1 POPULASI DAN INTENSITAS SERANGAN HAMA KUTU DAUN (Aphis spp.) PADA TANAMAN CABAI RAWIT (Capsicum frutescens L.) YANG DITANAM DI LUAR MUSIM
YANG DIPERLAKUKAN DENGAN BERBAGAI DOSIS PUPUK PETROGANIK POPULATION AND ATTACK INTENSITY OF Aphids (Aphis spp.) ON CHILLIAN PLANTS (Capsicum frutescens L.) CROWN OUT OF SEASON TREATED WITH VARIOUS
DOSAGES OF PETROGANIC FERTILIZER
Oktahif Minanda1, Bambang Supeno2, Ruth Stella Petrunella Thei3 Mahasiswa¹, Dosen Pembimbing Utama², Dosen Pembimbing Pendamping³
Program Studi Agroekoteknologi Fakultas Pertanian Universitas Mataram Jalan Majapahit No. 62, Koresondensi e-mail: [email protected]
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui populasi dan intensitas serangan yang ditimbulkan oleh hama kutu daun pada beberapa dosis pupuk petroganik yang ditanam di luar musim. Penelitian dilaksanakan mulai bulan Oktober 2021 sampai Maret 2022 di lahan Unram Farming yang bertempat di Desa Nyurlembang, Kecamatan Narmada, Kabupaten Lombok Barat. Perlakuan terdiri atas dosis pupuk Petroganik dengan 5 perlakuan yaitu P0 (Kontrol), P1 (200 g/petak), P2 (400 g/petak). P3 (600 g/petak) dan P4 (800 g/petak). Rancangan yang digunakan yaitu Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 4 ulangan. Data hasil pengamatan di analisis menggunakan Analysis of Variance (ANOVA) pada taraf nyata 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan dosis pupuk petroganik berpengaruh nyata terhadap populasi dan intensitas kutu daun. Rata-rata populasi kutu daun yang didapatkan pada cabai rawit adalah 100,50 ekor/tanaman. Populasi kutu daun tertinggi terdapat pada perlakuan P0 (kontrol) adalah 108,98 ekor/tanaman. Sedangkan rata-rata intensitas serangan kutu daun adalah 17,45%, dan intensitas serangan tertinggi terdapat pada perlakuan P0 (kontrol) adalah 21,48%. Populasi dan intensitas serangan kutu daun terendah terdapat pada perlakuan P4 (800 g/petak). Hal ini dikarenakan dosis pupuk petroganik pada perlakuan P4 (800 g/petak) yang diaplikasikan sebagai pupuk dasar mampu mengurangi populasi hama yang menyerang karena pada perlakuan P4 mengandung dosis pupuk petroganik yang lebih tinggi dibanding perlakuan lainnya.
Kata kunci : Kutu Daun, Pupuk Petroganik, Cabai Rawit ABSTRACT
This study aims to determine the population and intensity of attacks caused by aphids on several doses of petroganic fertilizer planted out of season. The research was carried out from October 2021 to March 2022 on Unram Farming land located in Nyurlembang Village, Narmada District, West Lombok Regency. The treatment consisted of a dose of Petroganik fertilizer with 5 treatments, namely P0 (Control), P1 (200 g/plot), P2 (400 g/plot). P3 (600 g/plot) and P4 (800 g/plot). The design used was a Randomized Block Design (RAK) with 4 replications. Observational data were analyzed using Analysis of Variance (ANOVA) at a 5% significance level. The results showed that the dose of petroganic fertilizer had a significant effect on the population and intensity of aphids. The population of aphids obtained on cayenne pepper was 100.50 heads/plant. The highest aphid population was found in treatment P0 (control) was 108.98 head/plant. While the intensity of aphids attack obtained was 17.45%, and the highest attack intensity was found in the P0 treatment (control) was 21.48%. The lowest population and intensity of aphids attack was found in treatment P4 (800 g/plot). This is because the dose of petroganic fertilizer in the P4 treatment (800 g/plot) which was applied as a basic
2 fertilizer was able to reduce the pest population that attacked because the P4 treatment contained a higher dose of petroganic fertilizer than other treatments.
Key words : Aphids, Petroganic Fertilizer, CayennePepper.
PENDAHULUAN
Cabai rawit (Capsicum frustescens L.) merupakan salah satu jenis sayuran yang memilki nilai ekonomi yang tinggi. Cabai mengandung antioksidan yang berfungsi untuk menjaga tubuh dari serangan radikal bebas. Cabai rawit merupakan salah satu komoditas sayuran yang banyak dibudidayakan oleh petani di Indonesia karena memiliki harga jual yang tinggi dan memiliki beberapa manfaat diantaranya sebagai bumbu yang memberikan rasa pedas pada aneka masakan (Setiadi, 2006). Pada umumnya disaat musim hujan, ketersediaan cabai rawit sangat rendah. Hal ini disebabkan penanaman cabai pada musim hujan banyak menghadapi kendala sedangkan permintaan pasar yang tetap tinggi. Oleh karena itu, umtuk mendapatkan harga yang lebih tinggi, budidaya tanaman cabai dapat dilakukan di luar musim (off season). Namun, Penanaman cabai pada musim hujan mengandung resiko. Penyebabnya adalah tanaman cabai tidak tahan terhadap hujan lebat yang terus menerus. Selain itu, genangan air pada daerah penanaman bisa mengakibatkan kerontokan daun dan terserang penyakit akar. Pukulan air hujan juga bisa menyebabkan bunga dan bakal buah berguguran. Sementara itu, kelembapan udara yang tinggi meningkatkan penyebaran dan perkembangan hama serta penyakit tanaman (Dermawan, 2010).
Ketersediaan cabai rendah juga dapat disebabkan oleh organisme pengganggu tanaman (OPT) baik berupa hama, penyakit maupun gulma. Hama yang menyerang tanaman cabai antara lain kutu daun, kutu kebul, dan lalat buah. Sedangkan penyakit yang sering menyerang tanaman cabai diantaranya adalah antraknosa, virus kuning, hawar daun dan layu bakteri. Salah satu hama yang sering menyerang tanaman cabai adalah hama kutu daun (Aphis spp.) yang sangat merugikan hasil produksi tanaman cabai di Indonesia hingga 30% per satuan luas lahan. Kutu daun menyerang fase pertumbuhan sampai dengan fase berbunga sehingga mengakibatkan tanaman terganggu pertumbuhannya. Kutu daun memiliki warna tubuh yang berbeda-beda diantaranya kuning, kuning kemerah-merahan, hijau, hijau gelap, hijau kekuning-kuningan, dan hitam suram (Rocki, 2014).
Untuk mengatasi masalah tersebut umumnya dilakukan dengan memperbaiki faktor-faktor abiotik tanaman seperti nitrogen, kelengasan tanah, dan tekstur tanah yang diduga mempunyai pengaruh tak langsung pada pertumbuhan dan perkembangan serangga folifaga melalui performa tanaman. Dalam peningkatan performa tanaman ini perlu dilakukan upaya agar tanaman budidaya dapat terlindungi dari serangan hama, biasanya para petani mengatasi kendala tersebut dengan melakukan pemupukan menggunakan pupuk kimia. Pupuk kimia memegang peranan penting dalam memacu peningkatan produktivitas baik pada tanaman pangan, hortikultura maupun tanaman perkebunan, karena dapat menyediakan zat hara bagi tanaman lebih cepat dengan kandungan yang tinggi (Taniwiryono dan Isroi, 2008). Akan tetapi pupuk kimia sering mengalami kelangkaan sehingga harganya melonjak tinggi. Selain itu pemakaian pupuk ini dapat menyebabkan pencemaran tanah, menurunkan pH tanah, cepat terserapnya zat hara dapat menjadikan tanah menjadi miskin akan unsur hara, khususnya unsur hara mikro yang sangat diperlukan oleh tanaman untuk meningkatkan hasil dan daya tahan tanaman terhadap serangan hama dan penyakit (Syaifudin dkk., 2010).
3 Dengan adanya berbagai kendala tersebut petani dapat menggunakan alternatif lain, salah satunya dengan penggunaan pupuk organik. Dalam hal ini digunakan pupuk petroganik yang memiliki kandungan hara C-organik 12,5 %, C/N rasio 10-25, N 1%, P2O 1,5%, dan K2O 1,5%.
Pada tanah dengan kandungan C organic rendah menyebabkan kebutuhan pemupukan makin meningkat dengan efesiensi yang merosot akibat tingginya tingkat pencucian (Sumarsono, 2005).
Dengan terpenuhinya unsur hara yang seimbang dari kandungan pupuk petroganik dapat mempengaruhi kandungan unsur nitrogen yang berlebihan sehingga berpengaruh pada daya tahan tanaman terhadap serangan hama kutu daun.
BAHAN DAN METODE
Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan percobaan di lapangan. Pada lahan percobaan Unram Farming Desa Nyiurlembang, Kecamatan Narmada, Kabupaten Lombok Barat, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Penelitian ini dilaksankan pada tanggal 18 Oktober 2021 - 4 Maret 2022. Alat yang digunakan dalam penelitian ini yaitu cangkul, mistar, timbangan, kertas label, papan perlakuan, ajir, rafia, hand sprayer, penetrometer, timbangan analitik, kamera digital dan alat tulis menulis, Seedling try produk toko Pertanian Indonesia 100 lubang. Bahan-bahan yang digunakan yaitu benih cabai rawit varietas Dewata 43 F1 produk PT East West Seed, pupuk Petroganik, pupuk NPK 16 16 16 produk pak tani, pupuk kompos, arang sekam bakar, insektisida Sevin, Amistartop 325SC, mulsa plastic perak.
Percobaan di rancang dengan Rancangan Acak Kelompok (RAK), yang terdiri dari lima perlakuan yaitu : P0 (Kontrol), P1 (200 g/petak), P2 (400 g/petak), P3 (600 g/petak), P4 (800 g/petak). Perlakuan tersebut diulang sebanyak empat kali sehingga diperoleh 20 unit perlakuan.
Sebelum melakukan pembibitan dalam budidaya tanaman cabai dilakukan pengolahan lahan terlebih dahulu. Lahan penanaman dibuat empat blok. Masing-masing blok memilik 5 petak dengan panjang per petak 400 cm dan lebar100 cm dengan jarak tanam 50 cm x 40 cm, dengan jarak antar petak 50 cm dan jarak antar ulangan 50 cm sehingga luas lahan per petak yaitu 4 m2 dan luas lahan keseluruhan yaitu 148 m2. Selanjutnya, Perlakuan pupuk petroganik diberikan sebagai pupuk dasar sebelum pemasangan mulsa dan pembibitan sesuai dengan kebutuhan di setiap perlakuan.
Pemupukan dilakukan dengan cara ditaburkan di atas permukaan tanah secara merata dan dibenamkan kemudian dipasang mulsa plastik. Persemaian dilakukan pada seedling try yang diisi kompos dan dicampur arang sekam bakar dengan perbandingan 2:1.
Perawatan yang dilakukan pada tanaman cabai rawit yaitu penyulaman yang dilakukan pada pagi hari ketika tanaman memasuki umur 7 HST. Perempelan dilakukan ketika tanaman berumur 20 HST dengan menghilangkan tunas-tunas yang tidak produktif. Pemupukan susulan diberikan pada umur 3 minggu setaelah tanam dengan dosis pupuk NPK 16 16 16 300 kg/ha (6 g/tanaman) dan diberikan dengan cara ditugal yaitu dengan membuat lubang 10-15 cm di samping tanaman, kemudian lubang tugal ditutup kembali dengan tanah supaya menjaga hilangnya pupuk akibat hujan, aliran air ataupun menguap. Penyiangan dilakukan satu kali seminggu dan tergantung pada pertumbuhan gulmanya. Pengairan dilakukan satu kali sebelum pindah tanam. Waktu pengairan dilakukan pada pagi hari. Pengendalian penyakit untuk tanaman cabai rawit digunakan Amistartop 325 SC dengan konsentrasi 25 ml/10 liter.
Parameter yang diamati yaitu populasi kutu daun, jenis kutu daun, intensitas serangan kutu daun, dan hasil panen cabai rawit. Data hasil penelitian dianalisis menggunakan Analysis of Variance
4 (ANOVA) dengan taraf nyata 5%. Apabila terdapat Faktor yang berpengaruh maka diuji lanjut dengan uji beda nyata jujur (BNJ). Dan dilakukan analisi uji regresi.
HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Identifikasi Aphis spp.
Hasil identifikasi berdasarkan morfologinya diperoleh 2 spesies serangga hama kutu daun dari genus Aphis sp. yaitu Aphis gossypii G., dan Aphis craccivora koch. Kedua spesies tersebut termasuk ke dalam famili aphididae.
Aphis gossypii G.
Gambar 1. Ciri morfologi aphis gossypii G. ; (A) Seluruh tubuh, (B) 1. Antena dengan tuberkel tidak berkembang, 2.
Sepasang kornikel, 3. Kauda, (C) 4. Sayap depan, 5. Sayap belakang.
Hasil identifikasi pada kutu daun Aphis gossypii G. Dapat diketahui ciri-ciri dari spesies yaitu warna tubuh bervariasi dari hijau tua hingga pucat kuning. Berukuran kecil, dengan bodi membulat, serta kaki panjang dan ramping. Sepasang antena dengan tuberkel tidak berkembang. Sayap depan dengan media bercabang dua, sayap belakang dengan 2 vena. Sepasang kornikel gelap sedikit lancip.
Serta kauda pucat kehitaman. Hasil ini sesuai dengan pendapat Thomas (2003) Aphis gossypii memiliki ukuran tubuh 1,1-3 mm, mempunyai antenna lebih pendek dari panjang tubuhnya, kornikel satu pasang, ada yang bersayap dan ada yang tidak bersayap. Warna tubuh beragam seperti hitam, hijau dan kuning. Serta pendapat dari Dreistadt (2007) mempunyai kauda pucat agak kehitaman dan dua tiga pasang rambut setae. Aphids gossypii mempunyai tuberkel kepala berjauhan, kepala depan relatif rata dan tidak terjadi penonjolan didasar antena. Warna kornikel gelap, relative pendek dan hitam.
5 Aphis craccivora koch
Gambar 2. Ciri morfologi Aphis craccivora K; ; (A) Seluruh tubuh, (B) 1. Antena dengan tuberkel tidak berkembang, 2.
Sepasang kornikel, 3. Kauda, (C) Sayap belakang.
Berdasarkan hasil identifikasi pada kutu daun Aphis craccivora K., tubuh hitam mengkilat dengan bercak hitam besar di dorsum perut, kaki putih dengan area hitam. Berukuran kecil, bentuk membulat. Sepasang antena, tuberkel tidak berkembang. Sayap depan dengan media bercabang dua, sayap belakang dengan 2 urat miring. Sepasang kornikel hitam, silinder lindris, dengan kauda warna hitam. Hasil identifikasi sesuai dengan kunci identifikasi Blackman & Eastop (2000), yaitu kauda berwarna hitam yang mengecil di bagian ujung dan terdapat beberapa rambut kecil, yaitu 2-5 rambut pada satu sisi dan 3 rambut pada sisi lainnya. Sifunkuli (kornikel) berwarna hitam dan berbentuk silinder yang mengecil di bagian ujungnya. Kepala tempat perlekatan antenna sedikit berkembang.
Imago kutu daun yang tidak bersayap berwarna hitam dengan panjang tubuh 1,53 mm.
Gejala Serangan hama Kutu Daun
Gambar 3. Gejala serangan Aphis spp.
Gejala serangan hama kutu daun dengan ciri daun tanaman cabai daun melengkung ke atas, keriput, atau memelintir, daun berbintik-bintik, daun menguning, layu, dan rontok, pertumbuhan terhambat, tanaman menjadi kerdil, tunas dan percabangan tidak berkembang. Gejala ini disebabkan oleh kutu daun dengan cara menusuk jaringan dan menghisap cairan sel daun. Selain itu, kutu daun juga dapat menghasilkan cairan embun madu yang dapat menarik datangnya semut. Semut menggunakan embun madu sebagai pakan sedangkan kehadiran semut menjadi penghalang bagi musuh alami yang menyerang kutu daun. Semut akan menyentuh bagian tungkai dari kutu daun dengan antena sehingga menimbulkan gangguan yang akan mengusir predator. Selain itu semut juga membantu kutu daun dalam melakukan perpindahan ke tanaman inang lain.
6 Populasi Kutu Daun (Aphis spp.)
Hasil penelitian terhadap populasi kutu daun berdasarkan perlakuan dosis pupuk petroganik pada tanaman cabai rawit yang ditanam di luar musim selama pangamatan dari minggu ke-1 sampai dengan minggu ke-6 menunjukkan bahwa rata-rata populasi kutu daun setelah dianalisis menggunakan uji keragaman anova dan di uji lanjut (BNJ) pada taraf nyata 5% menunjukkan hasil yang berbeda nyata. Rata-rata populasi Aphis spp. dapat dilihat pada tabel 1.
Tabel 1. Rata-rata Populasi (Aphis spp.)
Perlakuan Pengamatan ke- Jumlah rata-rata
1 2 3 4 5 6
P0 106,29 120,18 131,46 114,93 100,04 80,96 653,86 108,98 a P1 99,68 112,39 123,21 109,00 94,57 76,36 615,21 102,54 ab P2 98,32 111,11 124,39 110,50 93,89 76,57 614,79 102,46 ab P3 92,25 107,57 115,96 108,75 87,96 72,36 584,86 97,48 ab P4 89,71 105,79 114,43 104,57 79,64 52,11 546,25 91,04 b
BNJ 5% 14,9
Keterangan : angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada uji lanjut BNJ 5%. (P0 = Kontrol, P1 = Dosis pupuk Petroganik 200 g/petak, P2 = Dosis pupuk Petroganik 400 g/petak, P3 = Dosis pupuk Petroganik 600 g/petak, P4 = Dosis pupuk Petroganik 800 g/petak).
Tabel 1 menunjukkan bahwa populasi kutu daun pada perlakuan P0 (kontrol) lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan lainnya dengan rata-rata sebesar 108,98 unit. Hal ini dikarenakan pada perlakuan P0 (kontrol) tidak diberikan pupuk petroganik sebagai perlakuan. Perlakuan P0 (kontrol) ini tidak berbeda nyata dengan perlakuan P1 (500 kg/ha), P2 (1000 kg/ha), dan P3 (1500 kg/ha). Namun berbeda nyata dengan perlakuan P4 (2000 kg/ha). Pada perlakuan P4 (2000 kg/ha) memiliki populasi kutu daun yang lebih rendah dibandingkan dengan perlakuan lainnya dengan rata- rata populasi yaitu 91,04 unit. Hal ini dikarenakan perlakuan P4 (2000 kg/ha) mengandung dosis pupuk petroganik yang lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Dengan pemberian dosis pupuk petroganik yang sesuai maka akan tercukupi kebutuhan unsur hara tanaman.
Pada tanah dengan kandungan C organik rendah menyebabkan kebutuhan pemupukan makin meningkat dengan efesiensi yang merosot akibat tingginya tingkat pencucian (Sumarsono. 2005).
Dengan kandungan hara pupuk petroganik yang memiliki kandungan C-organik yang tinggi yakni sebesar 12,5%, sehingga penyerapan unsur hara N, P, dan K dapat terserap dengan baik. Kandungan unsur hara K yang terdapat pada pupuk petroganik dapat berpengaruh terhadap kekuatan jaringan tanaman, jika unsur K tinggi maka kekuatan atau ketahanan tanaman tinggi, jadi tanaman dapat bertahan terhadap serangan hama dan penyakit, begitupun sebaliknya jika unsur K rendah maka kekuatan atau ketahanan tanaman rendah.
Selain itu, tinggi rendahnya tingkat populasi dari kutu daun juga dipengaruhi oleh fase pertumbuhan tanaman yakni fase vegetatif dan generatif cabai rawit. Pada umur 42 HST sampai dengan 56 HST tanaman berada dalam fase vegetatif. Fase vegetatif merupakan fase dimana jumlah populasi hama kutu daun menjadi tinggi. Dikarenakan pertumbuhan pucuk dan daun-daun muda yang sudah terbentuk merupakan organ yang disukai atau menjadi makan dari hama kutu daun dengan cara menghisap cairan daun muda pada tanaman. Sedangkan pada umur 70 HST sampai dengan 77 HST, tanaman cabai telah memasuki masa generatif dan jumlah populasi hama menjadi menurun dibandingkan dengan tanaman cabai pada fase vegetatif. Hal ini dikarenakan pada fase vegetatif tanaman cabai sudah mulai melakukan pembentukan bunga, buah dan pematangan organ-
7 organ lainnya. Menurut Fauzana et al., (2002), pada fase generatif dan menjelang panen populasi hama penghisap daun cenderung menurun, karena pertumbuhan daun tanaman berkurang, dan sebagian daunnya sudah mulai tua atau kering. Selain dari fase generatif yang dapat menurunkan jumlah populasi hama penghisap daun, terdapatnya musuh alami kutu daun yang dapat memangsa hama kutu daun sendiri.
Faktor lingkungan juga menjadi faktor yang mendukung terjadinya penurunan populasi hama kutu daun seperti terjadinya hujan, dikarenakan pada saat curah hujan hama kutu daun tidak dapat bertahan. Curah hujan sangat mempengaruhi populasi dari kutu daun di lapangan. Dilaporkan bahwa serangga berukuran kecil seperti kutu daun yang hidup di bagian pucuk tanaman sangat rentan terhadap terpaan air hujan. Akibat terpaan air hujan ini diduga sebagian kutu daun yang jatuh tidak dapat kembali lagi ke pertanaman (Stoyenoff, 2001). Kejadian curah hujan dalam suatu areal yang dihuni serangga mengakibatkan pengaruh langsung yaitu hentakan butir hujan pada tempat hidup serangga serta pengaruh tidak langsung pada kelembaban dan tanah. Curah hujan yang tinggi dapat mengakibatkan kematian langsung pada serangga, atau memungkinkan perkembangan patogen serangga (Mavi, 2004).
Kelimpahan Relatif Populasi Kutu Daun
Data kelimpahan relatif populasi kutu daun berdasarkan perlakuan dosis pupuk petroganik dapat dihitung menggunakan rumus yang tertera pada parameter pengamatan, sehingga data kelimpahan relatif populasi kutu daun berdasarkan perlakuan dosis pupuk petoganik dapat dilihat pada tabel 2.
Tabel 2. Kelimpahan Relatif Populasi Kutu Daun PERLAKUAN
Spesies Aphis spp.
Aphis gossypii Aphis craccivora
P0 (Kontrol) 61% 39%
P1(500 kg/ha) 61% 39%
P2 (1000 kg/ha) 61% 39%
P3 (1500 kg/ha) 66% 34%
P4 (2000 kg/ha) 66% 34%
Spesies Aphis gossypii merupakan spesies yang paling tinggi pada setiap perlakuan. Persentase populasi Aphis gossypii yang mempunyai kelimpahan tertinggi berada pada perlakuan P3 (1500 kg/ha) dan P4 (2000 kg/ha) yaitu sebanyak 66%, kemudian diikuti oleh perlakuan P0 (kontrol), P1 (500 kg/ha), dan P2 (1000 kg/ha) yaitu sebanyak 61% dan tergolong ke dalam spesies tinggi.
Sedangkan persentase Aphis craccivora yang mempunyai kelimpahan tertinggi berada pada perlakuan P0 (kontrol), P1 (500 kg/ha), dan P2 (1000 kg/ha) yaitu sebanyak 39%. Kemudian diikuti oleh perlakuan P3 (1500 kg/ha) dan P4 (2000 kg/ha) yaitu sebanyak 34% dan termasuk golongan tinggi. Indeks keanekaragaman akan tinggi bila jumlah individu masing-masing spesies sama atau hampir sama. Indeks keanekaragaman rendah apabila komunitas disusun oleh spesies dengan kelimpahan yang tidak merata atau ada spesies tertentu yang mendominasi. Menurut Mardiana (2019) menyatakan bahwa nilai indeks keragaman jenis hama akan dapat berubah seiring dengan perubahan komposisi jenis dan sebaran atau kelimpahan masing-masing jenis dari hama penghisap daun.
8 Kelimpahan kutu dipengaruhi oleh jumlah individu kutu satu spesies, semakin tinggi jumlah individu kutu maka semakin tinggi pula kelimpahan kutu. Kelimpahan kutu daun juga dipengaruhi oleh suhu dan kelembaban pada lahan pengamatan sesuai pada keberlangsungan hama kutu daun yaitu pada suhu 29oC-30oC (Sudarwadi, 2013).
Intensitas serangan Aphis spp.
Intensitas serangan diamati untuk mengetahui pengaruh dari beberapa perlakuan dosis pupuk petroganik terhadap aktivitas hama, ditandai dengan kerusakan pada daun yang diserang oleh hama Aphis spp. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata intensitas serangan setelah dianalisis menggunakan uji keragaman anova dan di uji lanjut (BNJ) pada taraf nyata 5% menunjukkan hasil yang berbeda nyata. Rata-rata intensitas serangan Aphis spp. dapat dilihat pada tabel 3.
Tabel 3. Rata-rata Intensitas Serangan Hama Kutu Daun
Perlakuan Pengamatan minggu ke jumlah rata-rata
1 2 3 4 5 6
P0 21,33 35,64 28,50 19,05 14,56 9,76 128,86 21,48 a P1 18,12 31,05 27,37 16,15 11,33 7,99 112,02 18,67 ab P2 15,10 30,74 25,91 13,52 10,37 6,75 102,37 17,06 bc P3 17,29 26,37 21,32 13,24 9,18 5,89 93,29 15,55 c P4 15,20 25,79 20,54 12,33 8,46 4,59 86,92 14,49 c
BNJ 2,9
Keterangan : angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada uji lanjut BNJ 5%. (P0 = Kontrol, P1 = Dosis pupuk Petroganik 200 g/petak, P2 = Dosis pupuk Petroganik 400 g/petak, P3 = Dosis pupuk Petroganik 600 g/petak, P4 = Dosis pupuk Petroganik 800 g/petak).
Tabel 3 menunjukkan bahwa intensitas serangan hama kutu daun pada perlakuan P0 (kontrol) lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan lainnya yaitu dengan rata-rata 21,48%. Pada perlakuan P0 (kontrol) dan P1 (200 g/petak) tidak berbeda nyata sedangkan berbeda nyata dengan perlakuan P2 (400 g/petak), P3 (600 g/petak) dan P4 (800 g/petak). Dimana dalam hal ini perlakuan P4 (800 g/petak) merupakan perlakuan dengan intensitas serangan yang paling rendah dibandingkan dengan perlakuan lainnya yaitu 14,49%. Persentase serangan tinggi dan rendah terhadap kutu daun pada tanaman cabai rawit, diduga disebabkan oleh ketahanan tanaman inang.
Selain mengandung kandungan C-organik yang tinggi, pupuk petroganik juga mengandung kandungan unsur NPK. Disamping itu pula dilakukan pemupukan susulan dengan menggunakan pupuk NPK 16 16 16 sehingga unsur hara tanaman dapat terpenuhi dengan baik. Menurut Indranada (1994), peranan kalium di dalam tanaman sangat berhubungan dengan kualitas hasil dan resistensi terhadap patogen-patogen tanaman. Kalium merupakan unsur ketiga yang penting setelah N dan P untuk meningkatkan proses fotosintesis, mengefisienkan penggunaan air, mempertahankan turgor, membentuk batang yang lebih kuat, memperkuat perakaran sehingga tanaman cepat melebar, dan meningkatkan ketahanan tanaman terhadap hama dan penyakit.
9
Gambar 7. Grafik fluktuasi serangan yang ditimbulkan kutu daun
Grafik fluktuasi pada gambar 7 menunjukkan bahwa intensitas serangan hama kutu daun pada perlakuan P0 (kontrol) lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Sedangkan serangan kutu daun terendah terdapat pada perlakuan P4 (2000 kg/ha). Puncak serangan kutu daun terdapat pada pengamatan ke-2 (49 HST) di perlakuan P0 yaitu mencapai 35,64 %. Namun pada pengamatan ke-3 (63 HST) mengalami penurunan, yang disebabkan tanaman dapat bertahan terhadap serangan.
Menurut Painter (1951) mekanisme ketahan tanaman ada tiga yaitu ketidaksukaan (Nonpreference), antibiosis dan toleran. Ketidaksukaan (nonpreference) adalah sifat tanaman yang menyebabkan suatu serangga menjauhi tanaman baik sebagai pakan maupun sebagai tempat meletakan telur. Antibiosis adalah semua pengaruh fisiologis pada serangga yang merugikan dan bersifat sementara atau tetap sebagai akibat dari serangga yang makan dan mencerna jaringan atau cairan tertentu. Toleran merupakan mekanisme ketahanan tanaman dengan menyembuhkan luka, sehingga serangan hama kurang berpengaruh terhadap hasil.
Ketersediaan air juga berpengaruh terhadap penurunan populasi kutu daun. Ketersediaan air yang sangat menurun pada jaringan tanaman menyebabkan Aphis spp. yang memiliki alat mulut menusuk mengisap terbatas dalam aktifitas makan sehingga dapat mengalami penurunan populasi.
Pracaya (2007) menyatakan bahwa hama kutu daun menyebabkan kerusakan dengan cara menusuk jaringan dan mengisap cairan sel daun yang mengakibatkan daun tumbuh menjadi tidak normal dan pada bagian daun yang terserang akan menjadi rapuh. Ketersedian air yang menurun terjadi karena tingginya transpirasi yang diakibatkan banyaknya kutu daun yang menginfestasi daun tanaman.
Penelitian Shannag et al., (1998) menunjukkan bahwa terdapat peningkatan transpirasi pada daun tanaman kapas yang terserang Aphis spp. Aktifitas makan menyebabkan kehilangan air yang berlebihan dari jaringan daun. Peningkatan transpirasi kemungkinan besar berasal dari zat aktif yang disekresikan dengan saliva aphis ke dalam floem, yang mungkin mengganggu proses pengaturan uap air dari tanaman inang (Shannag, 2007).
0,00 5,00 10,00 15,00 20,00 25,00 30,00 35,00 40,00
42 hst 49 hst 56 hst 63 hst 70 hst 77 hst Pengamatan Minggu Ke-
Intensitas Serangan(%)
P0 P1 P2 P3 P4
10 Hubungan populasi kutu daun dengan serangan yang ditimbulkan
Untuk menguji hubungan antara rerata jumlah kutu daun (X) dengan rerata serangan yang ditimbulkan (Y), maka dilakukan analisis uji regresi dengan menghitung nilai koefisien korelasi agar diketahui kuat atau lemahnya hubungan masing-masing variabel.
gambar 8. Analisis regresi populasi kutu daun dengan intensitas serangan
Hasil analisis regresi linier pada gambar 8 menunjukkan bahwa hubungan antara populasi kutu daun dengan intensitas serangan hama kutu daun pada tanaman cabai rawit berkolerasi positif (Y = 0,09638x + 25,425) dengan determinan R2 = 0,8649 yang artinya hubungan antara populasi hama kutu dain dengan intensitas serangan saling mempengaruhi atau bisa dikatakan memiliki hubungan yang sangat kuat. Persamaan ini diartikan bahwa setiap bertambahnya 1 hama kutu daun maka akan menyebabkab serangan sebesar 0,96%. Dilihat dari hubungan antara populasi kutu daun dengan intensitas serangan tanaman cabai rawit memiliki nilai koefisien sebesar 0,86, hal ini menunjukkan bahwa tingkat hubungan antara populasi hama dengan intensitas serangan 86,4%
disebabkan oleh hama kutu daun. Sementara sisanya sebesar 13,6% disebabkan oleh faktor lainnya seperti faktor lingkungan. Dengan melihat seberapa besar hubungan antar populasi kutu daun dengan intensitas serangan pada tanaman cabai, menghasilkan nilai koefisien yang bernilai positif. Artinya, setiap kali populasi kutu daun (variabel X) mengalami kenaikan, maka intensitas serangan (variabel Y) akan mengalami kenaikan. Menurut pendapat Astriyani (2016), yaitu apabila populasi hama meningkat, maka intensitas serangan juga meningkat. Begitu sebaliknya apabila populasi menurun, maka intensitas serangan juga menurun.
y = 0,9638x + 25,425 R² = 0,8649
0,00 10,00 20,00 30,00 40,00 50,00
0,00 10,00 20,00 30,00
intensitas serangan
POPULASI
Populasi (X) Linear (Populasi (X))
11 Hasil Panen Cabai Rawit
Hasil penelitian terhadap hasil panen cabai hingga 5 kali panen berbeda nyata. Rata-rata keseluruhan data hasil analisis sidik ragam dapat dilihat pada tabel 4.
Tabel 4.4. Rata-Rata Hasil Panen Cabai Per Perlakuan Perlakuan Hasil Panen Cabai Rawit (g)
Jumlah Rata- rata Panen 1 Panen 2 Panen 3 Panen 4 Panen 5
P0 393 479 584 724 797 2977 744 b
P1 377 586 1053 806 874 3696 924 ab
P2 569 1255 1206 952 563 4545 1136 ab
P3 748 946 1319 1099 909 5021 1255 ab
P4 1126 1379 1625 890 511 5531 1383 a
Keterangan: P0 = Kontrol, P1 = Dosis pupuk Petroganik 200 g/petak, P2 = Dosis pupuk Petroganik 400 g/petak, P3 = Dosis pupuk Petroganik 600 g/petak, P4 = Dosis pupuk Petroganik 600 g/petak.
Tabel 4 dapat dilihat bahwa perlakuan beberapa dosis pupuk petroganik menghasilkan hasil panen cabai rawit yang berbeda setiap perlakuan. Total jumlah panen paling tinggi terdapat pada perlakuan P4 (800 g/petak) yaitu sebesar 5531 gram dan terendah terdapat pada perlakuan P0 (kontrol) yaitu sebanyak 2977 gram. Hasil panen tertinggi pada semua perlakuan cenderung meningkat pada panen ke-3, sedangkan pada panen ke-4 hasil panen mulai menurun dikarenakan tanaman cabai mulai merunduk dan buah sudah sering dipanen. Kandungan hara yang cukup tinggi yang dimiliki oleh perlakuan P4 (800 g/petak) menjadikan produksi buah cukup bagus dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Sehingga dengan tersedianya unsur hara bagi tanaman, maka serapan hara oleh tanaman akan meningkat dan berpengaruh terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman.
Selain itu, berdasarkan hasil pengamatan di lapangan perlakuan P4 (800 g/petak) paling banyak mengalami kematian tanaman akibat terserang fungi yaitu layu fusarium yang salah satu penyebabnya yaitu faktor lingkungan seperti hujan yang terjadi terus menerus. Disamping itu, pada kondisi pertanaman cabai rawit yang ditanam di luar musim ini berisiko mengalami kelebihan air akibat hujan yang terjadi terus menerus. Menurut Jasmiarni (2008) mengatakan bahwa kelebihan air menyebabkan kurangnya aerase yang akan berdampak hampir sama dengan kekurangan air terhadap tanaman yang menyebabkan pori tanah terisi oleh air. Suryadi (2003), tanaman yang kekurangan air dapat mengakibatkan kematian, sebaliknya apabila tanaman yang kelebihan air dapat menyebabkan kerusakan pada perakaran tanaman, hal ini disebabkan oleh kekurangan oksigen pada tanah yang tergenang. Tanaman yang mengalami kondisi seperti ini akan berdampak negatif terhadap pertumbuhannya karena mengganggu proses fotosintesis dan metabolisme dari tanaman. Efek morfologisnya adalah daun tanaman akan mengalami klorosis dan senesens lebih awal, pemanjangan batang berkurang dan pertumbuhan akar menjadi terbatas. Terdapatnya bedengan pada perlakuan P4 (800 g/petak) yang terendam oleh genangan air menyebabkan hal ini terjadi.
Semakin banyak pupuk Petroganik yang diaplikasikan pada area pertanaman cabai akan secara langsung memberikan suplai unsur hara pada tanaman cabai agar dapat mendukung pertumbuhan vegetatif dan generatifnya. Pemberian pupuk organik melalui pembenaman dalam tanah akan mempengaruhi pertumbuhan pada masa vegetatif dan generatif. Kandungan unsur hara N, P dan K pada setiap pupuk organik memberikan pengaruh yang besar terhadap pertumbuhan buah dan tanaman. Unsur N dan P merupakan usur hara yang mobile dalam jaringan tanaman, sehingga apabila terjadi kekurangan hara, maka akan segera dialokasikan pada jaringan tanaman yang muda.
12 Unsur N pada masa vegetatif cukup seimbang pada tanaman. Berbeda dengan unsur P yang lebih berperan dalam masa generatif. Unsur ini sangat penting dalam proses pembentukan bunga, buah dan biji (Viveros et al., 2010).
KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan maka dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Perlakuan dosis pupuk petroganik berpengaruh nyata terhadap populasi dan intensitas serangan kutu daun. Dosis pupuk petroganik pada perlakuan P4 (800 g/petak) yang diaplikasikan sebagai pupuk dasar mampu mengurangi populasi hama yang menyerang dikarenakan populasi kutu daun yang dihasilkan dari tanaman perlakuan P4 (800 g/petak) tersebut memiliki populasi lebih rendah yaitu sebesar 108,98 unit, dibandingkan perlakuan P0 (Kontrol) yaitu sebesar 91,04 unit. Spesies kutu daun yang paling dominan menyerang tanaman cabai rawit adalah Aphis gossypii G.
2. Dosis pupuk petroganik dapat meningkatkan ketahanan tanaman dan hasil tanaman cabai rawit yang ditanam di luar musim. Sehingga pada perlakuan P4 (800 g/petak) memiliki intensitas serangan terendah yaitu sebesar 14,49% dibandingkan dengan perlakuan P0 (Kontrol) yaitu sebesar 17,45%. Dengan total produksi cabai rawit dengan luas panen 148 m² yaitu 21.346 g atau setara dengan 21 kg/petak dengan luas petak 4 m². Sehingga total produksi per hektar adalah 52.500 kg/ha.
Saran
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, maka disarankan untuk menggunakan pupuk petroganik sebagai pupuk dasar dengan menggunakan dosis yang optimal yaitu 2000 kg/ha dalam melakukan budidaya tanaman cabai rawit di luar musim. Selain itu, penting juga untuk memperhatikan kondisi lingkungan pertanaman cabai rawit guna untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan.
13 DAFTAR PUSTAKA
Ariani L., Artayasa I.P., dan Ilhamdi H.M.L. 2013. Keanekaragaman dan Distribusi Jenis Kupu- Kupu (Lepidoptera) di Kawasan Hutan Tanam Wisata Alam Suranadi sebagai Media Pembelajaran Biologi. Di dalam Prosiding Seminar Nasional Penelitian, Pembelajaran Sains, dan Implementasi Kurikulum 2013. Mataram, 7 Desember 2013. Hal. 160-167.
Astriyani, N. K. N. K., I Wayan, S., I Putu, S. 2016. Kelimpahan Populasi dan Persentase Serangan Lalat Buah yang Menyerang Tanaman BuahBuahan di Bali. Jurnal Agric and Biotechnol Vol.
5 No. 1 : 19 – 27.
Blackman RL, Eastop VF. 2000. Aphids on the World Crop: An Identification and Information Guide. London: The Natural History Museum.
Dermawan, R dan A. Harpenas. 2010. Budidaya Cabai Unggul, Cabai Besar, Cabai Keriting, Cabai Rawit, dan Paprika. Penebar Swadaya. Jakarta.
Dreistadt SH. 2007. Aphids. Integrated Pest Management for Floriculture and Nurseries. University of California Division of Agriculture and Natural Resources Publication 3402.
Fauzana H., S. Syafei, A. Hasyim dan M. Kasim, 2002. PengaruhKetinggianTempat dan MusimTerhadapFluktasi Aphid pada TanamanKentang. Sagu. Vol. 1 No. 1:13-18.
Universitas Riau: Pekanbaru.
Hull R. 2002. Plant Virology. Ed ke-4. Acedemic Press. San Diego.
Jumar. 2000. Entomologi Pertanian. PT. Rineka Cipta. Jakarta.
Maharijaya, A. 2013. Resistance to thrips in pepper. Disertasi. Wageningen University. Wageningen.
Maharijaya.A dan Syukur.M. 2014. Menghasilkan Cabai Keriting Kualitas Premium. Penebar Swadaya: Jakarta Timur.
Mardiana S. 2019. Keanekaragaman Serangga Hama Yang Berasosiasi Dengan Tanaman Ubi Kayu (Manihotesculenta) Di Kabupaten Lombok Utara.
Pracaya. 2011. Hama dan PenyakitTanaman. PenebarSwadaya. Jakarta.
Rocki, P. 2014. Botani, Klasifikasi, dan Syarat Tumbuh Tanaman Cabai.http://digilib.unila.ac.id/790/9/BAB%20II.pdf. Diakses Tanggal 26 September 2016.
Setiadi. 2006. Cabai Rawit, Jenis dan Budidaya. Jakarta : Penebar Swadaya.
Smith PE. 2009. Whitefly: in New Zealand greenhouse identification and biology tomato crop.
Factsheet 1. Horticulture New Zealand. Fresh tomato product group.
Sumarsono. 2005. Peranan pupuk oganik untuk perbaikan penampilan dan produksi rumput gajah pada tanah cekaman salinitas dan kemasaman makalah disajikan pada seminar prospek pengembangan peternakan tanpa limbah. Jurusan produksi ternak fakultas pertanian UNS.
Surakarta. 5 September 2005.
Suwandi, N. et al., 2009. Standar Operating Prosedure (SOP) Budidaya Cabai Merah Gunung Kidul. [pdf] Dinas Pertanian Provinsi Yogyakarta. Tersedia di: http://distan.jogjaprov.go.id/
images /stories /teknologi /hotikultura/ sop cabe merah gk.pdf [Diakses 5 Januari 2016].
Suwono dan M. Saeri. 2012. Pengaruh pupuk organik dan residunya terhadap peningkatan hasil dan pendapatan petani padi sawah. Prosiding Seminar Nasional. Pengelolaan Sumberdaya Pertanian Mendukung Kemandirian Pangan Rumah Tangga Petani. BPTP Jawa Timur. Hal 23-32.
14 Syaifudin, A., L. Mulyani, M. Ariesta, 2010, Pupuk Kosarmas Sebagai Upaya Revitalisas Lahan Kritis Guna Meningkatkan Kualitas dan Kuantitas Hasil Pertanian, Universitas Negeri Solo.
Taniwiryono, D. dan Isroi, 2008. Pupuk kimia buatan, Pupuk organik, dan pupuk hayati. Balai penelitian bioteknologi perkebunan Indonesia BPBPI.
Thomas C. 2003. Bug vs ug: biological control and identificationof aphids. Vegetable and Small Fruit Gazette 7-6.
Tjandra, E., 2011. Panen Cabai Rawit Di Polybag. Cahaya Atma Pustaka, Yogyakarta.
Viveros O.M., Jorquera M.A., Crowley D.E., Gajard G. And mora M.L. 2010. Echanisms and Practical Conciderations Involved In Plant Growth Promotion By Hizbacteria. Jurnal Of Soil Science Plant Nutrient. 10(3): 296-319.