BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang
Sektor pariwisata telah jadi pendorong penting kemajuan dibidang sosial ekonomi. Sektor pariwisata di Indonesia sebagai negara dengan banyak keindahan alam dan budaya yang berisi ribuan pulau, ratusan ras dan kelompok etnis, sebenarnya mempunyai potensi wisata alam yang besar. Sektor ini diharapkan jadi penghasil devisa terbesar . potensi dan sumber daya alam yang tersedia dilakukan berkembangnya dan diterapkan sebagai objek wisata yang menarik dan diperluas jadi objek wisata. Mengingat daya tarik utama para wisatawan merupakan keindahan alam dan seni budaya local yang berbeda(Yusuf, 2020) . Dengan semakin mudahnya akses transportasi dan informasi, lebih banyak orang yang memiliki kesempatan untuk bepergian dan mengeksplorasi berbagai destinasi baru.
Teknologi digital juga telah berperan besar dalam memfasilitasi perkembangan industri pariwisata, mulai dari perencanaan perjalanan hingga pemesanan akomodasi. Selain itu, pemahaman tentang pentingnya pariwisata berkelanjutan juga semakin meningkat, mendorong inovasi dalam cara kita bepergian. Meski dihadapkan pada tantangan, seperti pandemi COVID-19, sektor pariwisata terus menunjukkan ketahanannya dan potensi untuk terus berkembang di masa depan, Industri pariwisata di Indonesia terus berkembang, termasuk di Tasikmalaya dengan objek wisata Gunung Galunggung.
Gunung Galunggung merupakan wisata di Kecamatan Sukaratu, yang memiliki pertumbuhan dan kegiatan pembangunan untuk rekreasi dan pembangunan untuk pelayanan. Gunung Galunggung memiliki dualisme fungsi yaitu sebagai kawasan pariwisata, serta sebagai kawasan lindung bagi wilaang yang berada dibawahnya.
Berdasarkan hal tersebut, Gunung Galunggung sebagai bagian dari kawasan yang menawarkan objek wisata alami yang sekaligus memiliki fungsi lindung terhadap kawasan dibawahnya tentu membutuhkan penanganan khusus dalam pengembangannya. Salah satu alternatif untuk mengembangkan kegiatan wisata di Gunung Galunggung adalah dengan menerapkan konsep yang berbasiskan mitigasi bencana, mengingat kawasan wisata yang memiliki potensi bencana gunung api dan sangat menerapkan keseimbangan lingkungan kesejahteraan masyarakat lokal.
Bauran pemasaran memiliki peran penting dalam mempengaruhi keputusan pengunjung dalam memilih objek wisata Gunung Galunggung. Istilah bauran pemasaran digunakan pertama kali oleh Neil Borden pada tahun 1964. Borden menyusun daftar elemen bauran pemasaran yang terdiri atas 12 aspek, yaitu Product Planning, Pricing, Branding, Channels of Distribution, Personal Selling, Advertising, Promotions, Packaging, Display, Servicing, Physical Handling dan Fact Finding and Analysis. Daftar tersebut kemudian disederhanakan dan dipopulerkan oleh Jerome McCarthy pada tahun 1968 ke dalam empat aspek pokok yaitu Product, Price, Place, dan Promotion, yang kemudian dikenal dengan istilah
4P. Sebagai dasar pertimbangan pengambilan keputusan dalam pembuatan strategi komunikasi pemasaran(Sandria, 2019) Bauran pemasaran terdiri dari produk, harga, tempat, promosi, orang, proses, dan bukti fisik. Produk wisata di Gunung Galunggung, misalnya, menjadi faktor penting yang menimbulkan kepuasan pengunjung. Kualitas produk wisata yang baik akan berdampak positif terhadap peningkatan jumlah pengunjung dan strategi pemasaran dari mulut ke mulut yang efektif. Selain itu, promosi juga berperan penting dalam menarik minat wisatawan untuk berkunjung. Promosi yang menarik dan informatif dapat mempengaruhi keputusan wisatawan untuk berkunjung. Tempat atau lokasi juga menjadi pertimbangan penting bagi wisatawan. Gunung Galunggung yang memiliki pemandangan alam yang indah dan udara yang sejuk menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Orang-orang yang terlibat dalam penyelenggaraan wisata, seperti pemandu wisata, petugas informasi, dan lainnya, juga mempengaruhi keputusan wisatawan. Pelayanan yang baik dan ramah akan membuat wisatawan merasa nyaman dan ingin kembali berkunjung. Proses pemesanan dan pembelian tiket yang mudah dan cepat juga menjadi pertimbangan wisatawan dalam memilih objek wisata. Bukti fisik seperti kebersihan dan kenyamanan lokasi wisata, fasilitas penunjang seperti toilet, tempat istirahat, dan lainnya, juga mempengaruhi keputusan wisatawan. Jadi, bauran pemasaran memiliki pengaruh yang signifikan terhadap keputusan pengunjung objek wisata Gunung Galunggung.
Dari informasi yang dikumpulkan menunjukkan bahwa antara tahun 2020 dan 2023, ada fluktuasi jumlah orang yang mengunjungi lokasi wisata. 75.786 orang adalah jumlah total pengunjung pada tahun 2020. Terjadi penurunan menjadi 73.031 kunjungan pada tahun 2021. Hal ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor, termasuk perubahan preferensi pengunjung atau status wabah. Namun, dengan 84.005 kunjungan pada tahun 2022, terjadi peningkatan jumlah pengunjung yang cukup signifikan. Peningkatan ini mungkin disebabkan oleh berbagai faktor, seperti pemasaran yang lebih baik, fasilitas yang lebih baik, atau berkurangnya dampak pandemi. Namun demikian, jumlah pengunjung kembali turun menjadi 72.304 orang pada tahun 2023. Ada beberapa alasan yang menyebabkan penurunan ini, termasuk persaingan yang semakin ketat dengan destinasi wisata lain, pergeseran preferensi wisatawan, atau masalah lain yang membuat wisatawan enggan berkunjung. Secara keseluruhan, data menunjukkan bahwa berbagai faktor internal dan eksternal dapat berdampak pada variasi jumlah pengunjung ke tempat wisata dari tahun ke tahun. Untuk menarik lebih banyak tamu, pengelola objek wisata harus terus-menerus menilai tren dan melakukan koreksi yang diperlukan.
Berikut adalah table yang menunjukkan jumlah pengunjung objek wisata dari tahun 2020 hingga 2023:
2020 2021 2022 2023 66000
68000 70000 72000 74000 76000 78000 80000 82000 84000 86000
75786
73031
84005
72304
JUMLAH PENGUNJUNG
JUMLAH PENGUNJUNG
Gambar 1.1 data pengunjung objek wisata cipanas galunggung Sumber :(Opendata.tasikmalayakab.go.id, 2024)
Tabel ini menampilkan fluktuasi jumlah pengunjung objek wisata selama empat tahun tersebut. Dapat dilihat bahwa jumlah pengunjung tertinggi terjadi pada tahun 2022. ditemukan bahwa jumlah pengunjung objek wisata Gunung Galunggung, yang dikelola oleh Manajer Situs Priangan KPH Perhutani mengalami penurunan selama liburan Lebaran 2023. Rata-rata, terdapat sekitar 800 pengunjung per hari, angka yang lebih rendah dibandingkan periode liburan Lebaran tahun sebelumnya. Penurunan ini mencapai sekitar 40-50 persen.
Beberapa faktor yang mempengaruhi tingkat kunjungan wisatawan telah diidentifikasi. Salah satu faktor utama adalah terjadinya longsor di area kawah Gunung Galunggung pada Maret 2023. Selain itu, penelitian ini juga menemukan bahwa peningkatan jumlah hari libur nasional sebelum momen Idul Fitri
berpengaruh terhadap penurunan kunjungan. Selain itu, kebijakan pemerintah dalam memberikan perpanjangan cuti terlalu mepet dengan waktu libur juga dianggap berkontribusi terhadap penurunan jumlah pengunjung. Kebijakan ini membuat banyak orang memilih untuk pulang sebelum adanya perpanjangan cuti.,”(Sumarsono, 2023).
Dari fenomena diatas, dapat disimpulkan bahwa terjadi fluktuasi tingkat wisatawan galunggung tasikmalaya. hal ini menarik untuk diteliti terkait tentang hal yang mempengaruhi fluktuasi tingkat wisatawan. Maka dari itu peneliti mengambil judul “ PENGARUH BAURAN PEMASARAN TERHADAP KEPUTUSAN PENGUNJUNG OBJEK WISATA GUNUNG GALUNGGUNG”
DAFTAR PUSTAKA
Opendata.tasikmalayakab.go.id. (2024). jumlah wisatawan
berdasarkanberdasarkan jenis wisatawan menurut objek wisata di kabupaten tasikmalaya.
Https://Opendata.Tasikmalayakab.Go.Id/Dataset/Jumlah-Wisatawan- Berdasarkan-Jenis-Wisatawan-Menurut-Objek-Wisata-Di-Kabupaten- Tasikmalaya.
Sandria, W. (2019). Pengaruh Bauran Pemasaran Jasa Terhadap Kepuasan Pengunjung Taman Wisata Kampoeng Radja Di Kota Jambi. Journal Development, 7(1), 60–69. https://doi.org/10.53978/jd.v7i1.130
Sumarsono. (2023). Kunjungan Wisatawan ke Gunung Galunggung Disebut Menurun. Https://Rejabar.Republika.Co.Id/.
SURATMAN, J. P. M. (2017). TERHADAP KEPUTUSAN BERKUNJUNG ( Studi pada Pengunjung Taman Rekreasi Sengkaling , Malang ) Scanned by CamScanner.
Yusuf, M. (2020). Pengaruh Bauran Pemasaran Dan Destination Image TerhadapKeputusan Wisatawan Berkunjung Pada Pariwisata Syariah Di Provinsi Sumatera Barat. Al-Hikmah: Jurnal Agama Dan Ilmu Pengetahuan, 17(2), 26–38.