Perjanjian waralaba berisi kumpulan syarat, ketentuan, dan komitmen yang diberikan dan diinginkan oleh pemberi waralaba kepada penerima waralabanya. Perjanjian waralaba memuat ketentuan mengenai hak dan kewajiban penerima waralaba, persyaratan lokasi, syarat pelatihan, biaya yang harus dibayarkan penerima waralaba kepada pemberi waralaba, ketentuan mengenai jangka waktu perjanjian waralaba dan perpanjangannya, serta hal-hal lain. ketentuan tentang hubungan antara franchisor dan franchisee. Dalam § 5 UU No. 42 Tahun 2007, perjanjian waralaba sekurang-kurangnya memuat klausula sebagai berikut: a) Nama dan alamat para pihak, b) Jenis hak atas kekayaan intelektual, c) Kegiatan usaha, d) hak dan kewajiban pihak pihak, e) bantuan fasilitas, bimbingan operasional, pelatihan dan pemasaran yang diberikan pemberi waralaba kepada pemberi waralaba, f) bidang usaha, g) jangka waktu perjanjian, h) tata cara pembayaran ganti rugi, (h) kepemilikan, perubahan kepemilikan dan hak atas ahli waris, i) penyelesaian sengketa; .. dan j) tata cara perpanjangan, pengakhiran dan penutupan perjanjian.
Dari sudut pandang hukum ekonomi syariah, akad waralaba termasuk dalam kelompok syirkah (kemitraan), dan hukumnya boleh.
PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Waralaba didefinisikan sebagai hak khusus yang dimiliki oleh orang perseorangan atau perusahaan terhadap suatu sistem usaha dengan ciri khas usaha untuk tujuan pemasaran barang dan/atau jasa yang terbukti berhasil dan dimanfaatkan dan/atau digunakan oleh pihak lain berdasarkan waralaba. perjanjian. Perjanjian waralaba memuat ketentuan mengenai hak dan kewajiban penerima waralaba, persyaratan lokasi, syarat pelatihan, biaya yang harus dibayarkan penerima waralaba kepada pemberi waralaba, ketentuan mengenai jangka waktu perjanjian waralaba dan perpanjangannya, serta hal-hal lain. ketentuan tentang hubungan pemberi waralaba dan penerima waralaba .8. Oleh karena itu, perjanjian waralaba yang dibuat oleh para pihak (franchisor dan franchisee) berlaku sebagai hukum bagi mereka.9.
Ini diperlukan sebagai satu bentuk perlindungan kepada kedua-dua pihak yang terlibat dalam perjanjian francais.13 Hal ini sesuai dengan asas bertulis (kitabah) yang dinyatakan dalam Q.S.
Pertanyaan Penelitian
- Manfaat Penelitian
Penelitian Relevan
Penelitian Hagai Prima Nugrah berjudul “Perlindungan hukum terhadap franchisee pada saat pemutusan perjanjian franchise”. Bedanya, tesis Hagai Prima Hugrah berfokus pada perlindungan hukum terhadap franchisee jika terjadi pemutusan perjanjian franchise oleh franchisor. franchisor) sementara itu akan dalam penelitian yang akan kita kaji lebih detail. 18 Hagai Prima Nugraha, “Perlindungan Hukum Waralaba Atas Pengakhiran Perjanjian Waralaba,” di http://e-journal.uajy.ac.id/133/, diakses 10 Mei 2018.
Sedangkan penelitian yang akan ditinjau lebih menitikberatkan pada perjanjian waralaba berdasarkan hukum positif dan hukum Islam.
Metode Penelitian
- Jenis dan Sifat Penelitian a. Jenis Penelitian
- Sumber Data
- Teknik Pengumpulan Data
- Teknik Analisis Data
Berdasarkan beberapa penelitian sebelumnya di atas dapat diketahui bahwa penelitian tentang kontrak bisnis waralaba berdasarkan hukum positif dan hukum Islam telah banyak diteliti di Indonesia, namun penelitian ini lebih difokuskan pada kontrak waralaba berdasarkan hukum positif dan hukum Islam. 13. didasarkan pada teori atau konsep umum yang digunakan untuk menjelaskan sekumpulan data atau untuk menunjukkan perbandingan atau hubungan antara sekumpulan data dengan sekumpulan data lainnya. Materi tersier adalah materi yang mendukung materi primer dan sekunder.26 Materi tersier dalam penelitian ini meliputi kamus dan materi dari internet terkait akad bisnis waralaba menurut hukum positif dan hukum Islam.
Berdasarkan uraian di atas, dalam penelitian ini analisis data diambil dari bahan-bahan yang ada di perpustakaan, baik undang-undang maupun buku-buku yang berkaitan dengan perjanjian waralaba menurut hukum positif dan hukum Islam.
Bisnis Waralaba (Franchise)
- Pengertian Bisnis Waralaba (Franchise)
- Jenis-jenis Bisnis Waralaba (Franchise)
- Karakteristik Bisnis Waralaba (Franchise)
Berdasarkan uraian di atas dapat dipahami bahwa usaha waralaba adalah usaha dengan pemberian hak yang diberikan oleh pemberi waralaba kepada penerima waralaba untuk beroperasi sesuai dengan ketentuan dan peraturan yang berlaku. Berdasarkan uraian di atas dapat dipahami bahwa ciri-ciri bisnis franchise adalah ada franchisor, ada franchisee, dan bisnis franchise itu sendiri. Berdasarkan uraian di atas dapat dipahami bahwa keuntungan dari bisnis waralaba adalah terciptanya kemitraan yang saling menguntungkan, manajemen bisnis yang baik, dukungan dan keamanan yang terjamin, keuntungan yang lebih besar dan kemungkinan kerugian yang kecil.
Berdasarkan uraian di atas, dapat dipahami bahwa kelemahan bisnis waralaba adalah modal awal (investasi) yang besar, durasi kontrak, dan kemungkinan terjadinya konflik besar.
Perjanjian Bisnis
- Pengertian Perjanjian Bisnis
- Syarat Sahnya Perjanjian Bisnis
- Asas-Asas Perjanjian Bisnis
- Prosedur Perjanjian Bisnis Waralaba
- Model Perjanjian Bisnis Waralaba
- Kekuatan Hukum Perjanjian Bisnis Waralaba
Asas kepastian hukum (pacta sunt servanda) adalah suatu perjanjian yang dibuat secara sah oleh para pihak mengikat para pihak sepenuhnya sesuai dengan isi perjanjian. Mengikatnya sepenuhnya pada perjanjian yang dibuat oleh para pihak menurut hukum kewenangannya dianggap sama dengan kekuatan mengikat suatu undang-undang. Berdasarkan uraian di atas dapat dipahami bahwa asas kepastian hukum berarti bahwa setiap orang yang mengadakan perjanjian wajib memenuhi perjanjian itu karena perjanjian itu mengandung janji-janji yang harus dipenuhi dan janji-janji itu bersifat mengikat para pihak sebagai mengikat. . dalam hukum.
Hal-hal yang diatur oleh peraturan perundang-undangan bersifat ketat untuk dipatuhi oleh para pihak dalam perjanjian waralaba. Jika para pihak mematuhi semua peraturan ini, tidak akan ada masalah dalam pelaksanaan perjanjian bisnis waralaba. Hal-hal yang diatur oleh undang-undang dan peraturan harus dihormati oleh para pihak dalam perjanjian waralaba.
Mengenai perjanjian bisnis waralaba, untuk mencapai tujuan perdamaian diperlukan suatu perangkat hukum yang dapat secara adil membentuk keseimbangan antara para pihak dalam bisnis waralaba yang dilakukan berdasarkan perjanjian bisnis waralaba. Agar memiliki kekuatan hukum yang kuat, pemberi waralaba dan penerima waralaba harus mematuhi tata cara para pihak dalam perjanjian bisnis waralaba sesuai PP No. Perjanjian waralaba dibuat oleh Pemberi Waralaba yaitu untuk menjamin keseimbangan para pihak dalam kontrak waralaba dalam Pasal 5 ayat (3) Peraturan Menteri Perdagangan No.
Dengan kata lain, menyesuaikan dan menyesuaikan hal-hal yang disampaikan oleh pemberi waralaba dalam prospektus penawaran waralaba (khususnya yang berkaitan dengan hak dan kewajiban para pihak) terhadap hal-hal yang tercantum dalam perjanjian waralaba diatur. Berdasarkan uraian di atas, dapat dipahami bahwa berkenaan dengan kekuatan hukum suatu perjanjian bisnis waralaba, antara pemberi waralaba dengan penerima waralaba harus mengikuti tata cara para pihak dalam perjanjian bisnis waralaba menurut PP No.
Perjanjian Waralaba dalam Hukum Positif
- Perjanjian Waralaba Pasal 5
- Ketentuan yang Harus Ada dalam Perjanjian Waralaba
88 Pasal 6 Permendagri Nr. 07/M-DAG/PER 2/2013 Tentang Pengembangan Kemitraan Waralaba Untuk Jenis Usaha Perhotelan, 5. 90 Lampiran II Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia No. konsep hak kekayaan intelektual. Pemberi Waralaba dan Penerima Waralaba hanya dapat melakukan usaha terbatas pada izin usaha yang dimilikinya.
Biaya ini biasanya dibebankan kepada franchisee untuk layanan awal yang dilakukan atau disediakan oleh franchisor.97. Berdasarkan uraian di atas dapat dipahami bahwa franchisor berhak menerima royalty atau royalti dari franchise. Sedangkan franchisee berhak menggunakan hak kekayaan intelektual atau karakteristik bisnis yang dimiliki oleh franchisor.
Berdasarkan uraian di atas, jelaslah bahwa pemberi waralaba berkewajiban untuk membimbing penerima waralaba dalam bentuk pelatihan, manajemen, dan bimbingan operasional. Penting bahwa periode ini disepakati antara pemberi waralaba dan penerima waralaba sehingga batas waktu untuk memulai dan mengakhiri kontrak waralaba jelas. Berdasarkan uraian di atas, jelas bahwa jangka waktu perjanjian waralaba diperlukan bagi kedua belah pihak.
Berdasarkan uraian di atas, dapat dipahami bahwa pembayaran ganti rugi dalam perjanjian waralaba merupakan tanggung jawab penerima waralaba sebagai bentuk perlindungan penerima waralaba terhadap kesewenang-wenangan. SAYA. Dari uraian di atas dapat dipahami bahwa kepemilikan, perubahan kepemilikan dan ahli waris harus disepakati secara jelas pada saat perjanjian waralaba dibuat.
Perjanjian Waralaba dalam Hukum Islam
Perjanjian waralaba bisnis harus disusun dengan hati-hati agar kemitraan bisnis yang dilakukan menguntungkan kedua belah pihak secara seimbang. Berdasarkan pengertian di atas dapat dipahami bahwa perjanjian waralaba termasuk dalam perjanjian syirkah kadren karena adanya kerjasama yang bertujuan untuk mendapatkan keuntungan bagi kedua belah pihak. Dalam perjanjian waralaba, pihak yang bekerjasama adalah pemberi waralaba dan penerima waralaba. franchisee), sedangkan modal franchisor adalah hak intelektual berupa nama perusahaan, logo, sistem dan metode yang dimiliki dan dikembangkan oleh franchisor.
Perjanjian waralaba adalah akad, oleh karena itu untuk pembuatan akad atau perjanjian dalam Islam harus dipenuhi 4 (empat) rukun, yaitu: a) pokok akad (al-akidejn); b) pernyataan wasiat (shighat al-aqd); c) obyek akad (mahalul 'akd); dan tujuan akad (meudhu'ul 'akd) 121. 121 Norman Syahdar Idrus, “Aspek Hukum Perjanjian Waralaba (Franchise) Dalam Perspektif Hukum Perdata dan Hukum Islam”, dalam Jurnal Yuridis, (Jakarta: Fakultas Hukum di Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta), vol. Perjanjian waralaba adalah perjanjian yang isinya memberikan hak dan wewenang tertentu kepada penerima waralaba.
Perjanjian bisnis waralaba adalah perjanjian timbal balik karena baik pemilik waralaba maupun penerima waralaba terikat untuk memenuhi tonggak tertentu. Hal ini diperlukan sebagai bentuk perlindungan bagi kedua belah pihak yang terlibat dalam perjanjian waralaba. :127. Perjanjian waralaba mencakup hak untuk menggunakan dan/atau menggunakan hak atas kekayaan intelektual atau penemuan atau karakteristik suatu usaha atau waralaba dengan imbalan berdasarkan ketentuan dan/atau penjualan barang dan/atau jasa.
Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa sistem waralaba tidak bertentangan dengan hukum Islam, selama tujuan perjanjian waralaba bukan merupakan sesuatu yang dilarang dalam hukum Islam (misalnya: usaha penjualan makanan atau minuman yang haram), maka dengan sendirinya perjanjian itu batal menurut hukum Islam karena bertentangan dengan hukum Islam. Berdasarkan uraian di atas dapat dipahami bahwa perjanjian waralaba tidak bertentangan dengan hukum Islam, tetapi para pihak yang akan membuat perjanjian bisnis waralaba harus selalu berpedoman pada tujuan ekonomi Islam yaitu maslahah, dengan mencari segala aktivitasnya. untuk mencapai hal-hal yang bermanfaat bagi orang banyak.
PENUTUP
Kesimpulan
Saran
Aspek Hukum Perjanjian Waralaba dalam Perspektif Hukum Perdata dan Hukum Islam, dalam Jurnal Yuridis. Perlindungan hukum bagi penerima waralaba atas berakhirnya perjanjian waralaba, dalam http://e-journal.uajy.ac.id/133/. Pemenuhan hak dan kewajiban berdasarkan kesepakatan para pihak dalam kontrak menurut KUH Perdata, dalam Lex Crimen Vol.