Stabilitas Lereng
Dr. Ir. Aksan Kawanda
Aksan KAWANDA
Geotechnical Engineer
Soil Mechanics Foundation Slope Stability Soil Improvement
Geotechnical Instrumentation
Bio Lahir : Makasar, 13 Agustus 1979
Pendidikan : Insinyur, PPI Univ. Katolik Parahyangan Doktor Geoteknik, Univ. Katolik Parahyangan Magister Geoteknik, Univ. Katolik Parahyangan Sarjana Teknik Sipil, Universitas Trisakti Sertifikasi : Asesor Uji Kompetensi β BNSP β 2018
Ahli Geoteknik Utama β LPJK β HATTI β 2016 Ahli K3 Utama β LPJK β 2020
Certified International Pile Tester, Expert Level - 2014 Asosiasi : Himpunan Ahli Teknik Tanah Indonesia β WaKa III
International Society of Soil Mechanics & Geotechnical Engineering Persatuan Insinyur Indonesia β WaKa III BK Sipil
Akademis : Dosen KBK Geoteknik β Universitas Trisakti Pekerjaan : Tenaga Ahli Geoteknik β PT. Geotech Efathama
Tenaga Penilai Ahli β DKI Jakarta
- Aksan KAWANDA
Masalah Geoteknik merupakan suatu hal yang kompleks dan sangat beragam, pemecahan masalah tanpa masalah merupakan suatu keperluan utama di proyek. Qualified engineer yang mempunyai βjudgement
engineeringβ adalah solusi terbaik yang kita
miliki disetiap situasi proyek apapun
Pendahuluan
β
Istilah lereng yang digunakan dapat berupa lereng alam atau buatan manusia yang membentuk suatu kemiringan tertentu terhadap bidang horisontal.
β’
Contoh lereng alam: bukit & tepi sungai
β’
Contoh lereng buatan manusia: timbunan (jalan & bendungan) dan galian (jalan &
saluran).
β
Alam (air, angin, gempa), dapat mengubah bentuk muka bumi, yang dapat mengakibatkan
terjadinya lereng yang stabil atau tidak stabil
β
Morfologi Longsoran (Varnes, 1978)
β
Tipikal Keruntuhan Lereng
β
Tipikal Penyebab Keruntuhan Lereng
β
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Keruntuhan Lereng
Pendahuluan
Morfologi Longsoran
Pendahuluan
β’ Zone of accumulation, area material longsoran naik
β’ Zone of depletion, area material longsoran turun
β’ Displaced material, material longsoran
β’ Surface of separation, batas tanah asli vs longsoran
β’ Surface of rupture, bidang longsoran
β’ Toe of surface rupture, kaki bidang longsoran terhadap tanah yang tidak bergerak
β’ Main scrap, bidang tegak (atau melingkar) pada posisi teratas bidang longsoran
β’ Main body, massa longsoran
β’ Head, kepala dan bidang kontak main terhadap material longsoran
β’ Top, batas main terhadap area tidak longsor
β’ Toe, batas terjauh dari material longsoran
β’ Flank, sisi luar longsoran
Translasi β
lapisan tipis & buruk Rotasi β Longsoran di dasar
Rotasi β
Longsoran Slope Viscous Fluid β
Longsoran Aliran
Rotasi β Longsoran pada Toe
Longsoran Blok
Tipikal keruntuhan lereng
Pendahuluan
Erosi β perubahan
kemiringan lereng Scour β akibat aliran
Hujan mengisi retakan &
mengakibatkan gaya seepage Gaya gravitasi & gempa
Tipikal penyebab keruntuhan lereng (1/2)
Pendahuluan
Lereng lama
Lereng baru
Arah gerak
Area scour
Arah gerak
Gaya gempa
Pergerakan
W (gravitasi)
Lapisan tanah buruk & tipis
Faktor geologis
Galian di kaki lereng
Beban berlebih di sisi atas lereng
Tipikal penyebab keruntuhan lereng (2/2)
Pendahuluan
Pergerakan
Pergerakan Pergerakan
Penurunan muka air secara cepat
Pergerakan
Muka air maks Muka air min.
Arah gaya seepage
β
Penambahan beban pada lereng
β
Penggalian atau pemotongan tanah pada kaki lereng
β
Penggalian yang mempertajam kemiringan lereng
β
Perubahan posisi muka air secara cepat ( rapid drawdown ). Umumnya pada bendungan, sungai dan lain-lain
β
Kenaikan tekanan tanah lateral oleh air (air yang mengisi retakan)
β
Gempa bumi
β
Penurunan tahanan geser tanah pembentuk lereng oleh akibat kenaikan kadar air, kenaikan tekanan air pori, tekanan rembesan oleh genangan air di dalam tanah, tanah pada lereng mengandung lempung yang mudah kembang susut, dll.
Pendahuluan
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI STABILITAS LERENG (1/4)
1.
Pengaruh Iklim
β
Kuat geser tanah berubah seiring waktu
β
Beberapa jenis tanah mengembang saat musim hujan dan menyusut pada musim kemarau
β
Pada musim hujan, kuat geser tanah akan menjadi lebih rendah dibandingkan pada musim kemarau
β
Maka kuat geser yang digunakan yaitu kuat geser tanah pada saat jenuh air FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI STABILITAS LERENG (2/4)
Pendahuluan
2. Pengaruh Air
β Rembesan / aliran air di dalam tanah (sulit diidentifikasi dengan baik)
β Erosi memanjang pada permukaan lereng menyebabkan lereng semakin landai sehingga kestabilan lereng meningkat dan sebaliknya, memotong kaki lereng akan menambah tinggi lereng sehingga mengurangi stabilitas lereng
β Penurunan muka air dalam lereng atau di dekat lereng secara mendadak dapat mengakibatkan penurunan tekanan
uplift
pada massa tanah yang mengakibatkan bertambahnya beban lereng serta tegangan geser akan meningkat (umumnya terjadi pada tanah dengan permeabilitas rendah)β Gaya geser yang terjadi pada volume konstan dapat diikuti oleh berkurangnya gaya antar butir dan naiknya tekanan air pori. Kelongsoran dapat terjadi jika pengurangan gaya antar butir tanah besar sehingga menyebabkan tanah dalam kedudukan likuefaksi (tegangan efektif nol) sehingga tanah dapat mengalir seperti cairan
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI STABILITAS LERENG (3/4)
Pendahuluan
3.
Pengaruh Rangkak ( Creep )
β
Permukaan tanah akan mengalami kembang susut karena pengaruh cuaca dan suhu.
β
Pada permukaan tanah yang miring:
β
Saat tanah mengembang maka akan melawan gravitasi
β
Saat tanah menyusut maka akan terbantu gravitasi
β
Kembang susut ini akan mengakibatan adanya pergerakan tanah yang seolah-olah seperti merangkak dan mengakibatkan lereng turun ke arah bawah secara perlahan
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI STABILITAS LERENG (4/4) Pendahuluan
o Gerakan lereng akibat rangkak dapat mengakibatkan:
a. Blok batuan bergeser
b. Pohon-pohon melengkung ke atas
c. Bagian bawah lereng melengkung dan menarik batuan d. Bangunan menara, monumen miring
e. Dinding penahan tanah dan fondasi bergerak
f. Jalan raya dan jalan rel keluar dari alur
g. Batu-batu besar menggelinding
Terminologi
1.
Slip atau zona keruntuhan adalah suatu zona tipis pada tanah yang mencapai kondisi kritis atau kondisi residual yang mengakibatkan terjadinya pergerakan pada massa tanah di sisi atasnya
2.
Bidang atau permukaan runtuh adalah permukaan geser ( sliding )
3.
Massa adalah massa tanah yang berada diantara bidang runtuh dan muka tanah
4.
Sudut lereng ( ο‘
s)adalah sudut kemiringan suatu lereng terhadap bidang horisontal.
Umumnya dinyatakan dalam suatu perbandingan, seperti: 2H:1V (2 Horisontal : 1 vertikal)
5.
Rasio tekanan air pori (r
u) adalah rasio dari air pori terhadap berat total dari tanah dan
beban luar
Lereng Tak Berhingga Keruntuhan Rotasi 02
Monitoring & Instrumentasi 04
Stabilitas Lereng
01
Solusi Chart 03
Lereng tak Berhingga
Lereng tak Berhingga
Lereng tak berhingga (infinite slopes) mempunyai dimensi tak berhingga yang pada kondisi aktual dapat diaplikasikan pada kondisi dimana terdapat tanah lunak diatas material keras pada lereng yg menerus.
Solusi dengan metode keseimbangan batas (limit equilibrium method),
dapat digunakan dengan mengasumsikan mekanisme slip yang terjadi
paralel terhadap lereng.
Gaya dalam suatu potongan pada lereng βtak berhinggaβ
01 Keruntuhan Planar
bj
Ej+1 Ej
Xj
Xj+1 Tj
Nj Wj
Js zj
Asumsi bidang longsor
ο‘s
Gaya dalam suatu potongan pada lereng βtak berhinggaβ
01 Keruntuhan Planar
bj
Ej+1 Ej
Xj
Xj+1
Tj
Nj Wj
Js zj
Asumsi bidang longsor
ο‘s
W = berat dari suatu potongan, W= Ξ³ .b.z X
jdan X
j+1= gaya geser pada sisi potongan E
jdan E
j+1= gaya normal pada sisi potongan N = gaya normal pada bidang gelincir, W.cos ο‘ T = tahanan geser pada bidang gelincir, W.sin ο‘ J = gaya seepage (jika terjadi), dimana J= i. Ξ³
w.b.z
dengan i adalah gradien hidrolik
Asumsi arah gaya yang mengakibatkan kegagalan adalah
positif
Gaya dalam suatu potongan pada lereng βtak berhinggaβ
Sebelum menggunakan metode keseimbangan batas pada lereng seragam dengan bidang tak berhingga X
j=X
j+1dan E
j=E
j+1,nilai faktor keselamatan (FK) perlu didefinisikan dengan tujuan untuk memperoleh ketinggian kritis atau kemiringan kritis, ATAU FK dari lereng.
FK dari lereng adalah perbandingan antara kuat geser tanah, ο΄
f, terhadap kuat geser minimum yang dibutuhkan untuk mempertahankan kestabilan (setara dengan tegangan geser yang bekerja maksimum pada bidang runtuh), ο΄
m, yaitu:
01 Keruntuhan Planar
Gaya dalam suatu potongan pada lereng βtak berhinggaβ
Sehingga akan ada 3 kondisi untuk diperhitungkan dalam metode keseimbangan batas dengan nilai FK yang digunakan
01 Keruntuhan Planar
Gaya dalam suatu potongan pada lereng βtak berhinggaβ
Kondisi 1 : Ο =0, cβ= c
u(TSA)
Untuk Ο =0 kuat geser, Ο
f, dapat dituliskan kembali:
Kuat geser pada bidang gelincir, Ο
m, adalah gaya geser/luas penampang, dapat dituliskan:
Sehingga FK dapat pada tanah Ο =0, cβ= c
umenjadi:
01 Keruntuhan Planar
Gaya dalam suatu potongan pada lereng βtak berhinggaβ
Kondisi 1 : Ο =0, cβ= c
u(TSA)
Saat keseimbangan batas tercapai, FK= 1, kemiringan kritis menjadi:
Dan kedalaman kritis dituliskan:
Jika kedalaman kritis terjadi saat =45 , maka:
01 Keruntuhan Planar
Gaya dalam suatu potongan pada lereng βtak berhinggaβ
Kondisi 2 : Ο 0, cβ= c
u, tanpa seepage (ESA)
Untuk tanah dengan nilai c dan Ο , kuat geser, Ο
f, dapat dituliskan:
Dimana teg. Normal, , dan teg. geser, , pada bidang gelincir per unit panjang, dapat dituliskan:
Sehingga FK menjadi:
01 Keruntuhan Planar
Gaya dalam suatu potongan pada lereng βtak berhinggaβ
Kondisi 2 : Ο 0, cβ= c
u, tanpa seepage (ESA)
Nilai FK (tanpa seepage) dapat dituliskan menjadi:
Saat keseimbangan batas tercapai, FK= 1, kedalaman kritis z
cmenjadi:
01 Keruntuhan Planar
Gaya dalam suatu potongan pada lereng βtak berhinggaβ
Kondisi 2 : Ο 0, cβ= c
u, tanpa seepage (ESA)
Pada case < , maka nilai FK akan selalu > 1.0 yang berarti FK tidak dipengaruhi lagi oleh kedalaman (z= dan FK dapat didekati dengan nilai . Nilai ini juga sama untuk tanah dengan c= 0:
Saat keseimbangan batas tercapai, FK= 1, kemiringan kritis menjadi:
01 Keruntuhan Planar
Gaya dalam suatu potongan pada lereng βtak berhinggaβ
Kondisi 3 : Ο 0, cβ= c
u, dengan seepage (ESA)
Dengan adanya air tanah yang paralel terhadap kemiringan lereng, gaya seepage dapat dinyatakan:
Karena seepage paralel terhadap lereng, maka:
s w
Dari statika diperoleh:
01 Keruntuhan Planar
Gaya dalam suatu potongan pada lereng βtak berhinggaβ
Kondisi 3 : Ο 0, cβ= c
u, dengan seepage (ESA)
Dengan adanya air tanah yang paralel terhadap kemiringan lereng, gaya seepage dapat dinyatakan:
Karena seepage paralel terhadap lereng, maka:
s w
Dari statika diperoleh:
Sehingga tegangan geser pada bidang gelincir:
01 Keruntuhan Planar
Gaya dalam suatu potongan pada lereng βtak berhinggaβ
Kondisi 3 : Ο 0, cβ= c
u, dengan seepage (ESA)
Nilai FK (dengan seepage) dapat dituliskan menjadi:
Saat keseimbangan batas tercapai, FK= 1, kedalaman kritis z
cmenjadi:
01 Keruntuhan Planar
Gaya dalam suatu potongan pada lereng βtak berhinggaβ
Kondisi 3 : Ο 0, cβ= c
u, dengan seepage (ESA)
Nilai FK pada kedalaman tak berhingga dapat dituliskan menjadi:
Nilai FK diatas juga dapat digunakan pada tanah butir kasar, c=0, sehingga kemiringan kritis dalam kondisi keseimbangan batas. FS=1, menjadi:
Umumnya , sehingga dapat dikatakan seepage yang arahnya paralel terhadap lereng mengurangi batasan kemiringan pada tanah butir kasar yang bersih hingga sekitar Β½.
01 Keruntuhan Planar
Case 1 β lereng tak berhingga
Pasir kering disebar dari truk pada sisi jalan dengan Ο β
cs=30 , Ξ³ = 17 kN/m
3dan Ξ³
sat= 17,5 kN/m
3.
Tentukan sudut lereng aman pada kondisi:
a. Kering
b. Jenuh tanpa seepage
c. Jenuh dengan seepage paralel terhadap lereng d. Tentukan sudut lereng aman untuk nilai FK 1,25
1. cs
2. karena nilai
cstidak terpengaruh kondisi kering atau basah, maka
3. pada kondisi ada aliran seepage paralel terhadap lereng, maka:
tan πΌ = πΎβ²
πΎ tan π β² tan πΌ = (17,5 β 10)
17,5 tan 30Β° = 0,25 πΌ = 14Β°
4. sudut aman untuk FK 1,25:
πΌ = π‘ππ π‘πππ
πΉπΎ = π‘ππ tan 30Β°
1,25 = 24Β°
01 Keruntuhan Planar
Keruntuhan Rotasi
Mekanisme keruntuhan rotasi dapat terjadi akibat kegagalan massa tanah pada permukaan runtuh circular maupun non-circular .
Solusi dengan metode keseimbangan batas ( limit equilibrium method ), juga
akan digunakan dengan mengasumsikan mekanisme slip yang terjadi berupa
bidang circular .
TEORI ANALISIS STABILITAS LERENG
Menggunakan konsep keseimbangan plastis batas ( limit plastic equilibrium ) Asumsi yang akan digunakan:
1.
Kelongsoran lereng terjadi di sepanjang permukaan bidang longsor tertentu dan dianggap sebagai permasalahan bidang 2 dimensi
2.
Massa tanah yang longsor dianggap sebagai benda masif
3.
Tahanan geser dari massa tanah pada setiap titik sepanjang bidang longsor tidak tergantung dari orientasi permukaan longsor, atau dengan kata lain kuat geser tanah dianggap isotropis
4.
Faktor aman didefinisikan dengan memperhatikan tegangan geser rata-rata sepanjang bidang longsor potensial, dan kuat geser tanah rata-rata sepanjang bidang longsor potensial dan kuat geser tanah rata-rata sepanjang permukaan longsoran. Jadi, kuat geser tanah mungkin terlampaui di titik-titik tertentu pada bidang longsornya, padahal faktor aman hasil hitungan lebih besar dari 1.
02 Keruntuhan Rotasi
TEORI ANALISIS STABILITAS LERENG
xc R sinΞΈ
yc b
h H
ΞΈ ΞΈ
ο‘
R
x y
A
B C
D
ΞΈ ΞΈ
T N
E2 E1 X1
X2 h
Stabilitas lereng pada tanah cβ, Οβ umumnya dilakukan dengan melakukan diskretisasi (pembagian) massa menjadi beberapa bagian/irisan dan masing-masing diperlakukan sebagai suatu blok. Metode ini yang kita sebut sebagai metode irisan
W b
U2
U1
J
02 Keruntuhan Rotasi
TEORI ANALISIS STABILITAS LERENG
W = berat dari suatu potongan, W= Ξ³.b.h X1 dan X2 = gaya geser pada sisi potongan E1dan E2 = gaya normal pada sisi potongan
N = Total gaya normal pada bidang gelincir, Nβ+U
(Nβ= gaya normal efektif, U= ul adalah gaya akibat tekanan air pori pada tengah potongan)
T = tahanan geser pada bidang gelincir, Οmβ Ήl dimanaΟm adalah
tegangan geser minimum untuk mempertahankan keseimbangan yang sama dengan kuat geser dibagi dengan FK: Οm= Οf/FK
ΞΈ ΞΈ
T N
E2 E1 X1
X2
h W
b
Jumlah momen dari setiap potongan atau sisi potongan terhadap pusat C
adalah nol
U2 U1
02 Keruntuhan Rotasi
TEORI ANALISIS STABILITAS LERENG
ΞΈ ΞΈ
T N
E2 E1 X1
X2
h W
b
π π = π (π π) = π (π π)
πΉπ = (π sin π) π
πΉπ = β (πβ² + π tan π β²)π
β (π sin π) = β (πβ²π + πβ² tan π β²)
β (π sin π)
Keseimbangan momen pada titik C, (gaya normal melintasi pusat irisan)
Dimana n adalah jumlah irisan.. Substitusikan nilai π dengan kuat geser Mohr-Coulomb, diperoleh:
U2 U1
02 Keruntuhan Rotasi
TEORI ANALISIS STABILITAS LERENG
ΞΈ ΞΈ
T N
E2 E1 X1
X2
h W
b
πΉπ = β (πβ²π + πβ² tan π β²)
β (π sin π)
Catatan:
οΌ cβ.l dapat digantikan cβb/cos ΞΈ. Untuk nilai cβ yang seragam, penjumlahan cβl dapat dinyatakan sebagai cβL (L= panjang lengkung circular)
οΌ Nilai Nβ ditentukan dari persamaan keseimbangan gaya. statik tak tentu; 6 unknown dengan 3 persamaan kesetimbangan untuk setiap potongan, sehingga
perlu simplifikasi asumsi
β¦.οΌ Metode simplifikasi ini antara lain: Metode Fellenius/Swedish Circle/Ordinary Method of Slices, Metode Bishop dan Metode Janbu
U2 U1
02 Keruntuhan Rotasi
Metode Asumsi Bidang Runtuh KeseimbanganPersamaan Solusi Fellenius, 1927 Resultan dari gaya antar irisan= 0,
Js = 0 Circular Momen Calculator
Bishop (simplified),
1955 Ejdan Ej+1dalam 1 arah;
Xjβ Xj+1= 0, Js= 0 Circular Momen Calculator
Bishop, 1955 Ejdan Ej+1 dalam 1 arah; Js= 0 Circular Momen Calculator /
Computer
Spencer, 1967 Gaya antar irisan paralel; Js = 0 Semua Semua Computer
Bell, 1968 Asumsi tegangan normal terdistribusi sepanjang
bidang gelincir; Js= 0 Semua Semua Computer
Janbu, 1973 Xjβ Xj+1digantikan dengan faktor koreksi f0,
Js= 0 Noncircular Horizontal Calculator
Sarma, 1975 Asumsi distribusi dari gaya vertical antar irisan Semua Semua Computer
02 Keruntuhan Rotasi
Metode Fellenius
xc R sinΞΈ
yc b
h H
ΞΈ ΞΈ
ο‘
R
x y
A
B C
D
οΌ Metode irisan dapat digunakan pada tanah yang tidak homogen serta adanya aliran rembesan di dalam tanah.
οΌ Gaya normal bekerja pada suatu titik di lingkaran bidang longsor, dipengaruhi oleh berat tanah di atas titik tersebut.
οΌ Massa tanah yang longsor dipecah-pecah menjadi beberapa irisan vertikal yang kemudian akan diperhatikan keseimbangannya.
02 Keruntuhan Rotasi
Metode Fellenius (TSA)
Fellenius (1927), mengasumsikan gaya-gaya yang bekerja pada sisi kanan dan kiri dari tiap irisan mempunyai resultan nol pada arah tegak lurus bidang longsornya.
Faktor aman didefinisikan sebagai, ΞΈ
ΞΈ
T N
E2 E1 X1
X2 h
W b
U2
U1
J
πΉπΎ = Mpenahan, Jumlah momen dari tahanan geser sepanjang bidang geser Mpenggerak, Jumlah momen dari berat massa tanah yang longsor
02 Keruntuhan Rotasi
Metode Fellenius (TSA)
ΞΈ ΞΈ
T N
E2 E1 X1
X2 h
W b
U2
U1
J
πΉπΎ = Mpenahan Mpenggerak Mpenahan= cuRΞΈ
Mpenggerak= RΞ£T
πΉπΎ = cuRΞΈ RΞ£T πΉπΎ = cuRΞΈ
Ξ£W sinΞΈ
02 Keruntuhan Rotasi
Metode Fellenius (ESA)
ΞΈ ΞΈ
T N
E2 E1 X1
X2 h
W b
U2
U1
J
πΉπΎ = Mpenahan Mpenggerak Mpenahan= R(cβRΞΈ+ Ξ£Nβ tan Οβ) Mpenggerak= RΞ£T = Wisin ΞΈi
πΉπΎ = cβRΞΈ + Ξ£(NiβUi) tan Οβ Ξ£T
Dengan anggapan ini, keseimbangan arah vertikal dari gaya β gaya yang bekerja dengan memperhatikan tekanan air pori adalah :
π + π = π cos π π = π cos π β π
= π cos π β π’ π
β = 2πβ²
πΎ tan 45Β° +πβ²
2
Efek dari tension crack dapat diperhitungkan dengan menggunakan persamaan:
02 Keruntuhan Rotasi
π O
14m
Tanah 1 5 m
Tanah 2 A
B
C
D
1 2 3 4
5
6 7 8 8a
E
Ξ³=17,7 kN/m3 cβ= 25 kPa Οβ= 10Β°
Ξ³=19,1 kN/m3 cβ= 34 kPa Οβ= 24Β°
Solusi:
Bidang longsor dibagi dalam 8 irisan. Panjang total bidang longsor (arah horizontal) =34.5 m, maka masing-masing irisan mempunyai lebar . β = 4.31π
Case 2 β rotasi, Fellenius
02 Keruntuhan Rotasi
Case 2 β rotasi, Fellenius
π O
14m
Tanah 1 5 m Tanah 2 A
B
C
D
1 2 3 4 5 6 7 8 8a
E
Ξ³=17,7 kN/m3 cβ= 25 kPa Οβ= 10Β°
Ξ³=19,1 kN/m3 cβ= 34 kPa Οβ= 24Β°
Solusi:
Bidang longsor dibagi dalam 8 irisan. Panjang total bidang longsor (arah horizontal) =34.5 m, maka masing-masing irisan mempunyai lebar . β = 4.31π
Contoh perhitungan gaya berat dan tekanan air pori pada irisan ke-6:
Tinggi lapisan bawah β = 7,4π
Tinggi lapisan atas β = 5,0π
Berat irisan π = 5 Γ 4,31 Γ 17,7 + 7,4 Γ 4,31 Γ 19,1 = 991 ππ Ordinat tekanan air pori (diukur) = 7,5 m
Tekanan air pori π’ = 7,5 Γ 9,81 = 74 ππ
Panjang garis longsor π = 5,2 π
Gaya akibat tekanan air pori π = 74 Γ 5,2 = 385 ππ
02 Keruntuhan Rotasi
Case 2 β rotasi, Fellenius
Irisan Berat π π π cos π π sin π π = π’ π π cos π β π’ π
No (kN) (Β°) (kN) (kN) (kN) (kN)
1 196 -16.30 188 -55 90 98
2 519 -10.70 510 -96 225 285
3 781 1.10 781 15 310 471
4 965 10.75 948 180 365 583
5 1084 19.96 1019 370 385 634
6 991 31.31 847 515 385 452
7 721 43.90 519 500 305 214
8 232 53.00 140 185 78 62
8a 133 58 70 113 4 66
1727 2865
02 Keruntuhan Rotasi
Case 2 β rotasi, Fellenius
Tahanan terhadap longsoran yang dikerahkan oleh komponen kohesi:
π π = 25 Γ 5,45 + 34 Γ 35,6 = 1347ππ Tahanan terhadap longsoran oleh komponen gesekan pada kedua lapisan:
2799 Γ tan 24Β° + 66 Γ tan 10Β° = 1258ππ Faktor aman:
πΉπΎ = 1347 + 1258
1727 = 1,51 Solusi:
οΌ Dengan memperhatikan jari-jari dan sudut yang diapit, panjang garis DE=5.45m dan BE=35.6m πΉπΎ = Mpenahan
Mpenggerak
πΉπΎ = cβRΞΈ + Ξ£(NiβUi) tan Οβ Ξ£T
02 Keruntuhan Rotasi
Catatan Metode Fellenius
Metode Fellenius memberikan faktor aman yang relatif lebih rendah dari cara hitungan yang lebih teliti.
Batas β batas nilai kesalahan dapat terjadi antara 5 sampai 20 % tergantung pada faktor aman, sudut pusat lingkaran yang dipilih, dan besarnya tekanan air pori. Walaupun analisisnya ditinjau dalam tinjauan tegangan total dan sudut pusat dari lingkarannya, kesalahan masih pada batas aman (Whitman dan Baily, 1967).
Cara ini telah banyak digunakan dalam prakteknya. Karena cara hitungannya yang sederhana dan error yang terjadi pada sisi yang aman.
02 Keruntuhan Rotasi
Metode Bishop, 1955
xc R sinΞΈ
yc b
h H
ΞΈ ΞΈ
ο‘
R
x y
A
B C
D
ΞΈj ΞΈ
T N
Ej+1 Ej Xj
Xj+1 h
W bj
Uj+1
Uj
Js O
RA
D
B C
02 Keruntuhan Rotasi
Metode Bishop, 1955
ΞΈj ΞΈ
T N
Ej+1
Ej Xj
Xj+1
h
W bj
Uj+1 Uj
Js O
RA
D
B C
π π₯ = π π
π cos π + π sin π = π + π β π
π β² πππ π = π (1 β ππ’) + π β π β π π ππ π π β²πππ π = π + π β π β π’ π cos π β π π ππ π Pada kondisi keseimbangan vertikal, jikaπ = π dan π = π :
Dengan π = π β π’ π , maka:
π = π’πππ
ππ = π’ πΎβ π Rasio tekanan pori (pore pressure ratio):
Karena Bishop menggunakan asumsi keseimbangan momen, dimana:
02 Keruntuhan Rotasi
Metode Bishop, 1955
ΞΈj ΞΈ
T N
Ej+1
Ej Xj
Xj+1
h
W bj
Uj+1 Uj
Js O
RA
D
B C
πΉπΎ = ππβ² tan ππβ² Ξ£π π πππ π π₯ = π π
Karena Bishop menggunakan asumsi keseimbangan momen, dimana:
π₯ = π sin π
Dengan mengambilπ₯ = π sin π , diperoleh:
Ξ£π = Ξ£π π πππ
Ingat:
πΉπΎ = ππ
ππ = ππ π ππ
Dalam membentuk persamaan FK, kita melihat kondisi tegangan efektif lebih dulu, sehingga pada kondisi ESA:
02 Keruntuhan Rotasi
Metode Bishop, 1955
ΞΈj ΞΈ
T N
Ej+1
Ej Xj
Xj+1
h
W bj
Uj+1 Uj
Js O
RA
D
B C
π β² πππ π = π (1 β ππ’) + (π βπ ) βππβ² tan ππβ²
πΉπΎ π ππ π
Substitusikan ke persamaan awal, diperoleh:
π β² = π (1 β ππ’) + (π βπ ) πππ π +tan ππβ²
πΉπΎ π ππ π
Kemudian dikenalkan parameter mi
π = 1
πππ π +tan ππβ²
πΉπΎ π ππ π
Maka:
π β² = [π (1 β ππ’) + (π βπ )]π
02 Keruntuhan Rotasi
Metode Bishop, 1955
ΞΈj ΞΈ
T N
Ej+1
Ej Xj
Xj+1
h
W bj
Uj+1 Uj
Js O
RA
D
B C
Dengan mengabaikan nilai (π βπ ) yang hanya memberi 1% ketelitian, maka persamaan BISHOP DISEDERHANAKAN diperoleh:
πΉπΎ = Ξ£ππβ² tan ππβ² Ξ£π π πππ
dengan:
Maka diperoleh persamaan BISHOP untuk kondisi ESA:
πΉπΎ = Ξ£[π (1 β π ) + (π βπ )]π tan ππβ² Ξ£π π πππ
πΉπΎ = Ξ£[π (1 β π )]π tan ππβ² Ξ£π π πππ
Dan jika air tanah berada dibawah bidang gelincir (ru= 0), maka:
πΉπΎ = Ξ£π π tan ππβ² Ξ£π π πππ
02 Keruntuhan Rotasi
Metode Bishop, 1955
ΞΈj ΞΈ
T N
Ej+1
Ej Xj
Xj+1
h
W bj
Uj+1 Uj
Js O
RA
D
B C
πΉπΎ = Ξ£ππ’π
Ξ£π π πππ = Ξ£ππ’ π cos ΞΈ Ξ£π π πππ
Untuk KONDISI TSA:
02 Keruntuhan Rotasi
Metode Janbu, 1973
ΞΈj
Tj Nj
Ej+1 Ej
Xj
Xj+1 h
Wj bj
Karena Janbu menggunakan asumsi keseimbangan gaya horisontal dimana Ej-Ej+1= 0, maka FK dapat dinyatakan sebagai:
πΉπΎ = Ξ£[π (1 β π ) + (π βπ )]π tan ππβ² πππ π Ξ£[π +(π βπ )]tan π
πΉπΎ = Ξ£πΊππ¦π
Ξ£πΊππ¦π = Ξ£πππππ π
Ξ£[π +(π βπ )]tan π
Ingat:
πΉπΎ = ππ
ππ = ππ π ππ
Maka diperoleh persamaan Janbu untuk kondisi ESA:
02 Keruntuhan Rotasi
Metode Janbu, 1973
ΞΈj
Tj Nj
Ej+1 Ej
Xj
Xj+1 h
Wj bj
Janbu mengganti nilaiπ β π dengan faktor koreksi f0sehingga bentuk persamaan JANBU disederhanakan kondisi ESA menjadi:
πΉπΎ = π Ξ£π (1 β π )π tan ππβ² πππ π Ξ£π tan π
L d Asumsi bidang gelincir
02 Keruntuhan Rotasi
Metode Janbu, 1973
ΞΈj
Tj Nj
Ej+1 Ej
Xj
Xj+1 h
Wj bj
Untuk kondisi air tanah dibawah bidang gelincir, ru= 0, maka
πΉπΎ = π Ξ£π π tan ππβ² πππ π Ξ£π tan π
Untuk KONDISI TSA:
πΉπΎ = Ξ£π π
Ξ£[π +(π βπ )]tan π
Ganti nilai π β π dengan faktor koreksi f0, diperoleh persamaan JANBU disederhanakan kondisi TSA :
πΉπΎ = π Ξ£π π Ξ£π tan π
02 Keruntuhan Rotasi
Catatan Metode Bishop dan Janbu
Metode Bishop mengasumsikan bidang gelincir circular dan keseimbangan momen. Gaya seepage diabaikan dan gaya normal dalam 1 garis; untuk metode bishop disederhanakan, resultan pada bidang geser antar sisi dianggap nol
Metode Janbu mengasumsikan bidang gelincir noncircular dan keseimbangan gaya horisontal. Asumsi lainnya menyerupai Bishop, kecuali pada nilai resultan pada bidang geser yang tidak diabaikan, namun digantikan dengan suatu faktor koreksi
Lereng pada tanah butir halus: ESA pada kondisi jangka panjang & TSA kondisi jangka pendek
Lereng pada tanah butir kasar: ESA pada kondisi jangka panjang dan pendek (beban statik)
02 Keruntuhan Rotasi
Aplikasi metode irisan (1/3)
οΌ Parameter kuat geser adalah parameter paling penting dalam analisa kestabilan lereng.
οΌ Gunakan nilai Ο β untuk semua perhitungan kecuali lempung OC dengan celah/gap (keruntuhan progresif dapat terjadi, nilai Ο
rβ lebih konservatif
οΌ Untuk kondisi TSA, gunakan nilai c
uyang konservatif dari uji geser sederhana
02 Keruntuhan Rotasi
Aplikasi metode irisan (2/3)
1. Retak memodifikasi bidang gelincir, tidak lagi berpotongan ke permukaan, namun berhenti pada dasar dari tension crack dengan kedalaman kritis z
r=2s
u/ Ξ³
2. Tension crack dapat terisi air dan tekanan hidrostatik diaplikasikan pada sepanjang kedalaman retak. Tambahan momen penggerak akibat tekanan hidrostatik adalah sebesar
dengan z
sadalah jarak vertikal dari sisi atas tension crack ke pusat rotasi.
zr=2su/Ξ³ zs
Area yang diperhitungkan saat tension crack ditemukan
R
Tension crack pada tanah butir halus dapat terjadi, maka ada 3 hal yang perlu diperhatikan
02 Keruntuhan Rotasi
Aplikasi metode irisan (2/3)
πππ΄: πΉπΎ = Ξ£ππ’π
Ξ£π π πππ = Ξ£ππ’ π
cos ΞΈ Ξ£π π πππ =
1
2πΎ π§ (π§ + 2 3π§ ) π
πΈππ΄: πΉπΎ = Ξ£[π (1 β π )]π tan ππβ² Ξ£π π πππ +
1
2πΎ π§ (π§ + 2 3π§ ) π
FK BISHOP akibat adanya tension crack menjadi:
3. Tension crack memberi saluran untuk air mencapai lapisan tanah dibawahnya dan mengakibatkan timbulnya gaya seepage yang memperlemah lapisan ini. Posisi tension crack dan bidang gelincir TIDAK sensitif terhadap posisi muka air phreatic
02 Keruntuhan Rotasi
Aplikasi metode irisan (3/3)
Bendungan, galian dan saluran dapat mengalami kondisi drawdown. Saat muka air tinggi, muka air tanah akan kurang lebih sama, namun saat muka air dalam saluran turun dengan cepat, muka air dalam tanah tidak mengikuti terjadinya perubahan mendadak (pada tanah butir halus, delay dapat terjadi karena permeabilitas yang rendah).
Muka air maks Muka air min.
Kondisi ini mengakibatkan FK akan berkurang (terutama saat kondisi drawdown maksimum). Jika drawdown terjadi perlahan, permukaan phreatic akan mengikuti sehingga gaya seepage akan terbentuk sebagai tambahan dari tekanan air pori
02 Keruntuhan Rotasi
2m
5m
Muka Air
0
b
h
wW
1W
2ΞΈa=26Β°
2 1 4 3
6 5 8 7
Case 3 β rotasi, Bishop disederhanakan
Suatu lereng saluran dengan sifat-sifat tanah:
πΎ = 20 ππ π πΎ = 10 ππ π π = 15 ππ π
Tentukan FK
02 Keruntuhan Rotasi
2m
5m
Muka Air
0
b hw
W1
W2
ΞΈa=26Β°
2 1 4 3
6 5 8 7
Case 3 β rotasi, Bishop disederhanakan
Karena ada pengaruh air tanah, faktor aman dihitung dengan persamaan:
πΉ = 1
β π + π sin π π π + π + π β πππ’π tan πβ² 1 π
π = πΎπβ = πππππ‘ π‘πππβ ππ ππ‘ππ ππ’ππ πππ ππ π πππ’πππ ππ
π = πΎ πβ = πππππ‘ πππππ‘ππ π‘πππβ π‘πππππππ ππ πππ€πβ ππ’ππ πππ ππ π = πππππ ππππ ππ πππβ βππππ πππ‘ππ π
π’ = β πΎ = π‘ππππππ πππ ππβππ‘π’ππ ππππ ππ’ππ πππ ππ π πππ’πππ π
β = π‘πππππ π‘ππππππ πππ πππ‘π β πππ‘π πππππ ππππ ππ π¦πππ πππ‘πππππ’ π
02 Keruntuhan Rotasi
Case 3 β rotasi, Bishop disederhanakan
IrisanNo
b h1 h2 π π
= πΎπβ π
= πΎβ²πβ π
= π + π
sin π π sin π β π’
= β πΎ ππ’ π
β ππ’ (π
β ππ’) tan πβ²
(kN)π π 14 + 15(kN)
π
(16):(17)
(m) (m) (m) (Β°) (kN) (kN) (kN) (kN) (m) (kPa) (kN) (kN) (kN) π = π. π π = π. π π = π. π π = π. π
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17a 17b 18a 18b
1 2.5 1.7 0.70 61.0 85 18 103 0.87 90.09 1.75 17.5 43.75 59.25 34.21 37.5 71.71 0.77 0.71 93.0 102.1 2 2.5 2.0 3.75 42.0 100 96 196 0.67 131.15 1.60 16.0 40.00 156.00 90.07 37.5 127.57 0.96 0.92 133.5 138.6 3 2.5 2.0 5.50 28.0 100 14 114 0.47 53.52 1.26 12.6 31.50 82.50 47.63 37.5 85.13 1.03 1.00 153.4 158.5 4 2.5 1.2 6.50 17.0 60 166 226 0.29 66.08 0.50 5.0 12.50 213.50 123.26 37.5 160.76 1.05 1.03 153.1 155.8 5 2.5 0.0 5.75 5.8 0 147 147 0.10 14.86 0.00 0.0 0.00 147.00 84.87 37.5 122.37 1.02 1.02 120.1 120.1 6 2.5 0.0 3.25 -5.8 0 83 83 -0.10 -8.39 0.00 0.0 0.00 83.00 47.92 37.5 85.42 0.96 0.97 89.1 88.1 7 2.5 0.0 1.50 -16.5 0 38 38 -0.28 -10.79 0.00 0.0 0.00 38.00 21.94 37.5 59.44 0.86 0.88 69.2 67.6 8 2.5 0.0 0.50 -26.5 0 10 10 -0.45 -4.46 0.00 0.0 0.00 10.00 5.77 37.5 43.27 0.75 0.78 48.0 46.2
332.04 859.4 877.0
02 Keruntuhan Rotasi
Case 3 β rotasi, Bishop disederhanakan
Metode irisan pada tanah cβ, Οβ
IrisanNo
b h1 h2 π π = πΎπβ π = πΎβ²πβ π = π + π sin π π sin π β
(m) (m) (m) (Β°) (kN) (kN) (kN) (kN) (m)
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
1 2.5 1.7 0.70 61.0 85 18 103 0.87 90.09 1.75
2 2.5 2.0 3.75 42.0 100 96 196 0.67 131.15 1.60
3 2.5 2.0 5.50 28.0 100 140 240 0.47 112,8 1.26
4 2.5 1.2 6.50 17.0 60 166 226 0.29 66.08 0.50
5 2.5 0.0 5.75 5.8 0 147 147 0.10 14.86 0.00
6 2.5 0.0 3.25 -5.8 0 83 83 -0.10 -8.39 0.00
7 2.5 0.0 1.50 -16.5 0 38 38 -0.28 -10.79 0.00
8 2.5 0.0 0.50 -26.5 0 10 10 -0.45 -4.46 0.00
391
02 Keruntuhan Rotasi
Case 3 β rotasi, Bishop disederhanakan
IrisanNo
π’ = β πΎ ππ’ π β ππ’ π β ππ’ tan πβ²
(kN)π π 14 + 15 (kN)
π (16):(17)
(kPa) (kN) (kN) (kN) πΉ = 1.80 πΉ = 2.20 πΉ = 1.80 πΉ = 2.20
11 12 13 14 15 16 17a 17b 18a 18b
1 17.5 43.75 59.25 34.21 37.5 71.71 0.77 0.71 93.0 102.1
2 16.0 40.00 156.00 90.07 37.5 127.57 0.96 0.92 133.5 138.6
3 12.6 31.50 82.50 47.63 37.5 85.13 1.03 1.00 153.4 158.5
4 5.0 12.50 213.50 123.26 37.5 160.76 1.05 1.03 153.1 155.8
5 0.0 0.00 147.00 84.87 37.5 122.37 1.02 1.02 120.1 120.1
6 0.0 0.00 83.00 47.92 37.5 85.42 0.96 0.97 89.1 88.1
7 0.0 0.00 38.00 21.94 37.5 59.44 0.86 0.88 69.2 67.6
8 0.0 0.00 10.00 5.77 37.5 43.27 0.75 0.78 48.0 46.2
859.4 877.0
Hitungan Faktor Aman:
.
02 Keruntuhan Rotasi
Case 4 β rotasi, Bishop disederhanakan
8 m R
1V:1,57H Οβ= 33Β° Ξ³sat= 18 kN/m3
4 m
Hitung FS pada kondisi:
1. Tanpa tension crack 2. Tension crack
3. Tension crack terisi air
02 Keruntuhan Rotasi
Case 4 β rotasi, Bishop disederhanakan
8 m R
1V:1,57H Οβ= 33Β° Ξ³sat= 18 kN/m3 Su= 30 kPa
4 m
1. Tentukan kedalaman tension crack dan plot (skala) ke gambar
zr=2su/Ξ³= 2(30)/18= 3,3 m
8 m R
1V:1,57H Οβ= 33Β°
Ξ³sat= 18 kN/m3 Su= 30 kPa
4 m
SOLUSI
02 Keruntuhan Rotasi
Case 4 β rotasi, Bishop disederhanakan
IrisanNo
b h1 π = πΎπβ hw π π ππ π sin π ESA TSA
(m) (m) (kN) (m) (kPa) (Β°) (kN) W(1-ru)(tan Οβ)mj Sub/cos ΞΈ
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
1 4,9 1 88,2 1 0,54 -23 1,47 -34,5 38,3 159,7
2 2,5 3,6 162 3,6 0,54 -10 1,14 -28,01 54,6 76,2
3 2 4,6 166 4,6 0,54 0 1 0 49 60
4 2 5,6 202 5 0,49 9 0,92 31,5 62,1 60,7
5 2 6,5 234 5,5 0,46 17 0,88 68,4 72,1 62,7
6 2 6,9 248 5,3 0,42 29 0,85 120,4 80,1 68,6
7 2 6,8 245 4,5 0,36 39,5 0,86 155,7 87,6 77,8
8 2,5 5,3 238 2,9 0,30 49,5 0,90 181,4 97,5 115,5
9 1,6 1,6 46 0,1 0,03 65 1,02 41,8 29,6 113,6
Ξ£ 537 571 795
FK 1,06 1,48
TANPAtension crack
02 Keruntuhan Rotasi
Case 4 β rotasi, Bishop disederhanakan
IrisanNo
b h1 π = πΎπβ hw π π ππ π sin π ESA TSA
(m) (m) (kN) (m) (kPa) (Β°) (kN) W(1-ru)(tan Οβ)mj Sub/cos ΞΈ
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
1 4,9 1 88,2 1 0,54 -23 1,50 -34,5 39,1 159,7
2 2,5 3,6 162 3,6 0,54 -10 1,15 -28,01 55 76,2
3 2 4,6 166 4,6 0,54 0 1 0 49 60
4 2 5,6 202 5 0,49 9 0,92 31,5 61,8 60,7
5 2 6,5 234 5,5 0,46 17 0,87 68,4 71,5 62,7
6 2 6,9 248 5,3 0,42 29 0,84 120,4 78,9 68,6
7 2 6,8 245 4,5 0,36 39,5 0,84 155,7 85,8 77,8
8 2,5 5,3 238 2,9 0,30 49,5 0,87 181,4 95,1 115,5
9 1,6 1,6 46 0,1 0,03 65 0,99 41,8 0 0
Ξ£ 537 536 681
FK 1,00 1,27
ADA tension crack (FK 1.0)
02 Keruntuhan Rotasi
Case 4 β rotasi, Bishop disederhanakan
IrisanNo
b h1 π = πΎπβ hw π π ππ π sin π ESA TSA
(m) (m) (kN) (m) (kPa) (Β°) (kN) W(1-ru)(tan Οβ)mj Sub/cos ΞΈ
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
1 4,9 1 88,2 1 0,54 -23 1,53 -34,5 39,9 159,7
2 2,5 3,6 162 3,6 0,54 -10 1,15 -28,01 55,3 76,2
3 2 4,6 166 4,6 0,54 0 1 0 49 60
4 2 5,6 202 5 0,49 9 0,91 31,5 61,5 60,7
5 2 6,5 234 5,5 0,46 17 0,86 68,4 70,9 62,7
6 2 6,9 248 5,3 0,42 29 0,83 120,4 77,8 68,6
7 2 6,8 245 4,5 0,36 39,5 0,83 155,7 84,3 77,8
8 2,5 5,3 238 2,9 0,30 49,5 0,86 181,4 93 115,5
9 1,6 1,6 46 0,1 0,03 65 0,96 41,8 0 0
Ξ£ 537 532 681
FK 0,95 1,22
ADA tension crack + air (FK 0,95, R=14,3 m, TCM/R= 23,7 kN)
02 Keruntuhan Rotasi
Case 4 β rotasi, Bishop disederhanakan
Summary
Kondisi lereng FS
ESA TSA
Tanpa tension crack 1,06 1,48
Ada tension crack 1,00 1,27
Ada tension crack + air 0,95 1,22
02 Keruntuhan Rotasi
Case 5 β rotasi, Janbu
d: 4,5 l: 11,5 d/l: 0,39
f
0: 1,06 asumsi: FK 1,04
5 m 2V:3H
Οβ= 33Β° Ξ³sat= 17 kN/m3
2 m
2 m 3,5 m 2 m 2,9 m
Οβ= 29Β°
Ξ³sat= 18 kN/m3
02 Keruntuhan Rotasi
Case 5 β rotasi, Janbu
5 m
2 m
2 m 3,5 m 2 m 2,9 m
Οβ= 29Β°
Ξ³sat= 18 kN/m3 2V:3H Οβ= 33Β°
Ξ³sat= 17 kN/m3
IrisanNo
b h1 H2 π = πΎπβ π ππ TSA
(m) (m) (m) (kN) (Β°) W(tan ΞΈ) Sub/cos ΞΈ
1 2 4 3 6 7 9 10
1 2 1 0,7 59,8 -45 3,03 -60 71
2 3,5 2 2,5 274,8 0 1 0 152
3 2 1 4,3 182,2 45 0,92 182 66
4 2,9 0 2,5 123,3 59,9 0,95 213 39
Ξ£ 335 328
FK 1,04
02 Keruntuhan Rotasi
Metode Chart
03 Metode Chart
Metode Taylor, 1948 - tanah butir halus
Metode Taylor menganalisa kondisi TSA dengan nilai FK:
πΉπΎ = π Ξ£π π’ Ξ£(πΎπ»0)
ο‘s
H0 D0
Asumsi Taylor:
οΌ Tanah seragam diatas tanah yang lebih kaku
οΌ Tidak terjadi tension crack
οΌ Keruntuhan rotasi
οΌ Tidak ada tambahan beban
οΌ Tidak ada air diluar lereng
οΌ Dapat digunakan untuk menentukan kemiringan lereng desain, maupun FK lereng eksisting
03 Metode Chart
Metode Bishop-Morgenstern, 1960 - tanah butir kasar
Metode Taylor menganalisa kondisi ESA dengan nilai FK:
πΉπΎ = π β ππ
Asumsi Bishop - Morgenstern:
οΌ Tanah seragam
οΌ Geometri mengikuti metode Bishop
οΌ Koefisien stabilitas tergantung pada sudut geser Prosedur Bishop - Morgenstern:
οΌ Asumsi bidang gelincir circular
οΌ Gambarkan bidang phreatic
οΌ Hitung π = , gunakan ru berbobot.
οΌ Dengan Οβ dan asumsi sudut lereng, tentukan nilai m dan n dari chart
οΌ Hitung FK
03 Metode Chart
Case 6 β rotasi, Chart Taylor
Metode Taylor menganalisa kondisi TSA dengan nilai FK:
πΉπΎ = π Ξ£π π’ Ξ£(πΎπ»0)
ο‘s=20Β°
H0= 8m D0= 4m
Lempung Su= 40kPa Ξ³sat=17 kN/m3
1. π = = 0,5
2. Plot nilai ο‘s= 20 danπ = 0,5, diperoleh N0= 6,8 3. Hitung FK
πΉπΎ = 6,8 40
17π₯8 = 2,0
03 Metode Chart
Case 7 β rotasi, Chart Bishop-Morgenstern
2. FK diperoleh:
πΉπΎ = π β ππ = 1,95 β 1,75π₯0,35 = 1,14
pasir Οβ= 30Β° Ξ³sat=18 kN/m3 ru= 0,35
1. Tentukan m dan n dari chart, diperoleh 1,75 dan 1,95
03 Metode Chart
Seismic
( bonus chapter )
~ Seismic ~
Pendekatan Pseudostatik
b
Li
h
Ξ²
R
C
ο‘
W kvW
khW Οβ= 0Β° Ξ³sat cu
πΉπ = β π
β π = β π. π . sec πΌ + π cos πΌ tan π
β π sin πΌ
πΉπ =β π. π . sec πΌ + π cos πΌ tan π
β π sin πΌ + π π πΏ π
FS dengan memperhitungkan faktor seismik:
π = 0,5π π dimana:
catatan
:Pendekatan pseudostatik mempunyai banyak kelemahan, bahkan menjadi kurangreliable pada tanah mengalami peningkatan tekanan air pori yang besar ATAU pada tanah yang mengalami pengurangan kekuatan lebih dari 15% pada saat gempa (Seed et al. 1975, Marcuson et al. 1979, Kramer 1996); Namun, pendekatan pseudostatik dapat digunakan untuk memberi gambaran pada evaluasi pendahuluan
- Marcuson (1981) and Hynes-Griffin and Franklin (1984) -
~ Seismic ~
Case 8 β rotasi, Pseudostatik OMS 01
11,83 m
Li= 23,26 m
H= 12m
Ξ², 45Β°
O
ο‘= 65Β°
W kvW khW
Ξ³sat= 19 kN/m3 cu= 34 kPa
π = 0,25 π = 0,10
1. Area= 150 m2
2. W= 150 m2x 19 kN/m3 = 2850 kN 3. Untuk Οβ= 0, πΉπ = ββ
4. πΉπ = .
.
5. πΉπ = .
.
πΉπ =
34 x 30.65. Ο
180 x 30
2850 β 0,1 x 2850 x 11,83 + 0,25 x 2850 x 23,26
πΉπ = =0,77
~ Seismic ~
Case 9 β rotasi, Pseudostatik OMS 02
H= 12m
Ξ², 45Β°
O
ο‘= 65Β°
Ξ³sat= 19 kN/m3 cu= 34 kPa Ο= 30Β° π = 0,25
π = 0,10
1. Area bagi 8
πΉπ = β(π ππ ππ π‘πππ ππππππ‘)
β(π·πππ£πππ ππππππ‘) = β π. π΅ . sec πΌ + π cos πΌ tan π
β π sin πΌ +π π πΏ π
~ Seismic ~
Case 9 β rotasi, Pseudostatik OMS 02
Irisan Area (m2) Berat
(kN/m) Ξ±i(Β°) Bi
(m) Li
(m)
c Bisec Ξ±i + Wi.cosΞ±i tan Ο
(kN/m)
Wi sin Ξ±i + khWi (Li/R) (kN/m)
1 1.02 19.3 -6 3.78 18.6 138.94 2.26
2 4.64 88.2 -1 3.75 19.0 178.48 18.45
3 16.83 319.7 ΰ§ͺ 3.78 19.3 310.04 117.90
4 21.17 402.2 15 3.88 19 351.84 195.04
5 36.23 688.4 22 4.05 18.1 496.33 406.03
6 31.58 600.1 30 4.34 17 427.95 421.52
7 21.83 414.8 38 4.83 15.1 318.11 330.14
8 8.23 156.3 47 5.61 14.7 191.62 141.62
Ξ£ 2413.32 1632.97
ππΊ = β(π΄ππππ πππππππ)
β(π΄ππππ πππππππππ) = ππππ, ππ
ππππ, ππ = π, ππ < π, π
~ Seismic ~
ππΊ = β(π΄ππππ π·ππππππ)
β(π΄ππππ π·ππππππππ) Perpindahan Saat Gempa
~ Seismic ~
Newmark Sliding Block Analysis
ππΊ = π cos π½ β π π sin π½ tan π π sin π½ + π π cos π½ ππΊ = cos π½ β π sin π½ tan π
sin π½ + π cos π½ Ξ²
W W
k
hT
RN
RSliding Block
Ο= sudut geser tanah,
Ξ² = sudut kemiringan bidang,
kb= koefisien akselerasi horisontal