14 BAB IV
ANALISIS KEBIJAKAN LUAR NEGERI AUSTRALIA DALAM MENJAGA KEAMANAN REGIONAL DI LAUT CHINA SELATAN
Nota Verbal Australia kepada PBB dengan nomor surat N 20/026 tanggal 23 Juli 2020 menyatakan bahwa Australia menolak klaim China yang menggunakan nine dash line untuk mengepung gugusan pulau di Laut China Selatan dan meminta China untuk mematuhi hasil Pengadilan Arbitrase pada tahun 2016 yang sudah diajukan oleh Filipina sebelumnya, terlebih lagi China juga turut meratifikasi UNCLOS. Tetapi dengan China menolak keputusan tersebut telah menyebabkan ketegangan di kawasan dan meningkatnya rivalitas China-AS. Kebijakan luar negeri Australia selain mendukung UNCLOS adalah mencoba menegakkan prinsip kebebasan navigasi dan penerbangan di Laut Cina Selatan. Australia juga menentang tindakan apapun yang dapat mengancam stabilitas dan keamanan kawasan, seperti militerisasi pulau- pulau yang disengketakan dan mendukung penyelesaian sengketa secara damai melalui jalur hukum. Sayangnya dilema keamanan sudah terjadi yang menyebabkan Australia turut mengambil inisiatif membentuk pakta keamanan dan meningkatkan kapasitas militer dalam negerinya.
4.1 Kepentingan China di Laut China Selatan Melalui Nine Dash Line
Laut China Selatan merupakan kawasan dengan berbagai tabrakan kepentingan antar negara baik itu negara-negara di kawasan ataupun di luar kawasan dan salah satu pemain penting di kawasan ini adalah China yang melalui nine dash line berhasil memicu ketegangan di kawasan. China pun memiliki beberapa kepentingan nasional yang signifikan karena sejumlah alasan. Pertama dan terpenting, Laut China Selatan dianggap sebagai jalur maritim strategis yang vital bagi China. Mengutip dari The United Nations Conference on Trade and Development (UNCTAD) berspekulasi sekitar 80% perdagangan global berdasarkan volume dibawa melalui laut. Dari volume itu, 60% perdagangan maritim melewati Asia, dengan sepertiga pelayaran dunia melalui Laut Cina Selatan (UNCTAD, 2016). Nilai perdagangan dunia ini pun dapat mencapai senilai $5,3 triliun setiap tahunnya dan pada 2016 nilai ekspor China melalui Laut China Selatan mencapai $874 Miliar (China Power Team, 2021). Melihat hal tersebut maka penguasaan Laut China Selatan akan memberikan pengaruh yang lebih besar bagi China atas jalur pelayaran internasional dan meningkatkan kemampuannya untuk mengatur dan melindungi kepentingan pelayarannya sendiri.
Kedua, Laut China Selatan diperkirakan terdapat cadangan minyak dan gas alam yang besar. China sangat bergantung pada sumber energi impor untuk menggerakkan ekonominya
15
yang berkembang pesat. Dalam jangka panjang, pertumbuhan produksi industri dan perluasan sektor transportasi mempengaruhi impor minyak China. Dengan demikian, ketika ekonomi Tiongkok mengalami industrialisasi dan sektor otomotif berkembang, impor minyak Tiongkok cenderung meningkat. Adanya penemuan cadangan yang signifikan di Laut China Selatan tentunya akan sangat menguntungkan ketahanan energi China. U.S. Energy Information Administration (EIA) memperkirakan bahwa terdapat sekitar 11 miliar barel kandungan minyak, gas alam mencapai 190 triliun kaki kubik/the cubic foot (TCF), dan cadangan hidrokarbon sebagai salah satu sumber daya energi yang sangat penting. Selain itu Kepulauan Spratly dan Kepulauan Paracel yang menjadi sengketa diduga menyimpan 2,5 miliar barel cadangan mineral dan 25,5 TCF gas alam yang belum dieksplorasi (Maksum, 2017). Namun, pemerintah China menyatakan Laut China Selatan memiliki potensi 17 miliar ton minyak dan jumlah ini lebih besar dari potensi kuantitas cadangan minyak Kuwait yang hanya mencapai sekitar 13 miliar ton (Shaohua, 2006).
Ketiga, Laut China Selatan juga merupakan daerah penangkapan ikan yang penting bagi China. Penduduk pesisir China sangat bergantung pada ikan sebagai sumber protein, dan Laut China Selatan merupakan rumah bagi berbagai macam spesies ikan. Per tahunnya hasil tangkapan di Laut China Selatan dapat mencapai sekitar 16 miliar USD per tahun (Pauly, 2020). Penguasaan Laut China Selatan akan memberi China akses yang lebih besar ke sumber daya ini, dan juga memungkinkan China untuk mengatur dan melindungi kepentingan penangkapan ikannya.
Keempat, Laut China Selatan merupakan sumber kebanggaan dan sentimen nasionalisme bagi China. Nine dash line yang digunakan China untuk membatasi klaim teritorialnya di Laut China Selatan, dianggap sebagai simbol penting kedaulatan dan integritas teritorial China.
Garis tersebut dipandang oleh banyak orang di China sebagai simbol ikatan sejarah dan budaya China dengan wilayah tersebut, dan pemerintah telah menggunakan sentimen ini untuk menggalang dukungan publik atas klaim teritorialnya di Laut China Selatan. Mengutip dari pernyataan Kementerian Luar Negeri China bahwa China Nanhai Zhudao (Kepulauan Laut China Selatan) terdiri dari Dongsha Qundao (Kepulauan Pratas), Xisha Qundao (Kepulauan Paracel), Zhongsha Qundao (Kepulauan Zhongsha) dan Nansha Qundao (Kepulauan Spratly).
Aktivitas orang Tionghoa di Laut China Selatan dimulai lebih dari 2.000 tahun yang lalu.
Tiongkok adalah yang pertama menemukan, menamai, dan menjelajahi serta mengeksploitasi Kepulauan Laut China Selatan dan perairan yang relevan, dan yang pertama menjalankan kedaulatan dan yurisdiksi atas mereka secara terus menerus, damai dan efektif, sehingga menetapkan kedaulatan teritorial dan hak serta kepentingan yang relevan di Kepulauan Laut
16
China Selatan. Menyusul berakhirnya Perang Dunia Kedua, Tiongkok pulih dan melanjutkan pelaksanaan kedaulatan atas Kepulauan Laut China Selatan yang telah diduduki secara ilegal oleh Jepang selama perang melawan China. Untuk memperkuat administrasi atas Kepulauan Laut China Selatan, pemerintah China pada tahun 1947 meninjau dan memperbarui nama geografis Kepulauan Laut China Selatan, menyusun Nan Hai Zhu Dao Di Li Zhi Lüe (Catatan Singkat Geografi Kepulauan Laut China Selatan), dan menggambar Nan Hai Zhu Dao Wei Zhi Tu (Peta Lokasi Kepulauan Laut Cina Selatan) yang ditandai dengan garis putus-putus (Ministry of Foreign Affairs of the People’s Republic of China, 2016). Peta ini secara resmi diterbitkan dan diketahui dunia oleh pemerintah China pada Februari 1948. Selain itu pemerintah China telah teguh menjunjung tinggi kedaulatan teritorial dan hak serta kepentingan maritim China di Laut Cina Selatan. Serangkaian instrumen hukum, seperti Deklarasi Pemerintah Republik Rakyat Tiongkok tahun 1958 tentang Laut Teritorial China, Undang-Undang Republik Rakyat Tiongkok tahun 1992 tentang Laut Teritorial dan Zona Tambahan, Undang-Undang Republik Rakyat Tiongkok tahun 1998 tentang Zona Ekonomi Eksklusif dan Landas Kontinen dan Keputusan Komite Tetap Kongres Rakyat Nasional Republik Rakyat Tiongkok tahun 1996 tentang Ratifikasi UNCLOS, telah lebih jauh menegaskan kembali kedaulatan teritorial dan hak serta kepentingan maritim Tiongkok di Laut China Selatan.
Pentingnya posisi kawasan ini bagi kepentingan nasional China dituangkan dalam nine dash line yang menyatakan bahwa lebih dari 80% Laut Cina Selatan secara historis adalah wilayah kedaulatannya (Leigh, Martin, & Leung, 2020), yang mencakup kepulauan Paracel dan Spratly, serta Macclesfield Bank dan Scarborough Shoal yang menjadi sengketa oleh negara-negara di kawasan itu. Klaim sepihak ini akhirnya berimbas pada pemotongan wilayah laut yang diakui secara internasional dari beberapa negara Asia Tenggara, yaitu Vietnam, Malaysia, Brunei, Indonesia, dan Filipina. Meskipun garis tersebut tidak diakui oleh hukum internasional, China tetap berpegang teguh pada pendiriannya seperti yang dikatakan oleh Xi Jinping:
“While we pursue peaceful development, we will never relinquish our legitimate rights and interests, or allow China's core interests to be undermined. We should firmly uphold China's territorial sovereignty, maritime rights and interests and national unity, and properly
handle territorial and island disputes (Ministry of Foreign Affairs of the People’s Republic of China, 2014).”
17
Gambar 2. Militerisasi Kepualauan Spratly
Sumber: Asia Maritime Transparency Initiative Center for Strategic & International Studies
Selain melakukan klaim menggunakan nine dash line pemerintah China juga melakukan militerisasi dengan membangun pangkalan buatan di Kepulauan Spratly yang meliputi landasan pacu, pelabuhan, dan berbagai fasilitas militer. Pada 18 Juli 2016, Wu Shengli, panglima angkatan laut China menyatakan bahwa China tidak akan mundur dan tetap melanjutkan kampanye kontroversialnya untuk mengubah terumbu karang di Laut China Selatan menjadi pulau buatan termasuk dengan pangkalan militer lengkap di dalamnya. (Beech, 2016).
Tujuan dari militerisasi ini akan memberi China kontrol yang lebih besar atas wilayah tersebut dan akan membantu melindungi kepentingan strategisnya. Ini termasuk melindungi diri dari musuh potensial, seperti Amerika Serikat, dan mempertahankan akses ke Pasifik Barat.
Selain itu, Laut China Selatan juga merupakan tempat pelatihan penting bagi militer China dan merupakan jalur maritim Belt Road Initiative (BRI) yang menghubungkan China dengan Timur Tengah, Afrika, dan Eropa. Rute maritim merupakan komponen kunci dari BRI, karena diharapkan dapat meningkatkan perdagangan, investasi, dan konektivitas antara China dan negara-negara lain di kawasan tersebut.
4.2 Tantangan Australia dalam Mengembalikan Keamanan Regional di Laut China Selatan
Australia memerlukan Laut China Selatan yang aman dan bebas. Hal ini dikarenakan perdagangan Australia sebesar 98% melalui laut dan sekitar sepertiga perdagangan melewati Laut China Selatan (Strating, 2020), juga bagi Australia Laut China Selatan merupakan penghubung perdagangan antara negara-negara Asia Timur (Mulyadi, 2021). Mengutip dari Australia Defence White Paper 2016, sekitar dua pertiga ekspor Australia melewati Laut Cina
18
Selatan, dengan ekspor utama batu bara, bijih besi, anggur, daging sapi, dan gas alam cair.
Tatanan regional berbasis aturan yang stabil sangat penting untuk memastikan akses Australia ke sistem perdagangan yang terbuka, bebas, dan aman guna meminimalkan risiko pemaksaan dan ketidakstabilan yang secara langsung akan mempengaruhi kepentingan Australia (Department of Defence of Australia, 2016). Lebih jauh lagi Laut Cina Selatan membawa kepentingan strategis bagi keamanan Australia, karena merupakan wilayah kunci untuk proyeksi kekuatan militer di kawasan Indo-Pasifik. Meskipun Australia memiliki masalah dengan China, tetapi perlu diperhatikan bahwa China merupakan mitra dagang utama Australia yang menyumbang perdagangan setara dengan 7% dari Produk Domestik Bruto (PDB) Australia dan 36% dari total ekspor. Selain itu, Australia memiliki jumlah siswa Tionghoa tertinggi kedua yang terdaftar dalam sistem pendidikannya di dunia. Turis China menyumbang 27% dari pengeluaran turis internasional. Dengan demikian, Australia secara ekonomi rentan terhadap agresi China (Vijaya, 2021).
China secara terbuka menentang pemerintah Australia dan mengenakan tarif berat sebesar 218% untuk anggur Australia pada tahun 2020 yang kemungkinan akan berlangsung selama lima tahun. Australia telah membawa perselisihan ini ke World Trade Organization untuk diselesaikan (World Trade Organization, 2022). Ekspor anggur Australia ke China bernilai AU$1,1 miliar tetapi turun drastis sejak pengenaan tarif. Selain itu, China menekan pemerintah Australia untuk mencabut kebijakan anti-China mereka dan juga memeriksa ekspor bijih besi dan gas Australia. Merespon hal ini Perdana Menteri Australia Scott Morrison, dalam pidatonya menyatakan: “our responsibilities to our part of the world, our patch” (Prime Minister of Australia, 2019). Efek samping dari memburuknya hubungan dengan China sesungguhnya dapat menjadi upaya Australia dalam mempromosikan diversifikasi pasar, khususnya universitas dan bisnis yang tingkat ketergantungannya tinggi pada China yang mana Australia dapat menemukan pasar baru di tempat lain.
Basis hukum dari Nota Verbal Australia berfokus pada UNCLOS 1982 yang menguraikan bahwasanya suatu negara berdaulat atas perairan sejauh 12 mil laut dari wilayahnya dan memiliki kendali eksklusif atas kegiatan ekonomi di wilayah perairan 200 mil laut, yang disebut sebagai Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE). Penetapan zona atau wilayah perairan suatu negara dapat dilakukan dengan menarik garis pangkal (baseline) laut teritorial atau ZEE sesuai dengan metode yang ditetapkan oleh UNCLOS sehingga dapat diketahui batas maritim (delimitasi) negara tersebut, UNCLOS hanya mengakui tiga metode baseline: normal baseline, straight baseline, dan archipelagic baseline. Sementara itu, klaim historis nine dash line tidak didasarkan pada UNCLOS dan ditolak oleh beberapa negara seperti Inggris, Prancis,
19
dan Jerman. Negara-negara tersebut bahkan mengirimkan nota ke PBB untuk mendukung Malaysia, Australia, Indonesia, Vietnam, Filipina, dan Amerika yang menyatakan teguran diplomatik dan keberatan atas klaim maritim China di Laut China Selatan melalui Commission on the Limits of the Continental Shelf (CLCS).
Selain komitmen Australia mendukung UNCLOS dan prinsip kebebasan navigasi dan penerbangan di Laut Cina Selatan. Australia juga menentang tindakan apapun yang dapat mengancam stabilitas dan keamanan kawasan, seperti militerisasi pulau-pulau yang disengketakan dan mendukung penyelesaian sengketa secara damai melalui jalur hukum. Hal ini juga disampaikan oleh mantan Menteri Pertahanan Dennis Richardson secara terbuka berkomentar: “I believe we should be conducting freedom of navigation exercises through territorial seas claimed by China, generated by man-made features. They (China) have the right to be in the South China Sea, but they don't have a right to create man-made features and seek to assert territorial waters from those” (Grigg & Murray, 2018). Menteri Luar Negeri Bishop juga merespon: “We will continue to exercise our rights to freedom of navigation, pursuant to international law, as we have always done and we will continue to do so. What we won't do is unilaterally provoke an increase in tensions in the South China Sea” (Cook, 2021).
Demi memperkuat supremasi hukum di Laut Cina Selatan, sudah jelas bahwa Australia harus menekankan pesan bahwa bukan aturan apapun tetapi hukum internasional, terutama UNCLOS yang perlu ditegakkan. Pesan semacam itu dapat dikirim melalui upaya seperti pesan diplomatik, peningkatan kapasitas lembaga penegak hukum maritim, Operasi Kebebasan Navigasi/Freedom of Navigation Operations (FONOPS), dan kehadiran militer lainnya di wilayah tersebut.
Tidak cukup hanya dengan nine dash line, tindakan China di Laut China Selatan termasuk reklamasi tanah dan militerisasi pulau yang disengketakan telah menimbulkan kekhawatiran dan pertanyaan tentang komitmennya terhadap penyelesaian sengketa secara damai. Australia pun prihatin dengan ekspansi China dan dengan anggaran militer China tumbuh sekitar 9% per tahun selama satu dekade terakhir (Office of the Secretary of Defense, 2017). Tentunya dapat dikatakan bahwa peningkatan kekuatan militer oleh China berhasil memancing dilema keamanan yang dapat dilihat sebagai bentuk ancaman bagi keamanan negara lain. Dampak lain dari militerisasi China ini adalah timbulnya ‘grey-zone’ yang menggambarkan kegiatan untuk memaksa suatu negara dengan cara berusaha menghindari konflik militer. Contohnya termasuk penggunaan pasukan para-militer, militerisasi wilayah yang disengketakan, eksploitasi pengaruh, isu-isu seperti pembajakan, Illegal, Unreported and Unregulated (IUU) Fishing, ancaman perdagangan atau ekonomi secara paksa yang
20
mengancam kedaulatan dan kepentingan Australia di kawasan (Department of Defence of Australia, 2020).
Pemaksaan, persaingan, dan aktivitas di grey-zone yang secara langsung atau tidak langsung menargetkan kepentingan Australia dengan tumbuhnya kemampuan militer regional China dan kecepatan penyebarannya, berarti Australia tidak dapat lagi berasumsi bahwa akan memiliki waktu untuk secara bertahap menyesuaikan kemampuan dan kesiapsiagaan militer dalam menanggapi tantangan yang muncul. Ini termasuk pasokan amunisi khusus dan kebutuhan logistik, seperti bahan bakar, yang sangat penting untuk kemampuan militer. Oleh karena itu, Australia telah berinvestasi dalam kemampuan militernya sendiri, seperti pemerintah berkomitmen untuk mengembangkan infrastruktur pembangunan kapal, termasuk pangkalan kapal selam baru di pantai timur Australia. Angkatan Darat Australia akan menjadi kekuatan tempur masa depan dengan investasi ke dalam sistem pengawasan udara tanpa awak, helikopter Chinook Ch-47F, tank Abrams, dan kendaraan teknik tempur. Angkatan Udara akan ditingkatkan dengan memperluas dukungan dalam layanan untuk Sistem Pelatihan Tempur Lead-In Hawk 127 (Departement of Defence of Australia, 2022). Selain itu kemampuan Australian Defence Force (ADF) yang masih dapat dikembangkan, seperti: howitzer self- propelled dan tembakan jarak jauh berbasis darat; pertahanan rudal balistik; pertahanan udara berbasis darat jarak menengah; Unmanned aerial vehicle (UAV) Triton; satelit pengawasan dan komunikasi berbasis ruang angkasa yang dimiliki negara; peningkatan personel militer dari sekitar 60.000 menjadi sekitar 80.000 (Hellyer & Stevens, 2022).
4.3 Pakta Keamanan sebagai Alat untuk Mencapai Kepentingan Nasional Australia Neo-realisme defensif menggambarkan bahwa negara dengan kekuatan militer menengah, seperti Australia cenderung lebih memilih pertahanan dengan cara membangun persenjataan militer mereka, membangun balance of power, dan mempertahankan status quo.
Ukuran dari kekuatan militer menengah dapat dilihat dari pendekatan posisi atau berfokus kepada faktor-faktor yang dapat diukur, seperti PDB, populasi, ukuran militer, dan pembelanjaan pertahanan, untuk mengembangkan peringkat ukuran kekuatan negara yang
‘objektif’. Dalam sistem modern, dengan 193 negara berdaulat yang diakui oleh PBB, kekuatan menengah diharapkan dapat ditemukan dalam urutan 20 besar (Carr, 2014). PDB Australia untuk tahun 2023 menurut International Monetary Fund (IMF) bisa mencapai $1.9 miliar (IMF, 2023), kemudian Australia juga masuk ke dalam G20 dan termasuk peringkat 14 negara dengan PDB terbesar (Knoema, 2022). Mengutip dari Global Fire Power ukuran militer Australia berada di urutan ke 16 dengan memiliki kekuatan tempur personel garis depan
21
sebanyak 60.500, 59 tank, 353 pesawat tempur, 43 Kapal angkatan laut termasuk 6 kapal selam.
Selanjutnya untuk pembelanjaan pertahanan Australia di 2023 masuk ke dalam 8 besar sebanyak $52 miliar (Global Fire Power, 2023). Namun, populasi Australia berada di peringkat ke 54 dengan total populasi 25.978.935 orang pada 30 Juni 2022 (Australian Bureau of Statistics, 2022).
Negara-negara kekuatan menengah bereaksi terhadap variabel ancaman yang dirasakan dalam bentuk ketidakstabilan global secara umum sebagai lawan dari musuh nasional atau kolektif tertentu (Douch & Solomon, 2014). Karakteristik kunci kekuatan menengah adalah kurangnya kemampuan untuk melindungi negaranya dalam masalah internasional tanpa kerja sama keamanan bilateral atau multilateral (Jordaan, 2003). Meskipun kekuatan menengah mungkin lebih suka bertindak dalam aliansi ketika menyangkut urusan militer, tetapi mereka wajib berusaha memiliki otonomi atau kemandirian pertahanan minimum yang kredibel.
Keohane dengan pendekatan dampak sistemik mendefinisikan kekuatan menengah sebagai negara yang dapat melindungi kepentingan inti mereka dan memulai atau memimpin perubahan dalam aspek tertentu melalui struktur formal, seperti perjanjian dan institusi internasional, dan sarana informal, seperti norma atau perimbangan kekuatan dari tatanan internasional yang ada (Douch & Solomon, 2014).
Sebagai kekuatan menengah kemampuan teknologi militer Australia jelas berada di bawah China terlebih lagi China memiliki senjata pemusnah massal seperti nuklir dan Intercontinental Ballistic Missile (ICBM). China baru-baru ini telah memiliki lebih dari 400 hulu ledak nuklir serta sebuah laporan Pentagon yang dirilis pada November mengatakan China sedang membangun cadangan nuklirnya dengan cepat, dan akan memiliki sekitar 1.500 hulu ledak nuklir pada tahun 2035 (Britzky, 2023). Walaupun ancaman sudah di depan mata Australia masih belum memiliki senjata penangkal yang memadai. Bagi Waltz, negara berkepentingan dengan mempertahankan “posisi mereka dalam sistem” (Waltz, 1979). Adanya peningkatan militerisasi dan klaim sepihak oleh China di kawasan seperti yang sudah dijelaskan di atas menggambarkan upaya China dapat mengakibatkan dilema keamanan bagi negara lain. Hal ini, menciptakan keamanan bersama sehingga diperlukan kerjasama yang lebih diutamakan untuk mengurangi dilema keamanan. Begitupun Australia demi mempertahankan balance of power dan status quo di Laut China Selatan perlu membentuk pakta keamanan bersama aliansi strategisnya. Adapun dua pakta keamanan yang paling berpengaruh bagi Kebijakan Luar Negeri Australia di Laut China Selatan, yaitu QUAD dan AUKUS yang akan dibahas lebih jauh dibawah ini.
22
4.3.1 The Quadrilateral Security Dialogue (QUAD)
Kemitraan QUAD antara Australia, India, Jepang, dan Amerika Serikat merupakan salah satu pilar utama dalam kebijakan luar negeri Australia. QUAD merupakan jaringan diplomatik empat negara yang berkomitmen untuk mendukung Indo-Pasifik yang bebas, terbuka, inklusif, dan tangguh. Selain dengan keempat negara, kerja sama juga dilakukan dengan negara-negara anggota ASEAN dan negara-negara di Pasifik. Pada awalnya anggota QUAD bekerja untuk menangani masalah keamanan, ekonomi, kesehatan, dan masalah lain yang mungkin mereka hadapi sebagai masalah ekonomi yang dinamis. Namun, fokus aliansi ini bergeser karena perilaku asertif China di Laut China Selatan yang ingin mereka lawan dengan pendekatan yang lebih konstruktif (Naqvi & Khan, 2021). Bagi Australia, QUAD adalah cara untuk menghadapi ancaman keamanan non-tradisional dan juga masalah lain seperti perubahan iklim, tetapi yang terpenting, Australia juga seperti anggota lainnya bertujuan melawan dominasi dan pengaruh China di wilayah tersebut. Mengutip dari QUAD Joint Leaders Statement menyatakan bahwa QUAD mendukung prinsip-prinsip kebebasan, supremasi hukum, demokrasi, kedaulatan dan integritas wilayah, penyelesaian konflik dengan cara damai tanpa kekerasan, menentang upaya sepihak untuk mengubah status quo, serta kebebasan navigasi dan penerbangan. Prinsip-prinsip tersebut dianggap penting bagi stabilitas, perdamaian, dan kemakmuran kawasan Indo-Pasifik. QUAD akan terus berupaya untuk menjaga prinsip-prinsip ini di kawasan, terutama dengan menegakkan aturan-aturan internasional yang membebaskan negara-negara dari paksaan militer, ekonomi, dan politik.
(The White House, 2022 ).
Melihat dari penjelasan diatas dan hubungannya dengan keamanan regional di Laut China Selatan dapat ditarik benang merah bahwa QUAD penting karena memberikan penyeimbang terhadap pengaruh China yang berkembang di wilayah tersebut. QUAD menyediakan platform bagi negara-negara ini untuk mengkoordinasikan respon mereka terhadap perilaku China dan bekerja sama untuk meningkatkan stabilitas di kawasan. Hal ini sangat penting karena Laut Cina Selatan adalah jalur laut komersial yang membutuhkan stabilitas kawasan dan berpengaruh besar bagi ekonomi serta keamanan internasional. Terlebih lagi Australia dijadwalkan menjadi tuan rumah pertemuan QUAD berikutnya pada pertengahan 2023. Perdana Menteri Anthony Albanese mengatakan: “standing together for a free, open and resilient Indo-Pacific region, and working together to tackle the biggest challenges of our time, including climate change and the security of our region” (Aap, 2022).
Memang benar bahwasanya untuk mewujudkan keamanan regional QUAD perlu melakukan penyelesaian perselisihan secara damai tanpa menggunakan ancaman atau
23
penggunaan kekerasan. Namun, kenyataannya dengan sudah terbentuknya dilema keamanan pada akhirnya upaya militer untuk menekan pengaruh China sudah tidak terelakan. Kerja sama militer telah meluas di antara keempat negara. Salah satunya adalah Malabar yang merupakan Latihan angkatan laut bersama tahunan. Pejabat Pertahanan Amerika mengatakan Malabar bisa menjadi latihan perang yang ampuh yang memperdalam kepercayaan dan interoperabilitas di antara militer empat negara di domain udara dan laut (Chanlett-Avery, Kronstadt, & Vaughn, 2023). Militer keempat negara ini diharapkan dapat mengoperasikan sistem perang anti-kapal selam yang kompatibel sehingga menjadikannya bidang kerja sama yang sangat menjanjikan.
Selain Malabar, negara-negara QUAD meningkatkan latihan bilateral, trilateral, dan multilateral satu sama lain yang dapat mempercepat pembangunan kemampuan terintegrasi.
Contoh dari latihan ini adalah latihan angkatan laut AUSINDEX tiap dua tahun antara India- Australia, latihan JIMEX Jepang-India di Laut Arab Utara, dan latihan maritim multilateral yang mencakup keempat negara yang dilakukan tiap dua tahun Rim of the Pacific (RIMPAC).
Pada tahun 2023, Jepang dan India mengadakan latihan tempur udara bersama untuk pertama kalinya. Sebagai sekutu Amerika Serikat, Australia, dan Jepang secara rutin mengadakan latihan berskala besar dengan militer Amerika (Chanlett-Avery, Kronstadt, & Vaughn, 2023).
Gambar 3. Latihan Militer RIMPAC 2020
Sumber: U.S. Pacific Fleet Public Affairs
Bukan hanya di bidang keamanan, antar negara anggota QUAD juga melakukan berbagai kemitraan, seperti Australia dan Jepang telah memperkuat hubungan keamanan dan ekonomi dengan serangkaian perjanjian bilateral. Dibentuknya Supply Chain Resilience Initiative (SCRI) oleh Australia, Jepang, dan India untuk memastikan pertumbuhan yang berkelanjutan dan seimbang di kawasan Indo-Pasifik serta untuk mengurangi ketergantungan rantai pasokan pada China. Pada bulan Juni 2020, Australia dan India menandatangani Mutual
24
Logistics Support Agreement (MLSA) dan mengumumkan peningkatan hubungan bilateral mereka menjadi kemitraan strategis komprehensif.
Keempat negara anggota QUAD, utamanya Australia bertemu pada kepentingan geostrategis yang dapat dijelaskan dengan baik menggunakan perspektif neo-realis defensif.
Tujuan penting dari negara-negara ini adalah untuk mempertahankan keseimbangan kekuatan yang stabil sehingga dapat mencegah ekspansi China mengganggu status quo. Seperti yang disarankan oleh asumsi neorealis, sistem internasional bersifat anarkis dan negara bertindak dengan cara memaksimalkan kekuatan untuk memastikan kelangsungan hidup mereka.
Australia guna mencoba melawan kebangkitan China, berusaha untuk membangun konsensus yang menguntungkan serta dapat mempertahankan status quo di Laut China Selatan. Selain itu, Australia tidak ingin klaim teritorial China menghalangi perdagangan internasional atau kemampuannya untuk memainkan peran di kawasan.
4.3.2 Pakta Keamanan Australia, Inggris, dan Amerika Serikat (AUKUS)
Canberra mengumumkan kemitraan keamanan terbarunya dengan Washington dan London melalui penandatanganan AUKUS pada 15 September 2021. AUKUS penting bagi Australia karena memberikan kerangka kerja sama dengan dua kekuatan militer terbesar dunia Amerika Serikat dan Inggris. Hal ini tercermin dalam Joint Leaders Statement on AUKUS 2021: “strengthen the ability of each to support our security and defence interests, building on our longstanding and ongoing bilateral ties” (The White House, 2021). Kerja sama tersebut meliputi latihan militer bersama, peningkatan kemampuan intelijen yang berkaitan dengan jaringan siber, akuisisi rudal jelajah Tomahawk, dan pengembangan teknologi pertahanan baru.
Amerika Serikat dan Inggris memiliki kehadiran yang signifikan di kawasan Asia-Pasifik, dan dukungan mereka untuk Australia membantu mencegah potensi ancaman di Laut Cina Selatan dan memastikan stabilitas kawasan.
Melalui AUKUS, Australia akan memperoleh setidaknya 8 kapal selam bertenaga nuklir yang dipersenjatai secara konvensional, dengan karakteristik siluman, kecepatan, kemampuan manuver, kemampuan bertahan, dan daya tahan yang unggul, untuk memastikan Australia dapat mempertahankan pencegahan yang efektif dalam beberapa dekade mendatang.
Mitra AUKUS telah berkomitmen untuk memperkuat upaya bersama dalam mencegah konflik di Indo-Pasifik melalui dua pilar. Pilar pertama, upaya AUKUS mengidentifikasi jalur optimal untuk mengirimkan kemampuan kapal selam bertenaga nuklir ke Australia. Pilar kedua, AUKUS difokuskan pada kemampuan tingkat lanjut, seperti meningkatkan keunggulan teknologi ketiga negara dengan menggabungkan sumber daya dalam enam bidang: kemampuan
25
siber, kecerdasan buatan, teknologi kuantum, kemampuan bawah laut, senjata hipersonik dan kontra hipersonik, serta peperangan elektronik (Department of Defence of Australia, 2022).
Penandatanganan Perjanjian Pertukaran Informasi Propulsi Nuklir Angkatan Laut dengan negara anggota AUKUS adalah langkah penting dalam pengejaran kapal selam bertenaga nuklir Australia. Perjanjian tersebut berarti bahwa Inggris dan Amerika Serikat dapat berbagi informasi dengan Australia, membantu memajukan program kapal selam nuklir Australia, dan memastikan Australia dapat terus menjadi mitra yang andal.
Modernisasi angkatan laut China yang cepat telah mengakhiri supremasi angkatan laut Amerika Serikat di Asia Timur (Department of Defence of Australia, 2020). Sedangkan kapal selam bertenaga nuklir ini akan membutuhkan waktu lama untuk dibangun dan akan mahal serta sulit dioperasikan (White, 2021). Kapal selam ini juga tidak akan beroperasi sampai akhir 2030-an - awal 2040, menyisakan jeda sekitar 15 tahun. Menteri Industri Pertahanan bersama Menteri Sains dan Teknologi telah menegaskan kembali pentingnya proyek tersebut bagi perekonomian dan untuk mendorong industri pertahanan Australia (Adamy, 2022). Dengan kata lain relevansi AUKUS dalam pencegahan kemampuan militerisasi China pun masih memerlukan waktu. Akan tetapi, sebagai gantinya Australia dapat melakukan latihan militer intensif dengan kapal selam Inggris atau Amerika untuk berlatih dan belajar mengoperasikan kapal selam sehingga ketika kapal selam nuklir tersebut sudah bisa beroperasi Australia memiliki sumber daya manusia yang memadai.
Pada saat angkatan laut Australia sudah memiliki kapal selam nuklir tersebut maka akan mempengaruhi keseimbangan kekuatan angkatan laut China atau AS di Laut China Selatan.
Angkatan Laut Australia saat ini masih mengoperasikan kapal selam diesel elektrik kelas Collins yang tidak dapat digunakan dalam jangka panjang karena mereka harus muncul sesekali, dibandingkan dengan kapal selam bertenaga nuklir yang dapat beroperasi dalam waktu sekitar 90 hari di bawah air atau dapat mengelilingi dunia sebanyak 20 kali tanpa harus diisi ulang dan sangat cocok untuk bernavigasi di wilayah yang luas seperti Indo-Pasifik. Kapal selam nuklir lebih senyap daripada kapal selam diesel atau listrik, mereka akan terbukti vital dalam persaingan melawan China. Kapal selam nuklir lebih cepat daripada kapal selam konvensional sehingga mereka juga akan memiliki fungsi pengawalan pada penempatan jangka panjang bersama kapal perang (Adamy, 2022). Adanya kapal selam nuklir ini secara tidak langsung juga memberikan kemampuan angkatan laut Australia untuk mengurangi kesenjangan kekuatan baik dengan China ataupun sekutu dari Australia.
26
Gambar 4. Kemampuan dan Cara Kerja Kapal Selam Nuklir AUKUS
Sumber: ABC News
Penting untuk diketahui bahwa AUKUS tidak serta merta menggantikan QUAD hal ini disebabkan oleh dua faktor. Pertama, para pemimpin AUKUS menggarisbawahi pentingnya melanjutkan kemitraan dengan anggota QUAD, ASEAN, dan sekutu lainnya dari Eropa yang tentunya memiliki kepentingan bertentangan dengan China, sehingga memastikan keseimbangan kekuatan yang stabil di kawasan. Kedua, AUKUS didirikan di atas cita-cita yang sama dengan QUAD, yaitu menjaga kebebasan, kemakmuran bersama, dan mematuhi supremasi hukum. QUAD sebagian besar difokuskan pada teknologi baru, perdagangan, rantai pasokan, dan perubahan iklim untuk melawan China, sedangkan AUKUS adalah aliansi militer yang eksplisit.
4.4 Strategi Kebijakan Luar Negeri Australia dalam Menjaga Keamanan Regional di Laut China Selatan
Laut China Selatan telah menjadi fokus strategis Australia sejak lama dan hal ini sudah tertulis pada Australia Defence White Paper 2016 yang mencoba untuk melihat 20 tahun ke depan. Buku ini mengidentifikasi empat pendorong utama yang membentuk lingkungan strategis Australia: persaingan China-AS; tantangan terhadap tatanan berbasis aturan internasional; ancaman terhadap kelemahan negara; dan modernisasi militer. Guna menjawab
27
tantangan tersebut Australia memilih untuk memperkuat ikatan keamanan dengan AS dan mitra lainnya untuk membantu mengelola lingkungan keamanan yang semakin menantang di kawasan. Selain itu Australia meningkatkan pengeluaran pertahanannya menjadi AUS$575 miliar selama periode 2020-2030 atau lebih dari 2% dari proyeksi PDB Australia dan lebih tinggi dari pengeluaran pertahanan Australia periode 2010-2019 yang hanya sebesar 1,87%
dari PDB Australia (Department of Defence of Australia, 2016). Peningkatan anggaran dirancang untuk mempersiapkan ADF guna menghadapi konflik masa depan yang lebih kompleks dan berteknologi tinggi.
Australia Foreign Policy White Paper 2017 memiliki tiga elemen strategis yang penting untuk melihat kawasan ini. Pertama, arus bebas barang dan jasa di pasar terbuka, guna memaksimalkan potensi kemakmuran kawasan dan keamanan rantai pasok. Kedua, kebebasan navigasi dan penerbangan di beberapa arteri ekonomi maritim terpenting dunia untuk mempertahankan jalur komunikasi laut yang terbuka, khususnya di Laut Cina Selatan dan Samudera Hindia. Hak tersebut jelas dilindungi dalam UNCLOS yang dimuat dalam pasal 17 mengenai adanya hak lintas damai di laut teritorial; Pasal 38 yaitu kebebasan untuk transit melalui selat internasional; Pasal 53 tersedianya hak lintas alur laut kepulauan melalui negara kepulauan; Pasal 58 dan 87 tentang hak dan kewajiban negara lain untuk menghormati hak ZEE negara pantai dan kebebasan laut lepas. Ketiga, kebebasan dari penggunaan kekuatan atau paksaan, baik melalui kekuatan senjata ataupun grey-zone (Department of Foreign Affairs and Trade, 2017). Defence Strategic Update 2020 menetapkan tantangan yang berkembang pesat di lingkungan keamanan Australia dan menentukan bahwa Australia harus memperkuat kemampuan aktual dan persepsinya untuk mengerahkan kekuatan militer guna menghalangi tindakan yang bertentangan dengan kepentingannya serta ‘bila diperlukan’ dapat ditanggapi dengan kekuatan militer (Department of Defence of Australia, 2020).
Melihat dari kacamata neo-realis defensif yang dilakukan Australia selanjutnya adalah menjalin kerja sama keamanan dengan sekutunya. Hal ini memang diperlukan untuk menjaga balance of power ataupun status quo di kawasan, tetapi Canberra sadar bahwa mereka tidak boleh sepenuhnya bergantung dengan pakta keamanan. Contohnya adalah AUKUS yang memberikan “payung keamanan” yang secara signifikan meningkatkan kemampuan pertahanan Australia dalam hal intelijen dan daya pencegahan, singkatnya, akselerator teknologi. Secara operasional, kapal selam nuklir akan memberikan Angkatan Laut Australia kemampuan dan kebebasan yang lebih besar untuk melakukan operasi laut secara mandiri, dapat melakukan misi berorientasi kontrol laut independen, memaksimalkan potensi armada kapal selam Angkatan Laut Australia dalam patroli Jalur Komunikasi Laut, serta kemampuan
28
ofensif di wilayah operasi musuh tanpa bergantung pada dukungan kapal selam Angkatan Laut AS (Adamy, 2022). Hal ini menandakan rasa kemandirian dalam melakukan operasi laut, tetapi teknologi operasional yang sangat rumit dan tingkat gejolak di kawasan di masa depan kemungkinan besar akan membuat Australia terikat dengan AS dan Inggris. Memperoleh teknologi, salah satunya nuklir, akan mahal dan sangat bergantung pada skema transfer teknologi dari AS dan Inggris yang menandakan ketergantungan strategis yang lebih besar.
Pemeliharaan propulsi nuklir akan sepenuhnya bergantung pada keahlian dan infrastruktur AS dan Inggris untuk memperkaya uranium. Lebih jauh lagi Australia juga akan terseret ke dalam arus gesekan antara AS-China yang kemungkinan akan semakin meningkat dan dapat menyebabkan operasi Free and Open Indo-Pacific semakin intens.
Menurut Grieco, negara-negara tertarik dalam meningkatkan kekuatan dan pengaruh mereka (absolute gains) melalui kerja sama dengan negara atau aktor lain. Namun, Grieco mengklaim bahwa negara juga peduli dengan seberapa besar kekuatan dan pengaruh yang mungkin dicapai negara lain (relative gains) dalam kerja sama (Grieco, 1988). Aliansi asimetris adalah salah satu alat yang digunakan oleh negara hegemon untuk memperluas kendali mereka atas sistem internasional. Bagi kekuatan kecil-menengah cenderung memiliki lebih sedikit pilihan dalam pembentukan aliansi asimetris jika mereka tidak memiliki posisi geografis yang strategis atau peran politik sentral. Terlebih lagi akan sangat sulit untuk menemukan kekuatan besar yang ingin melindungi mereka tanpa adanya imbalan konsesi otonomi. Konsesi otonomi dapat mencakup pangkalan militer yang menyediakan lokasi strategis untuk proyeksi kekuasaan atau perjanjian yang memungkinkan negara hegemon untuk campur tangan dalam politik domestik di masa depan. Kesepakatan antara kekuatan besar dan kecil-menengah adalah wajar dalam situasi ini sebagai imbalan atas keamanan yang dapat diberikan oleh kekuatan besar.
Australia harus belajar dari masa lalu tentang dukungan Kekuatan Barat kepada Presiden Irak Saddam Hussein untuk melumpuhkan Iran dengan memasok berbagai jenis senjata, intelijen militer, dan pelatihan operasi khusus kepada Saddam. Dukungan ini membantu memperpanjang perang selama delapan tahun dengan banyak korban jiwa dan penurunan ekonomi. Selain itu, pada tahun 1950 AS membantu Iran untuk meluncurkan program nuklirnya di bawah program Civil Nuclear Cooperation Agreement ketika hubungan kedua negara baik. Namun, AS juga yang menyerukan kepada Iran untuk menghentikan semua pengayaan program nuklir dan telah memberikan sanksi berat yang dapat melumpuhkan ekonomi Iran secara umum. Singkatnya, negara-negara Barat berinvestasi di Australia untuk keuntungan mereka dalam waktu dekat dan Australia harus siap untuk membuat pengorbanan
29
besar ketika tuntutan Barat mulai meningkat terutama pada bijih besi, gas alam dan batu baranya. Australia mungkin akan berada di pihak penerima karena mendapat terlalu banyak musuh di wilayah tersebut serta tentangan dari kekuatan menengah di Indo-Pasifik. Juga, Australia dapat mengambil pelajaran dari negara-negara lain yang menerima dukungan dari negara-negara Barat di masa lalu guna mengantisipasi kemungkinan terburuk dari pakta keamanan yang Australia ikuti. Adanya keseimbangan kekuatan militer antara AS dan China, menyiratkan bahwa AS mungkin tidak selalu dapat memberikan bantuan kepada Australia. Hal ini menuntut Australia untuk tidak lagi bergantung secara penuh pada AS.
Selain kerja sama Australia perlu mengembangkan sektor keamanannya secara independen guna mendapatkan nilai tambah di mata negara-negara aliansinya juga Australia bisa mempertahankan kedaulatan serta kepentingan nasionalnya. Australia Defence Strategic Update 2020 memperhatikan pentingnya ADF untuk mengembangkan kemampuan mandirinya guna memberikan efek pencegahan, memperluas kemampuan pertahanan untuk menanggapi kegiatan-kegiatan di grey-zone, dan bekerja erat dengan cabang-cabang Pemerintah lainnya. Dengan begitu Australia mampu mengambil tanggung jawab yang lebih besar untuk keamanan negaranya (Department of Defence of Australia, 2020). Masalah keamanan strategis Australia selalu berkisar pada bahaya isolasi. Terletak jauh dari sekutunya yang paling kuat, Australia dapat dengan mudah terputus jika musuh mendominasi lautan di sekitarnya. Seperti yang pernah disimpulkan oleh seorang pejabat intelijen senior Australia:
“Isolation in a hostile environment would cost Australia foreign policy independence and control of its trade, reinforced by threat of occupation.” (Chang, 2022). Masalah itu menjadi lebih sulit karena infrastruktur yang diperlukan untuk mempertahankan Australia sebagian besar terletak di sepanjang pantai selatannya, sedangkan ancamannya secara historis berasal dari utara. Dorongan China melalui Laut China Selatan telah membawa kapal perangnya yang dipersenjatai dengan rudal jelajah jarak jauh mampu membawa ancaman semakin dekat ke Australia. Pembangunan pos-pos Laut China Selatan, penyebaran serangan bertenaga nuklir, dan kapal selam rudal balistik di wilayah tersebut telah meningkatkan kekhawatiran Australia.
Mengingat basis sumber daya Australia yang terbatas, mereka harus dapat mengembangkan kemampuan untuk menahan pasukan musuh dan infrastruktur militer yang berisiko lebih mengancam, seperti senjata serang jarak jauh, teknologi siber, dan sistem militer lainnya. Air dan udara penting untuk dikuasai terlebih lagi jika perang pecah di Laut China Selatan. Namun, baik di QUAD dan AUKUS, Australia menempati posisi terendah atau tepatnya keenam belas untuk jumlah kekuatan militer dan posisi ini bahkan di bawah Jepang yang berada di posisi kedelapan (Global Fire Power, 2023). Maka dari itu selain memiliki
30
posisi yang strategis di kawasan Australia masih harus mengembangkan alutsistanya lebih jauh lagi.
2020 Force Structure Plan, Pemerintah akan menyediakan dana pertahanan dengan total pendanaan sampai tahun 2030 sebesar $575 miliar, termasuk sekitar $270 miliar investasi dalam kemampuan pertahanan (Department of Defence of Australia, 2020). Rencana ini akan memberi Pemerintah serangkaian opsi yang fleksibel untuk meningkatkan lingkungan pertahanan strategis Australia, menghalangi aksi negara lain yang dapat menganggu kepentingan Australia, dan mengimbangi atau melawan dengan kekuatan militer jika diperlukan. Meningkatkan integrasi di seluruh sektor pertahanan menjadi penting untuk memberikan opsi-opsi ini.
Gambar 5. Investasi Kemampuan Proporsional untuk Dekade 2020-2030
Sumber: 2020 Defence Strategic Update
Melihat grafik diatas dapat diuraikan bahwa kemampuan maritim ADF akan mendapatkan investasi sekitar $75 miliar, memperkuat kemampuan udara dengan investasi sekitar $65 miliar, dan peningkatan kemampuan darat ADF dengan investasi sekitar $55 miliar selama dekade berikutnya. Selama 50 tahun terakhir, kurangnya ancaman yang signifikan membuat Australia tidak terlalu mengembangkan struktur dan kemampuan militer sesuai kebutuhan.
Walaupun Australia memiliki anggaran yang cukup, personel yang terbatas membuat anggaran tersebut digunakan untuk memperoleh teknologi canggih dari Amerika Serikat dan Eropa (Mulyadi, 2021). Prioritas Australia saat ini adalah melindungi prajuritnya dan untuk itu strategi yang sudah diterapkan adalah mengurangi impor sebagian besar komponen alat utama sistem pertahanan dan keamanan, serta berfokus pada peningkatan produksi alutsista di dalam negeri. Saat ini lebih dari 90% komponen, seperti kapal selam diproduksi di Australia.
Australia harus terus berfokus pada upaya untuk mempertahankan dan meningkatkan kemampuan militer yang lebih penting daripada merancang dan membangun sistem sendiri
31
(Mulyadi, 2021). Mengenai ancaman historis yang datang dari utara dan dibutuhkannya alutsista militer defensif Perdana Menteri Scott Morrison telah membiayai $1,1 miliar ke pangkalan Angkatan Udara Australia di Tindal, yang berjarak sekitar 300 kilometer selatan Darwin, untuk memperpanjang landasan sehingga pembom strategis B-52 AS serta pesawat pengisian bahan bakar udara ke udara KC-30 dapat beroperasi dari sana. Selain itu Australia dengan dana $1,4 miliar membeli 200 long-range anti-ship missiles (LRASM) AGM-158C, yang dapat ditembakkan dari F/A-18 Super Hornet dan F-35s (Dibb, 2020). LRASM memiliki jangkauan setidaknya 500–600 kilometer, memungkinkan identifikasi target kapal yang bergerak di lingkungan yang sangat tidak bersahabat, menghindari sistem pertahanan aktif, dan mampu mencapai target darat. Morrison menggambarkan peningkatan pangkalan Angkatan Udara Tindal sebagai ‘ujung tombak yang tajam’ untuk operasi udara Australia dan AS di Indo- Pasifik serta merupakan langkah maju yang sangat strategis dan dapat menjadi dasar untuk peran kepemimpinan yang lebih besar bagi Australia di wilayah tersebut (Dibb, 2020).
Tahun-tahun mendatang Canberra perlu mempertimbangkan untuk memperoleh sistem senjata dengan jangkauan yang lebih jauh. AS sedang mengembangkan versi peluncuran darat dari rudal serangan maritim Tomahawk terbaru, rudal anti-kapal, rudal jelajah hipersonik dan berpotensi rudal balistik jarak menengah anti-kapal Pershing III. Ini bisa memiliki jangkauan sekitar 1.000 kilometer hingga lebih dari 3.000 kilometer. Jenis senjata ini juga akan memungkinkan Australia menyerang sasaran jauh ke Laut Cina Selatan dan Pasifik Selatan.
Beberapa kepala Angkatan Udara Australia sebelumnya telah menjadi pendukung kuat akuisisi pembom siluman strategis jarak jauh B-21 Raider (Garrick & Hatherell, 2023). Proyek ini masih dalam tahap pengembangan, tetapi masing-masing pesawat diperkirakan menelan biaya sekitar $550 juta dan biaya perawatannya akan sangat besar. Mungkin akan lebih murah dan hemat jika Australia berfokus pada rudal anti-kapal darat jarak jauh. Secara bersama-sama, peningkatan pangkalan Angkatan Udara Tindal dan akuisisi LRASM menandakan kemampuan pencegahan Australia yang jauh lebih kuat untuk menegaskan kendali atas wilayah strategisnya.
Kontrol berdaulat atas kapal selam tenaga nuklir dapat Australia peroleh dengan memiliki pengoperasian dan pemeliharaan fasilitas tenaga nuklir dalam negeri. Hal ini bisa diwujudkan melalui Australian Nuclear Science and Technology Organization (ANSTO) yang dapat mengoperasikan reaktor Open Pool Australian Lightwater (OPAL), dan memproduksi isotop untuk pengobatan berbasis nuklir (ANSTO, 2023). International Atomic Energy Agency (IAEA) telah mengakui ANSTO memiliki “praktek yang baik dalam industri nuklir” (Vittorio
& Lucas, 2020). Pengakuan IAEA ini dapat memperkuat bahwa ANSTO sebagai badan hukum
32
pemerintah, dapat dengan aman mengoperasikan reaktor tanpa insiden nuklir. Dengan demikian menunjukkan bahwa Australia memiliki basis keahlian nuklir untuk mengoperasikan dan mempertahankan fasilitas tenaga nuklir untuk kapal selam nuklirnya dengan baik.
Pemerintah harus memanfaatkan pengalaman ANSTO sebagai fondasi inti dari pengetahuan nuklir Australia dan memperluas kemampuan spesialis nuklir untuk mendukung fasilitas tenaga nuklir juga sebagai tambahan dari program ANSTO yang ada.
Australia memiliki kepentingan keamanan nasional langsung dengan negara-negara di Asia Tenggara mengingat faktor geografis dan kebutuhan untuk memastikan jalur perdagangan internasional dan komunikasi laut melalui kepulauan Indonesia dan Filipina (Bateman, 2015).
Dari perspektif pertahanan kedekatan dengan negara tetangga ini mampu menghalangi setiap kemungkinan serbuan militer terhadap Australia. Oleh karena itu Australia menjadi pendukung setia peran sentral ASEAN dalam memfasilitasi dialog dan kerja sama keamanan regional dan berperan aktif dalam Pertemuan Menteri Pertahanan ASEAN Plus untuk mendorong kerja sama pertahanan praktis antar negara kawasan. Namun, inisiatif regional baru-baru ini yang diusulkan ASEAN, berjudul ASEAN Outlook on Indo-Pacific (AOIP) berupaya agar ASEAN menjaga kekuatan yang saling bersaing tidak bentrok serta tetap menguntungkan pembangunan regional. Ini memang visi yang ideal, tetapi tidak mencerminkan situasi saat ini di mana gerakan asertif China ditantang dengan kehadiran AS dan sekutunya yang stabil melalui Free and Open Indo-Pacific (FOIP). Bagi ASEAN, AOIP berarti menerapkan otonomi strategis, bagi negara lain hal itu bisa berarti mengkompromikan arsitektur regional yang dicita-citakan FOIP. Hingga saat ini, ASEAN belum menawarkan pengaturan yang dapat memberikan keamanan dan kemampuan bagi Australia jika situasi memburuk. Lebih lanjut, Australia tidak dapat menggunakan banyak kebebasan dalam mengekspresikan kepentingannya mengingat ia tidak “benar-benar dimasukkan” dalam mekanisme regional dan hanya bertindak sebagai pengamat dan mitra dialog.
Hal lain yang dapat Australia lakukan untuk tetap dapat memberikan pengaruh di kawasan adalah menjalin diplomasi keamanan dengan masing-masing negara ASEAN yang terpengaruh dampak klaim sepihak China untuk menegaskan kembali hasil dari pengadilan arbitrase pada tahun 2016. Kaum realis menganggap bahwa hukum internasional, seperti UNCLOS dapat mendukung kepentingan nasional suatu negara dan hal ini juga yang digunakan oleh Australia secara tidak langsung dalam menegaskan kepentingannya di antara kekuatan-kekuatan besar. Kemudian Australia wajib terlibat dalam latihan angkatan laut bilateral dan multilateral dengan negara-negara Asia Tenggara yang berada di ZEE mereka di Laut Cina Selatan. Tujuan dari latihan-latihan ini adalah untuk memperkuat hubungan
33
pertahanan dengan negara-negara Asia Tenggara, serta menunjukkan dukungan Australia terhadap negara-negara yang dirugikan oleh klaim China yang sepihak. Australia secara rutin berpartisipasi dalam latihan seperti Balikatan antara AS dan Filipina atau latihan angkatan laut dengan Vietnam selama kegiatan ADF Endeavour Indo-Pasifik 2019. Hal ini juga akan sulit bagi China untuk menafsirkan partisipasi Australia dalam latihan militer di ZEE negara-negara Asia Tenggara sebagai pelanggaran terhadap China. (Cook, 2021).