• Tidak ada hasil yang ditemukan

perpindahan pekerjaan dari sektor pertania ke perusahaan panas bumi

N/A
N/A
rahmat husein

Academic year: 2023

Membagikan "perpindahan pekerjaan dari sektor pertania ke perusahaan panas bumi "

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Di Kabupaten Mandailing Natal terdapat satu kecamatan yang letaknya berada di daerah dataran tinggi yaitu Kecamatan Puncak Sorik Marapi, Badan Pusat Statistika (BPS, 2021) menyatakan bahwa Kecamatan Puncak Sorik Marapi memiliki luas wilayah 55,54 km2 dan beradi di ketinggian 700 – 980 mdpl, mayoritas penduduk di kecamatan puncak sorik marapi berprofesi di bidangb prtanian, menurut Suratiyah Pertanian, merupakan kegiatan manusia dalam membuka lahan dan bercocok tanam dengan berbagai jenis tanaman diantaranya tanaman semusim, tanaman tahunan, tanaman pangan dan tanaman non-pangan. Pertanian dapat mengandung dua arti yaitu: (1) Pertanian dalam arti sempit atau sehari-hari dapat diartikan sebagai kegiatan bercocok tanam, dan (2) Pertanian dalam arti luas diartikan sebagai kegiatan yang menyangkut proses produksi menghasilkan bahan-bahan kebutuhan manusia yang dapat berasal dari tumbuhan maupun hewan yang disertai dengan usaha untuk memperbaharui, memperbanyak (reproduksi) dan mempertimbang-kan faktor ekonomis (Wehantouw et al., 2018), hal itu dapat di buktikan berdasarkan data yang di rilis oleh badan pusat statistika (bps,2021) bahwa produksi padi sawah + ladang (12.006 ton), jagung (1.663 ton), kacang kedelai (28 ton) dan ubi kayu (66 ton)

Namun beberapa tahun belakangan dari pengamatan penulis semenjak adanya perusahaan panas bumi smgp yang mulai beroperasi pada tahun tahun 2013 penduduk

(2)

yang berada di kecamatan puncak sorik marapi sartu per satu mulai berpindah pekerjaan dari yang awalnya bekerja di pertanian berpindah pekerjaan ke Perusahaan Panas Bumi SMGP

Berdasarkan penelitian terdahulu yan telah di lakukan terdapat beberapa faktor penyebab perpindahaan tenaga kerja di bidang pertanian ke bidang non pertanian diantaranya dalam penelitian persik, dkk tahun 2016 melakukan penelitian yang berjudul

“Faktor-Faktor Penyebab Pergeseran Tenaga Kerja Sektor Pertanian Ke Sektor Non Pertanian Di Kecamatan Kalawat, Kabupaten Minahasa Utara”, hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan bahwa faktor pendorong utama yang menyebabkan tenaga kerja meninggalkan pekerjaan di sektor pertanian adalah pendapatan di sektor pertanian yang tidak menentu dan rendah serta ketersediaan lahan pertanian yang semakin berkurang.

Faktor penarik utama dari sektor non-pertanian adalah semakin ter-bukanya peluang dan kesempatan kerja di sektor non-pertanian. Faktor penarik lainnya adalah pendapatan di sektor non-pertanian dan kondisi pekerjaan yang lebih menjanjikan.(Wehantouw et al., 2018)

Berdasarkan fenomena perpindahan pekerja pertanian ke bidang non pertanian seperti yang terjadi di kecamatan Puncak Sorik Marapi, membuat penulis ingin melakukan penelitian untuk membahas hal tersebut di atas, ini menjadi akan sangat menarik karena sudah banyak orang yang tahu bahwa di daerah dataran tinggi sangat cocok bagi pertania seperti Palawija, Buah Buahan dll tatapi banyak di antara penduduk yang awalnya berprofesi sebagai petani lebih memilih berpindah perkerjaan ke Perusahaan SMGP atau Perusahaan Panas bumi

(3)

1.2 Rumusan Masalah

Dari pengamatan yang di lakukan oleh penulis tentang perpindahan pekerjaan dari sektor pertania ke perusahaan panas bumi dalam hal ini perusahaan smgp semakin masif terjadi, padahal jika di dilihat dari ketersediaan lahat untuk pertanian di kecamatan puncak sorik marapi masih sangat luas dan masih banyak lahan yang belum di garap dengan baik sehingga membuat penulis menjadi semakin penasaran tentang faktor apa saja yang membuat perpindahan pekerjaan ini semakin banyak terjadi.

Tenaga kerja menurut Undang-undang pokok ketenagakerjaan Nomor. 13 tahun 2003 Bab 1 ketentuan umum pasal I disebutkan bahwa: “Tenaga kerja adalah setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan guna menghasilkan barang/jasa baik untuk memenuhi kebutuhan sendiri maupun masyarakat. Sedangkan menurut simanjuntak 1998 dalam (Dailabi, 2016) menyatakan bahwa Secara praktis tenaga kerja hanya dibedakan menurut umur. Seseorang dianggap Tenaga kerja kerja apabila telah mencapai usia 10 tahun tanpa adanya batasan usia maksimal Struktur angkatan kerja Indonesia ditandai dengan terjadinya perubahan lapangan pekerjaan dari sektor pertanian ke sektor industri. Dari data bps tahun 200 dalam (Dailabi, 2016) di jelaskan bahwa Keadaan ini tentu saja berkaitan dengan perubahan struktur ekonomi yang terjadi. Berdasarkan data BPS, pada periode 1980-1990 persentase tenaga kerja wanita yang bekerja di sekto pertanian di pedesaan menurun dari 63,66 persen pada tahun 1980 menjadi 49,9 persen pada tahun 1990. Sebaliknya persentase tenaga kerja wanita yang bekerja di luar sektor pertanian mengalami peninGkatan dari 35,8 persen menjadi 50,1 persen pada kurun waktu yang sama. Menurut Spengler 1982 Proses perpindahan pekerja merupakan sebuah redistribusi

(4)

sumberdaya manusia dari daerah dengan produktivitas rendah ke daerah produktivitas tinggi

Todaro (2004) Pencapaian taraf pendidikan oleh seseorang dengan besar kecilnya kecenderungan orang tersebut untuk bermigrasi atau pindah pekerjaan dari sektor pertanian ke sektor modern. Seseorang yang berpendidikan lebih tinggi akan menghadapi selisih tinggkat upah (antara sektor modern di kota dan sektor tradisional di desa) yang lebih tinggi di samping itu, ia juga memiliki kemungkinan atau peluang yang lebih besar untuk berhasil mendapatkan sebuah pekerjaan di sektor modern yang berpendapatan lebih tinggi (Dailabi, 2016), menurut (Pesik et al., 2016) Sektor pertanian yang awalnya merupakan sektor yang diandalkan bagi perkembangan perekonomian bangsa Indonesia, seiring berjalannya waktu dan pengembangan pembangunan juga dampak dari modernisasi, sektor pertanian mengalami penurunan dan perkembangan sektor non pertanian mengalami kemajuan khususnya sektor Industri, dan juga sampai saat ini terus mengalami peningkatan.

Hasil penelitian yang dilakukan di Desa Treman menunjukkan bahwa terdapat 2 faktor beralihnya tenaga kerja anak petani ke sektor non-pertanian yaitu:

1. Faktor Pendorong

1) Alih fungsi lahan pertanian ke non-pertanian seperti berdirinya bangunan yang membuat lahan pertanian di gusur dan dijadikan bangunan dan jalan.

2) Kurangnya pemahaman dan kemauan bekerja di sektor pertanian. alasan responden tidak memiliki pengetahuan yang cukup di sektor pertanian dengan persentase 50,00%

dikarenakan kurangnya informasi pengetahuan di sektor pertanian yang dimiliki oleh responden.

2. Faktor Penarik

(5)

1) Tingkat upah/gaji di sektor pertanian dan non-pertanian. Tingkat upah/gaji disektor pertanian menunjukkan upah/gaji ditentukan oleh harga jual hasil pertanian dengan persentase 55,56%. Tingkat upah disektor non-pertanian menunjukkan upah/gaji yang diterima lebih cepat didapat dan lebih besar dengan persentase 77,78%.

2) Pandangan anak petani terhadap pekerjaan disektor pertanian dan non-pertanian.

Terdapat 4 pandangan yang dikemukakan oleh responden yaitu:

a. Bekerja sesuai bidang ilmu yang telah ditempuh oleh responden selama pendidi-kan terakhir.

b. Lebih dihargai bekerja pada sektor non-pertanian dan menaikkan status sosial.

c. Ingin meningkatkan pengalaman bekerja di sektor non-pertanian.

d. Kondisi pekerjaan yang lebih baik dibandingkan kondisi pekerjaan di bidang pertanian.

(Wehantouw et al., 2018)

1.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan uraiaan pada latar belakang dan rumusan masalah yang ada di atas, maka penulis akan melakukan penelitian tentang analisis faktor apa saja yang mempengaruhi perpindahan pekerjaan dari awalnya petani menjadi pekerja di Perusahaan SMGP padahal bisa di lihat daerah di Kecamatan Puncak Sorik Marapi memeiliki potensi yang sangat besar di pertanian karena kawasannya yang berada di kaki gunuung

1.4 Manfaat Penelitian

Dengan analisis yang telah di lakukan oleh penulis, maka harapannya penelitian ini dapat berguna dan bermanfaat dalam hal sebagai berikut :

1. Untuk mengeetahu berbagai alasan kenapa pekerjaan di bidang pertanian berpindah ke pekerjaan yang lain

(6)

2. Sebagai gambaran bagaimana keadaan pekerja di bidang pertaniaan di daerah diera perkembangan Industrialisasi

Dailabi, M. M. (2016). Analisis Faktor Perpindahan Tenaga Kerja Dari Sektor Pertanian ke Sektor Industri (Studi Kasus Kecamatan Gondanglegi Kabupaten Malang). Jurnal Ilmiah, 2(1), 3–16.

Pesik, C. S., Kapantow, G. H. M., & Katiandagho, T. M. (2016). FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB PERGESERAN TENAGA KERJA SEKTOR PERTANIAN KE SEKTOR NON PERTANIAN DI KECAMATAN KALAWAT, KABUPATEN MINAHASA UTARA. Agri-SosioEkonomi Unsrat, Volume 12(1), 67–80.

Wehantouw, A. D., Manginsela, E. P., & Moniaga, V. R. B. (2018). Faktor Beralihnya Tenaga Kerja Anak Petani Ke Sektor Non-Pertanian Di Desa Treman Kecamatan Kauditan Kabupaten Minahasa Utara. Agri-Sosioekonomi, 14(2), 1.

https://doi.org/10.35791/agrsosek.14.2.2018.20098

Referensi

Dokumen terkait

Sebagai studi awal penentuan potensi panas bumi di Nagari Panti, Kecamatan Panti, Kabupaten Pasaman, penelitian ini akan memfokuskan penggunaan persamaan

Lingkup pekerjaan : Melakukan penyiapan dan evaluasi terhadap data-data teknis terhadap 15 wilayah potensi panas bumi hasil survei pendahuluan yang dilakukan oleh

Lingkup pekerjaan : Melakukan inventarisasi data infrastruktur industri pengguna energi panas bumi, melakukan evaluasi terhadap data yang terkumpul dan selanjutnya

Lingkup pekerjaan : Melakukan inventarisasi data infrastruktur industri pengguna energi panas bumi, melakukan evaluasi terhadap data yang terkumpul dan selanjutnya

Zona tahanan jenis < 100 Ohm-m ini diduga sebagai batuan penudung/ caprock dalam sis- tem panas bumi daerah ini, zona tahanan jenis ini berada dibagian tengah daerah survei

2) Lokasi pemunculan manifestasi panas bumi ditemukan pada tiga wilayah yaitu kecamatan Kecamatan Waeapo (Waesalit), Bata Bual (Waelawa), Kepala Madan (Waesekat), yang berupa mata

Berdasarkan hasil delineasi peta kerapatan kelurusan dan peta kerapatan perpotongan kelurusan menunjukkan bahwa daerah prospek panas bumi Gunung Lawu berada di bagian

Di Desa Akesahu Gamsungi Kecamatan Jailolo Timur Kabupaten Halmahera Barat terdapat titik mata air panas, Berdasarkan informasi adanya titik panas bumi tersebut