AGENDA : Analisis Gender dan Anak , Vol. 4 (1), 2022, (Juni) ISSN Print: 2615-1502 ISSN Online: 2723-3278 Tersedia online di
http://ecampus.iainbatusangkar.ac.id/ojs/index.php/agenda
A Portrait Of Minang Migrant Women At Parung Panjang West Java
Wirda Nengsih
Universitas Negeri Padang Sumatera Barat
e-mail: [email protected] Ilhamsyah Mirman
Universitas Negeri Padang Sumatera Barat
e-mail: [email protected]
Abstract:
Most of Minang Women become a trader or seller at Parung Panjang Market, West Java.
Regarding to this phenomenon, there are some questions raised like the reasons of selecting career as seller or trader, the relation between social structure of Minang culture in comprehending the market, and the connection between economic behavior of Minang people with the market. Therefore, this research is worth it to be conducted through field research with qualitative approach. Data were collected by observation, interview, and documents. The interview was done to some market players and Minangkabau culture experts. Meanwile, documents are used to elaborate social structure of Minang culture. There are two implications in this research; first, there is a correlation between Minang nomad women in comprehending the market at Paruh Panjang, and second, there is a relationship between social culture systems with economic behavior in gaining success.
Abstrak:
Perempuan Minangkabau di parung panjang paling sering ditemukan di pasar parung panjang sebagai pedagang atau penjual.
Mereka terlibat dalam berbagai unit usaha dagang dan jasa diantaranya usaha kuliner seperti warung makan, usaha dagang pakaian, alat rumah tangga, usaha dagang sepatu, usaha jahit baju, usaha dagang bumbu masakan dan lainnya. Suatu pertanyaan yang
menarik dari fenomena ini, kenapa dan bagaimana bisa perempuan minangkabau di pasar parung panjang termasuk warga yang cukup banyak ,adakah kaitan dengan struktur sosial budaya Minangkabau dalam memaknai pasar dan apakah ada hubungan prilaku ekonomi orang minangkabau dengan pasar. Pertanyaan ini maka dilakukan penelitian lapangan dengan pendekatan kualitatif. Data dikumpulkan melalui proses observasi lapangan, wawancara mendalam dengan pelaku pasar dan ahli kebudayaan Minangkabau dan studi kepustakaan mengenai struktur sosial budaya Minangkabau. Hasil penelitian menunjukan bahwa ada kaitan perempuan parung panjang yang bersuku minangkabau dalam memaknai pasar ketika berada di rantau serta ada hubungan sistem sosial budaya terkait dengan prilaku ekonomi dalam eraih kesuksesan.
PENDAHULUAN
ndonesia umumnya adalah tempat yang terbuka bagi semua lapisan masyarakat , tidak larangan atau pantangan adat bagi siapa yang ingin memasuki pasar dan beraktivitas, termasuk pasar parung panjang, pasar parung panjang adalah pasar yang terbuka dari berbagai golongan termasuk golongan etnik yang berbeda. Dalam hal ini salah satu yang banyak dan dominan yang ditemukan di pasar parung panjang ini adalah etnik Minangkabau, mereka menjadi pedagang dalam berbagai jenis barang dagangan seperti pedagang pakaian, toko kelontong, sepatu, dan kebutuhan makanan sehari serta membuka warung makanan khas padang. Pertanyaan nya bagaimana orang minang ini bisa hadir dalam jumlah yang cukup banyak dan mendominan di pasar parung panjang ini, adakah hubungan dengan struktur sosial budaya minangkabau dalam memahami
pasar dan rantau. Bagaimana prilaku ekoniminya dalam hubungan nya dengan pasar? Maka dari itulah dilakukan penelitian lapangan dengan pendekatan kualitatif yang mana data diambil melalui proses observasi, wawancara mendalam dengan pelaku ekonomi pasar dan pakar kebudayaan Minangkabau serta studi kepustakaan tentang sistem kebudayaan Minangkabau.
1. Konsep Pasar dalam pandangan sistem sosial budaya Minangkabau Pasar memiliki sinonim sebagai tempat jualan, daalm sudut ekonomi, pasar dipandang sebagai suatu mekanisme dalam penciptaan harga. Dalam pandangan ilmu sosial, pasar dipandang sebagai fenomena sosial yang komplek dengan segala dinamikannya, didalam pasar ada struktur sosial dengan jaringan sosialnya serta ada ada dinamika konflik atas
I
adanya persaingan. Daalm hal ini bagaimana struktur sosial pasar dalam konsep emic sosial budaya Minangkabau . Ada tiga konsep pasar dalam sosial budaya masyarakat Minangkabau yaitu Pasa, Pakan dan Balai. Konsep pasa lebih menunjukan sebuah keramaian yang berketerusan. Pakan merujuk pada tempat pertemuan (pekan) antara penjual dan pembeli yang dilakukan pada hari tertentu saja ( satu hari dalam satu minggu), jadi pakan adalah pasar yang diselenggarakan satu kali dalam seminggu sehingga ada istilah pakan salasa ( Pekan selasa), pakan kamih ( pekan kamis ), pakan jumaik ( pekan jumat ) dan sebagainya. Sedangkan Balai adalah tempat pertemuaan para pemimpin adat dalam hal ini di sebut dengan penghulu. Balai tempat dilakukannya musyawarah dan mufakat untuk memutuskan kebijakan publik yang terkait dengan kemaslahatan anak nagari.
Di Balai memang terjadi musyawarah dan mufakat para pemimpin adat namun rakyat banyak dapat menyaksikan dengan leluasa. Karena balai sudah menjadi keramaian juga maka memunculkan permintaan barang dan jasa, ketika mennyaksikan pertemuan pemimpin adat tersebut, tentu haus dan lapar akan datang dengan sendirinya, maka disinilah muncul pasar sebagai tempat penawaran dan permintaan barang dan jasa. Jadi fungsi pasar ( Balai, pakan dan pasa) diantaranya memiliki fungsi kultural, fungsi ekonomi dan fungsi personal . Fungsi kultural terlihat pada fungsi balai sebagai media sosialisasi sosial politik , kontrol sosial, pembuatan keputusan dan kontrak sosial.
Pakan memiliki fungsi sebagai pertukaran sosial , begitu juga fungsi pasa sebagai pertukaran sosial . Selain itu juga memiliki fungsi sebagai sumber issu yang berkembang di tengah masyarat dan ada
proses kontrol sosial karena menjadi perbincangan orang banyak dan menjaga nama baik.Fungsi ekonomi, ketiga tempat ( pasa, balai, pakan) ada proses pertukaran barang dan jasa dan promosi barang.
Sedangkan fungsi personal diartikan tempat itu menjadi bertegur sapa , hiburan dan mencari peluang kesempatan berusaha.( Zusmelia,2007)
2. Merantau
Masyarakat Minangkabau adalah masyarakat yang suka merantau, dan merantau sudah menjadi bagian dari budaya suku minangkabau. Para perantau meninggalkan kampung halaman dalam jangka waktu tertentu. Dalam sejarahnya para perantau minangkabau termasuk perantau sejati dan dapat dikatakan hampir sebagian besar penduduk laki laki Minangkabau pergi merantau sampai sekarang, artinya fenomena merantau bagi suku Minangkabau merupakan bagian dari ciri-ciri kehidupan suku Minangkabau.
Secara sosiologi ( Naim, 1979) merantau adalah tindakan yang meiliki unsur sosial budaya karena merantau adalah kegiatan yang meninggalkan kampung halaman atas kemauan sendiri”, berlangsung dalam jangka tertentu, memiliki tujuan diantaranya untuk penghasilan, mencari ilmu serta menambah pengalaman .
3.Etos Kerja
Tulisan Weber “ The protestant Ethic and the spirit of Capitalism”
mengambarkan adanya hubungan ajran agama dan prilaku ekonomi. Suku Minangkabau juga tidak memisahkan antara ajaran agama dan adat sebagai falsafah Adat basandi syara’, syara basandi kitabullah” ada perpaduan antara adat dan agama sebagai satu kesatuan yang saling
menguatkan. Dalam ajaran Islam juga dikemukakan tentang kerja yang baik , seluruh aktivitas kehisupan termasuk kegiatan ekonomi dipandang sebagai pengabdian kepada Yang Maha Kuasa, sebagaimana surat Al An’am ayat 162 “ Sholatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah kepada Allah, Rab semesta alam” artinya pengabdian dan beribadah religus juga tidak semata ibadah ritual seperti sholat, puasa, zakat dan haji namun kegiatan keduniawian lainnya seperti politik, ekonomi, dan aktivitas sosial serta seni. Kerja yang baik juga dianjurkan dalam hadist nabi Muhammad SAW yaitu
“ beramallah kamu, seolah olah kami mati esok pagi, bekerjalah kamu seolah olah kamu hidup selamanya.”
Dalam falsafah adat Minangkabau juga diungkapkan bahwa hidup perlu keseimbangan, keadilan. Keseimbangan berupa hidup sederhana, hemat, tidak boros, ini di kenal dengan pepatah “ balabiah anncak ancak, bakurang sio sio, diagak mangko diagiah, di baliak mangko di balah, bayang –bayang sepanjang badan ,”
METODE
Metode penelitian mengunakan metode deskriptif kualitatif dengan data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui proses observasi dan wawancara mendalam dengan perempuan dan kelurganya di pasar parung panjang, pengurus organisasi kkerabatan Minangkabau, pengelola pasar dan masyarakat sekitarnya. Sedangkan data sekunder diperoleh melalui studi literatur terkait, website dan beberapa data dokumen lainnya dari buku dan informasi pemerintah setempat.
HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Profil Pasar Parung Panjang dan Organisasi kekerabatan Minangkabau
Parungpanjang merupakan salah satu dari 43 kecamatan di Kabupoaten Bogor, Propinsi Jawa barat. Terletak di ujung baratlaut Propinsi Jawa Barat berbatasan langsung dengan Propinsi Banten.
Dengan luas wilayah 34 km2*
Parungpanjang, saat ini PP didiami oleh 175.000* yang berasal dari berbagai suku.
Suku Sunda, Banten & Jawa merupakan tiga suku dominan, selain beberapa lainnya, seperti suku Betawi, Batak, Minang, Madura, dan Palembang sebagai suku minoritas dengan jumlah yang hampir berimbang. Tabel jumlah penduduk berdasarkan asal suku terlampir.
Dari segi agama, Islam merupakan Agama mayoritas penduduk PP yaitu 115.000 atau 87%, sedangkan Kristen 12.000 (3%), Katolik, Hindu, Budha dan Konghucu yang tersebar merata di beberapa wilayah PP ( table penduduk berdasarkan agama yang dianut terlampir).
Pola Interaksi Antar Golongan Di pasar PP berbagai paguyuban masyarakat cukup eksis dan senantiasa ada hubungan baik serta kerjasama antar berbgai paguyuban tersebut terutama saat menghadapi moment-moment hari besar keagamaan atau kegiatan bersama yang memiliki hubungan antar mereka, seperti program santunan anak yatim atau tablig akbar.
Kegiatan bersama berupa pertandingan olahraga antar perkumpulan atau paguyuban dalam rangka menyambut hari kemerdekaan Republik Indonesia juga menjadi moment yang kerap dimanfaatkan berupa lomba olahraga sepakbola, futsal, bulutangkis, catur disamping kegiatan
semarak lomba yang bernuansa menghibur seperti lomba Tarik tambang, lomba bakiak, main bola pakai sarung, dan sebagainya.
Beberapa paguyuban yang aktif di kalangan pedagang PP antara lain Pedagang Aceh yang tergabung dalam *, Pedagang asal Jawa, Palembang serta pedagang asal Sumatera Barat yang tergaung dalam wadah HKMPS (Himpunan Keluarga Minang Parungpanjang & sekitarnya). Untuk warga asli PP sebagigan besar tergabung dalam BPPKB (Badan Pembina Potensi Keluarga Banten) disamping FBR (Forum Betawi Rempug) dan beberapa organisasi massa lainnya yang bersifat linta profesi, seperti PP (Pemuda Pancasila), FORKABI, dan lain lain.
Organisasi orang Minangkabau di Parung panjang adalah HKMPS, Berdiri sejak tahun 1996, HKMPS adalah wadah yang menghimpun warga PP asal Sumatera Barat atau yang lebih dikenal dengan Minangkabau. Ali asal batusangkar meruapakan ketua HKMPS yang pertama.
Priayang berprofesi sebagai pedagang kain ini memiliki sejarah panjang yang terkait dengan PP, yaitu hamper setengah hidupnya diisi dengan interaksi para pedagang dan masyarakat PP. Datang sebagai pedagang yang ‘kalah’ dari persaingan ketat pedagang dinTanah Abang, nasib membawa Ali sampai ke PP yang saat itu masih menjadi daerah terisolir karena satu-satunya sarana transportasi umum yang menghubungkan wilayah ini dengan ibukota adalah kereta api.
Memang ada juga bus Damri atau beberapa bus lainnya yang menghubungkan PP dengan dunia luar yaitu jalur bus menuju Kalideres, disamping sebagai jalur perlintasan bus
dari Jasinga menunju Kalideres, namun jumlhnya sangat terbatas. Tujuan perjalanan bus tersebut pun tidak banyak membantu warga asal PP menuju ibukota.
Sehingga tetap kereta api menjadi urat nadi transportasi, manusia maupun barang dan komoditi pertanian hasil bumi wilkayah PP dan sekitarnya.
Para pedagang asal Minang banyak yang memanfaatkan kereta api ini untuk membawa barang dagangan menuju wilayah-wilayah baru berkembang, termasuk PP yang sejak decade awal 1990 mulai dibangun perumahan skala besar, yang dipelopori oleh PT.Perumnas dengan target utamanya sebagai perumahan terbesar se Indonesia yang dibangu perusahaan plat merah tersebut saat itu.
PT. Masa Kreasi turut membangun wilayah tersebut dengan perumahan Griya Parungpanjang dengan luas mencapai 200 HA*.
Ali dan teman2 ‘manggaleh babelok’, yaitu teknik berdagang berkelompok dengan cara membawa barang dagangan berputar berpindah tempat memanfatkan lokasi dan keramaian di kampung2.
Umumnya pedagang yang berasal dari keluarga atau asal kampung halaman yang sama membawa barang dagangan beraneka macam sesuai yang dibutuhkan oleh masyarakat kampong. Aneka jenis pakaian anak-anak dan dewasa, alas kaki serta alat- alat kebutuhan rumah tangga adalah barang yang selalu ada mereka bawa, disamping kacamata, jam tangan dan beberapa perangkat modern lainnya.
Pedagang babelok ini memiliki target dan sudah mengetahui peta potensi pasar serta jadwal paling baik tepat untuk mereka mulai berbisnis. Hal ini disebabkan adanya salah satu dari mereka yang berperan sebagai informan. Umumnya informan ini memiliki hubungan baik
dengan tokoh masyarakat setempat baik karena memang sudah saling mengenal, maupun sudah memiliki ikatan kekerabatan. Para pedagang ini menjadi salah satu calon pasangan ‘ideal’ bagi orang tua yang memiliki anak gadis untuk dijadikan menantu karena umumnya mereka dianggap mapan dan memiliki akhlak yang lebih baik.
Peran inilah yang dimainkan oleh Pak Ali, yaitu salah seorang pedagang babelok yang akhirnya menetap di PP dana memiliki isteri berasal dari warga PP.
Dengan karakter dan potensi yang dimiliki akhirnya Pak Ali dituakan dikalangan pedagang asal Minang dan dijadikan ketua HKMPS.
2. Orang Minangkabau dan Perempuan Minangkabau di Pasar Parung panjang
Suatu realita, salah satu suku bangsa yang paling sering kita ketemukan dipasar sebagai pedagang di kota kota nusantara Indonesia ini adalah orang Minangkabau , Orang Minangkabau di pasar-pasar nusantara ini paling sering ditemukan di pasar tanah abang, pasar cipulir, pasar parung panjang dan lain lain sebagai pedagang atau penjual. Mereka terlibat dalam berbagai unit usaha dagang dan jasa diantaranya usaha kuliner seperti warung makan, usaha dagang pakaian, alat rumah tangga, usaha dagang sepatu, usaha jahit baju, usaha dagang bumbu masakan dan lainnya. Suatu pertanyaan yang menarik dari fenomena ini, kenapa dan bagaimana bisa orang minangkabau di pasar termasuk warga yang cukup banyak ,adakah kaitan dengan struktur sosial budaya Minangkabau dalam memaknai pasar dan apakah ada hubungan prilaku ekonomi orang minangkabau dengan pasar.
Pertanyaan ini dapat dijawab melalui pemgamatan, berdialog secara mendalam dengan pelaku pasar serta berdikusi dengan ahli kebudayaan Minangkabau di tambah dengan studi kepustakaan mengenai struktur sosial budaya Minangkabau.
Ada kesimpulan yang didapat bahwa ada kaitan warga yang bersuku minangkabau dalam memaknai pasar ketika berada di rantau serta ada hubungan sistem sosial budaya terkait dengan prilaku ekonomi dalam meraih kesuksesan . 2.1. Pasar Dalam Pandangan Orang
Minangkabau
Di Indonesia umumnya adalah tempat yang terbuka bagi semua lapisan masyarakat , tidak larangan atau pantangan adat bagi siapa yang ingin memasuki pasar dan beraktivitas, termasuk pasar parung panjang, pasarcipulir, pasar parung panjang adalah pasar yang terbuka dari berbagai golongan termasuk golongan etnik yang berbeda. Dalam ha ini salah satu yang banyak dan dominan yang ditemukan di pasar sekitaran kota Jakarta adalah etnik Minangkabau , mereka menjadi pedagang dalam berbagai jenis barang dagangan seperti pedagang pakaian, toko kelontong, sepatu, dan kebutuhan makanan sehari serta membuka warung makanan khas padang. Pertanyaan nya bagaimana orang minang ini bisa hadir dalam jumlah yang cukup banyak dan mendominan di pasar parung panjang ini, adakah hubungan dengan struktur sosial budaya minangkabau dalam memahami pasar dan rantau. Bagaimana prilaku ekoniminya dalam hubungan nya dengan pasar .
Pasar memiliki sinonim sebagai tempat jualan, daalm sudut ekonomi, pasar dipandang sebagai suatu mekanisme
dalam penciptaan harga. Dalam pandangan ilmu sosial, pasar dipandang sebagai fenomena sosial yang komplek dengan segala dinamikannya, didalam pasar ada struktur sosial dengan jaringan sosialnya serta ada ada dinamika konflik atas adanya persaingan . Daalm hal ini bagaimana struktur sosial pasar dalam konsep emic sosial budaya Minangkabau . Ada tiga konsep pasar dalam sosial budaya masyarakat Minangkabau yaitu Pasa, Pakan dan Balai. Konsep pasa lebih menunjukan sebuah keramaian yang berketerusan. Pakan merujuk pada tempat pertemuan (pekan) antara penjual dan pembeli yang dilakukan pada hari tertentu saja ( satu hari dalam satu minggu), jadi pakan adalah pasar yang diselenggarakan satu kali dalam seminggu sehingga ada istilah pakan salasa ( Pekan selasa), pakan kamih ( pekan kamis ), pakan jumaik ( pekan jumat ) dan sebagainya. Sedangkan Balai adalah tempat pertemuaan para pemimpin adat dalam hal ini di sebut dengan penghulu. Balai tempat dilakukannya musyawarah dan mufakat untuk memutuskan kebijakan publik yang terkait dengan kemaslahatan anak nagari.
Di Balai memang terjadi musyawarah dan mufakat para pemimpin adat namun rakyat banyak dapat menyaksikan dengan leluasa. Karena balai sudah menjadi keramaian juga maka memunculkan permintaan barang dan jasa, ketika mwenyaksikan pertemuan pemimpin adat tersebut, tentu haus dan lapar akan datang dengan sendirinya, maka disinilah muncul pasar sebagai tempat penawaran dan permintaan barang dan jasa. Jadi fungsi pasar ( Balai, pakan dan pasa) diantaranya memiliki fungsi kultural, fungsi ekonomi dan fungsi personal . Fungsi kultural terlihat pada fungsi balai sebagai media sosialisasi sosial politik , kontrol sosial,
pembuatan keputusan dan kontrak sosial.
Pakan memiliki fungsi sebagai pertukaran sosial , begitu juga fungsi pasa sebagai pertukaran sosial . Selain itu juga memiliki fungsi sebagai sumber issu yang berkembang di tengah masyarat dan ada proses kontrol sosial karena menjadi perbincangan orang banyak dan menjaga nama baik.Fungsi ekonomi, ketiga tempat ( pasa, balai, pakan) ada proses pertukaran barang dan jasa dan promosi barang.
Sedangkan fungsi personal diartikan tempat itu menjadi bertegur sapa , hiburan dan mencari peluang kesempatan berusaha.( Zusmelia,2007)
Masyarakat Minangkabau adalah masyarakat yang suka merantau, dan merantau sudah menjadi bagian dari budaya suku minangkabau. Para perantau meninggalkan kampung halaman dalam jangka waktu tertentu. Dalam sejarahnya para perantau minangkabau termasuk perantau sejati dan dapat dikatakan hampir sebagian besar penduduk laki laki Minangkabau pergi merantau sampai sekarang, artinya fenomena merantau bagi suku Minangkabau merupakan bagian dari ciri-ciri kehidupan suku Minangkabau.
Secara sosiologi ( Naim, 1979) merantau adalah tindakan yang meiliki unsur sosial budaya karena merantau adalah kegiatan yang meninggalkan kampung halaman atas kemauan sendiri”, berlangsung dalam jangka tertentu, memiliki tujuan diantaranya untuk penghasilan, mencari ilmu serta menambah pengalaman .
Tulisan Weber “ The protestant Ethic and the spirit of Capitalism”
mengambarkan adanya hubungan ajaran agama dan prilaku ekonomi. Suku Minangkabau juga tidak memisahkan antara ajaran agama dan adat sebagai falsafah Adat basandi syara’, syara basandi kitabullah” ada perpaduan antara adat dan
agama sebagai satu kesatuan yang saling menguatkan. Dalam ajaran Islam juga dikemukakan tentang kerja yang baik , seluruh aktivitas kehisupan termasuk kegiatan ekonomi dipandang sebagai pengabdian kepada Yang Maha Kuasa, sebagaimana surat Al An’am ayat 162 “ Sholatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah kepada Allah, Rab semesta alam” artinya pengabdian dan beribadah religus juga tidak semata ibadah ritual seperti sholat, puasa, zakat dan haji namun kegiatan keduniawian lainnya seperti politik, ekonomi, dan aktivitas sosial serta seni. Kerja yang baik juga dianjurkan dalam hadist nabi Muhammad SAW yaitu
“ beramallah kamu, seolah olah kami mati esok pagi, bekerjalah kamu seolah olah kamu hidup selamanya.” Dalam falsafah adat Minangkabau juga diungkapkan bahwa hidup perlu keseimbangan, keadilan. Keseimbangan berupa hidup sederhana, hemat, tidak boros, ini di kenal dengan pepatah “ balabiah anncak ancak, bakurang sio sio, diagak mangko diagiah, di baliak mangko di balah, bayang – bayang sepanjang badan ,”
Dari pemaparan diatas dapat diketahui kenapa orang minangkabau berada di pasar-pasar pasar di kota nusantara Indonesia ini, dan tampak ada hubungan prilaku ekonomi mereka dengan falsafah hidup sebagai orang minangkabau.
2.2. Perempuan Minang di Pasar
Dalam sejarah, perempuan minangkabau adalah orang yang memiliki peran tersendiri dipasar, di pasar tradisional, mereka termasuk orang yang dominan. Dalam arsip buku “ Sumatera Barat Plakat Panjang” tergambar adanya pedagang perempuan dengan pakaian baju kuruang ( Baju kurung khas Minangkabau
) dan tingkuluak ( Kain diatas kepala)serta katidiang ( Wadah) sebagai tempat barang dagangannya yang ditutupi dengan kain.
Perempuan itu berdagang di pasar menjual hasil kerajinan tangan mereka seperti tenunan serta menjual hasil olahan makanan rumah tangga mereka beras, buah-buahan, kopi dan jajanan hasil buatan mereka sendiri. Sejarah ini mengambarkan bahwa dari sejak dahulu bahwa perempuan minangkabau itu tidak bertugas di rumah tangganya, namun terlibat dan memiliki peran dalam hal pertukaran ekonomi masyarakat di pasar.
Sekarang, keterlibatan dan berperan di pasar tetap ada dan dinamis, pasar tradisional baik di kampung maupun di ranah rantau, perempuan terlibat dan berperan aktif atas regulasi kehidupan pasar.
Pasar adalah tempat utama untuk mencari kehidupan bagi orang minangkabau baik di dearah kampung maupun perantauan, orang minangkabau memulai usahanya di pasar dan meniti menjadi pengusaha sukses juga melalui pasar, di pasar mereka menjalankan usaha dan secara perlahan
2.3. Perempuan Minangkabau dan kewirausahaannya
Dalam sistem matrilineal, hak waris diberikan kepada anak perempuan . hampir sebagian industri rumahan dan industri kecil digerakan oleh perempuan seperti industri songket, kerajinan dan industri makanan. Tapi pasti mereka memcoba menguasai pasar dan membentuk komunitas peadagang Minang yang kua.
Sistem Matrilineal memiliki pengaruh pada karakter kewirausahaan perempuan Minangkbau, tanggung jawab atas harta pusaka dan rumah gadang mejadi simbol
kewirausahaan itu dan adanya sistem matrilineal memberikan akses ekonomi dan akses tersendiri bagi perempuan Minangkabau. Namun jika kekuatan ini tidak diimbangi dengan kebijakan yang pro pada pemberdayaan perempuan, maka kekuatan budaya menjadi terdistorsi dan peran perempuan itu mejadi lemah dalam perekonomian. Kebijakan yang belum memberi kesempatan untuk eksis dalam perekonomian, lambat laun akan mengikis karakter kewirausahaan yang sebenarnya sudah menjadi sistem sosial budaya masyarakat.Untuk itu memperjuangkan kebijakan yang memberi kesempatan eksis dalam perekonomian amatlah penting, disinilah letak salah satu penting perjuangan affirmasi perempuan yang selama ini diwacanakan.
KESIMPULAN
Perempuan di pasar parung panjang dalam aktivitas sebagai warga dalam memaknai pasar tak lepas dari nilai identitas sebagai orang Minangkabau , hubungan sosial dan prilaku ekonomi nya juga tak lepas dari identitas sebagai orang Mianngkabau Kemudian sistem matrilineal yang merupakan garis keturunan dalam kekerabatan Minangkabau juga mewarnai kewirausahaan perempuan dalam memberikan akses ekonomi dalam jaringan kekerabatan
REFERENSI
Boedhi Oetojo dkk Teori sosiologi Klasik .Universitas Terbuka.Jakarta Damsar. 2005. Sosiologi Pasar: Padang:
FISIP UNAND.