PERMAINAN TRADISIONAL MAKAH-MAKAH DALAM MENGEMBANGKAN KECERDASAN INTERPERSONAL ANAK
USIA DINI
Gracia Mandira & Muhammad Usman Dosen Fakultas Agama Islam Universitas Serambi Mekkah Banda Aceh Email; [email protected]
ABSTRAK
Tradisional makah-makah merupakan salah satu permainan tradisional yang berasal dari provinsi Aceh. Permainan ini berjenis kompetisi dan dilakukan secara kolektif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengembangan kecerdasan interpersonal anak usia dini melalui permainan tradisional Makah-makah. Penelitian ini menggunakan desain Penelitian Tindakan Kelas (PTK) model Kemmis dan Taggart. Subjek penelitian ini adalah anak usia dini yang berusia 5-6 tahun. Pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa melalui permainan tradisional makah- makah terlihat adanya peningkatan perkembangan kecerdasan interpersonal anak yang ditandai dengan perkembangan siklus I dan siklus II. Pada awalnya, target pencapaian indikator tiga pada siklus I belum tercapai dikarenakan kurangnya waktu pada kegiatan inti.
Namun pada kegiatan siklus II perkembangan kecerdasan interpersonal anak berkembang sesuai harapan. Permainan tradisional makah-makah baik untuk diterapkan pada pembelajaran anak usia dini karena tidak hanya mengembangkan kecerdasan interpersonal, penerapan permainan ini juga merupakan sarana dalam melestarikan permainan tradisional yang mulai hilang dimasyarakat.
Kata kunci: Kecerdasan interpersonal, Anak Usia Dini, permainan tradisional Makah-makah
A. PENDAHULUAN
Anak usia dini adalah sosok individu yang menjalani suatu proses perkembangan dengan sangat pesat (W Khafidah & Fitriah, 2020). Setiap anak yang dilahirkan memiliki bakat dan kecerdasan yang berbeda-beda, walaupun dilahirkan kembar tetap akan terlihat perbedaannya. Howard Gardner mengemukakan sebuah teori yang disebut kecerdasan jamak (multiple intelligences). Terdapat sembilan aspek kecerdasan jamak yang dikemukakan oleh Howard Gardner, salah satu diantaranya adalah kecerdasan interpersonal atau disebut juga kecerdasan sosial.
Kecerdasan interpersonal terlihat dari kegembiraan seseorang dalam berteman, kesenangan dalam berbagai macam aktivitas sosial dan ketidaknyamanan dalam kesendirian. Salah satu strategi yang dapat dilakukan pendidik untuk mengembangkan kecerdasan interpersonal adalah dengan cara mengajak anak-anak bermain bersama teman yang mana hal tersebut mengajarkan anak bersosial, bersabar, saling membantu dan berbagi.
Sejalan dengan hal tersebut, penelitian ini berfokus pada pengembangan kecerdasan interpersonal anak melalui permainan yang mulai hilang pada masa kini yaitu permainan tradisional di taman kanak-kanak (TK). Seperti yang dinyatakan Rustam I Husain &
Hakop Walangadi (2021) kegiatan yang diberikan oleh guru yang tersusun dalam tema-tema kegiatan merupakan bagian pelestarian budaya suatu daerah di sekolah.
Saat ini permainan tradisional terlihat jarang ditemui dan tergantikan dengan berbagai permainan modern. Begitu banyak masyarakat terutama anak-anak yang mulai lupa dengan permainan
daerah mereka sendiri. Permainan modern memang banyak yang terbukti efektif untuk mengasah berbagai kecerdasan anak usia dini (Fitri & Suyadi, 2019), akan tetapi banyak juga permainan tradisional yang mampu mengasah berbagai kecerdasan anak, salah satunya adalah permainan tradisional Makah-makah. Permainan ini diwariskan turun temurun dari generasi ke generasi yang dimainkan oleh anak-anak Aceh. Permainan tradisional Makah-makah menjadi daya tarik bagi peneliti untuk meneliti lebih lanjut dalam mengembangkan kecerdasan interpersonal anak.
B. PEMBAHASAN
1. Kecerdasan Interpersonal
Setiap manusia diciptakan memiliki kecerdasan, namun kecerdasan satu manusia dengan manusia lain tidaklah sama tingkatannya. Faktor genetik, faktor dari dalam diri dan rangsangan yang diperoleh seseorang dari lingkungan bisa mempengaruhi tingkatan kecerdasannya, sehingga apabila kecerdasan dalam suatu bidang rendah, bisa jadi menonjol pada bidang yang lain. Menurut Howard Gardner (Syarifah, 2019) kecerdasan yaitu kemampuan dalam menyelesaikan masalah atau produk fesyen yang dinilai dalam satu atau lebih pengaturan budaya atau komunitas. Kecerdasan inilah yang menunjukkan bahwa manusia memiliki keunikannya masing-masing.
Perkembangan pola pikir pembelajaran di dunia pendidikan dari belajar sendiri sampai belajar secara kelompok menjadikan setiap peserta didik memiliki kepentingan untuk mengembangkan kecerdasan interpersonal. Sidqi Salsabilla & Ashif Az Zafi (2020) menyatakan bahwa kecerdasan interpersonal merupakan kemampuan
dalam memilah dan menyampaikan pemikiran, suasana hati serta perasaan orang lain dengan merespon sesuai kemampuan dan cara yang efisien.
Kecerdasan interpersonal disebut juga dengan kecerdasan sosial. Kecerdasan ini sangat baik bila dikembangkan sejak usia dini, mengingat anak usia dini sangat mudah menyerap pengetahuan yang diterimanya. Cici Ratna Sari, Sofia Hartati, & Elindra Yetti (2019) menyatakan bahwa kemampuan bersosial sangat dibutuhkan oleh anak usia dini dikarenakan perilaku sosial yang baik menjadikan anak mudah dalam beradaptasi dengan lingkungan baru.
2. Hakikat bermain bagi anak usia dini
Bermain dan permainan adalah suatu hal yang sangat dekat dengan dunia anak usia dini. Tidak ada anak yang tidak suka bermain, maka dari itu salah satu strategi pemberian rangsangan perkembangan yang baik untuk anak adalah melalui bermain.
Menurut (Pahlita Ratri Ramadhani & Puji Yanti Fauziah, 2020) selain dapat mengembangkan imajinasi dan kreativitas, bermain memungkinkan anak usia prasekolah untuk menjelajahi dan memahami lingkungan sekitarnya.
Wahyu Khafidah (2019) menyatakan bahwa perkembangan memiliki cakupan yang lebih kompleks dibandingkan dengan pertumbuhan. Kegiatan bermain dapat menstimulasi kecerdasan anak dan melibatkan berbagai aspek perkembangannya. Menurut Rustam I Husain & Hakop Walangadi (2021) bermain dapat menjadi sarana pemberian edukasi dan pengetahuan efektif bagi anak, serta memberikan kesempatan anak untuk mengaktualisasikan potensi yang ada dalam dirinya. Dari suatu permainan anak menjelajah dan
mencoba-coba segala sesuatu yang menjadi keingintahuannya secara menyenangkan.
Bermain adalah kegiatan yang tidak mengutamakan hasil akhir. Kegiatan ini dapat dilakukan seorang diri atau secara berkelompok, dengan alat atau tanpa alat permainan dan dapat berlangsung selama waktu tertentu. Muhammad Usman (2015) menyatakan bahwa anak-anak bereksplorasi beragam hubungan sosial dalam kegiatan bermain. Bermain secara berkelompok anak-anak membuat anak belajar mengenai nilai-nilai kehidupan seperti mengikuti aturan, menghargai orang lain, memiliki empati, toleransi dan kerja sama. Bermain dapat dimanfaatkan sebagai sarana dalam mendidik anak (Rustam I Husain & Hakop Walangadi, 2021).
Menurut Hidayatu Munawaroh (2017) permainan yang diberikan kepada anak tidak mementingkan mahal atau tidaknya, melainkan yang terpenting adalah keamanan dan kualitas yang mempertimbangkan usia, minat dan kreativitas anak. Permainan berkualitas tidak harus berasal dari bahan-bahan yang mahal dan canggih, permainan tradisional juga banyak yang berkualitas, bahkan mendekatkan anak dengan budaya dan tanah air.
Dahulu, bermain permainan tradisional merupakan kegiatan yang sangat sering dilakukan anak-anak. Pahlita Ratri Ramadhani &
Puji Yanti Fauziah (2020) menyatakan bahwa permainan anak-anak tradisional sering menggabungkan pengetahuan budaya, nilai-nilai dan keterampilan yang telah muncul dari waktu ke waktu melalui hubungan timbal balik antara komunitas tertentu dan lingkungan mereka. Namun seiring berjalannya waktu, permainan tradisional mulai hilang dan tergantikan dengan berbagai permainan modern.
Menurut Hidayatu Munawaroh (2017) salah satu penyebab semakin berkurangnya minat bermain permainan tradisional dari kehidupan anak adalah semenjak adanya televisi, game online dan video game.
Permainan tradisional yang ditemukan pada anak-anak maupun orang dewasa lebih banyak berupa permainan yang dilakukan secara berkelompok dimana kegiatannya dilakukan berdasarkan gerak tubuh seperti berlari, melompat, kejar-kejaran dan sembunyi-sembunyian. Permainan tradisional mengajarkan anak untuk kreatif dalam membuat dan mematuhi aturan permainan, perjanjian dan belajar jujur terhadap diri sendiri maupun orang lain (Cici Ratna Sari et al., 2019)
Permainan tradisional tidak hanya menyenangkan namun memberikan manfaat tersendiri bagi pemainnya. Cici Ratna Sari et al.
(2019) menyatakan bahwa selain memberikan hiburan, permainan tradisional menyimpan keunikan dan kesenian, dapat memberikan manfaat terhadap perkembangan anak, mengajarkan kerjasama tim dan olahraga. Permainan tradisional menstimulasi berbagai aspek kepada pemainnya.
3. Permainan tradisional Makah-makah
Permainan tradisional Makah-makah adalah salah satu permainan tradisional yang berkembang di provinsi Aceh dan dimainkan oleh anak-anak dari berbagai lapisan masyarakat, mulai dari rakyat biasa sampai bangsawan. Nama permainan tradisional makah-makah merujuk pada kata “Makkah” atau “Mekkah” yang merupakan kota tempat kiblat umat Islam diseluruh dunia berada.
Menurut Sufi (Safrizal, 2020) pemaknaan ini merujuk pada inti permainan tradisional makah-makah yang mana kedua regu dalam
permainan ini berlomba untuk mampu mencapai titik sasaran yang dinamakan “Makah”. Hal ini juga dipengaruhi oleh julukan Aceh sebagai Serambi Mekah yang mana serambi dapat diartikan sebagai bagian depan rumah. Untuk itu perlu untuk melewati Serambi Mekkah atau beranda depan Mekkah sebelum sampai ke Mekkah.
Permainan tradisional makah-makah bersifat kompetitif dimana pemain saling berlomba untuk menang serta memerlukan unsur kelihaian dalam menerka, hal inilah yang membuat pengembangan kecerdasan interpersonal melalui permainan ini sesuai. Menurut Cici Ratna Sari et al. (2019) anak tidak hanya dituntut mampu berinteraksi secara baik dengan orang lain, namun anak juga perlu untuk mengendalikan dirinya secara baik. Kedua hal ini secara tidak langsung terdapat dalam sistem permainan ini.
Dalam permainan ini, bagi regu yang paling cepat mencapai tujuan yang disebut “Makah-makah”, maka regu itulah yang menjadi pemenangnya. Nama “Makah-makah” sendiri, digunakan seolah-olah menjadi sasaran penting yang sangat didambakan seperti keinginan umat Islam untuk dapat menunaikan ibadah haji (menunaikan rukun Islam kelima di Mekkah). Jumlah pemain dalam permainan ini berkisar enam atau delapan orang. Jika enam peserta, maka regu tersebut dibagi dua yang mana masing-masing regu terdiri dari tiga orang dan apabila delapan peserta, maka setiap regu terdiri dari empat orang. Permainan ini biasanya dilakukan pada siang hari yaitu saat anak-anak telah pulang sekolah dan menunggu waktu makan siang, atau pada hari-hari libur.
Berdasarkan penjelasan di atas, permainan Makah-makah yang bersifat kompetitif ini hendak digambarkan oleh “pencipta
permainan” akan pentingnya seseorang untuk dapat mengapai cita- citanya. Untuk itu diperlukannya usaha baik dilakukan secara perorangan maupun bersama-sama supaya keinginannya dapat tercapai.
Terdapat banyak nilai budaya dan pesan moral dari permainan tradisional makah-makah. Safrizal, (2020) menyatakan bahwa permainan ini mengajarkan kekompakan pada masing-masing regu, melatih kepemimpinan khususnya bagi ketua regu serta menumbuhkan sikap saling percaya antara ketua regu dan anggotanya. Sementara itu, Jusmarita (2018) menambahkan bahwa permainan ini juga memungkinkan peserta untuk memecahkan permasalahan yang nyata serta meningkatkan kemampuan komunikatif yang bersifat luwes.
C. METODOLOGI PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan desain penelitian tindakan kelas (PTK). Menurut Suharsimi Arikunto, Suhardjono & Supardi (2014), penelitian tindakan kelas adalah suatu pencermatan terhadap kegiatan belajar yang diberikan dengan arahan guru berupa sebuah tindakan yang secara sengaja dimunculkan terjadi bersama tindakan tersebut di dalam kelas yang dilakukan oleh siswa. Penelitian tindakan kelas ini menggunakan model Kemmis dan Taggart yang terdiri dari empat komponen yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi (Johni Dimyati, 2013)
Subjek penelitian ini adalah anak usia 5-6 kelompok B dengan jumlah siswa 8 orang anak laki-laki dan 14 orang anak perempuan.
Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian
ini yaitu teknik observasi. Data hasil observasi pada lembar observasi yaitu pencatatan peningkatan kecerdasan interpersonal anak sebelum bermain, saat bermain dan setelah bermain permainan tradisional Makah-makah. Analisis data kegiatan bermain permainan tradisional makah-makah dianalisis menggunakan persentase yang dikemukakan oleh Hassan Suryono (2014) yaitu sebagai berikut:
Keterangan:
= Hasil presentase
= Jumlah siswa yang tuntas
= Jumlah frekuensi / banyak individu 100% = Bilangan tetap
Kecerdasan interpersonal anak meningkat apabila presentase hasil kegiatan meningkat pada hasil pengamatan berdasarkan kriteria sebagai berikut:
95% - 100% = Berkembang Sangat Baik (BSB) 85% - 94% = Berkembang Sesuai Harapan (BSH) 75% - 84% = Mulai Berkembang (MB)
0% - 75% = Belum Berkembang (BB)
Langkah bermain permainan tradisional Makah-makah dan indikator untuk perkembangan kecerdasan interpersonal anak yang disesuaikan dari indikator kecerdasan interpersonal Tadkiroatun Musfiroh (2008) yaitu sebagai berikut:
Tabel 1. Indikator Kecerdasan Interpersonal dan langkah bermain permainan Makah-makah
Indikator Kecerdasan Interpersonal
Langkah bermain permainan tradisional Makah- makah
Anak dapat bekerja sama dalam
kelompok.
4 Ketua regu menyembunyikan batu dibelakang punggung anggota regu
5 Anggota regu menerima batu dengan menunjukkan ekspresi seolah-olah tidak terjadi apa-apa
Anak dapat memahami aturan permainan.
4 Ketua regu menyembunyikan batu dibelakang punggung anggota regu
5 Anggota regu menerima batu dengan menunjukkan ekspresi seolah-olah tidak terjadi apa-apa
6 Regu lawan berdiskusi menebak batu dengan cara menerka-nerka ekspresi dan gerak-gerik regu yang ditebak
7 Saat tebakannya benar maka regu yang ditebak hanya diam ditempat. Jika tebakannya salah maka regu yang ditebak dapat maju selangkah kearah batu yang berada ditengah antara 2 kelompok
8 Regu yang berhasil mencapai batu yang berada ditengah memenangkan permainan Anak dapat
menjadi
pemimpin dan bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri maupun
kelompok.
3 Setiap regu menentukan ketuanya masing- masing
4 Ketua regu menyembunyikan batu dibelakang punggung anggota regu
8 Regu yang berhasil mencapai batu yang berada ditengah memenangkan permainan
Anak dapat bermain
dengan semua teman/tidak memilih teman.
1 Pemain membagi regu dengan cara hom pim pa
2 Pemain membentuk barisan secara berhadap- hadapan dengan regu lawan
3 Setiap regu menentukan ketuanya masing- masing
6 Regu lawan berdiskusi menebak batu dengan cara menerka-nerka ekspresi dan gerak-gerik regu yang ditebak
8 Regu yang berhasil mencapai batu yang berada ditengah memenangkan permainan Anak dapat
mengemukakan pendapat dengan temannya.
3 Setiap regu menentukan ketuanya masing- masing
6 Regu lawan berdiskusi menebak batu dengan cara menerka-nerka ekspresi dan gerak-gerik regu yang ditebak
Sumber: Adaptasi indikator kecerdasan interpersonal Tadkiroatun Musfiroh (2008)
D. HASIL PENELITIAN
Penelitian tindakan kelas (PTK) ini dilakukan di TK Islam Terpadu Al-Azhar Banda Aceh. Sistem pembelajaran yang digunakan adalah sistem sentra, yaitu kegiatan yang berpusat pada anak.
Penelitian tindakan kelas (PTK) ini dilakukan sebanyak dua siklus.
Kegiatan yang dilakukan dalam setiap siklus menjadi empat tahapan yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi hasil kegiatan yang telah dilakukan.
Hasil penelitian menunjukkan permainan tradisional Makah- makah dapat membantu mengembangkan kecerdasan interpersonal khususnya anak usia 5-6 tahun di TK IT Al-Azhar Banda Aceh. Pada data prasiklus, terdapat anak yang tingkat kecerdasan interpersonal rendah yaitu (60%) dari 22 orang anak, namun pada kegiatan siklus I pengembangan kecerdasan interpersonal berdasarkan indikator menunjukkan peningkatan berkembang sesuai harapan dan berkembang sangat baik pada indikator satu (kerjasama) yaitu (40,9%
& 27,2%), indikator dua (memahami aturan) yaitu (72,7% & 13,6%), indikator tiga (menjadi pemimpin dan bertanggung jawab) yaitu (13,6% & 9%), indikator empat (bermain dengan semua teman) yaitu (63,3% & 31,8%) dan indikator lima (mengemukakan pendapat) yaitu (36,3% & 54,5%).
Pada kegiatan siklus II anak sudah mulai memahami cara bermain permainan tradisional Makah-makah menunjukkan kekompakan sesama anggota regu. Anak mencapai indikator satu (kerjasama) berkembang sesuai harapan dan berkembang sangat baik sebanyak (50% & 36, 3%). Pada indikator dua (memahami aturan) sebanyak (68,1% & 22,7%), pada indikator tiga (menjadi pemimpin dan bertanggung jawab) sebanyak (54,5% & 18,1%), pada indikator empat (bermain dengan semua teman) sebanyak (63,6% & 36,3%) dan indikator lima (mengemukakan pendapat) sebanyak (50% & 50%).
Data hasil penelitian pada siklus I dan siklus II disajikan pada grafik dibawah ini.
Gambar 1. Grafik Perkembangan Kecerdasan Interpersonal Anak
Keterangan:
Indikator 1 : Kerjasama
Indikator 2 : Memahami aturan
Indikator 3 : Menjadi pemimpin dan bertanggung jawab Indikator 4 : Bermain dengan semua teman
Indikator 5 : Mengemukakan pendapat
Pada gambar 1 terlihat peningkatan kecerdasan interpersonal anak melalui permainan Makah-makah dari siklus I sampai siklus II.
Pada siklus I pencapaian indikator tiga sangat rendah, hal ini disebabkan anak mulai jenuh, sehingga permainan berlangsung hanya sampai ronde ke dua dan tidak terselesaikan. Setiap anak yang harusnya mendapat kesempatan menjadi pemimpin tidak dapat tercapai. Namun pada siklus II pencapaian indikator tiga meningkat drastis walaupun lebih rendah dibandingkan indikator lainnya. Hal ini dipengaruhi oleh waktu yang telah dimaksimalkan, sistem permainan yang sedikit diubah dan ditambah dengan iringan nyanyian, sehingga anak-anak lebih bersemangat, senang dan permainan tidak terlalu kaku untuk anak usia 5-6 tahun. Namun kegiatan dalam penelitan ini belum sangat optimal dan perlu disempurnakan baik pada kegiatan awal maupun step permainan.
Beberapa diantaranya saat dikegiatan awal, agar lebih menarik guru dapat menyediakan media untuk menjelaskan tema, kemudian kegiatan awal, kegiatan inti dan kegiatan akhir diarahkan agar anak- anak saling berinteraksi lebih banyak.
E. PENUTUP 1. Kesimpulan
Kesimpulan dari penelitian permainan tradisional Makah- makah dalam mengembangkan kecerdasan interpersonal anak usia dini yaitu kecerdasan interpersonal anak pada siklus I dan siklus II berkembang sangat baik pada indikator lima (anak dapat mengemukakan pendapat dengan temannya). Kemampuan anak siklus I dan II juga menunjukkan bahwa langkah permainan
tradisional Makah-makah yang paling menonjol dalam mengembangkan kecerdasan interpersonal anak terletak pada langkah ke tiga dan langkah ke enam permainan.
2. Saran
Permainan tradisional Makah-makah disarankan untuk diterapkan pada pembelajaran di Taman Kanak-kanak (TK) karena selain mengembangkan kecerdasan interpersonal, permainan ini juga menjadi sarana dalam melestarikan permainan tradisional yang mulai hilang di masyarakat. Sementara itu, kecerdasan interpersonal anak dapat pula dikembangkan melalui permainan tradisional lainnya yang terdapat interaksi di dalamnya, seperti permainan kucing dan tikus, permainan hadang atau permainan dengan alat seperti bakiak.
DAFTAR PUSTAKA
Fitri, M., & Suyadi. (2019). Permainan Sidewalk Chalk Untuk Melatih Perkembangan Motor Kasar Anak Usia Dini. Bunayya: Jurnal Pendidikan Anak, VI, 48–49.
Husain, R. I., & Walangadi, H. (2021). Permainan Awuta , Ponti dan Kainje dalam Menumbuhkan Nilai-Nilai Karakter Anak Usia Dini. Jurnal Obsesi, 5(2), 1352–1358.
https://doi.org/10.31004/obsesi.v5i2.839
Hassan Suryono. (2014). Metode Analisis Statistik. Jakarta: Ombak.
Jusmarita. (2018). Meningkatkan Minat Belajar Siswa SMA Negeri 7 Banda Aceh melalui Permainan Tradisional Makah-makah. Jurnal Serambi PTK, V(2), 71–77.
Johni Dimyati. (2013). Metodologi penelitian dan aplikasinya pada Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Jakarta: Kencana.
Khafidah, W, & Fitriah, F. (2020). Penerapan Media Gambar Dengan Teknik Kolase Untuk Meningkatkan Motorik Halus Di Ra Al- Muslimat Kota Banda Aceh. … : Jurnal Pendidikan Anak.
https://ejurnal.iainlhokseumawe.ac.id/index.php/seulanga/arti cle/view/955
Khafidah, Wahyu. (2019). Pembangunan Karakter Mandiri Anak di PAUD Salsabila, Kota Banda Aceh. Indonesian Journal of Islamic
Early Childhood Education, 4(1), 79–88.
https://doi.org/10.51529/ijiece.v4i1.146
Muhammad Usman. (2015). Perkembangan Bahasa Dalam Bermain dan Permainan (1st ed.). Deepublish.
Munawaroh, H. (2017). Pengembangan Model Pembelajaran dengan Permainan Tradisional Engklek Sebagai Sarana Stimulasi Perkembangan Anak Usia Dini. Jurnal Obsesi, 1(2), 86–96.
https://doi.org/10.31004/obsesi.v1i2.19
Ramadhani, P. R., & Fauziah, P. Y. (2020). Hubungan Sebaya dan Permainan Tradisional pada Keterampilan Sosial dan Emosional Anak Usia Dini. Jurnal Obsesi, 4(2), 1011–1020.
https://doi.org/10.31004/obsesi.v4i2.502
Safrizal. (2020). BERMAIN MAKAH-MAKAH STRATEGI PEMBELAJARAN DALAM MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA PADA PELAJARAN SOSIOLOGI DI SMA NEGERI 1 LANGSA KOTA LANGSA. JMP Online, 4(12), 836–849.
Salsabilla, S., & Zafi, A. A. (2020). Kecerdasan Interpersonal Peserta Didik Sekolah Dasar. Terampil: Jurnal Pendidikan Dan Pembelajaran Dasar, 7(1), 35–42.
Sari, C. R., Hartati, S., & Yetti, E. (2019). Peningkatan Perilaku Sosial Anak melalui Permainan Tradisional Sumatera Barat. Jurnal Obsesi, 3(2), 416–424. https://doi.org/10.31004/obsesi.v3i2.225 Syarifah, S. (2019). Konsep Kecerdasan Majemuk Howard Gardner.
SUSTAINABLE: Jurnal Kajian Mutu Pendidikan.
https://doi.org/10.32923/kjmp.v2i2.987