• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pertumbuhan ekonomi mengukur prestasi dari perkembangan perekonomian dari suatu periode ke periode berikutnya

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Pertumbuhan ekonomi mengukur prestasi dari perkembangan perekonomian dari suatu periode ke periode berikutnya"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH KONSUMSI, INVESTASI, TABUNGAN, PENGELUARAN PEMERINTAH, TENAGA KERJA DAN PASAR TERHADAP

PERTUMBUHAN EKONOMI DI KOTA PADANG

Shinta Saputri, Ansofino, Citra Ramayani

Program Studi Pendidikan EkonomiSTKIP PGRI Sumatera Barat [email protected]

ABSTRACT

This study aims to determine 1) the effect of consumption on economic growth 2) the influence of investment on economic growth 3) the influence of savings on economic growth 4) the influence of government spending on economic growth 5) the influence of labor on economic growth 5) market influence on economic growth. The type of research used in this study is associative research with secondary data as much as 22 quarters from 2010-2015 obtained from the Central Bureau of Statistics (BPS) of Padang City. The analytical method used is Autoregression-Moving Average (ARMA). The results showed that: (1) Consumption influences 1 period before and 3 next period to economic growth of Padang City and sector itself (2) Investment influences 1 period before and 1 next period to economic growth of Padang City and sector itself (3) Saving influence 1 period before and 4 periods to the economic growth and the sector itself (4) Government expenditures affect 1 period before and 2 periods next to the economic growth of Padang City and the sector itself (5) Labor influential 1 period before and 2 period next to economic growth City Padang and the sector itself (6) Market influences 1 period before and 2 next period on economic growth and sector itself.

Keywords: Consumption, Investment, Savings, Government Spending, Labor, Markets, Economic Growth

PENDAHULUAN

Pertumbuhan ekonomi merupakan masalah perekonomian suatu daerah dalam jangka waktu panjang. Pertumbuhan ekonomi mengukur prestasi dari perkembangan perekonomian dari suatu periode ke periode berikutnya. Dari suatu periode ke periode berikutnya

kemampuan suatu daerah untuk menghasilakan barang dan jasa akan meningkat yang disebabkan oleh faktor-faktor produksi yang selalu mengalami pertambahan dalam jumlah dan kualitasnya.

Menurut (Sukirno, 2008: 423) bahwa dalam kegiatan perekonomian

(2)

yang sebenarnya pertumbuhan ekonomi berarti perkembangan fiskal produk barang dan jasa yang berlaku di suatu negara, seperti pertambangan produksi barang industri, perkembangan infrastruktur, pertabhan jumlah sekolah, pertambahan produksi sektor jasa dan pertambahan produksi barang modal.

Tetapi dengan menggunakan berbagai jenis data produksi adalah sangat sukar untuk memberikan gambaran tentang pertumbuhan ekonomi yang dicapai. Oleh sebab itu, untuk memberikan suatu gambaran kasar mengenai pertumbuhan ekonomi yang dicapai suatu negara, ukuran yang selalu digunakan adalah tingkat pendapatan nasional rill yang dicapai.

Menurut Badan Pusat Statistik, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) menggambarkan aktifitas perekonomian suatu daerah, semakin tinggi produktivitas darah maka PDRB nya akan semakin besar.

Perkembangan PDRB merupaka salah satu indikator ekonomi yang digunakan untuk melihat tingkat perekembangan aktivitas ekonomi daerah.

Kota Padang merupakan ibukota Provinsi Sumatera Barat yang sejak dimulai pembangunannya telahmengalami kenaikan perekonomian. Perekonomian kota Padang secara terus menerus mengalami pertumbuhan yang cukup tinggi. Kota Padang mempunyai sektor-sektor usaha yang patut dikembangkan seperti sektor pariwisata, sektor jasa, sektor perdagangan, sektor konstruksi, sektor hotel dan restoran serta sektor industri.

Salah satu faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi adalah tingkat konsumsi. Konsumsi merupakan suatu kegiatan yang dilakukan oleh semua umat manusia, yang dapat dipengaruhi oleh faktro pendapatan, lingkungan dan kebutuhan. Keynes dalam (Arifin, 2017: 8) berpendapat faktor utama yang menentukan konsumsi adalah pendapatan. Pada tingkat pendapatan yang sangat rendah, konsumsi akan melebihi pendapatan dan konsumsi yang melebihi pendapatan tersebut akan dibiayai dari tabungannya pada masa lalu. Selain itu konsumsi adalah pengeluaran untuk pembelian barang-

(3)

barang dan jasa guna mendapatkan kepuasan ataupun memenuhi

kebutuhannya.

Tabel 1. Jumlah Konsumsi, Investasi, Tabungan, Pengeluaran Pemerintah, Tenaga Kerja, Perdagangan Besar Dan Eceran Serta Pertumbuhan Ekonomi Di Kota Padang

Tahun

Konsumsi (Milyar

Rp)

Investasi (Milyar

Rp)

Tabungan (Milyar

Rp)

Pengeluar an Pemerinta

h (Milyar Rp)

Tenaga Kerja (Orang)

Perdagan gan Besar

Dan Eceran (Milyar Rp)

Pertum buhan Ekono mi (%)

2005 4677,26 1991,38 5118,83 455,51 324497 1961,98 5,29 2006 5183,32 2088,69 6237,08 614,44 341453 2096,96 5,12 2007 5509,59 2186,82 7556,26 737,32 345950 2209,05 6,14 2008 5861,33 2295,19 8544,79 881,73 344497 2309,12 6,21 2009 6063,29 2421,09 10277,53 996,77 353238 2388,55 5,08 2010 14308,08 7739,48 12045,46 1100,37 357206 2499,14 5,96 2011 14788,82 8474,66 13087,75 1180,35 400920 2636,85 6,41 2012 15306,57 9064,89 14521,45 1400,21 334691 5140,75 6,61 2013 15999,39 9563,31 14733,39 1619,58 369640 5445,98 6,48 2014 16711,46 10044,97 16547,91 1794,32 389991 5754,26 6,32 2015 17499,88 10578,9 17976,35 1948,38 402140 6053,06 6,35 Sumber: Badan Pusat Statistik Kota Padang

Pada tabel 1. dapat dilihat bahwa pertumbuhan ekonomi di Kota Padang sejak sebelas tahun terakhir dari tahun 2005-2015 mengalami peningkatan. Pada tahun 2010 pertumbuhan ekonomi Kota Padang sebesar 5,96, pada tahun 2011 dan 2012 meningkat sebesar 6,41 dan 6,61%. Pada tahun 2015 perekonomian Kota Padang masih terlihat tetap mengalami peningkatan.

Ini ditandai dengan tingkat pertumbuhan PDRB pada tahun 2015 sebesar 6,35% dibandingkan tahun 2014.

Berdasarkan tabel 1 perubahan konsumsi tertinggi berada pada tahun 2006 sebesar 10,82%. Hal ini diduga penyebabnya adalah peningkatan konsumsi periode sebelumnya dan pendapatan disposable. Perubahan konsumsi terendah berada pada tahun 2011 sebesar 3,36%. Pada tahun 2009 tingkat konsumsi turun sebesar 3,45%

dari tahun 2008 dan pertumbuhan ekonomi juga turun sebasar 5,08%, hal ini dikarenakan gempa yang terjadi di Sumatera Barat yang mengakibatkan perekonomian kota Padang menurun. Rendahnya

(4)

perubahan konsumsi ini diduga bahwa perubahan konsumsi pada waktu yang sama tidak diiringi dengan perubahan pendapatan disposable. Angka ini menunjukkan bahwa pada tahun 2006-2008, yang perubahan konsumsi berada di atas rata-rata, rata-rata konsumsi adalah 5,01%. Sehingga dapat dikatakan bahwa perubahan konsumsi selama periode 2005-2015 mengalami fluktuasi.

Perubahan investasi tertinggi berada pada tahun 2011 sebesar 9,33%. Tingginya angka investasi ini salah satunya disebabkan peningkatan pertumbuhan ekonomi, sehingga dapat menarik minat investor untuk melakukan investasi di kota Padang.

Dengan tingginya investasi yang masuk kota Padang tentunya akan mempertinggi laju pertumbuhan ekonomi Kota Padang. Sedangkan pada tahun 2012 investasi kota Padang mengalami penurunan sebesar 6,96%. Penurunan investasi tersebut diduga masih rendahnya kepercayaan investor untuk menanamkan modalnya di Kota Padang, sebagai akibat dari tingginya tingkat persoalan masyarakat, seperti

birokrasi perizinan, tanah ulayat dan masih banyak pungutan-pungutan liar atau pungli.

Perekembangan posisi simpanan masyarakat Kota Padang secara nominal mengalami peningkatan. Pada tahun 2006 tabungan mengalami peningkatan sebesar Rp. 6.237,08 milyar rupiah menjadi 20,20% sampai pada tahun 2012 posisi simpanan masyarakat di Kota Padang sebesar Rp. 14.521,45 milyar rupiah dimana tingkat perkembangannya mengalami fluktuasi turun menjadi 10,95%. Hal ini menunjukkan fenomena-fenomena yang terjadi pada suatu lembaga keuangan di Indonesia.

Berdasarkan tabel 1 dapat dilihat pengeluaran pemerintah mengalami peningkatan secara nominal dari tahun 2005 sampai tahun 2015. Pada tahun 2011 pengeluaran pemerintah menurun sebesar 7,27%, sedangakan tingkat pertumbuhan ekonomi meningkat sebesar 6,41%.

Hal ini tidak sesuai dengan teori yang menyatakan semakin tinggi pengeluaran pemerintahnya maka tingkat pertumbuhan ekonomi juga akan meningkat. Pengeluaran tersebut

(5)

digunakan sebagian digunakan untuk administrasi pembangunan dan sebagaian lagi untuk kegiatan pembangunan di berbagai jenis infrastruktur yang penting.

Perbelanjaan-perbelanjaan tersebut akan meningkatkan pengeluaran agregat dan mempertinggi tingkat kegiatan ekonomi.

Jumlah tenaga kerja di Kota Padang dari tahun 2010-2015 secara keselurahan mengalami peningkatan.

Namun pada tahun 2012 jumlah tenaga kerja menurun dari 400.920 orang menjadi 334.691 orang tetapi pertumbuhan ekonomi tetap meningkat dari 6,41 persen menjadi 6,61 persen. Hal ini mengindikasi bahwa kebijakan-kebijakan pembangunan kota Padang belum sepenuhnya mengakomodasi kepentingan percepatan ekonomi lokal. Dengan demikian, maka perlu pemberdayaan sumber-sumber daya daerah agar mampu menyerap jumlah tenaga kerja di kota padang.

Berdasakan tabel 1 dapat dilihat bahwa perdagangan di kota Padang secara keseluran mengalami peningkatan. Pada tahun 2013 tingkat perdagangan besar dan eceran

meningkat sebesar 5,95 persen namun pertumbuhan ekonomi menurun sebesar 6,48 persen. Hal ini tidak sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa semakin tinggi tingkat aktivitas perekonominya maka tingkat pertumbuhan ekonomi juga tinggi.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini merupakan penelitian asosiatif.Jenis data yang digunakan adalah data sekunder yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Padang Padang dengan jumlah data sebanyak 22 triwulan selama 11 tahun dari 2005-2015.

Adapun variabel dalam penelitian ini adalah variabel pertumbuhan ekonomi sebagai variabel terikat (Y), konsumsi (X1), investasi (X2), tabungan (X3), pengeluaran pemerintah (X4), (5) tenaga kerja(X5) dan pasar (X6).

Teknik analisis data yang digunakan adalah Autoregression- Moving Average (ARMA).

HASIL DAN PEMBAHASAN Pengaruh Konsumsi (X1) Terhadap Pertumbuhan Ekonomi (Y) Kota Padang

Berdasarkan hasil pengujian analisis Autoregression-Moving

(6)

Average (ARMA) diketahui bahwanilai koefisien sebesar 0,938502 dan 0,999858 dengan nilai probability < 0,05 pada variabel konsumsi, dan nilai tstatistic sebesar 8,162270 dan 17,10964> ttabel sebesar 1,73961, yang menunjukkan konsumsi terhadap pertumbuhan ekonomi dan sektor itu sendiri berpengaruh 1 periode sebelumnya yang mana dalam satu periode terdiri dari 2 semester. Dalam 6 bulan sebelumnya pengaruh konsumsi terhadap pertumbuhan ekonomi dan sektor itu sendiri dapat dirasakan.Dan dampaknya bisa dirasakan setelah 3 periode atau 18 bulan selanjutnya.

Hasil penelitian ini sejalan dengan pendapat yang dikemukakan oleh Mankiw (2003: 242) yang mengungkapkan bahwa keputusuan konsumsi sangat penting untuk analisis jangka pendek karena peranannya dalam menentukan permintaan agregat. Konsumsi adalah dua pertiga dari GDP.Sehingga fluktuasi dalam ekonomi adalah elemen yang penting dari booming dan resesi.

Selain itu, hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian yang

dilakukan oleh Shandra (2012) yang menyatakan bahwa secara parsial perkembangan konsumsi berpengaruh signifikan dan positif terhadap pertumbuhan ekonomi. Hal ini dikarenakan terjadinya peningkatan perkembangan konsumsi berarti telah terjadi peningkatan permintaan terhadap barang dan jasa.

Pengaruh Investasi (X2) Terhadap Pertumbuhan Ekonomi (Y) Kota Padang

Berdasarkan hasil pengujian analisis Autoregression-Moving Average (ARMA) diketahui bahwa nilai koefisien sebesar 0,938502 dan 0,999858 dengan nilai probability <

0,05 pada variabel investasi, dan nilai tstatisticsebesar 8,162270 dan 17,10964

>ttabel sebesar 1,73961, yang menunjukkan investasi terhadap pertumbuhan ekonomi dan sektor itu sendiri berpengaruh 1 periode sebelumnya yang mana dalam satu periode terdiri dari 2 semester. Dalam 6 bulan sebelumnya pengaruh konsumsi terhadap pertumbuhan ekonomi dan sektor itu sendiri dapat dirasakan. Dan dampaknya bisa dirasakan setelah 3 periode atau 18 bulan selanjutnya

(7)

Menurut Jhingan (2004: 189) yang menungkapkan bahwa investasi berperan dalam menciptakan pendapatan dan mampu memperbesar kapasitas produksi perekonomian dengan cara meningkatkan stok modal. Menurut Jhingan melalui investasi maka kegiatan ekonomi akan dapat berkembang dan kesejahteraan masyarakat dapat semakin meningkat.

Selain itu, hasil penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Silvia, dkk (2013) yang menyatakan bahwa investasi berpengaruh signifikan dan positif terhadap perekonomian di Indonesia.

Pertumbuhan ekonomi Kota Padang dipengaruhi oleh perkembangan investasi, karena kenaikan perkembangan investasi mengindikasikan telah terjadinya kenaikan penanaman modal.

Kenaikan penanaman modal atau pembentukan modal akan berakibat terhadap peningkatan produksi barang dan jasa di dalam perekonomiannya.

Peningkatan produksi barang dan jasa ini akan menyebabkan peningkatan terhadap pertumbuhan ekonomi.

Pengaruh Tabungan (X3) Terhadap Pertumbuhan Ekonomi (Y) Kota Padang

Berdasarkan hasil pengujian analisis Autoregression-Moving Average (ARMA) diketahui bahwa nilai koefisien sebesar 0,672061 dan - 0,952548 dengan nilai probability <

0,05 pada variabel tabungan, dan nilai tstatisticsebesar 4,472941 dan 18,80610

>ttabel sebesar 1,73961, yang menunjukkan tabungan terhadap pertumbuhan ekonomi dan sektor itu sendiri berpengaruh 1 periode sebelumnya yang mana dalam satu periode terdiri dari 2 semester. Dalam 6 bulan sebelumnya pengaruh tabungan terhadap pertumbuhan ekonomi dan sektor itu sendiri dapat dirasakan.Dan dampaknya bisa dirasakan setelah 4 periode atau 24 bulan selanjutnya.

Menurut Keynes, tabungan ditentukan oleh tingkat pendapatan saat ini (current income). Menurut Arsyad (2004) tingginya tingkat tabungan rumah tangga tergantung pada besarnya pendapatan yang siap dibelanjakan. Hasrat menabung dari pendapatan yang siap dibelanjakan tersebut akan meningkat sesuai dengan tingkat pendapatan.

(8)

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Febriani (2007), yang menyatakan pengaruh tabungan domestik, jumlah penduduk, ekspor impor terhadap pertumbuhan ekonomi. Dari hasil penelitian yang diperoleh menyatakan bahwa kenaikan jumlah tabungan, jumlah penduduk dan ekspor berpengaruh positif secara signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di Sumatera Barat.

Tabungan merupakan faktor penting dalam menentukan pertumbuhan ekonomi. Jika tingkat tabungan masyarakat itu tinggi maka dana yang tersimpan akan meningkat pula. Dana tersebut dapat dialokasikan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi melalui penamanam modal atau investasi.

Pengaruh Pengeluaran Pemerintah (X4) Terhadap Pertumbuhan Ekonomi (Y) Kota Padang

Berdasarkan hasil pengujian analisis Autoregression-Moving Average (ARMA) diketahui bahwa nilai koefisien sebesar 1,102442 dan - 0,762726 dengan nilai probability <

0,05 pada variabel pengeluaran

pemerintah, dan nilai tstatistic sebesar 3,60168 dan 2,862047>ttabel sebesar 1,73961, yang menunjukkan pengeluaran pemerintah terhadap pertumbuhan ekonomi dan sektor itu sendiri berpengaruh 1 periode sebelumnya yang mana dalam satu periode terdiri dari 2 semester. Dalam 6 bulan sebelumnya pengaruh pengeluaran pemerintah terhadap pertumbuhan ekonomi dan sektor itu sendiri dapat dirasakan.Dan dampaknya bisa dirasakan setelah 2 periode atau 12 bulan selanjutnya.

Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Salhab and Soedjono (2012) yang menyatakan secara silmultan dan parsial tingkat inflasi, jumlah tenaga kerja, dan pengeluaran pemerintah berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi Provinsi Bali.

Besarnya pengeluaran pemerintah akan berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi.

Peran aktif pemerintah daerah diharapkan berperan aktif dalam mengelola dan mengembangkan sektor publik dalam upaya meningkatkan pertumbuhan ekonomi

(9)

daerah. Pendekatan pada upaya peningkatan pertumbuhan tidak

semata-mata menentukan

pertumbuhan sebagai satu-satunya tujuan pembangunan daerah, namun pertumbuhan merupakan salah satu ciri pokok terjadinya proses pembangunan.

Pengaruh Tenaga Kerja (X5) Terhadap Pertumbuhan Ekonomi (Y) Kota Padang

Berdasarkan hasil pengujian analisis Autoregression-Moving Average (ARMA) diketahui bahwa nilai koefisien sebesar 1,326913 dan - 0,999804 dengan nilai probability <

0,05 pada variabel tenaga kerja, dan nilai tstatistic sebesar 6,102197 dan 8,008297>ttabel sebesar 1,73961, yang menunjukkan tenaga kerja terhadap pertumbuhan ekonomi dan sektor itu sendiri berpengaruh 2 periode sebelumnya yang mana dalam satu periode terdiri dari 2 semester. Dalam 12 bulan sebelumnya pengaruh tenaga kerja terhadap pertumbuhan ekonomi dan sektor itu sendiri dapat dirasakan.Dan dampaknya bisa dirasakan setelah 2 periode atau 12 bulan selanjutnya. Jadi model yang tepat dalam mencari pengaruh

variabel tenaga kerja terhadap pertumbuhan ekonomi dan sektor itu sendiri adalah model Autoregressive- Moving Average (ARMA).

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Utami (2013), yang menyatakan bahwa variabel tenaga kerja memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi. Hal ini menandakan pertumbuhan ekonomi pada usia kerja di Provinsi Jawa Barat memiliki kualitas yang mampu bersaing di pasar kerja dengan kualitas yang baik sehingga mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

Tenaga kerja merupakan salah satu indikator untuk melihat perkembangan dan kondisi ekonomi suatu daerah. Untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi yaitu salah satunya dengan usaha meningkatkan jumlah tenaga kerja yang digunakan dalam proses produksi. Dengan meningkatnya tenaga kerja yang ada, akan meningkatkan pula pertumbuhan ekonomi di daerah tersebut.

(10)

Pengaruh Tenaga Kerja (X5) Terhadap Pertumbuhan Ekonomi (Y) Kota Padang

Berdasarkan hasil pengujian analisis Autoregression-Moving Average (ARMA) diketahui bahwa nilai koefisien sebesar 1,326913 dan - 0,999805 dengan nilai probability <

0,05 pada variabel pasar, dan nilai tstatisticsebesar 6,102197 dan 8,008297

>ttabel sebesar 1,73961, yang menunjukkan pasar terhadap pertumbuhan ekonomi dan sektor itu sendiri berpengaruh 1 periode sebelumnya yang mana dalam satu periode terdiri dari 2 semester. Dalam 6 bulan sebelumnya pengaruh pasar terhadap pertumbuhan ekonomi dan sektor itu sendiri dapat dirasakan.Dan dampaknya bisa dirasakan setelah 2 periode atau 12 bulan selanjutnya.

Jadi model yang tepat dalam mencari pengaruh variabel pasar terhadap pertumbuhan ekonomi dan sektor itu sendiri adalah model Autoregressive- MovingAverage (ARMA).

Hasil penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Lupitasari (2011), yang menyatakan bahwa fungsi dan peran pasar tradisional di Indonesia cukup strategis dalam perekonomian

daerah.Hal ini dapat dilihat dari kontribusinya dalam peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan penyerapan tenaga kerja, karena menjadi sandaran hidup bagi banyak orang.

Pasar adalah tempat bertemunya pedagang dan pembeli sehingga keberadaan pasar mengundang pihak penjual dan pembeli untuk datang dan bertemu sehingga meningkatkan keramain kunjungan pada lingkungan lokasi pasar.Letak strategis juga menjadi daya tarik karena mudah dijangkau dan tranportasi yang mudah.Sehingga minat konsumen untuk mendatangi pasar meningkat.

Hal ini akan memicu minat usaha bagi penduduk disekitar pasar karena melihat banyak orang yang mebutuhkan barang maupun layanan jasa. Sehingga ketika mereka memiliki modal maka segera merealisasikan minat mereka untuk membuka usaha.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil analisis data yang telah dilakukan, bahwa model yang tepat dalam penelitian ini adalah model Autoregression-Moving

(11)

Average (ARMA) dengan kesimpulan sebagai berikut :

1. Konsumsi berpengaruh 1 periode sebelumnya yang mana dalam satu periode terdiri dari 2 semester. Dan dampaknya bisa dirasakan setelah 3 periode atau 18 bulan selanjutnya. Hal ini dibuktikan dengan hasil penelitian yang menyatakan bahwa nilai koefisien sebesar 0,938502 dan 0,999858 dengan dengan nilai tstatistic sebesar 8,162270 dan 17,10964> ttabel

sebesar 1,73961, dan nilai probability < 0,05 artinya H0

ditolak dan Ha diterima. Artinya terjadinya peningkatan perkembangan konsumsi berarti telah terjadi peningkatan permintaan terhadap barang dan jasa. Semakin tinggi tingkat permintaan barang dan jasa semakin tinggi tingkat pertumbuhan ekonomi suatu daerah.

2. Investasi berpengaruh 1 periode sebelumnya yang mana dalam satu periode terdiri dari 2 semester. Dan dampaknya bisa dirasakan setelah 3 periode atau

18 bulan selanjutnya. Hal ini dibuktikan dengan hasil penelitian yang menyatakan bahwa nilai koefisien sebesar 0,938502 dan 0,999858 dengan dengan nilai tstatistic sebesar 8,162270 dan 17,10964 >ttabel sebesar 1,73961dan nilai probability < 0,05 artinya H0

ditolak dan Ha diterima. Artinya kenaikan perkembangan investasi mengindikasikan telah terjadinya kenaikan penanaman modal.

Kenaikan penanaman modal atau pembentukan modal akan berakibat terhadap peningkatan produksi barang dan jasa di dalam perekonomiannya.

Peningkatan produksi barang dan jasa ini akan menyebabkan peningkatan terhadap pertumbuhan ekonomi.

3. Tabungan berpengaruh 1 periode sebelumnya yang mana dalam satu periode terdiri dari 2 semester.. Dan dampaknya bisa dirasakan setelah 4 periode atau 24 bulan selanjutnya. Hal ini dibuktikan dengan hasil penelitian yang menyatakan nilai koefisien sebesar 0,672061 dan -

(12)

0,952548 dengan nilai tstatistic sebesar 4,472941 dan 18,80610

>ttabel sebesar 1,73961, dan nilai probability< 0,05, H0 ditolak dan Ha diterima. Artinya semakin tinggi tingkat tabungan masyarakat maka modal yang tersedia untuk invesatsi juga akan meningkat, dengan meningkatnya investasi maka pembangunan infrastruktur juga akan meningkat dan perekonomian suatu daerah juga akan meningkat.

4. Pengeluaran pemerintah berpengaruh 1 periode sebelumnya yang mana dalam satu periode terdiri dari 2 semester. Dan dampaknya bisa dirasakan setelah 2 periode atau 12 bulan selanjutnya. Hai ini dibuktikan dengan hasil penelitian yang menyatakan bahwa nilai koefisien sebesar 1,102442 dan -0,762726 dengan nilai tstatistic sebesar 3,60168 dan 2,862047>ttabel sebesar 1,73961, nilai probability < 0,05, H0 ditolak dan Ha diterima. Artinya semakin tinggi tingkat pengeluaran pemerintah dalam pembiayaan infrastruktur maka

semakin tinggi pula tingkat pertumbuhan ekonominya.

5. Tenaga kerja berpengaruh 1 periode sebelumnya yang mana dalam satu periode terdiri dari 2 semester. Dan dampaknya bisa dirasakan setelah 2 periode atau 12 bulan selanjutnya. Hal ini dibuktikan dengan hasil penelitian yang menyatakan bahwa nilai koefisien sebesar 1,326913 dan -0,999804 dengan nilai tstatistic sebesar 6,102197 dan 8,008297>ttabel sebesar 1,73961, dan nilai probability < 0,05, H0

ditolak dan Ha diterima. Artinya dengan meningkatnya tenaga kerja yang ada, akan meningkatkan pula pertumbuhan ekonomi di daerah tersebut.

6. Pasar berpengaruh 1 periode sebelumnya yang mana dalam satu periode terdiri dari 2 semester. Hai ini dibuktikan dengan hasil penelitian yang menyatakan bahwa nilai koefisien sebesar 1,326913 dan - 0,999805 dengan nilai tstatistic sebesar 6,102197 dan 8,008297

>ttabel sebesar 1,73961, dan nilai probability < 0,05 artinya H0

(13)

ditolak dan Ha diterima. Artinya semakin tinggi tingkat aktivitas perdagangan di pasar maka pertumbuhan ekonomi juga meningkat melalui pendapatan yang diperoleh dari aktivitas perdagangan besar dan eceran di daerah tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Ansofino. 2014. “Penentuan Lokasi Pasar Induk Dan Pasar Satelit Di Kabupaten Solok Selatan.”

Jurnal Vol. 30, N: 83–92.

DOI:http://dx.doi.org/10.29313 /mimbar.v30i1.460.

http://ejournal.unisba.ac.id/inde x.php/mimbar/article/view/460/

763.

.Arsyad, Lincolin. 2004. Ekonomi Pembangunan Edisi Keempat.

Yogyakarta: STIE YKPN.

Febriani. 2007. “Pengaruh Tabungan Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Di Sumatera Barat.”

Jurnal, 31–46. Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Tamansiswa Padang.http://ejournal.unitas.pd g.ac.id/index.php/sungkai/articl e/view/749/618.

Jhingan, M.L. 2004. Ekonomi

Pembangunan Dan

Perencanaan. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Mankiw, N. Gregory. 2003. Teori Makro Ekonomi. Jakarta:

Erlangga.

Salhab, Amira, and Lasmini Soedjono. 2012. “Pengaruh Inflasi, Jumlah Tenaga Kerja, Dan Pengeluaran Pemerintah Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Bali.” E-Jurnal Ekonomi Pembangunan Universitas Udayana 2 (1): 20–

28.

http://ojs.unud.ac.id/index.php/e ep/article/view/4285.

Shandra, Yosi. 2012. “Konsumsi Dan Investasi Serta Pertumbuhan Ekonomi Sumatera Barat.”

Jurnal Kajian Ekonomi 1 (April): 113–39. Universitas Negeri Padang.

http//:ejournal.unp.ac.id/index.p hp/ekonomi/article/view/741.

Silvia, Engla Desnim Dkk. 2013. “ Vol. I, No. 02.Analisis Pertumbuhan Ekonomi, Investasi, Dan Inflasi Di Indonesia” Jurnal Kajian Ekonomi I (02): 224–43.

Universitas Negeri Padang.

http://ejournal.unp.ac.id/index.p hp/ekonomi/article/view/749/61 8.

Sukirno, Sadono. 2008. Makro Ekonomi Teori Pengantar.

Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian dari pengujian yang telah dilakukan dapat diketahui bahwa variable pertumbuhan penduduk berpengaruh secara negatif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi

H , , , = 0 Diduga secara bersama-sama harga premium bersubsidi, kondisi infrastruktur jalan, pengeluaran pemerintah dan pertumbuhan ekonomi tidak berpengaruh secara signifikan

Dari hasil pengujian hipotesis yang dilakukan dalam penelitian ini bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara tenaga kerja terhadap pertumbuhan ekonomi di

Variabel pengeluaran rutin pemerintah berpengaruh positif dan signifikan dalam jangka pendek maupun dalam jangka panjang terhadap pertumbuhan ekonomi di

Selain itu dalam penelitian ini juga dilakukan pengujian untuk memeriksa pengaruh investor asing dan keterbukaan ekonomi suatu negara terhadap pertumbuhan ekonomi

Hasil analisis koefisien determinasi (adjusted R 2 ) besarnya pengaruh pengeluaran pemerintah, investasi dan pertumbuhan ekonomi terhadap pendapatan asli daerah sebesar

Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat perkembangan tingkat kesehatan, tingkat pendidikan, tingkat pengeluaran dan pertumbuhan ekonomi di Kota Jambi dan untuk

IPM = Indeks Pembangunan Manusia PP = Pengeluaran Pemerintah PE = Pertumbuhan Ekonomi PAD =Pendapatan Asli Daerah Desentralisasi Fiskal α =Konstanta , , = Koefisien regresi Log =