LATAR BELAKANG DAN TUJUAN
METODE
Responden
Pengelompokan responden berdasarkan jenis kelamin didapatkan responden laki-laki sebanyak 26 orang (39,39%) sedangkan sisanya 40 orang. Pengelompokan responden terakhir didasarkan pada rumpun ilmu yang dalam hal ini terbagi menjadi 4 yaitu kesehatan, teknik, sosial humaniora dan pendidikan.
Pengumpulan Data
Yang pertama adalah kuesioner untuk mengumpulkan gambaran tentang kemampuan responden untuk menulis bahasa Inggris akademik (laporan diri), kesulitan yang dihadapi dan sikap terhadap. Kuesioner kedua mengumpulkan informasi tentang analisis kebutuhan untuk pelatihan keterampilan menulis bahasa Inggris (needs analysis).
PERMASALAHAN PERSONAL YANG DIHADAPI DOSEN DALAM
Sikap (Attitude)
Sikap dosen mau atau tidak mau belajar menulis bahasa Inggris akan dipengaruhi oleh nilai dan keyakinan dosen terhadap kegiatan tersebut. Menulis artikel dalam bahasa Inggris mendorong saya untuk membaca lebih luas dan mendalam serta memahami topik yang relevan dengan topik saya. Sikap positif ini penting karena tingkat pencapaian belajar bahasa asing atau bahasa Inggris dipengaruhi oleh faktor sikap (Gardner, 1985).
Siswa yang tidak memiliki sikap positif terhadap kegiatan menulis bahasa Inggris tidak akan menyadari pentingnya keterampilan tersebut bagi dirinya (Abidin M.J., 2012). Sementara indikator aspek kognitif meliputi pemahaman responden bahwa artikel berbahasa Inggris akan lebih mudah diterima di jurnal akademik, menulis artikel dalam bahasa Inggris akan mendorong guru untuk mengeksplorasi topik yang relevan dengan topik yang ditulis secara lebih luas dan mendalam, baca dan pahami.
Kecemasan (Anxiety)
Meskipun skor sikap rata-rata berada pada kategori tinggi, namun jika memperhatikan data pada Tabel 3 terlihat jelas bahwa sebagian besar dosen (>60%) memiliki sikap netral terhadap kegiatan menulis bahasa Inggris. Ini mungkin karena masalah yang dibayangkan yang dihadapi ketika memikirkan harus menulis dalam bahasa Inggris karena bahasa Inggris adalah bahasa asing di Indonesia. Saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk mencari alasan penolakan jika saya diminta untuk menulis dalam bahasa Inggris.
Data dari penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat kecemasan guru non-bahasa Inggris dalam penulisan akademik bahasa Inggris adalah sedang. Kecemasan yang rendah berarti jika guru diminta untuk menulis dalam bahasa Inggris, mereka tidak akan merasa cemas atau khawatir.
Efikasi Diri (Self-Efficacy)
Data survei menunjukkan bahwa self-efficacy dosen yang tidak berbahasa Inggris yang menjadi responden rata-rata 38,18. Data tentang persepsi masalah dan kesulitan yang dihadapi dosen dalam mengembangkan keterampilan menulis bahasa Inggris dikumpulkan dengan menggunakan angket berupa pernyataan dengan jawaban dikotomis “Ya” atau “Tidak”. Data lain untuk mengukur kemampuan menulis bahasa Inggris dosen dikumpulkan dari tugas esai akademik yang mereka selesaikan secara mandiri.
Hal ini menunjukkan bahwa dosen non-Bahasa Inggris membutuhkan keterampilan menulis seperti yang disebutkan di setiap poin. Menguasai keterampilan menulis bahasa Inggris akan menjadi proses yang panjang dan berat bagi sebagian besar dosen.
PERMASALAHAN DAN KESULITAN LINGUISTIK DOSEN DALAM
Persepsi Kesulitan
Saya sering kesulitan menerjemahkan pikiran saya ke dalam kalimat bahasa Inggris yang dapat dimengerti. Saya sering menemui masalah saat menerjemahkan frasa dan kalimat bahasa Indonesia saya ke dalam bahasa Inggris. Namun perlu dipahami juga bahwa bagi sebagian dosen, masalah topik tidak selalu berarti masalah tersebut selalu muncul dari awal, karena penguasaan topik bisa hilang atau bingung ketika harus menulisnya dalam bahasa Inggris.
Ketika responden diminta untuk menjawab pernyataan “Saya sering kesulitan menuliskan ide-ide saya dalam bahasa Inggris yang dapat dimengerti”. Masalah keempat yang menjadi sorotan studi ini adalah penguasaan istilah/istilah bahasa Inggris yang spesifik (particular) yang relevan dengan topik yang sedang dibahas.
Permasalahan dari Data Sampel Tulisan
Data menunjukkan bahwa rata-rata panjang esai yang diselesaikan adalah 305 kata yang terdiri dari 4 paragraf. Dua esai memiliki koherensi sangat baik, 3 esai termasuk dalam kategori kurang koheren, dan sisanya termasuk dalam kategori baik. Mengenai kualitas tata bahasa, ditemukan bahwa sebagian besar memenuhi kriteria cukup, bahkan ada yang kurang.
Sedangkan kategori terakhir yaitu pengembangan paragraf memiliki 60% dalam kategori baik dan sisanya 40% dalam kategori cukup. Terlebih lagi jika tujuannya adalah kemampuan menulis esai yang dipublikasikan atau artikel ilmiah yang diajukan untuk publikasi di jurnal internasional.
Permasalahan Dosen dalam Mengikuti Program Pelatihan
Pelatihan Bahasa Inggris untuk kepentingan penulisan ilmiah termasuk dalam kategori pembelajaran Bahasa Inggris untuk tujuan khusus (ESP) karena pelatihan ini dirancang untuk melayani pemangku kepentingan dengan tujuan pembelajaran yang berbeda dan bertujuan untuk melatih siswa menggunakan bahasa Inggris dalam disiplin ilmu atau dalam bidang khusus. konteks. (Aliakbari & Boghayeri, 2014). Penelitian ini juga menguji kurikulum untuk meningkatkan kemampuan dosen non-Bahasa Inggris di perguruan tinggi yang diikuti responden. Kurikulum harus dirancang khusus untuk mencapai tujuan meningkatkan keterampilan menulis akademik dosen yang tidak berbahasa Inggris sehingga mampu menulis artikel ilmiah untuk dipublikasikan.
Penentuan profil lulusan diklat didasarkan pada analisis kebutuhan yaitu penutur non-bahasa Inggris yang mampu menulis bahasa Inggris untuk keperluan akademik seperti menulis esai dalam bahasa Inggris dan jurnal ilmiah untuk publikasi internasional. Pengembangan kemampuan menulis bahasa Inggris akademik bagi dosen sangat penting seiring dengan meningkatnya tuntutan masyarakat terhadap dosen yang mampu mempublikasikan pemikiran dan karya ilmiahnya di jurnal internasional dan bereputasi.
ANALISIS KEBUTUHAN DAN PREFERENSI KEGIATAN
Analisis Kebutuhan
Pelatihan bahasa Inggris dimaksudkan untuk mempersiapkan peserta didik untuk tujuan belajar non-target (Sarre & Whyte, 2016), atau belajar bahasa Inggris untuk pelatihan kejuruan atau untuk mencapai tujuan tertentu (Orr, 2002). Keahlian khusus apa yang mereka perlukan untuk dapat menulis dalam bahasa Inggris untuk jurnal ilmiah, hasil analisis kebutuhan disajikan pada Tabel 14 di bawah ini di mana STP adalah "Benar-benar tidak diperlukan"; TP "Tidak Perlu", TB "Tidak ada pendapat"; P untuk "Perlu" dan SP untuk "Sangat Diperlukan". Tidak ada responden yang memilih “Sangat Tidak Perlu”, sedangkan hanya sedikit yang memilih “Tidak Perlu” atau “Tidak Berpendapat”.
Pada pilihan Strictly Needed persentase tertinggi terdapat pada pernyataan “Kemampuan menulis abstrak” dan kemampuan mendiskusikan data dengan membandingkan data. Data ini menunjukkan bahwa dosen non-Bahasa Inggris perlu diajarkan keterampilan menulis akademik yang lebih spesifik dan tidak terbatas pada pengetahuan dan keterampilan menulis artikel jurnal.
Preferensi Kegiatan Pembelajaran
Untuk hari pelatihan, mayoritas responden menginginkan kegiatan dilakukan pada hari dan jam kerja yaitu 67,5% dan dilakukan pada pagi hari (60%). Untuk frekuensi pelaksanaan kegiatan mayoritas responden memilih 1 kali per minggu yaitu sebanyak 55%, meskipun pilihan kedua yaitu dilakukan 2 sampai 3 kali per minggu juga mendapatkan respon sebesar 42,5%. Metode kerja siswa yang paling banyak dipilih adalah kerja mandiri yang dipadukan dengan kerja kelompok yaitu sebanyak 55%.
Mengenai peran fasilitator atau pelatih, responden mengharapkan pelatih menjadi fasilitator pembelajaran, masing-masing 40%. Sedangkan dari segi target capaian pelatihan, responden bersedia diberi target hingga bisa mengirimkan artikel ilmiah dalam bahasa Inggris hingga 80% responden.
Umpan Balik Kegiatan Pembelajaran
Dari data dan temuan yang disajikan, dirumuskan sebuah model untuk upaya peningkatan kemampuan dosen dalam menulis bahasa Inggris, yang meliputi unsur universitas, perancang kurikulum, guru dan tentunya dosen itu sendiri. Universitas harus memiliki kebijakan yang jelas tentang kemampuan dosen menulis bahasa Inggris untuk kepentingan akademik, misalnya mewajibkan semua dosen untuk dapat menulis bahasa Inggris dengan baik. Pada umumnya pembelajaran menulis dengan pendekatan genre mengorganisasikan kegiatan menjadi 4 tahap, namun untuk pembelajaran menulis dalam bahasa Inggris akademik dengan memperhatikan data saat tes ditambah 3 tahap sehingga menjadi 6 tahap.
Untuk berhasil mengembangkan keterampilan menulis bahasa Inggris akademik, universitas atau fakultas harus merumuskan dan menetapkan kebijakan yang menguntungkan seperti kebijakan yang jelas, dukungan anggaran dan infrastruktur, serta sistem penghargaan dan hukuman. Seiring dengan meningkatnya permintaan dosen kita untuk dapat mempublikasikan karya ilmiahnya di jurnal internasional, permintaan dosen yang menulis dalam bahasa Inggris juga meningkat.
MODEL PENGEMBANGAN KEMAMPUAN MENULIS BAHASA
Kebijakan Universitas dan atau Fakultas yang Mendukung
Pihak universitas menetapkan target tingkat kemampuan menulis secara bertahap, misalnya dimulai dengan pencapaian skor tes IELTS untuk keterampilan menulis hingga publikasi internasional. Universitas dan fakultas mengalokasikan anggaran yang cukup untuk kegiatan pendidikan guna mengembangkan kemampuan menulis dosen dan penghargaan bila dosen mampu mencapai tujuan. Pendidik yang telah memenuhi target akan diberi penghargaan, sedangkan yang gagal akan diberikan hukuman.
Kegiatan pengembangan kapasitas dosen ini akan melibatkan dosen yang bersangkutan, fakultas dan program studi, perancang kurikulum dan instruktur. Oleh karena itu, perguruan tinggi harus selalu dapat memberikan insentif agar usaha mengajar para dosen tetap konsisten.
Kurikulum yang Khusus Disusun untuk Mengembangkan Kemampuan
Pelaksanaan Strategi Pembelajaran Berbasis Genre
Pada tahap ini, siswa juga memecah teks dan membandingkannya dengan teks lain. Siswa mengumpulkan dan menyusun informasi tentang genre teks, yang akan mereka kumpulkan sebanyak mungkin dengan bekerja dalam kelompok. Kami menyarankan mereka untuk mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan teks yang telah mereka siapkan dan kemudian meminta umpan balik dari guru untuk membuat teks menjadi lebih baik.
Karakter pembelajar yang mendukung (favourable)
Berinteraksi dan bertukar pikiran dengan pendidik lain yang mampu menulis atau menerbitkan artikel jurnal dalam bahasa Inggris. Memperhatikan sesama guru yang telah sukses dalam menulis dan berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia mampu mencapai apa yang rekan-rekannya mampu. Selalu berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa dia memiliki keterampilan seperti halnya rekan-rekan yang telah berhasil.
Dapat dipastikan bahwa kualitas tulisan yang dihasilkan tidak kalah dengan tulisan yang dihasilkan oleh rekan-rekan pengajar lainnya. Saya meyakinkan diri sendiri bahwa banyak rekan pendidik yang mengalami kesulitan yang sama ketika mulai belajar menulis.
Model Penyelenggaraan Pembelajaran
Namun, kami menyadari bahwa menulis bahasa Inggris tidak mudah bagi sebagian besar dosen karena faktor bahasa Inggris bukan bahasa ibu dan bahasa sehari-hari mereka, kurangnya pelatihan dan pengembangan keterampilan menulis yang dirancang dan dilaksanakan dengan baik, serta beban kerja dosen. dan rutinitas sehari-hari menghabiskan energi dan waktu serta sumber lainnya. Kajian ini merupakan upaya untuk membingkai permasalahan yang dihadapi dosen, khususnya dosen yang tidak berbahasa Inggris dalam mengembangkan kemampuan menulisnya, dilanjutkan dengan pengembangan model yang mencoba mengurutkan peran universitas atau perguruan tinggi tempat dosen tersebut bekerja. , perancang kurikulum, pengajar pembelajaran dan dosen itu sendiri. Kinerja menulis dalam kaitannya dengan ketakutan menulis, menulis self-efficacy dan sikap terhadap menulis: Sebuah studi korelasional di EFL tersier Turki.
Indonesian non-English lecturers' self-efficacy in writing English academic papers for international publications. The Role of Writing and Reading Self-Efficacy in First-Year EFL Teachers' Writing Performance.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Spesialis kurikulum harus mengembangkan kurikulum yang dikembangkan secara khusus berdasarkan analisis kebutuhan dan mengembangkan bahan ajar yang sesuai untuk memenuhi tujuan pembelajaran. Sementara itu, guru atau instruktur harus mengembangkan strategi atau metode mengajar yang tepat, termasuk strategi pembelajaran.
Saran
A Needs Analysis of English for Specific Purposes (ESP) Course for Adoption of Communicative Language Teaching:. A case of Iranian first-year students of educational administration). A needs analysis approach to ESP curriculum design in Greek tertiary education: A descriptive account of student needs. In CONAPLIN 10 & ELT-TECH 2 10th Conference on Applied Linguistics, Second Conference on English Language Teaching and Technology (pp. 119–122).
Strategi praktis penulisan untuk jurnal internasional bereputasi: Kualitas tulisan mencerminkan kualitas penelitian (Makalah dipresentasikan pada Lokakarya Peningkatan Kualitas Lulusan Ilmu Sosial Berdaya Saing ASEAN). Ira Alia Maerani, S.H., M.Hum adalah dosen Fakultas Hukum Universitas Islam Sultan Agung (UNISSULA) Semarang.