Rumusan penelitian ini adalah: (1) Apa yang dimaksud dengan hukum Islam tentang perkawinan poligami dalam perspektif Maqasid Syari'ah. Tujuan penelitian ini adalah (1) Untuk menafsirkan apa yang ada dalam hukum Islam tentang kasus pernikahan poligami dalam perspektif Maqasid Syariah.
Konteks Penelitian
Kasus pernikahan ini rupanya dilakukan banyak orang hingga akhirnya pernikahan poligami menjadi perbincangan publik. Sang suami melakukan pelanggaran hukum yang mengakibatkan perkawinan tersebut melanggar Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Pasal 3(1). 1 tentang pernikahan.
Fokus Penelitian
Tujuan Penelitian
Manfaat Penelitian
Metode Penelitian
- Pendekatan dan Jenis Penelitian
- Sumber Data
- Teknik Pengumpulan Data
- Analisis Data
Sumber data primer dalam penelitian ini adalah kitab-kitab fiqih dan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan yang membahas tentang poligami dalam perspektif Maqasid Al-Syari'ah. Kitab yang dibutuhkan adalah Kitab Al-Fiqhul Islamy Wa Adillatuhu dan Kitab Al-Fiqh gaya Mazahib Al-Arbaah. Sumber data sekunder adalah sumber data yang tidak secara langsung memberikan data untuk pengumpulan data, misalnya melalui orang lain atau melalui dokumen.16 Sumber data sekunder dalam penelitian ini berupa kitab-kitab fiqh yang membahas hal-hal yang berkaitan dengan topik di atas, seperti Sunnah. fiqh, kitab, hukum dan peraturan negara.
Definisi Istilah
Pengertian Maqasid al-Syari'ah
Pengertian Poligami
Sistematika Penulisan
Penelitian Terdahulu
Skripsi yang ditulis oleh Reyna Amalia berjudul : STATUS HUKUM PERKAWINAN WANITA YANG MEMILIKI DUA SUAMI DITINJAU DARI HUKUM ISLAM DAN UNDANG PERKAWINAN NOMOR 1 TAHUN 1974. Perempuan yang mempunyai dua suami dilindungi oleh hukum Islam dan Undang-undang Perkawinan No. 1 Tahun 1974.
Kajian Teori
Konsep Perkawinan Dalam Islam a. Pengertian Perkawinan
Selain pentingnya orisinalitas penelitian yang akan diteliti, juga menunjukkan persamaan dan perbedaan antara penelitian yang akan dilakukan dan yang telah dilakukan. Penjelasan pada tabel di atas diharapkan dapat memudahkan peneliti lain untuk memahami ketika memaparkan penelitian sebelumnya, sehingga lebih mudah untuk mengidentifikasi di mana letak orisinalitas penelitian tersebut.
نَّمَضةَحاَبِا
Ulama mazhab Syafi’iyah memberi definisi nikah dengan melihat sifat akad apabila berkaitan dengan kehidupan suami isteri yang berlaku sesudahnya, yang bermaksud boleh melakukan persetubuhan sebelum akad dibuat. antara mereka, mereka tidak boleh melakukan persetubuhan.
ءْطَولْا
حاَكِّنلا
6 Mohd Idris Ramulyo, Hukum Perkawinan Islami Analisis Terhadap UU No. dari ungkapan “Berdasarkan Keimanan Kepada Tuhan Yang Maha Esa” pada rumusan Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.
ةَناَمَأِب
Hal ini menjelaskan bahwa bagi umat Islam, pernikahan merupakan acara keagamaan dan oleh karena itu yang melaksanakannya telah melakukan ibadah keagamaan. Hal ini sesuai dengan hadis Nabi Muhammad SAW dari Ibnu Abbas sebagaimana dikutip oleh Amir Syarifuddin, sebagai berikut:
حَتْساَو للها
Karena perkawinan merupakan ibadah, maka seorang wanita yang telah menjadi istri merupakan amanah Allah SWT yang wajib dijaga dan diperlakukan dengan baik karena dibawa melalui prosesi keagamaan dalam akad nikah.
تاَمِلَكِب
للها
Terdapat beberapa dalil yang menjadi dasar hukum pernikahan, antaranya firman Allah SWT:
ۦ لٱ و
ي ل عمُك ٓ
اوُلِد ٓ
Kerangka Konseptual
PENEMUAN HUKUM
KESIMPULAN
Konsep Monogami Menurut Hukum Islam
Ayat ini kurang tepat jika dimaknai sebagai penafsiran kewajiban bertindak wajar dalam aspek non-materiil. Oleh karena itu tidak tepat jika ditegaskan bahwa makna ayat ini mengingkari kewajiban bertindak wajar dalam aspek non-materiil. Ayat ini jarang tercermin dalam pembahasan poligami dan monogami, yaitu ayat 32 Surat An-Nur yang menjelaskan bahwa hendaknya perkawinan dilangsungkan bagi orang yang tidak mempunyai pasangan, baik laki-laki maupun perempuan.
Jika yang dibicarakan dalam ayat ini adalah laki-laki yang ingin menikah, maka ia dianjurkan menikah dengan wanita yang belum mempunyai suami. Jika yang dibicarakan dalam ayat ini adalah wali yang akan menikahkan wanita, maka ayat ini menganjurkan agar mereka menikahkan wanita tersebut dengan laki-laki yang belum beristri. Imam al-Qurthubi dalam tafsir al-jami' li-Aham al-Qur'an mengutamakan pokok bahasan dalam ayat ini adalah wali perempuan.8.
Sedangkan dari sisi fiqih, para ahli tafsir tidak membahas ayat ini sebagai dasar anjuran pernikahan bagi yang belum menikah.
ز َ لا
Karena tuntutan peradaban kemanusiaan saat ini telah menunjukkan adanya lompatan signifikan terhadap identitas kemanusiaan perempuan. Lompatan serupa juga terjadi pada klaim peradaban atas identitas manusia para budak, yang sebelumnya masih dianggap setengah manusia. Namun ketika Imam az-Zamakhsyaria yang hidup pada era keenam Hijriyah menegaskan memilih monogami dan mati karena poligami, itu adalah sesuatu yang luar biasa.
Banyak orang pada masa itu tidak mempunyai lebih dari satu istri, tetapi mempunyai banyak budak selir. Namun Imam Az-Zamakhsyaria lebih memilih menafsirkan ayat An-Nisa untuk menegaskan komitmennya terhadap monogami dengan pernyataannya:.
خا
را َ ت
حا
لاَا
لا
ع َ لا
Kita melihat bahwa akibat yang dialami banyak perempuan sangat buruk, tidak dapat dipandang baik secara nalar dan tidak dibenarkan oleh agama.
ما َ ش
و َ لا
سا
باَا
لا َ ط
ذذَ
با َ
باَا تَ ٌَ
با
ذذَا
هاا
ملسم هاور( ْتَتاَم
Konsep Monogami dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan
Sebagaimana tercantum dalam Pasal 1 Undang-Undang Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, perkawinan adalah suatu kegiatan antara seorang laki-laki dan seorang perempuan yang berkaitan dengan suatu tujuan bersama yang ingin dicapai. Dalam artikel ini terlihat adanya asas monogami yang diharapkan dapat ditegakkan melalui Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. Bertentangan dengan asas ini, Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dapat dikesampingkan berdasarkan Pasal 3 ayat (2) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, dimana pengadilan, jika menghendakinya, dapat memberikan wewenang kepada pasangan untuk mempunyai istri lebih dari satu. pihak-pihak yang terlibat.
Jika diperhatikan pasal-pasal tersebut terlihat bahwa Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dalam penerapannya tidak terlalu menegakkan penerapan asas monogami, dimana penerapan asas tersebut diserahkan kepada para pihak yaitu laki-laki menjadi yang menginginkan istri lebih dari satu dengan istri sebelumnya .18. Di Indonesia, persoalan poligami diatur dalam berbagai peraturan perundang-undangan yaitu Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dan Kompilasi Hukum Islam (KHI). Bakri Rahman dan Ahmad Sukardja, Hukum Pernikahan Menurut Islam, Hukum Pernikahan dan Hukum Perdata (Jakarta: Hidakarya Agung, 2004), 9.
Benar sekali UU Perkawinan menerapkan asas monogami dalam praktik perkawinan, karena asas monogami sesuai dengan perkembangan zaman.
Perkawinan Poligami Dalam Perspektif Maqasid Al-Syariah
با ُن
Perkawinan Poligami Menurut Hukum Positif
Dalam praktiknya, perkawinan beberapa perempuan dalam satu pertemuan, sebagaimana penulis sebutkan di atas, dapat terjadi melalui dua cara. Dalam hal ini sebenarnya tidak ada perbedaan antara KHI dan fikih klasik, yang sama-sama mengesahkan perkawinan beberapa perempuan dalam satu majelis, baik dengan satu akad maupun urut. Dari pasal di atas, perkawinan antara beberapa perempuan dalam satu majelis dapat dikatakan sah karena sesuai dengan kaidah syariat Islam.
Perkawinan beberapa perempuan, baik dalam satu keluarga maupun tidak, pada hakikatnya diakomodasi dan dilindungi undang-undang. Seseorang yang ingin mengawini beberapa perempuan harus mendapat izin pengadilan, dalam hal ini izin hanya diberikan apabila perempuan tersebut tidak mampu menunaikan kewajibannya, cacat atau tidak dapat melahirkan anak. Pasal diatas merupakan syarat yang harus dipenuhi oleh seseorang yang ingin memperistri beberapa wanita.
Berdasarkan penjelasan di atas maka perkawinan beberapa isteri yang baik dalam satu jemaah pada prinsipnya mempunyai perlindungan hukum dan undang-undang, namun secara prosedural sulit untuk melaksanakan perkawinan tersebut.
Konstruksi Hukum Perkawinan Poligami dengan Asas Monogami Perkawinan beberapa wanita dalam satu majelis dapat
Istilah Maqasid Al-Syari'ah secara etimologi adalah gabungan perkataan; Maqasid dan Syariah. Shatibi sebagai bapa pertama teori Maqasid Al-Syari'ah tidak memberikan definisi yang konkrit terhadap Maqasid Al-Syari'ah. Ini menjadi asas kepada kemampuan berijtihad berdasarkan Maqasid Al-Shari'ah, walaupun bertentangan dengan nas tekstual (zahir al-nas).
Dari sini para mujtahid harus mengerahkan kemampuannya untuk menemukan Maqasid Al-Syari'ah yang benar-benar dikehendaki Allah dibalik nash. Menjadikan Maqasid-Al-Syari'ah sebagai landasan ijtihad bukan berarti mengabaikan kaidah fiqh dan qawa'id fiqh yang sudah ada. Oleh karena itu, ketentuan-ketentuan tertentu dan parsial dari Al-Qur’an dan al-Hadits harus diukur relevansinya dengan nilai-nilai universal Maqasid Al-Syari’ah.
Malah, al-Qardawi berijtihad dengan menggabungkan nas juz'i dengan Maqasid Al-Shari'ah yang bakal melahirkan.
Konstruksi Maqashid Al-Syari’ah
Pengenalpastian maqasid shari'ah yang mesti berdasarkan dalil syari'ah menunjukkan bahawa maqasid syari'ah tidak boleh bersendirian. Maqashid Shari'ah tersusun kepada 2 (dua) bahagian penting iaitu (1) Qashdu al-Shari' (Pengertian Shari'); dan (2) Qashdu al-Mukallaf (Pengertian Mukallaf). Tujuan Allah Menetapkan Syariah atau Undang-undang (Qashdu al-Shari' fi Wadh'i al-Shari'ah).
Tujuan Allah menurunkan syariat-Nya untuk difahami (Qashdu al-Shari' fi Wadh'i al-Shari'ah lil Ifham). 16 al-Syathibi, al-Muwafaqat.., 69. . tanzila al-shari‟ah „ala muqtadha haal al-munazzali „alaihim aufaq li ri‟ayat al-mashalih allati yaqshuduha al-shari‟ al-hakim).17. Tujuan Allah menetapkan syariah adalah untuk dilaksanakan sesuai dengan ketentuannya (Qashdu al-Shari' fi Wadh'i al-Shari'ah li al-Taklif bi Muqtadhaha).
Niat Allah SWT dalam menurunkan syariat untuk semua hamba-Nya (Qashdu al-Shari’ fi Dukhul al-Mukallaf Tahta Ahkam al-Shari’ah).
PENUTUP
Kesimpulan
Berdasarkan kesimpulan penulis, perkawinan poligami dalam perspektif Maqasid Al-Syariah mendapatkan dasar hukum dan perlindungan hukum, hanya saja perkawinan tersebut sulit diselesaikan secara prosedural. Apalagi Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan sama sekali tidak menyebutkan ketentuan atau norma hukum mengenai perkawinan antara banyak perempuan, sebaliknya UU Perkawinan menempatkan asas atau dasar perkawinan sebagai monogami. Dalam hal yang ketiga: Pertama, asas monogami pada dasarnya adalah upaya untuk mencegah poligami yang tidak didasari oleh keterbukaan (mendapat izin dari istri pertama).
Namun kenyataannya sulit untuk diabaikan bahwa istri pertama akan sulit menerima kehadiran istri kedua, hal ini otomatis akan mengganggu psikologi istri pertama. Kedua, standarisasi persyaratan poligami yang cukup tinggi merupakan bagian dari upaya melindungi praktik poligami dari tindakan diskriminasi dan penelantaran kelompok agama.
Saran-saran
Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku (hak-hak) perempuan yatim (apabila kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Ijma' Ulama tentang larangan menyatukan lebih dari empat wanita dalam satu ikatan perkahwinan dalam satu masa. Pendapat al-Imam Abu Muhammad al-Husein bin Mas’ud al-Baghawi dalam kitab “Ma’alim at-Tanzil” sebagai berikut: larangan beristeri lebih dari empat) adalah ijma’.
Penambahan lebih daripada empat isteri hanya boleh dikhaskan untuk Nabi (SAW), tiada seorang pun dari kalangan masyarakat ini boleh mengikuti baginda dalam hal ini. Jika hukumnya boleh beristeri lebih dari empat, maka Rasulullah saw.