanya pengakuan kesetaraan gender dan memberikan kesempatan yang sama bagi perempuan untuk berpartisipasi aktif dalam pencapaian visi dan misi sebuah institusi.
Menjalani amanah menjadi seorang Kaprodi, saya menggarisbawahi tiga poin penting yang perlu diperhatikan sebagai seorang pemimpin perempuan. Tiga aspek penting tersebut adalah manajemen waktu, manajemen partisipatif, dan manajemen hati.
Manajemen waktu adalah entitas yang sangat penting bagi saya yang pernah menjadi Kaprodi. Bulan Mei 2019 adalah momen tepat lima bulan usia pernikahan saya, status saya menjadi seorang istri dan sekaligus mengemban jabatan struktural ini. Membagi waktu dengan bijak antara keluarga, pekerjaan sebagai dosen, dan
tugas tambahan sebagai Kaprodi merupakan proses yang cukup menguras tenaga dan pikiran. Meskipun demikian, hal ini membuat saya menjadi lebih kuat dalam menjalani kegiatan sehari-hari.
Dukungan dari keluarga, khususnya suami saya juga merupakan faktor kunci keberhasilan saya dalam memanajemeni waktu.
Rutinitas sebagai istri di rumah, dosen, dan Kaprodi di kantor memberikan dampak positif kepada saya untuk lebih teratur, terstruktur, dan terjadwal dalam melakukan sesuatu. Jika peran saya sebagai istri yaitu berkaitan dengan hal-hal domestik rumah tangga, saya sebagai dosen berkaitan dengan pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi (Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian kepada Masyarakat). Sedangkan saya sebagai Kaprodi memiliki tugas-tugas tambahan yang akan menyita banyak waktu untuk menyelesaikan tugas pokok dan fungsi sebagai Kaprodi. Fungsi jabatan Kaprodi secara umum adalah mengkoordinasikan pelaksanaan pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, kerja sama dan membina civitas akademica dan tenaga administrasi di lingkungan program studi. Sebagai pemimpin perempuan, saya ingin membuktikan juga bahwa kaum perempuan bisa menjadi pemimpin yang amanah dan baik.
Hal yang terukir manis dalam ingatan saya ketika menjadi Kaprodi yaitu Allah memberikan rezeki kepada saya dengan kehamilan pertama saya sekitar bulan November 2019. Saya dan suami sangat bersyukur dan bahagia karena kami telah menunggu selama hampir satu tahun. Dengan kondisi hamil dan banyaknya
tugas-tugas di kampus sebagai dosen dan Kaprodi, saya tetap semangat dalam menjalani hari demi hari dan menyelesaikan tugas- tugas yang datang silih berganti. Apa pun itu, satu hal penting yaitu menjaga stamina dan kesehatan adalah wajib hukumnya karena jika sakit sudah menyapa, maka akan memengaruhi rencana-rencana yang telah disusun dan target-target yang akan dicapai.
Bulan demi bulan terlewati sampai pada waktunya di bulan Juli 2020 tangisan seorang bayi perempuan cantik melengkapi kebahagiaan keluarga saya, dan peran saya pun bertambah menjadi seorang Ibu. Menjadi istri, ibu, dosen, dan Kaprodi memerlukan ketahanan jiwa dan raga yang kuat untuk dapat melakukan yang terbaik di setiap perannya. Oleh karena itu, manajemen waktu memiliki peranan penting dalam menyeimbangkan kehidupan saya.
Sebagai seorang pemimpin perempuan, saya menerapkan konsep manajemen partisipatif. Konsep manajemen partisipatif berfokus pada kegiatan berkolaborasi antar seluruh anggota dalam sebuah institusi. Dalam konteks kepemimpinan saya kala itu, saya berkolaborasi dengan semua dosen, mahasiswa, tenaga kependidikan di lingkup Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris untuk dapat berproses bersama dalam mencapai visi, misi, tujuan, dan strategi program studi. Manajemen partisipatif memiliki peranan penting dalam penentuan kebijakan, pengambilan keputusan, proses pembelajaran (kegiatan belajar mengajar), pelaksanaan kegiatan-
kegiatan akademik dan nonakademik, mendukung program MBKM (Merdeka Belajar Kampus Merdeka), serta mendukung pencapaian target untuk IKU PT (Indikator Kinerja Utama Perguruan Tinggi).
Grace dkk. (2020) menyebutkan bahwa ada enam manfaat dengan menerapkan manajemen partisipatif. Manfaat penerapan manajemen partisipatif adalah sebagai berikut:
1) Manajemen partisipatif dapat meningkatkan produktivitas kerja.
2) Manajemen partisipatif dapat menciptakan atmosfer demokratis dalam sebuah organisasi/sekolah/universitas.
3) Manajemen partisipatif dapat memberi semangat kepada dosen dan tenaga kependidikan untuk memiliki dedikasi tinggi dalam organisasi/sekolah/universitas.
4) Manajemen partisipatif menjamin terwujudnya tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan di organisasi/ sekolah/
universitas.
5) Manajemen partisipatif mengurangi konflik dalam organisasi/sekolah/universitas.
6) Manajemen partisipatif memberikan dosen dan tenaga kependidikan rasa memiliki organisasi/sekolah/universitas.
Selain itu, saya memperoleh banyak ilmu tentang manfaat dari manajemen partisipatif, dari teori-teori sampai dengan mempraktikkannya secara langsung. Tak bisa dipungkiri bahwa dalam implementasinya muncul permasalahan-permasalahan.
Dengan menganalisa sumbu penyebab masalah, maka solusi dapat
dengan cepat diperoleh. Kolaborasi adalah kunci keberhasilan dari penerapan manajemen partisipatif. Dengan demikian, manajemen partisipatif dapat digunakan sebagai model manajemen dalam memimpin sebuah institusi atau organisasi.
Stereotip gender atas perempuan pemimpin terkadang masih melekat dalam konteks pemimpin perempuan akan lebih memakai hati, perasa/sensitif, kurang tegas, dan sebagainya. Stereotip gender seperti itu tidak seharusnya hanya disematkan pada perempuan, karena karakteristik yang disebutkan bisa terjadi pada laki-laki pemimpin. Ada faktor eksternal dan internal yang dinilai seperti pada stereotip yang saya sebutkan sebelumnya. Pada hakikatnya, semua pemimpin itu memimpin dengan hati ataupun perasa, akan tetapi bagaimana manajemen hati bisa diterapkan agar tidak muncul anggapan kepemimpinan yang selalu memakai hati daripada logika.
Di sisi lain, konsep manajemen dengan hati memiliki makna yang berbeda dan hal ini penting untuk diterapkan dalam kepemimpinan. Manajemen hati ini pernah saya terapkan selama saya menjadi Kaprodi, meskipun saat itu masih penerapannya belum optimal karena berhubungan dengan banyak orang dan banyak pendapat atau ide.
Prabowo (2016) menyebutkan, dalam hal kepemimpinan, manajemen dengan hati menitikberatkan pada penumbuhan kesadaran, komitmen dan kompetensi sehingga orang-orang yang ada di dalam organisasi bukan bekerja mendasarkan pada perintah, regulasi, bonus, atau jenis-jenis kompensasi material yang lain, tetapi lebih mendasarkan pada hal-hal spiritualis yang mendorongnya dari dalam diri. Sedangkan dalam cara menjalankan proses-proses manajemen di organisasi, dilakukan tidak cukup hanya dengan fungsi-fungsi manajemen, tetapi juga dengan penumbuhan dan pembudayaan nilai-nilai baik dalam menjalankan proses manajemen. Pemimpin tidak hanya menggerakan orang untuk mendapatkan imbalan-imbalan seperti gaji, bonus, karier, atau tunjangan-tunjangan lain, tetapi juga mengajarkan kepada mereka tentang kekuatan hati yang meliputi, feeling, intuisi, perasaan, dan juga nilai-nilai luhur.Konsep manajemen hati tersebut membuka cakrawala pengetahuan saya sebagai Kaprodi saat itu, ketika memimpin tidak hanya memakai logika ataupun hanya memakai hati, akan tetapi kepemimpinan dengan hati dan logika selaras menyatu untuk mencapai visi, misi, tujuan, dan strategi sebuah organisasi/institusi.
Manajemen waktu, manajemen partisipatif, dan manajemen hati merupakan tiga aspek penting dalam perjalanan saya mengemban amanah menjadi Koordinator Program Studi. Selain
menjadi Kaprodi, saya mendapatkan anugerah dan keberkahan sebagai seorang istri dan Ibu. Dukungan suami dan keluarga sebagai support system sangat penting bagi saya dalam menjadi perempuan pemimpin.
Candradewi Wahyu Anggraeni, M.Pd. adalah Dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, FKIP, Universitas Tidar. Saat ini, Candradewi merupakan Awardee Beasiswa Pendidikan Indonesia Tahun (BPI) 2021 dari PUSLAPDIK dan LPDP. Dengan Beasiswa BPI, Candradewi berkesempatan melanjutkan studi untuk Program Doktoral di Program Studi S3 Ilmu Pendidikan Bahasa (Pendidikan Bahasa Inggris) Universitas Negeri Semarang Biodata Penulis
Diana Hernawati
“Kita sebagai wanita tidak memiliki batasan untuk meraih sesuatu.”
-Michelle Obama-
Sejatinya seorang perempuan itu adalah sosok yang istimewa. Keberadaban membawa perempuan lebih mempesona dalam segala bidang. Konsep perempuan dengan kebaya dan dapur semakin tergerus oleh zaman. Dalam kehidupan nyata, perempuan ibaratnya seperti air yang mengalir mengikuti arusnya dari hulu ke hilir. Seolah-olah tidak mempunyai energi banyak untuk bisa melawan arus, yang pada akhirnya hanya pilihan menerima untuk segala hal. Terkadang langkahnya pun begitu sempit dan terbatas.
Namun, tentunya itu bukan gambaran dari perempuan yang hidup pada masa kini. Banyak di luar sana yang mempunyai kekuatan energi sehingga leluasa untuk mengepakkan sayapnya, bahkan dapat lebih tinggi dalam status sosial dan pekerjaannya.
Perempuan secara kodrati sangat mendukung sekali perubahan tanpa merendahkan laki-laki. Perempuan memiliki daya tarik bawaan untuk membantu, mengasuh, dan kecenderungan untuk membuat segalanya lebih baik. Kecenderungan perempuan selalu berpikir dari hati dan tidak terlalu banyak berpikir dari kepala.
Walaupun pada umumnya cenderung kurang kritis dan berhati-hati dalam berpikir dibandingkan laki-laki. Namun dalam hal reaksioner dan sanubari perempuan dapat lebih mudah ditarik daripada laki- laki.
Kajian ini akan berfokus pada kekuatan perempuan dan representasi arsitekturnya, yang menjadi bentuk paling nyata dan menarik dari kekayaan dan status sosial. Kekuatan perempuan itu selalu identik dengan sebutan filantropi. Filantropi dapat diartikan sebagai tindakan sukarela untuk kepentingan publik. Ketika perempuan memasuki dunia kerja dan mencari pendidikan tinggi sebagai sarana untuk meningkatkan status ekonomi dan intelektual mereka, kekuatan dan kepentingan perempuan menjadi lebih meningkat. Bagaimana perempuan dalam menggunakan ruang dan bagaimana mereka dibatasi oleh faktor spasial dalam kehidupan sehari-hari mereka sudah semakin jelas. Banyak perempuan telah memainkan peran penting dalam sejarah dan pentingnya perempuan dalam filantropi.
Women's Philanthropy selalu bercita-cita untuk mendorong ekosistem filantropi inklusif yang menciptakan perubahan transformasional untuk semua kehidupan. Sehingga gaungnya emansipasi perempuan sudah tidak mengkluster lagi level gender.
Beberapa perempuan terkemuka memberikan kontribusi yang signifikan terhadap kemajuan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Banyak studi yang meneliti kontribusi perempuan di berbagai bidang, seperti pendidikan, sastra, filsafat, puisi, matematika, dan kedokteran. Bahkan terlibat dalam berbagai peran di media seni visual dan bidang arsitektur. Begitu komprehensif tentang peran luar biasa perempuan dalam kemajuan berbagai bidang.
Penelitian membuktikan bahwa gender penting dalam filantropi. Perempuan selalu berpikir tentang memberi dan bertindak berdasarkan nilai-nilai amal mereka secara berbeda dari laki-laki.
Tampaknya identitas dan tanggung jawab perempuan yang kuat secara signifikan dipengaruhi oleh status keluarganya dan oleh lingkungan tempat dibesarkannya. Latar belakang kehidupannya membantu untuk berpartisipasi aktif dalam berbagai bidang kehidupan, termasuk sosial, politik, dan ekonomi. Sehingga dalam keilmuan baru-baru ini, peran unik perempuan dalam peradaban manusia mulai terungkap dan diakui.
Bahkan semua mengakui bahwa perempuan saat ini mengambil tempat yang lebih jelas dalam urusan publik daripada dulu. Begitulah posisi perempuan, dan dapat dikatakan bahwa
pengaruh aktual mereka terhadap masyarakat lebih besar daripada yang diakui oleh catatan sejarah.
Peradaban manusia merupakan bentuk imajiner yang didorong oleh perubahan teknologi, mitologi, dan pembawa komunikasi. Transisi dari peradaban nomaden ke agraris, komersial, industri, dan informatika dapat dianggap sebagai tatanan diferensiasi, kompleksitas, dan integrasi yang lebih tinggi.
Peradaban seperti yang kita ketahui, adalah sebuah gerakan bukan sebuah kondisi, sebuah perjalanan, dan bukan sebuah pelaboratoriumuhan.
Kemiskinan, kebodohan (tidak literate), dan keterbelakangan (ketertinggalan peradaban) masih ada di sekeliling kita. Bagaimana membangun bangsa, itu pertanyaan yang harus dicarikan solusinya secara bersama-sama. Diperlukan revolusi ilmiah yang dapat mengubah pemahaman umat manusia tentang dunia untuk dapat melakukan transformasi. Dimulai dari membangun cara berpikir yaitu HOTS (Higher Order Thinking Skill) dan berupaya untuk menjadi agent of education.
Pemimpin perempuan mengubah dunia seperti yang kita lihat sekarang ini. Ketika perempuan mengambil posisi kepemimpinan puncak, mereka membawa perubahan dalam budaya organisasi.
Hak-hak perempuan di tempat kerja sekarang menjadi perbincangan umum. Kelompok-kelompok seperti asosiasi nasional perempuan bersama dengan gerakan media sosial terus memberikan dukungan untuk kemajuan kaum perempuan. Serikat pekerja juga menyadari dampak positif yang dimiliki perempuan sebagai pekerja dan cenderung mendapatkan lebih banyak dukungan.
Bagaimana perempuan memandang dirinya untuk kemampuan dan keterampilan yang dimilikinya. Menjadi seorang perempuan dengan berbagai aspek kehidupan mempunyai tantangan dan peluang unik yang sama. Sebagai perempuan, terkadang merasa perlu untuk membuktikan diri secara generality secara self- confidence maupun self-efficacy di tempat pekerjaan yang didominasi kaum laki-laki. Generality berkaitan dengan cakupan yang luas tentang keyakinan individu perempuan terhadap kemampuannya. Mampu atau tidaknya seorang perempuan mengerjakan bidang-bidang dan konteks tertentu mengungkapkan gambaran secara umum tentang keyakinan dirinya. Ini bisa bervariasi dalam beberapa bentuk dimensi, termasuk tingkat kesamaan aktivitas dan modalitas yang diekspresikan dalam perubahan tingkah laku.
Ada beberapa faktor yang menjelaskan kesenjangan gender yang sangat besar ini, termasuk bias gender yang tidak disadari, kurangnya pelatihan yang memadai dan persepsi negatif terhadap
perempuan yang bekerja. Meskipun untuk beberapa hal perempuan masih kurang terwakili, namun banyak kaum perempuan membuat kemajuan yang signifikan sebagai pemimpin. Bahkan sebagian besar eksekutif perempuan dan bahkan manajer konstruksi, menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan mempromosikan perempuan untuk peran kepemimpinan. Adanya revolusi industri dengan keragaman pekerjaan dan pertumbuhan industri di Tahun 2021, ternyata mempekerjakan lebih banyak perempuan adalah cara optimal untuk memanfaatkan ekspansi itu. Berbeda dengan pengalaman penulis yang mempunyai basic pekerjaan untuk bidang pendidikan dan keguruan. Khususnya untuk mengelola suatu program profesi pada sebuah LPTK. Walaupun program ini sudah beberapa tahun berjalan, namun sesuai SK perizinan baru tahun 2021 LPTK, penulis menjadi penyelenggara. Beserta tim yang disahkan secara resmi kita bekerja sama dan berkolaborasi. Ini dijadikan sebagai kata kunci yang digunakan untuk menjalankan roda pelaksanaan program profesi pendidikan.
Kerja sama adalah hal penting untuk saling mengisi kelengkapan dalam suatu progress pekerjaan. Kolaborasi tidak kalah penting juga, karena program ini merangkul dari berbagai bidang studi dengan kajian ilmu yang secara substansi berbeda, sehingga diperlukan suatu kesepahaman untuk mencapai harmonisasi yang baik. Walaupun secara keseluruhan basic pendidikan menjadi komponen dasar, namun pola reformasi yang menjadi konsep pemerintah tidak mudah untuk dipahamkan ke semua orang.
Makna reformasi masih terlalu sulit dipahami ketika sekian orang sudah merasa ahli dan mempunyai pengalaman di bidangnya.
Cukup sulit untuk bisa mengenal ilmu yang sifatnya pengembangan atau memadukan sesuai kebutuhan dalam masa sekarang. Dengan segala kelebihan dan kekurangannya kita harus bisa adaptif dengan perubahan zaman. Kita tidak cukup hanya melek literasi, namun harus melek teknologi dan bisa mengintegrasikannya.
Arsitektur dan konstruksi regulasi yang baru berdasarkan hasil dari melihat kondisi kekinian kualitas pendidikan baik dasar dan menengah di Indonesia. Program yang dikelola harus menghasilkan lulusan sesuai profil lulusan secara menyeluruh sama untuk seluruh Indonesia. Untuk dapat mewujudkannya tentu diperlukan rencana strategis yang berorientasi pada hasil yang ingin dicapai. Tentunya harus dengan mempertimbangkan potensi, peluang, dan kendala yang mungkin dihadapi.
Untuk itu diperlukan sekali sebuah revitalisasi yang dapat mengembangkan jejaring dan kerja sama dengan pihak lain supaya dapat meningkatkan kapasitas dan kapabilitas penyelenggaraan suatu program. Situasi saat ini dari segi perencanaan, keselarasan rekrutmen, relevansi praktik di lapangan dan koordinasi menyesuaikan dengan arah kebijakan baru. Hal ini tentunya untuk menciptakan generasi baru guru Indonesia, yaitu guru profesional
yang menjadi teladan dan pembelajar yang mampu mengembangkan rencana, pelaksanaan, evaluasi pembelajaran yang berpusat pada peserta didik dan mewujudkan profil pelajar Pancasila, serta terampil dalam mengembangkan lingkungan belajar dan memfasilitasi peserta didik belajar dengan melibatkan orang tua dan masyarakat.
Sebuah milestone kebijakan telah berhasil mendorong kinerja profesional untuk penguatan implementasi sistematik dari semua perangkat pendidikan. Standar proses pembelajaran yang dilakukan berpusat pada peserta didik untuk memperoleh capaian pembelajaran lulusan sebagai guru profesional. Baik itu perencanaan, pelaksanaan, dan beban belajar peserta didik. Prinsip atau pendekatannya pun mengacu pada pembelajaran aktif, kontekstual, refleksi dari pengalaman, berbasis masalah, berbasis proyek, berbasis studi kasus, dan pembelajaran dengan menggunakan teknologi.
Namun pada prinsipnya tidak ada pembeda berdasarkan gender, yang ada hanyalah karakteristik tertentu sebagai prasyarat yang memenuhi untuk kebutuhan pelaksanaan Program Profesi Guru terlaksana dengan baik. Dalam bidang keguruan, Program Profesi Guru dianggap sebagai benteng terakhir perbaikan kualitas guru. Hal ini tertuang dalam berbagai inovasi pembelajaran yang secara fundamental tertuang dalam perbaikan pendidikan untuk perbaikan nasib dan masa depan bangsa.
Arsitektur kompetensi untuk menyandang gelar guru profesional itu sama untuk semua bidang dengan tidak bicara lagi perempuan dan laki-laki. Tetapi fokus bagaimana membentuk pembelajar sepanjang hayat dengan mempunyai kepribadian beriman, bertakwa, berakhlak mulia untuk mencapai kualitas pembelajaran tingkat tinggi, dan pendidikan karakter yang kuat.
Tujuan ini teruraikan dalam konsep pembelajar yang sukses, individu yang percaya diri, warga negara yang bertanggung jawab, dan sebagai kontributor peradaban yang efektif.
Dr. Diana Hernawati, M.Pd. lahir di Majalengka, 11 April 1977. Tahun 2015 mengambil jenjang Doktor pada Program Studi Pendidikan Biologi, Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Sejak Tahun 2020, penulis sebagai Koordinator Program Pendidikan Profesi Guru untuk LPTK Universitas Siliwangi.
Biodata Penulis
Muthmainnah
“Together we can make a difference; together we can share and care.”
Bermimpilah, karena mimpi itu gratis dan belum kena pajak.
Mungkin terkesan klise, akan tetapi mimpi inilah yang menjadi penyemangat dalam mencapai target kinerja ketika saya menjabat sebagai ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia di kampus tempat saya mengabdi, Universitas Al Asyariah Mandar periode 2014-2018. Menjadi pemimpin atau menjabat sebagai salah satu pimpinan struktural di sebuah universitas adalah amanah dan bagi kita perempuan dan ini adalah sebuah anugerah. Namun, amanah tersebut tidak menyangkut pribadi namun juga hayat hidup dosen dan mahasiswa yang kita pimpin.
Outcome yang paling penting dan niat kita setelah diberikan amanah, tentunya ini akan menjadi fondasi kita dalam mengemban tugas dan tanggung jawab. Kembali lagi kepada kiblat gaya pemimpin seperti apa yang ingin kita aplikasikan ataupun sejarah
apa yang ingin kita torehkan selama perjalan karier kepemimpinan kita.
Salah satu bentuk gaya kepemimpinan yang menjadi mimpi dan harapan adalah dengan mengadopsi gaya kepemimpinan yang tidak hanya menonjolkan karisma, namun juga akhlak serta respect terhadap progres yang terjadi. Menjadi inspirasi dan suri teladan adalah salah satu gaya kepemimpinan yang ditunjukkan oleh Rasulullah Nabi Muhammad SAW. Mungkin saja ini terlalu ideal dan banyak tantangan yang akan dihadapi, apalagi kondisi zaman di era digital saat ini. Akan tetapi, hal tersebut bukanlah hal yang mustahil, selama kita memiliki niat atau impian ingin berbuat dan kembali meneladani sifat Rasulullah SAW. Insya Allah kita akan bisa. Bagaimanakah perempuan sebagai pemimpi(n) mengembangkan keterampilan abad 21 bagi iGen di era digital seperti saat ini? Pembelajaran tidak didesain dengan hanya berfokus kepada bahan ajar, namun juga secara holistik tentunya melatih dan mengembangkan sikap dan karakter abad 21.
Keterampilan leadership yang dimaksud sebagai salah satu bentuk life skill abad 21 yaitu memiliki tipe yang mampu menginspirasi, memotivasi, dan loyal kepada komitmen. Hal inilah yang menjadi mimpi, pemimpin adalah pelayan, melayani dengan ikhlas dan selalu kembali kepada komitmen dan sumpah jabatan yang tentunya mampu memposisikan diri dengan tepat. Memiliki keahlian membangun teamwork dan kolaborasi adalah tantangan yang dihadapi oleh hampir setiap organisasi, termasuk komunitas
belajar (dalam kelas) dapat dikembangkan dengan menerapkan pembelajaran berbasis students centered learning approach dengan model pembelajaran kolaboratoriumorasi. Pengembangan karakter mampu beradaptasi dengan segala bentuk perubahan dan fleksibilitas dalam menyikapi segala tantangan sangat diperlukan oleh iGen. Loyalitas dan integritas sebagai agen perubahan tentunya akan menimbulkan aura positif sehingga memotivasi teamwork bekerja dengan maksimal. Saling memberikan kepercayaan dan memegang teguh komitmen serta kepedulian dan tenggang rasa yang tinggi.
iGen sebagai visioner ni mengarahkan kepada sikap dalam mencapai target tentunya telah memikirkan atau merencanakan masa depan dengan kebijakan, perencanaan, aktivitas, dan analisis SWOT yang valid. Selain futuristik dan visioner, segala visi dan misi (mimpi) tidak akan berlanjut jika tidak memiliki sifat pemimpi(n), yaitu kreatifitas serta inovasi. Target kinerja merupakan bentuk dari inovasi dan novelty yang menjadi pembeda dan memiliki ciri khas, berpikir di luar zona nyaman, menerima tantangan dan melihat tantangan sebagai peluang, persiapan ini tentunya telah didesain dalam aktivitas pembelajaran agar membentuk karakter kepemimpinan (life skill) dengan proses yang tidak singkat.
Selain itu, mampu memancarkan kepercayaan diri, memiliki kepribadian yang kuat, bersikap adil, tidak mementingkan diri sendiri, dan peka akan membuat teamwork merasa nyaman. Serta mampu mengambil risiko demi mewujudkan visi dan misi untuk
kondisi yang lebih baik demi kemaslahatan bersama. Era digital membutuhkan keterampilan abad 21, mampu berkomunikasi dan menggerakkan orang, berkolaborasi lintas bangsa atau secara global.
Fenomena yang terjadi saat ini adalah minimnya literasi dan tantangan ini tentunya memengaruhi sikap kita dalam menghadapi kondisi global di mana setiap aspeknya mengharapkan agar aktivitas dapat terkoneksi dengan HOTS (higher order thinking skills) yaitu inovasi dan kreatifitas.
Sebagai pemimpi(n), melatih generasi muda khususnya mahasiswa (iGen) agar dapat bersinergi dengan keterampilan abad 21 sangat penting dalam menambah wawasan dan pengetahuan terkait fenomena dan perkembangan secara global. Keterampilan berpikir kritis, di mana dalam dunia pendidikan tidak hanya mempresentasikan ilmu pengetahuan dari mata kuliah yang diajarkan, tetapi juga mencakup sikap kepemimpinan di mana setiap anak atau mahasiswa dilatih sejak dini untuk mendukung dengan keterampilan kepemimpinan agar menjadi pemimpin yang lebih baik dan efektif di masa depan, yakni dengan melatih mereka mencapai tujuan atau target yang telah direncanakan dan bagaimana mereka mencapai target dengan strategi yang tepat dan penuh dengan tanggung jawab.
Sangat dipahami bahwa tanggung jawab merupakan keterampilan yang dapat ditanamkan sejak dini bukan hanya di level perguruan tinggi. Oleh karena itu, aktivitas pembelajaran mengarahkan bahwa semua pemikiran, pilihan, dan reaksi atau
perbuatan yang dilakukan memiliki dampak tidak hanya bagi individu, namun juga sangat berdampak kepada masyarakat bahkan negara. Tentunya, sebagai fasilitator atau pendidik, tanggung jawab kita adalah memfasilitasi agar tanggung jawab ini menjadi karakter dan bukan hanya simbol sesaat.
Selain itu, bagaimana sikap dalam mengatasi masalah.
Semakin baik kita memecahkan masalah dengan solusi win-win dapat dikembangkan dengan mendorong agar fokus kepada masalah dan solusi yang tepat serta dapat mengklasifikasi berbagai masalah dengan bijak agar dapat menjalani hidup dengan happy. Pemikiran analitik juga dapat dikembangkan bagi iGen yang bertujuan agar mereka dapat memahami bagaimana mengatasi masalah dengan komponen pemikiran visual yang kritis agar dapat memecahkan masalah secara efektif, mengelola masalah yang komplek dengan elemen yang dapat dikelola dengan bijaksana.
Menguasai keterampilan berpikir analitik tidak cukup tanpa didukung oleh keterampilan beradaptasi. Keterampilan beradaptasi ini sangat penting, apalagi di era digital seperti saat ini perubahan semakin cepat. Oleh karena itu, untuk menghadapi dunia yang berkembang dengan cepat, maka persiapan yang dilakukan dengan menciptakan lingkungan belajar yang fleksibel dan memiliki kemampuan belajar untuk beradaptasi dengan kondisi apa pun serta tanggap dengan perubahan yang terjadi dengan upaya melatih iGen menjadi individu yang ulet dalam bekerja, belajar dan bekerja secara efektif yang melampaui zona nyaman mereka. Keterampilan abad 21
yang sangat penting diaplikasikan dalam ekologi belajar yakni komunikasi atau literasi lisan dan tulisan. Melatih untuk menyampaikan ide dan gagasan dengan membangun kepercayaan diri sehingga terampil menumbuhkan pemahaman, rasa percaya diri, sikap penuh hormat, dan menghargai perbedaan pendapat. Memiliki inisiatif dan otonomi dengan memahami target dan tujuan untuk belajar dan maju, serta bertanggung jawab untuk mencapai outcome meskipun tanpa pengawasan dapat memprioritaskan dan menjadi independen yang didukung oleh keterampilan lintas budaya dengan memahami kapan waktu yang tepat untuk mendengarkan dan kapan waktu untuk berbicara, iGen dapat mengarahkan dirinya dengan baik dan profesional.
Adapun bentuk adaptasi mindset abad 21 di era digital selain mengembangkan karakter pemimpi(n) yaitu dengan mengembangkan keterampilan ICT atau keterampilan komputerisasi. Mengadopsi perkembangan digital dan sistem komputerisasi dengan paham akan mengurangi risiko penggunaan ICT tersebut.
“Setiap orang menjadi guru, setiap rumah menjadi sekolah,”
kata Ki Hajar Dewantara. Di era digital saat ini, di mana pun kondisi dengan internet dan teknologi, kita dapat belajar (inisiatif).
Mengintegrasikan teknologi tentunya memiliki manfaat yang sangat banyak selain untuk belajar, bersosial, dan terkoneksi secara global di seluruh penjuru dunia. Kemudahan dalam mengakses informasi, komunikasi tanpa terhalang oleh ruang dan waktu, memicu
kreativitas melalui teknologi digital misal tutorial YouTube, menuangkan ide dengan berbagai aplikasi yang tersedia secara praktis.
Proses pembelajaran menjadi mudah, mengikuti berbagai program belajar dari mana saja dan melatih diri untuk belajar mandiri dengan percaya diri dengan tetap melakukan keseimbangan waktu yang berkualitas dengan keluarga, teman atau sahabat, dan dosen. Akan tetapi, tentunya sangat sulit menerapkan keterampilan abad 21 jika iGen tidak dipersiapkan dengan memahami fenomena digital yang sedang terjadi saat ini, melatih dan membimbing agar mereka siap sejak dini, serta minimal memahami dampak negatif dari digital itu sendiri. Begitu banyak manfaat dari teknologi yang berdampak pada peningkatan keterampilan berpikir kritis jika lingkungan telah diadaptasi dengan aktivitas yang telah direncanakan dengan saksama.
Perempuan pemimpi(n) yang berdaya akan membangun tunas bangsa yang unggul dan kompetitif dengan meningkatkan pendidikan, ICT dan leadership sehingga dapat menjadi panutan, memahami kebutuhan iGen, mengakselerasi era transformasi dengan bijak dan tetap berkomitmen untuk kepentingan bersama. Di era digital ini, semua perempuan pemimpi(n) dapat bertumbuh dan bertransisi serta memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan keterampilan abad 21 dan menciptakan iGen yang sadar literasi.
Dr. Muthmainnah, S.PdI., M.Pd. adalah asisten profesor di Universitas Al Asyariah Mandar, Sulawesi Barat, Indonesia. Beliau adalah seorang dosen, pembicara global, dan pemimpin internasional dengan segudang prestasi. Beliau pernah menjabat sebagai Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia di Fakultas Keguruan dan Pendidikan, menjadi koordinator humas universitas, Direktur Pusat Studi Perempuan, dan Wakil Direktur Unit Penjaminan Mutu. Saat ini beliau menjabat sebagai Wakil Direktur Lembaga Pengembangan Bahasa dan Karakter. Beliau aktif di berbagai organisasi internasional sebagai International Coordinator conference dan International trainer. Beliau juga menjabat sebagai International Board for Professors and Expert of Scientific Innovation Research Group, EGYPT (www.sirg.club), International Board of TEFL KUWAIT (Member of Large) mewakili ASIA, juga sebagai Country Head, duta besar dan direktur negara untuk banyak organisasi Internasional yang mewakili Indonesia.
Biodata Penulis
Erni
“Strategi belajar perempuan adalah refleksi dari tingkat berpikirnya.”
Tulisan ini membahas tentang strategi berpikir kritis dan kreatif perempuan dalam belajar. Strategi merupakan suatu tindakan atau cara yang dilakukan supaya belajar lebih mandiri, fleksibel, dan menyenangkan, karena hasil belajar ditentukan oleh proses belajar, dan proses belajar ditentukan oleh perilaku dan pemikiran. Strategi belajar adalah teknik atau perangkat, kecenderungan atau pendekatan yang digunakan merujuk pada bentuk tertentu perilaku dapat diamati. Strategi belajar merupakan perilaku dan pemikiran yang memengaruhi proses pemahaman. Strategi belajar akan berkontribusi pada pengembangan sistem berpikir yang dibangun secara langsung. Teknik, pendekatan, atau tindakan yang disengaja yang dilakukan untuk mengingat informasi dan pesan juga merupakan strategi belajar.