ARTIKEL
(Untuk Memenuhi Tugas Ulangan Akhir Semester Mata Kuliah Psikologi Kognitif)
Dosen Pengampu Matakuliah : Bu Nahda Kurnia Juniati, M.Psi., Psikolog
Disusun oleh:
Amel Ghina Rahima (9882405121411077)
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS INFORMATIKA DAN BISNIS INDONESIA BANDUNG
2022
PERILAKU OBSESI TERHADAP FENOMENA K-POP
A. PENDAHULUAN
Dengan adanya era globalisasi yang terjadi saat ini media massa dan media sosial mampu menyebarkan informasi ke seluruh penjuru dunia dengan mudah dan terlampau cepat, oleh karena itu lah budaya-budaya dari luar negara dapat masuk dan meluas layaknya sebuah virus misalnya seperti perkembangan budaya Korea Selatan atau biasa disebut Korean Wave. Salah satu produk Korea Selatan yang mendunia adalah Kpop atau Korean Pop.
Menurut data yang dipaparkan oleh The Korea Times menunjukkan bahwa jumlah penggemar kebudayaan Korea di seluruh dunia meningkat 22 % menjadi 89,19 juta dari yang semula 73,12 juta penggemar pada tahun 2017 (Jawa Pos, 2019). Indonesia tentu saja tak luput dari “infeksi” pesona Korean wave.
Sebuah survei yang diambil dari jumlah viewers video dengan konten K-Pop di YouTube, Indonesia berada pada peringkat 2 dengan meraih 9,9 % dari total viewers (WowKeren, 2019) hasil dari survei tersebut menunjukan bahwa masyarakat di Indonesia adalah penikmat konten K-pop terbanyak kedua setelah Korea Selatan itu sendiri. Dengan menyebarnya Korean Wave, Korea Selatan semakin gencar dalam ‘mengekspor’
budayanya ke seluruh dunia mulai dari produk barang-barang elektronik, perfilman, dan genre musik.
Korean wave mulai masuk di Indonesia sejak awal tahun 2000-an lewat penayangan drama-drama Korea di beberapa TV swasta. Beberapa drama fenomenal saat itu seperti Endless Love, Full House, dan Boys Before Flowers sering disebut-sebut sebagai awal mula seseorang mengenal budaya Korea. Setelah itu, musik pop Korea juga mulai banyak dikenal oleh masyarakat Tanah Air.
Selain menyuguhkan hal yang berbeda dalam hal musik, para member girlband maupun boyband Korea memiliki visual yang menawan sehingga mudah menarik hati masyarakat Indonesia. Hal-hal berbau Korea telah banyak diminati oleh masyarakat dari berbagai rentang usia.
Berdasarkan hasil survei IDN Times (2019), penggemar K-pop tersebar hampir di setiap daerah di Indonesia dan penyebaran terbanyak berada di daerah Jawa dengan jumlah total 76,7 %. Kemudian pada survei ini rentan usia penggemar K-pop adalah 9,3
% dari kalangan usia 10-15 tahun, 38.1% berusia 15-20 tahun, 40,7 % berusia 20-25 tahun, dan 11,9 % berusia lebih dari 25 tahun. Pada demografi penggemar K-Pop di Indonesia didominasi oleh perempuan dengan jumlah 92,1 %, selain itu penggemar kpop banyak yang berstatus sebagai pelajar dengan jumlah 66,1%.
Sejalan dengan hasil penelitian Boon & Lomore (2001) menunjukkan bahwa 75 % individu pada masa dewasa awal cenderung memiliki ketertarikan yang kuat terhadap selebriti dalam kehidupannya, seperti idola pop, bintang film, dan semacamnya.
Ditambahkan pula oleh Widjaja & Ali (2015) yang menyebutkan masa dewasa awal adalah masa mulainya seseorang melakukan pemujaan terhadap idolanya.
Lagu-lagu yang diproduksi oleh K-pop idol menjadi kesan tersendiri bagi penggemarnya selain itu lagu-lagu tersebut menjadikan motivasi bagi kalangan remaja untuk mengerti dan memahami arti bahasa Korea sendiri. Sehingga para penggemar mulai belajar mengenai bahasa Korea sendiri agar mereka dapat mengartikan setiap lirik dari lagu yang diciptakan oleh idola mereka.
Banyak penggemar yang memaknai K-Pop sebagai daya tarik untuk mempelajari bahasa dan kebudayaan Korea. Tidak sulit bagi para penggemar untuk mempelajari Hangul atau tulisan dan bahasa Korea. Selain itu banyak penggemar yang menjadi lebih percaya diri untuk unjuk bakat dengan cara membuat dance cover tarian K-Pop. K-Pop
juga banyak mengajarkan orang-orang tentang perjuangan mewujudkan cita-cita dan kedisiplinan. Perilaku fangirl juga mendorong seseorang untuk berinteraksi dengan orang baru dan saling bertukar informasi mengenai idolanya Anwar (2018).
Selain menikmati hasil karyanya, banyak masyarakat yang juga merasa terhibur dengan tingkah laku dan interaksi antar bintang K-Pop. Tak heran apabila para bintang tersebut, baik aktor, penyanyi solo maupun grup, memiliki banyak penggemar.
Penggemar didefinisikan oleh Jenkins sebagai individu yang tengah melakukan sebuah pencarian makna atas suatu produk budaya dimana pemaknaan tersebut adalah sebuah tindakan bebas yang melibatkan intelektual dan emosinya (Storey , 2006)
Banyaknya hal menarik dan menonjol dari bintang Korea mendorong rasa ingin tahu masyarakat mengenai informasi mendetail mengenai bintang tersebut, termasuk informasi pribadi. Dengan beragamnya informasi yang diperoleh dari berbagai media, penggemar dapat merasa seakan sangat mengenal idolanya mulai dari penampilan, perkataan yang disampaikan, bahasa tubuh, sampai gaya hidup meskipun tidak pernah bertemu dan berhubungan langsung dengan idolanya (Shofa, 2017). Sebuah hasil penelitian menunjukkan perilaku fanatisme penggemar yang paling sering ditemui adalah mengikuti perkembangan idola melalui internet, mengoleksi album, merchandise, bergabung dalam komunitas sesama penggemar, serta mengunduh music video, lagu, konser dan variety show yang menampilkan idolanya.
Dilansir oleh CNN (2019) penggemar Kpop rela mengejar idolanya hingga menginap satu hotel ketika idolanya tersebut berkunjung ke Indonesia, mengeluarkan ratusan juta untuk membeli album demi kesempatan mendapat tanda tangan, hingga merasa 'tidur bersama idola mereka' hanya karena ada posternya mengarah ke tempat tidur. Sejumlah aksi K-popers lainnya pun pernah terekam dalam pemberitaan, baik di Indonesia maupun
di negara lain, mulai dari rela menunggu berjam-jam untuk menyambut kedatangan idola, hingga menyakiti diri sendiri kala idolanya meninggal dunia (Makki, 2019).
Berdasarkan pernyataan diatas, bisa disebutkan bahwa fans tersebut memiliki perilaku obsesif dalam menyukai idolanya. Penggemar obsesif atau yang biasanya disebut ssasaeng di Korea Selatan ini menggunakan cara stalking atau menguntit idola dengan menunggu di depan rumah atau agensi. Mereka juga melacak penerbangan hingga memesan bangku di samping idolanya (Sari, 2020).
Saat seseorang menyukai selebriti dan menjadikannya fokus utama dalam hidupnya, hal ini akan berakibat terbentuknya delusi hubungan sepihak antara dirinya dengan selebriti pilihan mereka yang mengarah ke obsesi virtual (Maltby, Houran, &
McCutcheon, 2003). Perilaku obsesi terhadap selebriti ini kerap disebut dengan celebrity worship (Ang & Chan, 2018).
B. DEFINISI
a) Celebrity Worship Syndrome
Celebrity Worship Syndrome adalah keterikatan yang ektrim pada seorang selebriti. Sindrom ini telah digambarkan sebagai gangguan obsesif-adiktif, yang di mana seorang individu dapat menjadi terlalu terlibat dan tertarik bahkan sepenuhnya terobsesi dengan detail kehidupan pribadi seorang selebriti.
Bukan hanya selebriti yang terjun dalam dunia hiburan saja yang bisa menjadi objek dari obsesi sindrom ini, namun biasanya seseorang dari dunia hiburan seperti dunia televisi, film, atau penyanyi cenderung lebih sering menjadi obsesi. Menurut Singh & Banerjee (2018) aspek dalam celebrity worship dibagi menjadi 3 komponen, yaitu:
1) Aspek Entertaiment-Social, penggemar biasanya menggunakan media sosial atau internet untuk mencari informasi tentang idola mereka dan mengikuti akun selebriti 5 atau akun fandom selebriti mereka, mereka juga biasanya membicarakan idolanya dengan teman-temannya;
2) Aspek Intense Personal Feeling, dalam aspek ini pola pikir penggemar bahwa selebriti idola mereka adalah bagian dari dirinya, sehingga para penggemar selalu memikirkan idola selebritas mereka. Selain itu, penggemar juga perlu mencari informasi yang mendalam tentang selebriti idola mereka, mulai dari informasi yang umum diketahui oleh banyak penonton hingga informasi pribadi tentang selebriti idola mereka;
3) Aspek Borderline Pathogical, dalam hubungan antara fans dan selebriti idola, aspek ini sudah memasuki level paling ekstrim. Perilaku ini ditandai dengan perilaku tidak terkendali, serta fantasi penggemar tentang alur cerita buatan sendiri dan cerita yang melibatkan idola. Pada level inilah para penggemar bersedia melakukan apa saja untuk selebriti idola mereka.
Oleh karena itu, pada level ini dapat dikatakan bahwa pemikiran para pengagum selebriti tidak terkendali dan seringkali tidak rasional.
b) Fangirl/Fanboy
Selain fandom, penggemar wanita juga lebih sering disebut fangirl dan penggemar laki-laki disebut fanboy. Fangirl/fanboy merupakan julukan untuk sekumpulan penggemar yang memiliki dedikasi yang tinggi pada idolanya bahkan menjadi terobsesi dengannya. Idola yang dimaksud bisa merupakan seseorang yang nyata, maupun karakter fiksi. Namun biasanya sebutan ini identik dengan para pecinta dunia hiburan ataupun public figure dari luar dunia hiburan. Pengertian fangirl dan
fanboy yang luas seperti ini kemudian membuat publik lebih mengerucutkannya sebagai sekumpulan fans yang terdiri dari penggemar yang menyukai solois maupun grup musik, contohnya seperti boyband dan girlband.
C. PEMBAHASAN
a) Kondisi dan ciri-ciri seseorang yang mengalami celebrity worship
Celebrity worship syndrome memiliki sisi positif dan sisi negatif, meski cenderung dianggap negatif sindrom ini dapat dilihat dari segi positifnya seperti karya yang dihasilkan dari seorang artis, ia kemudian terpacu untuk berkarya juga atau ketika idolanya membantu orang lain, maka ia akan ikut membantu juga meskipun pada kenyataannya ia tidak tahu betul dengan kondisi asli atau apa yang tengah terjadi sehingga ia memilih untuk membantu satu hal atau orang tadi.
Itu semua terjadi karena semata-mata ia hanya ingin mengikuti apa yang dilakukan oleh sang idola.
Sedangkan poin negatif dari celebrity worship syndrome akan terjadi apabila fans sudah memiliki keinginan untuk dapat memiliki idola secara utuh. Ini juga menjadi berbahaya ketika penggemar ini sudah beranggapan bahwa dia adalah satu-satunya orang yang dibutuhkan oleh idolanya.
Ia telah larut dalam pemikiran-pemikiran yang melewati batas normal seseorang yang mengidolakan seseorang. Kita pun bisa merekayasa dalam pikiran kita bukan, apabila seseorang telah rela melakukan apapun untuk orang yang dia idolakan, maka ya kita dapat mengatakan bahwa seseorang tadi sudah terkena celebrity worship syndrome.
Berikut ini adalah ciri-ciri seorang fans yang telah mengalami celebrity worship syndrome:
1) Mulai mencari informasi lebih mengenai idolanya
Ketika sudah mencari tahu informasi yang sifatnya begitu personal seperti nomor telepon untuk dapat menelponnya. Memasuki ruang kehidupan pribadi seorang artis atau publik figur dan membuatnya merasa terganggu sudah bisa dipastikan bukan hal yang akan dilakukan oleh seorang fans yang masih berada dalam batas wajar.
2) Ingin mengetahui semua kegiatan yang dilakukan oleh idola
Sosial media dapat dijadikan sebagai alat penyalahgunaan oleh para orang yang mengalami celebrity worship syndrome untuk memantau segala bentuk aktivitas yang dilakukan oleh sang idola.
Salah satu indikator yang biasanya akurat dalam menandakan seseorang telah mengalami celebrity worship syndrome ini adalah kecemasan, panik, sedih, bahkan rasa marah yang berlebihan ketika tidak mendapatkan berita atau info terupdate dari sosok yang ia idolakan.
3) Berusaha untuk selalu dekat dengan idola
Tidak hanya dari media sosial, mereka juga akan berusaha untuk dekat di kehidupan nyata dengan sang idola. Mereka akan mengikuti jejak mereka ke manapun pergi. Bahkan, rela bolos sekolah atau kerja demi melihat langsung aktivitas dari sang panutan.
b) Teori
Remaja adalah proses peralihan dari masa anak-anak menuju ke masa dewasa, hal ini berlangsung dari usia 10-21 tahun (King, 2016). Menurut Santrock (2003) awal masa remaja terjadi di rentang usia 10- 12 tahun, dan berakir pada rentang usia 21-22 tahun. Sedangkan menurut Papalia & Feldman (2014) umur remaja di kisara usia 11 sampai 20 tahun.
Fenomena mengidolakan seseorang merupakan bagian dari karakteristik pada usia perkembangan remaja awal. Objek dari pengidolaan yang dilakukan oleh remaja biasanya orang-orang terkenal yang berasal dari dunia olahraga, hiburan, musik, politik dan agama. Selain dari sisi potitif dan sisi negatif celebrity worship ada tiga teori pokok yang dapat menjelaskan mengenai celebrity worship bagi seseorang, yaitu:
1) Teori Belajar Bandura
Melalui proses imitasi terhadap perilaku seseorang dapat memberikan pelajaran mana perilaku yang baik dan diterima oleh lingkungan sosial dan mana perilaku buruk dan dilarang. Hal tersebut dipelajari memlaui hasil observasi dari perilaku role model apakah perilaku tersebut dapat membuatnya dihukum atau diberi pujian.
2) Teori Identifikasi
Saat individu berada dalam krisis identitas, seprang remaja mengalami penderitaan karena ketidakyakinan mengenai perannya dimasa lalu dan masa depan (Erickson, 1968), dengan mengidentifikasi idola akan membantu individu tersebut untuk mencari informasi dan mempersiapkan dirinya dalam berperan sebagai orang dewasa.
3) Teori attachment (kelekatan)
Greene dan Adam-Price (1990) mendeskripsikan dua tipe utama kelekatan sekunder: romantic attachment dan identification attachment.
Orang yang memiliki kelekatan romantis akan memimpikan dirinya sebagai pasangan idolanya atau orang yang akan menjadi pasangannya dimasa depan sedangkan identifikasi attachment merujuk kepada orang- orang yang menjadikan idolnya sebagai perantara.
Hubungan satu arah antara fans dan idolanya disebut dengan parasosial. Parasosial merupakan hubungan yang diimajinasikan antar fans dengan sosok idola. Perilaku parasosial memiiki karakteristik satu arah yaitu kontrol pada artis idolanya, apapun yang dilakukan dan dikatakan oleh idolanya adalah stimulasi yang mengharuskan dirinya ntuk mengetahui informasi tersbut, tanpa peduli hal tersebut benar atau tidak. Dengan adanya pengalaman melalui media individu dapat merasakan hubungan yang benar-benar nyata, sehingga muncul perasaan hubungan layaknya ia sangat mengenal idolanya, baik itu latar belakang pribadinya, hobi, kepribadian, bahkan siapa saja orang yang berhubungan dengan idolanya (Horton & Wohl, 1995).
Selain teori dari Singh & Banerjee (2018) yang telah dijeaskan pada definisi, teori dari Maltby (2003) juga memiliki hubungan yang sama. Dalam memuja selebriti, penggemar K-pop seringkali melakukan fanwar contohnya seperti membanggakan idola dengan saling menjatuhkan idola lainnya atau menuduh idola lain memplagiat idola mereka dan saling merendahkan satu sama lain. Fenomena tersebut digolongkan pada tahap intense personal yang menggambarkan perasaan intens dan konpulsif seperti “Selebriti favorit saya sangat sempurna dalam segala hal” yang berarti penggemar tersebut akan membela idola mereka masing-masing karena didorong oleh perasaan bahwa idola merekalah yang paling sempurna. Hal itulah yang menyebabkan mereka cenderung tidak dapat melihat dari sudut pandnag orang lain.
Kemudian ada kasus dimana para penggemar berusaha melakukan kontak fisik dengan sang idola yang dapat mengakibatkan idola terluka atau celaka. Kasus ini dapat terjadi dikarenakan mereka berusaha untuk membuat idolanya mengetahui bahwa mereka ada dengan cara menyentuh, memegang atau mengerumuni idola hingga mengabaikan peraturan di mana mereka tidak diperbolehkan untuk melakukan kontak fisik yang
membuat idola merasa tidak nyaman.
Pada aspek lain, peneletian dari (Maltby, 2003) menunjukan bahwa tahap intense personal ini berkaitan dengan emosi seperti kecemasan dan depresi yang kemudian memberikan pemahaman tentang alasan mengapa pemujaan selebriti secara berlebihan akan berpengaruh buruk pada kesehatan mental individu tersebut. Seperti kasus dimana seorang fans merasa sangat terpukul ketika mengetahui bahwa idolanya telah meninggal dunia dan fans tersebut melakukan kasus percobaan bunuh diri akibat dari depresi yang ia derita. Kasus ini termasuk pada aspek borderline pathological yang mencerminkan perilaku fantasi tak terkendali mengenai idolanya seperti “Saya akan dengan senang hati memberikan dan mengorbankan nyawa saya untuk selebriti favorit saya”. Hal ini diartikan bahwa fans tersebut memiliki perasaan “memiliki” terhadap idolanya sehingga ia merasa bahwa sang idola adalah bagian terpenting dalam hidupnya maka dari itu fans tersebut merasakan luka sang idola dan terlarut dalam kesedihan setelah kehilangannya.
(Maltby, 2004) menemukan bahwa fleksibiltiitas kognitif berkolerasi negatif secara signifikan antara celebrity worship. Pada teori perkembangan kognitif Piaget mengatakan bahwa usia 17 tahun sampai 22 tahun lebih matang secara kognitif dibandingkan di usia sebelumnya, namun dalam kegiatan mengidolakan selebriti penggemar sering terlihat kurang berperilaku fleksibel dalam menghadapi situasi yang mengakibatkan bahaya bagi diri mereka dan orang lain. Penggemar K-pop sering menunjukan sikap dan karakteristik seorang fanatik dari sifat intoleransi terhadap orang lain atau ketika dihadapkan dengan situasi tertentu.
Pada perkembangannya remaja akan mengalami berbagai macam perubahan dalam hidupnya karena adanya masa peralihan dari masa kanak-kanak. Dalam menghadapi proses menuju dewasa, seorang remaja akan mengalami hambatan atau suatu masalah
kedepannya. Oleh karena itulah fleksibilitas kognitif membantu remaja untuk melewati perubahan-perubahan dalam hidupnya,
Dalam menggemari idolanya remaja penggemar K-pop sering melakukan perilaku yang kurang fleksibel dalam menghadapi suatu kedaan dan bagaimana menampatkan perilaku yang tepat untuk melewati masalah tersebut.
4) FAKTOR DAN PENYEBAB
Terdapat banyak faktor yang melatarbelakangi seseorang dalam melakukan pemujaan terhadap selebriti, faktor pertama adalah umur, pemujaan terhadap selebriti berkisar antara umur 11 tahun hingga 22 tahun semakin bertambahnya usia pemujaan terhadap selebriti akan berkurang dikarenakan seseorang yang berada dalam usia tersebut memiliki unsur ketertarikan yang tinggi.
Faktor kedua adakah keterampilan sosial, orang-orang yang kurang pandai dengan keterampilan sosialnya akan melihat celebrity worship sebagai pengisi kekosongan dalam hidupnya. Orang pemalu yang memiliki sedikit teman serta orang yang kesepian rentan memiliki hubungan parasosial dengan idolanya karena ubungan satu arah ini tidak memaksa mereka untuk mengalami tuntutan sosial seperti saat mereka berinteraksi pada umumnya.
Faktor berikutnya adalah jenis kelamin. Seorang laki-laki biasa mengidolakan seseorang dalam bidang olahraga namun tidak dipungkiri bahwa laki-laki juga dapat mengidolakan seseorang yang berasal dari dunia hiburan sama seperti para perempuan.
Dimana para penggemar biasanya menyukai boygroup, girlgroup, solois, atau aktor yang mendekati tipe ideal dari masing-masing penggemar.
Kemudian adanya faktor dimana kebanyakan individu menyukai penyanyi
berdasarkan karyanya yang berupa musik atau lagu yang dinyanyikan dengan pembawaan yang mengagumkan atau lirik lagu yang dinyanyikan dapat menyentuh dan mewakili perasaan para pendengar. (Brown, Raviv et al, 1995)
Pengaruh dari teman sebaya atau orang di sekiatr dapat menyebabkan seseorang dapat melakukan pemujaan terhadap selebriti juga.
Untuk proses dan penyebabnya dikarenakan ketika seorang individu mulai mengenal tokoh idolanya sejak saat masa pencarian identitas dalam perkembangan remaja.
Biasanya seorang remaha akan memilih sosok selebriti daripada tokoh lain untuk dijadikan contoh dalam eksperimen peran-peran yang berbeda. Karena dari seringnya terpapar informasi tentang sang idola semakin berjalannya waktu pada individu akan bertumbuh perasaan kagum dan saat pencarian informasi mengenai idola yang digemari akan tergolong pada entertainment social kemudian rasa kagum tersebut akan berkembang menjadi perasaan jatuh hati dan perasaan simpati terhadap sang idola ketika rasa simpati berubah menjadi rasa empati yang sangat tinggi barulah individu tersebut berkemungkinan besar akan melakukan perilaku yang mencakup aspek obsesif kompulsif dan bahkan delusional (Sheridan et al, 2007)
Dilansir pada Hypeabis.id (2021) membahas mengenai beberapa cara untuk mengurangi atau mengatasi sindrom celebrity worship ini. Diantaranya adalah:
1. Pahami tingkatan obsesi yang dialami beserta dengan dampak dan penyebabnya.
Jika yang ditiru adalah hal buruk, coba untuk hentikan perlahan-lahan.
2. Ketahui momen yang tepat untuk membantu teman, keluarga, atau rekan dengan melihat ke mana arah perilaku obsesi tersebut. Jika sudah mulai melihat adanya dampak buruk, coba untuk berikan pemahaman tentang perilaku tersebut.
3. Pastikan teman, keluarga, atau rekan dari Genhype paham tentang identitasnya agar tidak terjebak pada preferensi atau perilaku yang dilakukan selebriti yang disukainya. Jangan lupa juga ingatkan akan seberapa berharganya mereka di kehidupan mereka tanpa menyinggung idola mereka.
4. Libatkan diri lebih sering ke kehidupan teman, keluarga, atau rekan. Dengan partisipasi orang terdekat, perlahan mereka bisa mengenal kembali diri mereka beserta dengan berbagai kelebihan, kemampuan, serta mengalihkan mereka dari obsesinya.
E. PENUTUP
Perilaku yang dilakukan oleh para penggemar ini bermacam-macam dan masuk dalam kategori perilaku obsesif terhadap selebriti atau yang biasa disebut dengan celebrity worship sesuai dengan aspek-aspek penyembahan selebriti. Perilaku yang dialami oleh semua responden adalah pencarian informasi mengenai selebriti idola, ikut memiliki perasaan yang sama dengan apa yang dirasakan oleh idola, dan berimajinasi terhadap idolanya. Mereka memiliki imajinasi menjadi teman, kekasih dan datang di konser idola mereka. Beberapa dampak dari perilaku ini adalah mereka menjadi lebih boros dalam menggunakan uang dan tidak bisa mengatur waktunya dengan baik karena cenderung menggunakan waktunya untuk melihat idola. Dampak positifinya, mereka mengaku menjadi lebih bahagia, tidak mudah stres dan memahami budaya Korea. Salah satu alasan remaja menyukai genre musik K-pop dikarenakan musik dan videonya yang menarik baik secara visual maupun audio. pada tahap intense personal feeling penggemar beranggapan bahwa idolanya merupakan bagian dari kehidupan mereka, mereka dapat setiap hari memikirkan sang idola dan berusaha untuk selalu terlibat dalam kehidupan idola. Para penggemar tersebut juga merasa memiliki ikatan emosional dengan idolanya. Ketika
idola mendapat penghargaan, mereka ikut terharu. Ketika idola pergi untuk menjalani wajib militer, mereka akan merasa sedih dan mengkhawatirkan keadaan idolanya Keterikatan emosional antara penggemar dan idolanya ini dapat menimbulkan adanya rasa ingin memiliki pada diri penggemar, atau yang sering disebut dengan istilah bias is mine di kalangan penggemar K-Pop. Peran teman, keluarga, atau lingkungan dapat mempengaruhi bagaimana individu berperilaku baik itu dampak baik ataupun dampak buruknya. Untuk menghindari terjadinya sindrom ini sebaiknya para penggemar tetap mengingat waktu dan kewajiban agar tidak terlalu fokus dan terpaku pada kegiatan fangirling atau pun fanboying yang akan menyebakan bertumbuhnya perasaan obsesi yang dapat merugikan diri sendiri, idola yang digemari bahkan orang lain.
DAFTAR PUSTAKA
Ang, C. S., & Chan, N. N. (2018). Adolescents’ Views on Celebrity Worship: A Qualitative Study. Current Psychology, 37(1), 1-10. doi:10.1007/s12144-016-9497- 0 Anwar, C. R. (2018). Mahasiswa dan k-pop (studi interaksi simbolik k-popers di
Makassar). Jurnal Ilmu Komunikasi UPN Veteran Jatim, 1(1), 1-12.
Boon, S., & Lomore, C. (2001). Admirer: Celebrity relationships among young adults.
Explaining perceptions of celebrity influence on identity. Human Communication Research, 27(3), 432-465.
Brown, B. B. (1990). Peer Groups and Peer Culture. At The Threshold The Developing Adolscent.
Erikson, E. H. (1968). Identity: Youth and crisis. Oxford: Norton.
Greene, L: A., & Adam-Price. (1990). Adolescents Secondary Attachments to Celebrity Figures. Sex Röles. Vol (23).
Horton, D. &. (1956). Mass Communication and Parasocial Interaction: Observations on Intimacy at Distance. Psychiatry.
Jawa Pos. (2019, 13 Januari). Makin populer, tahun 2018 ada 89 juta penggemar Korea di
seluruh dunia. Retrieved from:
https://www.jawapos.com/entertainment/infotainment/13/01/2019/ makin-populer-
tahun-2018-ada-89-juta-penggemar-korea-di-seluruh-dunia/
King, L. A. (2016). Psikologi umum: Sebuah pandangan apresiatif (3 ed.). Jakarta:
Salemba Humanika.
Laurensia, F. (2021, Juni 14). Ini lho bahayanya sindrom celebrity worship & cara mengatasinya. Hypeabis.id: https://hypeabis.id/read/1273/ini-lho-bahayanya-sindrom- celebrity-worship-cara-mengatasinya
Makki, S. (2019, Februari 2). Bahaya di balik candu kpop. Retrieved from CNN Indonesia: https://www.cnnindonesia.com/hiburan/20190202171900-227- 365989/bahaya-di-balik- fenomena-candu-k-pop
Maltby, J., Day, L., McCutcheon, L. E., Martin, M. M., & Cayanus, J. L. (2004).
Celebrity worship, cognitive flexibility, and social complexity. Personality and individual differences, 37(7), 1475- 1482. doi:10.1016/j.paid.2004.02.004
Maltby, J., Houran, J., & McCutcheon, L. (2003). A clinical interpretation of attitudes and behaviours associated with celebrity worship. The journal of nervous and mental disease vol.191, 25-29.
Papalia, D. S., & Feldman, R. D. (2014). Menyelami perkembangan manusia. Jakarta: 18 Salemba Humanika.
Rizkya, E. (2019). Hubungan antara fleksibilitas kognitif dan pemujaan selebriti pada remaja pecinta K-pop. Skripsi
Sandy, A. G. , Risa, A , & Adinda, A.L (2021). Dinamika psikologis fangirl k-pop. Jurnal cognicia, article text.
Santrock, J. W. (2003). Adolescence: Perkembangan remaja. Jakarta: Erlangga
Sari, R. P. (2020, Mei 20). Sasaeng, penggemar kelewat batas yang bikin idol kpop
ketakutan. Retrieved April 13, 2021, from Kompas:
https://www.kompas.com/hype/read/2020/05/20/220941766/sasaengpenggemar- kelewat-batas- yang-bikin-idol-kpop-ketakutan?page=all
Sheridan, L., North, A., Maltby, J., & Gillett, R. (2007). Celebrity worship, addiction and criminality. Psychology, Crime and Law, 13(6), 559-571.
https://doi.org/10.1080/10683160601160653
Shofa, M. (2017). Gambaran psikologis celebrity worship pada dewasa awal (studi kasus mahasiswa penggemar korean pop). Skripsi
Singh, R. P., & Banerjee, N. (2018). Exploring the influence of celebrity worship on brand attitude, advertisement attitude, and purchase intention. Journal of Promotion Management, 0(0), 1-27.
Storey, J. (2006). Cultural studies dan kajian budaya pop: Pengantar komprehensif teori dan metode. (R. Laily, Ed.). Yogyakarta: Jalasutra.
Widjaja, A. K., & Ali, M. M. (2015). Gambaran celebrity worship pada dewasa awal di Jakarta. HUMANIORA, 21-28.
WowKeren. (2019, 23 Agustus). Inilah 10 negara dengan k-pop stan terbesar tahun 2019 berdasarkan data youtube, ada Indonesia? Retrieved from:
https://wowkeren.com/berita/tampil/00269788.html