PENDAHULUAN
Latar belakang Masalah
Pemerhatian awal juga dilakukan terhadap ibu Sulastri yang bekerja sebagai penjual makanan ringan, bahawa ketika berkabung (ihdad) di kediaman suaminya, dia berhias, masih memakai pakaian mewah dan keluar rumah, sebabnya ketika dia di rumah dia sentiasa mengingati suaminya yang telah meninggal dunia, untuk menghilangkan tekanan dan mencari rezeki, walaupun dia tahu tentang waktu berkabung (ihdad). Pemerhatian ketiga dibuat dengan ibu Pen yang bekerja sebagai guru, dalam temu bual ibu Pen mengatakan bahawa ketika dia sedang berkabung (ihdad) dia masih berhias, berpakaian kemas dan keluar rumah.
Rumusan Masalah
Tujuan Penelitian
Kegunaan Penelitian
Lokasi penelitian dalam tesis ini adalah Desa Padang Peri Kecamatan Semidang Alas Maras Kabupaten Seluma. Subyek dalam penelitian ini adalah masyarakat yang suaminya telah meninggal dunia, dan tokoh masyarakat di Desa Padang Peri Kecamatan Semidang Alas Maras Kabupaten Seluma.
Kajian Terhadap Penelitian Terdahulu
Metode Penelitian
- Pendekatan dan Jenis Penelitian
- Waktu dan Lokasi Penelitian
- Subjek atau Informen Penelitian
- Sumber Data dan Teknik Pengumpulan data
- Teknik Analisa data
Dalam penelitian ini, penulis menggunakan beberapa sumber data berupa orang atau responden sebagai informan. Contoh data primer adalah data yang diperoleh dari responden melalui wawancara yaitu masyarakat yang ditelantarkan suaminya, tokoh masyarakat, tokoh agama. Sumber data sekunder adalah data yang mendukung masalah yang diteliti, diperoleh dari bahan pustaka dan biasanya digunakan untuk melengkapi data primer.
Data sekunder dalam penelitian ini adalah data yang berasal dari dokumen, catatan, peraturan perundang-undangan, buku-buku yang berkaitan dengan pokok bahasan, jurnal hukum dan sebagainya13. Wawancara menurut Mardalis adalah teknik pengumpulan data wawancara yang digunakan dalam penelitian untuk memperoleh informasi lisan melalui percakapan dan tatap muka dengan mampu memberikan informasi dalam penelitian 15 Bentuk wawancara yang digunakan adalah wawancara terstruktur yang memberikan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan terlebih dahulu oleh peneliti. tentang praktik ihdad perempuan di Desa Padang Peri, Kecamatan Semidang Alas Maras, Kabupaten Seluma. 3) Dokumentasi. Teknik analisis yang digunakan adalah pendekatan deduktif, berdasarkan teori atau konsep umum yang digunakan untuk menjelaskan sekumpulan data, atau untuk menunjukkan perbandingan atau hubungan dengan kumpulan data lainnya.
Sistematika Penulisan
Dokumen yang peneliti gunakan adalah dokumen resmi yang terdiri dari istilah-istilah daerah penelitian yang meliputi profil, letak geografis, dll. di Desa Padang Peri, Kecamatan Semidang Alas Maras, Kabupaten Seluma.
LANDASAN TEORI
Pengertian Ihdad
Adapun yang dimaksudkan dengan Ihdad, "ialah masa berkabung bagi isteri yang suaminya telah meninggal dunia." Wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir tidak boleh berkabung lebih dari tiga hari, kecuali suaminya selama empat bulan sepuluh hari. Dan Umma Habibah menceritakan tentang ibunya dan tentang isteri Nabi Zainab dan tentang wanita yang menjadi sebahagian daripada isteri Nabi.
Sedangkan menurut Abdul Mujieb, ihdad adalah masa berkabung bagi wanita yang kematian suaminya. Manakala pendapat lain pula bermaksud ihdad (masa berkabung) ialah masa seseorang itu harus mempunyai akal iaitu;. Athiyyah, ia berkata: Sesungguhnya Rasulullah s.a.w. telah bersabda bahawa tidak boleh seorang wanita meratapi jenazah lebih dari tiga malam, kecuali suaminya (yang dibenarkan) empat bulan sepuluh hari, dan dia tidak boleh memakai pakaian (yang untuk hiasan, walaupun pencelupan dilakukan sebelum kain itu ditenun, atau jika kain itu menjadi kasar/melecet (setelah dicelup). minyak wangi kecuali bersih dari qusth dan adzfar.".
Dasar Hukum Ihdad
Ihdad bagi perempuan yang suaminya telah meninggal telah diatur dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI), mengenai masa berkabung bagi perempuan (istri) yang suaminya telah meninggal, dijelaskan dalam Pasal 170 Bab XIX Kompilasi Hukum Islam (KHI) tentang “masa berkabung” sebagai berikut:29 Istri yang ditinggal mati oleh suaminya wajib melakukan masa berkabung selama masa iddah sebagai tanda bela sungkawa sekaligus menjaga dari munculnya fitnah. Seperti yang terjadi di beberapa daerah dan ketentuan ini sudah menjadi kepercayaan umum bahwa seorang wanita yang ditinggal suaminya, kemudian tanpa melakukan masa berkabung atau ihdad, wanita tersebut langsung melakukan aktivitas dan perawatan seperti biasa, demikian wanita ini akan menjadi pembicaraan masyarakat, selain itu dia juga tidak melakukan syari'at agama. Pada poin di atas, dimana seorang laki-laki yang ditinggal istrinya memiliki kewajiban untuk menuntaskan masa berkabung dengan baik.
Jadi peruntukan dalam Compendium of Islamic Law berkenaan kesesuaian wanita semasa berkabung menunjukkan syarat di mana seorang wanita mesti berpantang atau berkabung selama empat bulan sepuluh hari. Dan selama ini, isteri harus melalui masa berkabung tanpa berhias, tanpa celak dan tidak boleh keluar rumah. Himpunan hukum syarak dalam Perkara 170 mengenai masa berkabung dijelaskan sebagai berikut: “Seorang isteri yang telah meninggal dunia oleh suaminya hendaklah menyempurnakan masa berkabung dalam tempoh Idaat sebagai tanda berkabung dan sekaligus. untuk menjaga dari penampilan fitnah".
Tujuan Ihdad
Bagi seorang wanita yang suaminya telah meninggal dan dia hamil, hikmah ihdad adalah bahwa selama empat bulan sepuluh hari anak yang ada di dalam perut ibunya akan tercipta sempurna, yaitu dengan tiupan ruh, setelah seratus tahun. dan dua puluh hari telah berlalu.
Dampak Ihdad
Sepuluh hari itu berupa mu'anat yang dimaksudkan sebagai waktu malam. ma'nanya), maka mereka tidak mewajibkan bagi wanita kafir, sedangkan bagi para ahli hukum yang menganggapnya sebagai ibadah yang dapat dipahami maknanya, yaitu mencegah laki-laki untuk melihatnya dan mencegah wanita yang dalam ihdad dari pandangan laki-laki, wanita kafir menyamakannya dengan wanita muslimah.43. Menurut Jumhur, kewajiban ihdad meliputi semua wanita yang dinikahi secara sah, baik masih muda, dewasa, gila, muslim atau beragama. Imam Malik menegaskan bahwa ihdad itu wajib beragama, karena seorang wanita yang menikah dengan seorang Muslim memiliki hak yang sama dengan seorang wanita Muslim.
Alasan mereka adalah bahwa hadits Nabi mengatakan, “Tidak halal bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari. Meskipun para ulama sepakat tentang kewajiban ihdad bagi wanita yang suaminya meninggal, mereka berbeda dengan wanita yang bekerja di luar rumah. , seperti dokter, perawat, dan lain-lain, diperbolehkan keluar rumah untuk memenuhi kewajibannya.
Kewajiban Perempuan dalam masa Ihdad
Istri tidak boleh keluar atau meninggalkan rumah suaminya kecuali ada alasan yang menyebabkan dia keluar rumah. Mengenai keluar rumah bagi wanita yang menjalani ihdad (iddah karena suaminya telah meninggal dunia), para ulama fiqh berbeda pendapat mengenai hal ini. Seorang wanita yang suaminya meninggal boleh keluar rumah pada siang dan sebagian malam hari, tetapi dia tidak boleh bermalam (tinggal di) di manapun kecuali rumahnya sendiri.
Kalau malam, boleh keluar rumah kalau kecemasan, kalau tak tak boleh. Golongan ini berpendapat tidak boleh bagi wanita yang sedang dalam tempoh ihdad keluar rumah kecuali dengan alasan. Wanita yang kematian suaminya apabila dia berpindah dari rumah suaminya ke rumah saudara lelakinya, kemudian mendapat tekanan dan layanan buruk di sana, dia boleh berpindah ke rumah anak suaminya, atau ke rumah bapa saudaranya untuk tinggal di sana.
Hikmah Ihdad
GAMBARAN UMUM OBJEK PENELITIAN
- Kondisi Geografis
- Keadaan Sosial Penduduk
- Keadaan sosial Masyarakat
- Struktur Desa
Umumnya penduduk desa Padang Peri berpendidikan SD, SMP, SMA dan diploma/sarjana. Kehidupan sosial masyarakat di desa Padang Peri masih sangat terjaga, hal ini terlihat pada saat diadakannya kegiatan pembersihan lingkungan. Dari data yang penulis temukan di desa Padang Peri diketahui pernah terjadi kasus pelaksanaan ihdat oleh perempuan yang suaminya telah meninggal dunia.
Oleh karena itu, tidak banyak masyarakat di desa Padang Peri yang mengetahui arti ihdad secara umum, sehingga hanya sedikit orang yang mengamati masa berkabung. Sementara hal tersebut terjadi tentu ada faktor yang mempengaruhi masyarakat terkait dengan pelaksanaan hukum ihdad yang terjadi di desa Padang Peri. Misalnya, hampir semua perempuan di desa Padang Peri mengikuti pengajian rutin sebulan sekali.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Praktik Ihdad Perempuan di Desa Padang Peri Kecamatan Semidang
Selama masa berkabung, saya tidak mau mengunci diri di dalam rumah selama 4 bulan 10 hari dan tetap beribadah di luar rumah. Namun, selama masa berkabung, ia tidak sepenuhnya menghormati ketentuan syariat Islam, misalnya berdiam diri di rumah selama 4 bulan 10 hari. Memiliki latar belakang pendidikan yang sama yaitu SMA, bukan berarti memiliki persepsi yang sama tentang masa berkabung.
Pelaksanaan masa berkabung bagi perempuan yang kehilangan suaminya tidak bisa disamakan dengan masa lalu, namun bukan berarti ditinggalkan dan tidak dilakukan saat ini. Sementara itu, larangan keluar rumah pada masa berkabung sangat berat bagi perempuan di Desa Astomulyo. Keadaan dan kebutuhan yang harus dia penuhi setelah kematian suaminya mungkin menjadi pertimbangan tersendiri mengapa mereka melakukan masa berkabung hanya karena kesopanan.
Tinjauan Hukum Islam terhadap Praktik Ihdad Perempuan di Desa
Namun, dalam realita saat ini, banyak perempuan yang suaminya meninggal melalaikan kewajiban berkabung karena alasan tertentu66. Karena itu, beberapa wanita yang suaminya meninggal dan tidak ada yang mengurus kebutuhannya memutuskan untuk menikah lagi agar ada yang mengurus semua kebutuhannya. Dalam praktiknya, seorang wanita yang memiliki syarat untuk mewujudkan kemaslahatan dapat berkompromi dengan melakukan jihad paling lama empat bulan sepuluh hari, namun disesuaikan dengan syarat ketika wanita tersebut harus menunaikan kewajibannya.
Hadits di atas menunjukkan bahwa seorang wanita memiliki kebutuhan dan terikat untuk jujur dan bertindak. Kajian perundang-undangan Islam tentang praktik ihdad perempuan di Desa Padang Peri menyebutkan bahwa dalam praktiknya, seorang perempuan yang memiliki syarat untuk mewujudkan kemaslahatan dapat terancam dengan melakukan ihdad paling lama empat bulan sepuluh hari, seorang perempuan yang telah kebutuhan dan telah berjanji untuk jujur, tetapi juga bertindak baik untuk kepentingan dirinya dan keluarganya, izin untuk melakukan ihdad sesuai dengan kadar dan kebutuhannya sendiri tidak berarti meninggalkan nilai dan tujuan dalam ihdad, yaitu dapat menghindari fitnah, terutama saat mendekorasi. Tidak ada alasan mengapa seorang wanita yang suaminya meninggal tidak boleh menjalani masa berkabung sebagai bentuk penghormatan dan berkabung atas kehilangan suaminya.
PENUTUP
Simpulan
Saran
Penting agar para pemuka agama dan penyuluh agama di desa Padang Peri melakukan penyuluhan masyarakat secara rutin agar pemahaman masyarakat tentang agama lebih baik, khususnya dalam hal ihdad. Fikih Keluarga Ayyub Hasan Syaikh, Jakarta, Perpustakaan Al-Kautsar, 2006 Ghazaly Abdurrahman, Fikih Munakahat, Jakarta, Kencana, 2003. Husein Muhammad, Fiqh Feminin: Refleksi Kiai tentang Agama dan Gender, Yokartag, 2003. .
Idris Ramulya M, Beberapa Permasalahan Hukum Acara dan Peradilan Agama dan Hukum Perkawinan Islam, cet. Nasution Buyung Adnan, Masalah Ihdad Wanita Karir Menurut Hukum Islam, Skripsi Universitas Islam Negeri Sumatera Utara Medan, 2015 Nasution, Metode Penelitian Kualitatif Jakarta: Bumi Aksara, 2003. Sunarto Ahmad, Terjemah Hadis Sahih Muslim, Bandung, Husaini , 2002 Suryabrata Sumardi, Metode Penelitian Jakarta: PT Raja Grapindo Persada,.