Plagiarism Checker X Originality Report
Similarity Found: 16%
Date: Friday, June 18, 2021
Statistics: 2507 words Plagiarized / 15488 Total words
Remarks: Low Plagiarism Detected - Your Document needs Optional Improvement.
--- STABILITAS TANAH GAMBUT MENGGUNAKAN BOTTOM ASH ABU TANDAN SAWIT TERHADAP NILAI CALIFORNIA BEARING RATIO TUGAS AKHIR / OLEH : AFRIALDI NIM : 1722201041 PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS LANCANG KUNING PEKANBARU JUNI 2021 STABILITAS TANAH GAMBUT MENGGUNAKAN
BOTTOM ASH ABU TANDAN SAWIT TERHADAP NILAI CALIFORNIA BEARING RATIO TUGAS AKHIR Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Teknik / OLEH: AFRIALDI NIM : 1722201041 PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS LANCANG KUNING PEKANBARU JUNI 202 HALAMAN
PERNYATAAN TIDAK PLAGIAT Tugas akhir ini adalah hasil karya saya sendiri/tidak plagiat, dan semua sumber baik yang dikutip maupun dirujuk telah saya nyatakan dengan benar. Jika ternyata tidak benar saya bersedia untuk pembatalan gelar kesarjanaan yang telah saya peroleh.
Nama : Afrialdi NIM : 1722201041 Tanggal : 12 Juni 2021 (materai 6000) Tanda Tangan:
... LEMBAR PELAKSANAAN Judul : Stabilitas Tanah Gambut
Menggunakan Bottom Ash Abu Tandan Sawit dan Semen Terhadap Nilai California Bearing Ratio Nama : Afrialdi NIM : 1722201041 Program Studi : Teknik Sipil Telah berhasil dipertahankan di hadapan Tim Penguji pada hari Kamis tanggal 12 bulan Juni tahun 2021 Semester Genap Tahun Akademik 2020/2021. Disetujui, TIM PEMBIMBING Pembimbing I Pembimbing II Dr. Zainuri, S.T., M.T. Fitridawati Soehardi, S.T., M,T NIDN.
1025097002 NIDN.
1019068503 TIM PENGUJI Ketua Sekertaris Gusneli Yanti, S.T., M.T. Shanti Wahyuni Megasari, S.T., M,Eng NIDN. 1018087301 NIDN. 1018087301 Anggota Winayati, S.T., M.T NIDN. 1013046401 LEMBAR PENGESAHAN Judul : Stabilitas Tanah Gambut
Menggunakan Bottom Ash Abu Tandan Sawit dan Semen Terhadap Nilai California
Bearing Ratio Nama : Afrialdi NIM : 1722201065 Program Studi : Teknik Sipil Telah berhasil dipertahankan dihadapan Tim Penguji dan diterima sebagai bagian persyaratan yang diperlukan untuk memperoleh gelar Sarjana Strata Satu (S1) pada Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Lancang Kuning, sesuai dengan Berita Acara Nomor : 66/TS/Ad/2021 Disetujui Pembimbing I Pembimbing II Dr. Zainuri, S.T., M.T.
Fitridawati Soehardi, S.T., M,T NIDN. 1025097002 NIDN. 1019068503 Diketahui Dekan Ketua Program Studi Dr.
Zainuri, S.T., M.T. Fadrizal Lubis, S.T,. M.T. NIK. 0001198 NIK. 0001174 HALAMAN PERSEMBAHAN ...Yang Terutama Sekali... Puji Syukur kepada Allah SWT. Yang
memberikan kekuatan serta kesabaran kepada hamba-hambanya yang berjuang dan telah memberikanku kesehatan sehingga tuhas akhir ini dapat terselesaikam
Kupersembahkan karya sederhana ini kepada orang yang sangat kukasihi dan kusayangi ...Yang Tercinta...
Sebagai tanda bakti, hormat dan rasa terimakasih yang tiada terhingga
kupersembahkan karya kecil kepada Abak (Alwan) dan Amak (Rosma Dewi) yang akhirnya aku bisa menepati janjiku kepada kalian berdua untuk wisuda tahun ini. Aku bersyukur kepada Tuhan yang memberikankekuatan kepadaku dalam pembuatan skripsi ini dan terlebih memampukan aku untuk menepati janjiku untuk abak dan amak yang selalu mendoakan dan membuatku selalu semangat dalam mengerjakan semua perjuangan skripsi, dan keempat saudara/i untuk abang tercinta (Febrianto dan Edo Aldiansyah) buat adikku (Muhammad Riva) buat wanita yang saya kasihi dan cintai (Putri Rahmawati ).
Terimakasih telah memberikan semangat dan inspirasi dalam menyelesaikan Tugas Akhir ini. Semoga doa dan semua hal yang terbaik yang engkau berikan menjadikan saya orang yang baik... ...Dosen Pembimbing dan Penguji Tugas Akhir... Selaku dosen pembimbing tugas akhirku ibu Dr. Zainuri, S.T., M.T, Fitridawati Soehardi, S.T., M.T dan ibu Muthia Anggraiani, S.T., M.T, yang tidak kenal lelah memberikan ilmu, waktu, nasihat, pengarahan, dan penegertian sehingga terselesainya tugas akhir ini.
Dan untuk bapak/ibu penguji, bapak ibu Gusneli Yanti, S.T., ibu Shanti Megasari
Wahyuni, S.T., M.Eng dan Winayati S.T., M.T, yang telah memberikan saran dan masukan demi sempurnanya skripsi ini. Semoga ilmu dan keikhlasan yang telah bapakdanibu berikan semoga dibalas oleh Tuhan Yang Maha Esa, Amiiinn... ...Teman Sperjuangan...
Terimakasih saya ucapkan kepada teman sekaligus rekan seperjuanganku (Maifal Chan,Daniel gabe, Alam, Ahad, Amsal,Jupan,Mitroy, Hidayat, Anggi, Beye simangkulit dan Pandu) yang telah membantu pengerjaan skripsi ini dan juga terimakasih karena
kalian dapat memacu semangatku untuk segera lulus.Semoga teman seperjuangan kalian cepat menyusul yaa dan diberikan pekerjaan.
Amiiinn KATA PENGANTAR Segala puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya hingga penulis dapat
menyelesaikantugas akhir ini. Dalam penyelesaiantugas akhir ini penulis menyadari bahwa tanpa bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak sangatlah sulit bagi penulis untuk menyelesaikannya. Oleh karena itu, penulis ingin menyampaikan ucapan
terimakasih kepada: Bapak Dr. Zainuri S.T., M.T., selaku Dekan Fakultas Teknik Universitas Lancang Kuning Pekanbaru.
Bapak Fadrizal Lubis, S.T., M.T., selaku Ketua Program Studi Teknik Sipil Universitas Lancang Kuning Pekanbaru. Bapak Dr. Zainuri S.T., M.T., selaku Dosen Pembimbing I dan ibu Fitridawati Soehardi, S.T., M.T., selaku Dosen Pembimbing II yang telah membimbing dan membantu penulis dalam penyelesaian tugas akhir ini. Ibuk Gusneli Yanti S.T., M.T., selaku Dosen Ketua Penguji, Ibuk Winayati S.T., M.T., selaku Sekretaris Penguji, dan Ibuk Shanti Wahyuni Megasari, S.T., M.Eng., selaku Dosen Anggota Penguji yang telah
memberi bimbingan dan arahan dalam penyusunan Tugas Akhir ini. Kepada Pihak Laboratorium Mekanika Tanah Universitas Lancang Kuning yang telah memberikan izin melakukan pengujian untuk tugas akhir ini.
Akhir kata, penulis berharap Allah SWT membalas segala kebaikan kepada semua pihak yang telah membantu. Semoga tugas akhir ini membawa manfaat bagi penulis, dan membaca untuk pengembangan ilmu pengetahuan. Pekanbaru, 6 Juni 2021 Penulis HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI TUGAS AKHIR UNTUK
KEPENTINGAN AKADEMIS Sebagai civitas akademik Universitas Lancang Kuning, saya yang bertanda tangan dibawah ini : Nama : Afrialdi NIM : 1722201041 Program Studi : Teknik Sipil Strata-1 (S1) Fakultas : Teknik Demi pengembangan ilmu pengetahuan, menyetujui untuk memberikan kepada Fakultas Teknik Universitas Lancang Kuning Hak Bebas Royalti Noneksklusif (Non-exclusive Royalty-Free Right) atas tugas akhir saya yang berjudul : Stabilitas Tanah Gambut Menggunakan Bottom Ash Abu Tandan Sawit Terhadap Nilai California Bearing Ratio Beserta perangkat yang ada (jika
diperlukan).Dengan Hak Bebas Royalti Noneksklusif ini Fakultas Teknik Universitas Lancang Kuning berhak menyimpan, mengalih media/format-kan, mengelola dalam bentuk pangkalan data (database), merawat, dan mempublikasikan tugas akhir saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis/pencipta dan sebagai pemilik Hak Cipta.
Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenar-benarnya. Dibuat di : Pekanbaru
Pada Tanggal : 13 Juni 2021 Yang menyatakan, Afrialdi ABSTRAK Afrialdi. Stabilitas Tanah Gambut Menggunakan Bottom Ash Abu Tandan Sawit Terhadap nilai California Bearing Ratio. Dibimbing oleh ZAINURI dan FITRIDAWATI SOEHARDI. Tanah gambut merupakan tanah yang terbentuk dari sisa-sisa membusuknya tumbuhan dan tanah gambut juga termasuk salah satu jenis tanah yang berkualitas buruk jika digunakan sebagai dasar suatu bangunan. Akibatnya penururan tanah tidak seragam.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui persentase nilai CBR tanah gambut dengan variasi pencampuran abu tandan sawit. Jenis tanah yang digunakan pada penelitian ini adalah tanah gambut yang diambil dari jalan Air Hitam km.5 Pekanbaru, Riau. Dengan menguji persentase pemambahan Abu Tandan Sawit memakai variasi 5%, 10%, 15%, 20%,.
Metode yang digunakan dalampengujian laboratorium ini antara lain :Kadar abu, kadar serat, berat jenis, pemadatan dan CBR, dengan mengacu pada peraturan
SNI-6686-2002. Dari hasil pengujian kadar serat yang dilakukan di laboratorium pada tanah gambut asli yaitu tanah gambut hemic dengan serat murni berjumlah 54.2%, dan dari pengujian kadar abu senilai 6.49%.
Pengujian nilai CBR maksimum dilaboratorium dengan variasi abu tandan kelapa sawit 15% sebesar 2,26 %, nilai CBR yang didapat belum memenuhi Spesifikasi Umum Bina Marga CBR = 6%. Kesimpulannya variasi abu tandan kelapa sawit15% menghasilkan nilai CBR maksimum sebesar 2,26%. Kata kunci :Abu tandan kelapa sawit, Stabilisasi
tanah,Tanah gambut _ABSTRACT Afrialdi.
Peat Soil Stability Using Bottom Ash Ash of Palm Oil Bunches Against the value of California Bearing Ratio. Supervised by ZAINURI and FITRIDAWATI SOEHARDI. Peat soil is soil formed from the remains of decaying plants and peat soil is also one of the types of soil that is of poor quality when used as the basis of a building. As a result, soil subsidence is not uniform.
The purpose of this study was to determine the percentage of the CBR value of peat soil with variations in the mixing of palm bunch ash. The type of soil used in this study is peat soil taken from the Air Hitam road km.5 Pekanbaru, Riau. By testing the percentage of palm ash addition using variations of 5%, 10%, 15%, 20%,.
The methods used in this laboratory test include: ash content, fiber content, specific gravity, compaction and CBR, with reference to SNI-6686-2002 regulations. From the results of fiber content testing carried out in the laboratory on native peat soil, namely hemic peat soil with pure fiber amounting to 54.2%, and from testing the ash content of
6.49%. Testing the maximum CBR value in the laboratory with 15% palm oil bunch ash variation of 2.26%, the CBR value obtained does not meet the General Specifications of Highways CBR 6%.
In conclusion, the 15% palm oil bunch ash variation resulted in a maximum CBR value of 2.26%. Keywords: Oil palm bunch ash, Soil stabilization, Peat soil DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL i HALAMAN PERNYATAAN TIDAK PLAGIAT iii LEMBAR PELAKSANAAN iv LEMBAR PENGESAHAN v HALAMAN PERSEMBAHAN vi KATA PENGANTAR vii
HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI viii ABSTRAK ix DAFTAR ISI xi DAFTAR GAMBAR xiv DAFTAR TABEL xv DAFTAR NOTASI xvii DAFTAR LAMPIRAN xviii BAB 1. PENDAHULUAN 1 1.1. Latar Belakang 1 1.2. Identifikasi Masalah 3 1.3. Batasan Masalah 3 1.4. Rumusan Masalah 3 1.5.
Tujuan dan Manfaat 3 BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA 4 2.1. Tanah Gambut 4 2.1.1.
Klasifikasi tanah gambut 5 2.1.2. Sifat fisik tanah gambut 6 2.1.3. Permasalahan terhadap tanah gambut 8 2.2. Stabilitas Tanah Gambut 9 2.2.1. Pengertian stabilitas tanah 9 2.2.2.
Indikator stabilitas tanah gambut 10 2.3. Tandan Sawit 11 2.4. Abu Limbah Tandan Kelapa Sawit 12 2.5. Bottom Ash Abu Tandan Sawit 13 2.6. California Bearing Ratio 14 2.7. Penelitian Terdahulu 16 BAB 3.
METODE PENELITIAN 18 3.1. Lokasi Penilitian 18 3.2. Pengumpulan Data 18 3.2.1. Alat pengujian 18 3.2.2. Karakteristik Material 19 3.3. Metode analisis Data 19 3.3.1.
Rancangan sampel 19 3.3.2. Analisis perhitungan 20 3.4. Bagan Alir Penelitian 23 BAB 4.
PEMBAHASAN 24 4.1. Hasil 24 4.2. Karakteristik Tanah Asli 24 4.2.1. Pengujian tanah asli 24 4.2.2. Pengujian kadar serat 25 4.2.3. Pengujian kadar abu 26 4.2.4.
Pengujian berat jenis tanah gambut 27 (Sumber : pengolahan data 2021) 28 4.2.5.
Pengujian pemadatan tanah gambut 28 4.2.6. Pengujian California Bearing Ratio 30 4.3.
Analisis Pengujian Tanah Gambut + Variasi Abu Tandan Sawit 5% 33 4.3.1. Pengujian berat jenis tanah gambut + 5% ATS 34 4.3.2. Pengujian pemadatan tanah gambut + 5%
ATS 35 4.3.3. Pengujian CBR tanah gambut + 5% ATS 35 4.4.
Analisis pengujian tanah gambut + 10% ATS 39 4.4.1. Pengujian berat jenis tanah gambut +10% ATS 39 4.4.2. Pengujian pemadatan tanah gambut + 10% ATS 39 4.4.3.
Pengujian CBR tanah gambut + 10% ATS 40 4.5. Analisis Pengujian Tanah Gambut + 15% ATS 44 4.5.1. Pengujian berat jenis tanah gambut +15% ATS 45 4.5.2. Pengujian pemadatan tanah gambut + 15% ATS 45 4.5.3. Pengujian CBR tanah gambut + 15% ATS 45 4.6. Analisis Pengujian Tanah Gambut + 20% ATS 49 4.6.1.
Pengujian berat jenis tanah gambut + 20% ATS 50 4.6.2. Pengujian pemadatan tanah
gambut + 20% ATS 51 4.6.3. Pengujian CBR tanah gambut + 20% ATS 51 4.7. Analisis pengujian CBR 55 4.8. Pembahasan 57 BAB 5. PENUTUPAN 59 5.1 Kesimpulan 59 5.2 Saran 59 DAFTAR PUSTAKA 60 LAMPIRAN
DAFTAR GAMBAR Halaman Gambar 2. 1 Terbentuknya Tanah Gambut 4 Gambar 2. 2 Tandan Kelapa Sawit 11 Gambar 2. 3 Alat CBR 15 Gambar 2. 4 Skema Pengujian CBR 16 Gambar 3.
1 Lokasi Penelitian 18 Gambar 3.2 Bagan Alir Penelitian 23 Gambar 4. 1 Grafik
pemadatan tanah gambut 29 Gambar 4. 2 Grafik CBR tanah gambut asli 31 Gambar 4. 3 Grafik CBR dan pemadatan tanah gambut asli 32 Gambar 4. 4 Grafik pemadatan tanah gambut + 5% ATS 34 Gambar 4. 5 Grafik CBR tanah gambut + 5% ATS. 36 Gambar 4. 6 Grafik CBR dan pemadatan tanah gambut + 5% ATS 37 Gambar 4. 7 Grafik pemadatan tanah gambut + 10% ATS 40 Gambar 4.
8 Grafik CBR tanah gambut + 10% ATS 42 Gambar 4. 9 Grafik hubungan CBR dan
pemadatan tanah gambut + 10% ATS 43 Gambar 4. 10 Grafik pemadatan tanah gambut + 15% ATS 46 Gambar 4. 11 Grafik CBR tanah gambut + 15% ATS 48 Gambar 4. 12 Grafik hubungan CBR dan pemadatan tanah gambut + 15% ATS 49 Gambar 4. 13 Grafik pemadatan tanah gambut + 20% ATS 51 Gambar 4.
14 Grafik pengujian CBR + 20% ATS 53 Gambar 4. 15 Hubungan pemadatan dan CBR + 20% ATS 54 Gambar 4. 16 Grafik Hasil Pengujian CBR tanah gambut variasi bottom ash abu tandan sawit 55 DAFTAR TABEL Halaman Tabel 2. 1 Parameter Klasifikasi Tanah Gambut 6 Tabel 2. 2 Warna tanah 7 Tabel 2. 4. Komposisi kimia pada tandan kelapa sawit 12 Tabel 3. 1 Jumlah Benda Uji 20 Tabel 4. 1 Rekap pengujian gambut asli 25 Tabel 4.
2 Kadar serat 26 Tabel 4. 3 Kadar abu 27 Tabel 4. 4 Berat jenis 28 Tabel 4. 5 Pembacaan arloji CBR 30 Tabel 4. 6 Kadar air 30 Tabel 4. 7 Berat isi kering 31 Tabel 4. 8 Harga CBR 31 Tabel 4. 9 Rekap pengujian tanah gambut asli 32 Tabel 4. 10 Rekap pengujian
gambut + 5% ATS 33 Tabel 4. 11 Pengujian berat jenis gambut + 5% ATS 33 Tabel 4. 12 Pembacaan arloji 35 Tabel 4. 13 Kadar air 36 Tabel 4. 14 Berat isi kering 36 Tabel 4.
15 Harga CBR 37 Tabel 4. 16 Rekap pengujian CBR + 5% ATS 37 Tabel 4. 17 Rekap pengujian gambut + 10% 38 Tabel 4. 18 Pengujian berat jenis gambut + 10% ATS 39 Tabel 4. 19 Pembacaan arloji 41 Tabel 4. 20 Kadar air 41 Tabel 4. 21 Berat isi kering 41 Tabel 4. 22 Harga CBR 42 Tabel 4. 23 Rekap pengujian CBR + 10% ATS 43 Tabel 4. 24 Rekap pengujian gambut + 15% 44 Tabel 4.
25 Pengujian berat jenis gambut + 15% ATS 45 Tabel 4. 26 Pembacaan arloji 47 Tabel 4.
27 Kadar air 47 Tabel 4. 28 Berat isi kering 47 Tabel 4. 29 Harga CBR 48 Tabel 4. 30 Rekap pengujian gambut + 15% ATS 49 Tabel 4. 31 Rekap pengujian gambut + 20% 50 Tabel 4. 32 Pengujian berat jenis + 20% ATS 50 Tabel 4. 33 Pembacaan arloji 52 Tabel 4.
34 Kadar air 52 Tabel 4. 35 Berat isi kering 52 Tabel 4. 36 Harga CBR 53 Tabel 4.
37 Rekap pengujian gambut + 20% ATS 54 Tabel 4. 38 Hasil Pengujian CBR tanah gambut variasi bottom ash abu tandan sawit 55 DAFTAR NOTASI W = Berat “tanah basah Wb = Kadar air tanah W1 (gr) = Berat cawan + berat tanah basah W2 (gr) = Berat cawan + berat tanah kering W1 = Berat cawan W2 = Berat tanah basah W3 = Berat tanah kering Gs = Berat volume butiran padat Gw = Berat volume air DAFTAR
LAMPIRAN Lampiran 1 Berita Acara Seminar Lampiran 2 Lembar Asistensi Lampiran 3 Data Penelitian Lampiran 4 Dokumentasi Penelitia
BAB 1.
PENDAHULUAN Latar Belakang Tanah gambut merupakan tanah yang terbentuk dari sisa-sisa membusuknya tumbuhan dan tanah gambut juga termasuk salah satu jenis tanah yang berkualitas buruk jika digunakan sebagai dasar suatu bangunan. Tanah gambut dikenal sebagai tanah yang angka pori dan kadar airnya sangat tinggi sehingga daya dukungnya sangat rendah dan kemampumampatannya sangat tinggi.
Untuk itu diperlukan perbaikan agar dapat mendukung beban besar dan tidak
memampat bila dibebani (Mochtar, N, E., dkk, 2014). Permasalahan tanah gambut ini sudah ada beberapa penelitian terkait yang mengkaji dan melakukan penelitian menggunakan berbagai macam metode, salah satu metode yang akan digunakan adalah dengan penambahan bottom ash abu tandan sawit dan semen sebagai campuran pada tanah gambut untuk mendapatkan nilai CBR optimum.
Areal perkebunan kelapa sawit tersebar di 26 provinsi yaitu seluruh provinsi di Pulau Sumatera dan Kalimantan, Provinsi Jawa Barat, Banten, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Barat, Gorontalo, Maluku, Maluku Utara, Papua dan Papua Barat. Dari ke 26 provinsi tersebut, Provinsi Riau merupakan provinsi dengan areal perkebunan kelapa sawit terluas di Indonesia yaitu 2,71 juta hektar pada tahun 2018 atau 18,89 persen dari total luas areal perkebunan kelapa sawit di Indonesia.
Pada tahun 2019, luas areal perkebunan kelapa sawit di Provinsi Riau diperkirakan meningkat menjadi 2,82 juta hektar (BPS-Statistics Indonesia, 2010). Sebagaimana yang kita ketahui bahwa limbah abu tandan sawit sangat berpengaruh terhadap lingkungan sekitar sehingga perlu di daur ulang dan di manfaatkan sebagai bahan untuk stabilisasi tanah ekspansif dan dengan memanfaatkan bottom ash abu tandan sawit sebagai bahan tambahan terhadap stabilisasi tanah gambut.
Seperti yang kita ketahui menurut Mubekti, (2011) wilayah Kabupaten utama yang mempunyai penyebaran lahan gambut yang luas adalah Kabupaten Indragiri Hilir, Bengkalis, Dumai, Pelalawan, Rokan Hilir, Siak, Pekanbaru, dan Meranti. Menurut Bowles (1984) apabila tanah yang terdapat di lapangan bersifat sangat lepas atau sangat mudah tertekan atau apabila mempunyai indeks konsistensi yang tidak sesuai, permeabilitas yang terlalu tinggi atau sifat lain yang tidak diinginkan sehingga tidak sesuai untuk suatu proyek pembangunan, maka tanah tersebut harus distabilisasikan.
Stabilisasi tanah gambut yang banyak digunakan adalah stabilisasi mekanis dan stabilisasi kimiawi. Stabilisasi mekanis yaitu penambahan kekuatan atau daya dukung tanah dengan jalan mengatur gradasi tanah yang dimaksud. Usaha ini biasanya
menggunakan sistem pemadatan tanah.
Pemadatan merupakan stabilisasi tanah secara mekanis, pemadatan dapat dengan berbagai jenis peralatan mekanis seperti mesin gilas, benda berat dijatuhkan, ledakan, tekanan statis dan sebagainya. Penelitian ini merupakan lanjutan dari permasalahan yang sering ditemui pada tanah gambut yang memiliki kondisi daya dukung rendah, salah satu cara mengatasi permasalahan ini adalah dengan meningkatkan daya dukung tanah dengan cara stabilisasi tanah menggunakan bottom ash abu tandan kelapa sawit.
Menurut Wulandari, (2021) sampel tanah gambut untuk pengujian CBR di rancang berdasarkan 3 variasi campuran 5%, 10%, 15% untuk penambahan bottom ash abu tandan sawit. Dari penelitian tersebut untuk tanah asli didapatkan nilai CBR sebesar 0,2475%, variasi 5% peningkatan menjadi 0,433%, variasi 10% peningkatan menjadi 0,629%, dan pada variasi 15% terjadi peningkatan menjadi 0,729%. Menurut U.
Nugroho, (2008) nilai CBR maksimum pada stabilitas tanah gambut sebesar 8.98% pada penambahan 15% gypsum dan 5% semen dengan perawatan 7 hari.
Sehingga Penelitian akan melanjutkan penelitian dengan jenis gambut yang berbeda, variasi bottom ash Abu tandan kelapa sawit , dimana pada penelitian ini bottom ash Abu tandan kelapa sawit digunakan sebagai campuran kimiawi yang memiliki silica, Lignin dan pozzolan sebagai pengikat . Identifikasi Masalah Adapun permasalahan yang terjadi pada tanah gambut yang berada di sekitar kota Pekanbaru adalah sebagai
berikut: Bagaimanakah nilai California bearing ratio (CBR) tanah gambut dengan penambahan bottom ash abu tandan sawit .
Berapakah kadar serat, kadar abu dan daya serap pada tanah gambut jika ditambahkan campuran bottom ash abu tandan sawit . Apakah limbah bottom ash abu tandan sawit dapat menambah kualitas tanah. Bagaimanakah pengaruh penggunaan tanah gambut dengan penambahan bottom ash abu tandan sawit pada suatu konstruksi jalan.
Bagaimana pengujian terhadap tanah permukaan.
Batasan Masalah Dari identifikasi masalah yang ada, masalah dibatasi hanya untuk menganalisis nilai CBR pada tanah gambut terhadap penambahan bottom ash abu tandan sawit terhadap tanah permukaan. Rumusan Masalah Rumusan masalah
penelitian ini adalah bagaimana nilai CBR tanah gambut dengan penambahan bottom ash abu tandan sawit ?.
Tujuan dan Manfaat Tujuan penelitian yang dilakukan adalah untuk menghitung CBR pada tanah gambut terhadap campuran bottom ash abu tandan sawit . Manfaat dari penelitian yang dilakukan adalah: Bagi perusahaan sawit terkait dapat mengurangi
dampak buruk terhadap permasalahan limbah bottom ash abu tandan sawit tersebut.
Bagi Perencana sebuah bangunan gedung ataupun jalan dapat mengetahui proses penggunaan bottom ash abu tandan sawit terhadap tanah gambut serta dapat meminimalisir resiko pekerjaan yang berlokasi di daerah tanah gambut.
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA Tanah Gambut Tanah merupakan dasar dari suatu konstruksi bangunan sipil yang berfungsi menerima dan menahan beban dari suatu struktur di atasnya.
Pada tanah yang lunak terdapat dua masalah pokok. Pertama, masalah daya dukung tanah yang rendah. Kedua, masalah penurunan yang besar. (Indera K, Mina, dan Rahman, 2016). Gambut adalah lahan yang basah terbentuk dari timbunan materi organik yang berasal dari sisa-sisa pohon, rerumputan, lumut, dan jasad hewan yang membusuk.
Timbunan tersebut menumpuk selama ribuan tahun hingga membentuk endapan yang tebal. Pada umumnya, gambut ditemukan di area genangan air, seperti rawa, cekungan antara sungai, maupun daerah pesisir, tanah gambut (peat soil) adalah tanah yang pada umumnya terjadi dari fragmen- fragmen material organik yang berasal dari
tumbuh-tumbuhan dan mempunyai kadar organik yang tinggi (ASTM, 1984).
Adapun siklus terbentuknya tanah gambut dapat dilihat pada gambar 2.1 / Gambar 2. 1 Terbentuknya Tanah Gambut (Sumber : Mochtar dkk., 2014) Tanah gambut dikenal sebagai tanah yang angka pori dan kadar airnya sangat tinggi maka daya dukungnya sangat rendah dan kemampuan pemampatannya sangat tinggi, untuk itu diperlukan perbaikan agar dapat mendukung beban besar dan tidak memampat bila dibebani.
Menurut Nugroho, U.,
(2008) tanah gambut merupakan tanah dengan sifat yang kurang baik, yang sangat tidak ekonomis apabila dijadikan tanah dasar (subgrade) suatu perkerasan jalan. Hal ini yang meyebabkan banyak kerusakan-kerusakan pada suatu perkerasan jalan sehingga tanah gambut tidak baik bagi konstruksi bangunan dikarenakan kualitas tanahnya yang tidak baik. Klasifikasi tanah gambut Menurut Escobar, D., (2011) Klasifikasi tanah gambut secara umum merupakan tanah organosol atau histosol.
Tanah organosol atau histosol adalah tanah yang memiliki lapisan bahan organik dengan berat jenis dalam keadaan lembab < 0,1 g/cm3 dengan tebal > 60 cm atau lapisan organik dengan berat jenis > 0,1 g/cm3 dengan tebal > 40 cm. Menurut Darmawijaya (1990) membedakan klasifikasi tanah organik menjadi tiga: 1. Tanah gambut, mengandung bahan organik lebih dari 65 % 2. Tanah bergambut (peat soil), kandungan bahan organiknya antara 65%-5% 3.
Tanah humus, kandungan tanah organiknya antara 35%-15%. Menurut Sasli, I., (2011) tingkat kematangan gambut dapat dibedakan atas tiga dasar, pertama fibrik yaitu bahan organik yang terdekomposisi yang memiliki serat sebanyak 2/3 volume, porositas tinggi,
daya memegang air tinggi, kedua hamik yaitu bahan organik yang memiliki tingkat kematangan antara fibrik dan saprik dengan kandungan seratnya 1/3-2/3 volume, ketiga saprik yaitu sebagain besar bahan organik telah mengalami dekomposisi yang memiliki serat kurang dari 1/3 denagn bobot isi yang lebih besar dari fabrik.
Untuk membedakan ketiga tingkat kematangan gambut tersebut terdapat beberapa cara salah satunya yaitu melaluimengamati warna tanah. Jenis tanah gambut fabrik berwarna hitam muda, gambut hemik hitam agak gelap, dan gambut saprik berwarna hitam dan sangat gelap. Parameter klasifikasi tanah gambut dalam ilmu mekanika tanah di tentukan sesuai aturan ASTM D 4427 seperti yang terdapat pada tabel 2.1 Tabel 2.
1 Parameter Klasifikasi Tanah Gambut No _Standar ASTM D 4427 _ _1 _Kadar abu _ _a.
_Low Ash _<5% _ _b. _Medium Ash _5%-15% _ _3 _High Ash _>15% _ _B _Kadar Serat _ _1 _Fabric _>67% _ _2 _Hemic _33%-67% _ _3 _Sapric _<33% _ _C _Kemampuan
Menyerap Air _ _ _1 _Extrimeely absorbent _>1500% _ _2 _Highly absorbent
_800%-1500% _ _3 _Moderately absorbent _>300% dan <800% _ _4 _Slihtly absorbent _<300% _ _(Sumber : ASTM D 4427, ) Mengetahui berbagai macam klasifikasi tanah gambut tersebut dapat di lakukan pengujian laboratorium menggunakan pengujian langsung terhadap tanah gambut, tanah gambut yang sudah diambil menggunakan metode pengujian tanah gambut dan memakai proses perendaman, pembakaran dan penurunan ketinggian air.
Sifat fisik tanah gambut Penentuan sifat fisik tanah gambut merupakan bagian dari morfologi tanah yang dapat dipelajari dan diamati dilapangan serta di laboratorium, pengamatan sifat fisik tanah gambut ini perlu diamati dikarenakan sangat penting bagi suatu konstruksi pengerjaan jalan dan gedung yang terdapat tanah gambut sebagai tanah dasarnya dikarenakan pengamatan ini berpengaruh besar terhadap tingkat kematangan, tekstur, dan kosistensi tanah gambut dalam menahan beban struktur di atasnya . Menurut Suswati, D.,(2011) sifat fisik tanah dikelompokkan menjadi
satuan-satuan lahan atau satuan peta tanah (SPT).
SPT adalah kelompok lahan yang mempunyai sifat-sifat yang sama atau hampir sama, yang penyebarannya digambarkan dalam peta sebagai hasil dari suatu survei sumber daya alam. Warna tanah Warna tanah merupakan salah satu petunjuk untuk beberapa sifat tanah karena warna tanah sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor yang terdapat dalam tanah tersebut, perbedaan warna tanah umumnya disebabkan oleh perbedaan kandungan bahan organik, semakin tinggi kandungan bahan organik maka warna tanah akan semakin gelap.
Menurut Suswati, D, dkk., (2011) dari hasil pengamatannya terhadap satuan peta tanah
(SPT) didapat hasil seperti yang terdapat pada tabel 2.2 Tabel 2. 2 Warna tanah SPT _Kedalaman Tanah (CM) _Warna Tanah _Keterangan _ _1 _0-70 _(7,5YR 2/3) _Cokelat Kehitaman _ _ _70-120 _(7,5YR 3/3) _Cokelat Gelap _ _2 _ 0-82 _(10YR 4/4) _Cokelat Gelap Kekuningan _ _ _82-124 _(10YR 3/3) _Cokelat Gelap _ _ _124-150 _(10YR 4/1) _Abu-abu gelap _ _3 _0-15 _(10YR 2/3) _Cokelat Kehitaman _ _ _15-50 _(7,5YR 2/3) _Cokelat Gelap _ _ _50-120 _(10YR 4/1) _Abu-abu gelap _ _4 _0-54 _(10YR 2/1) _Cokelat Kehitaman _ _ _54-120 _(7,5YR 4/1) _Cokelat gelap _ _5 _0-22 _(7,5YR 3/4) _Cokelat gelap _ _ _22-67 _(7,5YR 4/3) _Cokelat _ _ _67-96 _(10YR 4/1) _Abu-abu gelap _ _ _96-120 _(10YR 5/1) _Abu-abu _ _(Sumber : Suswati dkk.,
2011) Tekstur tanah Tekstur tanah merupakan hal yang penting dalam mengidentifikasi sifat tanah gambut dikarenakan tekstur pada tanah gambut dapat memegang
kemampuan dalam penyerapan air, tekstur berpengaruh terhadap kemampuan tanah dalam permeabilitas, kemudahan pengolahan tanah, daya menahan air dan hara serta berpengaruh pula terhadap kemampuan tanah dalam kuat geser tanah.
Tekstur tanah sangat mempengaruhi kemampuan tanah dalam memegang kendali air, tanah bertekstur liat memiliki kemampuan yang lebih besar dalam memegang air daripada tanah bertekstur pasir hal ini terkait dengan luas permukaan adsorptifnya.
Semakin halus teksturnya akan semakin besar kapasitas menyimpan airnya (Haridjaja, dkk., 2013). Menghitung tekstur tanah menurut Sampurno dkk.,
(2013), dihitung berdasarkan segmen tanah gambut yang ditinjau menggunakan program analisi fraktal, didapatkan hasil nilai dimensi menunjukan bahwa tingkat keteraturan tekstur segmen tanah gambut seluruh sampel bervariasi. Tingkat
keteraturan pola tekstur seluruh segmen tanah gambut dari yang paling teratur hingga yang paling tidak teratur secara berturut-turut.
Konsistensi tanah Menentukan sifat fisik tanah gambut perlu memahami konsistensi dari setiap tanah gambut untuk mengetahui keampuan daya lekat pada tanah gambbut tersebut, konsistensi tanah menunjukkan kekuatan daya kohesi butir-butir tanah atau daya adhesi butir-butir tanah dengan benda lain. Hal ini ditunjukkan oleh daya tahan tanah terhadap gaya yang akan mengubah bentuk.
Permasalahan terhadap tanah gambut Menurut Daryono, (2009) Ada beberapa permasalahan yang terjadi akibat dari tanah gambut : 1. Bahwa tanah gambut merupakan habitat gambut yang mempunyai kandungan hara mineral yang sangat miskin, baik unsur hara esensial, khususnya unsur mikro (Cu dan Zn) sangat kurang.
Hara mineral pada lahan rawa gambut lebih dari 80% terikat pada biomassanya (batang, ranting daun dan perakaran).
Selain itu, tingkat dekomposisinya rendah karena adanya penggenangan air. Dengan demikian adanya penebangan, berarti memindahkan nutrisi keluar habitat yang semakin memiskinkan lahan gambut tersebut. 2. Pemanasan langsung dari sinar matahari dapat menyebabkan irreversible drying (kering, yang tidak dapat balik) pada permukaan lapisan gambut dan akan berubah menjadi dry pellet (hydrophobic peat soil yang artinya tidak ada aktifitas biologi yang mungkin dapat hidup di situ.
Panas matahari dapat mencapai lebih dari 70 derajat Celcius dan hal ini akan
menyebabkan irreversible drying. Penambahan abu vulkan dan pasir pada permukaan gambut akan mencegah naiknya temperatur tanah, namun hal ini memerlukan biaya yang mahal, karena membutuhkan sekitar 40 ton tanah/ha. 3.
Kebakaran yang sering terjadi pada lahan gambut akan menghilangkan mineral dan nutrisi lahan gambut, sedang abunya akan mudah tercuci pada lapisan akar. Stabilitas Tanah Gambut Pengertian stabilisasi tanah adalah usaha untuk memperbaiki sifat-sifat tanah asli tanah agar tanah tersebut sesuai atau memenuhi syarat untuk dipergunakan sesuai fungsinya. Sifat-sifat tanah dapat diperbaiki secara ekonomis dengan
menggunakan bahan campuran (Nugroho, A., 2016).
Pengertian stabilitas tanah Salah satu pembangunan yang sudah dan sedang dilakukan di Indonesia adalah pembangunan dibidang transportasi, didalam praktek lapangannya sering dijumpai permasalahan yang terjadi dari konstruksi jalan yaitu jenis tanah yang digunakan sebagai tanah dasar (subgrade), jenis tanah yang kurang menguntungkan pada konstruksi jalan adalah tanah gambut, maka dengan demikian perlu dilakukan stabilisasi tanah gambut untuk memperbaiki sifat-sifat tanah gambut.
Stabilitas tanah adalah usaha untuk meningkatkan stabilitas dan daya dukung tanah, Menurut Indera K, dkk., (2016) apabila tanah yang terdapat di lapangan bersifat lepas atau sangat mudah tertekan, atau apabila mempunyai indeks konsistensi yang tidak sesuai, permeabilitas terlalu tinggi, atau sifat lain yang tidak diinginkan sehingga tidak sesuai untuk suatu proyek pembangunan, maka harus dilakukan stabilisasi tanah, salah satu campuran yang dapat digunakan dalam stabilitas tanah gambut ialah dengan penambahan abu tandan sawit sebagai bahan stabilisasinya, abu tandan sawit
digunakan agar dampak dari limbah abu tandan sawit dapat digunakan sebagai salah satu bahan tambahan terhadap stabilitas tanah gambut.
Indikator stabilitas tanah gambut Indikator stabilitas tanah gambut menurut S.
Nugroho,. (2016) indikator stabilitas tanah dibagi menjadi 2 metode stabilitas. Stabilitas mekanis Stabilitas mekanis adalah penambahan kekuatan atau daya dukung tanah
dengan jalan mengatur gradasi tanah yang dimaksud, usaha ini biasanya menggunakan sistem pemadatan dan CBR.
Pemadatan merupakan stabilisasi tanah secara mekanis, pemadatan dapat dengan berbagai jenis peralatan mekanis seperti mesin gilas (roller), benda berat yang dijatuhkan, ledakan, tekanan statis, dan sebagainya, sedangkan CBR merupakan pemberian penetrasi suatu lapisan tanah atau perkerasan terhadap bahan standar dengan kedalaman dan kecepatan penetrasi yang sama.
Stabilitas kimiawi Stabilitas tanah secara kimiawi adalah panambahan bahan stabilisasi yang dapat mengubah sifat-sifat kurang menguntungkan dari tanah, biasanya
digunakan untuk tanah yang berbutir halus. Bahan yang digunakan untuk stabilisasi tanah disebut stabilizing agent karena setelah diadakan pencampuran dengan zat kimiawi menyebabkan terjadinya stabilisasi propertis pada tanah. 2.3.
Tandan Sawit Tandan kelapa sawit (TKS) merupakan salah satu limbah padat yang dihasikan oleh industri perkebunan kelapa sawit yang banyak mengandung serat, ditinjau dari komposisi kimianya, TKS mempunyai potensi untuk digunakan sebagai sumber bahan kimia yaitu lignin. Lignin dapat dimanfaatkan secara komersial sebagai bahan pengikat, perekat, pengisi, surfaktan, produk polimer, dispersan dan sumber bahan kimia lainnya (Harmaja S, dkk., 2012).
Ketersediaan kelapa sawit cukup signifikan bila ditinjau berdasarkan rerata nisbah produksi tandan kelapa sawit terhadap total jumlah tandan buah segar TBS yang diproses. Rerata produksi tandan kelapa sawit adalah berkisar 22% hingga 24% dari total berat tandan buah segar yang diproses di Pabrik Kelapa Sawit (Lumban Gaol, dkk, 2013).
Adapun tandan kelapa sawit dapat dilihat pada gambar 2.2 dan sifat kimia tandan kelapa sawit dapat dilihat dari tabel 2.3. Dari tabel 2.3 dapat diamati bahwa abu tandan sawit yang dihasilkan dari komposisi kimia didapatkan 1,6% abu. / Gambar 2. 2 Tandan Kelapa Sawit (Sumber : Lumban Gaol, dkk., 2013) Tabel 2. 4.
Komposisi kimia pada tandan kelapa sawit No _Komposisi Kimia _Komposisi (%) _ _1 _Lignin _22,60 _ _2 _Pentosan 3 _25,90 _ _3 _a- selulosa _45,80 _ _4 _Holoselulosa _71,88 _ _5 _Abu _1,6 _ _6 _Pektin _12,85 _ _7 _Kelarutan dalam: _ _ _ _a. 1% NaOH _19,50 _ _ _Air dingin _13,89 _ _ _Air panas _2,50 _ _ _Alkohol-benzen _4,20 _ _(Sumber :Sasli, I .,2011) 2.4.
Abu Limbah Tandan Kelapa Sawit Abu limbah Tandan kelapa sawit (TKS) adalah abu sisa
pembakaran tandan yang berupa butiran halus ringan. Kandungan abu terbang Selulosa 41,3%- 46,5% (C6H10O5)n, hemi selulosa 25,3%-32,5% dan mengandung lignin
27,6%-32,5%, sebagian besar terdiri dari silikat dioksida (SiO2), alumina kalsium (CaO), dan sulfur dalam jumlah yang lebih sedikit.
Tandan kelapa sawit (TKS) memiliki potensi besar menjadi sumber biomassa selulosa dengan kelimpahan cukup tinggi dan sifatnya yang terbarukan. TKS merupakan hasil samping dari pengolahan minyak kelapa sawit yang pemanfaatannya masih terbatas sebagai pupuk, dan media bagi pertumbuhan jamur serta tanaman. Data bahwasanya sebuah pabrik dengan kapasitas pengolahan 12,7 juta ton/jam, waktu operasi selama 1 jam, maka akan dihasilkan sebanyak 2,3 juta ton TKS.
Total limbah TKS seluruh Indonesia, 2004 diperkirakan mencapai 18,2 juta ton (Kamal, 2012). Abu merupakan bahan anorganik sisa pembakaran biomassa dan terbentuk dari perubahan bahan mineral karena proses pembakaran. Ada 2 jenis abu yang dihasilkan dari proses pembakaran yaitu abu terbang (fly ash) dan abu dasar (bottom ash).
Fly ash merupakan padatan dari sisa pembakaran yang terbawa bersama gas buangan dan ditangkap oleh alat pengendali udara (Electric Precipitator) sebelum dibuang ke udara melalui cerobong, bottom ash merupakan abu yang telah mengalami proses penggilingan dari kerak pada proses pembakaran cangkang dan serat buah pada suhu 700 ? sampai 800 ? pada dapur tungku boiler (Putra, J,. 2017). Menurut Yuliana, R, dkk,.
(2014) Abu boiler dibedakan menjadi 2 jenis yaitu abu dasar (bottom ash) dan abu terbang (fly ash) 1. Kerak boiler (bottom ash) abu hasil pembakaran boiler yang tidak tertampung pada dust collector. Abu dasar tertinggal pada oven pembakar sebagai butiran abu padat atau leburan kerak yang memadat.
Ukuran BA relatif besar sehingga memiliki bobot yang terlalu berat untuk dibawa oleh gas buang dan umumnya terkumpul pada dasar atau pun disekitar oven pembakar. 2.
Abu terbang (fly ash) cangkang dan fiber kelapa sawit merupakan limbah padat utama hasil pembakaran boiler. Limbah fly ash kelapa sawit ini memiliki sifat-sifat fisik yang ditentukan oleh komposisi dan sifat-sifat mineral pengotor dalam cangkang kelapa sawit serta proses pembakarannya, kondisi ini menghasilkan abu dengan
butiran-butiran yang sangat halus berwarna gelap dan bobot yang lebih ringan dibandingkan abu bottom ash. 2.5.
Bottom Ash Abu Tandan Sawit Menurut Yuliana, R, dkk., (2014) Abu tandan sawit atau disebut juga Palm Oil Fuel Ash (POFA) merupakan masalah bagi industri kelapa sawit karena memerlukan lahan pembuangan yang luas. Jumlah POFA yang meningkat setiap
tahunnya dapat mengancam kelestarian lingkungan.
Salah satu cara menekan jumlah POFA dan mencegah kerusakan lingkungan adalah dengan memanfaatkan POFA sebagai bahan stabilisasi tanah. Kandungan Bottom Ash Abu Tandan Sawit menurut Yuliana dkk., (2014) salah satu abu limbah tandan sawit yang komposisi kimianya mengandung kadar silika dan lignin yang tinggi dan berpotensi memiliki daya rekat.
Bottom ash abu sawit yang disebut juga dengan dihasilkan dari pembakaran limbah padat kelapa sawit pada suhu sekitar 800 - 1.000°C pada pembangkit listrik tenaga uap di pabrik kelapa sawit (Tangchirapat, 2009). Abu dasar atau yang dikenal juga dengan istilah bottom ash merupakan limbah padat yang dihasilkan dari hasil pembakaran abu tandan sawit, karena perkembangan sawit di Indonesia yang terus berkembang maka akan berdampak pada meningkatnya limbah padat yang dihasilkan dari pembakaran abu tandan sawit yang dapat menyebabkan pencemaran akibat pembakaran tersebut.
California Bearing Ratio Kuat tekan bebas adalah besarnya beban aksial persatuan luas.
Metode ini dimaksudkan sebagai acuan melakukan pengujian kuat tekan bebas tanah kohesif, dengan tujuan untuk memperoleh nilai kuat tekan bebas optimum. Pada pengujian kualitas terhadap tanah terganggu sering juga disebut dengan pengujian California Bearing Ratio (CBR). Pengujian CBR adalah perbandingan antara beban penetrasi suatu lapisan tanah atau perkerasan terhadap bahan standar dengan
kedalaman dan kecepatan penetrasi yang sama, nilai CBR adalah perbandingan (dalam persen) antara tekanan yang diperlukan untuk menembus tanah dengan piston
berpenampang bulat seluas 3 inchi dengan kecepatan 0,05 in/menit terhadap tekanan yang diperlukan untuk menembus standar tertentu.
Alat CBR yang digunakan dalam pengujian kuat tekan bebas dapat dilihat pada gambar 2.3. / Gambar 2. 3 Alat CBR (Sumber :Indera K, dkk ., 2016) Dari gambar terlihat bahwa pengujian kuat tekan bebas diberikan beban aksial terhadap tanah yang akan
diteliti,makin tinggi perhitungan dial yang dihasilkan maka nilai cbr akan lebih optimum, kuat tekan bebas (CBR) adalah besarnya beban aksial persatuan luas pada saat benda uji mengalami keruntuhan atau pada saat regangan aksial mencapai 15% (Leliana, A., 2015).
Hasil pengujian dapat diperoleh dengan mengukur besarnya beban pada penetrasi tertentu digunakan untuk mendapatkan nilai CBR asli di lapangan, sesuai dengan tanah dasar saat itu. Umumnya digunakan untuk perencanaan tebal lapisan perkerasan yang lapisan tanah dasarnya tidak akan dipadatkan lagi, selain itu jenis CBR ini digunakan untuk mengontrol kepadatan yang diperoleh apakah sudah sesuai dengan yang diinginkan CBR lapangan direndam (undisturbed soaked CBR). / Gambar 2.
4 Skema Pengujian CBR (Sumber : Lope, B,. 2019) Pengujian CBR laboratorium menurut Badan Standarisasi Nasional, (2012), nilai CBR mencapai >6% maka nilai yang
didapatkan itu berlaku untuk penggunaan perencanaan konstruksi, Jadi nilai CBR didefinisikan sebagai suatu perbandingan antara beban percobaan (test load) dengan beban standar (standard load) dan dinyatakan dalam persentase. 2.7. Penelitian Terdahulu Menurut penelitian Apriyanti, Y, dkk.,
(2021) dengan judul penelitian pengaruh penambahan limbah abu cangkang sawit (Pofa) Terhadap Nilai California Bearing Ratio (CBR) Untuk Stabilisasi Tanah Lempung didapatkan kesimpulan bahwa, berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa penambahan POFA pada tanah lempung dapat mempengaruhi nilai CBR, sehingga nilai CBR pada tanah dengan campuran POFA memenuhi syarat yang ditentukan sebagai tanah dasar, yaitu dengan syarat nilai CBR > 7%.
Nilai CBR meningkat pada persentase 5% hingga 10% penambahan POFA, namun, mengalami penurunan nilai CBR pada persentase campuran POFA 15%. Komposisi campuran POFA yang dapat digunakan untuk stabilisasi tanah lempung berdasarkan nilai CBR tertinggi yaitu pada komposisi campuran tanah lempung dan 10% POFA, dengan persentase kenaikan nilai CBR campuran dari CBR tanah lempung asli sebesar 476,648%. Sedangkan menurut penelitian Leliana, A,.
(2015) disimpulkan bahwa stabilisasi menggunakan fly ash pada tanah lempung ini dapat memperbaiki sifat mekanis tanah, dari hasil pengujian nilai kuat tekan yang paling efektif sebesar 4,041gr/cm² pada penambahan fly ash 10% dari tanah asli, dengan
presentase kenaikan sebesar 46,68% per 10% (1% nya naik 4,67%) dan tergolong tanah lempung sangat kaku. Penambahan fly ash pada tanah lempung akan mengakibatkan peningkatan daya dukung tanah yang sebanding dengan peningkatan kuat tekan tanah.
Menurut Ariyani, N ,. (2015) Campuran antara kapur dan abu sekam padi tidak selamanya mampu menaikkan nilai CBR (baik CBR direndam maupun CBR tanpa direndam). Nilai CBR yang dipakai adalah nilai tertinggi dari hasil pengujian CBR direndam, yang berarti mengasumsikan kondisi tanah yang terburuk karena terendam atau tergenang air. Dalam penelitian ini, nilai CBR tanah asli sebesar 16,29%.
Pada komposisi campuran antara tanah dengan kapur sebanyak 6% dan abu sekam padi sebanyak 4% diperoleh nilai CBR tertinggi sebesar 23,66%. Melihat nilai CBR yang telah diperoleh maka tanah hasil stabilisasi ini dapat dikatakan semakin baik untuk dijadikan bahan lapisan tanah dasar (subgrade), terutama bila digunakan sebagai bahan lapisan tanah dasar timbunan (embankment subgrade). Menurut Wulandari ,.
(2021) Pengaruh Penambahan Abu Boiler Kelapa Sawit Terhadap Nilai CBR Tanah Gambut didapatkan nilai CBR pada tanah asli adalah 0,24758%dan terjadi peningkatan menjadi 0,43338% pada kadar abu 5%, pada kadar abu 10% terjadi peningkatan lagi menjadi 0,6296819%, dan kemudian pada kadar abu 15% terjadi peningkatan menjadi 0,7290873%. Dari penelitian yang sudah ada keunggulan dan perbedaan dari penelitian yang akan dibuat dari penelitian yang sudah ada ialah pada penelitian ini tanah yang akan diuji berupa tanah gambut dari daerah berbeda sebagaimana yang sudah di ketahui bahwasanya gambut termasuk jenis tanah bermasalah apabila dilakukan
pengerjaan konstruksi, serta penambahan bottom ash abu tandan sawit sebagai bahan campurannya.
BAB 3.
METODE PENELITIAN Lokasi Penilitian Lokasi penelitian ini dilakukan di laboratorium Teknik Sipil, Fakultas Teknik Universitas Lancang Kuning, Kecamatan Rumbai, Kota Pekanbaru, Provinsi Riau. / Gambar 3. 1 Lokasi Penelitian (Sumber :Google Maps, 2021) Pengumpulan Data Alat pengujian Alat yang di gunakan untuk pengujian California Bearing Ratio (CBR) adalah: Pemadatan tanah Mould Palu besi (Hammer) Extrudrer California Bearing Ratio (CBR) Mould Logam Hammer Tabung ukur Spatula Extruder Analisa saringan Berat jenis Piknometer Vakum Atterberg limit Cawan Oven Timbangan dengan ketelitian 0,1% Karakteristik Material Adapun beberapa pengujian yaitu : Tanah Gambut Tanah diambil dari Jl.
Air Hitam Km.5, Pekanbaru, Riau. Lalu dikeringkan agar kadar air pada tanah gambut tidak ada lagi. Abu tandan Kelapa Sawit (ATKS) Buah tandan segar yang sudah diolah sisanya menjadi limbah lalu dibakar setelah dietraksi menjadi abu tanh kelapa sawit (boiler). Didalam abu tandan kelapa sawit terdapat senyawa K20 30% – 40% MGO
sebesar 3% P2O5 sebesar 7% dan juga senyawa hara mikro 1,200 ppm, 400 ppm Zn dan 100 ppm Mn.
Abu Tandan Sawit berasal dari bakaran tandan Kosong Sawit yang diambil dari PT.
Kharisma Wirajaya Palm alalu di saring No. 4,7 sebagai bahan tambahan abu tandan sawit 5%, 10 %, 15%, 20 %. Metode analisis Data Rancangan sampel Rancangan sampel penelitian California bearing ratio (CBR) stabilitas tanah gambut menggunakan
campuran abu tandan sawit menurut Wulandari, (2021) sampel tanah gambut untuk pengujian CBR di rancang berdasarkan 3 variasi campuran 5%, 10%, 15% untuk penambahan bottom ash abu tandan sawit.
Dari penelitian tersebut untuk tanah asli didapatkan nilai CBR sebesar 0,2475%, kemudian di lakukan penelitian dengan penambahan variasi bottom ash abu tandan sawit. Dari hasil variasi penelitian sebelumnya, maka dapat disimpulkan bahwa bottom ash abu tandan sawit dapat meningkatkan nilai CBR, pada variasi 5% peningkatan menjadi 0,433%, variasi 10% peningkatan menjadi 0,629%, dan pada variasi 15% terjadi peningkatan menjadi 0,729%.
Dapat disimpulkan bahwa nilai CBR optimum pada tanah gambut menggunakan bottom ash abu tandan sawit didapatkan pada campuran variasi 15% bottom ash abu tandan sawit, peningkatan terjadi dari nilai CBR tanah asli sebesar 0,2475% menjadi 0,729% pada variasi 15%. Sedangkan hasil dari penelitian U. Nugroho, (2008) Nilai CBR yang dihasilkan mengalami kenaikan dan mencapai nilai maksimum pada kadar
portland cement 5% dan gypsum sintetis 15% dengan masa pemeraman 7 hari yaitu
sebesar 8,985%, maka penelitian divariasikan dengan variasi kadar abu tandan sawit yaitu 5%, 10%, 15%, 20% . Tabel 3.
1 Jumlah Benda Uji Campuran _Tanah Gambut (gr) _Abu Tandan Kelapa Sawit (%) _Jumlah _ _I _5000 _- _3 _ _II _4750 _5% _3 _ _III _4500 _10% _3 _ _IV _4250 _15% _3 _ _V _4000 _20% _3 _ _Total _ _ _15 sampel _ _ Analisis perhitungan Analisis perhitungan adalah : Rumus perhitungan pemadatan menurut SN1-03-1743-1989 dan ASTM D698: a.
Kadar air (%) BTB+C BTK+C x 100 (3.1) b. Berat isi basah (%) BTB+C IC x 100 (3.2) c.
Berat isi kering (%) BIB+C IC x 100 (3.3) Dengan : C = Cawan BTB = Berat tanah basah BTK = Berat tanah kering BIB = Berat isi basah IC = Isi cetakan Rumus perhitungan CBR menurut SNI 1965:2008 a.
Kadar air (%) BTB+C BTK+C ?? 100 (3.4) b. Berat isi basah (%) BTB+C IC ?? 100 (3.5) c.
Berat isi kering (%) BIB 100 + KA x 100 (3.6) d. Pembebanan PA x penetrasi (3.7) e.
California bearing ratio (CBR) penurunan 0,1 inch 3 x 1000 x 100 (3.8) penurunan 0,2 inch 3 x 1000 x 100 (3.9) Dengan: C = Cawan BTB = Berat tanah basah BTK = Berat tanah kering BIB = Berat isi basah IC = Isi cetakan KA = Kadar air Rumus perhitungan kadar serat (%) a.
Kadar air (%) CSB + C CSK + C x 100 (3.10) b. Serat murni (%) 100 - KA x 100% (3.11) Rumus perhitungan kadar abu (%) CTA CTA + CT x 100 (3.12) Dengan : KA = Kadar air CSB = Cawan serat basah CSK = Cawan serat kering CTA = Cawan + tanah dan abu CT = Cawan + tanah Bagan Alir Penelitian Bagan alir penelitian dapat dilihat pada gambar 3.3.
BAB 4. PEMBAHASAN Hasil Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan nilai persentase california bearing ratio (CBR) pada gambut Jl.Air Hitam Km.5, Pekanbaru, Riau. Pengujian yang dilakukan di Laboratorium Fakultas Teknik Universitas Lancang Kuning.
Pengujian tanah gambut dengan variasi abu tandan sawit 5%, 10%, 15%, dan 20%
benda uji dalam penelitian ini sebanyak 23 benda uji yang berupa pengujian
laboratorium yaitu,california bearing ratio (CBR), kadar abu, kadar serat, berat jenis, analisa saringan dan pemadatan maka akan di lihat hasil parameter. Karakteristik Tanah Asli Berdasarkan pengamatan secara visual menunjukkan bahwa tanah tersebut
berwarna hitam, menurut hasil pengujian dan penelitian laboratorium mengenai
karakteristik tanah meliputi jenis gambut, klasifikasi serat, abu, kadar air optimum, berat jenis, CBR dan nilai kembang susut (swelling).
Pengujian tanah asli Nilai CBR tanah asli yang di dapat dari pengujian di laboratorium sebesar 1,41%. Nilai yang didapat tidak memenuhi syarat spesifikasi Umum Bina Marga 2010 yaitu = 6%. Kategori tanah asli yang didapat memiliki nilai CBR yang rendah, maka perlu dilakukan perbaikan tanah asli dengan stabilisasi variasi abu tandan kelapa sawit agar melihat presentase nilai CBR. Beberapa pengujian tanah gambut sifat fisis dan sifat mekanis di sajikan dalam Tabel 4.1.
Nomor Uji _Data Umum Tanah _ _ _CBR _Berat Isi Kering _Kadar Air Optimum _Berat Jenis _Kadar Abu _Kadar Serat _Kadar Organik _Analisa Saringan no 200 _METODE USCS _METODE ASTM _ _ _95% _100% _Gram/cc _% _% _ _ _(%) _(%) _ _ _
_ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _Gambut Asli _1.38 _1.41 _0.77 _34.70 _1.415 _6.49 _53.2 _90.05 _1.09 _Pt _Tanah Gambut _ _ _ _ _ _ _ _Sedang _Hemic
_ _ _ _Hemic _ _ (Sumber : Pengolahan data 2021) Pengujian kadar serat Uji kadar serat dilakukan untuk mengetahui nilai kadar serat dari sampel tanah asli,dan untuk mengetahui jenis gambut yang digunakan berdasarkan klasifikasi kadar serat.
Menurut peraturan ASTM D4427-84 (1989) pengklasifikasian tanah gambut berdasarkan nilai kadar serat dibagi 3 bagian 1. Fabric peat : kadar serat > 67% 2. Hemic peat : kadar serat 33%-67% 3. Sapric peat : kadar serat < 33% Berdasarkan peraturan yang sudah ada maka dapat dilihat dari pengujian laboratorium terhadap tanah asli berapa jumlah serat murni yang ada pada gambut asli tersebut dengan perhitungan: Kadar air : = (berat cawan+tanah basah-berat cawan+tanah kering )??100% = (170.2-123.4)??100% = 46,8 % Kadar serat : = 100 % - Kadar air = 100 % - 46.8% = 53.2 % Tabel 4. 2 Kadar serat Kadar Serat _ _ _ _Tanah + Serat (gr) _100 _ _Cawan (gr) _104.4
_ _Cawan + Serat basah _170.2 _ _Cawan + Serat Kering _123.4 _ _Kadar air _46.8 _ _Serat Murni(%) _53.2 _ _Nama Serat _ _Hemic _ _Fibric _> 67% _ _Hemic _33% - 67% _ _Sapric _<33% _ _(Sumber : Pengolahan data 2021) Dari hasil tabel diatas maka dapat diliat nilai serat murni yang ada pada tanah gambut asli sekitar 53.2% yang menunjukkan bahwa tanah gambut tersebut digolongkan kedalam klasifikasi tanah gambut hemic.
Pengujian kadar abu Untuk menetukan kadar abu pada gambut dengan cara
memasukan gambut kering yang telah di oven pada suhu 105 ºC kedalam oven dengan suhu 440 º C ( metoda c ) atau dengan suhu 750 ºC (metode D) sampai gambut menjadi abu (ASTM D2974-87), Karena oven yang ada pada laboratorium teknik sipil yang tidak memiliki oven dengan kapasitas suhu sebesar 440º C maka cara yang dilakukan ialah dengan melakukan pembakaran pada tanah gambut yang sudah kering menggunakan bantuan panas dari spiritus. Perhitungan : Abu murni = Cawan+tanah
Cawan+tanah+abu -(cawan+tanah) ?? 100% = 264.3 305-264.3 ?? 100% = 6.49% gr Tabel 4.
3 Kadar abu Kadar Abu _ _ _ _Tanah + Abu (gr) _150 _ _Cawan _155 _ _Cawan + Tanah + Abu _305 _ _Cawan + Tanah _264.3 _ _Abu Murni (%) _6.49 _ _Kadar Organik _93.51 _ _Jenis Kadar Abu _ _Kadar Abu Sedang _ _Kadar Abu Rendah _<5% _ _Kadar Abu Sedang _5-15% _ _Kadar Abu Tinggi _>15% _ _(Sumber : Pengolahan data 2021) Dari hasil
perhitungan diatas dapat disimpulkan bahwa tanah gambut yang diuji memiliki kadar abu sedang dengan nilai 6.49%, serta dari perhitungan kadar abu tersebut juga
didapatkan nilai kadar organik tanah, kadar organic dicari untuk mengetahui berapa isi dari organik-organik yang ada pada suatu sampel tanah gambut. Pengujian berat jenis tanah gambut Pengujian ini penentuan berat jenis (specific gravity) tanah dengan menggunakan botol piknometer.
Tanah diuji harus lolos saringan No.4 dengan menggunakan peraturan standar (SNI 1964:2008). Hasil pengujian berat jenis tanah gambut asli dapat dilihat pada tabel 4.4.
Tabel 4. 4 Berat jenis Nomor Contoh _1 _2 _3 _ _Nomor Piknometer / Labu Ukur _1 _2 _3 _ _Berat Dish _245.0 _245.0 _245.0 _ _Berat Dish + Tanah Kering _295.0 _295.0 _295.0 _ _Berat Tanah Kering _50 _50 _50 _ _Temperatur T ºC _26º C _ _Hubungan Kerapatan Relatif Air _0.9968156 _ _Berat Labu + Air (Pada Suhu T ºC) W1 (Gr) _654.3 _ _Berat Labu + Air + Tanah (Pada Suhu T ºC) W2 (Gr) _670.0 _668.1 _670.0 _ _Isi Tanah _34.300
_36.200 _34.300 _ _Berat Jenis (Gs) _1.453 _1.377 _1.453 _ _Berat Jenis Rata-rata _1.41 _ _(Sumber : pengolahan data 2021) Pengujian pemadatan tanah gambut Pengujian
pemadatan adalah untuk menghasilkan hubungan antara kadar air dan kepadatan tanah untuk mendapatkan tanah dalam silinder yang ukuran tertentu menggunakan cetakan, benda uji dengan lolos saringan No.4.
Tujuan pengujian pemadatan untuk mencari nilai kepadatan maksimum dan kadar air optimum untuk setiap benda uji, berikut pengujian pemadatan tanah lempung asli.
Perhitungan : Berat isi basah = ?????????? ????????h ????????h ????????????
?????????????? = 949 981,25 =0,9671 gr/cm3 Berat isi kering = ?????????? ??????
????????h 1+ ?????????? ?????? ????h???? 100 = 0,9671 1+ 29 100 = 0,75 gr Kadar air =
?????????? ?????? ?????????? ????????h ???????????? ×100% = 12,2 42,2 ×100% = 29 % _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _Gambar 4.
1 Grafik pemadatan tanah gambut Pengujian pemadatan adalah menghasilkan
hubungan antara kadar dan kepadatan tanah, sebuah grafik hubungan antara kadar air (w) dan berat isi kering dalam setiap pengujian pemadatan dilakukan 5 kali percobaan sehingga menghasilkan grafik parabol, grafik yang menunjukan posisi tingkat kepadatan tanah maksimal teoritis yang dapat dicapai pada pengujian pemadatan, hasil pengujian semakin dekat zero air void (ZAV) dengan kadar air maka disimpulkan rongga udara semakin mengkecil pada benda uji tanah gambut asli dikarenakan ZAV sangat berperan terhadap pengujian pemadatan.
Pengujian California Bearing Ratio Menurut SNI 1744, (1989), Tujuannya adalah untuk menentukan nilai CBR dengan mengetahui kuat hambatan campuran tanah dengan abu tanda kelapa sawit terhadap penetrasi kadar air optimum, agar meningkatkan nilai persentase CBR maka di lakukan pengujian di laboratorium dapat di lihat pada tabel 4.5 untuk pemmbacaan arloji, tabel 4.6 untuk kadar air, tabel 4.7 untuk berat isi kering, tabel 4.8
untuk mencari harga CBR dan hasil hubungan pemadatan dan CBR dapat dilihat pada gambar 4.3 untuk mengetahui nilai CBRnya berdasarkan grafik. Tabel 4. 5 Pembacaan arloji CBR Penetrasi _38.5 _ _ _ _ _ _Waktu (Menit) _Penurunan (Inch) _Pembacaan Arloji _Beban (Lbs) _ _ _ _Atas _Bawah _Atas _Bawah _ _0.25 _0.0125 _ _0.1 _ _3.85 _ _0.50 _0.0250 _ _0.3 _ _11.55 _ _1.00 _0.0500 _ _0.6 _ _23.10 _ _1.50 _0.0750 _ _0.9 _ _34.65 _ _2.00 _0.1000 _ _1.1 _ _42.35 _ _3.00 _0.1500 _ _1.3 _ _50.05 _ _4.00 _0.2000 _ _1.6 _ _61.60 _ _6.00 _0.3000 _ _1.8 _ _69.30 _ _8.00 _0.4000 _ _2.0 _ _77.00 _ _10.00 _0.5000 _ _2.4 _ _92.40 _ _(Sumber : Pengolahan data 2021) Dari hasil pembacaan dial yang sudah di rendam 4 hari kemudian diuji di mesin CBR, maka dapat dilihat dari setiap penurunan dial mendapatkan nilai pembacaan beban yang selalu meningkat dengan pembacaan arloji bawah senilai 3,85 minimum dan
maksimumnya mencapai nilai 92,40. Tabel 4.
6 Kadar air _ _Sebelum _Sesudah _ _Cawan _11.3 _11.3 _ _Tanah Basah + Cawan _51.8 _51.6 _ _Tanah Kering + Cawan _39.3 _39.2 _ _Air _12.5 _12.5 _ _Tanah Kering _28.0 _27.9 _ _Kadar Air _44.6 _44.7 _ _Kadar Air Rata-rata _44.6 _44.7 _ _(Sumber : Pengolahan data 2021) Setelah pembacaan arloji CBR maka sampel tanah dalam alat dikeluarkan dan dipotong persegi kecil untuk mengetahui kadar airnya, nilai kadar air dalam tanah gambut asli sebelum direndam bernilai 44,6% dan sesudah direndam 44,7% maka didapatkan selisih 0,1 gram. Tabel 4.
7 Berat isi kering _ _ _Sebelum _Sesudah _ _Berat Tanah + Cetakan _8700.00 _8908.00 _ _Berat Cetakan _7035.00 _7035.00 _ _Berat Tanah Basah _1665.00 _1873.00 _ _Isi Cetakan _2352.0 _2352.0 _ _Berat Isi Basah _0.71 _0.80 _ _Berat Isi Kering _0.49 _0.55 _ _(Sumber : Pengolahan data 2021) Berat isi kering pada tanah gambut asli dengan kadar air senilai 44,6% dan 44,7 % didapatkan nilai berat isi kering sebelum direndam 0,49 gram dan setelah direndam 0,55 maka diambil nilai maksimum dari berat isi kering untuk penggunaan pada hubungan grafik pemadatan dan CBR.
Untuk perhitungan nilai CBR tanah asli dapat diliat pada gambar 4.2. / Gambar 4. 2 Grafik CBR tanah gambut asli Gambar 4.2 menunjukkan grafik CBR dengan penurunan 0,1 inci dan 0,2 inci, untuk penetrasi 0,1 inci berarti memiliki beban penurunan dengan
kekuatan beban 0,71 kg/mm2 atau 1000 Psi sedangkan untuk penetrasi 0,2 inci memiliki beban penurunan 1,06 kg/mm2 atau 1500 Psi.
Dari grafik dapat diliat hubungan beban dan penurunan pada penetrasi 0,1 inci senilai 37 dan 0,2 inci senilai 60, Untuk nilai harga CBR dapat diliat dari tabel 4.8. Tabel 4. 8 Harga CBR 10 x Pukulan _ _0,1" _ _0,2" _ _ _ _ _... _x 100% _... _x 100% _ _ Atas _ _3 x 1000 _ _3 x 1500 _ _ _ _ _ _% _ _% _ _ _ _37.0 _x 100 _60.0 _x 100 _
_ Bawah _ _3 x 1000 _ _3 x 1500 _ _ _ _ _1.26 _% _1.27 _% _ _(Sumber : Pengolahan data 2021) Setelah mengetahui nilai penetrasi 0,1 inci dan 0,2 inci maka dimasukkan dalam perhitungan harga CBR pada 10 pukulan, dari kedua nilai penetrasi dengan
pembacaan arloji bawah maka didapatkan nilai CBR pada penetrasi 0,1 senilai 1,26% dan penetrasi 0,2 senilai 1,27%.
Maka untuk grafik hubungan pemadatan dan CBR diambil nilai tertinggi antara
penetrasi 0,1 inci dan 0,2 inci yaitu pada nilai 0,2 inci dengan nilai CBR 1,27%. Tabel 4. 9 Rekap pengujian tanah gambut asli Berat isi kering maksimum _ _: _0.77 _Gram/cc _ _Kadar air Optimum _ _: _34.70 _% _ _ _Berat jenis _ _ _: _1.37 _% _ _ _CBR _100%
MDD _ _: _1.41 _% _ _ _ _ 95% MDD _ _: _1.38 _% _ _ _CBR _10 pukulan _ _: _1.27 _%
_ _ _ _35 pukulan _ _: _1.94 _% _ _ _ _65 pukulan _ _: _1.87 _% _ _ _(Sumber : Pengolahan data 2021) Tabel 4.9
digunakan untuk merekap semua pengujian pada tanah gambut asli dengan nilai pada 35 pukulan bernilai CBR 1,94% dan 65 pukulan bernilai 1,87 % maka dari ketiga nilai CBR tersebut dimasukkan kedalam grafik hubungan pemadatan dan CBR dapat diliat pada gambar 4.3. Gambar 4. 3 Grafik CBR dan pemadatan tanah gambut asli Dari gambar 4.3 diketahui bahwa nilai CBR dari tanah gambut asli diambil nilai paling tinggi, Menurut SNI 03-1744-1989 Penentuan nilai CBR yang biasa digunakan untuk menghitung kekuatan pondasi jalan adalah pada CBR dengan kepadatan maksimum 95% dan CBR dengan kepadatan maksimum 100% nilai yang diambil yang paling besar untuk pengujian penentun nilai CBR suatu tanah.
Analisis Pengujian Tanah Gambut + Variasi Abu Tandan Sawit 5% Pengaruh
penambahan tanah gambut menggunakan abu tandan sawit dengan berbagai variasi 5%, 10%, 15% dan 20% , setelah melakukan pengujian maka hasil yang dilihat dapat mengetahui nilai CBR terbesar dari setiap pengujian yang sudah dilakukan. Rekap perhitungan dapat diliat dalam tabel 4,10. Tabel 4.
10 Rekap pengujian gambut + 5% ATS Nomor Uji _Data Umum Tanah _ _ _CBR _Berat Isi Kering _Kadar Air Optimum _Berat Jenis _METODE USCS _METODE ASTM _ _ _95%
_100% _Gram/cc _% _% _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _Gambut Asli _1.57 _1.60 _0.77 _36.00 _1.461 _Pt _Tanah Gambut _ _ _ _ _ _ _ _ _Hemic _ _(Sumber : Pengolahan data 2021) Pengujian berat jenis tanah gambut + 5% ATS Pengujian ini penentuan berat jenis (specific gravity) tanah gambut dan penambahan abu tandan sawit + 5% dengan menggunakan botol piknometer. Camputan tanah yang diuji harus lolos saringan No.4 dengan menggunakan peraturan standar (SNI 1964:2008). Tabel 4. 11 Pengujian berat jenis gambut + 5% ATS Nomor Contoh _1 _2 _3 _ _Nomor Piknometer / Labu Ukur _1 _2 _3 _ _Berat Dish _245.0 _245.0 _245.0 _ _Berat Dish + Tanah Kering _295.0 _295.0 _295.0 _ _Berat Tanah Kering (Ws) _50 _50 _50 _ _Temperatur T ºC _26º C _ _Hubungan Kerapatan Relatif Air _0.9968156 _ _Berat Labu + Air (Pada Suhu T ºC) W1 (Gr) _662.5 _ _Berat Labu + Air + Tanah (Pada Suhu T ºC) W2 (Gr) _675.0 _681.2 _675.0 _ _Isi Tanah (Cm3) _37.500 _31.300 _37.500 _ _Berat Jenis (Gs) Ws/Isi Tanah*Hub _1.329 _1.592 _1.329 _ _Berat Jenis Rata-rata (Gs1+Gs2) / 2 _1.46 _ _(Sumber : Pengolahan data 2021) Pengujian pemadatan tanah gambut + 5% ATS Pengujian pemadatan adalah untuk menghasilkan hubungan antara kadar air dan kepadatan tanah untuk mendapatkan tanah dalam silinder yang ukuran tertentu menggunakan cetakan, benda uji dengan lolos saringan No.4.
Tujuan pengujian pemadatan untuk mencari nilai kepadatan maksimum dan kadar air optimum untuk setiap benda uji, berikut pengujian pemadatan tanah gambut + 5% ATS.
Perhitungan : Berat isi basah = ?????????? ????????h ????????h ????????????
?????????????? = 892 981,25 =0,909 gr Berat isi kering = ?????????? ?????? ????????h 1+
?????????? ?????? ????h???? 100 = 0,909 1+ 29 100 = 0,78 gr Kadar air = ??????????
?????? ?????????? ????????h ???????????? ×100% = 12,2 42,2 ×100= 29 %
Grafik yang menunjukan posisi tingkat kepadatan tanah maksimal teoritis yang dapat dicapai pada pengujian pemadatan terjadi peningkatan nilai kadar air dan berat isi kering walaupun tidak signifikan, hasil pengujian semakin dekat zero air void (ZAV) dengan kadar air maka disimpulkan rongga udara semakin mengkecil pada benda uji tanah gambut + 5% ATS dikarenakan ZAV sangat berperan terhadap pengujian pemadatan.
Pengujian CBR tanah gambut + 5% ATS Tujuannya adalah untuk menentukan nilai CBR dengan mengetahui kuat hambatan campuran tanah dengan campuran abu tanda kelapa sawit terhadap penetrasi kadar air optimum, agar meningkatkan nilai persentase CBR maka di lakukan pengujian di laboratorium dapat di lihat pada tabel 4.12 untuk pemmbacaan arloji, tabel 4.13 untuk kadar air, tabel 4.14 untuk berat isi kering dan hasil hubungan pemadatan dan CBR dapat dilihat pada gambar 4.1
untuk mengetahui nilai CBRnya berdasarkan grafik. Tabel 4. 12 Pembacaan arloji Penetrasi _38.5 _ _ _ _ _ _Waktu (Menit) _Penurunan (Inch) _Pembacaan Arloji _Beban (Lbs) _ _ _ _Atas _Bawah _Atas _Bawah _ _0.25 _0.0125 _ _0.2 _ _7.70 _ _0.50 _0.0250 _ _0.4 _ _15.40 _ _1.00 _0.0500 _ _0.6 _ _23.10 _ _1.50 _0.0750 _ _0.8 _ _30.80 _ _2.00 _0.1000 _ _1.1 _ _42.35 _ _3.00 _0.1500 _ _1.4 _ _53.90 _ _4.00 _0.2000 _ _1.6 _ _61.60 _ _6.00 _0.3000 _ _2.2 _ _84.70 _ _8.00 _0.4000 _ _2.3 _ _88.55 _ _10.00 _0.5000 _ _2.6 _ _100.10 _ _(Sumber : Pengolahan data 2021) Dari hasil pembacaan dial yang sudah di rendam 4 hari kemudian diuji di mesin CBR, maka dapat dilihat dari setiap penurunan dial mendapatkan nilai pembacaan beban yang selalu meningkat dengan pembacaan arloji bawah senilai 7,70 minimum dan
maksimumnya mencapai nilai 100,10. Tabel 4.
13 Kadar air _ _Sebelum _Sesudah _ _Cawan _10.3 _10.3 _ _Tanah Basah + Cawan _38.4 _39.6 _ _Tanah Kering + Cawan _31.2 _32.2 _ _Air _7.2 _7.4 _ _Tanah Kering _20.9 _21.8 _ _Kadar Air _34.4 _34.1 _ _Kadar Air Rata-rata _34.4 _34.1 _ _(Sumber : Pengolahan data 2021) Setelah pembacaan arloji CBR maka sampel tanah dalam alat dikeluarkan dan dipotong persegi kecil untuk mengetahui kadar airnya, nilai kadar air dalam tanah gambut asli sebelum direndam bernilai 34,4% dan sesudah direndam 34,1% maka didapatkan selisih 0,3 gram. Tabel 4.
14 Berat isi kering _ _ _Sebelum _Sesudah _ _Berat Tanah + Cetakan _8708.00 _8804.00 _ _Berat Cetakan _7035.00 _7035.00 _ _Berat Tanah Basah _1673.00 _1769.00 _ _Isi Cetakan _2352.0 _2352.0 _ _Berat Isi Basah _0.71 _0.75 _ _Berat Isi Kering _0.53 _0.56 _ _(Sumber : Pengolahan data 2021) Berat isi kering pada tanah gambut asli dengan kadar air senilai 34,4% dan 34,1 % didapatkan nilai berat isi kering sebelum direndam 0,53 gram dan setelah direndam 0,56 maka diambil nilai maksimum dari berat isi kering untuk
penggunaan pada hubungan grafik pemadatan dan CBR.
Untuk perhitungan nilai CBR tanah asli dapat diliat pada gambar 4.5. / Gambar 4. 5 Grafik CBR tanah gambut + 5% ATS. Gambar 4.2 menunjukkan grafik CBR dengan penurunan 0,1 inci dan 0,2 inci, untuk penetrasi 0,1 inci berarti memiliki beban penurunan dengan kekuatan beban 0,71 kg/mm2 atau 1000 Psi sedangkan untuk penetrasi 0,2 inci memiliki beban penurunan 1,06 kg/mm2 atau 1500 Psi.
Dari grafik dapat diliat hubungan beban dan penurunan pada penetrasi 0,1 inci senilai 38 dan 0,2 inci senilai 64, Untuk nilai harga CBR dapat diliat dari tabel 4.15. Tabel 4. 15 Harga CBR 10 x Pukulan _0,1" _0,2" _ _ _Atas _... _x 100 _... _x 100% _ _ _3 x 1000 _ _3 x 1500 _ _ _ _ _ _ _ _ _Bawah _38.0 _x 100 _64.0 _x 100 _ _ _3 x 1000 _ _3 x 1500 _ _ _ _1.26 _% _1.42 _% _ _(Sumber : Pengolahan data 2021) Setelah mengetahui nilai penetrasi 0,1 inci dan 0,2 inci maka dimasukkan dalam perhitungan harga CBR pada 10 pukulan, dari kedua nilai penetrasi dengan pembacaan arloji bawah maka didapatkan nilai CBR pada penetrasi 0,1 senilai 1,26% dan penetrasi 0,2 senilai 1,42%.
Maka untuk grafik hubungan pemadatan dan CBR diambil nilai tertinggi antara
penetrasi 0,1 inci dan 0,2 inci yaitu pada nilai 0,2 inci dengan nilai CBR 1,42%. Tabel 4. 16 Rekap pengujian CBR + 5% ATS Berat isi kering maksimum _ _ _: _0.78 _Gram/cc _ _Kadar air Optimum _ _ _: _36.00 _% _ _ _Berat jenis _ _ _ _: _1.46 _% _ _ _CBR _100% MDD _ _ _: _1.60 _% _ _ _ _ 95% MDD _ _ _: _1.57 _% _ _ _CBR _10 pukulan _ _ _: _1.42 _% _ _ _ _35 pukulan _ _ _: _1.60 _% _ _ _ _65 pukulan _ _ _: _2.07 _% _ _ _(Sumber : Pengolahan data 2021) Tabel 4.16 digunakan untuk merekap semua
pengujian pada tanah gambut asli dengan nilai pada 35 pukulan bernilai CBR 1,61% dan 65 pukulan bernilai 2,07 % maka dari ketiga nilai CBR tersebut dimasukkan kedalam grafik hubungan pemadatan dan CBR dapat diliat pada gambar 4.6. Gambar 4.
6 Grafik CBR dan pemadatan tanah gambut + 5% ATS Dari gambar 4.6 diketahui bahwa nilai CBR dari tanah gambut asli diambil nilai paling tinggi, Menurut SNI 03-1744-1989 Penentuan nilai CBR yang biasa digunakan untuk menghitung kekuatan pondasi jalan adalah pada CBR dengan kepadatan maksimum 95% dan CBR dengan kepadatan maksimum 100% nilai yang diambil yang paling besar untuk pengujian penentun nilai CBR suatu tanah.
Analisis pengujian tanah gambut + 10% ATS Setelah pengujian dengan campuran 5%
membuktikan bahwa nilai dari CBR mengalami peningkatan maka dianalisis pengujian dengan campuran selanjutnya 10%,15%,dan 20% untuk mendapatkan nilai CBR
optimumnya, maka selanjutnya dilakukan pengujian dengan campuran 10% ATS.
Berdasarkan pengujian laboratorium nilai CBR dari pengujian tanah gambut + variasi
abu tandan sawit 10% didapatkan nilai sebesar 1.82%, dari nilai tersebut menunjukkan peningkatan nilai CBR dari tanah asli dan penambahan 5% ATS , nilai yang didapat tidak memenenuhi spesifikasi bina marga dapat diliat rekapan pengujian tanah gambut + 10% ATS pada tabel 4.17. Tabel 4.
17 Rekap pengujian gambut + 10% Nomor Uji _Data Umum Tanah _ _ _CBR _Berat Isi Kering _Kadar Air Optimum _Berat Jenis _Analisa Saringan no 200 _METODE USCS _METODE ASTM _ _ _95% _100% _Gram/cc _% _% _(%) _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _Gambut + _1.73 _1.82 _0.79 _40.00 _1.48 _1.06 _Pt _Tanah Gambut _ _10% ATS
_ _ _ _ _ _ _ _Hemic _ _(Sumber : Pengolahan data 2021) Pengujian berat jenis tanah gambut +10% ATS Pengujian ini penentuan berat jenis (specific gravity) tanah gambut dan penambahan abu tandan sawit + 10% dengan menggunakan botol piknometer. Camputan tanah yang diuji harus lolos saringan No.4
dengan menggunakan peraturan standar (SNI 1964:2008).
Tabel 4. 18 Pengujian berat jenis gambut + 10% ATS Nomor Contoh _1 _2 _3 _ _Nomor Piknometer / Labu Ukur _1 _2 _3 _ _Berat Dish _245.0 _245.0 _245.0 _ _Berat Dish + Tanah Kering _295.0 _295.0 _295.0 _ _Berat Tanah Kering (Ws) _50 _50 _50 _ _Temperatur T ºC _26º C _ _Hubungan Kerapatan Relatif Air _0.9968156 _ _Berat Labu + Air (Pada Suhu T ºC) W1 (Gr) _660.0 _ _Berat Labu + Air + Tanah (Pada Suhu T ºC) W2 (Gr) _673.5 _678.8 _673.0 _ _Isi Tanah (Cm3) _36.500 _31.200 _37.000 _ _Berat Jenis (Gs) Ws/Isi
Tanah*Hub _1.366 _1.597 _1.347 _ _Berat Jenis Rata-rata (Gs1+Gs2) / 2 _1.48 _ _(Sumber : Pengolahan data 2021) Pengujian pemadatan tanah gambut + 10% ATS Pengujian pemadatan adalah untuk menghasilkan hubungan antara kadar air dan kepadatan tanah untuk mendapatkan tanah dalam silinder yang berukuran tertentu menggunakan
cetakan, benda uji dengan lolos saringan No.4.
Tujuan pengujian pemadatan untuk mencari nilai kepadatan maksimum dan kadar air optimum untuk mendapatkan nilai kepadatan optimum terhadap gambut dan
penambahan 10% ATS, berikut pengujian pemadatan tanah gambut + 10% ATS. Grafik dapat diliat pada gambar 4.7. / Gambar 4. 7 Grafik pemadatan tanah gambut + 10% ATS Grafik yang menunjukan posisi tingkat kepadatan tanah maksimal teoritis yang dapat dicapai pada pengujian pemadatan terjadi peningkatan nilai kadar air dan berat isi kering, hasil pengujian semakin dekat zero air void (ZAV) dengan kadar air maka
disimpulkan rongga udara semakin mengkecil pada benda uji tanah gambut + 10% ATS dikarenakan ZAV sangat berperan terhadap pengujian pemadatan.
Grafik menunjukkan bahwa kadar air mencapai nilai 40% dan berat isi kering 0,79.
Pengujian CBR tanah gambut + 10% ATS Tujuannya adalah untuk menentukan nilai CBR dengan mengetahui kuat hambatan campuran tanah dengan campuran 10% ATS
terhadap penetrasi kadar air optimum, agar meningkatkan nilai persentase CBR dari campuran sebelumnya maka di lakukan pengujian di laboratorium dapat di lihat pada tabel 4.19 untuk pemmbacaan arloji, tabel 4.20 untuk kadar air, tabel 4.21 untuk berat isi kering dan hasil hubungan pemadatan dan CBR dapat dilihat pada gambar 4.8
untuk mengetahui nilai CBRnya berdasarkan grafik.