• Tidak ada hasil yang ditemukan

Profil Dr. Ir. Aksan KAWANDA, S.T., M.T., IPM, ASEAN Eng.

N/A
N/A
SEMOGA SEMBUH

Academic year: 2024

Membagikan "Profil Dr. Ir. Aksan KAWANDA, S.T., M.T., IPM, ASEAN Eng."

Copied!
101
0
0

Teks penuh

(1)

TEGANGAN TANAH LATERAL

&

DPT Dangkal

Dr. Ir. Aksan Kawanda

Didukung oleh:

(2)

Dr. Ir. Aksan KAWANDA, S.T., M.T., IPM, ASEAN Eng.

Geotechnical Engineer

Soil Mechanics Foundation Slope Stability Soil Improvement

Geotechnical Instrumentation

Lahir : Makasar, 13 Agustus 1979

Pendidikan : Insinyur, PPI Univ. Katolik Parahyangan Doktor Geoteknik, Univ. Katolik Parahyangan Magister Geoteknik, Univ. Katolik Parahyangan Sarjana Teknik Sipil, Universitas Trisakti Sertifikasi : Asesor Uji Kompetensi – BNSP – 2022

SKK Ahli Geoteknik Jenjang 9 – BNSP – 2023 Ahli K3 Utama – LPJK – 2020

Certified International Pile Tester, Expert Level - 2014

Asosiasi : Wakil Ketua III - Himpunan Ahli Teknik Tanah Indonesia (HATTI)

International Society of Soil Mechanics & Geotechnical Engineering (ISSMGE) Wakil Ketua III – BK Sipil, Persatuan Insinyur Indonesia (PII)

Akademis : Dosen KBK Geoteknik – Universitas Trisakti

Associate Editors – Indonesian Geotechnical Journal Section Editors – Journal of the Civil Engineering Forum Editors – Jurnal Mitra Teknik Sipil

Pekerjaan : Direktur Teknik – PT. Geotech Efathama Tenaga Penilai Ahli – DKI Jakarta

(3)

REVIEW TEGANGAN Vertikal TOTAL & EFEKTIF (1/4)

q

σh σv

σh σh

σv

q

σh

σh σv

σh γ

u u

u γw

Active:

Passive:

(4)

Elevasi (m)

b= 16 kN/m3

b= 17 kN/m3

2,5

b= 15 kN/m3

0

5,0

10

Kedalaman (m)

Tebal

(m) γb

(kN/m3)

σz

(kPa)

u (kPa)

𝜎 = σz - u (kPa)

0 0 0 0

2,5 2,5 16 16 x 2,5 = 40

5 2,5 17 40 + 17 x 2,5 = 82,5

10 5,0 15 82,5 + 15 x 5 = 157,5

0 2,5 5 7,5 10 12,5

0 40 80 120 160 200

Kedalaman (m)

Tegangan Vertikal (kPa)

σz

REVIEW TEGANGAN Vertikal TOTAL & EFEKTIF (2/4)

(5)

Elevasi (m)

b= 16 kN/m3

sat= 19 kN/m3

2,5

sat= 17 kN/m3

0

5,0

10

Kedalaman (m)

Tebal

(m) γb

(kN/m3) γsat

(kN/m3) σz

(kPa)

u (kPa)

𝜎 = σz - u (kPa)

0 0 0 0 0 0 0

1,5 1,5 16 16 x 1,5 = 24 0 24

2,5 1,0 18 24 + (18 x 1,0) = 42 1 x 10 = 10 32

5 2,5 19 42 + (19 x 2,5) = 89,5 10 + 2,5 x 10 = 35 54,5

10 5,0 17 89,5 + (17 x 5) = 174,5 35 + 5 x 10 = 85 89,5

0 2,5 5 7,5 10 12,5

0 40 80 120 160 200

Kedalaman (m)

Tegangan Vertikal (kPa)

σz

u σz′

REVIEW TEGANGAN Vertikal TOTAL & EFEKTIF (3/4)

1,5

b= 18 kN/m3

(6)

Elevasi (m)

sat= 18 kN/m3

sat= 19 kN/m3

2,5

sat= 17 kN/m3

0

5,0

10

Kedalaman (m)

Tebal

(m) γw

(kN/m3) γsat

(kN/m3)

σz

(kPa)

u (kPa)

𝜎 = σz - u (kPa)

+1 0 0 0 0 0 0

0 1 10 10 x 1,0 = 10 10 x 1,0 = 10 0

-2,5 2,5 18 18 x 2,5 = 45 10 + 10 x 2,5 = 35 10

-5 2,5 19 45 + (19 x 2,5) = 92,5 35 + 10 x 2,5 = 60 32,5

-10 5 17 92,5 + (17 x 5) = 177,5 60 + 10 x 5 = 110 67,5

-12,5 -10 -7,5 -5 -2,5 0 2,5

0 40 80 120 160 200

Kedalaman (m)

Tegangan Vertikal (kPa)

σz

u σz′

REVIEW TEGANGAN Vertikal TOTAL & EFEKTIF (4/4)

+1,0

(7)

TEKANAN TANAH LATERAL

Permukaan tanah

z

σ3=K0.γ.z σ1= γ.z

σ3=Ka.γ.za σ1= γ.za

za

σ3=Kp.γ.zp σ1= γ.zp

zp

Pergerakan Permukaan tanah

Permukaan tanah

Tekanan tanah lateral saat diam (at rest)

Tekanan tanah lateral pasif Tekanan tanah lateral aktif

(8)

TEKANAN TANAH LATERAL SAAT DIAM ( AT REST )

Permukaan tanah

z

σh’=K0.γ.z σv’= γ.z

σ τ

c'

φ'

σv’= γ.z σh’=K0.γ.z

(9)

TEKANAN TANAH LATERAL SAAT DIAM ( AT REST )

𝜎 ′ = 𝐾 ⋅ 𝑧 ⋅ 𝛾′

𝜎 ′ = 𝐾 ⋅ 𝜎 ′ 𝐾 = 𝜎 ′

𝑧 ⋅ 𝛾′ = 𝜎 ′

𝜎 ′ = 𝜎 ′ 𝜎 ′

Berapa nilai K

0

? Jaky (1944)…

pasir dan lempung terkonsolidasi normal

𝐾 𝑛𝑐 = 1 − 𝑠𝑖𝑛𝜑′

𝐾 = 1 − 𝑠𝑖𝑛𝜑 𝑂𝐶𝑅

Alpan (1967)…

lempung terkonsolidasi normal

𝐾 𝑛𝑐 = 0,19 + 0,233 𝑙𝑜𝑔(𝐼𝑃)

Mayne – Kulhawy (1982)…

lempung terkonsolidasi berlebih
(10)

σ3=Ka.γ.za σ1= γ.za za

σ3=Kp.γ.zp σ1= γ.zp

zp

Pergerakan

Permukaan tanah Permukaan tanah

PASIF AKTIF

TEKANAN TANAH LATERAL AKTIF & PASIF

σ τ

c'

σh’=σ3=Ka.γ.z σv’= γ.z σh’=σ3=Kp.γ.z
(11)

z

Permukaan tanah Permukaan tanah

TEKANAN TANAH LATERAL AKTIF & PASIF

h1

h2 h

Kondisi:

1. Tidak ada pergerakan ( displacement ) 2. Muka air tanah terletak pada kedalaman

Untuk z<h

1

, maka:

Untuk z=h

1

, maka:

Untuk z>h

1

, maka:

(12)

Δσv σ3=Ka.γ.za

σ1= γ.z z

σ3=Kp.γ.zp

σ1= γ.z z

Permukaan tanah Permukaan tanah

PASIF AKTIF

TEKANAN TANAH LATERAL pada GALIAN

σ τ

c'

σv

Δσh Δσh

Δσh

Δσh

Δσv

(13)

Coulomb –

Rankine

Koefisien Tekanan Tanah

(14)

Teori Charles Augustin de Coulomb

(1776)

1. Kondisi plane-strain

2. Tanah mempunyai sudut geser ( φ’ ) dan kohesi (c’)

3. Tidak ada air tanah

4. Baji keruntuhan diasumsikan sebagai suatu

massa yang rigid

5. Permukaan bidang runtuh dan permukaan tanah dianggap sebagai suatu bidang

6. Koefisien geser antara dinding dan baji tanah dinyatakan sebagai tan δ

Pa

R W

δ

β

φ

H/3 H

θ

(15)

Teori Coulomb

(1776)

AKTIF

Pa

R W

δ

β

φ'

H/3 H

θ

𝑃 = 𝛾𝐻 2

𝑠𝑖𝑛 (𝛼 + 𝜑 )

𝑠𝑖𝑛 𝛼. sin (𝛼 − 𝛿) 1 + sin 𝜑 + 𝛿 sin (𝜑 − 𝛽) sin 𝛼 − 𝛿 sin (𝛼 + 𝛽) 𝑃 = 𝛾𝐻

2 𝐾

Note: Patidak horisontal (bekerja pada sudut 90-+δ), maka:

𝑃 = 𝐾 . cos (90 − 𝛼 + 𝛿)= 𝐾 . sin (𝛼 − 𝛿) 𝑃 = 𝛾𝐻

2 𝐾 𝑃 = 𝛾𝐻

2

𝑠𝑖𝑛 (𝛼 + 𝜑 )

𝑠𝑖𝑛 𝛼 1 + sin 𝜑 + 𝛿 sin (𝜑 − 𝛽) sin 𝛼 − 𝛿 sin (𝛼 + 𝛽)

(16)

Pa

R W δ

β

H/3 φ'

H

θ

𝐾 = 1 − 𝑠𝑖𝑛𝜑′

1 + 𝑠𝑖𝑛𝜑′

Pada kondisi sederhana dimana

friksi

tanah-dinding  0

, maka:

Teori Coulomb

(1776)

AKTIF

(17)

Pp

R W

δ

β

φ'

H/3 H

θ

𝑃 = 𝛾𝐻 2

𝑠𝑖𝑛 (𝛼 − 𝜑 )

𝑠𝑖𝑛 𝛼. sin (𝛼 + 𝛿) 1 − sin 𝜑 + 𝛿 sin (𝜑 + 𝛽) sin 𝛼 + 𝛿 sin (𝛼 + 𝛽) 𝑃 = 𝛾𝐻

2 𝐾

Note: Pptidak horisontal (bekerja pada sudut+δ-90), maka:

𝑃 = 𝐾 . cos (𝛼 + 𝛿 − 90)= 𝐾 . sin (𝛼 + 𝛿) 𝑃 = 𝛾𝐻

2 𝐾 𝑃 = 𝛾𝐻

2

𝑠𝑖𝑛 (𝛼 − 𝜑 )

𝑠𝑖𝑛 𝛼 1 − sin 𝜑 + 𝛿 sin (𝜑 + 𝛽) sin 𝛼 + 𝛿 sin (𝛼 + 𝛽)

Teori Coulomb

(1776)

PASIF

(18)

Pp

R W δ

β

H/3 φ'

H

θ

𝐾 = 1 + 𝑠𝑖𝑛𝜑′

1 − 𝑠𝑖𝑛𝜑′

Pada kondisi sederhana dimana 

 :

Dengan hasil

K

a

x K

p

= 1

Teori Coulomb

(1776)

PASIF

(19)

Teori William J.

Rankine (1857)

1. Kondisi plane-strain

2. Tanah mempunyai sudut geser

(φ’) namun TANPA kohesi (c’)

3. Tidak ada air tanah

4. Massa tanah dalam kondisi

keruntuhan plastis

5. Permukaan bidang runtuh dan permukaan tanah dianggap sebagai suatu bidang

6. Tidak ada friksi antara dinding dan tanah

Pa

45 −𝜑 2 H/3

H

(20)

Teori Rankine

(1857)

AKTIF

Pah

β

β

H/3 H

𝑃 = 𝛾𝐻

2 𝑐𝑜𝑠𝛽𝑐𝑜𝑠𝛽 − 𝑐𝑜𝑠 𝛽 − 𝑐𝑜𝑠 𝜑′

𝑐𝑜𝑠𝛽 + 𝑐𝑜𝑠 𝛽 − 𝑐𝑜𝑠 𝜑′

𝜎 = 𝜎 𝐾

Note: Patidak horisontal (bekerja paralel terhadap muka tanah), maka:

𝑃 = 𝛾𝐻

2 𝐾 .cos 𝛽 = 𝛾𝐻 2 𝐾 Pa

45 −𝜑 2

𝜎 𝜎

𝑃 = 𝛾𝐻

2 𝑐𝑜𝑠 𝛽𝑐𝑜𝑠𝛽 − 𝑐𝑜𝑠 𝛽 − 𝑐𝑜𝑠 𝜑′

𝑐𝑜𝑠𝛽 + 𝑐𝑜𝑠 𝛽 − 𝑐𝑜𝑠 𝜑′

(21)

Pah

β H/3

H

Pa

45 −𝜑 2

𝜎 𝜎

𝐾 = 1 − 𝑠𝑖𝑛𝜑′

1 + 𝑠𝑖𝑛𝜑′

Pada kondisi sederhana dimana maka:

Teori Rankine

(1857)

AKTIF

(22)

CONTOH 1

H=5.0m

Hw=2.0m z

Tanah non kohesif 𝜑 = 30°

𝛾 = 16 𝑘𝑁 𝑚 𝛾 = 18 𝑘𝑁 𝑚

a. Tentukan distribusi tekanan tanah lateral aktif pada dinding penahan tanah

b. Tentukan resultan serta posisi resultan tekanan tanah lateral aktif tersebut

(23)

H=5.0m

Hw=2.0m z

Tanah non kohesif 𝜑 = 30°

𝛾 = 16 𝑘𝑁 𝑚 𝛾 = 18 𝑘𝑁 𝑚

𝐾 pada tanah non kohesif:

𝐾 = 𝑡𝑎𝑛 45° −𝜑 2 = 𝑡𝑎𝑛 45° − 30° 2 = 0,33

Pada 𝑧 = 0,

𝑝 = 0 𝑘𝑃𝑎 Pada 𝑧 = 2𝑚,

𝑝 = 𝐾 𝛾 𝑧 = 0,33 16 2 = 10,56 𝑘𝑃𝑎 Pada 𝑧 = 5𝑚,

𝑝 = 𝐾 𝛾 𝐻 + 𝐾 𝛾 − 𝛾 𝑧 − 𝐻 = 0,33 16 2 + 0,33 18 − 10 5 − 2 = 18,5 𝑘𝑃𝑎

Solusi CONTOH 1

(24)

H=5.0m

Hw=2.0m z

x

Resultan tekanan tanah lateral dapat dihitung:

𝑃 = 𝐾 𝛾 𝐻 = 0,33 16 2 = 10,6 ⁄

𝑃 = 𝐾 𝛾 𝐻 𝐻 − 𝐻 = 0,33 16 2 5 − 2 = 31,7 ⁄

𝑃 = 𝐾 𝛾 − 𝛾 𝐻 − 𝐻

= 0,33 18 − 10 5 − 2 = 11,9 ⁄

𝑃 = 𝑃 + 𝑃 + 𝑃 = 10,6 + 31,7 + 11,9 = 54,2 ⁄

Solusi CONTOH 1

(25)

H=5.0m

Hw=2.0m z

x

Posisi resultan dari dasar dinding penahan tanah:

𝑥 = 𝑥 𝑃 + 𝑥 𝑃 + 𝑥 𝑃 𝑃 + 𝑃 + 𝑃

= (1

3 2 + 3) 10,6 +1

2 5 − 2 31,7 + 1

3 5 − 2 11,9 10,6 + 31,7 + 11,9

= 1,81 𝑚

Solusi CONTOH 1

(26)

Asumsi:

γ = berat volume tanah

φ = sudut geser tanah

c = kuat geser tanah efektif

Tidak ada muka air tanah

H

z

𝐾 𝛾 𝐻 2 𝑐′ 𝐾 𝐾 𝛾 𝐻 − 2 𝑐′ 𝐾

𝑧 =2 𝑐′

𝛾

Kohesif → 𝜑 = 0 → 𝐾 = 𝑡𝑎𝑛 45° − ⁄ = 1 Tekanan tanah pada kedalaman z:

𝑝 = 𝛾 𝑧 − 2 𝑐′

Tekanan tanah total:

𝑃 = 𝛾 𝐻 − 2 𝑐′ 𝐻

Tekanan tanah pada kedalaman z:

𝑝 = 𝐾 𝛾 𝑧 − 2 𝑐′ 𝐾 Tekanan tanah total:

𝑃 = 𝐾 𝛾 𝐻 − 2 𝑐′ 𝐾 𝐻

Teori Rankine

(1857)

AKTIF – Kohesif ( c- φ, TSA)

(27)

Bidang gelincir x (modified)

Tension crack (dapat terisi air, jika terjadi, maka kedalaman

kritikal menjadi:

𝑧 =

𝑧

H0

Teori Rankine

(1857)

AKTIF – Kohesif ( c- φ, TSA)

Tension crack di belakang dinding

(28)

Pph

β

β

H/3 H

𝑃 = 𝛾𝐻

2 𝑐𝑜𝑠𝛽𝑐𝑜𝑠𝛽 + 𝑐𝑜𝑠 𝛽 − 𝑐𝑜𝑠 𝜑′

𝑐𝑜𝑠𝛽 − 𝑐𝑜𝑠 𝛽 − 𝑐𝑜𝑠 𝜑′

𝜎 = 𝜎 𝐾

Note: Pptidak horisontal (bekerja paralel terhadap muka tanah), maka:

𝑃 = 𝛾𝐻

2 𝐾 .cos 𝛽 = 𝛾𝐻 2 𝐾 Pp

45 +𝜑 2

𝜎 𝜎

𝑃 = 𝛾𝐻

2 𝑐𝑜𝑠 𝛽𝑐𝑜𝑠𝛽 + 𝑐𝑜𝑠 𝛽 − 𝑐𝑜𝑠 𝜑′

𝑐𝑜𝑠𝛽 − 𝑐𝑜𝑠 𝛽 − 𝑐𝑜𝑠 𝜑′

Teori Rankine

(1857)

PASIF

(29)

Pph

β H/3

H

Pp

45 +𝜑 2

𝜎 𝜎

𝐾 = 1 + 𝑠𝑖𝑛𝜑′

1 − 𝑠𝑖𝑛𝜑′

Pada kondisi sederhana dimana maka:

Teori Rankine

(1857)

PASIF

(30)

Tekanan tanah pada kedalaman z:

p = K γ z + 2 c′ K Tekanan tanah total:

P = K γ H + 2 c′ K H

Kohesif → 𝜑 = 0 → 𝐾 = 𝑡𝑎𝑛 45° + ⁄ = 1 Asumsi:

γ = berat volume tanah

φ = sudut geser tanah

c = kuat geser tanah efektif

Tidak ada muka air tanah

H

z

𝐾 𝛾 𝐻

2 𝑐′ 𝐾 2 𝑐′ 𝐾 +𝐾 𝛾 𝐻

Tekanan tanah pada kedalaman z:

Tekanan tanah total:

Teori Rankine

(1857)

PASIF – Kohesif

(31)

Coulomb – Rankine

● Keseimbangan gaya

● Solusi berada pada nilai batas atas ,

akibat bidang runtuh dan

mekanisme nya belum tentu yang terendah (K

p

, bisa menjadi terlalu besar)

● Gunakan jika batas atas menjadi konservatif

● Keseimbangan tegangan

● Solusi pada nilai batas bawah

● Gunakan jika batas bawah bawah memberi hasil konservatif

Catatan:

1. Jika nilai Ka dan Kptidak masuk akal (faktor geometri), gunakan

engineering judgement

2. Pada kasus sederhana dimana dinding vertikal, dianggap tidak ada friksi di dinding, dan permukaan tanah di balik dinding rata, Coulomb dan Rankine memberi nilai Ka dan Kpyang

sama

3. Nilai Ka bervariasi antara

0,25 – 0,40

dan Kp antara

2,5 – 4.0

(32)

Coulomb – Rankine

Catatan:

1. Jika nilai Ka dan Kptidak masuk akal (faktor geometri), gunakan

engineering judgement

2. Pada kasus sederhana dimana dinding vertikal, dianggap tidak ada friksi di dinding, dan permukaan tanah di balik dinding rata, Coulomb dan Rankine memberi nilai Ka dan Kpyang

sama

3. Nilai Ka bervariasi antara

0,25 – 0,40

dan Kp antara

2,5 – 4.0

Sudut geser tanah, φ’ Sudut geser tanah, φ’

Koefisientekanan aktif, Kah Koefisientekananpasif, Kph

(33)
(34)

Beban di Permukaan

Beban Titik Beban Garis Beban Terbagi Rata

Beban Terbagi Rata Memanjang

(35)

BEBAN DI PERMUKAAN (BEBAN Titik)

H

P 𝑥 = 𝑚 𝐻

𝑧=𝑛𝐻

Tekanan lateral tambahan akibat beban titik di atas permukaan tanah pada kedalaman z (Gerber, 1929 dan Spangler,1938):

. untuk 𝑚 > 0.4

.

. untuk 𝑚 ≤ 0.4 dengan 𝑚 = dan n=

(36)

H=5.0m

3.0000

z

𝑃 = 80𝑘𝑁

Tanah non kohesif φ = 30°

γ = 16 kN m γ = 18 kN m

a. Tentukan distribusi tekanan tanah lateral aktif pada

dinding penahan tanah akibat adanya beban tambahan

sebesar !

b. Tentukan resultan serta posisi resultan tekanan tanah lateral aktif tersebut!

CONTOH 2

(37)

z (m)

m n σh

(kPa)

0,0 0,6 0,0 0.00

0,5 0,6 0,1 0,40

1,0 0,6 0,2 1,27

1,5 0,6 0,3 2,01

2,0 0,6 0,4 2,32

2,5 0,6 0,5 2,25

3,0 0,6 0,6 1,97

3,5 0,6 0,7 1,63

4,0 0,6 0,8 1,30

4,5 0,6 0,9 1,03

5,0 0,6 1,0 0,81

H=5.0m

3.0000

z

Tekanan lateral tambahan akibat beban titik di atas permukaan tanah padakedalaman z (Gerber, 1929 dan Spangler,1938):

𝜎 = . untuk 𝑚 > 0.4 dengan 𝑚 = dan n=

𝑃 = 80𝑘𝑁

Solusi CONTOH 2

(38)

I

II III

IV V

VI VII

VIII IX

X

Segitiga

Δσh

(kPa) ΔPh(kN/m) x

(m) ΔPh∙x

I 0.00 0,20 4,50 0,91

II 0,40 0,64 4,00 2,55

III 1,27 1,01 3,50 3,52

IV 2,01 1,16 3,00 3,48

V 2,32 1,12 2,50 2,81

VI 2,25 0,98 2,00 1,97

VII 1,97 0,81 1,50 1,22

VIII 1,63 0,65 1,00 0,65

IX 1,30 0,52 0,50 0,26

X 1,03 0,20 0,17 0,03

∑ 15,00 7,30 17,40

Total tekanan lateral tambahan akibat beban titik P:

∆𝑃 = 7,30 𝑘𝑁 𝑚

Posisi resultan tekanan lateral tambahan dari dasar dinding penahan tanah:

𝑥 = ∑(∆𝑃 𝑥)

∑(∆𝑃 ) = 17,4

7,3 = 2,4𝑚

Solusi CONTOH 2

(39)

H

q

𝑥 = 𝑚 𝐻

𝑧=𝑛𝐻

Tekanan lateral tambahan akibat beban garis di atas permukaan tanah pada kedalaman z (Terzaghi, 1954):

untuk 𝑚 > 0.4 .

. untuk 𝑚 ≤ 0.4 dengan 𝑚 = dan n=

BEBAN DI PERMUKAAN (BEBAN Garis)

(40)

H

z

𝐾 𝑞

𝑞

1 2𝐻

1 2𝐻

BEBAN DI PERMUKAAN (BEBAN Terbagi Rata)

Tekanan lateral tambahan akibat beban terbagi rata di atas permukaan tanah pada kedalaman z:

Beban lateral

total

tambahan akibat beban terbagi rata di atas permukaan tanah:
(41)

H

q

𝑧

Tekanan lateral tambahan akibat beban terbagi rata memanjang di atas permukaan tanah pada kedalaman z (Terzaghi, 1943):

𝛽 𝛽

2 𝛼

BEBAN DI PERMUKAAN (BEBAN Terbagi Rata Memanjang)

(42)

P

Tentukan 𝑃 (Rankine)

𝛽 2 m

6 m

12 m

2 m 2 m

Tanah non kohesif 𝛾 = 18 𝑘𝑁 𝑚 𝜑 = 30°

𝑃 = 5 𝑘𝑁 𝑚

CONTOH 3

(43)

P

𝛽 2 m

6 m

12 m

2 m 2 m

Menentukan nilai 𝛽:

𝛽 = tan 2 2 𝐻 = tan 2

2 6 = 9,46°

Menentukan nilai 𝐾 :

𝐾 = cos 𝛽 𝑐𝑜𝑠 𝛽 − 𝑐𝑜𝑠 𝛽 − 𝑐𝑜𝑠 𝜑 𝑐𝑜𝑠 𝛽 + 𝑐𝑜𝑠 𝛽 − 𝑐𝑜𝑠 𝜑

= cos 9,46° 𝑐𝑜𝑠 9,46° − 𝑐𝑜𝑠 9,46° − 𝑐𝑜𝑠 30°

𝑐𝑜𝑠 9,46° + 𝑐𝑜𝑠 9,46° − 𝑐𝑜𝑠 30°

= 0,342

Solusi CONTOH 3

(44)

2.0m 2.0m

2.0m

x=2.0m

P

𝛽 Menentukan tekanan tanah lateral akibat tanah di dasardinding penahan tanah:

𝑝 = 𝐾 𝛾 𝐻 = 0,342 18 6 = 36,9 𝑘𝑃𝑎

Menentukan resultan tekanan tanah lateral total 𝑃 = 1

2 𝐾 𝛾 𝐻 = 1

2 0,342 18 6 = 111 𝑘𝑁 𝑚

𝑃 = 111 𝑘𝑁 𝑚 2 m

6 m

12 m

2 m 2 m

Solusi CONTOH 3

(45)

2.0m 2.0m

2.0m

P

𝛽 2 m

6 m

12 m

2 m 2 m

Tekanan lateral tambahan akibat beban garis di atas permukaan tanah pada kedalaman z (Terzaghi, 1954):

𝜎 = .

. untuk 𝑚 ≤ 0.4 dengan 𝑚 = dan n=

z

(m) m n Δph

(kPa)

0,0 0,3 0.0 0.00

0,5 0,3 0,1 0,51

1,0 0,3 0,2 0,80

1,5 0,3 0,3 0,85

2,0 0,3 0,3 0,77

2,5 0,3 0,4 0,63

3,0 0,3 0,5 0,50

3,5 0,3 0,6 0,39

4,0 0,3 0,7 0,31

4,5 0,3 0,8 0,24

5,0 0,3 0,8 0,19

5,5 0,3 0,9 0,15

6,0 0,3 1,0 0,13

Solusi CONTOH 3

(46)

3.6285

II III IV

V VI VII VIII IX

X XI XII

Total tekanan lateral tambahan yang dialami dinding penahan tanah

karena adanya bebantitik P:

∆𝑃 = 2,71 𝑘𝑁 𝑚 Posisi resultan tekanan lateral tambahandari dasar dinding penahan tanah:

𝑥 = ∑(∆𝑃 𝑥)

∑(∆𝑃 ) = 9,83

2,71 = 3,63𝑚 Segitiga Δph

(kPa)

ΔPh (kN/m)

x (m)

ΔPh∙x

I 0,51 0,25 5,50 1,39

II 0,80 0,40 5,00 2,00

III 0,85 0,43 4,50 1,92

IV 0,77 0,38 4,00 1,53

V 0,63 0,32 3,50 1,11

VI 0,50 0,25 3,00 0,75

VII 0,39 0,20 2,50 0,49

VIII 0,31 0,15 2,00 0,31

IX 0,24 0,12 1,50 0,18

X 0,19 0,10 1,00 0,10

XI 0,15 0,08 0,50 0,04

XII 0,13 0,03 0,17 0,01

∑ 5,48 2,71 33,17 9,83

I

Solusi CONTOH 3

(47)

H=6.0m

2.0m 2.0m

2.0m

ß=9°

𝑃 = 111 𝑘𝑁 𝑚

𝑃 = 110 𝑘𝑁 𝑚 𝑃 = 17 𝑘𝑁 𝑚

𝑃 = 2.71 𝑘𝑁 𝑚

Tekanan tanah lateral total akibat beban sendiri tanah

dan

beban garis tambahan:

𝑃 _ = 𝑃 + 𝑃

= 110 𝑘𝑁 𝑚 + 2.71 𝑘𝑁 𝑚 = 113 𝑘𝑁 𝑚

Jarak tekanan tanah lateral total dari dasar dinding penahan tanah:

𝑥 = 2 110 + 3,63 2,71 110 + 2.71 = 230

113 = 2.04𝑚

2 m

6 m

12 m

2 m 2 m

3,63 m 2,0 m

𝑃 = 113 𝑘𝑁 𝑚 2,04 m

Solusi CONTOH 3

(48)

Tekanan akibat Pemadatan &

Drainase

(49)

Tekanan akibat Pemadatan

Roller

Roller

Roller

Mesin pemadatan membuat tegangan horisontal efektif meningkat ; karena saat pemadatan tanah dalam kondisi plastis, tegangan tersebut akan konsisten ada.

Catatan: kedalaman pengaruh roller terbatas, dan semakin bertambah

timbunan, tegangan pada tiap kedalaman akan berkurang dibanding

tekanan tanah at-rest pada kedalaman tersebut

(50)

Tekanan akibat pemadatan

P(kN/m)

d z

a

Diagram tegangan akibat pemadatan (U.S. Navy 1982)

Pasif 𝜎

at-rest γ

L

(51)

Dinding setinggi 7m dengan tanah urug yang dipadatkan dengan roller. Berat roller 150 kN, gaya sentrifugal 50 kN dan lebar 2m dapat bekerja hingga 1m terhadap DPT. Berat isi tanah 19 kN/m3 dengan nilai Kp= 3 dan K0= 0,6. Gambarkan diagram tekanan tanah

𝜎 = 𝐿 𝑎 + 𝐿

2𝑃𝛾

𝜋 = 2 1 + 2

2 150 + 50 2 𝑥 19

𝜋 =23,2𝑘𝑃𝑎

P= (150+50)/2(kN/m)

2m

1m

𝜎 = 23,2 𝑘𝑃𝑎

0,41 m

at-rest K0γz=79,8 kPa

𝑑 = 𝐿

𝐾 (𝑎 + 𝐿) 2𝑃

𝜋𝛾 = 2 0.6(1 + 2)

2 150 + 50 2

𝜋 𝑥 19 =2,0 𝑚

NTS Kedalaman z untuk σh23,2 kPa 

Kpγz=23,2 kPa, sehingga z=0,41 m

CONTOH 4

(52)

Tekanan akibat Drainase

Weep hole saja

Urugan butir kasar Kerikil

Drainase belakang

Urugan butir kasar

Membran Saringan

Saringan Drainase

Drainase vertikal

Urugan butir halus

Drainase menerus

Jalur drainase

Drainase miring

Drainase menerus Jalur

drainase

Tipikal sistem drainase

Uruganbutir halus

(53)

Tekanan akibat Drainase

Gaya seepage dibelakang DPT dengan drainase vertikal (saat muka air tinggi) Urugan butir halus

Drainase menerus

Jalur drainase

Bidang runtuh

(54)

Tekanan akibat Drainase

Gaya seepage dibelakang DPT dengan drainase miring (saat muka air tinggi) Uruganbutir halus

Drainase menerus

Jalur drainase

±2 3ℎ

(55)

Dinding setinggi 4 m dengan tanah urug φ’= 30°, c’= 0, δ= 20°, γb= 18 kN/m3, γsat= 20 kN/m3. Muka tanah rata DPT.

a. Kondisi tanah

kering

b. Kondisi banjir

tidak ada

drainase

c. Kondisi banjir dengan drainase

miring

d. Kondisi banjir dengan drainase

vertikal

4 m

Pa

δ= 20°

Pasir φ’= 30°

c’= 0 δ= 20°

γb= 18 kN/m3 γsat= 20 kN/m3

CONTOH 5

(56)

a. Kondisi tanah

kering

4 m

Pa

δ= 20°

Pasir φ’= 30°

c’= 0 δ= 20°

γb= 18 kN/m3 γsat= 20 kN/m3 𝐾 = 1 − 𝑠𝑖𝑛𝜑

1 + 𝑠𝑖𝑛𝜑 𝐾 = 1 − 𝑠𝑖𝑛30

1 + 𝑠𝑖𝑛30 = 0,33 𝑃 = 1

2 𝐾 𝛾 𝐻 = 1

2 0,33 18 4 = 47 𝑘𝑁 𝑚

Solusi CONTOH 5

(57)

b. Kondisi banjir

tidak ada

drainase

4 m

Pa

δ= 20°

Pasir φ’= 30°

c’= 0 δ= 20°

γb= 18 kN/m3 γsat= 20 kN/m3

𝑃 = 1

2 𝐾 𝛾′ 𝐻 = 1

2 0,33 10 4 = 26,4 𝑘𝑁 𝑚

𝐾 = 0,33 𝑃 = 1

2 𝛾′ 𝐻𝑤 = 1

2 10 4 = 80 𝑘𝑁 𝑚 𝑃 = 17,36 + 80

= 106,4 𝑘𝑁 𝑚

Solusi CONTOH 5

(58)

c. Kondisi banjir dengan drainase

miring

4 m

Pa

δ= 20°

Pasir φ’= 30°

c’= 0 δ= 20°

γb= 18 kN/m3 γsat= 20 kN/m3

𝑃 = 1

2 𝐾 𝛾𝑠𝑎𝑡 𝐻 = 1

2 0,33 20 4 = 52,8 𝑘𝑁 𝑚

𝐾 = 0,33

θ= 45°

Garis aliran

Garis equipotensial

Tekanan air pori 0 pada drainase miring 1m

4m 3m 2m

Flownet aliran pada drainase miring

Solusi CONTOH 5

(59)

d. Kondisi banjir dengan drainase

vertikal

4 m

Pa

δ= 20°

Pasir φ’= 30°

c’= 0 δ= 20°

γb= 18 kN/m3

γsat= 20 kN/m3 𝐾 = 0,33

Garis aliran

Garis equipotensial

1m 4m 3m 2m

Flownet aliran pada drainase vertikal

Solusi CONTOH 5

(60)

Garis aliran

Garis equipotensial

1m 4m 3m 2m

Flownet aliran pada drainase vertikal θ= 45°

1m

ΔL 𝑢 𝛾

𝑢

𝛾 Diagram tekanan air pori

Titik u

(10 kPa)

ΔL (m)

u.ΔL

0 0 0,4 0,08

1 0,6 0,5 0,43

2 1,1 0,9 1,04

3 1,2 2,2 1,32

4 0 - -

2,87 0 1

2 3

4

d. Kondisi banjir dengan drainase

vertikal

Solusi CONTOH 5

(61)

Titik u

(10 kPa) ΔL

(m) u.ΔL

0 0 0,4 0,08

1 0,6 0,5 0,43

2 1,1 0,9 1,04

3 1,2 2,2 1,32

4 0 - -

2,87

𝑃 = 𝑊 − 𝑢𝑐𝑜𝑠𝜃 tan 𝜃 − 𝜑 + 𝑢. 𝑠𝑖𝑛𝜃 𝑠𝑖𝑛𝛿. tan 𝜃 − 𝜑 + 𝑐𝑜𝑠𝛿

u= 28,7 kN/m 𝑊 = 1

2 𝛾𝑠𝑎𝑡 𝐻 = 1

2 20 4 = 160 𝑘𝑁 𝑚

𝑃 = 160 − 28,7. 𝑐𝑜𝑠45 tan 45 − 30 + 28,7. 𝑠𝑖𝑛30 𝑠𝑖𝑛20. tan 45 − 30 + 𝑐𝑜𝑠20

𝑃 = 56 𝑘𝑁/𝑚 d. Kondisi banjir dengan drainase

vertikal

Solusi CONTOH 5

(62)

Kondisi tanah kering 47 kN/m’

Kondisi banjir dengan drainase miring 52 kN/m’

Kondisi banjir dengan drainase vertikal 56 kN/m’

Kondisi banjir tidak ada drainase 106 kN/m’

Contoh ini memberi ilustrasi pentingnya drainase yang

benar pada timbunan dan pengaruh dari jenis drainasenya

Solusi CONTOH 5

(63)

Dinding

Penahan Tanah

Dinding Gravitasi Dinding Semi Gravitasi

Dinding Kantilever Dinding Counterfort

Dinding Crib

(64)

Jenis-jenis Dinding Penahan Tanah (1/5)

Dinding Gravitasi

Dinding penahan tanah yang dibuat tanpa

menggunakan tulangan. Material yang

digunakan dapat berupa beton atau

tumpukan batu.

(65)

tulangan

Dinding Semi Gravitasi

Dinding gravitasi yang berbentuk agak ramping. Menggunakan tulangan

sebagai pasak yang menghubungkan bagian dinding dan fondasi

Jenis-jenis Dinding Penahan Tanah (2/5)

(66)

tulangan

Dinding Kantilever

Kombinasi dinding beton dan tulangan yang berbentuk huruf T. Memiliki dimensi yang relatif tipis sehingga tulangan berfungsi untuk menahan momen dan gaya lintang yang bekerja.

Jenis-jenis Dinding Penahan Tanah (3/5)

(67)

Dinding Counterfort

Merupakan dinding beton bertulang tipis yang didukung oleh pelat / dinding vertikal di bagian dalam dinding pada jarak tertentu.

Jenis-jenis Dinding Penahan Tanah (4/5)

(68)

Diisi Tanah Balok

Pengunci Dinding Krib

Balok-balok beton yang disusun menjadi dinding penahan

Jenis-jenis Dinding Penahan Tanah (5/5)

(69)

PEDOMAN Perancangan AWAL

Dimensi DINDING PENAHAN TANAH (SNI 8460: 2017)

0.12H To 0.17H

0.12H To 0.17H

0.5H to 0.7H D≥0.6m

I H Min 0.02

≥0.3m

D≥0.6m

0.1H

0.1H

≥0.3m

0.1H

0.5H to 0.7H H I

Min 0.02

(70)

Stabilitas Dinding Penahan Tanah

Gaya-gaya yang bekerja pada dinding penahan:

1. Berat sendiri dinding penahan (W) 2. Gaya tekanan tanah aktif total (Pa) 3. Gaya tekanan tanah pasif total (Pp) 4. Tekanan air pori di dalam tanah (Pw) 5. Reaksi tanah dasar (R)

H

W

3

H

1

P

a

P

w

d +

d -

T

R

V

P

p
(71)

Jenis Kegagalan Dinding Penahan Tanah (1/9)

Kegagalan dinding penahan tanah dapat terjadi akibat:

• Guling

• Geser

• Daya dukung tanah di bawah dinding

• Longsoran dalam

(72)

Stabilitas Terhadap Guling (2/9)

Gaya guling yang dialami oleh dinding penahan tanah akan:

• Cenderung menggulingkan dinding dengan pusat rotasi pada ujung kaki depan pelat fondasi

• Dilawan oleh momen akibat berat sendiri dinding penahan dan momen akibat berat tanah di atas pelat fondasi

Faktor keamanan terhadap guling:

𝐹 =

Faktor keamanan yang disarankan:

𝐹 ≥ 1.5 untuk tanah granuler 𝐹 ≥ 2.0 untuk tanah kohesif

Catatan:

Tahanan tanah pasif akibat tanah yang berada di depan kaki dinding penahandiabaikan dalam hitungan stabilitas

Jika tahanan tanah pasif yang ditimbulkan oleh pengunci pada dasar fondasi diperhitungkan maka

nilainyaharus direduksiuntuk mengantisipasi terjadinya erosi, iklim dan retakan akibat tegangan tarik tanah dasar yang kohesif

(73)

Stabilitas Terhadap Geser (3/9)

Gaya geser yang dialami oleh dinding penahan tanah akan ditahan oleh:

● Gesekan tanah – fondasi

● Tekanan tanah pasif (bila terdapat timbunan di depan dinding) Faktor keamanan terhadap geser:

Faktor keamanan yang disarankan:

untuk tanah granuler

untuk tanah kohesif

(74)

Untuk tanah granuler (𝑐 = 0):

𝑅 = 𝑊 𝑓

= 𝑊 tan 𝛿 ; dengan 𝛿 ≤ 𝜑 Untuk tanah kohesif (𝜑 = 0):

𝑅 = 𝑐 𝐵

Untuk tanah𝑐 − 𝜑 (𝑐 > 0 dan 𝜑 > 0):

𝑅 = 𝑐 𝐵 + 𝑊 tan 𝛿

dimana:

∑ 𝑅 = tahanan dinding penahan tanah terhadap geser

𝑊 = berat total dinding penahan dan tanah di atas pelat fondasi (kN) 𝛿 = sudut gesek antara tanah dan dasar fondasi, umumnya sekitar ⁄ −

dari nilai𝜑

𝑐 = 𝑎 𝑐 = adhesi antara tanah dan dasar dinding ( ) 𝑐 = kohesi tanah dasar ( )

𝑎 = faktor adhesi 𝐵 = lebar fondasi (𝑚)

∑ 𝑃 = resultan gaya-gaya horizontal (𝑘𝑁)

tan 𝛿 = koefisien gesek antara tanah dasar dan dinding fondasi

Stabilitas Terhadap Geser (4/9)

(75)

Jenis Tanah Dasar Fondasi tan 𝛿 Tanah granuler kasar mengandung lanau atau lempung 0,55

Tanah granuler kasar mengandung lanau 0,45

Tanah lanau tak berkohesi 0,35

Batu keras permukaan kasar 0,60

Nilai tan 𝛿 pada pondasi dengan dasar yang sangat kasar (seperti beton yang dicor langsung di atas tanah) dapat digunakan:

tan 𝛿 = tan 𝜑

Atau berdasarkan jenis tanahnya maka dapat digunakan nilai tan 𝛿 di tabel berikut ini (AREA, 1958):

Koefisien gesek antara pasir dan tanah di bawahnya (tan 𝛿 ) dapat digunakan nilai 0,35 (Terzaghi dan Peck, 1948)

Stabilitas Terhadap Geser (5/9)

(76)

Stabilitas Terhadap Daya Dukung Tanah (6/9)

Persamaan kapasitas dukung tanah yang umum digunakan untuk menghitung stabilitas dinding penahan tanah antara lain:

Terzaghi (1943) Meyerhof (1951 & 1963)

Vesic (1975)

Hansen (1970)

(77)

Terzaghi (1943) memberikan solusi untuk kapasitas dukung ultimit ( dengan,

= kohesi tanah ( )

= kedalaman fondasi ( )

= berat volume tanah ( )

= lebar fondasi dinding penahan tanah ( ) , dan = faktor daya dukung

Persamaan Terzaghi inikurang tepatuntuk digunakan menghitung kapasitas dukung ultimit dinding penahan tanah karena hanya berlaku untuk fondasi yang dibebani secara vertikal dan sentris.

Stabilitas Terhadap Daya Dukung Tanah (7/9)

(78)

Hansen (1970) dan Vesic (1975)

Kapasitas dukung ultimit dapat dihitung dengan persamaan:

dengan,

𝑑 , 𝑑 , 𝑑 = faktor kedalaman

𝑖 , 𝑖 , 𝑖 = faktor kemiringan beban

𝐵 = lebar dasar fondasi sebenarnya (m) 𝑒 = eksentrisitas beban

𝛾 = berat volume tanah ( )

𝑁, 𝑁 , 𝑁 = faktor – faktor kapasitas dukung

Catatan:

Berat volume pada𝐷 𝛾𝑁 adalah berat volume tanahdi atasdasar fondasi

Berat volume pada0.5𝐵𝛾𝑁 adalah berat volume tanahdi bawahdasar fondasi

Faktor keamanan terhadap keruntuhan kapasitas dukung:

𝐹 =𝑞 𝑞 ≥ 3 dimana𝑞= tekanan akibat beban struktur

Stabilitas Terhadap Daya Dukung Tanah (8/9)

(79)

𝑞 = tekanan akibat beban struktur dapat dihitung dengan cara:

1.

Metode lebar efektif fondasi (Meyerhof):

𝑞 = 𝑉

Dengan 𝑉 = beban vertikal total dan 𝐵 = 𝐵 − 2𝑒𝐵′

2.

Distribusi tekanan kontak antara tanah dasar fondasi dianggap linier (hanya untuk persamaan Terzaghi):

𝑞 = 1 ± bila 𝑒 ≤ 𝑞 = bila𝑒 >

Lebar dinding penahan tanah sebaiknya di desain demikian rupa sehingga 𝑒 < ⁄ agar efisiensi fondasi maksimum dan beda tekanan pada ujung kaki tidak besar (mengurangi resiko guling pada DPT)

Stabilitas Terhadap Daya Dukung Tanah (9/9)

(80)

Pada dinding penahan tanah akan terjadi

kemiringan akibat rotasi di ujung kaki fondasi.

Kemiringan yang terjadi pada umumnya dinding penahan tanah akan miring ke arah luar (menjauhi tanah urug) karena resultan gayanya jatuh di antara tengah – tengah fondasi dan ujung luar fondasi.

Kemiringan dinding akibat momen guling sulit ditentukan. Kemiringan dinding penahan tanah

maksimum dibatasi hingga 0.01H, dengan H adalah tinggi dinding penahan tanah.

STABILITAS TERHADAP Penurunan

(81)

Dinding penahan tanah kantilever seperti pada gambar.

Data tanah:

Tanah urug: 𝑐 = 0 𝑘𝑃𝑎

𝜑 = 35°

𝛾 = 19

Tanah fondasi: 𝑐 = 20 𝑘𝑃𝑎

𝜑 = 35°

𝛾 = 18

Berat volume beton = 25

Beban terbagi rata di atas timbunan, 𝑞 = 10 𝑘𝑃𝑎

Cek stabilitas dinding penahan (teori Rankine)

q= 10 kPa

Lapisan 1:

𝜑 = 35°

𝑐 = 0 𝛾 = 19 𝑘𝑁

𝑚

Lapisan 2:

𝜙 = 35°

𝑐 = 20 𝑘𝑁 𝑚 𝛾 = 18 𝑘𝑁 𝑚 1 m 0.8 m 2.2 m

0.8 m H = 7 m

0.4 m

CONTOH 6

(82)

Menghitung Gaya Vertikal & Momen Terhadap Kaki Depan (Titik Merah)

1 m 0.8 m 2.2 m 0.8 m

H = 7 m

0.4 m

1

2

3 4

No Berat W Jarak dariO Momen keO

(kN) (m) (kN-m)

1 0.4 × 6.2 × 25 = 62 1,60 99,2

2 0.4 × 6.2 × 0.5 × 25 = 31 1,27 39,4

3 0.8 × 4 × 25 = 80 2,00 160,0

4 2.2 × 6.2 × 19 = 259,2 2,90 751,7

q 4 − 1.8 × 10 = 22 2,90 63,8

𝑊 =454,2 𝑀 = 1114

10kN m2

q=

Solusi CONTOH 6

(83)

Menghitung Tekanan Tanah Aktif & Momen Terhadap Kaki Depan (Titik Merah)

1 m 0.8 m 2.2 m 0.8 m

H = 7 m

0.4 m

1

2

3 4

10kN m2

q=

Tanah 1:

𝜑 = 35°; 𝑐 = 0; 𝛾 = 19

𝐾 = 𝑡𝑎𝑛 45° − ° = 0,271

∑ 𝑃 = 0,5 𝐻 𝛾 𝐾 + 𝑞 𝐻 𝐾

= 0,5 7 19 0,271 + 10 7 0,271 = 126,15 + 18,97

= 145,12𝑘𝑁

Tekanan aktif total, Pa Jarak dari O Momen ke O

(kN) (m) (kN.m)

0,5 x 72x 19 x 0,271 = 126,20 2,33 294,05

10 x 7 x 0,271 = 18,92 3,5 66,22

𝑃 =145,12 𝑀 = 360,75

Solusi CONTOH 6

(84)

Stabilitas Terhadap Pergeseran

Asumsi : dasar dinding sangat kasar

sehingga : sudut gesek 𝛿 = 𝜑

adhesi 𝑐 = 𝑐

𝑅 = 𝑐 𝐵 + 𝑊 tan 𝛿 = 20 4 + 454,2 tan 35°

= 398 𝑘𝑁 𝑚

𝐹 = ∑ 𝑅

∑ 𝑃 = 398,0

145,12 =2,74 > 1,5

Solusi CONTOH 6

(85)

Stabilitas Terhadap Guling

Solusi CONTOH 6

(86)

𝑃𝑎 =𝛾𝐻 2 𝐾

Perancangan SEISMIK DPT Gravitasi

h

Pergerakan

𝐾 𝛾𝐻

1/3 h

3/5 H

Δ𝑃𝑎𝑒 = 𝛾𝐻

2 (𝐾 𝐾 )

(87)

𝑃𝑎 =𝛾𝐻 2 𝐾 h

Pergerakan

𝐾 𝛾𝐻

1/3 H

3/5 H

Δ𝑃𝑎𝑒 =𝛾𝐻

2 (𝐾 𝐾 )

Saat gempa, gaya Pa dinyatakan sebagai 𝑃𝑎𝑒 = 𝛾𝐻

2 𝐾

dengan Kae pada sudut baji yang ‘terkritis’

(Mononobe and Okabe – O, 1926; M, 1929) Kae = sin2 (α + φ′− ψ)

cosψsin2α sin (α − δ − ψ) 1+ sin φ′+ δ sin (φ′− β − ψ) sin α − δ − ψ sin (α + β)

2

Perancangan Seismik DPT Gravitasi – AKTIF

(88)

Saat gempa, gaya Pa dinyatakan sebagai 𝑃𝑎 = 𝛾𝐻

2 𝐾

dengan Kae pada sudut baji yang ‘terkritis’

(Mononobe and Okabe – O, 1926; M, 1929) Kae = sin2 (α + φ′− ψ)

cosψsin2α sin (α − δ − ψ) 1+ sin φ′+ δ sin (φ′− β − ψ) sin α − δ − ψ sin (α + β)

2

Sudut yang mewakili gaya inersia gempa ψ = tan−1 kh

1 −kv

Dimana kh dan kv adalah koefisien seismik, dimana kv dapat diabaikan 0, Kramer 1996.

Perancangan Seismik DPT Gravitasi – AKTIF

(89)

𝑃𝑎 =𝛾𝐻 2 𝐾 h

Pergerakan

𝐾 𝛾𝐻

1/3 H

3/5 H

Δ𝑃𝑎𝑒 =𝛾𝐻

2 (𝐾 𝐾 )

Total gaya horisontal aktif saat gempa, Pae :

𝑎𝑒 𝑎𝑒

Perancangan Seismik DPT Gravitasi – AKTIF

(90)

𝑃𝑎 =𝛾𝐻 2 𝐾 h

Pergerakan

𝐾 𝛾𝐻

1/3 H

3/5 H

Δ𝑃𝑝𝑒 = 𝛾𝐻

2 (𝐾 𝐾 )

Saat gempa, gaya Pp dinyatakan sebagai 𝑃𝑝𝑒 = 𝛾𝐻

2 𝐾

dengan Kpe pada sudut baji yang ‘terkritis’

(Mononobe and Okabe – O, 1926; M, 1929) Kpe= sin2 (α − φ′+ ψ)

cosψsin2α sin (α + δ + ψ) 1− sin φ′+ δ sin (φ′+ β + ψ) sin α + δ + ψ sin (α + β)

2

Perancangan Seismik DPT Gravitasi – PASIF

(91)

Saat gempa, gaya Ppdinyatakan sebagai 𝑃𝑝𝑒 = 𝛾𝐻

2 𝐾

dengan Kpepada sudut baji yang ‘terkritis’

(Mononobe and Okabe – O, 1926; M, 1929) Kpe= sin2 (α − φ′+ ψ)

cosψsin2α sin (α + δ + ψ) 1− sin φ′+ δ sin (φ′+ β + ψ) sin α + δ + ψ sin (α + β)

2

Sudut yang mewakili gaya inersia gempa ψ = tan−1 kh

1 −kv

Dimana kh dan kv adalah koefisien seismik, dimana kv dapat diabaikan 0, Kramer 1996.

Perancangan Seismik DPT Gravitasi – PASIF

(92)

𝑃𝑎 =𝛾𝐻 2 𝐾 h

Pergerakan

𝐾 𝛾𝐻

1/3 H

3/5 H

Δ𝑃𝑝𝑒 = 𝛾𝐻

2 (𝐾 𝐾 )

Total gaya horisontal aktif saat gempa, Ppe :

𝑝𝑒 𝑝𝑒

Perancangan Seismik DPT Gravitasi – PASIF

(93)

Mononobe – Okabe (?)

Kelebihan: SIMPLE

Kekurangan:

1. Bidang runtuh

diasumsikan

sama untuk kondisi statik dan dinamik

2. Efek

kohesi

tidak dimasukkan (walaupun dapat mengurangi efek dinamik dari tekanan aktif) 3. Pendekatan baji mengasumsikan

bidang runtuh berupa garis lurus (yang belum tentu bidang terlemah, terutama pada Ppe, gunakan

bidang runtuh log spiral

) (NCHRP, 2008)

Pasif

Aktif

(94)

DPT tipe gravitasi tinggi 3m, permukaan tanah rata, kering, dengan nilai sudut geser tanah 30° dan berat isi 20 kN/m3 akan di desain dengan kh 0,2.

3 m γ=20 kN/m3

φ=30°

kh 0,2

Tentukan:

1.

Ka & Kp

2.

Kae & Kpe

3.

Pa, ΔPaedan jaraknya

4.

Pp, ΔPpe dan jaraknya (jika tanah terdorong)

CONTOH 7

(95)

1.

Ka & Kp

Ka = 1 − sinφ′

1 + sinφ′ = 1 − sin (30)

1 + sin (30) = 0,333 Kp = 1 + sinφ′

1 − sinφ′ = 1 + sin (30) 1 sin (30) = 3

Solusi CONTOH 7

(96)

2.

Kae & Kpe

Koefisien tekanan tanahaktif -seismik:

Kae = sin2 (α + φ′− ψ)

cosψsin2α sin (α − δ − ψ) 1+ sin φ′+ δ sin (φ′− β − ψ) sin α − δ − ψ sin (α + β)

2

ψ = tan−1 kh

1 −kv = tan−1 1 −0 = 11,30.2 °

Kae = sin2 (90 + 30 − 11.3)

cos(11.3)sin2(90) sin (90 − 0 − 11.3) 1+ sin 30 + 0 sin (30 − 0 − 11.3) sin 90 − 0 − 11.3 sin (90 + 0)

2 = 0,473

Solusi CONTOH 7

(97)

2.

Kae & Kpe

ψ = tan−1 kh

1 −kv = tan−1 1 −0 = 11,30.2 °

Koefisien tekanan tanahpasif-seismik : Kpe= sin2 (α − φ′ + ψ)

cosψsin2α sin (α + δ + ψ) 1− sin φ′+ δ sin (φ′+ β + ψ) sin α + δ + ψ sin (α + β)

2

Kpe= sin2 (90 − 30 + 11.3)

cos(11.3)sin2(90) sin (90 + 0 + 11.3) 1− sin 30 + 0 sin (30 + 0 + 11.3) sin 90 + 0 + 11.3 sin (90 + 0)

2 = 5,29

Solusi CONTOH 7

(98)

3.

Pa, ΔPae dan jaraknya gaya statik aktif:

Pa = 12KaγH2

Pa = 12 x 0,33 x 20 x (3)2 = 30 kN/m Gaya dinamik aktif :

∆Pae = (Kae– Ka) γH2

∆Pae = (0,473 – 0,333)(20)(3)2 = 12,6 kNm Jarak Pa dari dasar dinding:

Xa = 13H = 13(3) = 1 m Jarak Pae dari dasar dinding:

Xae= 0,6H = 0,6(3) = 1,8 m

Solusi CONTOH 7

(99)

4.

Pp, ΔPpedan jaraknya gaya statik pasif:

PP = 12 KPγH2

PP = 12 (3)(20)(3)2 = 270 kNm Gaya dinamik pasif :

∆Ppe = (Kpe–Kp) γH2

∆Ppe = (5,29 – 3)(20)(3)2 = 206,1 kNm Jarak Ppdari dasar dinding :

Xp = 13H = 13(3) = 1 m Jarak Ppedari dasar dinding :

Xpe = 0,6 H = 0,6 x 3 = 1,8 m

Solusi CONTOH 7

(100)

LAST but not least: SAFETY beyond calculation

Jangan bekerja pada Trenchtanpa perlindungan

(Sumber: CDC’s Public Health Image Library) Gunakan pelindung saat bekerja di galian

(Sumber: www.cobletrenchsafety.com/jobprofile.php?id=95)

(101)

Aksan KAWANDA

0811.851.613 Art of Geotechnics [email protected]

Gambar

Diagram tegangan akibat pemadatan (U.S. Navy 1982)

Referensi

Dokumen terkait