MATERI KULIAH
SEJARAH PERGERAKAN POLITIK DI SUMUT SU
POLITIK MILITER JEPANG
SUPRAYITNO
DOSEN PRODI MAGISTER (S-2) ILMU SEJARAH
FAKULTAS ILMU BUDAYA USU
MILITER JEPANG MENDUDUKI
PULAU JAWA (HINDIA-BELANDA)
Militer Jepang Menduduki Sumatera
Tentara Jepang mendarat di Pantai Cermin, Sumatera Timur pada 12 Maret 1942.
Mereka melakukan gerak cepat.
Sebagian ke utara merebut Medan dan terus merebut kota dan kampung-kampung sekitarnya, termasuk objek penting dan strategis pertambangan minyak di Pangkalan Berandan dan perkebunan yang terdapat di Langkat, Deli dan Serdang. Kemudian ke selatan terus ke Simalungun, Asahan dan Labuhan Batu.
Setelah merebut dan menduduki Pematangsiantar pasukan Jepang dengan mudah masuk dan merebut Kabanjahe, Berastagi dan seluruh Tanah Karo.
Gyugun, Heiho, Boempa,
Talapeta
Pasukan Belanda Menyerah
Buah Suram-uram
Pasukan Jepang Praktis tidak mendapat perlawanan, kecuali Hanya satu di Buah Siuram- uram dekat Sarinembah kira-kira 30 km dari Kabanjahe. Satu perwira menengah Jepang tewas dan dikuburkan di sana.
Pasukan Belanda Mundur ke Tanah Alas, dan Kemudian Kolonel Gosensen Menyerah di Gunung Setan. 28 Maret 1942.
Jepang tidak banyak mengubah sistem pemerintahan kolonial Belanda.
Controleur Hindia Belanda yang berkedudukan di Kabanjahe diganti oleh gunseibu Jepang yang berkedudukan di Berastagi. Di tingkat pedesaan memang ada institusi baru, yaitu tonari gumi, semacam rukun tetangga, yang dipimpin oleh kumi-cho.
Institusi dan pejabat baru itu hanyalah untuk membantu pengulu, terutama dalam menyediakan keperluan bagi tentara Jepang, seperti bahan pangan, tenaga kerja dan sumber daya manusia lainnya .
Buahsiuram-
uram
JEPANG MEMBAGI 3 WILAYAH SELATAN (ASTENG)/ HINDIA-BELANDA
Wilayah I : Daerah Jawa dan Madura dengan pusatnya Batavia berada di bawah kekuasaan Rikugun (AD)
Wilayah II : Daerah Sumatra dan Semenanjung Tanah Melayu dengan pusatnya Singapura berada di bawah kekuasaan Rikugun (AD) dibawah pimpinan Letnan Jendral Tomoyuki Yamashita yang kemudian dikenal dengan Tomi Group (Tomi Syudan).
Wilayah III : Daerah Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, Irian berada di bawah kekuasaan Kaigun (AL)
Pusat komando untuk wilayah Selatan ini dipusatkan di Saigon (Dalat). Benda, Irikura, Kishi, Japanese Military Administration ia Indonesia Selected Documents,(Michigan:
Yale University Southeast Asia Stud ies, 1965), h1m. 4 dan 53.
PEMERINTAHAN MILITER Jepang
Struktur pemerintahan untuk kawasan Sumatera dan Malaya adalah : Panglima Tentara., Kepala Staf, Pemerintahan Militer (Guseikanbu) yang terdiri dari beberapa departement yaitu Departement perusahaan dan Industril, Polisi, Kehakiman, Penerangan, Pemindahan dan pengiriman, Meteorologi, Dalam Negeri, Pekerjaan Umum, dan Keuangan.
Dalam struktur Pemerintahan militer (Gunseikanbu) pembagian struktur Pemerintahan Hindia‑Belanda masih tetap dipertahankan. Semua jabatan sipil dipegang oleh Militer, baik di pemerintahan maupun dalam pimpinan perusahaan dan perkebunan.
Lanjutan
Panglima Militer di Bukit Tinggi merangkap sebagai Gubernur Militer. Gubernur Militer berpangkat Chokan kakka membawahi beberapa Shu‑Chokan (residensi). Setiap Shu Chokan membawahi beberapa Bushu‑Cho (afdeling).
Disetiap bunshu (afdeling) terdapat Fuku Bhunsu (onderafdeling) yang dikepalai oleh Fuku Bunshu‑cho. Sebagai penguasa kota Medan diangkatlah Walikota dengan nama Sico.
Administrasi pemerintahan di Sumatera Timur dibagi dalam empat bagian: Bagian Pemerintahan umum (somubu); Kepolisian (keimubu), Bagian Ekonomi (sangyobu); Bagian Penerangan.
Lanjutan...
Sesuai dengan Osamu Seirei Nomor 1 Pasal 1 yang dikeluarkan tanggal 7 Maret 1942 oleh Panglima Tentara Keenambelas. Undang-undang tersebut menjadi pokok dari peraturan-peraturan ketatanegaraan pada masa pendudukan Jepang.
Jabatan gubernur jenderal di zaman Hindia Belanda dihapuskan. Segala kekuasaan yang dahulu dipegang gubernur jenderal sekarang dipegang oleh panglima tentara Jepang di Jawa.
Undang-undang tersebut juga mengisyaratkan bahwa pemerintahan pendudukan Jepang berkeinginan untuk terus menggunakan aparat pemerintah sipil yang lama beserta para pegawainya. Hal ini dimaksudkan agar pemerintahan dapat terus berjalan dan kekacauan dapat dicegah.
Dekrit no 27 mengubah regentschap ( kabupaten ) dan
stadsgemeente ( kota madya ) menjadi Ken dan Si
ROEKOEN TETANGGA /TONARI GUMI
THN 1943 jepang mengumumkan roekoen tetangga dan tonari gumi.
Tonarigumi merupakan sebuah lembaga pemerintah Jepang di tingkat paling bawah dan anggotanya terdiri dari 10-20 rumah. Kemunculan Tonarigumi mendapat apresiasi dari rakyat Jawa, karena Tonarigumi didasarkan pada nilai-nilai semangat gotong royong, kerukunan antar tetangga dan cinta tanah air.
Melalui Tonarigumi pemerintah Jepang mampu mengontrol kegiatan rakyat, memperkuat benteng pertahanan perang, mobilisasi massa, memasok sandang, pangan dan menopang keuangan perang serta mengatur lingkungan rakyat.
Sehingga, Tonarigumi di Jawa dianggap memiliki peran penting bagi pemerintah Jepang dalam rangka mensukseskan Perang Asia Timur Raya., pada tahun ke dua pendudukan Jepang di Jawa, kondisi balatentara Jepang di kancah peperangan Asia Timur Raya semakin terdesak.
LANJUT
Pemerintah Jepang membutuhkan bantuan tenaga manusia yang sangat banyak untuk menghadapi serangan musuh, sehingga pemerintah Jepang mencari solusi dengan mendirikan sebuah lembaga pemerintahan yang dapat digunakan untuk mengendalikan massa dan berlaku untuk memperketat cengkeraman pemerintah atas penduduk serta untuk meningkatkan komunikasi dengan mereka. Lembaga tersebut bernama Tonarigumi.
Keberadaan lembaga Tonarigumi tahun 1942-1945 membawa dampak positif dan negatif bagi rakyat Jawa. Dampak positif tersebut diantaranya meningkatkan jiwa gotong royong dan kedisiplinan rakyat, rakyat mendapatkan pengajaran mengenai kesehatan dan pendidikan militer.
Sedangkan dampak negatif ditunjukkan dengan pudarnya lembaga politik tradisional, merosotnya perekonomian rakyat, meningkatnya kemiskinan, dan kehidupan rakyat yang semakin sengsara
TUGAS TONARI GUMI
Beberapa rumah tangga membentuk satu kesatuan di bawah ketua rukun tetangga yang disebut tonari gumitjo. Penyaluran distribusi dan pengawasan mata-mata menjadi tanggung jawab ketua rukun tetangga. Penerapan sistem Tonarigumi ini pada dasarnya adalah pengintesifan pemerintahan yang dimaksudkan untuk memudahkan penyaluran pemerintahan, distribusi, pengerahan tenaga, dan pengawasan mata-mata.
Kesatuan beberapa kampung atau desa disebut kelurahan (dalam bahasa Jepang disebut ku) yang dipimpin lurah (kutjo).
Pada saat Tonarigumi diterapkan, struktur pemerintahan pangreh praja yang sudah berlaku sebelumnya tidak mengalami perubahan, hanya beberapa istilah yang diubah menjadi nama Jepang, misalnya bupati menjadi kentjo, wedana menjadi guntjo, camat menjadi sontjo, lurah menjadi kutjo, kepala rukun tetangga menjadi gumitjo.
Lanjut..
Tonarigumi dibentuk utk pengerahan pangan dari berbagai pelosok tanah air sebagai realisasi dari kebaktian rakyat seperti yang diajurkan dalam Gerakan Kebaktian Rakyat Jawa (PETA)
Pelaksanaannya harus melalui saluran pangreh praja karena' mereka itulah yang langsung berhubungan dengan rakyat.
Tonarigumi sebagai kesatuan yang terkecil memberikan bantuannya kepada pangreh praja demi kelancaran pekerjaan untuk kepentingan bala tentara penduduk. Walaupun status Tonarigumi diletakkan di bawah pangreh praja, segala konsepsi dan tugasnya diatur sendiri oleh Jepang, lepas dari kepangreh prajaan dan sepenuhnya menjadi alat rezim militer Jepang.
Dengan sistem Tonarigumi, perintah Jepang langsung mengontrol pemerintahan dari pusat sampai kepada rakyat (desa). Pihak Jepang dapat mengontrol peristiwa yang terjadi di kalangan masyarakat dan dapat menyampaikan langsung keinginannya kepada rakyat.
PEMERINTAHAN KOTA
Pada zaman Jepang kepentingan orang-orang asing khususnya orang Eropa yang biasanya tinggal di kota tidak diurus oleh pejabat pribumi. Orang-orang Eropa tersebut membentuk Kotamadya di kota-kota besar atau di kota yang umumnya memiliki perkebunan asing.
Sistem kota madya yang telah di buat oleh Belanda tersebut diteruskan oleh orang Jepang, bahkan Kotamadya yang ada tetap menjadi Si (Kotamadya), dan dipimpin oleh seorang Si-Coo (Walikota). Terjadi perubahan prinsip pada pemerintahan kotamadya.
Awalnya pada masa pemerintahan Hindia Belanda memiliki batas yang tegas anatara kepentingan yang diurus oleh kabupaten dan mana yang diurus oleh kotamadya.
Lanjut
Jepang mempertahankan struktur dari setiap organisasi atau badan lembaga yang telah dibentuknya tersebut. Meskipun provinsi-provinsi dan gubernur-gubernur telah dihapus, tulang punggung dari karesidenan, kabupaten, kewedanan, dan kecamatan tetap berada di bawah Departemen Urusan Dalam Negeri (Naimbu) di Jakarta yang bertanggung jawab kepada Komando Tentara ke-16.
Kedudukan dan hak-hak istimewa yang dimiliki oleh pejabat dikurangi oleh Jepang, seperti gaji, prinsip turun-temurun dihapuskan, dan selama masa pendudukan bermacam ragam kekuasaan menjadi hilang.
POLITIK MASA JEPANG DI SUMATERA
BOEMPA, HEIHO, GYUGUN
GERAKAN BAWAH TANAH
Pada tahun 1943, ketika kedudukannya sudah mulai terdesak dalam perang melawan Sekutu, maka pemerintah Jepang mulai menarik simpati masyarakat dengan merekrut para pemuda untuk masuk ke dalam berbagai organisasi baik sipil maupun militer seperti Talapeta, Boempa, Heiho, Gyugun, dan Keibodan (kepolisian).
Di samping itu, Jepang juga membentuk dewan perwakilan rakyat sebagai pemenuhan janjinya (Janji Koiso) memberikan kemerdekaan kepada rakyat Indonesia dengan membentuk Syu Sangi Kai dan Chuo Sangi In.
Gerakan Anti Fasis untuk kemerdekaan dan demokrasi.
Gerakan pro Belanda
Liga Anti Fasis (Cina Komunis)
Lembaga Anti Fasis
(Cina Nasionalis)
GYUGUN
Gyugun 1943-1945 (dilatih selama 3 bulan di Siborong- borong bersama dengan Bom Gintings, Nelang Sembiring, Ricardo Siahaan, Zainuddin Hasibuan, Boyke Nainggolan, Sulaiman, Jacob Lubis, Tengku Amiruddin, Nokoh Barus, Osman Simatupang, Umar, Martinus Lubis, M. Syarif, R. Tangging Gintings dll.)
Tugas di Pangkalan Berandan dan Blangkejeren, Aceh menjelang Jepang Menyerah.
Satu Gerakan Lain Tujuan
Gerakan Anti Fasis bertujuan untuk mencapai Indonesia Merdeka.
Lembaga Anti‑Fasis berfungsi untuk membantu Sekutu.
Liga Anti Fasis berjuang untuk kepentingan Gerakan Komunis Internasional.
Gerakan Bawah Tanah Pro‑Belanda
bertujuan untuk memulihkan kembali
kekuasaan Belanda di Sumatera Timur
(Gerakan Otonomi Sumatera Timur)
Gerakan Anti Fasis
Gerakan Anti‑Fasis sebenarnya merupakan sektor kaum pergerakan yang telah memamfaatkan posisinya pada lembaga‑lembaga pemerintahan Jepang. Akar utama yang melandasi munculnya gerakan bawah tanah ini adalah Gerakan Aron dikalangan orang‑orang Karo di Tanah Karo, Deli, Langkat dan aktivis‑aktivis Gerindo.
Tidak lama sesudah pasukan Jepang mendarat, pemimpin nasionalis yang bergabung dalam jaringan Gerindo‑Setia‑Aron, mulai mengkampanyekan perampasan tanah kepada petani Karo di Deli Hulu.
Kondisi ini berkembang luas sampai ke Langkat dan Tanah Karo. Tanah- tanah Kepala Adat dirampas oleh para‑ petani.
Pada akhir Mei, sejumlah bentrokan terjadi antara Polisi dan para petani, khususnya di daerah Sunggal. kasus Para petani/aktivis Aron menyerang Helayu dan membakari rumah‑rumah mereka. Dalam peristiwa itu dua orang Penghulu terbunuh. Sampai pertengahan bulan Oktober 1942 seringkali terjadi serangan terhadap kepala dusun, pegawai kesultanan, perampasan tanah dan bentrokan antara petani dengan polisi Tentang munculnya Gerakan Anti Fasis di Sumatera Timur.
Para aktivis Gerakan Aron ini kemudian menjalin hubungan yang erat dengan BOMPA, Gyu‑gun dan TALAPETA baik di Medan maupun di daerah Karo sendiri.
Pemimpin Aron seperti Selamat Gintiiig, Rakuta Serribiring telah bergabung dengan Gerindo sebelum pendudukan Jepang dan dengan Jacub Siregar dalam bulan Maret dan Juni 1942.
Jaringan ini telah membuat Gerakan Aron mengambil sikap konfrontatif dengam, penguasa Jepang maupun Kerajaan, menumbuhkan semangat persatuan dan semperluas dukungan rakyat terhadap gerakan nasionalisme di daerah Karo, Langkat, dan Deli. Keadaan ini menyebabkan banyak kepala Adat Karo masuk ke dalam kubu kaum pergera Ikan nasionalis.
Selanjutnya sejumlah tokoh‑tokoh kaum pergerakan yang tergabung dalam Gerindo, Partindo dan bekas Para aktivis PKI membentuk Gerakan Bawah Tanah.
Diantaranya adalah Karim M.S, Nathar Zainuddin, Marzuki Lubis dan para ak tivis pemuda termasuk Nip Xarim. Gerakan mereka berpangka lan di daerah Langkat Utara.
Sebagian besar anggota gera kan ini berasal
dari penduduk daerah setempat dan para
buruh kota dan buruh perkebunan.
Kegiatan Gerakan Anti‑Fasis terutama berkisar pada aspek spionase dan menanamkan semangat anti‑fasis dan kemerdekaan pada Badan‑Badan Pemerintahan Jepang, Heiho dan Gyu-gun.
Di bidang sabotase, salah satu alat yang dipakai adalah GOSAI (Golongan Saudagar Indonesia). GOSAI bersama-sama dengan Gerakan Anti‑Fasis melakukan sabotase dalam bidang pengangkutan, perdagangan dan membusukkan persediaan bahan malianan Jepang. Mereka juga melakukan kerjasama dengan jaringan Spionase Sekutu dengan membocorkan aktivitas kapal perang Jepang di Selat Malaka kepada Komando SEAC.
Gerakan Pro Belanda
Sementara itu kelompok gerakan bawah tanah yang digerakkan oleh orang‑orang pro Belanda berpusat dikalangan aristokrat kerajaan. Gerakan ini merupakan bagian dari gerakan bawah tanah yang ada di Jawa.
Sampai menjelang masuknya tentara Jepang, gerakan bawah tanah di Sumatera Timur kemudian dimotori oleh 0.
Treffers, bekas Assisten Resident Serdang.
Treffers merekrut sejumlah serdadu KNIL dan juga beberapa orang pemuda Melayu yang bergabung dengan P.S.T. Gerakan ini bertujuan untuk mengumpulkan informasi dan melakukan gerakan sabotase. Organisasi ini mendapat dukungan dari kalangan bangsawan Serdang, Langkat dan Deli. Setelah Jepang berhasil menguasai Sumatera Timur, organisasi ini dibubarkan Jepang dan Treffers beserta tokoh‑tokoh utamanya dihukum mati.
Namun demikian aktivitas gerakan bawah tanah ini tetap dilanjutkan oleh tokoh‑tokoh lainnya seperti, Datuk Hafiz Heberham Ketika perang pasific pecah dan tentara Jepang menduduki pulau Jawa, Belanda membentuk sebuah organisasi bawah tanah dengan nama Indische Vereniging Anti Nippon (IVAN). IVAN berpangkalan di Bandung. Belanda mengirim Raden Saleh Gunung Suriapradja ke Sumatera umtuk membuka jaringan gerakan bawah tanah yang lebih luas dengan tokoh‑tokoh aristokrat Melayu.
Pada tahun 1943 ia tiba di Medan dan bersama dengan Tengku Rachmat dan Abdullah Arifin Rizal, mempropagandakan ide‑ide IVAN dikalangan anggota KNIL.Baca Biro Sejarah Prima, op.cit. hlm. 485.
Mengenai gerakan bawah tanah di Jawa selama masa pendudukan Jepang, baca Kahin, op. cit., h1m., 130‑131, Benedict R.O.G Anderson, Revolusi Pemoeda: Pendudukan Jepang dan Perlawanan di Jawa 1944‑1946, (Jakar ta: Sinar Harapan, 1988), h1m. 38‑70.
Setelah Treffers dihukum mati, pendukung gerakan bawah tanah membentuk organisasi sendiri dengan nama Siap Sedia. Siap Sedia (S.S) diharapkan dapat menggantikan peranan P.S.T
yang sudah dibubarkan oleh Jepang, dengan tujuan untuk melindungi identitas penduduk asli dan membangun otonomi politik Sumatera Timur.
Pembentukan organisasi ini sebagai jawaban atas semakin meningkatnya aktivitas kaum pergerakan nasionalis. Siap Sedia mendapat dukungan masyarakat Sumatera Timur terutama dari golongan bangsawan, Jumlah anggota S.S.
diperkirakan mencapai ribuan orang.
Secara militer gerakan ini memang tidak
berhasil, tetapi secara moral mampu
membangkitkan identitas kultur Orang asli di
kalangan anggota‑anggotanya. Disamping itu
organisasi ini menjadi semacam wahana
untuk memelihara hubungan antara kaum
Aristokrat Kerajaan dengan Pemerintah
Hindia‑Belanda yang telah mengungsi ke
Australia. Melalui oganisasi ini ideititas Orang
Asli dan ide‑ide otonomi Sumatera Timur
ditanamkan dikalangan para penduduk.
Gerakan bawah tanah di Sumatera Timur secara keseluruhan tidak menggoyahkan pemerintahan militer Jepang. Tindakan represif dari pihak Kempetai Jepang telah mengubur iktivitas gerakan ini pada tahun 1944.
Tokoh‑tokoh gerak ,bawah tanah ini banyak yang dihukum mati oleh Jepang, seperti Tengku Rachmat, Tengku Bendahara dan Datuk Hafiz Haberham dipenjarakan.
Kaum Bangsawan kini lebih memfokuskan diri untuk membagun jaringan informal secara pribadi sambil menanti saat yang tepat untuk bereaksi.
Kaum pergerakan Nasionalis condong untuk bekerjasama dengan Pemerintah Militer Jepang. Sampai Proklamasi Kemerdekaan Indonesia di kumandangkan di Jakarta.
Proklamasi Kemerdekaan
Proklamasi di Lapangan Fukuraido Medan
4,6, 9 Oktober 1945 30 September 1945
Pertemuan BPI di Taman Siswa, Jln. Amplas Medan
Pengaruh Militerisme Jepang
Dalam Politik Indonesia Modern
Terjadi Mobilitas Sosial (Pemuda-Pemuda Desa, Anak- anak Kuli Perkebunan, kelas proletar (buruh) memasuki kelas sosial baru dalam sejarah politik Indonesia.
Pendidikan Militer Jepang (eks Gyugun, Heiho, Talapeta) menjadi embrio TNI yang memegang peran penting dalam periode revolusi kemerdekaan 1945-1950-an.
Tokoh2 Penting dalam perpolitikan nasional, masa Orla dan Orba adalah didikan militer Jepang seperti Sudirman, Nasution dan Soeharto
Orba/Rezim Soeharto sangat jelas menganut sistem militeristik model militer Jepang.
MELANJUTKAN SISTEM JEPANG
Setelah Indonesia merdeka, sistem Tonarigumi masih dipertahankan dengan pemberian isi lain yang sesuai dengan suasana kemerdekaan. Tonarigumi disebut rukun tetangga dan dibebani tugas pertahanan rakyat. Rukun tetangga lalu menjadi organisasi kebaktian rakyat yang diselenggarakan oleh rakyat sendiri demi kepentingan revolusi. Kerukunan rakyat itu kemudian ditingkatkan.
Di atas rukun tetangga dibentuklah rukun kampung dan pada tingkatan yang lebih tinggi lagi dibentuk rukun desa. Organisasi di lingkungan masyarakat ini beranggotakan 10-20 rumah tangga.
Selain itu juga dikenalkan organisasi lingkungan kampung yang lebih dikenal dengan nama Rukun Warga (RW). Di daerah Pasar Senen terdapat 74 Aza dan 1.227 Tonarigumi. Konsep RT dan TW ini juga diadopsi oleh Walikota Jakarta Sudiro. Tugas RT dan RW sebagai pembantu lurah dan sifatnya sukarela. Pemilihan dan masa jabatan ketua RTI RW tidak diatur oleh pemerintah namun ditentukan sendiri oleh penduduk lingkungan berdasarkan kepentingannya masing- masing.