MAKALAH
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Media digital
Produk Jurnalistik Media Digital
Dosen pengampu: Ahmad Kanzulfikar M.Med.Kom.
Disusun Oleh:
Nailah Mumtaz Zarinah 2441010046 Ribi Ayu Zaskia 2441010053 Muhamad Fadli Satriawan 2441010038 Brian Wibowo 2441010086
JURUSAN KOMUNIKASI PENYIARAN ISLAM FAKULTAS DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI RADEN INTAN LAMPUNG
2025
KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah swt yang telah menciptakan alam semesta dengan segala isinya sholawat serta beserta salam semoga selamanya terlimpah curahkan kepada baginda tercinta Muhammad SAW. Berkat rahmat dan kuasanya akhirnya kami bisa menyelesaikan tugas makalah untuk memenuhi tugas mata kuliah Media Digital.
Tidak lupa juga kami ucapkan terima kasih kepada Bapak Ahmad
Kanzulfikar M.Med.Kom.Selaku dosen pengampu di mata kuliah ini yang telah membimbing serta mengajarkan kami dan mendukung kami sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini. Mohon maaf bila mana ada
kekurangan dalam pembuatan makalah ini, serta kami sangat mengharapkan kritikan untuk makalah ini agar kedepannya lebih baik.
.
Bandar Lampung, 2 April 2025
Penyusun
DAFTAR ISI
BAB.1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kebutuhan manusia akan informasi disertai dengan teknologi yang kian berkembang dan canggih, dampak nya pun tak bisa dihindari, begitu pula bagi media massa, sebagai wadah informasi membawa perkembangan baru dalam kehidupan manusia. Kini hadir pula media jurnalisme baru yang menghasilkan fenomena kebebasan bersuara atau ruang public virtual (virtual sphere) misalnya melalui fenomena jurnalisme warga.
Jurnalisme warga merupakan partisipasi aktif para warga dalam melakukan kegiatan jurnalis yaitu meliputi pengumpulan, pelaporan, hingga penyampaian informasi kepada khalayak luas.Jurnalisme warga juga kini merambah ke media sosial, salah satunya media instagram. Kecanggihan teknologi informasi dan komunikasi yang tentunya semakin hari semakin berkembang, membuat minat masyarakat ikut
meningkat juga dalam berpartisipasi di kegiatan jurnalistik. Dengan semakin mudahnya mengakses informasi di media sosial, maka semakin besar pula peluang masyarakat menerima informasi tersebut. Selain memudahkan dalam mengakses informasi, dengan teknologi pada media sosial, kini warga juga dimudahkan dalam menyebarkan informasi ke khalayak luas. Dibandingkan dengan sebelumnya, kini masyarakat bisa
memanfaatkan perkembangan teknologi seperti perekam video digital, camera handphone, perekam suara, atau hanya dengan foto pun dokumentasi tersebut bisa langsung dengan mudah dan cepat terkoneksi ke internet dan akhirnya tersebar ke khalayak luas.
Maka dari itu, semakin berkembangnya teknologi maka semakin terbuka pula masyarakat akan media informasi. Terlebih, karena media sosial merupakan media penyebar informasi yang lebih transparan sebagai agen pembaharuan dibandingkan media – media sebelumnya, maka tak heran jika jurnalisme warga kini berkembang dan semakin banyak jumlahnya. Esensi jurnalisme warga adalah "Semua orang bisa
berbicara", sehingga memungkinkan menjadi banyak alternatif berita dan perspektif dari sebuah hal dari berbagai pihak.
1
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana perkembangan teknologi informasi mempengaruhi partisipasi masyarakat dalam kegiatan jurnalistik, khususnya melalui media sosial?
2. Apa dampak dari kemudahan akses teknologi terhadap penyebaran informasi melalui jurnalisme warga di media sosial seperti Instagram?
3. Bagaimana peran jurnalisme warga dalam membentuk ruang publik virtual dan kebebasan bersuara?
1.3 Tujuan Penulisan
1. Menganalisis bagaimana perkembangan teknologi informasi dan komunikasi mempengaruhi partisipasi masyarakat dalam jurnalisme warga.
2. Menjelaskan dampak dari kemudahan akses informasi dan teknologi bagi masyarakat dalam menyebarkan informasi melalui media sosial.
3.Menunjukkan pentingnya peran media sosial, dalam membentuk ruang publik virtual dan memfasilitasi kebebasan bersuara di era digital.
2
BAB.II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian produk jurnalistik
Di era digital, produk jurnalistik telah berkembang menjadi lebih beragam dan interaktif, memanfaatkan teknologi untuk menyampaikan informasi dengan cara yang lebih menarik dan sesuai dengan preferensi audiens. Berikut adalah beberapa jenis produk jurnalisme yang populer saat ini:
Infografis Interaktif: Infografis interaktif memungkinkan audiens memahami data kompleks melalui visualisasi yang menarik dan mudah dipahami. Dengan elemen interaktif, pengguna dapat mengeksplorasi informasi sesuai keinginan,
meningkatkan pemahaman dan keterlibatan mereka.
Produk jurnalistik yang disampaikan melalui media sosial merupakan bentuk adaptasi jurnalisme tradisional ke era digital, di mana informasi disebarluaskan melalui platform seperti Facebook, Twitter, Instagram, dan YouTube.
Perkembangan teknologi dan perubahan perilaku konsumsi informasi membuat media sosial menjadi salah satu saluran utama distribusi berita. Dalam
praktiknya, jurnalisme di media sosial hadir dalam berbagai bentuk, seperti berita teks singkat yang mudah dibaca dan dibagikan, konten visual berupa infografis dan gambar informatif, serta video pendek yang sering ditemukan di Instagram dan TikTok. Selain itu, fitur live streaming juga memungkinkan media untuk menyiarkan peristiwa secara langsung dan berinteraksi dengan audiens secara real-time. Tidak hanya itu, podcast dan audiogram juga semakin populer sebagai alternatif bagi pengguna yang lebih menyukai konsumsi berita dalam format audio.
3
Jurnalisme di media sosial memiliki beberapa karakteristik utama, seperti interaktivitas yang memungkinkan audiens berkomentar dan berbagi informasi dengan cepat, kecepatan penyebaran yang tinggi sehingga berita dapat menjadi viral dalam hitungan menit, serta personalisasi konten berdasarkan algoritma yang menyesuaikan dengan preferensi pengguna. Selain itu, penggunaan multimedia dalam penyajian berita membuat informasi menjadi lebih menarik dan mudah dipahami oleh khalayak luas. Namun, di balik keunggulannya, jurnalisme di media sosial juga menghadapi tantangan besar, terutama terkait akurasi dan verifikasi informasi. Kecepatan penyebaran berita sering kali
mengorbankan ketelitian, sehingga meningkatkan risiko penyebaran berita palsu atau hoaks. Aspek etika juga menjadi perhatian penting, terutama dalam
menjaga standar jurnalistik di lingkungan digital yang cenderung lebih bebas dan informal.
Selain itu, tekanan monetisasi dan pengaruh algoritma media sosial juga dapat memengaruhi kualitas berita. Media sering kali terdorong untuk membuat konten yang lebih menarik bagi algoritma, yang tidak selalu sejalan dengan prinsip jurnalisme berkualitas. Oleh karena itu, jurnalis dan media harus mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi sambil tetap berpegang pada prinsip-prinsip jurnalistik yang berorientasi pada kebenaran dan
kepentingan publik. Dengan memahami dinamika ini, jurnalisme di media sosial dapat berkembang menjadi alat komunikasi yang efektif dan bertanggung jawab dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat.
2.2 Jurnalistik dan Media Sosial
Media sosial yang muncul belakangan ini memang mengubah panorama jurnalisme di Indonesia. Terutama yang menyangkut proses pengumpulan berita, proses pembuatan berita, dan proses penyebaran berita. Dalam proses
pengumpulan berita, sudah menjadi umum saat ini jika “status” yang ditunjukkan
4
oleh para orang terpandang-ataupun orang orang yang biasa jadi narasumber dalam aneka media sosial mereka bisa menjadi bahan, yang kemudian ditulis di media massa mainstream. Sementara itu, aneka “informasi” yang tersebar dalam jejaring media sosial juga sering menjadi informasi yang kemudian disebarkan oleh media massa mainstream. Dalam hal ini, jurnalisme warga memiliki ruang untuk beritanya makin tersebar.
Sementara dalam proses pembuatan berita, sekarang pun sudah menjadi sesuatu yang umum ketika media online yang menampilkan jurnalisme memberikan ruang komentar dari para pembacanya atas item berita yang mereka hasilkan. Dalam proses penyebaran berita, aneka tampilan media sosial dipergunakan baik oleh media itu sendiri maupun para pembacanya untuk meneruskan berita yang telah diproduksi.
Di sini terlihat pembaca atau konsumen media yang memiliki perilaku senang berbagi dalam suasana media yang makin konvergensi. Banyak pihak melihat jurnalisme dan media sosial sebagai sesuatu yang sedang popular dan perlu terus dipromosikan. Namun, tidak semua orang melihat kedua hal tersebut sebagai sesuatu yang saling menguntungkan. Robert G Pichard, misalnya dalam artikelnya di Nieman Reports (Musim Gugur, 2009) justru mempertanyakan manfaat dari media sosial terhadap perusahaan media secara umum. “Hanya karena teknologi itu popular untuk kalangan jurnalis dan penggunanya, itu bukan berarti penggunaan teknologi itu lalu menguntungkan perusahaan media secara keseluruhan”. Pertanyaan mendasar: apakah sikap masyarakat yang mudah berbagi informasi tidak sedang turut berpartisipasi dalam mengkreasi kecemasan missal ataupun kebohongan bersama? Di sini, unsur dasar jurnalisme dibutuhkan yakni verifikasi. Di sini peran wartawan tetap diperlukan.
5
Wartawan harus bisa memverifikasi informasi sebelum tersebar luas agar tidak terjadi kebingungan di kemudian hari. (Haryanto, 2014: 10.
Jurnalisme hadir untuk membangun masyarakat. Jurnalisme ada untuk memenuhi hak-hak warga negara. Jurnalisme ada untuk demokrasi.
(Kovach&Rosenstiel, 2006: 11). Jutaan orang, yang terberdayakan arus informasi bebas, menjadi terlibat langsung dalam menciptakan pemerintahan dan
peraturan baru untuk kehidupan politik, sosial, dan ekonomi negara mereka.
Apakah ini selalu menjadi tujuan jurnalisme? Ataukah hal ini hanya tepat di satu momen, di sebuah tempat tertentu? Namun, tujuan jurnalisme tidaklah
ditentukan oleh teknologi atau wartawan maupun teknik yang dipakai.
Prinsip dan tujuan jurnalisme ditentukan oleh sesuatu yang lebih mendasar—
fungsi yang dimainkan berita dalam kehidupan masyarakat. Belum banyak wajah jurnalisme yang berubah tetapi secara mengagumkan tujuannya tetap terjaga—
yakni, menyediakan informasi yang dibutuhkan warga agar mereka bisa hidup bebas dan mengatur diri sendiri—walaupun tak selalu tersaji dengan baik,
mengingat pengertian “pers” pertama kali berkembang lebih dari 300 tahun yang lalu. Sekali pun semuanya telah berubah—kecepatan, teknik, karakter
pengiriman berita—teori dan filosofi yang gamblang tentang jurnalisme tetap bertahan.