PENDAHULUAN
Identifikasi masalah
Batasan Masalah
Rumusan Masalah
Tujuan Penelitian
Manfaat Penelitian
LANDASAN TEORI
Konsep Parenting Stress
Perilaku Kekerasan Terhadap Anak
Masih banyak tindak kekerasan yang dilakukan orang tua terhadap anak. 13 . perkembangan menuju proses kedewasaan 31 Stres orang tua akan terjadi ketika orang tua mengalami kesulitan dalam memenuhi tuntutan menjadi orang tua 32. Stres orang tua adalah ketegangan yang muncul dalam proses pengasuhan akibat tuntutan peran pengasuhan. Stres umum dalam hidup yang dialami orang tua akan meningkatkan beban stres yang terkait dengan pengasuhan anak.
Dukungan dari pasangan, kerabat, tetangga, dan teman dapat mengurangi kemungkinan orang tua mengalami stres pengasuhan. Orang tua yang belum matang secara psikologis dan awal dalam mengasuh anak dapat meningkatkan tingkat stres pengasuhan. Sebagai aturan, orang tua pada usia yang relatif muda memiliki pengetahuan dan pengalaman yang minim dalam membesarkan anak, sehingga tingkat stres orang tua lebih tinggi.
Rasa kompetensi, yaitu orang tua kewalahan dengan tuntutan peran mereka dan merasa tidak mampu mengasuh anak. Hal ini terkait dengan kurangnya pengetahuan orang tua tentang perkembangan anak dan keterampilan manajemen anak yang tepat. Hubungan dengan pasangan, yaitu adanya konflik antara hubungan orang tua yang dapat menjadi sumber utama stres.
Kesehatan orang tua, yaitu sampai batas tertentu efektivitas pengasuhan orang tua terhadap anak dapat mempengaruhi status kesehatan orang tua. Distraksi, berarti orang tua menganggap anaknya menunjukkan perilaku yang terlalu aktif dan kesulitan mengikuti perintah. Stres pengasuhan di sini mengacu pada interaksi disfungsional antara orang tua dan anak, yang menitikberatkan pada tingkat penguatan dari anak kepada orang tua dan tingkat harapan orang tua terhadap anak.
Kelekatan, karena orang tua tidak memiliki kedekatan emosional dengan anaknya, sehingga mempengaruhi emosi orang tua. Padahal, dukungan kerabat, tetangga, dan teman dapat mengurangi kemungkinan orang tua melakukan kekerasan terhadap anak. Anggapan bahwa anak-anak adalah milik orang tuanya membuat orang tua merasa bahwa mereka memiliki hak untuk melakukan apapun yang mereka inginkan terhadap anak-anaknya.
Penyebab kekerasan terhadap anak lainnya antara lain perselisihan antara orang tua, perceraian orang tua, pernikahan kembali ayah. D. Beberapa anak meniru tindakan agresif orang tua mereka, dan kemudian diguncang oleh teman sebaya atau orang lain.
Hasil Penelitian Terdahulu
Berdasarkan teori di atas, indikator kekerasan terhadap anak dalam penelitian ini adalah 1) kekerasan fisik, 2) kekerasan psikis, 3) kekerasan seksual, dan 4) penelantaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan negatif yang signifikan antara parenting stress dan parenting self-efficacy pada ibu yang memiliki anak retardasi mental ringan sampai sedang pada anak usia pertengahan (rp = 0,000, signifikan pada L.o.S 0,01). Artinya semakin besar parenting stress yang dialami ibu, maka self efficacy ibu semakin rendah.
Selain itu, hasil penelitian tambahan menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan pada parenting stress dan parenting self-efficacy antara ibu yang memiliki anak retardasi mental ringan dan sedang. Kesamaan antara penelitian Astriamitha dengan penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti adalah pada variabel yang sama mengenai parenting stress. Sedangkan perbedaan penelitian sebelumnya adalah adanya variabel kecenderungan kekerasan pada penelitian ini dan self-efficacy orang tua pada penelitian sebelumnya, objek penelitian sebelumnya adalah ibu yang memiliki anak tunagrahita dan peneliti.
Populasi penelitian ini adalah ibu yang memiliki anak usia 2-14 tahun di Kecamatan Semarang Timur. Semakin tinggi tingkat stres pengasuhan yang dialami orang tua, maka semakin besar pula kecenderungan perilaku kekerasan terhadap anak, begitu pula sebaliknya. Berdasarkan hal tersebut, maka hipotesis yang mengatakan “ada hubungan positif antara stres pengasuhan dengan kecenderungan perilaku kekerasan pada anak” diterima.
Kesamaan penelitian ini dengan penelitian yang akan dilakukan terletak pada pembahasan yang sama mengenai parenting stress. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui stres pengasuhan pada ibu dengan anak tunagrahita sedang di SLB YPLAB Lembang. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan studi populasi, dengan jumlah subjek 25 orang ibu dari anak tunagrahita sedang yang berusia 6-10 tahun.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa 16 ibu (64%) mengartikan stres pengasuhan rendah dan 9 ibu (36%) mengartikan stres pengasuhan tinggi. Kesamaan antara penelitian yang dilakukan oleh Widad Nibras Fairus Irbah dkk dengan penelitian penulis adalah kedua variabel tersebut menggunakan variabel stres orang tua. Perbedaan penelitian yang dilakukan oleh Widad Nibras Fairus Irbah, dkk. dengan penelitian penulis, variabel stress orang tua pada ibu anak retardasi mental sedang, metode penelitian dan objek penelitian yang akan dilakukan.
Kerangka Berfikir
Hipotesis
Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa hipotesis adalah kesimpulan sementara atau dengan kata lain asumsi kebenaran akhir yang bersifat sementara atau dengan kata lain asumsi kebenaran akhir. Tidak ada hubungan antara stres orang tua dengan kecenderungan melakukan perilaku kekerasan pada anak di Apartemen Pondok Indah Blok C RT 27 RW 05 Kecamatan Selebar Kota Bengkulu. Ada hubungan stres orang tua dengan kecenderungan perilaku kekerasan pada anak di Perumahan Pondok Indah Blok C RT 27 RW 05 Kecamatan Selebar Kota Bengkulu.
METODE PENELITIAN
Tempat dan Waktu Penelitian
Populasi dan Sampel Penelitian
Teknik Pengumpulan Data
Stres pengasuhan didefinisikan sebagai kecemasan dan ketegangan yang berlebihan khususnya terkait dengan pengasuhan dan interaksi antara orang tua dan anak-anak. Berdasarkan hasil pengujian diperoleh hasil variabel stres pengasuhan (X) yang terdiri dari 32 item, 25 item valid, sedangkan 7 item lainnya tidak valid (gagal). Item dinyatakan valid pada variabel parent stress (X) dengan koefisien validitas > 0,370 pada taraf signifikansi 5% dengan syarat jika rhitung > rtabel maka item dinyatakan valid.
Penelitian ini mengkaji hubungan stres orang tua dengan kecenderungan perilaku kekerasan pada anak di Perumahan Pondok Indah Blok C RT 27 RW 05 Kecamatan Selebar Kota Bengkulu. Data hasil penelitian yang dianalisis adalah hasil kuesioner dalam penelitian yang terdiri dari variabel stres orang tua (X) dan variabel kecenderungan perilaku kekerasan anak (Y). Dari tabel di atas terlihat bahwa diperolehnya data variabel kuesioner stres orang tua (X) dari sampel 28 orang diperoleh nilai rata-rata (average value) 26,71, median (nilai tengah) 26,67, modus (modus/nilai yang sering terjadi).
Dapat dilihat dari tabel di atas bahwa tabel frekuensi data untuk variabel stres pengasuhan (X) menggunakan data tunggal yang diperoleh dari 19 kelas data dengan sampel 28 residen. Untuk mengetahui apakah ada hubungan stres pengasuhan dengan kecenderungan perilaku kekerasan pada anak usia dini di perumahan Pondok Indah blok C RT 27 RW 05 Kecamatan Selebar Kota Bengkulu akan diuji dengan menggunakan product moment. Dari data variabel X dan Y di atas kemudian diolah untuk mengetahui hubungan stres pengasuhan dengan kecenderungan perilaku kekerasan pada anak usia dini di perumahan Pondok Indah.
Berdasarkan perhitungan di atas, diketahui hubungan rxy (koefisien korelasi) antara stres orang tua dengan kecenderungan perilaku kekerasan pada anak usia dini di Perumahan Pondok Indah Blok C RT 27 RW 05 Kecamatan Selebar Kota Bengkulu adalah sebesar 0,609. Untuk mengetahui hubungan yang signifikan antara stress orang tua dengan kecenderungan perilaku kekerasan pada anak di Perumahan Pondok Indah Blok C RT 27 RW 05 Kecamatan Selebar Kota. Setelah dikonsultasikan dengan nilai rxy angka (“r”) sebesar 0,609 dengan nilai “r” tabel yang baik pada taraf signifikan 5%, ternyata nilai rxy (koefisien korelasi) lebih besar dari “r” tabel tersebut, hal ini berarti Ha diterima yaitu ada hubungan antara stres orang tua dengan kecenderungan perilaku kekerasan pada anak usia dini di perumahan Pondok Indah blok C RT 27 RW 05 Kecamatan Selebar Kota Bengkulu antara dan hipotesis nol atau Ho ditolak.
Keempat, parenting stress akan muncul ketika orang tua kesulitan memenuhi tuntutan menjadi orang tua. Untuk mengetahui apakah ada hubungan stres pengasuhan dengan kecenderungan perilaku kekerasan pada anak di Perumahan Pondok Indah Blok C RT 27 RW 05 Kecamatan Sebar Kota Bengkulu, nilai rxycount dibandingkan dengan nilai rxy tabel, berdasarkan nilai rxycount. 0,609 > dari rxytabel = 0,388 maka disimpulkan berdasarkan hipotesis dan asumsi kesimpulan ha diterima dan Ho ditolak yang artinya ada hubungan antara stres pengasuhan dengan kecenderungan perilaku kekerasan pasca PAUD di perumahan Pondok Indah blok C RT 27 RW 05 Kecamatan Selebar Kota Bengkulu dan setelah dikonsultasikan dengan tabel interpretasi, didapatkan nilai r antara 0,60-0,79 dengan interpretasi korelasional.
Penelitian Astriamitha sebelumnya yang berjudul Kaitan antara parenting stress dan parenting self-efficacy pada ibu juga mengungkapkan hal yang sama. Hal ini berarti semakin besar parenting stress ibu maka self efficacy ibu semakin rendah.