See discussions, stats, and author profiles for this publication at: https://www.researchgate.net/publication/358234929
KARAKTERISTIK ALIRAN DI DAERAH IRIGASI RAWA (DIR) DADAHUP
Article · October 2021
CITATIONS
0
READS
79
4 authors, including:
Segel Ginting
Ministry of Public Works and Housing 57PUBLICATIONS 90CITATIONS
SEE PROFILE
PIT HATHI ke-38 Prosiding
Surabaya , 30 Oktober 2021
Tema :
“DIRGAHAYU 60 TAHUN PENGELOLAAN WILAYAH SUNGAI DI INDONESIA:
Pengelolaan Infrastruktur
untuk Ketahanan Air Berkelanjutan”
Jilid 3
HIMPUNAN AHLI TEKNIK HIDRAULIK
INDONESIA
Pertemuan Ilmiah Tahunan
Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) HATHI ke-38 Surabaya, 30 Oktober 2021
Tema ““DIRGAHAYU 60 TAHUN PENGELOLAAN WILAYAH SUNGAI DI INDONESIA: Pengelolaan Infrastruktur untuk Ketahanan Air Berkelanjutan”
Jilid 3
370 halaman, xii 21cm x 30cm
ISBN 978-602-6289-30-8 (no.jil.lengkap) ISBN 978-602-6289-33-9 (jil.3)
Himpunan Ahli Teknik Hidraulik Indonesia (HATHI),
Sekretariat HATHI, Gedung Direktorat Jenderal SDA Lantai 8 Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Jl. Pattimura 20, Kebayoran Baru, Jakarta 12110 - Indonesia Telepon/Fax. +62-21 7279 2263
http://www.hathi-pusat.org | email: [email protected] Penasehat : Ketua Umum HATHI
Pengarah : Prof. Dr. Ir. Nadjadji Anwar, M.Sc. PU – SDA, ACPE Ir. Moh. Sulaiman, M.Eng
Prof. Dr. Ir. Pitojo Tri Juwono, MT., IPU Ir. Eko Subekti, Dipl.HE., PU-SDA Ir. Fauzi Idris, ME
Pengurus Pusat HATHI
Pelaksana :
Ketua Panitia : Dr. Ir. Muhammad Rizal, M.Sc. PU-SDA
Wakil Ketua I : Dr. techn. Umboro Lasminto, ST., MSc., PMa-SDA Wakil Ketua II : Dr. Gusfan Halik, ST. MT., PU-SDA
Sekretaris : Dedi Yudha Lesmana, ST. MT Wakil Sekretaris I : Ima Solikhati, ST. MT
Wakil Sekretaris II : Novi Andriany Teguh, ST. M.Sc Wakil Sekretaris III : Dr. Ir. Entin Hidayah, MUM, PU-SDA Bendarahara : Indah Kusuma Hidayati, ST. MT Wakil Bendahara I : Ir. Edy Tambeng Wijaya, MM Wakil Bendahara II : Nastasia Festy Margini, ST. MT Wakil Bendahara III : Sri Wahyuni, ST. M.Eng., Ph.D SEKSI - SEKSI :
Seksi Sekretariat : Ir. Rudi Novyanto Ridwan, CES, PMa-SDA dan Dokumentasi Dr. Ir. Edijatno, CES. DEA
Ir. Karwito, Sp.1., PU-SDA Anton Dharma PM, ST. MT.
Hesti Nurina Paramita, ST. M.Sc Muhammad Yunus, ST. M.PSDA Joko Santoso, SE
Mochamad Hasan Wijaya, ST, M.PSDA
iii Seksi Publikasi : Ir. Bambang Sarwono, M.Sc, PMa-SDA
dan Humas Fauzi Nasruddin, ST, M.Sc Ir. Endang Wasiati, ME., PMa-SDA Ir. Amos Sangka, Sp.1
Wiel Mushawiry Suryana, ST. MT Mohamad Muchlisin Mahzum, ST. MT Suwandi, SE. MM
Deny Bayu Prawesto, SH. M.PSDM Johanes Kristoni, SE
Seksi Materi : Ir. Djoko Sukalisno Kadiro, Dipl.HE.,PU-SDA. ACPE Ir. Novia Rosalita, Sp.1
Mohamad Bagus Ansori, ST. M.Sc Dr. Ir. Minarni Nur Trilita, MT.
Novita Andrianie, ST. MT Harri Pranowo, ST. MT
Mustofa Mukti Hidayati, ST. M.Eng Tami Adiningtyas, ST. MT
Henty Diorina Maharastri, ST. MT Arochma Leliyana, ST
Seksi Persidangan : Ir. Sri Purwaningsih, MT Wahyu Setianto, ST. MT
Dr. Mahendra Andiek Maulana, ST. MT Retno Utami Agung Wiyono, ST. M.Eng., Ph.D Annas Wibowo, ST. MT
Ir. Bahmid Tohari, M.Eng., PU-SDA Evy Harmani, ST. M.Eng
Rizal Ariffudin Kurniawan, ST. MT Agung Purnayudha, ST. M.PSDA Rosita Ardila, ST. MT
Eny Setyoningrum, ST. MT Kholivia Desi Ekasari, ST. MT Bambang Risharnanda, ST Indriani, ST. MT
Seksi Acara : Ir. Sri Hardini Suprapti, MT Wiwik Yunarni, ST. MT
Ir. Theresia Sri Sidharti, MT., PU-SDA Danayanti Azmi Dewi Nusantara, ST. MT Titin Suhartini, ST. MT
Kadek Widyaswaari, ST. MWM Lucky Dyah Ekorini, ST. MT Abdul Somat Bukori, S.ST. MT Arianto, ST. MT
Eddy Hari Poerwanto, ST. MT
Seksi Teknologi : Kalpin Nur, ST. MM
Informasi (TI) Dr. A.A. Ngr. Satria Damar Negara, ST. MT Saifurridzal, ST. M.Eng
Achmad Ainur Rofiq Irawan, ST. MT
Ir. Soenoko, CES., PU-SDA Hendri, ST. MT
Arif Rahmad Darmawan, ST. MT Achmad Hariyadi, ST. MT Endro Prasetyo Utomo Seksi Akomodasi, : Ir. Kuntjoro, PMa-SDA Transportasi, Cahyo Handono, ST. M.PSDA dan Konsumsi Yogi Pandhu Satriyawan, ST. MT
Yudha Tantra Ahmadi, MT Vina Citrasari, ST. MT Budiyono, ST
Febby Ardhiantanti, S.IP Rojikan, SE. MM
Drs. Anang Wahyudi, MM Priambada, AM.d
Komite Ilmiah / : Prof. Nadjadji Anwar (ITS, Indonesia) Scientific Committee Prof. Djoko Legono (UGM, Indonesia)
Prof. Robertus Wahyudi Triweko (Unpar, Indonesia) Prof. Indratmo Soekarno (ITB, Indonesia)
Prof. Suripin (Undip, Indonesia) Prof. Pitojo Tri Juwono (UB, Indonesia) Prof. Fatihah Suja’ (UKM, Malaysia) Prof. Zulkifli Yusop (UTM, Malaysia)
Prof. Daizo Tsutsumi (Mie University, Japan) Prof. Riuji Kakimoto (Kumamoto University, Japan) Dr. Yu-Shiu Chen (NCKU, Taiwan)
Prof. Dosun-Kang (Kyung Hee University, Korea) : Prof. Seoktae-Kang (KAIST, Korea)
Prof. Xie Yuebo (Hohai University, China) Prof. Liong She Yui (NUS, Singapore) Dr. FX. Suryadi (IHE Delft, the Netherlands) Prof. Mukand Babel (AIT, Thailand) Prof. D.S. Arya (IIT Roorkee, India) Reviewer : Prof. Nadjadji Anwar
Dr. Moch. Amron Prof. Indratmo Soekarno Prof. Djoko Legono Prof. Suripin
Prof. Budi S. Wignyosukarto Prof. Radianta Triatmadja Prof. Sriyana
Prof. Lily Montarcih Limantara Dr. Doddi Yudianto
Dr.techn Umboro Lasminto
v Editor : Dr. Doddi Yudianto
Dr. Heri Suprapto Dr. Roby Hambali
Dr. Muhammad Ramdhan Olii Dr. Ani Hairani
Dr. Evi Anggraheni Dr. Albert Wicaksono
Dr. Mahendra Andiek Maulana Dr-ing Bobby Minola Ginting Dr. Retno Utami Agung Wiyono Dr. Benazir
Dr. Juliastuti Mrs. Finna Fitriana
Copy Editor
& Layout Editor
: Mr. Asep Harhar Muharam
Desain Cover : Mr. Rahmat Hidayat (Tamil)
vii
KATA PENGANTAR
Dengan mengucapkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, Pengurus HATHI Cabang Jawa Timur dan Panitia Pelaksana Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) HATHI ke- 38 Tahun 2021 menyampaikan selamat atas terbitnya Prosiding PIT HATHI ke-38.
Publikasi karya ilmiah ini merupakan hasil dari kegiatan PIT HATHI ke-38 dengan Tema
“DIRGAHAYU 60 TAHUN PENGELOLAAN WILAYAH SUNGAI DI INDONESIA:
Pengelolaan Infrastruktur untuk Ketahanan Air Berkelanjutan”, yang diselenggarakan secara daring di Surabaya pada Tanggal 30 Oktober 2021.
PIT telah menjadi ajang pertemuan, pembahasan dan penyebarluasan ilmu pengetahuan dan wawasan guna meningkatkan profesionalisme bagi praktisi, akademisi, peneliti dan pengambil keputusan, khususnya anggota HATHI. Disamping menjadi dokumentasi karya ilmiah PIT HATHI ke-38, prosiding ini juga diharapkan dapat bermanfaat sebagai referensi dalam pengembangan keilmuan dan profesionalisme di bidang Sumber Daya Air.
Kami merasa bahwa dalam hal penerbitan prosiding ini masih terdapat beberapa ketidaksempurnaan, oleh karena itu kami menyampaikan permohonan maaf dan mengharapkan banyak masukan yang konstruktif yang akan sangat membantu dalam rangka penyusunan dan penulisan di kemudian hari. Kami ucapkan selamat kepada penulis atas karya ilmiahnya yang telah berhasil diterbitkan dalam prosiding ini.
Surabaya, November 2021
Hormat kami,
Dr. Ir. Muhammad Rizal, M.Sc., PU-SDA Ketua Panitia PIT HATHI ke-38
Daftar Isi
Jilid 3
Sub Tema 3
108 Optimasi Perhitungan Alokasi Biaya OP Menggunakan Model Laju
Degradasi Indeks Kinerja Sistem Irigasi di Indonesia ... 1079 109 Inventarisasi Kerusakan Jaringan Irigasi Remeneng Kompleks
di Daerah Irigasi Bengkel Kabupaten Lombok Barat ... 1089 110 Penentuan Lapisan Tanah pada Fondasi Saluran Irigasi Gumbasa
di Sibalaya dengan Metoda MASW (Multichannel Analysis
of Surface Wave) ... 1099 111 Updating E-Paksi Daerah Irigasi Batanghari dan Daerah Irigasi Bunut .. 1111 112 Studi Kebutuhan Air Irigasi D.I Kiru-Kiru Akibat Perubahan
Perluasan Pemukiman Kec. Soppeng Riaja Kab. Barru ... 1121 113 Analisis Prediksi Neraca Pangan di Indonesia pada Tahun 2021-2045
Berdasarkan Luasan Fungsional Sawah ... 1132 114 Evaluasi Pola Tata Tanam (Kombinasi Irigasi Air Permukaan + Pompa)
pada Daerah Irigasi Beron Kabupaten Tuban ... 1144 115 Model Optimasi Pola Operasi Waduk, Metode Simulasi Rekayasa
Pola Tanam untuk Mendapatkan Expected Value Ekonomi ... 1155 116 Studi Optimasi Pola Tanam pada Daerah Irigasi Lintang Kiri
Kabupaten Empat Lawang ... 1165 117 Analisis Awal Musim Tanam Optimal pada Daerah Aliran Sungai
(DAS) Lapasariuru Wilayah Sungai (WS) Sumbawa ... 1175 118 Kajian Sistem Pemberian Air Irigasi untuk Meningkatkan Intensitas
Tanam pada Daerah Irigasi Mergan ... 1187 119 Kendala dan Strategi Pemanfaatan Lahan Rawa Sebagai Lokasi
Pengembangan Food Estate di Kawasan Eks-PLG,
Provinsi Kalimantan Tengah ... 1197 120 Pengelolaan Rawa Lebak Danau Panggang Sebagai Pengendali Banjir
di Kabupaten Hulu Sungai Utara ... 1207 121 Karakteristik Aliran di Daerah Irigasi Rawa (DIR) Dadahup ... 1215 122 Kajian Kerentanan Wilayah Pesisir Terhadap Kenaikan Muka Air Laut
di Pulau Rangsang Kepulauan Meranti ... 1225 123 Kajian Desain Bangunan Pengaman Pantai di Pantai Buko
Kab. Bolaang Mongondow Utara Sulawesi Utara ... 1237
ix 124 Analisis Morfologi Pantai Menggunakan Model 2d Xbeach
di Pantai Buko Kab. Bolaang Mongondow Utara Sulawesi Utara ... 1245 125 Studi Pengendalian Abrasi Pantai Wedoni
Kabupaten Manokwari Selatan ... 1254 126 Uji Model Fisik Penetrasi Gelombang di dalam Kolam Pelabuhan
Sanur ... 1263 127 Basic Research Test Uji Model Fisik Pelabuhan Sanur di Saluran
Gelombang 2D ... 1273 128 Penanganan Abrasi Pantai Cemara Banyuwangi sebagai Upaya
Adaptif-Mitigasi Konservasi Penyu ... 1283 129 Analisis Stabilitas Batu pada Desain Tanggul Laut NCICD dengan Uji
Model Fisik 2 Dimensi ... 1292 130 Analisis Desain Breakwater Ppn Brondong Lamongan, Jawa Timur ... 1302 131 Pantai Abokarei : Erosi dan Perlindungannya ... 1308 132 Kajian Transmisi Gelombang pada Breakwater Tipe Tiang Pancang
di Pelabuhan Maritaing, Nusa Tenggara Timur dengan
Uji Model Fisik 2D ... 1316 133 Kajian Penerapan Konsep Building With Nature (BWN)
sebagai Alternatif Pengamanan Pantai di Kawasan Petanglong... 1325 134 Pengaruh Tinggi Lantai Dasar Terhadap Pembangkitan Gelombang
pada Basic Research Test di Saluran Gelombang 2D BPPT ... 1335 135 Tinjauan Terhadap Permeable Breakwater dengan Struktur Tiang
sebagai Alternatif Pemecah Gelombang di Indonesia ... 1345 136 Potensi Pembangkit Listrik Tenaga Pasang Surut dengan Sistem Siklus
Daur Ganda dengan Kolam Tunggal di Merauke ... 1357
Sub Tema 4
137 Evaluasi Kesesuaian Kriteria Wilayah Sungai (WS) Strategis Nasional pada WS Citarum ... 1367 138 Kajian Kriteria Wilayah Sungai Kepulauan Yamdena Wetar
sebagai Strategis Nasional ... 1378 139 Tinjauan Penyusunan Pola Wilayah Sungai Secara Berjenjang
di Provinsi Papua ... 1388 140 Implementasi Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha
dalam Pengembangan Spam Regional di Bendungan Merangin ... 1396 141 Kelembagaan Holistik dan Integratif dalam Pengelolaan Risiko Banjir
Provinsi Gorontalo ... 1405 142 Korelasi Peningkatan Dana Operasi dan Pemeliharaan Irigasi dengan
Peningkatan Produktifitas Pertanian di Provinsi Maluku ... 1415
143 Perhitungan Biaya Jasa Pengelolaan Sumber Daya Air pada
Wilayah Sungai Yamdena Wetar ... 1425 144 Peluang dan Tantangan Penerapan Irrigation Service Agreement (ISA)
dalam Peningkatan Layanan Irigasi ... 1431
Sub Tema 3
Pengelolaan Irigasi dan Pantai Berkelanjutan
Rehabilitasi dan Modernisasi Irigasi, Pola Tanam Optimal dan Memaksimalkan Hasil, Intrusi Salinitas Air, Pengelolaan Lahan Rendah dan Rawa, Banjir Rob, Perlindungan Pantai dan Nexus Air-Pangan-Energi.
1215
KARAKTERISTIK ALIRAN DI
DAERAH IRIGASI RAWA (DIR) DADAHUP
Segel Ginting1*, Haryo Istiarto1, M Fauzan Ilmi1, Dery Indrawan1
1Balai Teknik Irigasi, Direktorat Jenderal Sumber Daya Air
Intisari
Daerah Irigasi Rawa (DIR) Dadahup menjadi salah satu program untuk food estate.
DIR Dadahup berada diantara dua sungai yaitu Sungai Mengantip dan Sungai Barito sehingga pola aliran yang terjadi di wilayah tersebut menjadi unik dan dibutuhkan pemahaman secara seksama agar perencanaan sistem tata air yang diusulkan tidak mengalami kegagalan. Untuk mendesain rencana sistem tata air, dibutuhkan bagaimana pola atau karakteristik aliran, mengingat karakteristik aliran yang termonitor di lapangan belum tersedia dan simpangsiurnya informasi yang diperoleh. Berdasarkan hasil survai lapangan menyatakan bahwa pola aliran yang terjadi di DIR Dadahup satu arah yaitu dari hulu ke hilir dan di lain pihak menyatakan bahwa pola alirannya dua arah atau terjadi aliran bolak balik dari hulu ke hilir dan hilir ke hulu. Untuk memastikan kondisi tersebut, maka dilakukan pemodelan hidrodinamik di DIR Dadahup dengan kondisi batas di hilir berada di muara sungai dan di hulu berada di Sungai Barito. Tujuannya untuk mempelajari pola aliran di DIR Dadahup dan bagaimana pengaruh debit aliran Sungai Barito terhadap perubahan pola aliran di DIR Dadahup. Dari hasil pemodelan hidrodinamik terlihat bahwa pola aliran di DIR Dadahup sangat dipengaruhi oleh debit aliran dari hulu (Sungai Barito) pada saat musim penghujan dan pasang surut muka air laut pada saat musim kemarau. Pola aliran yang terjadi di DIR Dadahup dapat terjadi searah pada satu periode tertentu dan aliran bolak balik pada satu periode tertentu. Pola aliran yang searah dapat terjadi pada musim penghujan dengan debit dari hulu lebih besar dari 1500 m3/s. Aliran dua arah dapat terjadi jika debit kurang dari 1500 m3/s, dan hal ini terjadi di musim kemarau.
Kata Kunci: hidrotopografi, model hidrodinamik, karakteristik aliran, debit andalan Latar Belakang
Pengembangan lahan dataran rendah telah terabaikan sejak tahun 1998, sejak ditinggalkannya proyek lahan gambut satu juta hektar di Kalimantan Tengah.
Kurangnya investasi dan terjadinya desentraliasi menyebabkan lahan tersebut tidak produktif sehingga banyak masyarakat mengalami penurunan mata pencaharian dan lahan yang rentan terhadap kebakaran tidak terkendali (Euroconsult Mott MacDonald dkk, 2008). Salah satu bekas proyek lahan gambut tersebut adalah Daerah Irigasi Rawa (DIR) Dadahup. DIR Dadahup menjadi salah satu program food estate. DIR Dadahup saat ini memiliki pengelolaan yang belum optimal, sehingga diperlukan pendekatan terpadu, berdasarkan pengelolaan air yang efektif yang kombinasi dengan teknologi sistem pertanian yang memadai dan kegiatan
Pertemuan Ilmiah Tahunan HATHI ke-38 Surabaya, 30 Oktober 2021
pasca panen (Suprianto, 2006). Rehabilitasi dan pengembangan DIR Dadahup dibutuhkan untuk mencapai target sebagai food estate. Untuk mendukung hal tersebut, maka diperlukan kembali mendesain rencana sistem tata air. Mendesain sistem tata air di daerah DIR Dadahup, hal utama yang dibutuhkan adalah memahami bagaimana pola aliran atau karakteristik aliran di DIR Dadahup.
Mengingat karakteristik aliran yang terpantau di lapangan belum tersedia, dan DIR Dadahup tersebut berada pada dua sungai yang bersumber dari Sungai Barito seperti terlihat pada Gambar 1, sehingga karakteristik alirannya sangat dipengaruhi oleh Sungai Barito dari hulu. DIR Dadahup memiliki pola aliran yang unik dan tidak homongen pada semua wilayah dan berbeda. Karakteristik aliran di DIR Dadahup memiliki pola aliran satu arah atau dua arah masih belum dapat dipastikan dengan jelas. Pada saat melakukan survai di lapangan terlihat bahwa pola aliran memiliki satu arah, namun di lain pihak, berdasarkan hasil pengamatan di lapangan menyatakan bahwa pola aliran memiliki pola aliran 2 arah (bolak balik). Hal ini perlu pembuktian, karena survai tersebut hanya dalam waktu singkat atau sesaat.
Kondisi demikian menjadi membingungkan karena monitoring muka air di lokasi tersebut belum tersedia data cukup panjang. Dengan dasar dan hipotesis yang dikemukakan di atas, maka dibutuhkan pembuktian secara ilmiah bagaimana pola aliran yang ada pada sistem jaringan DIR Dadahup tersebut yang dipengaruhi oleh Sungai Barito dari hulu dan pasang surut di hilir dengan menggunakan pendekatan pemodelan hidrodinamik. Pemanfaatan model hidrodinamik untuk melihat pola aliran di daerah irigasi pasang surut pernah dilakukan oleh Masrevaniah dan Rusdiansyah (2012). Adapun tujuan dari kegiatan ini adalah untuk mengetahui dan memahami pola aliran di DIR Dadahup dan bagaimana pengaruh debit aliran Sungai Barito terhadap pola aliran di DIR Dadahup serta berapa batas kritikal debit Sungai Barito yang menyebabkan perubahan pola aliran di DIR Dadahup.
Metodologi
Lokasi penelitian ini berada di DIR Dadahup, Kalimantan Tengah. Adapun lokasi dari DIR Dadahup dapat dilihat pada Gambar 1. Untuk menjawab hipotesis di atas, maka dibutuhkan pemodelan hidrodinamik irigasi pasang surut di lokasi tersebut.
Langkah awal yang dibutuhkan adalah melakukan pengembangan model hidrodinamik di DIR Dadahup dan selanjutnya melakukan simulasi dengan berbagai skenario untuk mempelajari pola aliran DIR Dadahup.
1. Pemodelan Hidrodinamika DIR Dadahup
Pemodelan hidrodinamika di DIR Dadahup dilakukan dengan menggunakan aplikasi SOBEK. Pemodelan hidrodinamik dikembangkan secara terintergrasi antara model hidraulik dengan model hidrologi. Pemodelan hidrodinamik DIR Dadahup membutuhkan pengukuran penampang melintang di seluruh jaringan saluran dan kondisi batas. Menentukan kondisi batas dibutuhkan kehati-hatian agar dapat mengambarkan keseluruhan karakteristik aliran yang terjadi di hulu maupun di hilir. Kondisi batas tersebut memerlukan data pengamatan yang panjang agar dapat memberikan informasi yang lengkap dari berbagai kondisi. Kondisi batas
Pertemuan Ilmiah Tahunan HATHI ke-38 Surabaya, 30 Oktober 2021
1217 pasang surut di muara sungai. Karakteristik debit di hulu dari DIR Dadahup bersumber dari Sungai Barito, sehingga informasi debit di Sungai Barito dibutuhkan.
Gambar 1. Lokasi DIR Dadahup, Kabupaten Kapuas 2. Karakteritik Aliran di Sungai Barito
Karakteristik debit aliran Sungai Barito merupakan kondisi batas yang digunakan untuk pemodelan hidrodinamik. Bagian hulu dari DIR Dadahup merupakan DAS Barito. Sungai Barito memiliki pemantauan muka air dan debit yang panjang di Sungai Barito - Muara Teweh. Lokasi ini dipilih karena berada paling hilir di Sungai Barito sebelum bertemu dengan DIR Dadahup. Umumnya pemasangan pos duga air untuk pemantauan debit harus terbebas dari pengaruh pasang surut. Oleh karena itu maka, pos Muara Teweh dipilih untuk mewakili karakteristik aliran Sungai Barito. Untuk menentukan karakteristik aliran di Sungai Barito-Muara Teweh, maka elaborasi data dilakukan dengan menggunakan pendekatan probabilitas dengan membuat kurva durasi aliran (flow duration curve) dan menentukan debit andalan (dependeable flow) di sungai tersebut. Data debit andalan tersebut kemudian digunakan untuk kondisi batas di hulu.
HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Karakteristik Aliran di Sungai Barito
Karakteristik debit aliran di Sungai Barito dapat di analisis dari data debit yang telah diamati mulai dari tahun 1977 s/d 2013 di pos duga air Sungai Barito-Muara Teweh. Lokasi ini dipilih karena merupakan salah satu lokasi pos duga air yang ada di Sungai Barito yang berada paling hilir. Lokasi ini dipilih karena pos duga air biasanya ditempatkan pada daerah yang terbebas dari pengaruh air balik (back water) sehingga pos duga air yang berada paling hilir merupakan pos terakhir yang dapat mewakili kondisi aliran di sungai tersebut. Karena lokasi DIR Dadahup berada di hilir dari lokasi pos duga air Muara Teweh, maka karakteristik aliran di
Pertemuan Ilmiah Tahunan HATHI ke-38 Surabaya, 30 Oktober 2021
lokasi tersebut digunakan sebagai kondisi batas untuk mewakili daerah hulu untuk digunakan dalam pemodelan hidrodinamik DIR Dadahup. Analisis kurva durasi aliran yang ada di Muara Teweh dilakukan terhadap data debit aliran harian. Jumlah data yang berhasil dikumpulkan sebanyak 10.488 data selama periode tahun 1977 sampai dengan tahun 2013. Berdasarkan data tersebut, analisis kurva durasi aliran telah dihasilkan seperti pada Gambar 2. Kurva durasi aliran tersebut merupakan debit aliran yang dihubungkan dengan tingkat peluang kejadian terlampaui. Dari grafik yang telah diperoleh, maka dapat ditentukan debit andalan 80 % sekitar 850 m3/s. Debit andalan 80 % biasanya digunakan untuk ketersediaan air untuk kebutuhan air irigasi.
Gambar 2. Kurva durasi aliran di S Barito-Muara Teweh
Selain kurva durasi aliran yang dapat mengambarkan karakteristik aliran sungai, grafik dependeable flow juga dapat digunakan untuk mengambarkan debit andalan pada setiap bulannya. Grafik dependeable flow berdasarkan data di Sungai Barito- Muara Teweh dapat dilihat pada Gambar 3. Grafik dependeable flow mengambarkan tentang debit andalan pada setiap bulan. Berdasarkan Gambar 3 dapat terlihat untuk debit andalan dengan tingkat probabilitas 80 % (biasanya digunakan untuk menentukan ketersediaan air buat irigasi) bervariasi untuk setiap bulannya, sehingga dapat terlihat bahwa terdapat beberapa bulan memiliki ketersediaan debit yang sangat kecil. Debit andalan untuk tingkat probabilitas 80 % yang terendah terjadi pada Bulan September yaitu sekitar 447 m3/s, sementara yang tertinggi terjadi pada Bulan April yaitu sekitar 1649 m3/s. Jika dilihat dari kondisi aliran yang ada maka musim kemarau terjadi selama 4 bulan atau mulai dari Bulan Juli sampai dengan Bulan Oktober, namum jika dilihat dari kondisi hujan yang terjadi di DIR Dadahup (Gambar 4) dapat terlihat bahwa musim kemarau terjadi selama 5 bulan mulai dari Bulan Juni sampai dengan Bulan Oktober. Kriteria musim kemarau digunakan dengan batasan hujan bulanan dibawah 200 mm.
2. Pasang Surut Muara Sungai
Pasang surut di muara sungai dibutuhkan sebagai kondisi batas di hilir dari pemodelan hidrodinamik. Pasang surut tersebut diperoleh di hasil kajian oleh Hooijer, dkk (2008) di bekas lahan sejuta hektar lahan gambut. Pasang surut tersebut diperoleh dari hasil perhitungan mulai dari tahun 1980 sampai dengan 2010. Nilai pasang surut ini digunakan dalam kajian untuk melihat bagaimana
Pertemuan Ilmiah Tahunan HATHI ke-38 Surabaya, 30 Oktober 2021
1219 digunakan pada kondisi batas pemodelan disesuaikan dengan kondisi musim penghujan dan musim kemarau. Kondisi pasang surut muara sungai yang digunakan dapat dilihat pada Gambar 5.
Gambar 3. Dependeable flow di S Barito-Muara Teweh
3. Pemodelan Hidrodinamika DIR Dadahup
Tahapan utama yang digunakan untuk melihat perilaku aliran yang terjadi di DIR Dadahup adalah dengan melakukan pemodelan hidrodinamik di DIR Dadahup.
Untuk melakukan pemodelan tersebut, maka dibutuhkan data geometri dari saluran yang ada di DIR Dadahup. Pemodelan hidrodinamik awalnya hanya untuk lingkup kajian di DIR Dadahup saja, seperti terlihat pada Gambar 6a. Untuk memodelkan perilaku aliran dengan skematisasi seperti pada Gambar 6a, maka memerlukan kondisi batas (boundary condition) sebanyak 6 lokasi, dan kondisi batas tersebut diukur pada saat tertentu selama beberapa hari untuk membuat rencana pengelolaan tata air di DIR Dadahup.
Gambar 4. Hujan Bulanan di Pos Hujan Dadahup
Pertemuan Ilmiah Tahunan HATHI ke-38 Surabaya, 30 Oktober 2021
Gambar 5. Pasang Surut Muara Sungai Barito dan Kapuas (Hooijer, dkk., 2008) Merujuk pada data pengukuran yang dilakukan untuk melakukan pemodelan pada saat musim penghujan, maka diperoleh hasil pemodelan hidrodinamik di DIR Dadahup yang memberikan informasi aliran satu arah. Dengan kondisi tersebut maka dapat dipastikan bahwa usulan untuk pengelolaan kedepannya di DIR Dadahup dapat menggunakan ambang untuk menaikan muka air. Padahal pada kenyataan di lapangan hal tersebut tidak mungkin. Kondisi ini menjadi berbeda antara fakta di lapangan dengan menggunakan pemodelan hidrodinamik. Perbedaan ini karena pemodelan yang dilakukan hanya menggunakan kondisi batas pada saat musim penghujan, dimana debit aliran dari hulu sangat dominan. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, maka dilakukan modifikasi pemodelan hidrodinamik yang dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu pertama dengan memperpanjang data pengamatan di lapangan yang dapat mewakili kondisi musim hujan maupun kemarau, dan kedua dengan memperluas wilayah yang dimodelkan baik kearah hulu maupun ke hilir sehingga kondisi batasnya menjadi lebih sedikit. Pendekatan yang digunakan dalam mengatasi masalah tersebut adalah yang kedua. Hal ini dilakukan karena untuk melakukan perpanjangan monitoring data masih memerlukan waktu yang panjang, sementara untuk pendekatan yang kedua, data yang dibutuhkan di kedua lokasi sudah tersedia dan lebih mudah untuk melihat karakteristiknya bagaimana pada saat musim kemarau maupun musim penghujan.
Perluasan wilayah pemodelan hidrodinamik DIR Dadahup sampai dengan muara sungai seperti terlihat pada Gambar 6b, sehingga kondisi batas yang digunakan di hilir menjadi pasang surut air laut dan kondisi batas yang digunakan di hulu adalah debit sungai di Muara Teweh. Dengan demikian maka, dapat dilakukan berbagai skenario pemodelan untuk dapat mengambarkan dan memahaminya secara lebih rinci bagaimana perilaku aliran yang mungkin terjadi di DIR Dadahup. Model hidrodinamik DIR Dadahup yang dikembangkan dapat digunakan untuk mengkaji hal-hal yang masih belum jelas karena data monitoring yang mengambarkan kondisi lapangan terbatas. Salah satunya seperti yang menjadi hipotesis dari kajian ini adalah untuk melihat bagaimana perilaku aliran di DIR Dadahup. Pemodelan hidrodinamik di DIR Dadahup, dilakukan pembagian kondisi dengan berbeda kondisi batas. Pembagian tersebut disesuaikan dengan kondisi musim yang ada di Indonesia yaitu kondisi musim hujan dan musim kemarau.
Pertemuan Ilmiah Tahunan HATHI ke-38 Surabaya, 30 Oktober 2021
1221 Pada saat kondisi musim penghujan, maka kondisi batas yang digunakan dalam pemodelan hidrodinamik DIR Dadahup di bagian hulu menggunakan debit konstan yang diperoleh dari kondisi aliran di Muara Teweh. Debit rata-rata pada saat musim hujan di Sungai Barito-Muara Teweh diperoleh sekitar 2200 m3/s, dan nilai ini yang digunakan untuk kondisi batas di hulu. Sementara kondisi batas di bagian hilir, ditentukan sesuai dengan waktu kejadian pasang surut air laut pada musim penghujan, sehingga diambil data pasang surut pada Bulan November sampai dengan Bulan Mei. Pada saat musim kemarau maka, kondisi batas pemodelan hidrodinamik DIR Dadahup berbeda dengan musim penghujan. Musim kemarau, kondisi batas untuk bagian hulu menggunakan asumsi debit andalan atau Q80%.
Debit andalan di Sungai Barito-Muara Teweh sekitar 850 m3/s dan kondisi batas di bagian hilir menggunakan data pasang surut di hilir pada bulan bulan musim kemarau.
a. DIR Dadahup b. DIR Dadahup sampai muara
Gambar 6. Skematik Sistem Jaringan Pemodelan Hidrodinamik DIR Dadahup Simulasi Pada Musim Penghujan
Pada musim penghujan, simulasi dengan kondisi batas yang telah disebutkan, telah memberikan hasil. Salah satunya untuk melihat bagaimana perilaku aliran yang terdapat di Saluran Pembantu Utama (SPU). Kondisi muka air di SPU memiliki kondisi aliran satu arah, dimana debit air yang berasal dari Sungai Barito memiliki pengaruh yang dominan dibandingkan dengan pasang surut air laut. Hal ini dapat dilihat dari perbandingan muka air di SPU yang dibandingkan antara lokasi di hilir dan di hulu seperti terlihat pada Gambar 7. Berdasarkan Gambar 7 terlihat bahwa muka air yang berada di hulu selalu berada di atas dibandingkan dengan muka air yang ada di hilir. Hal yang sama juga dilihat perilaku aliran antara Sungai Barito dengan Sungai Mengantip pada saat musim penghujan. Perbandingan muka air antara Sungai Mengantip dengan Sungai Barito dapat dilihat pada Gambar 8.
Berdasarkan Gambar 8 dapat dilihat bahwa pada saat musim hujan aliran yang terjadi satu arah yaitu dari Sungai Barito ke Sungai Mengantip.
Pertemuan Ilmiah Tahunan HATHI ke-38 Surabaya, 30 Oktober 2021
Gambar 7. Perbandingan muka air saluran pembantu utama (SPU) di hulu dan hilir pada musim penghujan
Gambar 8. Perbandingan muka air di S Mengantip dan S Barito pada musim penghujan
Simulasi Musim Kemarau
Pada kondisi musim kemarau, perilaku aliran yang terjadi di DIR Dadahup berbeda dengan musim penghujan. Simulasi pada musim kemarau menggunakan kondisi batas seperti yang telah dinyatakan di atas. Hasil simulasi dapat dilihat bagaimana perilaku aliran yang terjadi di SPU maupun antara Sungai Mengantip dan Barito.
Hasil perbandingan muka air di SPU dapat dilihat pada Gambar 9. Berdasarkan Gambar 9 dapat terlihat bahwa muka air yang terjadi antara di hilir dan dihulu saling tumpang tindih dan ini mengindikasikan bahwa aliran yang terjadi di SPU memiliki dua arah atau bolak balik. Hal yang sama juga dapat dilihat perbadingan muka air antara Sungai Barito dengan Sungai Mengantip seperti terlihat pada Gambar 10 yang menunjukan pola aliran bolak balik.
280_13, Waterlevel (m AD) 263_5, Waterlevel (m AD) TeeChart
8/9/2020 8/7/2020 8/5/2020 8/3/2020 8/1/2020 7/30/2020 7/28/2020 7/26/2020 7/24/2020 7/22/2020 7/20/2020 7/18/2020 1
0
249_3, Waterlevel (m AD) 288_2, Waterlevel (m AD) TeeChart
8/9/2020 8/8/2020 8/7/2020 8/6/2020 8/5/2020 8/4/2020 8/3/2020 8/2/2020 8/1/2020 7/31/2020 7/30/2020 7/29/2020 7/28/2020 7/27/2020 7/26/2020 7/25/2020 7/24/2020 7/23/2020 7/22/2020 7/21/2020 7/20/2020 7/19/2020 7/18/2020 7/17/2020 2
1
0
Pertemuan Ilmiah Tahunan HATHI ke-38 Surabaya, 30 Oktober 2021
1223 Gambar 9. Perbandingan muka air saluran pembantu utama (SPU) di hulu dan
hilir pada musim penghujan
Gambar 10. Perbandingan muka air di S Mengantip dan S Barito pada musim penghujan
Debit Threshold untuk Perubahan Pola Aliran
Pola aliran di DIR Dadahup berbeda antara musim kemarau dan penghujan, sehingga menimbulkan pertanyaan, kapan akan mengalami perubahan pola aliran tersebut?. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, maka kajian ini dilakukan dengan beberapa kali simulasi untuk melihat seberapa besar debit dari hulu yang menyebabkan perubahan pola aliran dari 1 arah menjadi 2 arah. Berdasarkan hasil simulasi dari beberapa kondisi batas di hulu, maka diperoleh nilai debit sekitar 1500 m3/s sebagai batas threshold yang menyebabkan terjadinya perubahan aliran dari 1 arah menjadi 2 arah. Debit di hulu lebih besar dari 1500 m3/s akan memberikan perilaku aliran di SPU memiliki pola liran 1 arah, sedangkan debit dari hulu kurang dari 1500 m3/s, pola aliran akan berubah menjadi 2 arah. Debit threshold yang diperoleh tersebut kemudian diplot pada kurva durasi aliran di Sungai Barito-Muara Teweh untuk mengetahui berapa besar tingkat peluang kejadiannya. Dari hasil kurva durasi aliran maka, diperoleh tingkat probabilitas debit threshold tersebut sekitar 55%. Hal ini menunjukkan bahwa sekitar 55% dalam setahun akan mengalami pola aliran 1 arah atau 45% dalam setahun akan mengalami pola aliran 2 arah. Jika dikonversi ke dalam rentang distribusi waktu, maka terdapat sekitar 6,5 bulan mengalami pola aliran 1 arah, dan 5.5 bulan mengalami pola aliran 2 arah.
263_2, Waterlevel (m AD) 296_276, Waterlevel (m AD) TeeChart
8/9/2020 8/7/2020 8/5/2020 8/3/2020 8/1/2020 7/30/2020 7/28/2020 7/26/2020 7/24/2020 7/22/2020 7/20/2020 7/18/2020 1
0
263_2, Waterlevel (m AD) 296_276, Waterlevel (m AD) TeeChart
8/9/2020 8/7/2020 8/5/2020 8/3/2020 8/1/2020 7/30/2020 7/28/2020 7/26/2020 7/24/2020 7/22/2020 7/20/2020 7/18/2020 1
0
Pertemuan Ilmiah Tahunan HATHI ke-38 Surabaya, 30 Oktober 2021
Kesimpulan
Berdasakan hasil kajian di atas maka dapat disimpulkan bahwa karakteristik aliran di DIR Dadahup adalah sebagai berikut:
1. Karakteristik aliran di DIR Dadahup sangat dipengaruhi oleh debit aliran di Sungai Barito pada saat musim penghujan dan pasang surut muka air laut pada saat musim kemarau.
2. Pada saat musim penghujan, debit rata-rata sekitar 2200 m3/s sangat dominan dalam mengedalikan aliran di DIR Dadahup sehingga memberikan efek aliran 1 arah di Saluran SPU DIR Dadahup.
3. Pada saat musim kemarau, pola aliran yang terjadi di DIR Dadahup menjadi 2 arah yaitu terjadi aliran bolak balik karena yang lebih dominan dari pasang surut muka air laut.
4. Batas minimal debit aliran di Sungai Barito yang menyebabkan terjadinya perubahan pola aliran di DIR Dadahup sekitar 1500 m3/s. Jika debit aliran lebih besar dari 1500 m3/s maka, pola aliran di DIR Dadahup akan selalu satu arah, sedangkan jika debit aliran kurang dari 1500 m3/s maka, pola aliran berubah menjadi dua arah.
Daftar Referensi
Euroconsult Mott MacDonald, Deltares | Delft Hydraulics, DHV, Wageningen UR, Witteveen+Bos, PT MLD and PT INDEC. 2008. Master Plan for the Rehabilitation and Revitalisation of the Ex-Mega Rice Project Area in Central Kalimantan. Palangka Raya, Central Kalimantan, Indonesia
Hooijer, Al., van der Vat, M., Prinsen, G., Vernimmen, R., Brinkman, J., Zijl, F., 2008. Hydrology of the EMRP Area: Water Management Implications for Peatlands. Master Plan for the Rehabilitation and Revitalisation of the Ex- Mega Rice Project Area in Central Kalimantan.
Masrevaniah, A dan Rusdiansyah, A., 2012. Hydrodynamic Modeling on the Secondary Channel of Irrigation Tidal Unit at South Kalimantan. J. Appl.
Environ. Biol. Sci., 2(6)183-192, 2012.
Suprianto, H., Sumarjo, G.I., Susanto,R.H., Suryadi, FX, Schultz, B. 2006.
Potentials and constraints of water management measures for tidal lowlands in South Sumatra, Case study in a pilot area in Telang I. 9 th Inter-Regional Conference on Environment-Water, Delft, the Netherlands.