• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pertanian

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Pertanian"

Copied!
78
0
0

Teks penuh

Menganalisis karakteristik wilayah Sub DAS Jaing Provinsi Kalimantan Selatan yang terdiri atas: a) Tata guna lahan; b) Curah hujan;. Penentuan tingkat kerentanan sebagai pengumpan banjir di DAS Jaing, Daerah Aliran Sungai Negara Provinsi Kalimantan Selatan.

Kajian Pustaka

  • Penggunaan
  • Curah Hujan
  • Kelerengan
  • Kekritisan Lahan

Kepadatan sungai merupakan angka indeks yang menunjukkan jumlah anak sungai pada suatu daerah aliran sungai. Parameter yang dapat dijadikan dasar dalam menilai kondisi pengelolaan air adalah Koefisien Rezim Sungai (KRS), yaitu angka yang menunjukkan perbandingan antara nilai debit maksimum (Qmax) dan nilai debit minimum (Qmin) pada suatu DAS. . atau sub DAS (Peraturan Direktorat Jenderal RLPS nomor: P.04/V-SET/2009).

Tujuan Penelitian

Peristiwa banjir di Sub DAS Negara Kabupaten Tabalong ini menimbulkan banyak korban jiwa baik materiil maupun manusia. Berdasarkan kondisi DAS Jaing, sub DAS negara di Kabupaten Tabalong diatas, maka dilakukan penelitian terhadap parameter karakteristik DAS yaitu; Penggunaan lahan, curah hujan, kemiringan lereng, tata air dan tingkat kekritisan tanah.

Tempat dan Waktu

Tempat dan waktu penelitian

Peta lokasi DAS Jaing di DAS negara provinsi Kalimantan Selatan ditunjukkan pada Gambar 2. DAS Jaing yang akan menjadi lokasi objek penelitian sebagian berada di wilayah konsesi pertambangan PT Adaro Indonesia, Kalimantan Selatan- provinsi.

Bahan dan Alat

Pada Gambar 3 terlihat wilayah konsesi PT Adaro terletak di Kecamatan Murung Pudak, Haruai dan Upau, Kabupaten Tabalong. Perangkat Lunak: Arc GIS 9 ArcMap versi 9.3, Global Mapper 11 dan Simulasi Model Wilayah Sungai (SIMODAS) dilengkapi dengan sejumlah modul untuk melakukan pemodelan hidrologi dan pemodelan wilayah sungai.

Teknik Pengumpulan Data dan Parameter yang Diamati

Curah hujan

Hasil perhitungan curah hujan didasarkan pada data curah hujan tahunan dan hari hujan dalam setahun dari titik hujan yang berada di sekitar/di kawasan Jaing Katement. Peta lereng dapat dibuat dari informasi garis kontur pada peta topografi dengan menghitung kemiringan lereng menggunakan rumus sederhana berikut. Mengenai skala spasial yang rinci, Bales dan Wagner (2009) juga menyatakan bahwa data topografi berkualitas tinggi merupakan faktor penting untuk menghasilkan peta banjir (genangan) yang akurat.

Mengenai detail skala spasial, pemetaan kerawanan banjir pada penelitian ini menggunakan data topografi berupa gambar SRTM 30 Arc Sec yang artinya memiliki resolusi 30×30 meter sebagai dasar pembuatan peta kemiringan lereng. Hingga saat ini citra SRTM merupakan data topografi yang tergolong berkualitas baik, karena citra SRTM yang umumnya dapat diakses oleh masyarakat adalah citra SRTM dengan resolusi 90×90 meter. Kualitas resolusi gambar SRTM yang digunakan dalam penelitian ini memberikan batasan akurasi terhadap peta rawan banjir yang dihasilkan.

Tabel 2. Curah hujan  hujan sebagai variabel kerawanan banjir
Tabel 2. Curah hujan hujan sebagai variabel kerawanan banjir

Tata Air (Kerapatan sungai, debit air dan infiltrasi) 1. Kerapatan sungai

Ketinggian lahan termasuk daerah penelitian pada sub DAS Negara dapat diamati dengan bantuan GPS dan/atau altimeter, sehingga diperoleh data ketinggian di atas permukaan laut (dpl) dalam satuan m. Pemetaan kemiringan lereng dilakukan dengan menganalisis data raster DEM (Digital Elevation Model)-SRTM (Shuttle Radar Topographic Mission) dengan resolusi 90 x 90 meter yang kemudian diolah dengan perangkat lunak GIS yaitu Global Mapper untuk mendapatkan kelas kontur dan lereng. data. De Bruijn dan Klijn (2009) menyatakan bahwa peta yang menyajikan informasi risiko banjir dan aspek pendukungnya dalam skala spasial yang lebih rinci sangat relevan dalam menentukan prioritas pengendalian banjir atau perencanaan penggunaan lahan.

Faktor infiltrasi tanah (jenis tanah) untuk menentukan kerawanan banjir juga dapat diperoleh berdasarkan keadaan sifat fisik (tekstur) tanah dengan menggunakan peta jenis tanah, dan dapat juga diperoleh langsung di lapangan dengan menggunakan infiltrometer cincin ganda, yaitu Namun selain itu, infiltrasi dapat ditentukan berdasarkan tekstur tanah sebagai faktor infiltrasi dalam menentukan kerentanan banjir, disajikan pada Tabel 4. Penilaian lahan kritis mengacu pada metode penentuan lahan kritis yang dihasilkan dari lokakarya penentuan lahan kritis di Jakarta pada tahun 1997. Selain itu seiring dengan kemajuan teknologi GIS, metode penentuan lahan kritis ini dikembangkan menggunakan perangkat lunak dengan ekstensi pendukung, hal ini tertuang dalam Peraturan Direktur Jenderal RLPS no.

Tabel 3.  Kriteria dan indikator penilai DAS
Tabel 3. Kriteria dan indikator penilai DAS

Analisis data 1. Banjir

Kejadian Banjir

041/Kpts/V/1998 tanggal 21 April 1998 tentang Petunjuk Penyusunan Rencana Teknis Lima Tahun Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Lahan Daerah Aliran Sungai (RTL-RLKT DAS).

Kerawanan Banjir

  • Penggunaan lahan
  • Tata air (kerapatan sungai, debit air (Q) dan infiltrasi)
  • Tingkat Kekritisan Lahan

Selain itu, Paimin dkk (2009) menyatakan bahwa kemiringan lereng merupakan salah satu parameter penentuan kerentanan banjir. 26 Berdasarkan parameter kerentanan banjir yang tersaji pada parameter di atas, maka diperoleh skor masing-masing parameter dan penentuan klasifikasi tingkat kerentanan banjir di Daerah Aliran Sungai Jaing, Sub DAS Negara, Kabupaten Tabalong, Provinsi Kalimantan Selatan. 2009) menyatakan persentase parameter sensitivitas banjir terdiri dari bobot parameter pengelolaan sebesar 45% dan bobot parameter alam sebesar 55%. Penambahan variabel manajemen dan variabel alam mengakibatkan adanya perhitungan kembali tingkat kepentingan atau pengaruh dan bobotnya. setiap parameter kerentanan banjir dilakukan.

Masing-masing parameter disajikan pada Tabel 27, sedangkan daftar kuesioner instansi terkait dan proses penentuan bobot parameter kerentanan banjir dengan metode AHP disajikan pada Lampiran 1 dan 2, hal ini sesuai dengan Delasdriana dan Purwanto (2012) AHP merupakan metode yang digunakan untuk mengkuantifikasi Opini yang masih bersifat kualitatif berperan dalam menentukan bobot setiap parameter. Sistem kelas interval reguler untuk menentukan tingkat kerawanan banjir pada penelitian ini menggunakan persamaan interval kelas Sturges sebagai berikut. Berdasarkan perbandingan diatas diperoleh nilai tingkat kerentanan banjir seperti tersaji pada Tabel 15, sedangkan proses penentuan klasifikasi tingkat kerentanan banjir menggunakan sistem interval kelas Sturgess (Jupren, 2009).

Tabel 7. Kriteria dan skor curah hujan sebagai variabel kerawanan banjir
Tabel 7. Kriteria dan skor curah hujan sebagai variabel kerawanan banjir

Penggunaan dan Penutupan Lahan

Kondisi Curah Hujan Catchment Area Jaing

Hasil perhitungan curah hujan di DAS Jaing, sub DAS negara, selama 10 tahun menggunakan metode Thiesen Polygon yang terdiri dari tiga stasiun pengukur curah hujan (Murung Pudak, Kembang Kuning dan Jenisai). Pada musim hujan curah hujan rata-rata sebesar 300,08 mm (periode Oktober hingga Maret), sedangkan pada musim kemarau curah hujan rata-rata sebesar 126,36 mm (periode April hingga September). Curah hujan selama kurun waktu 2003 hingga 2012 menunjukkan adanya perbedaan dalam kurun waktu kurang lebih tiga tahun kita mengalami perubahan curah hujan yang cukup signifikan di DAS ini.

Faktor curah hujan yang tinggi menjadi salah satu penyebab terjadinya banjir pada bagian hilir suatu DAS, termasuk sub DAS negara bagian DAS Barito. Sistem drainase dapat dikembangkan untuk mengendalikan limpasan permukaan yang disebabkan oleh curah hujan yang tinggi (Yang dan Zhang, 2011). 37 salah satu faktor utama penyebab banjir, curah hujan yang tinggi dan koefisien limpasan permukaan yang besar menjadikan suatu daerah rentan terhadap banjir.

Lereng

  • Pengaruh lereng untuk Kerawanan Banjir
  • Kerapatan jaringan sungai
  • Debit air sungai
  • Infiltrasi
    • Pengukuran infiltrasi
    • Kapasitas infiltrasi
  • Pengaruh Lahan Kritis Terhadap Kerawanan Banjir

DAS Jaing Sungai Negara Kabupaten Tabalong terletak di sebelah Selatan Ibu Kota Kabupaten Tabalong yang mempunyai lima kelas kemiringan seperti terlihat pada Tabel 18. Peta kelas kemiringan pada Gambar 6. Pada Tabel 18 dan Gambar 6 dapat dilihat yaitu daerah tangkapan air Jaing seluas 25.852,12 ha, didominasi oleh lereng yang relatif datar. Hasil analisis jaringan sungai di Cekungan Jaing Cekungan Negara menunjukkan panjang seluruh sungai dan anak-anak sungainya adalah 588,00 km dan luas wilayahnya 258,52 km2.

41 Debit dan ketinggian air selama tiga bulan (Mei-Juli) 2012 diukur setiap hari di daerah hulu, tengah dan hilir DAS Jaing. Berdasarkan hasil pengukuran selama tiga bulan (Mei – Juli) 2012, dapat dinyatakan bahwa debit rata-rata di bagian hilir DAS Jaing mempunyai debit air tertinggi sebesar 5,312 m3/detik dan terendah di bagian hulu sebesar 0,322 m3/ detik. Penilaian tingkat kritis tanah di daerah tangkapan air Jaing dilakukan sebagai bagian dari lima faktor penentu kerentanan terhadap banjir.

Tabel 18. Kelas Lereng di catchment Area Jaing Sub DAS Negara
Tabel 18. Kelas Lereng di catchment Area Jaing Sub DAS Negara

Kerawanan banjir di Catchment area Jaing sub DAS Negara

Kecamatan Paringin terletak di bagian hilir cekungan ini, dimana jumlah penduduknya lebih banyak, karena kecamatan ini merupakan ibu kota Kabupaten Balangan. luas lahan dengan kriteria kritis. Kerentanan atau potensi kerentanan terhadap banjir merupakan sekumpulan kondisi yang menentukan apakah parameter alam dan pengelolaan berpotensi menyebabkan banjir (Paimin, Sukresno dan Purwanto, 2010). Kajian kerentanan banjir di DAS ini didasarkan pada lima parameter utama karakteristik DAS, yaitu 1) penggunaan dan tutupan lahan, 2) curah hujan, 3) kemiringan lereng, dan 4) pengelolaan air, dan 5) lahan kritis. Tingkat kerentanan banjir di DAS Jaing dibedakan berdasarkan lima kriteria atau kelas, dimana tingkat kerentanan tertinggi memperoleh skor tertinggi.

Tabel 23 menunjukkan bahwa daerah tangkapan air ini didominasi oleh lahan dengan kriteria kurang banjir yaitu seluas 18.891,23 ha. Selain itu, pada daerah tangkapan air ini tidak terdapat lahan yang rawan banjir, namun terdapat lahan dengan kriteria mudah banjir dan agak mudah banjir, masing-masing seluas 2.743,15 ha dan 2.416,21 ha. Peta derajat kerentanan daerah penyumbang Jaing terhadap kondisi eksisting, hasil analisa parameter kerawanan banjir yang di overlay pada peta karakteristik daerah penyumbang Jaing, parameter kerawanan banjir disajikan pada Gambar 8.

Tabel 23. Tingkat kerawanan banjir di catchment area Jaing sub DAS Negara (kondisi eksisting)
Tabel 23. Tingkat kerawanan banjir di catchment area Jaing sub DAS Negara (kondisi eksisting)

Arahan Prioritas Kebijakan Rehabitasi Hutan dan Lahan (RHL) di Cathment Area Jaing

Simulasi perubahan penggunaan lahan

Perubahan tutupan lahan semak belukar seluas 122,13 ha menjadi karet alam (pertanian kering), perubahan tutupan lahan terbuka seluas 414,93 ha menjadi karet alam (pertanian kering), Perubahan areal bekas pertambangan sebesar 2.104,29 ha menjadi perkebunan pertambangan (kehutanan) , selain itu lahan yang direklamasi seluas 139,56 ha (hutan tanaman dan dilengkapi dengan teknik sipil yang terdiri dari terasering dan SPA) karena lahan tersebut mempunyai kelas kemiringan > 21%, hal ini sesuai dengan peraturan Kementerian Kehutanan ( PerMenHut, No. 04, Tahun 2011), reklamasi pascatambang, saluran pembuangan air (SPA) tergantung kemiringan lahan yang terbuat dari batu, kayu/bambu. Pada Tabel 24 terlihat hasil simulasi pada lahan bekas tambang yang direklamasi secara vegetatif dengan tanaman hutan dan sebagian teknis telah selesai, terdapat perubahan tingkat kerawanan banjir yaitu wilayah yang tidak rawan banjir bertambah sebesar 2254,22ha, karena luas wilayah rawan banjir berkurang 2.183 ha.85 ha. Selain itu, hasil simulasi menunjukkan luas wilayah agak rawan banjir juga mengalami penurunan sebesar 70,37 ha.

Jenis pohon yang akan ditanam pada lahan pasca tambang harus dipilih selain jenis yang sesuai. 53 dengan kondisi lahan, juga apabila lokasi berada di kawasan hutan maka perlu memperhatikan peraturan Kementerian Kehutanan (PerMenHut, No. 04, 2011), rekomendasi AMDAL dan juga memperhatikan rencana tata ruang akhir. tertuang dalam rencana penutupan tambang perusahaan (PerMenESDM, No. 18, 2008). Upaya pengendalian banjir di daerah tangkapan air Sub DAS Jaing bagian hulu sebagai penyedia kerawanan banjir.

Upaya Pengendalian Banjir Di Catcment Area Jaing Sub DAS Negara Bagian Hulu Sebagai Pemasok Kerawanan Banjir

54 Berdasarkan hasil simulasi pengurangan kerentanan banjir dan masukan dari pengambil kebijakan (instansi terkait) dan responden masyarakat di DAS Jaing.

Kesimpulan

Saran

Effect of the Spatial Variability of Land Use, Soil Type, and Precipitation on Streamflows in Small Watersheds1, Journal of the American Water Resources Association. Land degradation in the source region of the Yellow River, northeastern Qinghai-Xizang Plateau: classification and evaluation. River basin degradation in the Bamendjin area of ​​the North West Region of Cameroon and its implications for development.

Impact of population growth and land-use change on water resources and ecosystems of the arid Tarim River basin in western China. Effect of Land Use/Cover Changes on Flooding in the Madarsu Basin, Northeast Iran. Water management and flood protection of polders in the Netherlands under the influence of climate change and human-induced land-use change.

Gambar

Tabel 1. Penggunaan dan penutupan Lahan
Tabel 2. Curah hujan  hujan sebagai variabel kerawanan banjir
Tabel 3.  Kriteria dan indikator penilai DAS
Tabel 4. Faktor klasifikasi inflitrasi tanah  untuk penentuan kerawanan  banjir
+7

Referensi

Dokumen terkait

Hỏi năm nay chị bao nhiêu tuổi, mẹ bao nhiêu tuổi Correct - Click anywhere to continue Correct - Click anywhere to continue Incorrect - Click anywhere to continue Incorrect -