BAB II KAJIAN PUSTAKA
A. Penelitian Terdahulu
Berdasarkan penelusuran peneliti, ada beberapa penelitian yang memiliki kemiripan dengan penelitian yang akan dilakukan ini. Kemiripan tersebut bukan berarti menghilangkan keunikan dari penelitian ini, akan tetepi lebih pada penguatan kajian yang akan dilakukan. Seluruh penelitian yang ada, tidak satupun yang memiliki kesamaan fokus dengan penelitian ini.
Adapun penelitian terdahulu yang ditemukan adalah sebagaimana di bawah ini:
a. Penelitian yang dilakukan oleh Zahidul Islam dengan judul “Interfaith Marriage In Islam and Present Situation”. Penelitian ini dibuat dalam jurnal Global Journal of Politics and Law Research Vol.2, No.1, pp. 36-47, March 2014.
Penelitian ini menyanggkut tentang beberapa kasus yang terjadi di negara Malaysia. Dalam penelitian ini dikemukan bahwa pernikahan antar agama di Malaysia hanya terjadi di beberapa tempat. Beberapa tempat yang memperbolehkan perkawainan antar agama ini sebenranya juga memakai prinsip istimbath hukum sesuai dengan atuaran syara’. Pernikahan antar agama di daerah tersebut didasarkan pada prinsip siayasah sayri’ah. Pada
sisi ini, prisip yang dipakai adalah menjauh mafsadah didahulukan dari pada masalahahnya, yakni
( حلاصملا بلج ىلع مّدقم دسافملا ءرد )
b. Tesis Jon Kamil “Perkawinan Antar Pemeluk Agama Perspektif Fiqih Ibnu Taymiyah” Program Studi: Hukum Islam / Konsentrasi Fiqih Program Pasca Sarjana (PPS) Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim (UIN SUSKA) Riau, 2011.
Menurut Kamil, para ulama berbeda pendapat tentang perkawinan antar agama, sebahagian ulama tidak membolehkan dan sebahagian yang lain membolehkan. Ibnu Taymiyah adalah salah seorang ulama yang membolehkan perkawinan antar agama khususnya dengan wanita Ahli Kitab. Sehingga penulis tertarik untuk mengkaji lebih mendalam, bagaimana pendapat Ibnu Taymiyah tentang perkawinan antar agama? Dan bagaimana relevansinya dengan kondisi saat ini?.
Penelitian Kamil tersebut adalah kepustakaan (Library research).
Data primer yaitu Majmu Fatawa Syaikh al-Islam IbnuTaymiyah.
Sedangkan metodologi yang digunakan adalah rekonstruksi biografi dan content analysis.
Kamil menyimpulkan bahwa dalam perkawinan Antar pemeluk agama menurut Ibnu Taymiyah, yakni: Perempuan muslim tidak boleh menikah laki-laki nonmuslim. Laki-laki muslim tidak boleh menikah dengan wanita non mulslim kecuali dengan wanita yang berasal dari Ahli Kitab (dari kalangan ahlu zimmah) dengan alasan bahwa Ahli kitab tidak termasuk musyrik, sebab sesungguhnya agama Ahli kitab tidak ada ajaran
tentang syirik, karena Allah SWT., mengutus para Nabi dengan ajaran tauhid,dan mereka telah membuat kesyirikan yang tidak diperintahkan Allah Swt., maka harus dibedakan sebagai orang musyrik. Dan menurut Ibnu Taymiyah kebolehan mengawini wanita kitabiyah dengan alasan bahwa Surah al- Baqarah :221 dinaskh oleh Surah al-Maidah : 5.
Dalam konteks Indonesia, Kamil kurang setuju dengan pendapat Ibnu Taymiyah tentang kebolehan menikah dengan wanita Ahli Kitab.
Sebab perkawinan antar pemeluk agama khususnya laki-laki muslim dengan wanita Kristen, merupakan salah satu upaya pengkristenan umat Islam dan banyak mafsadat serta mudharat-nya dari maslahat-nya bagi kedua belah pihak dan keturunannya.43
Penelitian Kamil dalam hal ini lebih menitikberatkan kepada pendekatan penafsiran terhadap ayat-ayat tentang pernikahan beda agama.
Selain itu, Kamil juga memfokuskan kajiannya kepada ahlul kitab.
Sementara itu, Peneliti sendiri memiliki kajian pendekatan yang berbeda dengan Kamil, yaitu pernikhan beda agama dalam perspektif fiqh lintas agama. Tentu hal tersebut menjadi barang baru dan pembeda antara Tesis si Kamil dengan Tesis peneliti dalam Tesis ini.
c. Tesis Liza Suci Amalia “Perkawinan Beda Agama Menurut Hukum Islam”
Program Studi Magister Kenotariatan Program Paskasarjana Universitas Diponegoro, 2003 Semarang.
43Jon Kamil “Perkawinan Antar Pemeluk Agama Perspektif Fiqih Ibnu Taymiyah” Program Studi: Hukum Islam / Konsentrasi Fiqih Program Pasca Sarjana (PPS) Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim (UIN SUSKA) Riau, 2011.
Tesis Amalia memiliki fokus penelitian mengkaji konsep hukum Islam terhadap perkawinan beda agama dan konsep perkawinan beda agama dalam hukum positif di Indonesia. Amalia menyimpulkan bahwa Hukum Islam melarang praktek perkawinan beda agama di Indonesia. Meskipun ulama’ madzhab yang selama ini menjadi rujukan oleh ulama’ di Indonesia memperbolehkan perkawinan beda agama dalam hal laki-laki yang menikahi perempuan ahli kitab. Namun, dengan adanya KHI, maka jelaslah bahwa pernikahan beda agama di Indonesia terlarang di Indonesia.
Kemudian, dari sisi perundang-undangan Amalia menyimpulkan bahwa UU. No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan yang tidak mengatur secara eksplisit tentang Perkawinan Beda Agama di Indonesia.
Tesis Amalia mencoba mendeskripsikan perkawinan beda agama dalam dua perspektif, yaitu hukum Islam dan hukum positif di Indonesia.
Dengan pendekatan hukum Islam yang dipakai oleh Amalia dalam menganalisis konsep pernikahan beda agama terlalu umum. Padahal, hukum Islam sendiri (fiqh) adalah nisbi dan memiliki banyak paradigm/ pendekatan dan coraknya. Tentu, Fiqh lintas agama tidak terpakai dalam penelitian Tesis yang dilakukan oleh Amalia.
d. Tesis yang ditulis oleh Hendra tahun 2013, mahasiswa Pascasarjana IAIN Imam Bonjol Padang menulis Tesis dengan judul “Kehidupan Perkawinan Keluarga Beda Agama Dalam Perspektif Maqashid as-Asyari’ah (Studi Kasus di Kecamatan Koto Tangah Kota Padang Provinsi Sumatera Barat
dan Kecamatan Sungai Lilin Kabupaten Musi Banyuasin Provinsi Sumatera Selatan)’.
Penelitian yang dilakukan oleh saudara Hendra ini mengungkapkan bagaimana kehidupan keluarga beda agama di dua kecamatan dari dua provinsi seperti yang tersebut dalam judul diatas, bagaimana pula usaha keluarga tersebut mewujudkan tujuan pernikahan yang bahagia yaitu membentuk keluarga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah, lalu dilihat dari fakta yang terjadi bagaimana pula bila ditinjau dari perspektif Maqashid as-Syari’ah. Setelah dipaparkan uraian-urainnya, akhirnya penulis tesis ini menyimpulkan bahwa kehidupan perkawinan keluarga beda agama bertentangan dengan Maqashid as-Syari’ah malah berdampak buruk bagi kehidupan perkawinan itu sendiri, meskipun ada usaha untuk menciptakan keluarga yang bahagia namun tidak sesuai dengan cita-cita Maqshid as- Syari’ah karena tidak sesuai dengan tujuan syari’at perkawinan, yaitu Muhafazhah ad-Din (menjaga agama) dan Muhafazhah an-Nasl (menjaga keturunan).44
e. Tesis yang ditulis oleh Zakiyah Alatas tahun 2007 mahasiswa Program Pascasarjana Universitas Diponegoro ini menulis tesis dengan judul
“Pelaksanaan Perkawinan Beda Agama Setelah Berlakunya Undang- Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan di Kabupaten Semarang”.
44 Hendra, Tesis : Kehidupan Perkawinan Keluarga Beda Agama Dalam Perspektif Maqashid as-Asyari’ah (Studi Kasus di Kecamatan Koto Tangah Kota Padang Provinsi Sumatera Barat dan Kecamatan Sungai Lilin Kabupaten Musi Banyuasin Provinsi Sumatera Selatan) PPs IAIN Imam Bonjol Padang, 2013
Penelitian yang dilakukan oleh saudara Zakiyah Alatas ini untuk mengetahui apakah perkawinan beda agama sah ditinjau dari UU No. 1 Tahun 1974, bagaimana prosedur perkawinan beda agama di Kabupaten Semarang dan upaya hukum yang bisa dilakukan oleh calon pasangan perkawinan beda agama, apabila kantor catatan sipil menolak mencatatnya.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1). Gereja memberikan dispensasi dalam hal pemberkatan perkawinan bagi pasangan beda agama, pemberian dispensasi tersebut merupakan pengecualian aturan-aturan yang telah ditentukan oleh hukum agama Kristen yang bersumber dari Injil, dengan adanya dispensasi perkawinan beda agama antara orang yang beragama Kristen dengan orang yang beragama Islam maka Gereja mengeluarkan Surat Pemberkatan Perkawinan maka perkawinan tersebut dinyatakan sah. 2). Pelaksanaan perkawinan beda agama di Kabupaten Semarang, dilakukan dengan terlebih dahulu mengajukan permohonan ke Pengadilan Negeri Kabupaten Semarang, untuk melangsungkan pernikahan beda agama dan pencatatannya, mengenai proses perijinan dan pencatatan perkawinan beda agama, disertai dengan penetapan pengadilan mengenai dapat dilangsungkan-nya perkawinan beda agama. 3). Upaya hukum yang bisa dilakukan oleh pasangan perkawinan beda agama yang akan melangsungkan perkawinannya, yang mendapatkan penolakan dari Kantor Kependudukan Dan Catatan Sipil untuk melangsungkan perkawinan beda agama, yaitu dengan mengajukan permohonan di Pengadilan, untuk
diberikan ijin melangsungkan perkawinan beda agama dan perkawinan tersebut bisa dicatatkan di Kantor Catatan Sipil.
f. Penelitian Bruce A. Phillips dengan judul, “The Religiously Inefficient Family Revisited: The Case of Interfaith Marriage among American Jews”.
Penelitian ini dimuat dalam jurnal the Association for the Study of Religion, Economics, and Culture Washington DC April 14 2013.
Penelitian ini terbilang sangat radikal. Penelitian ini mengkaji tentan bagaimana keimanan menjadi basis kesejahteran keluaragan. Yang radikal adalah pada sisi menghubungkan kepercayaan pada pendapatan keluarga. Penelitan ini mencari relasai prinsip kesatuan iman kepada pendapatan kesajahteran khususnya dalam ekonomi keluarga.
Pada kesimpulan penelitian ini dikemukan bahwa ada perbedaan peran anatara jawaban masyarakat tentanga peran kesamaan keyakinan.
Pada masayarakat dengan pendapatan kurang $50K, tidak begitu signifikan perannya. Namun pada $50K hingga $100K perannya signifikan sekali.
Dengan demkian, dalam penelitian ini disimpulakan bahwa semakin tinggi pendapatan keluarga akan semakin percaya bahwa keserasian keyakinaan agama dalam pernikahan sangat penting.
g. Tesis M Syamsul Ma’arif, “Legalitas Perkawinan Beda Agama Dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan dan Undang- Undang Nomor 23 Tahun 2006 Tentang Perkawinan”. Magister Al-Ahwal Al-Syakhsiyah Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang 2015.
Penelitian tersebut memutuskan memakai jenis penelitian hukum normatif, dengan menggunakan statute approach dan case approach. Hal ini bertujuan untuk mempelajari lebih jauh terkait dengan pengaturan perkawinan beda agama dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 dan Undang-Undang Nomor 23 tahun 2006. Selain itu, penelitian ini juga menganalisis beberapa kasus perkawinan beda agama yang telah terjadi.
Konklusi yang dimuat dalam penelitian ini menyatakan bahwa polemik dan kontroversi perkawinan beda agama di Indonesia hingga saat ini disebabkan masih adanya ketidakpastian hukum yang mengaturnya. Hal ini menuntut adanya penyempurnaan terhadap peraturan atau perundang- undangan terkait itu. Jika dilakukan dalam penelitian ini dikemukan bahwa akan melahirkan kepastian hukum dan terciptanya keadilan dalam masyarakat.
h. Tesis Nahrowi dengan judul, “Sinkronisasi Hukum Perkawinan Beda Agama di Indonesia”. Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ponorogo Pascasarjana Juli 2018.
Penelitian ini memiliki orientasi mencari dan mengkritisi kesesuaian antarhukum (sinkronisasi) dan mengungkap akibat hukum.
Metodologi yang digunakan dalam penelitian adalah penelitian kepustakaan, tentunya dilakukan melalui pendekatan hukum normatif. Dilakukan demikian sebab sasarannya adalah peraturan perundang-undangan di Indonesia yang masih ada kaitannya dengan perkawinan beda agama.
Berdasarkan kesimpulan dalam penelitian ini, dapat dijelaskan bahwa Pertama, Undang-UndangNomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, dengan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan, dalam hal perkawinan beda agama terjadi keserasian.
Sikronisasinya adalah terhubung secara horizontal. Namun, jika dilaihat secara vertikal cenderung antar peraturan saling terjadi kesesuaian (tidak serasi).
Kedua, konsekuensi hukum perkawinan beda agama atas dasar penetapan pengadilan antara lain: sahnya perkawinan beda agama yang dicatatkan atas dasar penetapan pengadilan yang tercatat secara administratif. Namun tentunya dianggap cacat secara hukum karena tidak sesui dengan asas substansi perkawinan.
i. Tesis Kumsun Srusamai dengan judul, Peran Majelis Agama Islam Dalam Pernikahan Beda Agama di Bangkok Thailand. Magister Al-Ahwal Al- Syakhsiyah Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, 2016.
Penelitian tersebut merupakan field research. Artinya, semua informasi didapatkan didasarakan pada pengalaman empiris. Hal demikian dijelaskan bertujuan untuk lebih menekankan pada data lapangan sebagai sasaran yang diteliti. Penelitian ini mengkaji tentang pelaksanaan pernikahan beda agama dan peran MAI.
Kesimpulan dalam penelitian ini mengemukakan bahwa pelaksanaan pernikahan beda agama di Thailand, diklasifikan menjadi dua.
Pertama, pernikahan laki-laki muslim dengan perempuan ahlul kitab dan kedua, perempuan muslimah dengan laki-laki ahlul kitab. Sedangkan pendapat dan peran MAI dalam konteks ini yaitu pelaksanaan pernikahan laki-laki muslim perempuan ahlul kitab dapat diizinkan dan MAI bisa menjadi wali hakim langsung serta juga mengurusi terkait perizinan dan administrasinya.
Untuk memperjelas perbedaan dan persamaam penelitian-penelitian terdahulu dengan penelitian, penulis berupaya menysun tabel sebagaimana di bawah ini,
Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu
No Nama Judul Fokus Penelitian
Perbedaan Persamaan
1 Zahidul Islam
Interfaith Marriage In Islam and
Present Situation
Penelitian ini dilakukan di Malasia. Penelitian ini juga merupakan penelitian kualitatif
Penelitian ini juga membahas tentang pernikahan beda agama dalam Islam.
2 Jon Kamil Perkawinan Antar Pemeluk Agama
Perspektif Fiqih Ibnu Taymiyah
Pada tesis jon kamil ini terfokus hanya pada sudut pandang Ibnu Taimiyah
Sama-sama
membahas tentang perkawinan beda agama
3 Liza Suci Amalia
Perkawinan Beda Agama Menurut Hukum Islam
Pada tesis Liza Suci amalia ini
menitikberatkan terhadap bagaimana hukum islam
mengatur
ummatnya dalam pelaksanaan perkawinan beda agama.
Sama-sama
membahas tentang perkawinan beda agama
4 Hendra Kehidupan Penelitian ini Sama-sama
Perkawinan Keluarga Beda Agama Dalam Perspektif Maqashid as- Asyari’ah (Studi Kasus di
Kecamatan Koto Tangah Kota Padang Provinsi Sumatera Barat dan Kecamatan Sungai Lilin Kabupaten Musi Banyuasin Provinsi Sumatera Selatan).
berjenis penilitian kualitatif. Tentu fokus kajiannya juga berbedasa karena menyoroti hal-hal yang
empiris yang terjadi
membahas tentang perkawinan beda agama
5 Zakiyah Alatas
Pelaksanaan Perkawinan Beda Agama Setelah Berlakunya Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan di Kabupaten Semarang
Penelitian ini juga berjenis kualitatif fenomenologi.
Fokusnya adalah peda fonomena yang terjadi pasca berlakunya Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan di Kabupaten Semarang
Penelitian juga menyoroti pekawinan beda agama.
6 Bruce A.
Phillips
The Religiously Inefficient Family
Revisited: The Case of Interfaith Marriage among American Jews
Penelitian ini berjenis penelitian kuantitafi.
penelitian ini menyoroti tentang pengaruh efisiensi perkawinan beda kayakinan agama.
selain itu,
penelitian ini juga terfokus pada keimaman Yahudi.
Penelitian ini juga tentang perkawinan beda keyakinan
7 M Syamsul Ma’arif
Legalitas
Perkawinan Beda Agama Dalam
Penelitian ini hanya menyoroti konsepsi perkawainan beda
Penelitian ini merupakan penelitian
Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan dan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2006 Tentang Perkawinan
agama dalam hukum positif.
Tidak mengkaji tentang persepktif fiqh.
kepustakaan yang menyoroti
perbedaan antar agama.
Melihat penelitian terdahulu, memang penelitian dengan judul ” Pernikahan beda agama di indonesia dalam perspektif fiqh lintas agama”
belum ada yang menggunakan bahasa tersebut, walaupun pada dasarnya beda agamar sepadan dengan lintas agama dan pada penelitian terdahulu banyak digunakan katabeda agama, namun yang sangat membedakan dengan penelitian terdahulu dan yang menunjukkan orisinalitas dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
a. Pada penelitian ini adalah menginginkan adanya sudut pandang keilmuan yang baru terhadap praktek pernikahan beda agama.
b. Pada penelitian terdahulu yang khusus dengan menggunakan penelitian berbasis kualitatif masih belum ditemukan. Sepanjang penelusaran, hanya peneltian Syamsul Ma`arif saja.