PERJUMPAAN KEKRISTENAN DAN
SISTEM JABATAN HADATUON BATAK
I. PENDAHULUAN
Bagi masyarakat Batak zaman Hadatuon dulu adalah suatu ilmu yang dapat diajarkan dan dapat dipelajari oleh orang-orang tertentu yang memang memiliki kemampuan dan karunia khusus yang disebut “sahala hadatuon”. Hubungan belajar mengajar dalam tradisi masyarakat Batak tidaklah mempunyai struktur dan metode yang tetap, terinci dan juga tidak berlangsung secara terbuka.
Proses penyampaian “ilmu”nya selalu bersifat isoteris, artinya dilakukan di luar lingkungan masyarakat serta bersifat tertutup di antara seorang „guru‟ dan seorang
„murid‟. Proses pendidikan yang tertutup dan sangat khusus itu melahirkan satu jenis profesi dengan pengetahuan yang sangat eksklusif, sehingga tidak secara langsung mendapat posisi yang jelas dalam tatanan pendidikan tradisional yang bersifat publik dan terbuka. Datu dalam hal itu tidak berfungsi sebagai guru masyarakat seperti guru-guru lainnya. Namun demikian harus diakui bahwa sumbangan datu dalam “ilmu”
pengetahuan Batak tradisional yang kemudian berkembang menjadi pendidikan modern setelah zending dan kolonial Belanda sangatlah besar.
Sebagaimana diketahui secara umum ada beberapa fungsi datu di tengah-tengah masyarakatnya, seperti pengobatan dan penyembuhan penyakit, sebagai imam dalam ritus keagamaan Batak, sebagai medium dalam memanggil serta berhubungan dengan rohroh nenek moyang tertentu dan sebagai peramal atau dukun tenung. Dengan demikian
“ilmu” yang harus dikuasai oleh seorang datu adalah sangat luas dan keseluruhannya bersifat khusus. Proses penurun-alihan “ilmu” itu sendiri sudah merupakan rangkaian ritus yang unik dan dalam satu proses belajar mengajar hanya ada satu guru dan satu murid.
“Ilmu hadatuon” bersumber pada „Pustaha Agong’, sebuah buku laklak (kulit kayu) yang berisikan secara lengkap ilmu hadatuon. Secara mitologis, buku tersebut diwariskan oleh si Raja Batak kepada anaknya Guru Tatea Bulan yang menjadi datu dan guru pertama, mengajarkan ilmu hadatuon itu kepada anak-anaknya.
Menurut J Winkler, seperti dikutip oleh Aritonang, pada pokoknya ada tiga katagori isi pustaha berdasarkan maksud penggunaannya, pertama satu, „ilmu‟ untuk memelihara kehidupan (protective magic) yang mencakupi diagnosa, terapi, ramuan obat- obatan yang bersifat magis, ajimat, parmanisan dan sebagainya.
Kedua, „ilmu‟ untuk membinasakan kehidupan (destructive magic) yang mencakupi seni membuat racun, seni mengendalikan atau memanfaatkan kekuatan roh tertentu memanggil pangulubalang dan seni membuat dorma (guna-guna pemikat cinta).
Ketiga, „ilmu‟ meramal (divination) yang mencakup orakel (sabda dewata) yang menjelaskan kemauan roh yang dipanggil, perintah para ilah dan leluhur, sistem almanak atau kalender (parhalaan) dan perbintangan (astrologi) untuk menentukan hari baik bulan baik untuk menyelenggarakan suatu hajatan, pekerjaan berat atau perjalanan jauh.
Semua itu dikembangkan sedemikian rupa dalam upacaraupacara magis dalam usaha berkomunikasi dengan kekuatankekuatan supranatural; roh leluhur, roh penghuni- penghuni alam (pangingani) serta roh-roh jahat.
Memang banyak pendapat yang mengatakan bahwa datu berfungsi sebagai imam dalam ritus keagamaan. Akan tetapi hal itu tidak selamanya benar. Sebab pelaksana fungsi imam dalam upacara adat bius adalah parbaringin, sedangkan dalam upacara adat huta dilaksanakan oleh raja huta atau pemangku adat dari marga yang menyelenggarakan upacara adat.
Meskipun para datu sudah melalui proses belajar yang relatif sama dan mendapatkan „ilmu‟ dalam berbagai bidang, namun pada kenyataannya mereka mempunyai bidang spesialisasi tertentu; ada spesialisasi pengobatan, ada spesialisasi peramalan, ada spesialisasi permusuhan atau peperangan, ada spesialisasi pemahat patung-patung magis (datu panggana) dan lain-lain.
Jabatan (batak : tohonan) yang kita kenal dalam gereja saat ini sebenarnya sebelum keKristenan sudah dipahami oleh masyarakat Batak. Bukan lagi istilah baru dalam pemahaman Batak setelah ber-agama Kristen. Sebelum masuk agama Kristen pun jabatan seperti gereja sekarang telah dimiliki oleh datu (imam) orang batak. Hal inilah atau perjumpaan ke-Kristenan dan system hadatuon inilah yang akan dibahas dalam makalah ini. Selamat mengikuti.
II. PEMBAHASAN
2.1. Kepercayaan Agama Batak Yang Tradisionil
Ompungta najolo mandok songonon : “Sianjur mula – mula, sianjur mula tompa.
Somba ni namaduma, somba ni natinompa. Ai Ompunta Mulajadi Nabolon do namamungka, asa martua hita jolma. Mula ni nauli pungkaonta ma ulaonta adat dohot uhm binahen ni halak Toba. Marsomba tu Mulajadi Na Bolon, mangelek sahala ni ompunta tu namartua”. Artinya : Sianjur adalah bonapasogit yang pertama orang Batak.
Disanalah permulaan adat atau hukum dan kepercayaan yaitu menyembah Muajadi Nabolondan memohon sesuatu agar diberi wibawa oleh yang Maha Kuasa.
Sianjur mulamula terletak di seberang pulau Samosir berdekatan dengan daerah Limbong. Dari Samosir menyebar ke segala daerah Tapanuli, Simalungun, Dairi, Karo dan daerah lain.
Dengan menyebarnya orang Batak maka adat (budaya) dan kepecayaan memiliki kekuatan, seperti : pohon beringin, mata air, batu besar, gunung, dan sebagainya.
Masyarakat Batak dikenal sebagai masyarakat yang ketat memelihara adat budayanya, dan sekaligus sebagai masyarkat yang sangat religius, hidup dengan nilai-nilai keagamaan, adat dan budaya saling mempengaruhi kepercayaan tersebut. Sebelum agama kekristenan datang ke tanah Batak khususnya ke daerah Tapanuli, mereka melestarikan cerita-cerita historis serta pengetahuan tentang hubungan marga dan kelompok suku.
Setiap cabang marga merupakan sada somba (satuan persembahan); sada guguan (satu unit pengumpulan sumbangan untuk keperluan upacara kurban yang dilakukan); sada jambar (satu unit yang berhak mendapat jatah dari hewa kurban). Hal ini terdapat di mana-mana, bahkan sejak zaman orang masih memuja berhala.1
Kosmologi Batak tradisionil membagi eksistensi kehidupan dalam tiga tingkat atau dunia. Dunia atas adalah kerajaan dewa tertinggi. Dunia-tengah adalah para hantu atau setan yang diperintah oleh Naga Padoha, sang Ular Naga. Dewa-dewa dianggap hidup seperti laki-laki dengan isteri-isteri dan anak-anak, budak-budak, dan gelanggang untuk kegiatan manusia; dan Dunia-bawah adalah tempat tinggal untuk ternak mereka, bermain-main, berperang dan bersoal-jawab di antara mereka.2 Raja Patik Tampbolon
1 J.C. Vergouwen, Masyarakat dan Hukum Adat Batak Toba. Yogyakarta: LKis, 2005, hlm. 5
2 Paul B. Pederson, Darah Batak dan Jiwa Protestan. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1975, hlm. 18
berpendapat bahwa:3 Orang Batak menyebut penguasa itu adalah dewa tertinggi yang menghadirkan tiga (3) fungsi, yaitu:
1. Tuan Mula Nabolon, berada dalam dunia-atas, dialah yang menentukan nasib umat manusia.
2. Silaon Nabolon, berada dalam dunia-tengah, dialah sebagai pencipta asal mula para nenek moyang orang Batak, artinya dia memberi isteri, anak-anak, dan keturunan. Dialah pemelihara umat manusia.
3. Pane Nabolon, berada dalam dunia-bawah, dialah yang menciptakan atau mengirimkan atau membuat gelombang di laut, petir, hari-hari manusia yang baik dan buruk, kesuburan bagi para petani.
Philip Lumbantobing berpendapat,4 orang Batak sangat percaya terhadap Mulajadi Na Bolon bukan hanya sekedar pencipta terhadap segala sesuatu tentang alam semesta. Mulajadi Nabolon adalah makrokosmos dan manusia adalah mikrokosmos.
Batara Guru diidentikkan dengan hula-hula, mangula sori sebagai dongan sabutuha, dan mangala bulan sebagai boru. Struktur yang ada di alam gaib atau dunia para dewa inilah yang dijadikan pola yang menata hubungan sosial antara sesama manusia di bumi (banua tonga). Setiap upacara agama (adat) harus dihadiri oleh ketiga unsur Dalihan Natolu.
Artinya setiap upacara ritual Batak harus merupakan simbol kehadiran Batara Guru.
Kehadiran dongan tubu merupakan simbol kehadiran Mangala Sori dan kehadiran boru merupakan simbol kehadiran Mangala Bulan. Kehadiran ketiga roh sembahan ini merupakan syarat utama dalam keberhasilan suatu upacara agama leluhur nenek moyang Batak.
Orang Batak Toba mengalami seluruh ruang kosmis sebagai suatu totalitas dunia- bawah, dunia-tengah dan dunia-atas. Setiap tingkat mempunyai fungsi khusus dalam kesabaran kehidupan eksistensi. Juga ada terlihat atau dipahami bahwa mitologi Batak dilukiskan dengan sebuah pohon kehidupan, yang tingginya dari dunia-bawah sampai ke dunia-atas, simbol dewata tertinggi dalam menyatukan segala kehidupan (eksistensi) dan mewakili keseluruhan tata tertib kosmis. Nasib setiap orang tercatat pada pohon
3 Raja Patik Tampubolon, Pustaka Tumbaga Holing. Jakarta: Percetakan Dian Utama, 2002, hlm.
28
4 Philip Lumbantobing, The Structur of the Toba-Batak Belief In the High God. Amsterdam:
Amsterdam South and South East Celebers Istitutio for Culture, 1963, p. 196
kehidupan, yang dari padanya seluruh kehidupan.5 Pada waktu itu mereka belum pernah mengenal sesuatu aliran agama, bentuk golongan, kepercayaan adalah animisme, yaitu dukun yang memegang peranan penting. Tetapi yang paling dihormati dan dimuliakan ialah Mulajadi Na Bolon, disamping menyembah berhala.6 Masyarakat Batak bersifat religius. Artinya yaitu seluruh unsur kehidupan dibentuk oleh keyakinan religi luhur.
Religi yang dimaksud adalah “Agama Batak” atau “Hasipelebeguon”. Segala upacara agama didasarkan atas ide, gagasan, nilai, paradigma, ajaran dan kuasa dari roh sembahan leluhur. Religi Batak mengenal nama dewa lainnya yang bernama: Batara Guru, Mangala Bulan, Mangala Sori, Debata Asiasi, Boras Pati ni Tano, Boru Saniang Naga, ro-roh para leluhur dan berbagai macam begu lainnya. Seluruh roh sembahan ini dimanfaatkan untuk melindungi dari berbagai bentuk bahaya, malapetaka, dan menjamin tercapainya kekayaan (hamoraon), kemuliaan (hasangapon), dan keberhasilan hidup (hagabeon).
Dengan menyebut upacara “agama Batak” dalam istilah “tradisi warisan leluhur” atau
“adat”, maka iblis berhasil memperdaya banyak orang Batak.7
Sebelum keKristenan datang ketengah-tengah kehidupan orang Batak, maka yang menjadi sumber nilai kebenaran, nilai hukum, dan nilai-nilai kepercayaan adalah adat Batak. Segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan, benar atau salah, baik atau jahat, pantas atau tidak pantas boleh dilakukan atau tidak boleh dilakukan, sopan atau tidak sopan, hak milik atau bukan hak milik dan semua aturan dalam tatanan kehidupan lainnya selalu diatur dan disesuaikan dengan adat Batak. Adat Batak adalah dasar hukum, dasar bermasyarakat dan dasar kehidupan beragama. Agama atau kepercayaan adalah sebagian dari adat itu sendiri. Itulah sebabnya sampai sekarang orang Batak sangat tersinggung bilamana ia (kita) dituduh sebagai yang tidak beradat, na so maradat, melebihi ketersinggungan apabila ia dituduh sebagai orang yang tidak beragama, na so marhaporseaon.
Namun setelah datangnya kekristenan ke dalam kehidupan orang Batak, sumber nilai dan tolak ukur kebenaran hukum, moral dan agama menjadi dua, yaitu “adat Batak” dan “iman Kristen”. Pada satu pihak ada orang yang memahami adat Batak dapat sama-
5 Paul B. Pederson, Op.Cit. hlm. 18
6 Jaulahan Situmorang , Penuntun Adat Praktis. Pematang Siantar (Parluasan): t.p, 1965, hlm.179
7 Bnd. Andar Lumbantobing, Makna Wibawa Jabatan Dalam Gereja Batak. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1992, 3-21.
sama diberlakukan dan berimbang dalam kehidupan sehari-hari. Akan tetapi pada pihak lain, ada yang lebih mengutamakan kekristenan dalam kehidupan sehari-hari.8 Sebagaimana F.H. Sianipar mengatakan bahwa masyarakat Kristen banyak mengalami double identitas (identitas rangkap atau dua identitas), apakah itu sebagai orang Kristen atau orang Batak. Kalau tidak memilih, maka ia akan bersifat ambifalensia yaitu bersikap mendua dalam nilai-nilai kekristenan dan kebatakannnya. Kehidupan kebudayaan asli itu terus merupakan laporan paling dasar dalam jiwanya.9 Kemudian dihubungkan dengan pendapat Darwin Lumbantobing mengatakan bahwa orang Batak Kristen tetap ingin hidup sebagai orang Batak yang memiliki, menganut dan melaksanakan tradisi dan adat Batak sekaligus hidup sebagai orang Kristen. Mereka sulit menanggalkan kebatakannya (habataon) demi kekristenan. Sebab pada kenyataannya nilai-nilai adat Batak, ada kalanya harus memilih karena ada perbedaan yang sangat kontradiktif antara nilai-nilai adat Batak dan kekristenan.10
Dengan demikian kita akan mengerti bahwa tradisi warisan itu merupakan rangkaian upacara ritual agama leluhur dan kita akan memahami lebih jauh lagi bahwa banyak upacara adat Batak sesungguhnya bertentangan dengan Firman Tuhan. Keadaan seperti inilah sampai sekarang sering mewarnai kehidupan Kristen Batak, yaitu Kekristenan yang selalu dipengaruhi oleh tradisi sehingga menghasilkan dua warna kehidupan orang batak.
2.2. Fungsi Datu dan Peranan Hadatuon dalam Kehidupan Orang Batak
Penyembahan kepada berhala-berhala buatan sebenarnya tidak menonjol dalam masyarakat Batak karena seluruh kebaktiannya sudah terpusat pada pemujaan roh nenek- moyang. Dalam upacara seperti itu, para datu (imam) mempunyai kedudukan khusus sebagai imam karena merekalah yang dapat menghubungkan orang yang masih hidup dengan roh-roh nenek-moyangnya yang sudah mati.
Di dalam pemikiran masyarakat Batak tidak ada pembedaan yang tegas antara yang duniawi dan yang rohani, yang profane dan yang sacral. Biasanya raja sekaligus
8 Darwin Lumbantobing, Aktualisasi dan Relevansi Budaya Batak, Majalah Vocation Dei STT HKBP. Pematang Siantar: STT HKBP, 2008, hlm. 46-47
9 F.H. Sianipar, Suatu Problem Tentang Methode Theologia dalam Ketegangan Yang Dialami Masyrakat Kristen Masa Kini. Pematang Siantar: Universitas HKBP Nommensen, 1973, hlm. 7
10 Darwin Lumbantobing, Op.Cit., hlm. 47
menduduki sebagai datu (imam). Pemisahan antara dua jabatan tersebut baru dikenal pada masa berdirinya jemaat-jemaat pertama di daerah Batak. Contoh yang jelas membuktikan kedudukan raja sebagai datu terlihat pada kedudukan si Singamangaraja, yang sampai pada keturunan ke-12 diakui oleh suku Batak sebagai datu bolon (imam besar). Barulah setelah si Singamangaraja ke-XII tewas ditembak oleh serdadu Hindia Belanda pada tahun 1970, dwifungsi itu berakhir.
Si Singamangaraja diakui sebagai raja dan datu bolon oleh semua suku Batak.
Akan tetapi selain dia, rakyat masih mempunyai datu-datu (imam-imam) di daerah dan kampong-kampung. Mereka inilah yang mempunyai hak untuk melakukan upacara pengorbanan dan pemujaan di tempat masing-masing, seperti pada saat sebelum dan sesudah anak lahir, waktu pemberian nama, pada hari menetapkan jodoh, pada pesta perkawinan dan pada upacara kematian. Mereka jugalah yang menentukan hari dan tanggal baik berdasarkan perhitungan almanac parhala (almanac khusus untuk para datu).
Menurut mereka, dari cara seekor burung terbang melewati kampong tempat upacara yang akan diadakan, dapat dilihat apakah hari yang direncanakan itu baik atau buruk; dan dari usus hewan yang dipotong untuk jamuan itu, dapat dibaca hari depan orang-orang yang dipestakan. Sang datu jugalah yang dipanggil untuk mengobati dan memberi nasehat. Datu jugalah yang diminta menetapkan hari baik untuk menanam padi, berburu atau menangkap ikan dan untuk menyerang musuh supaya mendapat kemenangan yang gemilang. Selain itu, dia juga menentukan hari terbaik untuk mendirikan rumah dan menentukan letaknya supaya penghuni memperoleh banyak rejeki, sahala, harta, dan anak. Oleh sebab itu, sekalipun di sebuah pesta upacara pemujaan raja bertindak sebagai imam, kehadiran datu di sana tetap sangat penting artinya. Tidak hanya untuk kepentingan suhut atau tuan rumah, tetapi untuk seluruh rakyat daerah itu. Pada umumnya seorang datu tidak hanya berkuasa di satu kampong saja, tetapi di semua kampong marga itu, bahkan mungkin si seluruh wilayah puak. Oleh sebab itu dia wajib memperhatikan kepentingan seluruh daerah.
Tentang pewaris atau penggantinya, umumnya jauh-jauh sebelumnya seorang datu sudah menunjuk seorang untuk menjadi penggantinya. Calon penggantinya diajar atau dibimbing di dalam rahasia-rahasia ilmu ke-datu-an sampai tamat. Namun, mungkin
juga terjadi, seorang datu baru memilih penggantinya setelah dia meninggal. Peristiwa itu berlangsung sebagai berikut:
Melalui mimpi atau kesurupan arwah sang datu menetapkan siapa yang akan diangkat jadi penggantinya. Selanjutnya arwah itu akan mempersiapkan orang pilihannya itu dalam hal keimaman dan ke-datu-an juga melalui mimpi atau waktu-waktu kesurupan.
Pada hakikatnya masing-masing datu memiliki ilmu, mantra, dan cara kerja yang berbeda satu sama lain, sekalipun cabang dan jenis keilmuan mereka tampaknya sama.
Biasanya seorang datu merangkap jabatan sebagai guru. Dia mengajar dan membimbing murid-muridnya dan ilmu falak ilmu gaib. Pelajaran itu relative sangat mahal, sebab itu, hanya anak orang-orang tertentu, seperti raja, tua-tua adapt dan hulu baling yang mampu mengikuti pelajaran dari sang datu.11
2.2.1. Fungsi Raja, Iman dan Datu (Shaman)
Meskipun dalam masyarakat Batak yang tradisionil tidak ada perbedaan yang jelas antara kepemimpinan yang agamaniah dan yang duniawi, namun datu berfungsi sebagai iman dan raja sebagai kepala desa (raja huta), Bartleet menyebut penyelidikan tentang penggunaan gelar datu di seluruh pulau-pulau Pasifik dalam bermacam-macam artinya seperti raja, pemimpin, kepala atau imam. Fungsi datu Batak yang disebut sebagai hadatuon, menggabungakan unsur-unsur magis dengan tugas-tugas yang bersifat medis- agamaniah secara azasi dan yang bersifat pengajaran yang oleh datu disebut sebagai horja atau kerja.12
Pengilhaman upacara adat atau upacara agama Batak dapat kita lihat juga dalam kasus sehari-hari yang masih sering terjadi dalam masyarakat Batak dimana seseorang atau satu keluarga masih melakukan upacara adat berdasarkan nasehat seorang datu (dukun). Apakah itu tentang penantian seorang anak atau seorang cucu, perkawinan, kematian, pekerjaan dan lain sebagaianya.
Bagi masyarakat Batak, datu juga disebut shaman. Kedudukan datu bagi mereka masuk kepada lembaga tertinggi dalam melakukan upacara agama Batak: yaitu untuk melaksanakan liturgy, peribadatan dengan segala methode-methode yang tidak diketahui oleh orang banyak. Mereka dapat mengambil hati (tondi) orang hidup, dan juga
11 Ibid, 34-36
12 Paul B. Pederson, Op.Cit., hlm. 31
mensukacitakan begu, yaitu memanggil roh yang sudah meninggal dunia dengan terlebih dahulu memberikan sesajen (persembahan) untuk membujuk roh-roh yang sudah meninggal atas saran dan pendapat datu (shaman) tersebut. Fungsi dari pada datu di satu pihak adalah sebagai dokter yang mampu mengobati segala penyakit menjaga dan melindungi tubuh manusia dari gangguan-gangguan begu (roh jahat). Tetapi pada pihak lain datu adalah sebagai seorang imam yang mengantari manusia dengan roh-roh, dewata atau sombaon lainnya (pelaksanaan agama).
Orang Batak juga mengenal shaman (datu wanita) yang disebut sibaso. Sibaso ini juga mempunyai tugas hampir sama dengan datu, yakni mengantarai manusia Batak dengan roh-roh nenek moyang. Orang ini pada umumnya dipilih oleh roh yang bersangkutan, dan roh nenek moyang menggunakan sibaso ini sebagai tempat menumpang sementara dalam rangka mengomunikasikan keinginannya kepada turunannya dan dapat menolong seorang ibu yang sedang melahirkan. Hidup sebagai shaman sangat sulit sekali karena membutuhkan ketaatan terhadap tabu atau larangan- larangan (pantang sesuatu hal, apakah bentuk makanan, benda) yang asalnya dari roh itu sendiri, sehingga hanya sedikit orang yang mau dengan rela mengerjakan pekerjaan yang kaku seperti ini.13
Untuk lebih jelas dimengerti tentang agama Batak, dapat kita pahami seperti agama Parmalim yang masih ada sampai saat ini di Porsea dan Samosir, mereka masih menekankan dalam doa-doa (tonggo-tonggo) kepada Debata Mulajadi Na Bolon. Debata Mulajadi Nabolon memiliki tiga putera yang merupakan pancara kemuliaanya, yaitu Batara Guru, Mangala Sori dan Mangala Bulan. Mulajadi Na Bolon memberikan suatu kekuasaan dan kemampuan khusus kepada ketiga puteranya. Mangala Bulan inilah yang memperoleh kekuasaan atau menerima kemampuan dalam bidang ilmu “hadatuon”
sehingga dia menjadi sumber ilmu Hadatuon di tengah-tengah bangsa Batak.
Upacara religius yang dilakukan oleh manusia merupakan upaya rohani untuk mendapat berkat, pertolongan dan keselamatan dari roh sembahannya. Dalam kehidupan leluhur orang Batak yang agararis, maka kesehatan, kesuburan, keberhasilan dalam bertani dan beternak sangat didambakan setiap orang batak. Dalam ungkapan Batak dikatakan: Gabe na niula sinur pinahan. Dalam doa dan perumpamaan Batak yang
13 Rudolf Pasaribu, Agama Suku dan Batakologi. Medan: Penerbit Pieter, 1988, hlm. 62
diucapkan pada upacara adat terlihat keinginan akan menyuarakan berkat-berkat tersebut.14
2.2.2. Jabatan (Tohonan) Datu Pada Zaman Keberhalaan
Di atas telah diterangkan, bahwa debata Mulajadi Nabolon merupakan dewa tertinggi yang disembah oleh leluhur Batak. Penyaluran berkat dari debata disalurkan melalui debata natolu. Debata natolu memiliki tiga wakil yang menjadi saluran berkatnya di bumi, yaitu: Hula-hula, Malim dan Datu.
Jabatan atau keududukan adalah milik masyarakat yang diberikan untuk dipegang sesuai dengan ketentuan social-politik yang berlaku. Karena itu, kalau pemegang jabatan itu berhalangan karena sakit, mati, atau tidak sanggup lagi melakukan tugas-tugasnya, dia dapat diwakili atau digantikan. Pada dasarnya, orang Batak tidak menganggap dirinya sebagai pribadi yang berdiri sendiri, tetapi sebagai bagian dari satu kesatuan Bangso Batak. Factor pengikat yang terpenting dalam sistem pemikiran itu ialah hubungan darah (silsilah bahasa Batak dikatakan tarombo) dan kesamaan negeri asal (bona pasogit) yang dianggap sebagai tempat lahirnya. Mereka berpendapat bahwa kebahagiaan seseorang harus juga merupakan kebahagiaan masyarakat suku bersama-sama.15
Naik atau turunnya para penguasa, keturunan-keturunannya, kemakmurannya, kekuasaannya, prestisinya, atau pengaruhnya dianggap sebagai suatu tanda adanya atau tidak adanya kemampuan khusus. Raja memiliki sahala harajaon (sifat kekuasaan), yang sewajarnya menghasilkan sahala hasangapon (sifat dihormati orang). Itulah sifat-sifat yang terdapat pada seorang pemimpin, dan masyarakat sangat menghormati karena berkeyakinan sekalian dapat menyamapaikan/memberikan berkat dalam kehidupan.
a. Datu Sebagai Kepala Suku
Jalan lain harajaon ialah mendirikan sebuah desa atau perkampungan (huta) baru dengan merintis suatu daerah yang belum ditempati masyarakat lainnya atau bersifat alami (didahului dengan merintis satu hutan “digarap”). Mendirikan sebuah kampung atau huta adalah suatu cara yang diakui untuk memperoleh prestige (wibawa), tujuannya
14 Andar Lumbantobing, Op.Cit., hlm. 34
15 Paul B. Pedersen, Op.Cit., hlm. 31-32
bukanlah terutama untuk mendapat kekayaan material tetapi lebih banyak untuk mendapatkan kedudukan social.16
Semua kepala suku sekaligus menjadi panglima, imam, dan raja. Kehendaknya harus dituruti oleh rakyatnya. Dialah yang berhak memutuskan segala perkara yang terjadi di daerahnya. Tetapi dia juga harus mampu membantu rakyatnya dengan materi, tenaga dan pikiran. Selain itu, dia harus seorang paramak so balunon (suka memberi tumpangan pada orang), parsangkalan na so hea mahiang (suka menjamu tamunya) dan parbahul-bahul na bolon (suka memberi pertolongan pada yang kekurangan). Dan akhirnya, dia harus mampu mendengar dan memberi perhatian pada keluhan dan persoalan yang disampaikan rakyat kepadanya tanpa jemu atau jangan bersifat pemarah dan kemudian harus sanggup mengambil keputusan secara bijaksna tanpa berpihak kepada siapapun. Di lain pihak, seluruh rakyat wajib mematuhi segala ketentuannya.
Kewajiban itu dilukiskan dalam bentuk peribahasa, yang berbunyi: “Baris-baris ni gaja ni rura pangaloan, Molo marsuru raja, denggan ma nioloan . Ia so ni oloan, tumunda hamagoan, Molo nioloan, dapotan pangomoan”.
Pada masa peperangan antar kampung, kepala suku akan mengelilingi seluruh kampung untuk mendorong rakyatnya supaya tetap siaga, saling menjaga dan memelihara perkampungan agar jangan direbut oleh orang lain. Raja atau kepala suku wajib menghadiri sesuatu kegiatan yang ada di desa tersebut untuk melihat dan mengamati supaya segala sesuatu berjalan menurut adat. Rajapun mendapat jambar di saat diadakan pesta, berhak memperoleh uang pasar (uang saku), sebagian tertentu dari keuntungan dagang, kemenangan judi dan ongkos perkara, berhak atas bagian tertentu dari hasil buruan rakyatnya.17
Diantara raja-raja, yang paling berkuasa ialah Sisingamangaraja; yang diakui oleh kebanyakan masyarakat Batak Toba sebagai raja-datu mereka. Dasar kewibaannnya (kekuasaannya) tidaklah terletak pada kekuatan senjatanya atau dewa umum, tetapi pada kepercayaan agamaniah. Walaupun Sisingamangaraja tidak menganut agama Islam atau Kristen, namun ia dengan tegas menyatakan bahwa ia menganut agama yang di atas semua agama.
16 Ibid., hal.32
17 Andar Lumbantobing. Op.Cit. hlm. 35-36
Sisingamangaraja jarang berbicara, tetapi memberi perintah-perintahnya secara tertulis harus dilaksanakan oleh wakil-wakilnya pribadi (panglimanya), yang diorganisir menjadi suatu sistim parbaringin hampir ada di seluruh daerah Batak. Ia terkenal sebagai pelerai antar desa-desa yang otonom dalam pertengkaran-pertengkaran masyarakatnya atau penduduknya, dengan mengusahakan penyalesaian-penyelesaian damai dan menghindari perang.18
b. Datu Sebagai Imam
Penyembahan kepada berhala-berhala, terpusat pada pemujaan roh nenek moyang. Peranan datu di sini menyampaikan permohonan yang disampaikan pada peristiwa seremonial oleh datu, parbaringin (pendeta ini bertugas untuk menyampaikan persembahan kepada roh-roh yang dianggap keramat dari bius), atau tua-tua utama dari marga. Para datu mempunyai kedudukan khusus sebagai imam karena merekalah yang dapat menghubungkan kuasa-kuasa alami penting yang menjelma menjadi boras pati ni tano (dewa berbentuk kadal) berguna untuk kesuburan tanah.
Fungsi datu Batak yang disebut sebagai hadatuon, menggabungkan unsur-unsur magis dengan tugas-tugas yang bersifat medis agamiah secara azasi dan bersifat pengajaran, datu disebut sebagai horja atau kerja. Datu mempunyai patung-patung dan benda-benda ukiran yang dipakai untuk acara ritual. 19
c. Datu Sebagai Ulubalang (Panglima Pasukan)
Seorang ulubalang atau panglima pasukan diangkat oleh kepala kampung dari antara rakyatnya yang dianggap paling kuat dan paling berani. Tugasnya menduduki kubu musuh, menerobos penjaga-penjaga, membunuh orang-orang penting tanpa mengalami kerugian yang berarti, namanya akan dipuja di seluruh negeri. Bertugas untuk memasang pulas (sepucuk surat) atau maklumat pernyataan perang di pintu gerbang musuh. Dalam upacara kematian pun dia memegang peranan penting dengan mengenakan pakaian kebesaran panglima pasukan berwarna merah kesumba, dia harus mengawal iring-iringan penganatar jenazah sampai ke tempat penguburan sambil memukul-mukul gendering kaleng yang digantungkan di pingangnya, serta menebakkan
18 Paul B. Pedersen, Op.Cit., hlm. 29
19 Ibid, 41
sewaktu-waktu senapangnya kesebelah kanan dan kiri. Suaranya membisingkan dengan tujuan supaya tidak ada yang mengganggu jenazah.
d. Pengetuai (Tua-tua Kampung)
Di setiap kampung biasanya dilakukan pertemuan antar tua-tua untuk mengambil suatu keputusan. Kepala kampung memegang pimpinan dan menjadi yang pertama di antara sesamanya (primus interpares). Dia akan mempengaruhi jalannya rapat dengan sahalanya (wibawa) dan akan dianggap aneh apabila raja gagal dalam hal tersebut.
Kepala kampung akan tetap memelihara dan menjaga supaya kampungnya berswasembada. Setiap kepala kampung mempersiapkan pengrajin tangan untuk memperlengakapi keperluan masyarakat di kampungnya masing-masing.20
2.3. Masuknya Keristenan Dan Perkembangannya di Tanah Batak 2.3.1. Pra-Kekristenan (Agama Suku)
Upacara adat Batak merupakan upacara religius yang menggambarkan atau memetakan roh sembahan para leluhur. Peta ini dapat tersusun rapi dengan berpedoman pada prinsip kebatakannya dengan prinsip: dalihan na tolu. Prinsip ini membagi status dan peranan seseorang dalam tiga bagian, yaitu: hula-hula (pihak pemberi gadis), dongan sabutuha (teman semarga), dan boru (pihak penerima gadis).
Bapak Dr. Philip Lumbantobing21 berpendapat bahwa dalam tatanan rohani, dalihan na tolu menggambarkan suatu relasi antara manusia dengan alam gaib, antara banua tonga dengan banua ginjang. Dalihan na tolu adalah falsfah hidup orang Batak yang menunjukkan keterikatan hubungan internal dari ketiga posisi kekerabatan orang batak dalam bermasyarakat, yakni mendoakan setiap orang agar senantiasa sehat (horas).
Dalihan na tolu ini juga berarti sebagai symbol antara dewa sembahan leluur dengan manusia si pelaku adat. Ikatan inilah yang membuat kita sulit untuk meninggalkan upacara hasipelebeguon. Pada sisi rohani, dalihan na tolu merupakan symbol debata na tolu atas setiap upacara. Inilah kepercayaan orang Batak sebelum kekristenan yang sampai saat ini menjadi tantangan bagi kekristenan.
20 Andar Lumbantobing, Op.Cit., hlm. 38
21 Philip Lumbantobing, Op.Cit., hlm. 41-42
2.3.2. Perkembangan Agama Kristen dan Hambatannya
- Masuknya Kekristenan di Tanah Batak Sebelum Toba Holbung (Tahun 1824- 1864) dan Taput Sebagai Tanah Batak (Tahun 1864-1878)
Menurut bapak Dr. J.R. Hutauruk22 Nommensen tidak dapat dipisahkan dari para pekabar Injil lainnya di tanah Batak. Dialah yang pertama membuka daerah Penginjilan di tanah Batak. Sebenarnya konprensi tahunan telah menempatkan Nommensen untuk menginjili di daerah Angkola yaitu Sipirok. Tetapi pada waktu dia tiba di daerah itu pada tahun 1862, dia tidak diijinkan oleh pemerintah Belanda memasuki Angkola. Dia hanya diperbolehkan memilih daerah-daerah pantai tanah Batak. Itulah sebabnya dia memilih kota Barus. Rupanya Nommensen melihat kota barus dengan identitas penduduknya telah menganut agama Islam dari berbagai suku bangsa yang bukan Batak, maka kota itu ditinggalkan Nommensen setelah bekerja di sana beberapa bulan. Rekan-rekannya yang bekerja di Pahae merangsang dia agar mencari tempat bertetangga dengan Pahae yaitu Silindung. Justru daerah ini memberikan pelajaran baginya bahwa tanah Batak yang belum dipengaruhi Islam lebih tepat ladang penginjilannya. Dia lebih suka bertarung untuk orang Batak yang masih beragama pribumi (agama suku Batak). Atas kegigihanya Nommensen terlebih dahulu mempelajari bahasa Batak Toba dan bahasa Melayu di Eropah sebelum ke Tanah Batak. Menurut Nommensen bahasa Batak adalah jembatan yang ampuh untuk memberitakan Injil di tanah Batak. Akhirnya Raja Pontas Lumbatobing yang sangat tertarik dengan sahala Nommensen memberi diri untuk dibaptiskan. Beberapa waktu kemudian missionaries Jerman berdatangan untuk membantu pelayanan Nommensen sehingga Injil semakin merambat di tanah Batak.
Pada waktu injil Yesus Kristus diterima orang Batak di Silindung, nampaknya bahwa injil itu diterima pribadi-pribadi yang langsung disapa oleh missionaris. Dengan melihat cara kedatangan mereka yang tidak mendirikan perusahaan dagang atau suatu Negara penjajah, maka beberapa penatua desa atau raja mengizinkan mereka tinggal di daerah-daerah meraka, memberikan tempat pertapakan, membangun rumah peribadatan yang baru. Rumah ibadah pada mulanya dipakai sekaligus menjadi ruangan belajar membaca dan berhitung.
22 J.R. Hutauruk (Art), Nommensen dan Metode Pekabaran Injil, dalam Buku Benih Yang Berbuah, Peringatan 150 Tahun Ompui Dr. Ingwer Ludwik Nommensen. Pematang Siantar: STT HKBP, 1984, hlm. 37-40
- Masuknya Keristenan di Daerah Toba Holbung (Laguboti) Tahun 1881-1911 Pada tahun 1976 (bulan Mei) dua penginjil Jerman yang ada di Silindung yaitu I.L. Nommensen dan P.H. Johannsen berkunjung ke Balige. Tanggal 10 Juni 1881 saat G.
Pilgram dan V. Kessel dikukuhkan Missionaris Simoneit bertempat tinggal di Balige.
Walaupun pada waktu itu Toba Holbung masih diliputi oleh sikap anti Belanda, sikap yang masih mencoba mengusir kekuasaan asing dari Toba Holbung. Tanggal 24 September 1881 para raja terbuka kepada agama Kristen membantu beliau. Tanggal 16 April 1882 telah membabtiskan sebanyak 32 orang dan calon baptisan masih ada 40 orang.
Pada tahun 1884 adalah pusat ke Kristenan yang kedua setelah daerah Silindung.
Born (Missionaris teman Nommensen) di tempatkan di Laguboti tahun 1884, beliau telah menemukan kelompok calon baptisan sebanyak 90 orang. Perayaan Natal pertama di Laguboti cukup meriah, dihadiri oleh calon-calon baptisan dan banyak lagi yang melum mengambil keputusan menjadi agama Kristen. Perluasan daerah ke Kristenan semakin meluas pada tahun 1911, dilanjutkan dengan pembangunan Rumah Sakit di Balige tahun 1929. Maka Toba Holbung mempunyai pusat-pusat ke Kristenan yang hamper sama dengan di Silindung.23
2.4. Perjumpaan Jabatan Hadatuon Dengan Jabatan Gereja 2.4.1. Perjumpaan dengan Jabatan Pendeta
Secara fungsi jabatan pendeta bukan lagi jabatan yang baru bagi gereja, namun fungsi datu pada masa keberhalaan hampir sama dengan fungsi pendeta pada masa kekristenan. Jabatan ini mengalami perjumpaan pada saat injil masuk dan berkembang di tanah Batak. Secara sendirinya fungsi datu dalam ritual atau upacara keagamaan Batak digantikan oleh pendeta. Hal tersebut disebabkan karena suku Batak sudah mengerti dan menerima Kristus. Dalam upacara keagamaan bukan lagi datu yang menentukan atau
23 J.R. Hutauruk (Art), Majalah Vocatio Dei, edisi XXXVIII bulan september 1994, Pematang Siantar: STT-HKBP, 1994, 97-122
2.4.2. Perjumpaan dengan Jabatan Penatua
Penyembahan kepada berhala-berhala, terpusat pada pemujaan roh nenek moyang. Peranan datu di sini menyampaikan permohonan yang disampaikan pada peristiwa seremonial oleh datu, parbaringin (pendeta ini bertugas untuk menyampaikan persembahan kepada roh-roh yang dianggap keramat dari bius), atau tua-tua utama dari marga. Para datu mempunyai kedudukan khusus sebagai imam karena merekalah yang dapat menghubungkan kuasa-kuasa alami penting yang menjelma menjadi boras pati ni tano (dewa berbentuk kadal) berguna untuk kesuburan tanah.
Fungsi datu Batak yang disebut sebagai hadatuon, menggabungkan unsur-unsur magis dengan tugas-tugas yang bersifat medis agamiah secara azasi dan bersifat pengajaran, datu disebut sebagai horja atau kerja. Datu mempunyai patung-patung dan benda-benda ukiran yang dipakai untuk acara ritual. 24
Jabatan penatua sebelum jaman keberhalaan juga dijabat oleh datu, namun setelah agama Kristen masuk dan berkembang di tanah Batak maka jabatan penatua di pegang oleh para penatua di gereja. Sampai saat ini fungsi penatua tidak lagi dipegang oleh datu.
Penatua yang telah dipilih di gereja itulah yang melaksanakan fungsi penatua.
2.4.3. Perjumpaan dengan Jabatan Imam
Jabatan imam atau pengajar zaman keberhalaan juga dipegang oleh datu. Datu- lah menjadi tempat bertanyaan tentang segala sesuatau yang berhubungan dengan ke- ilmuan dan aturan-atauran dalam ritus keagamaan. Pada saat ini jabatan imam telah dipegang oleh orang-orang percaya yang di pilih digereja untuk melaksanakan kegiatan ibadah. Bahkan jika kita melihat 1 Petrus 2 : 9 dikatakan ”Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib.” Jadi jabatan imam saat ini tidak dipegang oleh datu lagi, namun seluruh orang percaya adalam imam, walaupun secara struktur dan fungsi utama dipilih ditengah-tengah gereja.
24 Ibid, 41
III. KESIMPULAN/REFLEKSI
Dari kelahiran hingga kematian, orang Batak umumnya hidup dalam dunia ritual
“Upacara Adat”. Orang Batak sangat sulit keluar dari tatanan warisan leluhurnya, karena upacara adat itu sendiri tidak hanya bernilai sosial namun sarat dengan nilai dan norma religi yang mengekspresikan keyakinan leluhur yang hidup dalam masa kegelapan.
Kenyataannya upacara adat Batak merupakan bentuk penyembahan leluhur pada roh sembahnya sering ditutupi dan dipoles dengan teologi sinkritisme dalam lingkungan Batak Kristen.
Berkat penginjilan di tanah Batak. Injil merobah pemahaman orang Batak tentang kepercayaan yang dipeluknya, karena selalu sudut pandang hadatuon mereka percayai, namun atas kegigihan para missioner dalam Pekabaran Injil ini, sehingga suku Batak dapat menerima arti yang sebenarnya dalam hal keagamaan serta kemajuan karena Injil yang disampaikan oleh para hamba di tengah – tengah suku Batak dari bentuk
“kegelapan”. Firman Tuhan berkuasa mengubah dalam berbagai cara-cara atau pola hadatuon menjadi pola Krsitiani. Paulu mengatakan dalam 2Korintus 5:17“yang lama sudah berlalu, sesunggguhnya yang baru sudah datang.” Pola hadatuon telah berlalu sekalipun masih ada sebagian orang Batak Kristen yang belum secara totalitas memahami pola baru atau wajahnya yang baru dalam Kristus.
KEPUSTAKAAN Gultom Dj.
1992 Dalihan Na Tolu Nilai Budaya Suku Batak, CV. Armada, Jakarta Hutauruk J.R.
1993 Kemandirian Gereja, Penelitian Historis Sistematik tentang: Gerekan Kemandirian di Sumatera Utara, BPK. Gunung Mulia, Jakarta
Hutauruk J.R.
1984 (Art.) Nommensen Dan Metode Pekabaran Injil, dalam Buku Benih Yang Berbuah, Peringatan 150 Tahun Ompui Dr. Ingwe Ludwik Nommensen, STT- HKBP, Pematang Siantar
Hutauruk J.R.
1994 Majalah Vocatio Dei STT-HKBP, Edisi XXXVIII Bulan September 1994, STT-HKBP, Pematang Siantar
Lumbantobing Andar.
1992 Makna Wibawa Jabatan Dalam Gereja Batak, BPK. Gunung Mulia, Jakarta Lumbantobing Philip.
1963 The Structure of the Toba-Batak Belief in the High God, Amsterdam South and South East Celebers Instituio of Culture, Amsterdam
Pasaribu Rudolf.
1988 Agama Suku dan Batakologi, Penerbit Pieter, Medan Pederson B. Paul.
2002 Darah Batak dan Jiwa Protestan, Perkembangan Gereja-Gereja Batak di Sumatera Utara, BPK. Gunung Mulia, Jakarta
Schreiner Lothar.
1996 Adat dan Injil, BPK. Gunung Mulia, Jakarta Sianipar F.H.
1973 Suatu Problem Tentang Metode Theologia Dalam Ketegangan Yang Dialami Batak Kristen Masa Kini, STT-HKBP, Pematang Siantar
Situmorang Jaulahan. 1965 Penuntun Adat Praktis, Parluasan, Pematang Siantar Tampubolon Raja Patik.
2002 Pustaha Tumbaga Holing, Percetakan Dian Utama, Jakarta