Penelitian ini bertujuan untuk mencoba mengkaji politik identitas keagamaan pada Pilkada Langsung Kabupaten Sigi Tahun 2015. Mengapa masyarakat mengajukan calon kepala daerah (bupati dan wakil bupati) pada Pilkada Langsung Kabupaten Sigi? Untuk mengetahui mengapa masyarakat menjadi calon Kepala Daerah (Bupati dan Wakil Bupati) pada Pemilihan Umum Kepala Daerah Langsung di Kabupaten Sigi.
Politik Identitas
Kristianus (2009) yang dikutip oleh Sri Astuti Buchari12 berpendapat bahwa politik identitas berkaitan dengan perebutan kekuasaan politik berdasarkan identitas etnis dan agama. Politik identitas merupakan sarana perjuangan untuk mencapai kekuasaan politik seperti pada pemilihan Presiden Republik Indonesia berpasangan dengan Ir.
Pilkada Langsung dan Kedaulatan Rakyat Lokal
Pemilihan kepala daerah secara langsung dipandang sebagai wujud mengembalikan “hak fundamental” penduduk di tingkat lokal dan memberikan kewenangan penuh dalam perekrutan kepala daerah untuk mendinamisasikan kehidupan demokrasi di tingkat lokal14. Pemimpin daerah dipilih langsung oleh penduduk setempat, yang memberikan makna filosofis bahwa rakyat memilih pemimpinnya secara langsung, dan pemimpin dengan rakyat memiliki komunikasi politik yang intens dan dinamis. Dinamis dan rakyat adalah pemimpin daerah seperti pemimpin daerah yang lebih dekat dengan rakyatnya, bahkan bersatu dan tak terpisahkan dari rakyatnya.
Penelitian tentang pemilihan umum kepala daerah secara langsung serentak di Kabupaten Sigi tahun 2015 belakangan ini menarik karena masyarakat menaikkan angka menjadi calon Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Sigi periode berdasarkan identitas agama. Realitas politik di masyarakat mencerminkan adanya dua komunitas masyarakat yang berbeda agama yang tersebar di seluruh kecamatan di Kabupaten Sigi. Dalam konteks ini, penelitian ini dilakukan dalam kombinasi dengan penelitian dokumentasi dan penelitian lapangan.
Dalam penelitian pencacahan, data kualitatif berupa pernyataan, perilaku dan peristiwa dikumpulkan melalui penggunaan metode observasi dan wawancara mendalam (in-depth interview), serta Focus Group Discussion (FGD) untuk selanjutnya dianalisis setelah sebuah unit. informasi yang relevan berdasarkan studi penelitian ini. Penelitian ini telah melakukan langkah-langkah pengumpulan data dengan menggunakan teknik observasi, wawancara dan pencarian bahan pelengkap dari data dokumen yang diperoleh.
Observasi
Wawancara dan Studi Dokumen
Studi dokumen paling banyak diperoleh dari Kantor KPU Kabupaten Sigi, Kantor Kesatuan Bangsa dan Politik Kabupaten Sigi, kantor desa dan kantor kecamatan di wilayah Kabupaten Sigi.
Narasumber dan Informan
Lokasi Penelitian
BAB IV
Profil Lokasi Penelitian
Rasionalitas politik identitas keagamaan pada Pilkada Kabupaten Sigi 2015 menunjukkan persebaran penduduk. Persebarannya relatif tidak merata yaitu penduduk beragama Islam lebih terkonsentrasi di Kecamatan Sigi Biromaru dengan jumlah 38.712 jiwa, dan di Kecamatan Marawola sebanyak 21.012 jiwa, namun minoritas terhadap Kristen Protestan di Kecamatan Pipikoro hanya 17 orang dan Marawola 84 orang . Sementara itu, mayoritas penduduk yang beragama Kristen Protestan berada di Kecamatan Palolo sebanyak 16.070 jiwa dan Kecamatan Kulawi sebanyak 11.638 jiwa, namun minoritas beragama Kristen Protestan di Kecamatan Tanambulava sebanyak 136 jiwa.
Sementara itu, umat Katolik lebih terkonsentrasi di Kecamatan Sigi Biromaru dengan total 1.528 orang, lebih banyak bergaul dengan umat Kristen Protestan dan Hindu-Budha, menunjukkan lebih banyak sikap dan perilaku pemilih yang mandiri dan tidak terikat pada identitas agama baik Islam maupun Kristen Protestan. calon Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Sigi yang potensial untuk periode ini. Sebaran penduduk berdasarkan identitas keagamaan di wilayah Kabupaten Sigi dapat dilihat pada peta wilayah Wilayah Sigi berikut ini.
Dinamika Rekrutmen Partai Politik
Proses rekrutmen calon partai politik yang akan diusung ke tahapan proses pilkada langsung tidak mengatur bahwa calon yang akan diusung harus berasal dari partai politik atau kader partai politik. Padahal, banyak tokoh yang layak tampil berasal dari desa dan kecamatan yang seharusnya mendapatkan peluang politik dalam proses pencalonan kepala daerah di Kabupaten Sigi. Dalam proses pilkada langsung di Kabupaten Sigi, hanya ada satu calon independen yakni Ir.
Pada tahun 2015, partai politik melakukan rekrutmen calon kepala daerah Kabupaten Sigi pada rezim pemilihan langsung Bupati dan Wakil Bupati (kepala daerah) Kabupaten Sigi yang sifatnya lebih pragmatis yaitu rekrutmen calon yang tidak bermoral dan berintegritas. pendekatan tidak didasarkan, tetapi lebih pada popularitas dan kemampuan keuangan. Pragmatisme parpol juga dapat menghambat lahirnya calon kepala daerah yang berasal dari masyarakat akar rumput, karena isu yang dicalonkan parpol sendiri harus memiliki kekuatan finansial yang cukup dengan bekal. Mahar politik inilah yang merongrong lahirnya kepala daerah yang kurang berkualitas dan tidak amanah.
Rekrutmen calon kepala daerah di Kabupaten Sigi, seharusnya partai politik melakukan rekrutmen yang bersifat mufakat mulai dari tingkat desa, kecamatan hingga kecamatan. Dukungan partai politik hanya membayar biaya administrasi proses pemilihan kepala daerah bagi calon yang telah disepakati dengan masyarakat yang telah mempercayakannya untuk bertarung pada hari pemilihan kepala daerah.
Ketokohan Figur Yang Menentukan
Keadaan citra partai politik yang semakin terdegradasi akibat beroperasinya elite partai politik baik di tingkat nasional maupun daerah seringkali berada dalam jaring dan jerat hukum yang diawasi oleh masyarakat di daerah (desa). ). dan kecamatan) di seluruh nusantara, termasuk Kabupaten Sigi, dapat memengaruhi perilaku pemilih. Masyarakat Kabupaten Sigi terkesan tidak peduli dengan partai politik yang dipimpinnya melainkan karakter caleg yang akan menjadi caleg. 22 Ayub Willem Darawia, calon Wakil Bupati Kabupaten Sigi, mengumpulkan seluruh jaringan keluarganya untuk bersandingan dengan Nurzain Djaelangkara.
Oleh karena itu, tokoh-tokoh yang memiliki kekuatan finansial diberi kesempatan untuk maju ke tahapan proses pemilihan kepala daerah selanjutnya. Realitas politik dalam proses pilkada langsung Kabupaten Sigi tahun 2015, tokoh-tokoh yang muncul dalam pilkada dapat dikategorikan sebagai elit lokal yang memiliki potensi kekuatan finansial yang cukup sebagai salah satu mesin politik. Indikator angka tersebut merupakan elite lokal berasal dari birokrasi pemerintah daerah pada eselon II a dan politisi yang tergabung dalam DPRD Kabupaten Sigi.
Sedangkan dari kalangan politisi adalah Paulina, SE, M.Sc, mantan wakil ketua DPRD Kabupaten Sigi, Ajub Willem Darawia, ST, MT, mantan anggota DPRD Provinsi Sulawesi Tengah. Dalam konteks inilah pola pikir masyarakat pada umumnya menilai bahwa peristiwa politik lokal di Partai Demokrasi Rakyat Kabupaten Sigi telah terjangkit virus “pragmatisme”.
Identitas Agama Sebagai Alat Politik
Ini setelah Pilkada Kabupaten Sigi tahun 2010 dan tahun 2015 beberapa jabatan strategis birokrasi dipegang oleh tokoh-tokoh dari agama Kristen Protestan dan agama non-Muslim lainnya. Realitas politik ini menunjukkan adanya politik perwakilan yang merepresentasikan aspirasi berdasarkan kelompok identitas keagamaan yang mencerminkan kualitas demokrasi lokal di Kabupaten Sigi sejak diselenggarakannya pilkada. Realitas politik identitas keagamaan di Kabupaten Sigi pada Pilkada langsung 2010 dan Pilkada serentak 2015 (bupati dan wakil bupati) dibarengi dengan perbedaan agama yaitu tokoh agama Islam dan tokoh Kristen Protestan.
Susunan calon bupati dan wakil bupati berdasarkan identitas agama pada Pilkada langsung tahun 2010.
Hal ini mencerminkan politik perimbangan dalam membangun konsolidasi demokrasi lokal di Kabupaten Sigi dan Kabupaten lain yang sebenarnya berlaku untuk Kabupaten Poso dan Kabupaten Morowali Utara dalam Pilkada serentak 9 Desember 2015. Seorang informan mengaku berat menampik bahwa identitas agama menjadi penting dalam perebutan kekuasaan di Pilkada Sigi 2015.
Political Representation
Saya Rahim Tarimena bisa bilang kalau di Kabupaten Sigi kalau mengangkat bupati dan wakil bupati harus orang asli, jadi tahu persis masalah yang dialami masyarakat Sigi. Ada beberapa kecamatan yang mayoritas beragama Islam dan beberapa kecamatan yang mayoritas beragama Kristen. Ini harus berpasangan, karena di Sigi agama adalah alat politik yang berada di bawah domain pemilihan bupati dan wakil bupati. mencapai tujuannya. Seperti yang kita lihat pada pemilihan Bupati dan Wakil Bupati baru-baru ini dan terpilihnya Irwan Lapatta dan Paulina.
Memperebutkan kekuasaan melalui identitas keagamaan bukanlah hal yang tabu melainkan realitas politik masyarakat di Kabupaten Siga. Realitas masyarakat politik di Kabupaten Sigi saat Pilkada serentak 2015, Titus Sandjo, yang diwawancarai Nofrian, pada Jono Oge, 11 Januari 2016, menunjukkan bahwa ... seharusnya. Politik identitas keagamaan dalam pemilihan kepala daerah langsung tahun 2015 di Kabupaten Siga, faktor identitas keagamaan dari pribadi-pribadi yang akan diangkat menjadi bupati dan wakil bupati memberikan pentingnya perimbangan politik untuk mendapatkan hak dipilih dan memilih pemimpinnya berdasarkan pada agama mereka.
Calon bupati dan wakil bupati yang memiliki identitas agama berbeda merupakan pasangan masyarakat yang akan memenangkan pemilihan kepala daerah di Kabupaten Sigi. Persatuan dan kesatuan anak bangsa di Kabupaten Sigi semakin kokoh seiring berjalannya keseimbangan politik-ekonomi yang akomodatif berdasarkan identitas keagamaan masyarakat.
Anomali Desentralisasi Partai Politik
Partai politik melakukan politik kepegawaian dalam seleksi calon paling tidak untuk dua alasan, yaitu elektabilitas calon berdasarkan kepribadian. Peran partai politik adalah melakukan pengerahan massa dan melakukan kampanye yang efektif, karena memiliki kader-kader yang handal untuk mengusung calon bupati dan wakil bupati Kabupaten Sigi dalam pemilihan kepala daerah secara langsung tahun 2015. Hal lain yang lebih penting faktor tidak adanya desentralisasi politik terhadap partai politik dalam menentukan jumlah yang akan dilimpahkan ke DPP Jakarta.
Partai politik di daerah yang lebih memahami dan mematangkan karakter dan daya jual tokoh-tokoh yang akan diusung dalam Pilkada Sigi. Bahkan, DPP Partai Politik Jakarta mengambil sikap "ganda", yakni menetapkan dan mengeluarkan dua calon kepala daerah. Inkonsistensi partai politik dalam menentukan calon kepala daerah Kabupaten Sigi mengikis kualitas demokrasi lokal.
Intervensi partai politik DPP dalam menentukan dan mengusulkan calon kepala daerah pada pilkada langsung tahun 2015 di Kabupaten Siga menjadi anomali politik dalam desentralisasi partai politik dalam perumusan kebijakan dan keputusan politik daerah. Anomali desentralisasi politik partai politik tersebut berdampak secara psikologis dan sosiologis terhadap rendahnya tingkat ketidakpercayaan masyarakat terhadap partai politik dalam pengelolaan dana calon kepala daerah di Kabupaten Sigi.
BAB V PENUTUP
1. Kualitas demokrasi harus dijaga dengan baik dengan mengakomodir umat beragama, baik Islam maupun Kristen, maupun pemeluk agama minoritas lainnya. Politik identitas agama, mencalonkan elit berdasarkan identitas agamanya, berarti membangun perimbangan politik untuk mendapatkan akses politik pada jabatan bupati dan wakil bupati serta posisi strategis dalam birokrasi pemerintahan daerah Kabupaten Sigi. Dengan perimbangan politik yang berlandaskan identitas keagamaan, maka dominasi politik komunitas agama tertentu dengan sendirinya dapat dihilangkan dalam menguasai dan menjalankan kekuasaan dalam pemerintahan Kabupaten Sigi.
Kontrol politik dijaga agar setiap warga negara yang memiliki hak politik dan ekonomi memiliki akses yang sama dengan pemeluk agama mayoritas. Menjaga persatuan dan kesatuan bangsa dengan menjaga politik identitas keagamaan sebagai bentuk konsolidasi demokrasi lokal di Kabupaten Sigi menuju Kabupaten Sigi yang damai, sejuk dan sejahtera. Joko J. Prihatmoko, Pemilihan Ketua Daerah, Lembaga Penelitian, Pengembangan dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP3M), Universitas Wahid Hasyim bekerjasama dengan Perpustakaan Mahasiswa, 2005.