• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERSPEKTIF - Repository Unpak

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "PERSPEKTIF - Repository Unpak"

Copied!
103
0
0

Teks penuh

Pernyataan Lemaire tentang kebijakan hukum menyatakan bahwa “kebijakan hukum merupakan bagian dari kebijakan legislatif. Realitas perlunya merancang kebijakan hukum sedemikian rupa diterapkan untuk menyelesaikan berbagai permasalahan tersebut.

Ruang Lingkup Studi Politik Hukum

Kajian mengenai kebijakan hukum setidaknya menyangkut 3 hal, yaitu: 36 Pertama, kebijakan negara (jalur resmi) mengenai undang-undang yang akan ditegakkan atau tidak ditegakkan untuk mencapai tujuan bernegara. Ilmu Kebijakan Hukum yang diajarkan di fakultas hukum akan mencakup bahan ajar yang mencakup, namun tidak terbatas pada: 37.

Sistem Hukum Nasional

Selain itu, seluruh peraturan hukum nasional mungkin tidak dan akan bertentangan dengan peraturan hukum nasional.53. Menghadapi persimpangan tersebut, perkembangan hukum nasional (domestik) tidak lepas dari perkembangan (asas) hukum internasional (baru).

Karakteristik Politik Hukum

Hukum merupakan produk politik, sehingga isi suatu produk hukum akan ditentukan atau diwarnai oleh perimbangan kekuasaan atau konfigurasi politik yang melahirkannya. Uraian lengkap mengenai korelasi konfigurasi politik dengan pembentukan peraturan perundang-undangan sebagai bagian dari perkembangan sistem hukum dapat dilihat konteks dan keasliannya dalam analisis produk hukum konservatif/ortodoks yang terdapat pada masa penjajahan Belanda dan pasca. -Kemerdekaan Indonesia pada era Demokrasi Terarah,Soekarno dan pada masa pemerintahan Orde Baru Soeharto.

BAB III

Latar Belakang

Dalam kaitannya dengan PNS, hukum lingkungan hidup sebenarnya merupakan bentuk khusus dari hukum administrasi. Pemahaman lingkungan hidup nasional diprakarsai oleh dua orang pakar ilmu lingkungan hidup dan hukum lingkungan hidup Indonesia, Prof.

Perkembangan di Dunia Internasional

Hal lain yang juga perlu diperhatikan adalah kerusakan dan penurunan kualitas lingkungan hidup berdampak pada kehidupan manusia. Berikut beberapa kasus penurunan kualitas lingkungan yang menjadi sorotan para pemerhati lingkungan di seluruh dunia. Saat ini banyak negara yang telah memasukkan kebijakan peningkatan kualitas lingkungan hidup ke dalam prioritas nasionalnya.

Oleh karena itu, sangat penting untuk menganalisis dampak kebijakan yang diambil untuk meningkatkan kualitas lingkungan terhadap pertumbuhan ekonomi dan distribusi pendapatan. Selain itu, sangat penting untuk mencapai paket kebijakan untuk memperbaiki lingkungan, yang sekaligus mempercepat pertumbuhan ekonomi dan menciptakan distribusi pendapatan yang lebih merata.

Perkembangan di Indonesia

Argumen bahwa penurunan kualitas lingkungan akan mengurangi keuntungan yang dapat diperoleh dari kegiatan ekonomi dapat diterima secara luas (Lutz, 1993). Undang-undang pengelolaan lingkungan hidup tidak mudah untuk diterapkan, terutama pada apa yang disebut “masalah hijau” seperti pengelolaan sumber daya alam (air, tanah, tanah, ekosistem, keanekaragaman hayati dan spesies langka). Misalnya, jika Pasal 33(3) diubah atau diganti, tentu akan menimbulkan rasa tanggung jawab yang lebih besar di kalangan pemerintah dalam upaya pengelolaan lingkungan hidup.

Pada saat yang sama, hal ini akan memberikan kewenangan yang lebih besar terhadap perlindungan lingkungan secara umum. Indonesia bertanggung jawab terhadap perlindungan manusia dan sumber daya alam di lingkungan hidup Indonesia.

BAB IV

Landasan Yuridis

Kemudian terjadi pengalihan penyelesaian sengketa pilkada dari Mahkamah Agung ke Mahkamah Konstitusi. Penyelenggaraan pilkada langsung merupakan koreksi terhadap pemilihan kepala daerah tidak langsung melalui pemilihan DPRD sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999. Logikanya, jika kepala daerah dan wakil kepala daerah bertanggung jawab kepada DPRD, maka kedudukan DPRD adalah lebih tinggi dari Kepala Daerah.

Sejak disahkannya undang-undang no. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, kepala daerah dipilih langsung oleh rakyat melalui pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah atau disingkat Pilkada. Sejak disahkannya undang-undang no. 22 Tahun 2007 tentang Penyelenggaraan Pemilihan Umum, pemilu daerah termasuk dalam rezim pemilu, sehingga secara resmi disebut Pemilihan Umum Bupati dan Wakil Bupati atau disingkat Pemilukada.

Pemeriksaan Sengketa di Mahkamah Konstitusi

Undang-Undang Pilkada Nomor 8 Tahun 2015, Pasal 158 ayat (1) dan ayat (2) mengatur syarat untuk mengajukan perselisihan adalah, jika ada selisih selisih suara paling banyak dua persen dari penetapan. Provinsi. Jumlah suara KPU maksimal dua juta orang. Mahkamah Konstitusi mempunyai kekuasaan mengadili pada tingkat pertama dan terakhir, yang putusannya bersifat final dan mengikat untuk menguji undang-undang yang bertentangan dengan UUD, memutus perselisihan mengenai kewenangan lembaga negara yang kewenangannya diberikan UUD, untuk memutus. pembubaran partai politik. , dan menyelesaikan perselisihan tentang hasil pemilu. Mahkamah Konstitusi wajib mengambil keputusan atas pendapat DPR mengenai dugaan pelanggaran yang dilakukan Presiden dan/atau Wakil Presiden menurut UUD.

Menyelesaikan perselisihan mengenai kewenangan lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; Mahkamah Konstitusi wajib memberikan putusan atas pendapat DPR bahwa Presiden dan/atau Wakil Presiden diduga melakukan pelanggaran hukum berupa pengkhianatan terhadap negara, korupsi, penyuapan, dan tindak pidana berat lainnya. , atau perbuatan tercela, dan/atau wakil presiden sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

BAB V

Orde Baru (1966-1998)

Perubahan mendasar dalam peraturan pers baru terjadi setelah Undang-Undang Nomor 21 Tahun 1982 tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 11 Tahun 1966 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pers sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 4 Tahun 1967 diberlakukan. Namun harapan tersebut berakhir dengan ketentuan peraturan mengenai kewajiban memiliki Surat Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP)100 menggantikan kewajiban memiliki Surat Izin Penerbitan (SIT) sebagaimana diatur dalam undang-undang nomor 11 Tahun 1966.101 Ketentuan pasal 13 ayat ( 5) Undang-Undang Nomor 21 Tahun 1982 mewajibkan setiap Badan Hukum harus memiliki SIUPP terlebih dahulu untuk menerbitkan media. Kehadiran Undang-Undang Nomor 21 Tahun 1982 pada hakekatnya kurang penting bagi pemajuan kebebasan pers dibandingkan dengan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1966.

102 Dalam kasus pembatalan SIUPP Majalah Tempo, Majalah Redaksi, dan Tabloid DeTik pada tahun 1994, pemerintah dianggap melanggar Undang-Undang Nomor 21 Tahun 1982. Pembatalan SIUPP Tempo dinilai PTUN Jakarta sebagai bentuk larangan yang dilarang oleh Undang-Undang Nomor 21 Tahun 1982.

Era Reformasi (1999-sekarang)

Misalnya perubahan berbagai makna ideologis yang diperkenalkan dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1966, misalnya “alat revolusi” menjadi “alat Perjuangan Nasional”; “Penjaga revolusi” menjadi “penjaga ideologi Pancasila”; “Pers Sosialis Pancasila” menjadi “Pers Pancasila”; "tiga kerangka revolusi" menjadi "Tujuan Pembangunan Nasional"; "progresif" diubah menjadi "konstruktif-progresif"; "kontrarevolusi". Kata-kata dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1966 yang berbunyi “Pemerintah bersama Dewan Pers” diubah menjadi “Pemerintah setelah mendengar pertimbangan Dewan Pers”. Dengan perubahan ini, fungsi Dewan Pers hanya sebatas mendengarkan pertimbangan suatu persoalan pers, dan tidak lagi menjadi pihak yang mengambil keputusan bersama-sama dengan pemerintah. Setahun kemudian, UU No. Undang-undang ini dinilai sangat reformis, karena menghapus aturan SIUPP.

Untuk menunjukkan kemajuan regulasi pers yang memberikan ruang lebih bagi kebebasan pers, maka beberapa pokok pikiran undang-undang ini yang dinilai dapat memperkuat kebebasan pers akan diuraikan di bawah ini, yaitu: 106 Dua ketentuan dalam UU No. 40 Tahun 1999 memperluas makna kebebasan pers, yang tidak hanya berkaitan dengan kalangan internal jurnalistik, namun lebih mendasar lagi berupa pengakuan kebebasan pers sebagai perwujudan kedaulatan rakyat dan hak asasi warga negara.

BAB VI

Pengertian Awal

Dalam konteks terminologi, kata korupsi berasal dari kata latincorruptio, atau menurut Webster Student Dictionary adalahcorruptus.108 Kemudian dijelaskan bahwa istilah “corruptio” berasal dari kata latin “corrumpere”. Menurut Henry Campbell Black,109 korupsi diartikan sebagai “suatu perbuatan yang dilakukan dengan maksud untuk memberikan keuntungan yang bertentangan dengan tugas resmi dan hak orang lain”, atau diterjemahkan. Jika berbicara tentang korupsi, memang kita akan menemukan kenyataan yang demikian karena korupsi menyangkut aspek moral, sifat dan kondisi yang busuk, jabatan dalam instansi atau aparatur pemerintah, penyalahgunaan kekuasaan dalam jabatan karena hadiah, faktor ekonomi dan politik, serta penempatan. keluarga atau kelompok yang bekerja di bawah wewenang jabatannya.

Perkembangan Regulasi Pemberantasan Korupsi 110

Setelah pidatonya pada Hari Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1970, Suharto dengan UU No. 3 Tahun 1971 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, . pidana penjara paling lama seumur hidup dan denda paling banyak Rp 30 juta untuk semua pelanggaran yang berkategori korupsi. Undang-undang Nomor 3 Tahun 1971, yang dimaksud dengan tindak pidana korupsi adalah perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu badan yang dilakukan secara melawan hukum, yang secara langsung atau tidak langsung dapat merugikan keuangan Negara dan perekonomian Negara, baik diketahui maupun tidak. wajar. menduga tindakan tersebut merugikan keuangan. Tanah. Sebuah langkah yang sangat penting terjadi dengan terbitnya Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 yang kemudian diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi dan kemudian diubah lagi dengan Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2019 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Korupsi.

Dalam kerangka hukum positif, pengertian tindak pidana korupsi diberikan dalam pasal 1 angka 3 undang-undang no. 28 Tahun 1999 tentang penyelenggaraan negara yang bersih dan bebas korupsi, kerjasama dan nepotisme yaitu. Korupsi merupakan tindak pidana sebagaimana diatur dalam ketentuan hukum yang mengatur tentang tindak pidana korupsi”.

BAB VII

UU No. 19 Tahun 1948

122 Republik Indonesia, Undang-undang tentang Susunan dan Wewenang Mahkamah Agung serta Susunan Kejaksaan Agung dan Kekuasaan Jaksa Agung, UU No. 123 Republik Indonesia, Undang-Undang Tentang Susunan dan Kekuasaan Mahkamah Agung serta Susunan Kejaksaan Agung dan Kekuasaan Jaksa Agung. Terkait dengan Peradilan Tata Usaha Negara, walaupun secara hukum UU No. 19 Tahun 1948 mensyaratkan adanya lingkungan Peradilan Tata Usaha Negara, namun pada tahap ini belum dilaksanakan.

Faktor kondisi sosial politik UU No. 19 Tahun 1948 memberikan kemungkinan perkara Tata Usaha Negara untuk diselidiki dan diputus oleh Mahkamah Agung dan Mahkamah Agung. 124 Negara Republik Indonesia, Undang-undang tentang Susunan dan Kekuasaan Mahkamah Agung serta Susunan Kejaksaan Agung dan Kekuasaan Jaksa Agung, UU No. 19 Tahun 1948.

Regulasi Kekuasaan Kehakiman Era RIS

  • UU No. 1 Tahun 1950
  • UU Drt No. 16 Tahun 1950
  • Undang-undang darurat Nr. 18 Tahun 1950 131
  • UU Darurat No. 1 Tahun 1951
  • UU Drt Nomor 7 Tahun 1955
  • UU Darurat No.1 Tahun 1951
  • UU Drt Nomor 7 Tahun 1955

127 Negara Republik Indonesia, Undang-Undang Tentang Susunan, Kekuasaan dan Tata Cara Mahkamah Agung Indonesia, Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1950, LN Tahun 1950 Nomor 3. 128 Undang-undang Darurat Tentang Susunan dan Kekuasaan Mahkamah Agung Republik Indonesia/ Jaksa di lingkungan Peradilan Darurat Angkatan Darat UU No. Undang-Undang Darurat tentang Acara Pidana di Pengadilan Angkatan Darat (UU Darurat No. 17 Tahun 1950), sebagai undang-undang federal.130.

133 Negara Republik Indonesia, Undang-Undang Tentang Susunan, Kewenangan dan Tata Tertib Mahkamah Agung Indonesia, Undang-undang No. 1 Tahun 1950, LN Tahun 1950 No. 3. 140 Negara Republik Indonesia, Undang-Undang Darurat tentang Penyidikan, Penuntutan dan Pengadilan Kejahatan Ekonomi, UU DRT No. 7 Tahun 1955, LN RI Tahun 1955 No.

Regulasi Kekuasaan Kehakiman Pasca Dekrit 5 Juli 1959

  • UU No. 19 Tahun 1964
  • UU 13 Tahun 1965
  • Undang-Undang No. 14 Tahun 1985
  • UU No. 2 Tahun 1986 Peradilan umum
  • UU No 5 Tahun 1986
  • UU No. 7 Tahun 1989 Tentang Peradilan Agama
  • UU No. 3 Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak
  • UU No. 31 Tahun 1997 Tentang Peradilan Militer
  • Pembentukan Pengadian Khusus
    • UU No. 3 Tahun 1997 : Pengadilan Anak
    • UU No. 4 Tahun 2000: Pembentukan Pengadilan Niaga
    • UU No. 26 Tahun 2000 : Pembentukan Pengadilan HAM
    • Pengadilan Tipikor
    • UU Nomor 14 Tahun 2002 Tentang Pengadilan Pajak
    • Mahkamah Syariyah
    • Pembentukan Pengadilan Perikanan
    • UU No. 2 Tahun 2004 : Pembentukan Pengadilan Hubungan Industrial
    • UU No. 24 Tahun 2003 : Pembentukan Mahkamah Konstitusi

155 Penjelasan Umum tentang Undang-Undang yang Berkaitan dengan Peradilan pada Peradilan Umum dan Undang-Undang Mahkamah Agung UU 13 of 65 Tentang Mahkamah Agung. 14 Tahun 1970 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Kehakiman, Mahkamah Agung diberi kewenangan untuk melakukan peninjauan kembali, apabila hanya untuk melakukan pengujian peraturan perundang-undangan di bawah undang-undang. Mempunyai kewenangan menguji peraturan perundang-undangan secara substantif berdasarkan Undang-Undang terhadap Undang-Undang (pasal 31);

Keadilan biasa dalam undang-undang ini dilaksanakan oleh Pengadilan Negeri dan Pengadilan Tinggi, yang berpuncak pada Mahkamah Agung. Badan peradilan ini semuanya berpuncak pada Mahkamah Agung sesuai dengan asas yang tertuang dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1970.

Referensi

Dokumen terkait

Keywords: South Mansfield College; school library; learning space attributes; learning space; redesigning libraries Conference on Library and Information Studies CLIS 2020 Theme: