• Tidak ada hasil yang ditemukan

PDF Pernikahan Beda Agama Di Indonesia Dalam Perspektif Fiqh Lintas Agama

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "PDF Pernikahan Beda Agama Di Indonesia Dalam Perspektif Fiqh Lintas Agama"

Copied!
210
0
0

Teks penuh

PENDAHULUAN

Konteks Penelitian

Fokus Kajian

Kedua, bagaimana kontekstualisasi dan dinamika perkawinan beda agama dalam membangun perspektif baru fiqh inklusif pluralistik di Indonesia? Oleh karena itu, sudah sepantasnya paradigma inklusif pluralistik menjadi landasan metodologis hukum Islam dalam persoalan perkawinan beda agama. Analisis Konsep Pernikahan Beda Agama Dalam Perspektif Hukum Islam di Indonesia dan Paradigma Fiqih Lintas Agama.

“Ahmad Nur Kholis memahami pandangan ketiga bahwa baik laki-laki muslim maupun perempuan muslim boleh menikah dengan non muslim,” kata Nurcholish mengutip tafsir banyak ulama yang membolehkan pernikahan beda agama. ada ketentuannya. Undang-Undang Pernikahan Beda Agama memuat firman Allah SWT. Sedangkan Wahbah az-Zuḥaili mengklasifikasikan sah atau tidaknya perkawinan beda agama menjadi dua, yakni.

Di tengah rapuhnya hubungan antar agama saat ini, pernikahan beda agama sebenarnya bisa dijadikan sebagai sarana membangun toleransi dan toleransi. Bagaimana konsep perkawinan beda agama dalam perspektif peraturan perundang-undangan Islam di Indonesia dan paradigma fiqh lintas agama di Indonesia.

Gambar 4.2 Kontruksi Se-kufu KHI dan MUI  ...............................................
Gambar 4.2 Kontruksi Se-kufu KHI dan MUI ...............................................

Tujuan Kajian

Oleh karena itu, selain berbagai perselisihan di atas, penulis sangat tertarik untuk mengkaji perkawinan beda agama dari sudut pandang fiqih lintas agama dalam bentuk karya ilmiah skripsi.

Metode Kajian

Karena penelitian ini termasuk penelitian kepustakaan, maka penulis akan menggunakan berbagai sumber dalam pengumpulan data yang terbagi menjadi dua bagian. Sumber data primer adalah yang diperoleh langsung dari sumber data pertama di lokasi penelitian atau objek penelitian 38 Data yang terkandung dalam tafsir itulah yang akan penulis gunakan untuk melihat variasi perbedaan tafsir masing-masing penafsir beserta sebab-sebab perbedaannya. dalam interpretasi dan implikasi dari perbedaan-perbedaan ini. . Sumber data sekunder adalah data yang diperoleh dari sumber kedua atau sumber sekunder dari data yang diperlukan.

Yaitu penulis mencoba mengumpulkan tulisan-tulisan dan data-data yang berkaitan dengan tema utama pembahasan yang sedang dibahas.39. Metode yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis deskriptif, yaitu model penelitian yang berupaya menggambarkan kondisi yang ada. Deduksi, yaitu suatu metode pemahaman berdasarkan konsep-konsep umum untuk memperoleh pandangan holistik terhadap penyajian tema.40.

Manfaat Kajian

Penyelenggaraan Perkawinan Beda Agama Pasca Disahkannya Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan Di Kabupaten Semarang. perspektif peraturan perundang-undangan Islam di Indonesia dan paradigma fiqh lintas agama di Indonesia 1.

Dalam konteks inilah perspektif fiqih beda agama mempunyai konsep yang berbeda-beda dalam memandang realitas perkawinan beda agama. Pemikiran inilah yang kemudian menjadi dasar diperbolehkannya perkawinan beda agama dalam perspektif fiqh lintas agama.196. Pustaka, Kajian Hukum Mengenai Pernikahan Beda Agama (Perbandingan Berbagai Negara), (Badan Pembinaan Hukum Nasional (Bphn) Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Jakarta, 2011), 6.

Analisis Konsep Pernikahan Lintas Agama dalam Perspektif Peraturan Perundang-undangan Islam di Indonesia dan Paradigma Fiqih Lintas Agama di Indonesia. Kedua, ada beberapa pasal yang dapat dijadikan dasar pelarangan perkawinan beda agama dalam UU No.

Difinisi Istilah

Sistematika Penulisan

Jika menilik penelitian terdahulu, maka memang ada penelitian yang berjudul “Perkawinan Lintas Agama di Indonesia dalam Perspektif Fiqih Lintas Agama”. Perkawinan beda agama Dari sudut pandang perkawinan, UUP sendiri tidak mengatur tentang perkawinan beda agama. Perkawinan beda agama di Indonesia masih diatur oleh ketentuan ayat 1 (1) UU Perkawinan juncto ayat 2 dan 3 Pasal 10 Peraturan Pemerintah No.

Forklaret i, Pagar, Pernikahan Lintas Agama: Wacana dan Pemikiran Hukum Islam Indonesia, (Bandung: Ciptapustaka Media, 2006), 65.

KAJIAN PUSTAKA

Penelitian Terdahulu

Namun dengan adanya KHI, jelas bahwa pernikahan beda agama dilarang di Indonesia. Tesis Amalia mencoba mendeskripsikan pernikahan beda agama dari dua sudut pandang, yaitu hukum Islam dan hukum positif di Indonesia. Penelitian ini dilakukan oleh Zakiyah Alatas untuk mengetahui sah tidaknya perkawinan beda agama ditinjau dari UU No.

Tesis M. Syamsul Ma'arif, “Sahihnya Perkawinan Berbeda Agama dalam Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dan Undang-undang Nomor 23 Tahun 2006 tentang Perkawinan”. Tujuan ini untuk mengetahui lebih jauh mengenai pengaturan perkawinan beda agama dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 dan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2006. Hal ini dilakukan karena yang dimaksud adalah peraturan perundang-undangan di Indonesia yang masih berkaitan dengan perkawinan beda agama.

Kesimpulan penelitian ini menyatakan bahwa pelaksanaan pernikahan beda agama di Thailand diklasifikasikan menjadi dua. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan perspektif ilmiah baru terhadap praktik pernikahan beda agama.

Tabel 2.1  Penelitian Terdahulu
Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu

Kajian Teori

  • Tinjauan konsep Pernikahan Antar Agama
  • Konsepsi Fiqh Lintas Agama
  • Dinamika Pernikahan Antar Agama di Indonesia dalam

Ketentuan ini dianggap sebagai kaidah yang membuka seluas-luasnya bagi dilakukannya perkawinan beda agama 163. Berdasarkan kaidah-kaidah yang ada tersebut, Islam kemudian merumuskan rumusan atau konsep ajaran agama tentang perkawinan beda agama. Dari sudut pandang agama di Indonesia, perkawinan beda agama tidak diperbolehkan karena tidak sesuai dengan hukum agama yang diakui di Indonesia.

Adapun mengenai perkawinan beda agama dalam Kompendium Hukum Islam, hal ini terlihat secara tegas dari ketentuan keempat pasal tersebut. Meningkatnya jumlah pernikahan beda agama di Indonesia juga menunjukkan adanya kondisi yang mendorong terjadinya pernikahan. Fiqh lintas agama tentang persoalan hukum perkawinan beda agama memberikan revisi terbuka yang berorientasi pada penguatan nilai toleransi sosial.

Hukum lintas agama dalam fiqh lintas agama hendaknya dirumuskan atas dasar nilai-nilai kemanusiaan dan toleransi. Berbagai kasus tersebut kemudian menjadi kajian yang menjelaskan pernikahan beda agama di Indonesia terintegrasi dalam perspektif fikih pluralistik.

PENUTUP

Kesimpulan

Saran-saran

Referensi

Dokumen terkait