Nama : Dwi Andini Sukma Wijaya NIM : 20042200
Seksi : 202210420117
Dosen Pengampu : Hidayatul Fajri, S.AP, M.PA Tugas 7 Kebijakan Publik Seksi 0117
Perumusan Kebijakan Publik
Menurut Joko Santoso, S.STP., dalam tulisannya Proses Perumusan Kebijakan Publik, hal-hal yang perlu mendapat perhatian untuk merumuskan kebijakan publik meliputi beberapa hal antara lain:
1. Aktor yang terlibat dalam Isu Kebijakan.
2. Kepentingan yang dimiliki oleh setiap aktor.
3. Tujuan yang ingin diraih oleh setiap aktor.
4. Aktor-aktor mana yang memiliki kepentingan atau tujuan yang sama dan diajak untuk bekerjasama.
5. Even atau momentum yang digunakan oleh setiap aktor untuk mengarti kulasikan kepentingan atau menghambat bahkan menggagalkan kepentingan lawannya atau aktor yang kontra.
6. Alat, sarana, saluran yang digunakan oleh setiap aktor untuk mengartikulasikan kepentingannya.
7. Teknik yang digunakan oleh setiap aktor.
8. Pengorbanan dan hasil yang diraih oleh setiap aktor.
9.Penilaian tentang demokratisasi, partisipasi, transparansi,keterbukaan dari proses kebijakan tersebut.
A. Kebijakan publik
Kebijakan publik didefinisikan sebagai :
1. Hubungan aktivitas satu unit pemerintah dengan lingkungannya Robert Eyestone)
2. Serangkaian kegiatan yang saling berhubungan beserta segenap konsekuensinya (Ricard Rose)
3. Apapun yang dipilih pemerintah untuk dilakukan ataupun tidak dilakukan (Thomas Dye) 4. Kemahiran pemerintah untuk mewujudkan tujuan-tujuan sosial (Ricard Hula) Kesimpulan yang dapat ditarik dari pengertian kebijakan publik adalah tidakan yang dibuat dan dilaksanakan oleh pemerintah, yang dampaknya menjangkau atau dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat.
Sedangkan menurut Mr. Sugiono bahwa kebijakan publik adalah usaha bersama dari warga masyarakat untuk membagi resources yang ada di dalam masyarakat secara damai dan adil serta sifatnya yang mengikat.
B. Pemahaman Kebijakan
Kebijakan sebagai sebuah istilah dan berorientasi kepada ilmu sosial yang dikembangkan Harold Lasswell dkk sebelum dan segera PD II adalah ilmu yang berorientasi kepada masalah kontekstual, multi disiplin dan secara eksplisit bersifat normatif. Terhadap Kebijakan yang dikembangkan oleh Lasswell ini sesungguhnya “ilmu kebijakan” tidak terbatas oleh tujuan teoritis akan tetapi juga memiliki tujuan praktis yang mendasar terhadap tujuannya yaitu terhadap pembuatan keputusan yang efisien. Secara umum tekanan dari kebijakan yang dikembangkan ini secara khusus tujuan akhirnya adalah untuk demokrasi dimana tujuan akhirnya adalah perwujudan martabat manusia (nilai) baik secara teori maupun fakta.
Pendapat yang dikembangkan oleh Lasswel dkk ini mendapat tanggapan bahwa ilmu dan nilai tersebut sebagai hal yang saling bertentangan. Kebijakan-kebijakan yang dirancang untuk menyoroti masalah fundamental dan pengambilan kebijakan demi menyesuaikan terhadap perubahan sosial hanya dipandang sebagai pelayan dari demokrasi. Jadi Laswell lebih melihat kebijakan pada dimensi demokrasi dan lebih berorientasi pada tujuan (nilai) yaitu peningkatan harkat hidup manusia. Dituliskan oleh Joko Santoso, S.STP., kebijakan menurut Willian Dunn bahwa kebijakan sebagai suatu pendekatan terhadap pemecahan masalah-masalah sosial. Dalam orientasinya Dunn lebih menekankan Bagaimana hakekat permasalahannya, makna terhadap pemecahan masalah tersebut dan hasil yang akan diharapkan dari kebijakan tersebut dalam memecahkan masalah-masalah sosial. Dalam melihat tingkat kemacetan di Jakarta kedua pengikut pakar tersebut akan bertolak pada kebijakan yang berbeda dalam pemecahan masalah yang ada, dimana : a. Lasswell akan melihat bahwa dalam kemacetan lalu lintas yang terjadi perlu adanya kebijakan baru mengenai sistem pengaturan lalulintas, penambahan jalan (pelebaran), pembangunan jalan tol, pembangunan jalan by pass, kenaikan pajak terhadap kendaraan bermotor untuk mengatur kesempatan warga Jakarta dalam kepemilikan mobil, atau sistem perundangan yang hanya memberikan kesempatan kepada setiap orang hanya dapat memiliki satu buah mobil. b. Sedangkan William Dunn akan melihat penyebab kemacetan itu terjadi, alternatif kebijakan yang mungkin akan ditawarkan adalah membuat sistem layanan transportasi umum yang sifatnya massal, penambahan dan peningkatan kualitas layanan angkutan umum.
C. Analisa Kebijakan Dalam Tindakan
Thomas Dye beranggapan bahwa public policy adalah untuk memperbaiki kehidupan masyarakat. Menurut Thomas Dye ada berbagai macam Public Policy:
1. System Theory
Di dalam konsep ini aktivitas politik dan public policy dapat digambarkan dalam ilustrasi diatas. Dalam teori sistem public policy dianggap sebagai output dari sebuah sistem politik . konsep mengenai sistem poitik menyatakan bagaimana isntitusi-institusi dan aktivitasnya mampu merespon dan mentranformasikan kebutuhan yang ada dalam masyarakat untuk menjadi nilai yang mengikat masyarakat secara otoritatif dan memperoleh dukungan darinya. Model ini dipengaruhi oleh konsep dan teori dalam ilmu komunikasi seperti (feedback, input, output) dan percaya bahwa keseluruhan proses bersifat cyclic.
Pertanyaan yang dapat dianalisis dalam theory system ini adalah : a. dimensi lingkungan apa yang melingkupi sebuah kebutuhan dalam proses masukkan pada suatu sistem politik. b. karakteristik sistem politik yang bagaimana yang dapat mentransformasikan kebutuhan akan sebuah kebijakan publik c. bagaimana lingkungan mempengaruhi sistem politik d. bagaimana bekerjanya sistem politik dalam membuat kebijakan publik e.
bagaimana lingkungan input mempengaruhi the content of public polisy f. bagaimana implikasi publik policy, kembali menjadi input sebagai feedback, terhadap lingkungan, dan karakteristik sistem politik. Contoh yang barangkali dapat menjelaskan teori ini adalah dalam kebijakan perburuhan Indonesia. Bahwa kelompok penekan dan oposisi saling berusaha untuk memperjuangkan nilai-nilai kepentingannya kemudian bagaimana kondisi sosial dan perekonomian sebagai lingkungan dari kebijakan ditambah dengan suasana politik yang melingkupinya direspon oleh sistem politik yaitu melalui institusi Dewan (DPR) untuk di proses dan dirumuskan sebagai sebuah kebijakan publik. Dari kebijakan yang dikeluarkan kemudian dalam implementasi kebijakan tersebut bagaimana lingkungan sosial dan ekonomi bereaksi terhadap adanya kebijakan tersebut, sampai kepada akhirnya semuanya menjadi feedback bagi proses input kembali.
2. Elite Theory
Public policy dapat dilihat sebagai preferensi dan nilai dari elite pemerintah.
Meskipun sering public policy merefleksikan kebutuhan masyarakat. Hal ini dapat terjadi melalui :
a). Public policy dibuat secara incremental dan membawa (mengakomodasikan) nilai- nilai dari kepentingan para elite. Nilai-nilai dari para elit akan sangat mempengaruhi publik.
Akan tetapi elitisme tidak berarti bahwa public policy anti terhadap kepentingan (kesejahteraan) masyarakat akan tetapi public policy yang ada merespon kesejahteraan masyarakat lebih mengutamakan kepentingan para elit daripada kepentingan masyarakat secara umum.
b). Para elite melihat sebagian besar masyarakat yang pasive, terjadi sitorsi informasi, sentimen masyarakat dimanipulasi oleh para elite.
3. Group Theory : Policy as group equilibrium.
Adalah hasil perjuangan dari kelompok yang berjuang sebagai keseimbangan individu di dalam politik tidak akan berarti kalau tidak mengatasnamakan kepentingan kelompok. Menurut teori ini public policy adalah eguilibrium yang tercapai dalam perjuangan antar kelompok. Akhirnya pengaruh atau jumlah menjadi penting selain leadership, akses terhadap policy maker, kohesi internal dari kelompok, kekayaan. Contoh yang dapat menjelaskan teori ini adalah perjuangan para kaum buruh melalui kelompok- kelompok kepentingan yang mereka bentuk (SBSI, SPSI dst) untuk memperjuangkan kepentingan mereka dalam kebijakan perburuhan
4. Rationalism
Policy as effisent goal achievment Nilai yang akan dicapai akan ditimbang dengan yang akan dikorbankan. Akan tetapi seorang policy maker harus mengetahui preferensi nilai masyarakat, dia harus mengetahui alternatif-alternatif kebijakan yang ada, policy maker harus mengetahui konsekuensi-konsekuensi atas setiap alternatif kebijakan. Seorang policy maker harus mengaklkulasikan rasio nilai yang dikorbankan dengan nilai-nilai sosial yang dicapai untuk tiap-tiap alternatif kebijakan sehingga seorang policy maker harus memilih alternatif kebijakan yang efisien. Contohnya adalah dalam pengambilan keputusan dalam kebijakan menjadikan Pulau Batam sebagai kawasan industri. Dimana pemerintah memberikan fasilitas-fasilitas kepada para investor, namun pemerintah pun telah mengkalkulasikan dampak yang akan timbul dari kebijakan tersebut.
5. Incrementalism : Policy as Variations on the past
Model ini melihat sebuah kebijakan sebagai kelanjutan dari pencapaian tujuan kebijakan sebelumnya. Diimajinasikan bahwa ada suatu tujuan besar yang hendak dicapai.
Kebijakan yang baru merupakan upaya untuk mencapai sasaran berikutnya, sambil melakukan penyesuaian dengan perkembangan lingkungan,
6. Institusionalism ; policy as institusional activity
Model ini menmfokuskan diri pada apa yang seharusnya dilakukan oleh elemen yang ada dalam struktur birokrasi pemerintah, dengan cara melihat chart dari mekanisme kerja sesuai dengan aturan yang ada.