• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perkembangan Bahasa pada Bayi

N/A
N/A
Nadia Hasna

Academic year: 2024

Membagikan "Perkembangan Bahasa pada Bayi"

Copied!
27
0
0

Teks penuh

(1)

Perkembangan Bahasa pada Bayi

Martha Christianti

(Ringkasan dari buku Beverly Otto)

(2)

Konteks Komunikasi Awal

• 2 Pola-pola interaksi utama dalam komunikasi, yaitu;

1.

Kontak mata/berbagi rujukan yang sama

2.

Perputaran komunikasi, seperti; berbicara, mendengarkan,

merespons perilaku nonlisan bayi. (proses memperoleh perhatian bayi dan mempertahankan perhatian tersebut penting untuk

menciptakan terjadinya pertukaran linguistik).

(3)

Konteks Komunikasi Awal

• Fokus pada makna dalam interaksi awal

Perilaku respons dan ujaran lisan yang spontan pada bayi memiliki makna.

Perbedaan tingkat pembelajaran kata berhubungan dengan tingkat keseringan percakapan orang tua kepada anak, beragam kata yang digunakan, dan bagaimana kata-kata baru ditampilkan.

• Pentingnya tanggapan orang dewasa

Tingginya tingkat tanggapan orang tua berhubungan dengan

keberlanjutan pemahaman anak-anak terhadap percakapan (bahasa reseptif).

(4)

Perkembangan Fonetik pada Bayi

A.

Pengetahuan reseptif fonetik pada bayi

• Daya pemahaman bunyi pada bayi diteliti melalui perbedaan ritme jantung,

pengisapan, pandangan mata dan tolehan

kepala, serta gelombang otak.

(5)

Tahapan pengetahuan reseptif fonetik Bayi

Dalam Uterus

Fetus dapat menerima bunyi mulai usia kehamilan 25 minggu.

Usia kehamilan 35 minggu, tingkat ketajaman pendengaran fetus hampir setingkat dengan orang dewasa.

Dalam masa kelahir an

Bayi dapat menerima perbedaan bunyi.

Bayi usia 4 hari lebih menyukai bunyi manusia

dibanding bunyi lain yang ada dilingkungannya. .

(6)

Masa Bayi Awal

(Peran prosidi

yaitu nada, tingkat

kekerasan, tempo,

ritme ujaran)

Bayi menunjukkan pilihannya terhadap ciri-ciri bunyi yang ditemukan dalam ujaran ibunya ketika mengandung dibandingkan ujaran yang tidak familiar yang tidak diucapkan ketika bayi masih dalam

kandungan.

Usia 1 bulan bayi mampu membedakan bunyi-bunyi spesifik (fonem).

Usia 2 bulan bayi mampu mendeteksi perubahan dalam fonem ketika fonem itu menjadi bagian dari kalimat-kalimat pendek dibandingkan jika fonem itu ada dalam daftar kata.

Usia 5 bulan bayi mengenali dan mengkategorikan fonem yang sama tanpa menghiraukan perbedaan pembicara dan intonasinya, dan

membedakan antara urutan kata.

Masa Bayi

Akhir

Usia 8 dan 10 bulan, bayi mulai menaruh perhatian lebih pada perbedaan bunyi-fonem yang ada dalam bahasa ibu mereka.

Bayi kurang menaruh perhatian atau bahkan tidak memperhatikan perbedaan bunyi-fonem yang ditemukan dalam bahasa lain.

Peran Prosidi dalam daya pemahaman bahasa bayi.

Prosidi yaitu; nada, tingkat kekerasan, tempo, ritme ujaran.

Motherese yaitu ujaran yang diarahkan pada anak seperti memiliki intonasi yang berlebihan dan artikulasi yang jelas.

(7)

B. Pengetahuan Ekspresif Fonetik pada Bayi

Produksi bunyi ujaran bayi dibatasi belum matangnya fisiologi bayi.

Produksi ujaran memerlukan koordinasi sistem saluran suara yaitu; pangkal tenggorokan, batang tenggorokan, langit-langit

bagian depan dan belakang, rahang, bibir dan lidah; dan pernafasan perlu dikoordinasikan dengan pita suara sehingga bisa memiliki

udara yang cukup untuk memproduksi ujaran.

Produksi uajaran dan pola bunyi dipengaruhi oleh kematangan dan perkembangan sistem saraf di otak.
(8)

• Bayi baru lahir pangkal tenggorokan masih tinggi dan

dekat rongga mulut, lidah secara proporsional lebih lebar dari lidah pada orang dewasa. Sistem saluran suara pada bayi sangat kecil.

• Usia 4 bulan pertama, kurva saluran suara pada bayi berubah dari bentuk yang miring menjadi melengkung

seperti orang dewasa. Pada usia ini memungkinkan untuk memproduksi berbagai jenis pola bunyi.

• Usia 1 tahun alat-alat sistem ujaran mulai matang, bayi

memiliki kontrol terhadap mekanisme ujaran dan mulai

berbicara.

(9)

Tahapan pengetahuan fonetik ekspresif bayi

Vokalisasi awal terbagi dua yaitu;

1. Vokalisasi reflektif yaitu berasal dari keadaan fisik bayi, misalnya; menangis, batuk, cegukan.

2. Vokalisasi nonreflektif yaitu mendekut, dan mengoceh.

Usia 6 sampai 8 minggu, bayi secara spontan memproduksi bunyi mendekut.

Bunyi mendekut merupakan bunyi vokal yang panjang seperti ooo, ahh, eee, dan aaa, dan biasanya.

Tahap mendekut penting karena bayi mulai memainkan lidah dan mulutnya untuk menghasilkan bunyi.

Bunyi ini menggunakan produksi ujaran yang kurang kompleks karena tidak melibatkan bibir dan gigi (konsonan seperti bunyi b, p, t, m, dan c).

Rangkaian bunyi tidak diucapkan dalam cara ritmis, dan tidak memiliki bentuk intonasi yang jelas.

Kegiatan mendekut diikuti dengan masa permainan vokal (vokalisasi berbagai konsonan dan vokal dan beberapa aspek artikulasi dan berbagai variasi hari ke hari)

(10)

• Mengoceh. Usia 4 sampai 6 bulan bayi mulai mengoceh.

• Mengoceh melibatkan produksi bunyi konsonan-vokal dalam beragam intonasi namun kurang bervariasi dan memiliki tingkat keseringan yang tinggi.

• Bunyi yang diulang seperti ba-ba-ba-ba.

• Bunyi yang dihasilkan pada saat mengoceh awal

menunjukkan perbedaan fonemik pada bayi dengan

budaya yang berbeda.

(11)

Ocehan yang berulang-ulang atau jargon atau ocehan berirama terjadi pada usia 8 sampai 10 bulan tampak seperti gema ritme dan bunyi ujaran orang dewasa dalam lingkungan anak.

Ocehan ini terdengar seolah-olah bayi sedang bercakap-cakap dengan seseorang.

Eskplorasi dan produksi bunyi vokal pada bayi disertai dorongan dari keluarga bayi atau pengasuh bayi. Penguatan selektif yaitu keluarga atau pengasuh meniru bunyi baru yang didengar dari produksi bunyi bayi yang berbeda.

Usia 11 sampai 12 bulan, bayi mulai memproduksi ujaran yang mirip kata dengan pola bunyi yang secara keseluruhan konsisten.

Usia 11 bulan bayi sudah mulai mempproduksi bunyi ekspresif dan beragam intonasi yang diucapkan ibunya selama interaksi membaca buku bergambar secara mandiri.

(12)

Perkembangan Semantik pada Bayi

Hubungan awal antara ujaran dan artinya.

• Interaksi awal orang tua dan bayi terjadi sebagai respon dari tangisan bayi.

• Ada 3 jenis tangisan bayi dibedakan dari nada, ritme dan intensitasnya yaitu:

1. Tangisan biasa

2. Tangisan marah

3. Tangisan kesakitan

Tangisan “berarti” sesuatu.

(13)

Perkembangan Konsep dan

Pengetahuan Reseptif Semantik

Anak mengembangkan semantiknya melalui pengalamannya dalam berbagai konteks lingkungan yang membantu perkembangan konsep.

Konsep pertama yang dipelajari anak menunjukkan benda-benda, orang, atau tindakan penting dalam suatu budaya.

Anak mengembangkan ide, gagasan, mengenai berbagai rangsangan seperti benda, tindakan, atau fenomena lainnya mirip, berbeda, atau saling berhubungan melalui pangalamannya.

Ketika anak memproses informasi secara kognitif, anak mengkategorisasi rangsangan dalam kelompok konseptual yang abstrak atau skemata.

Pengetahuan konsep berkembang sebelum penamaan (kata-kata) bahasa dilekatkan ke dalam konsep tersebut.

(14)

2 jenis pengalaman yang memfasilitasi perkembangan konsep dan semantik, yaitu;

1. Pengalaman langsung terjadi sejak lahir, begitu bayi mengalami pengalaman dengan benda-benda dan kejadian dalam dunianya sebagai partisipasi

langsung-memegang, merasakan, membaui, melihat, dan mendengar.

2. Pengalaman yang dilakukan oleh orang lain (tidak langsung) yaitu

terjadi ketika anak-anak berinteraksi dengan konsep melalui representasi visual (seperti gambar atau tulisan) atau melalui gambaran lisan tanpa rujukan yang ditampilkan secara langsung, misalnya mendengarkan pembacaan buku.

(15)

Pengalaman efektif dan perkembangan konsep.

Konten emosional atau maksud fungsional interaksi linguistik juga berkontribusi pada perkembangan konsep.

Ikatan emosional yang dimiliki anak dengan orang tua atau orang dewasa lainnya memberikan konteks motivasional untuk mengembangkan konsep dan kata-kata yang berhubungan dengan situasi kondisi di dekatnya.

Interaksi harus menyenangkan dan saling timbal balik untuk memotivasi anak memperoleh simbil yang diucapkan sehingga memungkinkan

terjadinya komunikasi.

(16)

Pembentukan simbol merupakan menggabungkan bunyi ujaran dengan maksudnya (penamaan dengan benda dan tindakan di

lingkungan).

Empat komponen dalam pembentukan simbol yaitu;

1.

Penunjuk (orang tua atau anak yang lebih dewasa)

2.

Orang yang diberi petunjuk (anak-anak)

3.

Benda atau rujukan

4.

Bentuk simbolis yang menunjukkan rujukan (kata atau bahasa tubuh).
(17)

Tahapan pembentukan konsep terhadap simbol

Tahap

1 Tahap 2

Tahap

3

(18)

• Usia 8 sampai 12 bulan, bayi sudah bisa memahami sejumlah kata.

• Jumlah rata-rata kosakata reseptif bayi berusia 10 bulan adalah 50 kata.

• Tiga jenis interaksi utama dalam pembentukan simbol yang penting dalam perkembangan pengetahuan konseptual dan kosakata anak, yaitu;

1. Saling bergiliran (melibatkan seorang anak dalam interaksi yang mirip dengan percakapan, orang dewasa mendorong anak untuk mendekati

benda/tindakan dan merespon perilaku lisan pembicara, tindakannya, atau keduanya).

2. Kontak mata/saling berbagi rujukan yang sama (asosiasi antara nama (kata) dan rujukannya).

3. Pemetaan lisan (orang tua menggambarkan suatu kejadian yang sedang berlangsung atau suatu peristiwa pada anaknya/deskripsi lisan yang

diberikan orang tua).

(19)

Pengetahuan Ekspresi Semantik pada Bayi

Kata-kata awal yang diciptakan anak disebut protoword/idiomorphs.

Bayi menggunakan ujaran satu kata (tahap holofrasik).

Idiomorphs berkembang dari empat sumber yang berbeda yaitu;

1. Bunyi terpaksa yang menyertai bahasa tubuh yang dibutuhkan seperti aww, uhh..

2. Tiruan bunyi disekitarnya seperti bunyi kunci, mesin, dan hewan.

3. Bunyi tiruan sendiri yang terjadi secara alami dan kemudian diulang ketika menginginkan hasil tertentu, seperti “atoh” yang berarti bola itu jatuh.

4. Tiruan ujaran orang dewasa

(20)

• Pentingnya perkembangan idiomorphs yaitu karena;

1. Idiomorphs merupakan pola bunyi pertama pada anak yang konsisten dan memiliki rujukan yang relatif stabil.

2. Idiomorphs merupakan bukti kemampuan anak dalam menciptakan dan mengembangkan bahasa anak sendiri.

3. Orang tua dan guru yang belajar maksud idiomorphs

anak mendorong interaksi lisan anak sambil mempelajari

bahasa unik setiap anak.

(21)

Transisi dari idiomorphs ke kata yang lebih standar. Idiomorphs digabungkan dengan kata-kata orang dewasa untuk membuat kata majemuk, misalnya; moo mbek.

Anak berganti-ganti menggunakan idiomorphs dan bentuk kata orang dewasa untuk beberapa waktu lamanya.

Anak memiliki perbendaharaan kata merujuk pada orang dan hewan di lingkungan terdekat atau benda yang bisa dimainkan anak.

Anak mengenal kata benda lebih dahulu sebelum kata kerja.

Anak-anak menggunakan ujaran satu kata untuk mengekspresikan ide yang lebih kompleks karena satu kata disertai intonasi, penekanan, nada, atau ritme vokal yang berbeda.

Membaca buku cerita bergambar bersama dapat mengembangkan

pengetahuan semantik anak yang kemudian memunculkan kemampuan membaca dan menulis pada anak.

(22)

Perkembangan Sintaksis pada Bayi

• Perkembangan sintaksis pada bayi belum terlihat jelas.

• Berdasarkan penelitian bayi mampu mendeteksi perubahan pada urutan bunyi.

• Pengetahuan reseptif sintaksis pada anak terus berkembang selama masa bayi sejak mereka mengamati dan mulai

berpartisipasi dalam konteks komunikatif di sekitarnya.

• Bayi mengerti susunan kata dan peran frasa dalam

menentukan maksud suatu ujaran melalui prosidi.

(23)

Untuk mengembangkan pengetahuan reseptif sintaksis pada bayi, ujaran orang dewasa pada anak-anak lebih pendek dan tidak begitu kompleks tata bahasanya.

Ujaran orang dewasa tersebut biasanya berisi pengulangan, menggunakan lebih sedikit klausa subordinat, berisi lebih sedikit pengubah dan kata ganti, lebih banyak kata konten, dan lebih sedikit kata kerja.

Pengetahuan ekspresif sintaksis anak usia 1 tahun terlihat dengan ujaran satu kata, maka ujaran ibu menjadi lebih pendek dan fokus untuk memunculkan interaksi lisan anak.

Anak usia 2 tahun mencapai tingkat produksi lisan yang lebih tinggi, ujaran ibu kembali menjadi kompleks. (kepekaan ibu pada kemampuan linguistik anak dan ZPDnya).

Interaksi anak dalam pembacaan buku cerita mengembangkan pengetahuan sintaksis anak.

(24)

Perkembangan Morfemik pada Bayi

• Perkembangan aspek morfemik dipengaruhi oleh kesadaran fonemik.

• Bayi mendengarkan bahasa disekitarnya (lisan maupun tulis), mulai mengembangkan pengetahuan reseptif aspek perubahan arti pada morfem.

• Morfem infleksional yang perlu didengar bayi adalah kata

jamak, penanda kala waktu, kepemilikan.

(25)

Perkembangan Pragmatik pada Bayi

Bayi mulai mengekspresikan maksud komunikatif dalam bentuk nonlinguistik seperti ekspresi wajah, tatapan, dan bahasa tubuh.

Tahapan kemunculan bahasa tubuh untuk komunikasi pada bayi yaitu:

1. 7 sampai 8 bulan, bayi mulai menunjukkan benda-benda pada orang dewasa.

2. 9 bulan bayi meraih-raih dengan lengan terbuka.

3. 9 sampai 12 bulan, bayi menunjuk dan meraih untuk menarik perhatian orang dewasa.

4. 10 sampai 14 bulan, bahasa tubuh bayi menjadi lebih halus dan tepat, menambahkan vokalisasi pada bahasa tubuhnya.

(26)

Penggunaan bahasa tubuh untuk berkomunikasi

• Pada masa bayi akhir, anak-anak menggunakan bahasa tubuh untuk mengekspresikan dua jenis maksud yaitu;

1. Bahasa tubuh berupa menunjuk untuk mengindikasikan atau menarik perhatian pada sebuah benda.

2. Bahasa tubuh berupa meraih diasosiasikan dengan permintaan.

• Bahasa tubuh simbolis atau homesign digunakan bayi

sebelum memproduksi kata-kata seperti menghisap jari

menginginkan dot atau menari untuk memainkan radio.

(27)

Bayi menggunakan bahasa tubuh dengan maksud agar orang-orang disekitarnya memahami maksud komunikatifnya berarti bayi mulai mengembangkan kesadaran atau pemahaman mengenai bagaimana bahasa digunakan dan apakah hasil atau maksudnya telah terpenuhi.

Bayi mulai bergiliran dalam dialog. Giliran dialog ini berkontribusi terhadap pemahaman anak mengenai bagaiman bahasa digunakan dalam tujuan yang berbeda atau dalam maksud di konteks tertentu.

Membaca buku bersama memberikan kesempatan pada anak untuk

mengembangkan perasaan bagaimana bahasa mengekspresikan maksud komunikatifnya.

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini bersifat deskriptif yang bertujuan untuk mengetahui gambaran kasus kejadian gangguan perkembangan bicara dan bahasa pada bayi usia 0-12 bulan baik yang