1 PENDAHULUAN
Latar Belakang
Indonesia memiliki luas darat 1,9 juta km2 dan lautan sebesar 5,8 juta km2 (atau sekitar 70% dari total luas wilayah). Potensi kelautan Indonesia mencapai US$ 1,2 triliun/tahun atau 7 kali lipat APBN 2017 (US$ 170 miliar) atau sekitar 1.2 PDB Nasional, dengan potensi penyediaan lapangan kerja sebanyak 40 juta orang atau 1/3 total angkatan kerja. Potensi kelautan dan perikanan yang besar dapat menjadi leading sector (sektor unggulan) dan prime mover (penggerak utama) perekonomian serta menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia.
Salah satu sektor yang bisa menjadi unggulan dalam jangka pendek adalah sektor perikanan budidaya. Perikanan budidaya telah muncul sebagai aternatif utama usaha masyarakat. Hal ini terlihat dari peningkatan jumlah Rumah Tangga Pembudidaya Ikan (RTP) yang meningkat rata-rata 5,32% setiap tahun (KKP 2015). Pada tahun 2015, jumlah produksi perikanan budidaya (rumput laut, ikan dan udang) mencapai 15,63 juta ton dengan nilai produksi mencapai Rp 121,56 triliun. Dengan angka tersebut, Indonesia termasuk dalam jajaran produsen perikanan budidaya terbesar di dunia.
Udang merupakan salah satu produk perikanan budidaya yang permintaannya terus meningkat. Suhana (2017) melaporkan, dari data (FAO 2016) terlihat impor udang budidaya di seluruh dunia mengalami peningkatan. Negara- negara pengimpor berikut persentase kenaikannya antara lain Jepang sebesar 7%, Uni Eropa 17.8%, Rusia 44%, Australia 4% dan Afrika Selatan 15%. Sedangkan negara-negara pengekspor udang terbesar di dunia meliputi Ekuador, India, Thailand, China dan Indonesia. Lima pasar utama Indonesia adalah Amerika Serikat, Jepang, Uni Eropa, Vietnam dan Malaysia.
Tingginya permintaan udang dunia menuntut adanya upaya peningkatan produksi udang nasional. Hingga saat ini, produksi udang di Indonesia dapat dikatakan baik dan terus meningkat. Terdapat dua jenis udang yang merupakan primadona ekspor yaitu udang windu dan udang vaname. Keduanya merupakan komoditas yang memiliki nilai ekonomi tinggi untuk pasar ekspor. Pada tahun 2014 produksi udang mencapai 592 ribu ton, dimana hampir 23% atau sebesar 141 ribu ton udang di ekspor. Selama periode 2010-2014, kenaikan volume produksi udang berkisar antara 0,6% per tahun. Berdasarkan data Direktorat Jendral Perikanan Budidaya (DJPB 2015), produksi udang tertinggi adalah udang vaname dengan volume produksi 411 ribu atau menyumbang sekitar 70% per produksi di tahun 2014. Angka produksi udang di Indonesia dari tahun 2010-2014 dapat dilihat pada Tabel 1.
Udang vaname (Litopenaeus vannamei) termasuk jenis udang yang mudah dibudidayakan di darat (tambak) baik secara tradisional, semi-intensif, maupun intensif. Hampir semua udang vaname yang beredar di pasar nasional merupakan hasil budidaya tambak. Maraknya bisnis budidaya udang vaname di tambak ternyata tidak hanya memberikan dampak positif terhadap peningkatan produktivitas udang. Hidayatillah (2017) menyampaikan bahwa peningkatan produktivitas udang melalui sistem industrialisasi tambak dapat menyebabkan
pencemaran lingkungan. Untuk menghidari hal tersebut wilayah laut Indonesia yang lebih besar dibandingkan wilayah daratan dapat menjadi solusi alternatif.
Tabel 1 Produksi udang Indonesia tahun 2010-2014
Komoditi Tahun Kenaikan rata-
rata (%)
2010 2011 2012 2013 2014 2010-2014
Vol. Produksi (ton) 380.972 401.154 415.073 638.955 592.219 0,599 Udang windu 125.519 126.157 117.888 171.583 126.595 3,320 Udang Vaname 206.578 246.420 251.763 390.278 411.729 20,490 Udang Lainnya 48.875 28.577 46.052 77.094 53.895 14,230 Sumber: DJPB KKP 2015
Pemanfaatan laut sebagai lahan budidaya udang merupakan salah satu terobosan dan ekstensifikasi budidaya udang vaname. Menurut Effendi (2016), laut memiliki keunggulan dalam budidaya yakni potensi pengembangan yang sangat besar, memiliki kandungan oksigen terlarut yang cukup tinggi sehingga tidak perlu menggunakan kincir, memiliki carrying capacity yang besar dan dapat diarahkan ke intensifikasi budidaya, dan menghasilkan mutu daging udang kualitas premium.
Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan (PKSPL), IPB telah berhasil melakukan kegiatan penelitian aksi (action research) budidaya laut udang vaname mulai dari aspek lokasi dan sistem budidaya, teknologi stocking benur, teknologi pakan dan pemberian pakan, pengelolaan kualitas air, pengelolaan kesehatan udang, karakteristik kualitas udang, teknologi pengangkutan udang hidup, agribisnis udang dan pengembangan kelompok budidaya laut. Penelitian yang berskala pilot plan tersebut dilakukan selama tiga tahun (2015-2017). Lokasi budidaya udang terpilih adalah di Pulau Semak Daun, Kepulauan Seribu, Provinsi DKI Jakarta yang berupa perairan laut dangkal. Udang vaname hasil budidaya tersebut dikategorikan sebagai udang berkualitas premium yang memiliki keunggulan kompetitif dibandingkan dengan udang vaname dari tambak konvensional.
Program pengembangan udang laut yang telah dilakukan PKSPL memberikan hasil yang sangat luar biasa secara teknis dan ekonomi. Budidaya tersebut memiliki daya tarik bagi masyarakat karena dapat menambah income.
Besarnya daya tarik teknologi budidaya ini dibuktikan dengan adanya keterlibatan kelompok nelayan dalam kegiatan budidaya. Sebanyak 79 orang nelayan mengikuti kegiatan penelitian ini sejak awal pelaksanaan. Mengingat besarnya manfaat yang diterima oleh masyarakat maka program ini dapat dikembangkan sebagai bisnis yang berbasis pemberdayaan masyarakat yang ramah lingkungan. Untuk mencapai hal tersebut, diperlukan sebuah rancangan pengelolaan usaha budidaya udang vaname laut yang mudah dipahami.
Rancangan pengelolaan usaha dapat menjadi panduan atau cetak biru (blue print) usaha budidaya vaname di laut. Panduan tersebut harus dapat membantu kelompok masyarakat sebagai pelaku usaha dalam menjalankan bisnis. Model bisnis dapat menjadi alat bantu untuk membuat panduan bisnis yang mudah dipahami, didesain dan redesain dengan cepat (Soeherman 2014). Susanto (2016) menambahkan, model bisnis dapat menjadi sebuah kerangka kerja dan landasan
penetapan tujuan, sasaran, penyusunan strategi, pelaksanaan program atau fokus kegiatan yang diterapkan pada struktur, proses dan sistem manajemen organisasi.
Adanya model bisnis juga dapat membantu melakukan transfer ide, pengetahuan dan pandangan tentang proses bisnis serta permasalahan yang terjadi sehingga memudahkan pengelola membagi perannya dalam setiap proses bisnis.
Salah satu pendekatan model bisnis yang dapat digunakan untuk mengakomodir hal tersebut adalah Business Model Canvas (BMC). Menurut Osterwalder dan Pigneur (2015), BMC merupakan konsep model bisnis yang dapat diterapkan pada organisasi profit maupun non profit. Penggunaan BMC sebagai alat bantu pengembangan model bisnis budidaya udang berbasis masyarakat (social entrepreneur) dapat membantu mengidentifikasi dan mengembangkan komponen- komponen bisnis secara lebih detail dengan membaginya menjadi 9 (sembilan) elemen. Penerapan BMC diharapkan dapat memudahkan kelompok usaha dalam memahami dasar pemikiran, mengenali potensi dan mengembangkan kapasitas bisnis budidaya udang vaname sehingga mudah diaplikasikan dan diduplikasi pada wilayah lainnya dikemudian hari. Kemudahan transfer knowledge sistem usaha budidaya udang vaname berbasis social entrepreneur diharapkan dapat membantu meningkatkan pendapatan dan memacu pertumbuhan ekonomi masyarakat pesisir yang diimbangi kelestarian lingkungan.
Perumusan Masalah
Wilayah Indonesia yang terdiri dari 70% perairan memiliki potensi dalam meningkatkan perekonomian, khususnya masyarakat persisir. Namun, ketidakpastian dan kondisi cuaca yang musiman menjadi faktor yang menyebabkan kesejahteraan nelayan mengalami fluktuasi. Hal ini diperparah dengan adanya ketimpangan pemanfaatan sumber daya perikanan, dimana 90% dari 2,8 juta nelayan kecil di Indonesia hanya membawa pulang rata-rata dua kilogram ikan per hari (Deny 2014). Salah satu solusi umum yang telah dilakukan untuk mengatasi hal ini adalah pengembangan usaha perikanan darat (tambak). Karena memiliki produktivitas yang tinggi (SR 85-90%), udang vaname menjadi salah satu komoditas primadona yang diusahakan pada budidaya tambak.
Maraknya bisnis udang vaname tambak, menimbulkan beberapa masalah sosial dan lingkungan. Hidayatillah (2017) menyimpulkan dalam penelitiannya bahwa meskipun keberadaan industrialisasi tambak udang dapat menciptakan lapangan kerja namun usaha tersebut juga menimbulkan masalah sosial dan lingkungan. Tiga isu besar yang dihadapi adalah pencemaran tanah terhadap lahan pertanian yang produktif menjadi tidak produktif, pencemaran air laut yang menjadi gatal dan bau, dan juga pencemaran udara yang ditimbulkan akibat aktivitas tambak udang. Menyikapi hal tersebut wilayah laut yang lebih besar dibandingkan daratan dapat dijadikan solusi alternatif.
Pemanfaatan laut sebagai tempat budidaya (marikultur) udang vaname merupakan sebuah terobosan yang telah dilakukan PKSPL-IPB. Pengembangan teknologi marikultur tersebut menjadi salah satu solusi dalam mengembalikan fungsi alami laut. Kegiatan yang telah dilakukan sejak tahun 2015 ini merupakan salah satu bentuk sumbangsih kepada masyarakat pesisir terutama di Kepulauan Seribu. Keberhasilan PKSPL dalam mengembangkan teknologi budidaya udang
laut yang melibatkan masyarakat dapat menjadi mata pencaharian alternatif (alternative livelihood) bagi nelayan setempat. Kegiatan tersebut dapat dikelola oleh beberapa orang kelompok nelayan dalam rangka peningkatan kesejahteraan ekonomi bersama.
Beberapa kendala yang dapat menghambat pelaksanaan dan kontinuitas usaha budidaya dengan teknologi tersebut antara lain manajemen usaha, produktivitas yang belum maksimal, dan belum adanya kelompok nelayan yang berperan khusus sebagai pengelola usaha. Meskipun, pada tahun 2015-2016 PKSPL telah berhasil melibatkan nelayan sebanyak 79 orang dalam action research angka tersebut kemudian berkurang drastis sehingga kegiatan budidaya tidak maksimal. Padahal, keterlibatan masyarakat dalam kegiatan ini dapat menjadi pembelajaran bisnis (social entrepreneur) yang dikerjakan dan ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan bersama.
Germak dan Sigh (2010) menyampaikan bahwa kewirausahaan sosial merupakan subuah konsep dalam mengombinasikan ide-ide novatif untuk perubahan sosial, yang dilakukan dengan mengaplikasikan strategi dan keterampilan bisnis. Dewanto (2013) menambahkan bahwa kewirausahaan sosial bekerja dengan cara mengatur, membuat dan mengelola usaha untuk mencapai perubahan yang diinginkan. Berdasarkan kedua definisi ahli tersebut maka kewirausahaan sosial budidaya udang vaname laut dapat dilakukan dengan memerhatikan aspek transfer knowledge dan desiminasi konsep bisnis kepada masyarakat. Konsep yang ditawarkan menjadi sebuah panduan yang dibuat melalui sebuah analisis mendalam pada masalah dan solusi yang ditawarkan tentang pemanfaatan lingkungan dan peningkatan perekonomian masyarakat Kepulauan Semak Daun. Hal ini senada dengan pendapat Syarief (2018) yang mengungkapkan bahwa kewirausahaan sosial dapat menciptakan sumber income tambahan yang independen dan berkelanjutan. Upaya tersebut dilakukan melalui peningkatan produktivitas masyarakat dan integrasi sosial dalam rangka mengentaskan kemiskinan (poverty alleviation).
Menurut Surya et al. (2002), lemahnya kemampuan manajemen usaha merupakan salah satu titik strategis penyebab kemiskinan dan ketidakberdayaan nelayan dan masyarakat pesisir. Menyikapi hal tersebut, maka diperlukan alat bantu yang menjadi panduan untuk mengimplementasikan teknologi marikultur budidaya udang vaname berbasis masyarakat. Untuk menciptakan sebuah panduan bisnis yang bagus, analisis lingkungan untuk meningkatkan pemahaman kondisi lingkungan bisnis agar rancangan yang diperoleh menjadi lebih kuat dan kompetitif.
Sebagai sebuah bisnis masyarakat yang melibatkan banyak pihak, pemahaman yang baik pada stakeholder turut diperlukan untuk meningkatkan sinergisitas.
Berdasarkan penjabaran tersebut, maka beberapa permasalahan yang dapat dirumuskan pada antara lain :
1. Bagaimana bentuk usaha budidaya udang vaname yang telah dijalankan saat ini?
2. Bagaimana peran pihak Bagaimana peran pihak-pihak terkait (stakeholders) dalam kegiatan usaha budidaya udang vaname laut berbasis social entrepreneur?
3. Bagaimana model bisnis social entrepreneur budidaya udang vaname yang dapat dikembangkan?
Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah yang telah disampaikan maka tujuan dari penelitian meliputi :
1. Memetakan dan mengevaluasi model bisnis eksisting budidaya udang vaname laut.
2. Menganalisis peran stakeholders yang terlibat dalam kegiatan social entrepreneur udang vaname laut.
3. Mengembangkan model bisnis social entrepreneur budidaya udang vaname laut.
Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberi kontribusi pada khasanah penelitian manajemen strategik. Penelitian ini juga dapat dijadikan referensi bagi peneliti yang berkeinginan melakukan kajian komoditas perikanan dalam kaitannya untuk menambah kesejahteraan masyarakat pesisir. Penelitian ini juga dapat digunakan sebagai referensi bagi pihak-pihak eksternal yang peduli terhadap pengembangan agribisnis marikultur di Indonesia.
Ruang Lingkup Penelitian
Ruang lingkup penelitian difokuskan pada pengembangan model bisnis udang vaname hasil budidaya laut di Pulau Semak Daun, Kepulauan Seribu berdasarkan perspektif Business Model Canvas. Untuk memperkuat hasil, penelitian dilakukan analisis lingkungan sembilan elemen yang memengaruhi model bisnis serta peran stakeholders yang terkait social entrepreneur budidaya udang vaname laut. Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi sebuah panduan implementasi usaha budidaya udang vaname laut dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir melalui penciptaan mata pencaharian alternative (alternative livelihood) dan menjaga kelestarian lingkungan.
2 TINJAUAN PUSTAKA
Kajian Teori Manajemen Strategi
Hamel dan Prahalad (1994) menyatakan bahwa strategi merupakan suatu perencanaan yang disusun berdasarkan manfaat yang diinginkan di masa depan.
Perencanaan strategis disusun berdasarkan perkiraan pada masa depan, bukan pada hal-hal yang terjadi saat ini atau masa lampau. Perencanaan strategik menggambarkan kebutuhan organisasi, siapa, dan bagaimana melakukannya secara spesifik. Perencanaan strategik bertujuan untuk merancang kegiatan perusahaan di masa yang akan datang dengan mempengaruhi, mengarahkan dan mengendalikan