• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pictionary dalam Penguasaan Kosakata Bahasa Jerman

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Pictionary dalam Penguasaan Kosakata Bahasa Jerman"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

Pictionary dalam Penguasaan Kosakata Bahasa Jerman

Nurazizah1, Laelah Azizah2*, Nurming Saleh3 Universitas Negeri Makassar, Indonesia

Email: [email protected]

ISSN : 2964-299x

Abstract. This study aims to determine the planning, implementation and results of the application of Pictionary media in mastering German vocabulary for class XI students of SMAN 10 Bulukumba. This research is a classroom action research which consists of two cycles. The data presented in this study are quantitative data and qualitative data.

Quantitative data was obtained from the German vocabulary mastery test in cycle 1 and cycle 2, and qualitative data was obtained from observations and then analyzed using the percentage technique. The results showed that the students' vocabulary mastery in cycle 1 reached a percentage value of 47.17% and increased to 58.41% in cycle 2. These results indicate that the application of Pictionary media increases the mastery of German vocabulary in class XI students of SMAN 10 Bulukumba.

Keywords: Learning Media, Vocabulary Mastery, Pictionary.

https://ojs.unm.ac.id/academic

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License

(2)

PENDAHULUAN

Bahasa asing merupakan salah satu mata pelajaran yang selalu ada dalam kurikulum sekolah dengan tujuan untuk meningkatkan keterampilan berkomunikasi lingkup nasional dan internasional pada perubahan global. Salah satu bahasa asing yang ada didalam kurikulum sekolah tingkat menengah seperti SMA/Sederajat adalah bahasa Jerman (Palimbong, Y. W., 2021; Putri, E. E., 2021; Basri, R., 2021)

Berdasarkan kurikulum 2013 tujuan pembelajaran bahasa Jerman bertujuan untuk mewujudkan keterampilan berbahasa Jerman yang baik. Pembelajaran Bahasa Jerman di SMA/sederajat mencakup empat aspek kebahasaan yang saling berhubungan yaitu kemampuan menyimak (Hören), keterampilan berbicara (Sprechen), kemampuan membaca (Lesen) dan keterampilan menulis (Schreiben).

Berdampingan dengan aspek-aspek tersebut turut diajarkan juga aspek gramatik dan penguasaan kosakata agar mampu mendukung kemapuan berbahasa Jerman yang lebih luas atau menyeluruh.

Pembelajaran bahasa Jerman disekolah perlu dilaksanakan dengan optimal untuk meningkatkan mutu siswa sehingga mampu menyandang predikat sebagai lulusan yang mampu bersaing di era global. Namun kenyataannya kegiatan pembelajaran yang diharapkan tersebut belum bisa berjalan dengan optimal sehingga tujuan pembelajaran bahasa Jerman terkesan masih cukup jauh dari harapan sebagaimana yang disertakan dalam kurikulum. Faktor yang menyebabkan pencapaian yang kurang optimal tersebut yakni siswa terkesan masih belum cukup akrab dengan pembelajaran bahasa Jerman, sehingga penguasaan kosakata yang dimiliki pun masih kurang. Hal tersebut diketahui saat berdiskusi secara tatap muka dengan guru pengampu mata pelajaran bahasa Jerman di SMAN 10 Bulukumba.

Dijelaskan bahwa pengetahuan kosakata siswa dapat dikatakan masih kurang. Fakta tersebut ditemukan ketika proses pembelajaran bahasa Jerman sedang berlangsung, dimana siswa lebih banyak diam bahkan ketika ditanya atau diminta menyebutkan kosakata bahasa Jerman yang diingat atau baru saja dipelajari.

Terlebih lagi ketika diberikan tes atau ulangan harian, siswa lebih cenderung mendapatkan nilai yang tidak mencukupi.

Lebih lanjut dijelaskan bahwa kurang optimalnya pembelajaran juga dikarenakan alokasi waktu dan media pembelajaran yang sangat terbatas. Waktu yang diberikan untuk mata pelajaran bahasa Jerman sangat terbatas sedangkan materi yang harus diserap oleh siswa cukup banyak. Disisi lain penggunaan media pembelajaran terbatas pada buku paket Deutsch ist einfach yang didapatkan dari perpustakaan sekolah tanpa bantuan media lain (Indah, S. R., & Saleh, N., 2018).

Dapat dipahami bahwa keterbatasan waktu dan media pembelajaran memberikan pengaruh terhadap kemampuan siswa dalam menguasai kosakata bahasa Jerman, maka perlu dihadirkan media pembelajaran yang mampu menimbulkan minat siswa dalam belajar dan menjadikan kegiatan belajar lebih menyenangkan meskipun dengan waktu yang cukup terbatas.

Kurangnya penguasaan kosakata ini sangat berpengaruh terhadap aspek- aspek berbahasa Jerman seperti membaca, menulis, menyimak dan berbicara.

Penguasaan kosakata yang tidak cukup baik menyebabkan siswa tidak mampu untuk berkomunikasi baik lisan maupun tulisan guna menyampaikan informasi,

(3)

perasaan dan pikiran, serta membangun interaksi dengan siswa-siswa disekitar dalam pelaksanaan pembelajaran bahasa Jerman. Keterampilan atau kemampuan menguasai kosakata dalam suatu bahasa dapat dioptimalkan dengan belajar media pembelajaran yang mendukung. Media Picture and Dictionary atau disingkat dengan Pictionary adalah salah satu bentuk media yang dapat digunakan dalam pembelajaran bahasa Jerman.

Uraian latar belakang di atas menjadi dasar untuk dilaksanakan penelitian yang berjudul “Penerapan Media Pembelajaran Pictionary dalam Meningkatkan Penguasaan Kosakata Bahasa Jerman Siswa Kelas XI SMAN 10 Bulukumba”.

Hakikat Pembelajaran Bahasa Asing

Santoso (2014) menyatakan bahwa terdapat beberapa latar belakang terlaksananya pembelajaran bahasa asing di Indonesia. Pertama, pada umumnya IPTEK diberbagai bidang dituliskan dengan bahasa asing sehingga penguasaan bahasa asing dapat membuka kesempatan untuk memperoleh atau menyebarkan ilmu pengetahuan itu. Kedua, perkembangan IPTEK dari menjadikan masyarakat semakin modern dan global sehingga keberadaan bahasa asing dapat membantu Indonesia untuk menjalin hubungan komunikasi dalam masyarakat global.

Selanjutnya Emaliana, Tyas, Widyaningsih dan Khotimah (2019); Mardiana, M., (2021) menjelaskan bahwa pembelajaran bahasa asing di Indonesia merupakan salah satu bagian dari muatan lokal atau ekstrakurikuler pada tingkat SD, sedangkan pada tingkat SMP, SMA dan perguruan tinggi merupakan mata pelajaran wajib. Bahasa Jerman merupakan salah satu bahasa asing yang diajarkan pada tingkat SMA/sederajat.

Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa bahasa asing turut menduduki posisi yang penting sebagai bahasa yang harus dipelajari dalam upaya meningkatkan kualitas berbahasa agar semakin terampil berkomunikasi dan dapat terhubung kedunia yang luas.

Hakikat Kosakata

Nuraina dan Saleh (2017); Salwa, R., (2021) mengartikan kosakata sebagai kumpulan kata dalam suatu bahasa dan digunakan oleh penuturnya untuk berkomunikasi baik secara lisan maupun tulisan. Siswa tidak akan mampu menjalin komunikasi tanpa memiliki kosakata. Sejalan dengan itu Scholl (2007) berpendapat bahwa kosakata menunjukkan keseluruhan kata dalam suatu bahasa dan keseluruhan kata tersebut dapat digunakan oleh seseorang untuk berkomunikasi.

Kosakata diibaratkan sebagai pondasi atau dasar dari suatu bahasa. Tanpa kosakata, maka tak akan ada bahasa. (Fitriyani dan Nulanda, 2017, h. 168)

Berdasarkan pendapat di atas, disimpulkan bahwa kosakata ialah komponen penting dari suatu bahasa yang mencakup daftar kata beserta penggunaannya yang sesuai dengan fungsinya. Kosakata menjadi kunci dalam kesuksesan penggunaan keterampilan bahasa dalam kehidupan setiap individu.

Hakikat Media Pembelajaran Pictionary

Zulfikar dan Azizah (2017) mengatakan mengemukakan bahwa proses pembelajaran di sekolah akan terasa jenuh tanpa kehadiran media pembelajaran.

(4)

Dalam pembelajaran itu sendiri media pembelajaran berperan sebagai perantara atau pengantar informasi belajar.

Putri (2017) menyatakan bahwa Pictionary menjadi suatu jenis media interaktif yang dapat diterapkan dalam pembelajaran bahasa. Media ini melibatkan guru dan siswa secara aktif, terutama pembelajaran kosakata. Dalam pelaksanaannya, media ini dilakukan secara berkelompok dengan menggunakan alat berupa kertas maupun papan tulis sebagai media untuk menggambar. Satu siswa pemain harus menggambar kata yang diberikan, kemudian anggota kelompok yang lainnya harus menemukan kata yang sesuai dengan gambar yang ada.

Resti dan Utami (2021); Hamer, W., & Lely, L. N. (2019) menjelaskan bahwa Pictionary merupakan permainan tebak gambar, dimana siswa akan diberikan kartu yang bersisikan sebuah kata, kemudian menjelaskan kata tersebut kepada pemain lain hanya dengan menggambarnya. Pemain tidak boleh berbicara, membuat gerakan atau menggunakan simbol apapun untuk menginformasikan kepada pemain yang lainnya. Selanjutnya, menurut Spangler & Mazzante (2015) pemain lain harus dapat menebak kata yang dimaksud melalui gambar yang telah dibuat tersebut. Pictionary merupakan jenis media pembelajaran berbasis permainan yang cukup baik dalam meningkatkan kecakapan dalam berkomunikasi.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa Pictionary adalah media berbasis permainan tebak kata yang dilakukan secara beregu atau tim, dimana siswa yang bertugas sebagai seniman harus menggambar dan pemain lain sebagai anggota kelompok harus menebak kata yang digambar. Gambar ditentukan berdasarkan kata yang didapatkan dari kartu kata.. Permainan ini menuntut siswa untuk mendominasi kegiatan pembelajaran dengan aktif, kreatif, imajinatif, mampu menyelesaikan masalah-masalah dalam belajar bahasa dan mampu mengingat informasi secara maksimal.

Prosedur pelaksanaan permainan Pictionary menurut Putri (2017) yakni: (1) menciptakan daftar kosakata dan membuat kartu berisi kosakata, (2) membentuk kelompok siswa dan memberikan setiap kelompok alat untuk menggambar, (3) memilih seniman kelompok untuk menggambar, kemudian tunjukkan kata yang harus digambar, (4) pemain yang berperan sebagai seniman mengilustrasikan kata dengan menggambarnya pada kertas atau papan tulis yang telah disediakan, dan (5) melakukan pertukaran seniman kelompok.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas yang dilaksanakan sebanyak II siklus. Setiap siklus terdiri atas tahap perencanaan (plan), pelaksanaan (action), pengamatan (observation) dan refleksi (reflection). Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan penguasaan kosakata bahasa Jerman siswa kelas XI SMAN 10 Bulukumba dengan menggunakan media Pembelajaran Pictionary. Adapun data yang disajikan terdiri atas data kualitatif dan kuantitatif. Data kualitatif penelitian diperoleh melalui kegiatan observasi terhadap guru maupun siswa, sedangkan data kuantitatif diperoleh berdasarkan tes penguasaan kosakata pada masing-masing siklus. Data kuantitatif diolah dengan menentukan nilai rata-rata dan persentase hasil belajar siswa.

(5)

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI MIPA 4 SMAN 10 Bulukumba yang terdiri dari 34 siswa dan dilaksanakan pada tanggal 10 Mei hingga 2 Juni 2022.

Kegiatan penelitian diawali dengan tahap perencanaan yang dilakukan bersama dengan guru dengan mendiskusikan kembali RPP yang sudah disediakan oleh observer. Materi pembelajaran pada siklus I pertemuan pertama adalah das Lebensmittel dan pada pertemuan kedua yakni Lebensmitteleinkauf. Sedangkan materi pembelajaran siklus II pertemuan pertama yaitu Im Supermarkt dan pada pertemuan kedua yaitu Auf dem Markt. Media pembelajaran yang digunakan adalah media Pictionary berupa kartu kata dan alat gambar. Observer menyediakan instrumen tes dan menyediakan lembar pedoman observasi terhadap guru dan siswa. Pelaksanaan aktivitas belajar mengajar turut dilaksanakan bersamaan dengan observasi. Aktivitas yang dilakukan oleh siswa maupun guru turut diamati selama berlangsungnya kegiatan pembelajaran di dalam kelas.

Hasil observasi guru maupun siswa pada bagian ini dipaparkan berdasarkan perbandingan antara siklus I dan siklus II. Berdasarkan data yang diperoleh selama berlangsungnya kegiatan penelitian menunjukkan adanya perubahan pada kegiatan guru dan siswa selama menerapkan media permainan Pictionary dalam pembelajaran bahasa Jerman. Berdasarkan hasil observasi untuk guru diperoleh data bahwa pada pertemuan pertama kegiatan yang terlaksana oleh guru berdasarkan pedoman observasi adalah sebanyak 24 aktivitas atau sebesar 92%.

Terdapat 2 aktivitas yang tidak terlaksana yakni tidak menyampaikan ruang lingkup penilaian dan melewatkan tahap evaluasi sederhana pada akhir permainan Pictionary. Sedangkan pada pertemuan kedua aktivitas yang terlaksana sebanyak 25 atau sebesar 96%. Aktivitas yang tidak terlaksana adalah tidak menyampaikan manfaat pembelajaran. Pada pembelajaran siklus II baik pertemuan pertama maupun kedua, aktivitas yang ada pada pedoman observasi guru telah terlaksana 100%. Dengan demikian terdapat peningkatan pelaksanaan proses pembelajaran oleh guru.

Perubahan lainnya juga ditunjukkan pada hasil pengamatan aktivitas siswa.

Berdasarkan butir aktivitas yang diamati ditemukan adanya peningkatan. Siswa semakin bersemangat untuk hadir tepat waktu dalam pembelajaran bahasa Jerman, semakin antusias dan semangat dalam mengikuti pembelajaran dan menunjukkan sikap fokus untuk menyimak penjelasan materi dari Peningkatan juga terlihat pada aktivitas siswa untuk mencatat setiap materi yang diberikan dan aktif dalam mengajukan pertanyaan terkait materi. Ketika guru memberikan kuis, semakin banyak siswa yang berani menjawab. Selama pengamatan yang berlangsung di setiap siklus, ditemukan beberapa siswa yang kurang disiplin dan tidak menghormati guru maupun teman dalam proses belajar mengajar pada siklus I.

Salah satu aktivitas menyimpang yang dilakukan oleh beberapa siswa adalah sengaja memainkan telepon genggam ketika guru menjelaskan, bahkan ditemukan siswa yang sedang memainkan game online di jam pembelajaran. Namun pada siklus II mayoritas siswa nampak disiplin dan mengikuti kegiatan belajar mengajar dengan tertib. Peningkatan aktivitas belajar siswa juga dapat dilihat ketika menerapkan media permainan Pictionary. Ketika guru menjelaskan tentang permainan ini, siswa

(6)

yang menyimak dengan bersungguh-sungguh dan menanyakan apapun yang mereka belum pahami terkait pelaksanaan dan semakin bersemangat bermain.

Siswa semakin terdorong untuk mempelajari beragam kosakata dengan mencari, mencatat, menghapal dan mengingat.

Peningkatan juga nampak pada hasil belajar siswa yang diketahui berdasarkan pemberian tes pada akhir setiap siklus selama penelitian. Berdasarkan hasil evaluasi yang diperoleh dari siklus I dapat diketahui bahwa nilai terendah yang diperoleh siswa adalah 20 dan nilai tertinggi adalah 68. Nilai rata-rata penguasaan kosakata siswa siklus I adalah 47,17 dengan persentase 47,17%. Sedangkan pada siklus II menunjukkan bahwa nilai terendah adalah 20 dan nilai tertinggi adalah 74.

Adapun nilai rata-rata penguasaan kosakata siswa mencapai 58,41 atau 58,41%.

Peningkatan rata-rata nilai yang diperoleh siswa dari siklus I ke siklus II adalah sebesar 11,24 dengan persentase 11,24%.

Berdasarkan hasil evaluasi dari siklus I ke siklus II dapat disimpulkan bahwa terdapat peningkatan pembelajaran kosakata bahasa Jerman siswa dengan menggunakan media Pictionary.

KESIMPULAN

Perencanaan yang telah disusun dan disepakati bersama guru bahasa Jerman SMAN 10 Bulukumba meliputi penyusunan RPP serta mempersiapkan media pembelajaran Pictionary. Sementara itu Proses pembelajaran bahasa Jerman melalu media Pictionary oleh siswa kelas XI MIPA 4 SMAN 10 Bulukumba menunjukkan adanya peningkatan dari silus I ke siklus II. Peningkatan tersebut diperoleh berdasarkan pengamatan yang dilakukan terhadap guru dan siswa. Guru melewatkan sebanyak 3 butir aktivitas yang diamati pada siklus I yakni 2 butir aktivitas pada pertemuan pertama dan 1 butir aktivitas pada pertemuan kedua. Hal tersebut berbanding terbalik dengan hasil pengamatan terhadap guru yang diperoleh pada siklus II dimana guru melaksanakan pembelajaran sesuai dengan harapan. Setiap butir aktivitas yang terdapat pada pedoman observasi guru telah terlaksana pada siklus II. Sementara itu peningkatan proses pembelajaran juga ditunjukkan oleh hasil pengamatan terhadap aktivitas siswa. Jumlah siswa yang mengikuti pembelajaran sesuai dengan yang diharapkan meningkat pada siklus II.

Siswa yang cenderung bersikap pasif pada siklus I nampak lebih aktif dan antusias pada siklus II baik dalam penerimaan materi maupun sesi tanya jawab. Dalam penerapan media Pictionary pada siklus II, siswa dengan antusias mencari dan menyebutkan kosakata bahasa Jerman sebanyak mungkin hingga menemukan kosakata yang sesuai dengan gambar. Peningkatan hasil belajar siswa juga nampak pada Hhasil tes yang menunjukkan menunjukkan adanya peningkatan dari nilai rata- rata siklus I sebesar 47,17 dengan persentase 47,17% menjadi 58,41 dengan persentase sebesar 58,41% pada siklus II. Peningkatan rata-rata nilai siswa dari siklus I ke siklus II adalah sebesar 11,24 dengan persentase 11,24%.

DAFTAR PUSTAKA

Basri, R., Usman, M., & Saud, S. (2021). Peningkatan kosakata bahasa Jerman melalui model make a match. PHONOLOGIE Journal of Language and Literature, 2(1), 72-79.

(7)

Emaliana, I., Tyas, P.A., Widyaningsih G.E.N., & Khotimah, S.K. (2019). Evaluasi Pembelajaran Bahasa Asing pada Pendidikan Tinggi. Malang: UB Press.

Fitriyani, E., & Nulanda, P. Z. (2017). Efektivitas Media Flash Cards dalam Meningkatkan Kosakata Bahasa Inggris. PSYMPATHIC: Jurnal Ilmiah Psikologi.

DOI: 10.15575/psy.v4i2.1744.

Hamer, W., & Lely, L. N. (2019). Using pictionary game to increase learners’

vocabulary mastery in english language instruction. Journal of English Education Studies, 2(1), 43-51.

Indah, S. R., & Saleh, N. (2018). Analisis Materi Ajar Membaca Dalam Buku Deutsch Ist Einfach. Eralingua: Jurnal Pendidikan Bahasa Asing Dan Sastra, 2(1), 35-44.

Mardiana, M., Azizah, L., & Mantasiah R, M. R. (2021). Media Google Classroom dalam Pembelajaran Membaca Memahami Bahasa Jerman. PHONOLOGIE Journal of Language and Literature, 2(1), 80-90.

Nuraina, D., & Saleh, N. (2017). Hubungan Antara Penguasaan Kosakata dengan Keterampilan Berbicara Bahasa Jerman Siswa Kelas XI Bahasa SMA Negeri 2 Kabupaten Majene. Eralingua Jurnal Pendidikan Bahasa Asing dan Sastra. Vol.

1. No. 2.

Palimbong, Y. W., Saud, S., & Saleh, N. (2021). Penerapan Media Video Animasi dalam Keterampilan Menulis Karangan Deskripsi Bahasa Jerman.

PHONOLOGIE Journal of Language and Literature, 2(1).

Putri, E. E., Saleh, N., & Jufri, J. (2021). Media Pembelajaran Word Wall dalam Meningkatkan Keterampilan Berbicara Bahasa Jerman. Phonologie: Journal of Language and Literature, 2(1), 53-61.

Putri, MA. (2017). Permainan Pictionary pada Pembelajaran Kosakata Bahasa Jepang (GOI). Universitas Negeri Padang.

Resti, A. A. Z., & Utami. H. T. (2021). Upaya Peningkatan Pembelajaran Bahasa Inggris melalui Lagu dan Permainan Edukatif pada Siswa SD Negeri Nusamangir.

Journal of Education and Teaching. Diakses pada laman web pada tanggal 12 Januari 2022: http://ejournal.uin-suska.ac.id/index.php/JETE.

Salwa, R., Usman, M., & Saleh, N. (2021). Media Puzzle Dalam Penguasaan Kosakata Bahasa Jerman. Phonologie: Journal of Language and Literature, 1(2), 108- 114.

Santoso, I. (2014). Pembelajaran Bahasa Asing di Indonesia: Antara Globalisasi dan Hegemoni. Jurnal Bahasa dan Sastra Vol. 14, No.1.

Scholl, S. (2007). Führt der Einsatz der Wörtscahtzleiste im Sprachunterricht.

Norderstedt. Germany: GRIN Verlag.

Spangler, D. & Mezzante, J. A. (2015). Using Reading to Teach a World Language Strategy and Activities. New York: Routledge.

Zulfikar & Azizah, L. (2017). Keefektifan penggunaan Media Pembelajaran Kartu Kuartet dalam Pembelajaran Keterampilan Berbicara Bahasa Jerman Siswa Kelas XI MA Negeri 1 Makassar. Eralingua Jurnal Pendidikan Bahasa Asing dan Sastra. Vol. 1. No. 2.

Referensi

Dokumen terkait

Furthermore, the study found that employee satisfaction did not mediate the relationship between the six HRM practice dimensions–namely, HR planning; job analysis and design; employee

In large commercial structures, they can control security systems, visitor guidance, and emergency evacuation, in each case greatly reducing the number of paid employees who need to be