POINT – POINT SEMPRO MAKNA HURUF BA’
DALAM LAFAZ BASMALLAH TAHUN. 2025
HADI INSANI NIM : 2021.9.IT.027
SEKOLAH TINGGI ILMU AL-QURA’AN
KEPULAUAN RIAU
LATAR BELAKANG
Dengan judul “Makna Huruf Ba‟ Dalam Lafaz Basmalah Perspektif Tafsir Ibnu Arabi Karya Syekh Ibnu Arabi (Kajian Tafsir Sufistik)”, di latarbelakangi dalam kehidupan umat Islam lafaz basmalah sangatlah istimewa bahkan dalam setiap melakukan kegiatan apapun itu disunnahkan untuk membaca basmalah, basmalah juga dijadikannya amalan berdzikir, sebagian besar orang hanya mempelajari tentang bagaimana cara membaca dan
menerapkannya dalam sehari-hari, tak jarang mereka hanya mengetahui artinya saja, tanpa mengetahui makna yang terkandung didalamnya. Sedangkan Menurut imam Al-Banjuri dan yang lainnya lafaz bismillah itu terkandung dalam huruf ba‟nya. Yaitu bii kaana maa kaana wa bii yakunu maa yakunu. Oleh sebab itu penulis mefokuskan penelitian ini kepada huruf ba‟ dalam lafaz basmlah.
LANDASAN TEORI 1. Q.S AL-FATIHAH
Surah Al-Fatihah adalah salah satu surah yang paling agung, karena memiliki banyak nama yang berbeda yang sesuai dengan isi surah. Salah satu dari nama-nama tersebut adalah surah Al-Fatihah, surah Al- Fatihah yang berarti “pembuka” atau “pemula” adalah salah satu namanya. Surah Al-Fatihah adalah namanya karena surah ini adalah surah yang membuka Al- Qur‟an. Tempatnya di awal Al-Qur‟an didasarkan pada taufiqi, yaitu perintah dari Allah Swt yang diberikan kepada Nabi Muhammad Saw.
TAFSIR SUFISTIK
Tafsir sufi adalah jenis tafsir yang menafsirkan ayat Al-Qur‟an dengan cara yang berbeda dari makna zahirnya, akan tetapi mentakwilkan isyarat-isyarat tersembunyi yang ada dalam ayat-ayat Al-Qur‟an yang hanya dapat dilihat oleh orang yang memiliki ilmu laduni.
Pada dasarnya, tafsir sufi adalah proses pemahaman kalam tuhan menggunakan metode tasawuf. Menurut ajaran tasawuf, Pensucian jiwa (batin) adalah cara untuk sedekat mungkin dengan tuhan, sehingga akan menimbulkan getaran rasa kagum, cinta, rindu, ma‟rifah.
Perasaan yang bergetar dalam jiwa seorang sufi diterjemahkan ke dalam kata-kata, itulah
tafsir sufi.
KITAB TAFSIR IBNU ARABI
Kitab tafsir Ibnu „Arabi adalah kitab tafsir yang dikarang oleh salah satu ulama‟ sufi yaitu Ibnu Arabi. Pada kitab tafsir Ibnu „Arabi menekankan aspek lahir tapi tidak mengabaikan terhadap aspek batin. Metode penafsiran yang memungkinkan pemahaman yang lebih mendalam tentang makna batin, menurut ajaran spiritual Ibnu Arabi menggunakan ta‟wil.
Ta‟wil ialah mengambil makna tersembunyi dari lafaz yang lahir karena ada karinah-karinah yang membolehkan terjadinya pengalihan makna tersebut secara kasyf.
METODE TAFSIR
Metode tafsir yang digunakan yaitu metode maudhu‟i, yaitu pendekatan tafsir yang memberikan penjelasan tentang suatu masalah berdasarkan tema- tema tertentu, dan menggabungkan ayat-ayat yang komprehensif untuk menghasilkan kesimpulan yang mendalam, menyeluruh, dan dinamis
METODE PENELITAIN
1. Metode Analisis Data Kualitatif
Metode Analisis data itu sendiri yaitu menggambarkan analisis data sebagai upaya mencari dan menata secara sistematis catatan hasil observasi, wawancara, dan lainnya untuk meningkatkan pemahaman peneliti tentang kasus yang diteliti dan menyajikannya sebagai temuan bagi orang lain.
2. Metode Analisis Data Deskriptif
Penulis menggunakan analisis data deskriptif dalam penelitian ini, yaitu penulis menganalisis data dengan metode mengolah data sebagaimana adanya, yang menyediakan data sebagaimana fakta dan dipaparkan sebagai laporan. Penulis menggunakan analisis data deskriptif untuk mencari makna huruf ba‟ dalam lafaz basmalah perspektif tafsir Ibnu Arabi.
Penelitian ini dilakukan dengan menentukan tokoh yang menjadi sumber rujukan yaitu Syekh
Ibnu Arabi dengan mencari makna huruf ba‟ dalam kitab tafsirnya yaitu kitab tafsir Ibnu Arabi. Tahap kedua yaitu mengkaji kitab Tafsir Ibnu Arabi, yang bercorak tafsir sufistiknya, setelah tahap kedua selesai penulis mencari sumber penafsiran Ibnu Arabi tentang makna huruf ba‟ lafaz basmalah dalam kitab tafsirnya.
JENIS PENELITIAN
Dilihat dari jenisnya penelitian ini, menggunakan metode penelitian Kepustakaan (library research). Penelitian kepustakaan (library research). Penelitian kepustakaan adalah penelitian yang mengumpulkan semua informasinya berdasarkan sumber-sumber yang tertuluis.21 penelitian yang mengumpulkan informasinya dengan menggabungkan informasi dari berbagai literatur, penelitian literature tidak terbatas pada buku- buku, tetapi juga dapat dari sumber dokumtasi seperti, majalah, jurnal, dan surat kabar. Penting bagi penelitian kepustakaan adalah tujuan untuk menemukan berbagai teori, aturan, prinsip, pendapat, gagasan, dan lain-lain yang digunakan untuk menganalisis dan memecahkan masalah yang sedang dibahas.
SUMBER DATA
Adapun sumber data yang digunakan yaitu sumber data primer dan sumber data sekunder adalah dua jenis sumber data yang digunakan. Kedua sumber data tersebut diperlukan untuk mendapatkan hasil penelitian yang komprehensif. Data utama yang
digunaan dalam penelitian ini adalah bagaimana mufasir sufistik dalam memaknai huruf ba‟
dalam lafaz basmalah dengan corak tasawufnya sehingga berbeda dengan penelitian- penelitian sebelumnya. Sedangkan sumber data sekunder terdiri dari buku-buku, Jurnal, artikel yang setema yaitu yang membahas tentang lafaz basmalah dan pemaknaan huruf ba‟
dalam lafaz basmalah dengan menggunakan pendekatan tafsir sufistik.
Studi penulisan ini adalah jenis penelitian kepustakaan (library research), dengan itu maka pengumpulan data bersumber dari data primer dan data sekunder. Pada penelitian ini
penulis menggunakan sumber data primer dari karangan syekh Ibnu „Arabi yaitu:
1. Kitab Tafsir Ibnu „Arabi, yaitu sumber rujukan utama penulis untuk meneliti tentang makna huruf ba‟ dalam lafaz basmalah.
2. Kitab Al-Futuhat Al-Makiyyah yaitu salah satu kitab yang karangan Ibnu „Arabi yang paling popular, penulis menggunakan kitab Al-Futuhat Al-Makkiyyah sebagai penjelas terhadap kitab tafsir Ibnu „Arabi.
Sedangkan data sekundernya peneliti menggunkan kitab tafsir yang bercorak sufistik, adapun sumbernya sebagai berikut:
1. Jurnal Al-Manar yang berjudul Zhahir dan Bathin, Penafsiran Ibnu „Arabi terhadap ayat Al-Qur‟an.
2. Jurnal Al-„I‟jaz yang berjudul Tafsir Huruf ba‟ dalam lafaz basmalah: Pendekatan Tafsir Isy‟ari Najmudin Al-Kubra.
3. Jurnal Al-Manar yang berjudul Dimensi Sosial Dalam Tafsir Sufistik: Penafsiran QS. Al- Fatihah [1]: Oleh KH. Soleh Darat.
4. Jurnal Manuskripta yang berjudul Penafsiran Sufiatik-Kejawen atas Surah Al-Fatihah Studi Analisis atas Manuskrip Kiai Mustojo.
5. Dan beberapa Jurnal lainnya yang mengambil rujukan dari kitab Tafsir Ibnu Arabi
METODE PENGUMPULAN DATA
Metode pengumpulan data dilakukan dengan kajian pustaka, mencari sumber data yang relevan melalui buku-buku yang setema. Yaitu dengan mencari literature yang relevan dengan penafsiran sufistik bagaimana penafsiran sufistik dalam memaknai Al- Qur‟an dan pemaknaan lafaz basmalah serta huruf ba‟ dalam lafaz basmalah menggunakan pendekatan tasawuf yang dikumpulkan menjadi satu.
SISTEMATIKA PEMBAHASAN
Data yang sudah diperoleh dikumpulkan dan disusun dengan sistematika yang
bertujuan untuk membuat pemahaman dan penelaahan penelitian menjadi lebih mudah.
Penelitian ini pembahasan terdiri dari lima bab sebagai berikut;
BAB I : PENDAHULUAN
Meliputi latar belakang masalah, dimana dapat dijelaskan mengenai apa saja yang melatar belakangi penulis mengambil tema tersebut. rumusan masalah, pada rumusan masalah terdapat pertanyaan yang menjadi acauan penulisan ini. tujuan dan manfaat, tinjauan kepustakaan, metode penelitian dan sistematika laporan dapat dijeskan dalam bab I.
BAB II : TEORI DASAR
Pada bab ini penulis menjelaskan tentang makna huruf ba‟ dalam ilmu nahwu dan juga lafaz basmalah dalam perspektif tafsir sufi. Bagaimana pandangan ulama‟ sufi tentang lafaz basmalah ini.
BAB III : PENYAJIAN DATA
Akan membahas tentang kitab tafsir Ibnu Arabi dan mufasirnya yaitu Syekh Ibnu Arabi. Yang menjadi rujukan dalam pemaknaan huruf ba‟ dalam penelitia ini.
BAB IV : ANALISA DATA
Meliputi pemaknaan huruf ba‟ dalam pemikiran Ibnu „Arabi. Dimulai dari memaparkan berbagai sumber dari penafsiran tafsir sufistik. Dalam bab ini akan mengungkap pemaknaan dari huruf ba‟ dalam lafaz basmalah tersebut.
BAB V : PENUTUP
Berisi penutup yang memuat kesimpulan dan jawaban dari rumusan masalah yang dilakukan oleh penulis kemudian memuat saran-saran dan kritik terkait kepenusan.
BAB II
PEMBAHASAN LAFAZ BASMALLAH A. Makna Ba’ Dalam Ilmu Nahwu
Pada lafaz ميحرلا نمحرلا هللا مسب dibaca jar dan juga di al-majrurkan (dibaca kasrah setelahnya). Pada huruf mim dibaca kasrah dan pada lafaz hu di baca kasrah dilafaz هللا juga dibaca kasrah. Jadi pada lafaz basmalah cara bacanya dengan dijarkan atau dibaca
kasrah yaitu bismillahi (semuanya dibaca kasrah) sebab adanya huruf ba‟ di depan. Namun ada sebagian ulama‟ yang berbeda pendapat, perbedaan tersebut karena adanya beberapa sebab.
Lafaz ميحرلا نمحرلا هللا مسب adalah bentuk pembacaan basmalah yang diterima sebagian peneliti. Menurut beberapa riwayat, tidak ada perbedaan pengucapan. Mereka setuju bahwa ada kata-kata dalam pengucapannya yang tersembunyi atau dihilangkan (mahzdhuf), namun, mereka tidak sependapat tentang bagaimana bentuk dan posisi kata yang dihapus dalam lafaz ميحرلا نمحرلا هللا مسب Ada yang berpendapat bahwa kata tersebut berbentuk fi‟il (kata kerja) atau isim (kata benda). Adapun beberapa yang mengatakan bahwa posisinya berada pada sebelum atau sesudah lafaz bismillah.
Menurut ulama‟ basrah, sesungguhnya lafaz bismillah itu berada pada posisi sebagai rafa‟ (Dhammah), sebabnya karena ada lafaz yang dibuang setelah kata “bismillah”, yang diperkirakan menjadi ibtida‟tu bismillahi (bahwa memulai itu dengan bismillah). Artinya, ada kata-kat segi i‟rab menjadi mubtada‟u. Sehingga diperlukan khabar (kata yang menerangkan) dan khabar harus sama- sama rafa‟, maka lafadz bismillahi kedudukannya sebagai rafa‟.a yang disembunyikan sebelum kata-kata bismillah, yaitu ibtida‟u. jadi lafaz ibtida‟u dari Perbedaan ini memiliki alasan tersendiri. Diantara perbedaan pendapat itu, menurut ar-Razi adalah paling utama memiliki bentuk isim dan muncul setelah pengucapan
kata-kata Bismillah. Oleh karena itu, bentuknya adalah: Bismillah ibtida‟ kullu syai‟, yang berarti “dengan nama Allah Swt”. Ini menunjukkan bahwa Allah Swt adalah sumber semua yang ada.
Huruf ba‟ sebagai huruf jar tidak hanya memiliki satu arti, tetapi memiliki banyak makna dalam huruf ba‟ menurut ahli nahwu. Menurut Ahmad Abu Syaubah, ada beberapa makna huruf ba‟ dalam Al-Qur‟an yaitu:
1. Makna al-Muqabalah (al-„iwadh)
Makna huruf ba‟ yang bermakna pengganti, fungsi dari makna ini sering digunakan pada transaksi jual beli. Contohnya seperti:
Artinya: Kuda tersebut saya telah membelinya dengan harga 1000 Dinar.
2. Makna al-zaidah (al-taukid)
Huruf ba‟ yang bermakna huruf zaidah adalah huruf ba‟ yang digunakan sebagai huruf tambahan untuk huruf zaidah, dan dalam teks ia disebut dengan ba al-taukid dalam sebuah kalimat. Contohnya seperti pada Q.S An-Nisa
ayat 166:
اديهش هلل اب فكو Artinya: “dan cukuplah Allah yang menjadi saksi”.
3. Makna al-Qasam (sumpah)
Huruf ba‟ al-qasam adalah bagian dari huruf yang bermakna “sumpah” dan memiliki arti kata “demi”. Contohnya seperti Q.S al-Qiyamah ayat 1:
ةميقلا مويب مسقا لا Artinya: Aku bersumpah demi hari kiamat
4. Al-Mushaahabah (Bersama atau عم ) Contohnya seperti dalam Q.S Hud: 48.
كعم نمم مما ىلعو كيلع تكربو انم ملسب طبها حوني ليق
Artinya: “Difirmankan, „Wahai Nuh! Turunlah dengan selamat sejahtera dan penuh keberkahan dari kami bagimu dan bagi semua umat (mukmin) yang bersamamu‟.”
5. Al-Dzarfiyah (di dalam atau ف)
Contohnya seperti dalam Q.S al-Qamar ayat 34:
رحسب مهنيجن
Artinya: “Kami selamatkan merekasebelum fajar menyingsing”.
Dijelaskan dalam ilmu nahwu macam bacaan lafaz basmalah ada tujuh fariasi yang boleh di baca yaitu:
1) Bismillahi, lafaz Ar-Rahman dibaca I‟rab sedangkan lafaz Ar-Rahim di baca I‟rab juga
2) Bismillahi, lafaz Ar-Rahmani dibaca Jer (kasrah) sedangkan lafaz Ar-Rahima dibaca nasab (Fathah).
3) Bismillahi, lafaz Ar-Rahmani dibaca jer (kasrah) sedangkan lafaz Ar-Rahimu dibaca Rafa‟(dhammah).
Menurut Syekh Muhammad Nawawi Al-Javi dalam kitab tafsirya yaitu Tafsir AL- Munir Marah Labid. Ba‟ merupakan permulaan isim-Nya Bari‟un dan Basirun, yakni yang menciptakan dan maha melihat. Sin permulaan isim- Nya yaitu Sami‟un yang artinya maha mendengar; Mim permulaan isimnya menyebut Majidun dan Maliku, yakni maha pemurah dan mahakuasa; Alif merupakan permulaan isim-Nya yang menyebutkan Allah; Lam
permulaan isimnya yang menyebut Latif, yakni maha lembut (halus); Ha permulaan isimnya yang menyebut hadi, artinya yang memberi petunjuk; Ra permulaan isimnya yang menyebut Razzaq, artinya maha pemberi Rizqi; Ha permulaan isimnya yang menyebut Halim, artinya maha penyantun, Nun permulaan isimnya yang menyebut nafi‟ dan Nur, artinya yang memberi manfaat dan cahaya.
BASMALLAH DALAM TAFSIR SUFISTIK
Rahasia basmalah tidak hanya terletak pada hurufnya, struktur kalimatnya, dan keindahannya. Meskipun demikian, rahasianya juga terletak pada keajaiban bagi
mereka yang mengamalkannya dan mempercayai dalam hati mereka. Bagi para salik33, basmalah itu seperti halnya kalimat kun bagi Allah, yaitu jika seseorang hendak tercapai maksudnya dan mencukupkan diri dengan mengucapkan lafaz bismillahirrahmanirrahim, maka akan wujud.
Hal ini juga diperkuat dengan hadis nabi yaitu: “setiap perkara yang tidak diawali dengan membaca basmalah adalah terputus” Menurut ulama‟ sufi mengartikan kata aqtho‟
(terputus) adalah ketika rahmat Allah Swt tidak ada dalam aktifitas yang dilakukan. Dengan kata lain, barokah Allah Swt tidak mengalir pada apapun yang tidak dibacakan basmalah kepadanya. Jika seseorang membuat basmalah dalam setiap tindakannya, dia akan menjadi imam yang akan menuntunnya ke surge Allah Swt. Basmalah digunakan oleh seorang salik sebagai cara untuk terus berwushul pada Allah, dan bagi seorang murid, basmalah adalah pintu masuk atas ilmu-ilmu Allah Swt.
Dengan cara yang sama, Sayyid Qutub berpendapat dalam tafsirnya bahwa iqra‟
bismirabbika, adab dan panduan pertama yang diberikan Allah Swt kepada nabinya, adalah memulai dengan nama Allah. Permulaan itu mengikuti prinsip utama islam yang satu bahwa Allah adalah al-Awwal wa al-akhir wa az-zahir wa al-batin. Dia yang maha suci itu
merupakan wujud wujud yang haq, dari mana semua wujud memperoleh wujudnya, dan dari segala sesuatu memiliki permulaan. Karena itu dengan namanya adalah tempat sesuatu dimulai, dan dengan namanya adalah tempat semua gerakan dapat dilakukan.
BAB III
BIOGRAFI SYEKH IBNU ‘ARABI DAN KITAB TAFSIR IBNU ‘ARABI B. Biografi Ibnu ‘Arabi
Nama Ibnu „Arabi sudah sangat populer, merupakan sosok ulama‟ sufi yang terkenal. Nama lengkap Ibnu „Arabi yaitu Muhyi Al-Din Muhammad bin Ali bin
Muhammad Arabi al-Ta‟i al-Hatimi. diceritakan bahwa ayah dari Ibnu Arabi yaitu Ali bin Muhammad, tidak memiliki anak sekian lama, pada akhirnya saat ayahnya bertemu dengan seorang wali masyhur yaitu syekh Abdul Qadir Al-Jailani. Dengan perantara syekh Abdul Qadir al-Jailani meminta kepada Allah untuk diberikan keturunan. Pada saat itu Syekh Abdul Qadir sudah mendekati akhir usianya lalu berdo‟a kepada Allah agar Ali diberikan putra. Syekh Abdul Qadir juga meminta agar Ali memberikan nama anaknya Muhiddin, seperti nama asli Syaih Abdul Qadir.
Tempat dan tanggal lahir Ibnu „Arabi berada di Andalusia (spanyol) pada 17 Ramadhan 560 H/ 28 Juli 1165 M. Lahirnya Ibnu „Arabi bertepatan dengan meninggalnya ulama‟ sufi yang terkenal yaitu Syekh Abd Qadir al-Jilani hal ini menimbulkan spekulasi bahwa lahirnya Ibnu „Arabi menggantikan sosok Syekh Abdul Qadir al-Jilani yang dikenal sebagai seorang wali. Ibnu Arabi terlahir dari keluarga yang terpandang, ayahnya
merupakan seorang pejabat yang penting di istana bani Muwahhidun yang terkenal shalih dan terpercaya. Dalam kitab Al-Futuhat Al-Makkiyyah diceritakan bahwa masa kecil Ibnu
„Arabi tidak jauh berbeda dengan anak lainnya, sejak kecil Ibnu „Arabi sudah belajar membaca Al-Qur‟an pada guru Abu Bakar bin Khalaf dari Seville. Akan tetapi ada beberapa pendapat mengatakan bahwa Ibnu „Arabi belajar Al-Qur‟an pada Abdul Qasim Asy-
Syarrath AlQurtubi ulama‟ dari Kordoba.52 Dalam buku Ibnu Al-Arabi The Great Muslim Mystic and Thinker karya Husaini M.A., Pada usia delapan tahun, Ibnu „Arabi
meninggalkan kota tempat ia dibesarkan dan pindah ke Lisbon. Untuk belajar ilmu Fiqh dan Al-Qur‟an dari Abu Bakr bin Khallaf, Ibn Zarqun dan Abi Muhammad Abd Al-Haq al- Ishbili. Ibnu
„Arabi juga belajar dari Ali Abu Bakar Muhammad bin Abi Jumrah tentang kitab al- Tasyir li al-Laddani.Ibnu‟Arabi juga belajar hadis dari Abu A-Qasim al-Khazrani
C. LATAR BELAKANG PEMIKIRAN
Pada usia delapan tahun, Ibnu „Arabi mulai mempelajari Al-Qur‟an dan Hadis, fikih dan lain-lain kepada Ibnu Hazm az-Zahiri, seorang ahli fikih yang terkenal di Andalusia.
Ibnu „Arabi mulai berkelana ke wilayah Spanyol ketika Ibnu „Arabi berusia 30 tahun. Di kota al-Maira, Ibnu „Arabi pertama kali berkenalan dengan ilmu tasawuf karena Ibnu „Arabi mula belajar dari tokoh- tokoh tasawuf. Seperti al-Tirmizi (Wafat 898 M), Ibnu Masarrah (Wafat 931 M), al-Washiti (w. 942 M), dan Ibn al-Arif (wafat 1141 M). Dengan belajarnya Ibnu „Arabi kepada ahli tasawuf mempengaruhi hidup dan corak pemikiran Ibnu Arabi.
Sejak dalam masa pembelajaran Ibnu „Arabi banyak bergaul dengan para sufi. Pada tahun 606 H, ia sudah menghatamkan Sahih Muslim dengan bimbingan Abdul Hasan bin Nasr. Ibnu „Arabi juga memperoleh ijazah umum dari keilmuannya dari Abu Thahir As- Salafi. Tokoh-tokoh tersebut tidaklah asing dalam dunia tasawuf. Ibnu Arabi Pada usianya yang masih muda menunjukkan ketertarikannya dengan ilmu kebatinan. Ketertarikannya ini menghasilkan kemajuan dan perkembangan yang sangat pesat. Hal ini ditunjukkan dalam kitab-kitabnya, termasuk pula didalam menjalankan perilakunya. Ibnu „Arabi selalu menggunakan otaknya yang cerdas dan tajam serta keimanannya yang kuat untuk
memahami hakikat suatu hal. Ibnu „Arabi semasa mudanya gemar mempelajari banyak hal, menguasai dan memahami seluk beluk tata Bahasa Arab yang hidup, penuh ibarah dan Hikmah. Setiap karangan yang ditulis dengan Bahasa sastrawi yang indah tidak hanya ditingkat pemaknaan pertama, namun lebih dalam lagi, mengandung kebesaran ilham dan kegaiban setiap rangkaian kalimat yang ia tulis untuk mengupas suatu masalah atau persoalan. Menurutnya kata-kata tersebut dibukakan langsung oleh Allah Swt kepadanya.
Hal ini kerap terjadi oleh ulama‟ sufi sebagai pancaran bentuk kecintaan mereka kepada Allah Swt.
Corak Dan Metode Tafsir Ibnu ‘Arabi
Syekh Ibnu „Arabi Dalam kitab tafsirnya beliau memunculkan tafsir yang komprehensif yaitu seimbang antara wahyu Tuhan, kesucian ruhani, dan kecerdasan intelektual. Sehingga dapat memunculkan islam yang kaffah. Ibnu „Arabi menjelaskan bahwa semua ayat Al- Qur‟an adalah tasawuf, seperti halnya syari‟ah dan akidah. Ibnu
„Arabi menggunakan pendekatan ta‟wil dengan landasan yang kasyf yakni mengalihkan makna lahir dari makna batin ayat-ayat Al-Qur‟an karena ada karinah- karinah yang tersembunyi yang hanya dapat difahami oleh para sufi. Yang dimaksut dengan makna lahir dari Ibn Arabi adalah sebagai syari‟at sedangkan makna batin yang dimaksut adalah makna hakikat. Ta‟wil maknanya mengambil makna yang tersembunyi dari lafaz lahir karena ada karina-karina yang memungkinkan pengalihan makna secara kasyf. Dengan pendekatan ta‟wil tersebut Ibnu „Arabi menghasilkan tafsir yang bercorak tasawuf. Lebih tepatnya bercorak tasawuf isy‟ari. Dengan kata lain, dikenal sebagai corak tasawuf sufi. Hal ini didasarkan pada materi tafsir Ibnu „Arabi yang sangat sufistik, serta pengakuan Ibnu Arabi sendiri bahwa tafsirnya berdasarkan ilham dari Allah dalam setiap hal yang sangat sesuai.
Dalam penafsiran Ibnu Arabi, meskipun bersifat sufistik, tafsirnya sangat rasional dari sudut
pandang konten dan metodologi.
Metode tafsir Ibnu „Arabi menghasilkan tafsir yang menyeluruh, yang seimbang antara pengungkapan makna eksotorik dan makna esotorik. Melalui kajian sufistik terhadap Al-Qur‟an, Ibnu „Arabi ingin menunjukkan makna-makna khusus yang terkandung dalam setiap ayat, dengan menggunakan metode ta‟wilnya, Ibnu „Arabi menghasilkan tafsir yang bercorak tasawuf. Menurut Ibnu Arabi pindah dari alam lahir ke alam batin adalah
konseptual dari tasawuf. Sedangkan dalam definisi lain menjelaskan bahwa tasawuf adalah attakhallaqu bi akhlaqillah (berakhlak dengan akhlak Allah). Nabi Muhammad Saw
memberikan contoh yang sempurna dari Takhalluq bi akhlaqillah. Bagaimana Aisah
menanggapi pertanyaan tentang akhlak Rasulullah? Allah Swt berfirman, “Sesungguhnya engkau Muhammad ada mempunyai akhla yang agung” (Al-Qalam: 4), Ketika Aisah
menjawab, “Akhlak Rasulullah adalah Al-Qur‟an”.
BAB IV
MAKNA HURUF BA’ DALAM LAFAZ BASMALAH PERSPEKTIF TAFSIR IBNU ‘ARABI
A. Hilangnya Huruf Alif Pada Lafaz Basmalah
Menurut Ibnu Arabi dalam kitab tafsirnya lafaz bismillah yang artinya dengan menyebut asma Allah ditujukan untuk menunjukkan betapa istimewanya, yang melebihi sifat-sifat dan dzat Allah Swt. Sedangkan wujud dari asma Allah itu sendiri merupakan nama bagi dzat (ismu dzat) ketuhanan. Dalam basmalah terdapat 18 huruf yang
menunjukkan bahwa adanya alam-alam yang dikonotasikan dengan jumlah 18 ribu alam, karena lafaz basmalah terdiri dari huruf alif, yang merupakan hitungan sempurna, yang mencakup seluruh struktuk jumlah.
Huruf alif berfungsi sebagai induk dari seluruh strata tanpa hitungan setelah huruf alif. Karena itu ditafsirkan alif sebagai Alam Jabarut, Alam Malakut, Arsy, Kursi, tujuh langit, dan empat anasir, serta tiga kelahiran yang masing-masing terpisah dalam bagian- bagian tersendiri. Sedangkan arti Sembilan belas, menunjukkan keterlibatan alam
kemanusiaan. Meskipun ada alam lain yang memiliki berbagai prinsip, alam insani dianggap memiliki kemuliaan dan universalitas atas seluruh alam dalam bentuk wujud, meskipun tetap termasuk dalam kategori alam hewani. Rasulullah ketika ditanya tentang huruf alif yang melekat pada huruf ba‟, “dimana huruf alif itu?”, Rasulullah menjawab “dicuri oleh setan”, memanjangkan huruf ba‟ saat menulis basmalah sebagai ganti hilangnya huruf alif menunjukkan ketersembunyian dalam rahmat yang tersebar, sedangkan penampakannya hanya dapat diketahui oleh mereka yang ahlinya.
Hal ini sama halnya dengan pandangan Syekh Najmudin Kubro lafaz basmalah dimulai dengan huruf ba‟ karena huruf ba‟ dalam lafaz basmalah menghilangkan huruf alif, yang merupakan huruf awal dan huruf utama dari kata isim (مسا) Huruf ba‟
menghilangkan huruf alif dan mengambil posisinya sebagai huruf pertama. Al-Baghwi menyatakan bahwa hanya kalimat basmalah yang mengalami kehilangan huruf alif dari kata ism. Pada saat ism disandingkan dengan lafaz „Allah‟ sesudahnya, maka akan gugur huruf alif dan tidak ditulis secara nyata. Hal ini berbeda ketika huruf alif disandingkan dengan kata rabb seperti pada Q.S al-Alaq: 1
قلخ يذلا كبر مساب ارقا
Dalam ayat ini huruf alif tidak dihapus seperti dalam lafaz basmalah, tetapi tetap ditulis. Oleh karena itu, huruf alif hanya dibuang ketika disandingkan dengan lafaz Allah, namun huruf alif tetap ditulis jika disandingkan dengan kata selain lafaz Allah. hilangnya huruf alif menunjukkan bahwa rahmat yang tersebar tersembunyi, sementara penapakannya
tidak akan dikenal kecuali oleh ahlinya.
Sama halnya dengan pandangan KH Shalih Darat dalam kitab tafsirnya menerangkan huruf alif pada lafaz basmalah tidak terlihat yang mengisyaratkan adanya manusia dan dzat Allah itu sebagai bukti bahwa adanya Allah. Para sahabat pernah bertanya kepada Nabi Saw tentang huruf alif pada lafaz basmalah, Nabipun mengatakan bahwa alif pada lafaz basmalah telah dicuri oleh iblis, hal itulah yang menjadikan Nabi Muhamad melarang untuk tidak memanjangkan huruf ba‟ sebagai isyarah bahwa adanya insan kamil yaitu Nabi Muhammad Saw. Hal itu menunjukkan isyarah adanya firman Allah pada surah al-Anbiya ayat 107 :
ميملاعلل ةمحر لاا كنلسرا امو
Artinya: “Kami tidak mengutus engkau (Nabi Muhammad), kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam”
Perlambangan huruf alif terhadap pada kalimat هللا مسب Alif akan tampak,contohnya terdapat pada ; (QS. 96:1 )
قلخ يذلا كبر مساب ارقا
Pada lafaz ini huruf Aif muncul diantara Ba’ dan Sin namun tidak terlihat diantara huruf sin dan mim.
Dan juga pada aya ( QS. 11:41 )
اهسرمو اهيرجم هللا مسب اهيف اوبكرا لاقو
Apabila huruf alif tidak muncul pada kata ررررررررررررراهَىسٰرموَ اهَىرجْمهللا مسب ر diibaratkan dalam do‟a sebelum menaiki kapal, niscaya kapal tersebut tidak akan bisa berlayar. Dan jika alif tidak muncul pada ayat قَلخَ يْذِ"لا كَ$برَ مسٰاب أْرقْا niscaya “ia yang serupa” (al-misl) tak akan bisa mengetahui hakikat dirinya dan tak akan melihat bentuknya dan tak akan mampu melihat bentuknya, yang membuatnya sadar dan terbangun dari rasa kantuk kelalaian. Karena huruf
alif banyak dipakai pada awal-awal surah, maka oleh karena itu huruf alif pada lafaz basmalah dihapuskan karena keberadaan alif yang serupa (al-misl) yang bisa mewakili dan menggantikan tempatnya dalam perkataan, yaitu huruf ba‟. Lalu jadilah huruf ba‟ sebagai cermin untuk huruf sin, sehingga huruf sin menjadi “missal”. Huruf alif pada lafaz basmalah tidak terlihat karena kedua huruf sin dan mim yang ada pada lafaz basmalah adalah karena huruf tersebut tempatnya perubahan (tagyir) dan sifat-sifat af‟al (perbuatan-perbuatan).
Jika huruf alif tetap terlihat maka akan hilang huruf sin dan mim. Karena kedua huruf tersebut merupakan bukanlah sifat yang lazim bagi yang maha kadim sebagaimana huruf ba‟. Tersembunyinya alif bagi huruf sin dan mim merupakan sebuah bentuk rahmat untuk mereka agar eksistensi mereka bisa bertahan. Huruf alif adalah utusan sedangkan huruf ba‟, sin dan mim adalah keseluruhan alam semesta.
Karena huruf alif merupakan konsep dasar dan symbol kesatuan, kebersatuan, dan kemanunggalan, huruf alif biasanya disimbolkan dengan Insan Kamil. Alif adalah huruf ilahi, dan huruf lain kehilangan bentuk aslinya karena tidak mau mengikuti perintah.