• Tidak ada hasil yang ditemukan

PESAN MORAL DALAM FILM THE SCHOOLL FOR GOOD AND EVIL (Analisis Semiotika Roland Barthes)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "PESAN MORAL DALAM FILM THE SCHOOLL FOR GOOD AND EVIL (Analisis Semiotika Roland Barthes)"

Copied!
64
0
0

Teks penuh

Alhamdulillahi Rabbil 'Alaamiin, penulis puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayahnya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “PESAN MORAL DALAM FILM SEKOLAH BAIK DAN JAHAT (ANALISIS SEMIOTIKA ROLAND BARTHES). ". Skripsi ini merupakan tugas akhir bagi mahasiswa untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar sarjana pada Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara. Penelitian ini berfokus pada analisis semiotika Roland Barthes tentang makna sifat dan tindakan baik dan buruk yang dikonstruksi dalam film The School Of Good and Evil.

Tema problematis ini sangat penting untuk menangkap pesan moral dalam film The School Of Good and Evil yang dapat diterapkan dalam kehidupan di sekitar Anda, mulai dari persahabatan, karakter dan hal-hal lain yang dapat diungkapkan dalam film ini. Film The School of Good and Evil yang diperankan oleh Sophia Anne dan Sofia Wyle mengandung banyak makna yang bisa diambil, salah satunya adalah kuatnya persahabatan keduanya, selain itu film ini juga menampilkan berbagai sifat dan ekspresi yang diberikan oleh Sophia Anne dan Sofia Wyle. para aktor. Sistem semiotik yang lebih penting dalam film adalah penggunaan tanda-tanda ikonik, yaitu tanda-tanda yang menggambarkan sesuatu yang digunakan dalam film untuk memberi isyarat pesan kepada penonton.

Rumusan Masalah

Analisis semiotika menurut Roland Barthes merupakan ilmu yang digunakan untuk menafsirkan tanda, dimana bahasa juga merupakan susunan tanda-tanda yang mempunyai pesan tertentu kepada masyarakat. Semiotika Roland Barthes menganalisis makna tanda melalui sistem makna denotatif, konotatif, dan metalinguistik atau mitologis. Film ini berkisah tentang persahabatan dimana keduanya memiliki sifat dan pola pikir yang berbeda namun hal ini membuat persahabatan mereka semakin erat.

Film ini juga memperlihatkan bagaimana perjalanan kedua sahabat ini terjadi di luar imajinasi mereka dimana mereka ditempatkan di sekolah kebaikan dan kejahatan. Sekolah merupakan tempat terbentuknya sifat dan tingkah laku mereka yang menjadikan ilmu tersebut sangat berarti dalam kehidupan.

Tujuan Penelitian Dan Manfaat Penelitian

Manfaat dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pesan moral dan makna dibalik film The School of Good and Evil yang dapat kita ambil untuk memahami sifat, watak dan pola pikir penontonnya. Film ini cocok untuk segala usia, sehingga dapat memberi makna pembelajaran dalam hidup, seperti persahabatan, baik buruknya.

Sistematika Penulisan

PENDAHULUAN

URAIAN TEORITIS

METODE PENELITIAN

PENUTUP

URAIAN TEORITIS

  • Pesan Moral
  • Film
  • Semiotika
  • Semiotika Roland Barthes

Salah satu jenis film yang paling digemari dan digandrungi semua kalangan adalah film layar lebar. Jika kita berbicara secara etimologi, kata “semiotika” berasal dari bahasa Yunani yaitu “simeon” yang berarti tanda. Semiotika deskriptif merupakan semiotika yang memperhatikan sistem tanda yang kita alami saat ini, meskipun ada tanda yang sudah lama sama dengan yang kita saksikan sekarang.

Semiotika naratif merupakan semiotika yang membahas tentang sistem tanda dalam narasi berupa mitos dan sejarah lisan (folklore). Semiotika normatif merupakan semiotika yang khusus membahas tentang sistem tanda yang diciptakan manusia dalam bentuk norma. Semiotika sosial merupakan semiotika yang secara khusus mengkaji sistem tanda yang dihasilkan manusia dalam bentuk lambang-lambang, baik lambang kata maupun lambang rangkaian kata yang berbentuk kalimat.

METODE PENELIITIAN

  • Jenis Penelitian
  • Kerangka Konsep
  • Kategorisasi Penelitian
  • Informan dan Narasumber
  • Teknik Pengumpulan Data
  • Teknik Analisis Data
  • Waktu dan Lokasi Penelitian
  • Deskripsi Ringkas dan Sinopsis Film

Sebagai sebuah sistem yang unik, mitos dikonstruksi melalui rantai makna yang sudah ada sebelumnya; mitos juga merupakan sistem makna tingkat kedua (Sobur). Namun sebagai suatu sistem yang unik, mitos dikonstruksi oleh rantai makna yang sudah ada sebelumnya, atau dengan kata lain Mitos juga merupakan sistem makna tingkat kedua. Film tidak hanya menjadi sumber hiburan populer tetapi juga merupakan media pendidikan, mengandung pesan moral dan memberikan edukasi kepada masyarakat.

Informan dan narasumber diambil dari Systematics karya Roland Barthes dalam film The School For Good And Evil, dimana penulis menentukan pesan moral film tersebut dengan menggunakan denotasi, konotasi dan mitos. Teknik pengumpulan data yang penulis gunakan adalah objek penelitian yaitu dengan menonton film The School For Good And Evil. Melalui pengamatan tersebut, peneliti mengidentifikasi banyaknya adegan atau dialog dalam pemindaian yang terdapat karakter yang menggambarkan makna dan pesan moral yang dapat diambil.

Tangkapan layar gambar dalam film yang diyakini dapat menjelaskan bentuk makna dan pesan moral akan dianalisis dengan menggunakan denotasi, sedangkan analisis konotasi akan digunakan jika data dalam tangkapan layar tersebut mengandung bukti-bukti berupa mitos. Kumpulan screenshot baik berupa gambar, teks maupun audio (dialog) dalam berbagai shot film “The School For Good and Evil” yang dapat dianggap sebagai unsur makna pesan moral dalam film tersebut. Mendeskripsikan bentuk atau unsur pesan moral dalam film menurut dua tatanan makna menurut Roland Barhes, dengan menggunakan analisis denotasi, konotasi dan mitos (jika ada).

Data tersebut diinterpretasikan secara menyeluruh, kemudian peneliti menarik kesimpulan berdasarkan hasil analisis yang dilakukan dengan menggunakan model semiotika Roland Barthes mengenai wujud atau wujud pesan moral dalam film. The School for Good and Evil merupakan film fantasi tahun 2022 yang diangkat dari novel berjudul sama karya Soman Chainani. Sama seperti di film Harry Potter and Fantastic Beasts, film The School for Good and Evil menampilkan kehidupan di sekolah sihir.

The School for Good and Evil mengikuti kisah dua orang sahabat, Sophie (Sophia Anne Caruso) dan Agatha (pemain Sofia Wylie) yang tinggal di desa Gavaldon.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Hasil Penelitian

Pembahasan

Dalam dialog “kejahatan non-kooperatif” artinya Rafal ingin menguasai kekuasaan untuk dirinya sendiri dan bahkan tidak mau membaginya dengan saudaranya sendiri. Mitos: Kekuasaan menyebabkan kejahatan sehingga membuat seseorang menjadi sombong dan egois, mampu menyakiti orang lain tanpa berpikir dua kali. Adegan kedua ini menampilkan dua orang sahabat yang memiliki kepribadian berbeda, dimana Sophie adalah gadis cantik dan ceria yang menyukai dongeng dan Agatha adalah putri seorang penyihir.

Dari Sophie yang memiliki keluarga dan ibu tiri yang memaksanya untuk tumbuh dengan cepat, serta Agatha yang lahir dari anak seorang penyihir yang dibenci masyarakat desa. Persahabatan dua anak desa yang mempunyai kepribadian berbeda, meski berbeda mereka tetap berteman baik dan saling melengkapi. Persahabatan mereka mempunyai banyak cerita, yang jelas mereka terikat satu sama lain.

Konotasi : Agatha yang berpenampilan seram dan Shopie yang berpenampilan lebih berwarna dan ceria merupakan sahabat yang saling bergantung, perbedaan kepribadian membuat mereka berteman sangat dekat dan saling membutuhkan. Sophie berencana meninggalkan desa dengan mengirimkan surat yang memintanya untuk bersekolah di Sekolah Baik dan Jahat. Sophie berencana untuk pergi malam ini dan memberi tahu sahabatnya Agatha bahwa dia melarikan diri dari desa.

Sebagai seorang sahabat, Agatha tidak akan meninggalkan Shopie sendirian dan akan tetap bersama Shopie meski harus meninggalkan keluarganya. Mitos: Ingin meraih sesuatu tanpa memikirkan orang lain adalah sikap sombong dan egois. Kedua sahabatnya diculik dan dibawa ke istana sekolah putri dan penyihir, Shopie yang bahagia karena bisa memenuhi keinginannya untuk kabur dari desa, dan Agatha yang takut diambil dari desa.

Mitos: Sesuatu yang terlihat dari kepribadian dan tingkah lakunya, terkadang berbeda dengan apa yang dilihat orang lain.

Gambar 1 (menit 3:12) dan gambar 2 (menit 3:18)  Denotasi:
Gambar 1 (menit 3:12) dan gambar 2 (menit 3:18) Denotasi:

Gambar 8

Agatha bertemu dengan wakil kepala sekolah putri (sekolah kebaikan) dan mengatakan bahwa dia tidak berada di sekolah yang tepat dan mereka melakukan kesalahan. Markus: dari gambar 8,9,10 terdapat adegan-adegan yang memberikan kata-kata yang baik, artinya kita menilai kebaikan seseorang bukan dari penampilannya, melainkan dari perbuatannya. Konotasi: Kepribadian dan penampilan Agatha tidak cocok menjadi seorang putri di dunia dongeng, namun sikap Agatha dan sifat empati yang besar membuatnya terpilih masuk Sekolah Kebaikan.

34; menilai kebaikan seseorang", "bukan dari penampilannya", "bukan dari perbuatannya", maksudnya kebaikan itu bersumber dari keikhlasan dan sikap, bukan sekedar kecantikan atau penampilan. Mitos: Kebaikan itu salah satunya bisa diukur dari perbuatan, sikap seseorang , empati dan saling membantu bukan dengan ketampanan atau ketampanan di mata.

Gambar 11

  • Simpulan
  • Saran

Padahal, kunci orang baik adalah melihat dari hatinya, apakah ia mempunyai hati yang tulus untuk membantu orang lain atau tidak. Dialog yang berisi “sudah jelas penampilanmu menjadi penghalang bagi dirimu dan orang lain” artinya kejahatan tidak terlihat baik dan perlu diubah penampilannya agar terlihat buruk. Mark: Sophie terlihat mengubah penampilannya menjadi seperti orang jahat atau penyihir, sehingga dia terpengaruh untuk melakukan sesuatu yang buruk dengan menggunakan penampilannya.

Dialog “kenapa kamu bersikap seperti ini” bermakna Agatha peduli pada temannya dan tidak ingin temannya bertindak lebih jauh. Mitos: Persahabatan yang tulus dapat mengubah sifat seseorang menjadi lemah lembut dan penuh kepercayaan, sehingga memiliki seseorang yang dapat diandalkan. Denotasi: Apapun yang terjadi pada Shopie, Agatha tidak menyerah untuk terus membantu Shopie. Agatha adalah sahabat yang akan melakukan apapun demi Shopie karena ia yakin Shopie adalah orang yang baik.

Mitos: Persahabatan tidak akan berubah meski sikap dan kualitas berubah menjadi buruk, rasa saling percaya dan perhatian adalah persahabatan sejati. Rafal yang hanya memikirkan kekuasaan dan kejahatan untuk memuaskan dirinya sendiri, juga akan dihancurkan oleh orang-orang yang mempercayai dan menghormatinya. Perbuatan buruk Sophie menghancurkan orang-orang disekitarnya, tindakan yang dilakukan tanpa memikirkan masa depan adalah penyesalan dalam hidupnya.

Mereka hidup berdampingan dengan orang-orang yang tulus menyayangi dan peduli satu sama lain. Pesan moral yang ada dalam film The School For Good And Evil adalah tentang persahabatan, akhlak dan tingkah laku para tokoh yang bisa kita teladani, seperti sifat-sifat baik dan ikhlas yang bisa didapat dari tingkah laku, bukan dari kepribadian yang sempurna. Di zaman sekarang ini, orang sangat sering menilai baik buruknya kepribadian berdasarkan penampilan atau penampilan, tanpa melihat dari perbuatan yang dilakukannya.

Mereka menemukan aliran baik dan buruk yang menuntun mereka untuk menentukan sikap dan tindakannya bukan berdasarkan penampilan, tetapi berdasarkan perilaku baik dan buruk. Kita bisa menunjukkan perilaku baik dan buruk melalui apa yang kita lakukan, dengan saling membantu atau merendahkan satu sama lain. Akan lebih baik jika Anda menambahkan intonasi suara yang lebih tegas dan kuat untuk meningkatkan ketegangan dalam film.

Gambar  11  dan  12  mengartikan  suatu  hal  yang  harusnya  sama  kini  berbeda  arti  seperti  kebaikan  dulu  dinilai  dengan  perbuatan  baik  sehingga  kebaikan  tersebut  terjadi  karena  sifat  tulus  saling  membantu  dan  peduli  satu  sama  lain
Gambar 11 dan 12 mengartikan suatu hal yang harusnya sama kini berbeda arti seperti kebaikan dulu dinilai dengan perbuatan baik sehingga kebaikan tersebut terjadi karena sifat tulus saling membantu dan peduli satu sama lain

Gambar

Gambar 1 (menit 3:12) dan gambar 2 (menit 3:18)  Denotasi:
Gambar  2:  Perasaan  senang  dan  puas  terlihat  dari  raut  rafal,  karena  merasa  menang  dengan  kekuasaan  yang  ia  rebut
Gambar  dan  Visual:  terlihat  suasana  hutan dengan dua gadis yang bersahabat  baik
Gambar 4         Gambar 5
+7

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

Menurut Roland Barthes denotasi ialah tataran tingkat pertama yang mempunyai arti pasti dan nyata. Denotasi ini adalah arti yg sebenarnya atas disepakatkan secara

Penelitian dengan judul “Kritik Kapitalisme Dibalik Tanda Visual melalui Mise En Scene pada Film The Platform Ditinjau dengan Teori Semiotika Roland Barthes” ini