PROGRAM STUDI KEPERAWATAN PROGRAM DIPLOMA TIGA FAKULTAS ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS KUSUMA HUSADA SURAKARTA 2022 ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN FRAKTUR DALAM
PEMENUHAN KEBUTUHAN AMAN DAN NYAMAN : NYERI
Ismiati Ida Marfuah1, Anissa Cindy Nurul Afni2
1Mahasiswa Program Studi Keperawatan Program Diploma Tiga Universitas Kusuma Husada Surakarta
Email : [email protected]
2Dosen Program Studi Keperawatan Program Diploma Tiga Universitas Kusuma Husada Surakarta
Email : [email protected] ABSTRAK
Fraktur adalah gangguan dari kontinuitas yang normal dari suatu tulang. Jika terjadi fraktur, maka jaringan lunak di sekitarnya juga sering kali terganggu. Secara patofisiologi fraktur dapat menyebabkan diskontinuitas tulang dikarenakan ketidakstabilan posisi tulang lalu fragmen tulang yang patah menusuk organ disekitarnya sehingga menyebabkan nyeri. Nyeri merupakan sensori dan emosional tidak menyenangkan yang muncul akibat kerusakan integritas jaringan aktual atau potensial yang menggambarkan sebagai kerusakan. Salah satu teknik yang dapat digunakan untuk menurunkan nyeri yaitu dengan terapi musik religi. Tujuan studi kasus ini yaitu memberikan Asuhan Keperawatan Pada Pasien Fraktur Dalam Pemenuhan Kebutuhan Aman Dan Nyaman : Nyeri. Jenis penelitian ini adalah deskriptif dengan menggunakan metode pendekatan studi kasus. Subjek dalam studi kasus ini adalah satu orang pasien yang terdiagnosa fraktur tertutup di ruang Instalasi Gawat Darurat RSUD Karanganyar. Hasil studi menunjukkan bahwa pengelolaan asuhan keperawatan pada pasien fraktur dalam pemenuhan kebutuhan aman dan nyaman : nyeri dengan masalah keperawatan nyeri akut yang dilakukan tindakan terapi musik religi selama 15 menit didapatkan hasil penurunan skala nyeri dari 6 menjadi 5.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa pemberian terapi musik religi efektif diberikan pada pasien fraktur dalam pemenuhan kebutuhan aman dan nyaman : nyeri.
Kata Kunci : Fraktur, Nyeri Akut, Terapi Musik Religi.
ASSOCIATE’S DEGREE IN NURSING STUDY PROGRAM FACULTY OF HEALTH SCIENCES UNIVERSITAS KUSUMA HUSADA SURAKARTA
2022 NURSING CARE OF FRACTURE PATIENTS IN FULFILLMENT OF THE NEEDS
SAFE AND COMFORTABLE: PAIN
Ismiati Ida Marfuah1, Anissa Cindy Nurul Afni2
1Student of Associate’s Degree in Nursing Study Program of Universitas Kusuma Husada Surakarta
Email : [email protected]
2Lecturer of Associate’s Degree in Nursing Study Program of Universitas Kusuma Husada Surakarta
Email : [email protected] ABSTRACT
Fracture is a disruption of the normal continuity of a bone. If fracture happens, the soft tissues around it oftentimes are also disturbed. Pathophysiologically, fracture can cause bone discontinuity due to unstable bone position and fragments of broken bone may puncture the surrounding organs, causing pain. Pain is an unpleasant sense and emotion due to actual or potential tissue integrity damage, which is described as damage. One of the possible techniques to reduce pain is religious music therapy. The purpose of the present case study was providing Nursing Care in Fracture Patient in Fulfillment the Needs for Safe and Comfortable: Pain. The research type was descriptive, using case study approach. The subject in the present case study was a patient diagnosed by closed fracture in the emergency room of RSUD Karanganyar.
The study result showed that the nursing care management in fracture patient in fulfillment the needs safe and comfortable: pain with acute pain using religious music therapy for 15 minutes reduced the pain scale from 6 to 5. Therefore, it’s concluded that religious music therapy is effective for fracture patient in fulfillment of the needs safe and comfortable: pain.
Keywords : Fracture, Acute Pain, Religious Music Therapy.
PENDAHULUAN
Fraktur adalah gangguan dari kontinuitas yang normal dari suatu tulang.
Jika terjadi fraktur, maka jaringan lunak di sekitarnya juga sering kali terganggu (Black dan Hawks, 2014). World Health Organization (WHO) pada tahun 2020 setiap tahun terdapat lebih dari dan 1,7 juta dari mereka meninggal karena kecacatan fisik karena fraktur. Menurut Kemenkes RI pada tahun 2020 di Indonesia angka kejadian fraktur sebanyak 9,2% dengan pravelensi tertinggi cedera menurut bagian tubuh yaitu cedera pada bagian esktremitas bawah sebanyak 67,9% dan 32,7% pada bagian ekstremitas atas. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) pada tahun 2018, menunjukkan bahwa di Jawa Tengah tercatat kejadian fraktur sebanyak 8,2%. Sedangkan kejadian fraktur di Karanganyar mencapai 6,2%
(RISKESDAS, 2018).
Tekanan berlebihan atau trauma langsung pada tulang menyebabkan suatu retakan sehingga mengakibatkan kerusakan pada otot dan jaringan.
Kerusakan otot dan jaringan akan menyebabkan perdarahan, edema, dan hematom. Lokasi retak mungkin hanya retakan pada tulang tanpa memindahkan
tulang manapun. Fraktur yang tidak terjadi disepanjang tulang dianggap sebagai fraktur yang tidak sempurna sedangkan fraktur yang terjadi pada semua tulang yang patah dikenal sebagai fraktur lengkap (Widiyati, 2018).
Trauma yang terjadi dapat berupa kematian, kecacatan fisik, dan komplikasi.
Secara patofisiologi fraktur dapat menyebabkan diskontinuitas tulang dikarenakan ketidakstabilan posisi tulang lalu fragmen tulang yang patah menusuk organ disekitarnya sehingga menyebabkan nyeri. Jika terjadi nyeri maka kebutuhan aman dan nyaman akan terganggu (Platini, 2020).
Nyeri adalah respon subjektif stressor fisik dan psikologis. Nyeri merupakan sensori dan emosional tidak menyenangkan yang muncul akibat kerusakan integritas jaringan aktual atau potensial yang menggambarkan sebagai kerusakan (Suriya dan Zuriyati, 2019).
Setiap individu memiliki karakteristik fisiologis, sosial, spiritual, psikologis dan kebudayaan yang mempengaruhi cara mereka menginterpretasikan dan merasakan nyeri (Ni Wayan dan Kasiati, 2016). Penatalaksanaan manajemen penanganan nyeri dibagi menjadi 2 yaitu farmakologi dan non farmakologi.
Manajemen farmakologi meliputi pemberian obat analgesik. Sedangkan manajemen non farmakologi meliputi relaksasi napas dalam, dan teknik distraksi dengan terapi musik. Terapi musik merupakan salah satu terapi komplementer non farmakologi yang aman bagi pasien, murah dan mudah digunakan bagi perawat di rumah sakit. Musik mempengaruhi seseorang melalui modulasi emosi yaitu mendengarkan musik yang dapat mengatur suasana hati dan gairah bagi pendengarnya maka nyeri akan berkurang dalam kondisi emosional yang menyenangkan. Dalam penelitian ini musik yang digunakan adalah musik religi karena dalam lirik-liriknya biasanya berisi ajaran kebaikan dan berhubungan dengan Sang Pencipta. Terapi musik religi dapat digolongkan dalam spiritual care yang merupakan ranah pelayanan keperawatan yang berkembang langsung dari model keperawatan holistik (Muhsinah, 2020).
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Muhsinah (2020) menyebutkan bahwa terjadi penurunan skala nyeri pada pasien fraktur dengan skala nyeri 5 setelah diberikan terapi musik religi. Hasil penelitian menyebutkan bahwa setelah dilakukan tindakan terapi relaksasi musik
selama 15 menit menunjukkan hasil perubahan skala nyeri dari 5 menjadi 3.
Hasil studi pendahuluan yang di lakukan di RSUD Karanganyar pada pasien fraktur dalam pemenuhan kebutuhan aman dan nyaman : nyeri didapatkan hasil bahwa terapi musik religi dapat menurunkan skala nyeri pasien, maka penulis tertarik melakukan studi kasus mengenai asuhan keperawatan pada pasien fraktur dalam pemenuhan kebutuhan aman dan nyaman : nyeri.
Berdasarkan latar belakang diatas maka dapat rumusan masalah yaitu
“Bagaimana gambaran asuhan keperawatan pada pasien dengan fraktur pada pemenuhan kebutuhan aman dan nyaman: nyeri”
METODE PENELITIAN
Studi kasus ini bertujuan untuk mengeksplorasi masalah asuhan keperawatan pada pasien fraktur dalam pemenuhan kebutuhan rasa aman nyaman : nyeri. Subjek yang digunakan pada studi kasus ini adalah satu pasien dalam keadaan composmentis atau sadar penuh yang sedang dirawat di ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Karanganyar yang terdiagnosa fraktur. Studi kasus ini
dilakukan pada tanggal 27 Januari 2022.
Data dikumpulkan dari hasil wawancara, observasi dan pemeriksaan fisik. Instrumen yang digunakan adalah Numeric Rating Scale (NRS) untuk mengukur skala nyeri pasien. Tindakan yang dilakukan adalah pemberian teknik non farmakologi terapi musik religi selama 15 menit lalu di cek kembali skala nyeri yang dirasakan pasien.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Subjek yang digunakan pada studi kasus ini dipilih 1 pasien dengan kriteria yang telah ditetapkan yaitu satu pasien dalam keadaan composmentis atau sadar penuh yang sedang dirawat di ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD), terdiagnosa fraktur yaitu fraktur tertutup, dengan lokasi fraktur pada ekstremitas, dengan pemenuhan kebutuhan aman dan kenyamanan : nyeri, lalu diberikan teknik distraksi dengan terapi musik religi untuk mengurangi rasa nyeri.
Subjek studi kasus bernama An.B, berusia 12 tahun, beragama Islam, tinggal di Ngemplak, Jumapolo, Karanganyar.
Pasien masuk rumah sakit pada tanggal 27 Januari 2022 pukul 09.37 WIB, dengan keluhan tangan kirinya sulit digerakkan dan terasa nyeri kemeng-kemeng dan nyut- nyutan.
Pada hari Kamis, 27 Januari 2022, pukul 09.37 WIB dilakukan pengkajian untuk memperoleh masalah keperawatan yang dirasakan oleh pasien. Hasil pengkajian Primary Survey : (1) Airway : jalan napas paten, tidak ada sumbatan jalan napas, tidak adaa lendir atau sputum di jalan napas. (2) Breathing : pasien terlihat napas spontan, tidak ada penggunaan otot bantu pernapasan. (3) Circulation : kondisi akral teraba hangat, mukosa bibir lembab, Capillary Refill Time <2 detik, nadi teraba kuat, nadi : 103x/menit, tekanan darah : 100/70 mmHg, suhu 36,7°C, Respiratory Rate 20x/menit, tanda-tanda perdarahan : tidak ditemukan adanya perdarahan. (4) Disability : pasien sadar penuh (Composmentis), pasien terlihat menahan rasa sakit, komunikasi lancar, respon normal, GCS E4M6V5. (5) Exposure : akral teraba hangat, terdapat luka lecet pada siku sebelah kanan dengan diameter kurang lebih 2 cm dan tangan kirinya susah digerakkan
Pengkajian Secondary Survey : (1) Full Set of Vital Sign : tekanan darah 100/70 mmHg, nadi 103x/menit irama reguler dan kekuatan atau isi kuat, respirasi 20x/menit irama reguler, suhu 36,7°C. (2) Five Intervention : pemasangan EKG atau bedside monitor : tidak, pemasangan NGT
: tidak, pemasangan folley chateter : tidak, pengambilan darah untuk cek lab atau pemeriksaan radiologi : ya dengan hasil pemeriksaan : ditemukan fraktur tertutup komplit pada tulang radius sinistra, tampak diskontinuitas pada tulang radius sinistra pars distal dengan fragmen ke posterior, pemasangan pulse oximetry : ya dengan hasil SpO2 : 98%.
Pengkajian History (SAMPLE) : (1) Subjektif : pasien mengatakan nyeri dengan skala 6 pada tangan kirinya dan ada luka lecet yang terasa perih di siku kanan nya. (2) Alergi : keluarga mengatakan bahwa pasien tidak mempunyai alergi terhadap obat ataupun makanan. (3) Medikasi : keluarga mengatakan pasien sedang tidak dalam pengobatan apapun. (4) Riwayat penyakit ; keluarga mengatakan pasien tidak memiliki penyakit apapun sebelumnya. (5) Last Meal : pasien mengatakan sebelum masuk RS pasien sarapan dengan bubur habis 1 porsi dan minum 1 gelas air putih. (6) Event Leading : pasien mengatakan terpleset dikamar mandi, lalu tangan kirinya susah digerakkan setelah itu tangan kirinya terasa nyeri kemeng-kemeng dan nyut-nyutan.
Pasien juga mengatakan bahwa siku kanan nya terasa perih lalu keluarga membawa pasien ke IGD RSUD Karanganyar.
Keluhan utama pada An.B adalah nyeri. P : nyeri ketika digerakkan, Q : nyeri kemeng-kemeng dan nyut-nyutan, R : nyeri pada lengan kiri dan perih pada siku kanan, S : skala nyeri 6, T : nyeri terus menerus.
Dari hasil rontgen ditemukan fraktur tertutup komplit pada tulang radius sinistra, tampak adanya diskontinuitas pada tulang radius sinistra pars distal dengan fragmen ke posterior. Terapi medis yang diberikan selama perawatan adalah cairan IV : Infus RL 500 ml 20 tpm untuk mengembalikan cairan tubuh yang hilang dan menjaga cairan tubuh pasien agar tetap terkendali, Ceftriaxone 500mg/12jam untuk mengobati dan mencegah infeksi bakteri, Norages 500mg/12jam untuk mengatasi rasa nyeri dan rasa sakit derajat sedang hingga berat
Penulis melakukan analisa data dan merumuskan diagnosa keperawatan. Data subjektif pasien mengatakan nyeri. P : nyeri ketika digerakkan , Q : nyeri kemeng- kemeng nyut-nyutan dan perih di siku kanan, R : nyeri dibagian lengan kiri dan perih pada siku kanan, S : skala nyeri 6, T : nyeri terus menerus. Data objektif pasien terlihat meringismenahan sakit, terlihat gelisah dan bersikap protektif, tangan kanan pasien tampak memegangi tangan kirinya, terdapat luka lecet pada siku kanan
pasien dengan diameter kurang lebih 2 cm.
Hasil tanda-tanda vital : tekanan darah 100/70 mmHg, nadi 103x/menit, respirasi 20x/menit, suhu 36,7°C. Hasil foto rontgen ditemukan fraktur tertutup komplit pada tulang radius sinistra, tampak adanya diskontinuitas pada tulang radius sinistra pars distal dengan fragmen ke posterior.
Berdasarkan data diatas penulis merumuskan diagnosa keperawatan (D.0077) yaitu nyeri akut berhubungan dengan agen pencedera fisik (trauma) dibuktikan dengan pasien mengeluh nyeri, tampak meringis, bersikap gelisah dan protektif, tangan kanan pasien tampak memegangi tangan kiri nya.
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x6 jam diharapkan tingkat nyeri menurun dengan kriteria hasil : keluhan nyeri menurun (dengan rentang skala 1-3), meringis menurun, sikap protektif menurun, gelisah menurun.
Intervensi yang akan dilakukan yaitu (I.08238) Manajemen nyeri meliputi observasi : identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas nyeri, terapeutik : berikan posisi nyaman untuk imobilisasi (pemasangan spalk), edukasi : ajarkan teknik non farmakologis untuk mengurangi nyeri
(terapi musik religi), kolaborasi : kolaborasikan dengan dokter untuk pemberian analgetik, jika diperlukan.
Tindakan keperawatan yang dilakukan untuk mengatasi masalah keperawatan berdasarkan rencana tindakan tersebut maka dilakukan tindakan keperawatan. Implementasi keperawatan yang dilakukan pada hari Kamis tanggal 27 Januari 2022 pukul 10.00 WIB : mengidentifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas nyeri.
Subjektif : pasien mengatakan nyeri, P : nyeri ketika digerakkan, Q : nyeri kemeng- kemeng nyut-nyutan dan perih di siku kanan, R : nyeri dibagian lengan kiri dan perih pada siku kanan, S : skala nyeri 6, T : nyeri terus menerus. Objektif : pasien terlihat meringis menahan sakit, terlihat gelisah dan bersikap protektif, tangan kanan pasien tampak memegangi tangan kirinya, terdapat luka lecet pada siku kanan pasien dengan diameter kurang lebih 2 cm.
Hasil tanda-tanda vital : tekanan darah 100/70 mmHg, nadi 103x/menit, respirasi 20x/menit, suhu 36,7°C.
Pada pukul 10.20 WIB diberikan teknik non farmakologi terapi musik religi selama 15 menit. Subjektif : pasien bersedia untuk diberikan terapi musik
religi. Objektif : pasien terlihat rileks dan nyaman. Tindakan pukul 10.35 WIB : mengidentifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas nyeri.
Subjektif : pasien mengatakan setelah diberikan terapi musik religi selama 15 menit nyeri yang dirasakan turun dari skala 6 menjadi skala 5 dan merasa lebih rileks.
Objektif : pasien tampak lebih rileks.
Setelah dilakukan tindakan keperawatan diperoleh hasil atau catatan perkembangan keperawatan pada pukul 11.45 WIB : subjektif : pasien mengatakan nyeri berkurang, P : nyeri ketika digerakkan, Q : nyeri kemeng-kemeng nyut-nyutan dan perih di siku kanan, R : nyeri dibagian lengan kiri dan perih pada siku kanan, S : skala nyeri 5, T : nyeri terus menerus, objektif : pasien tampak rileks tidak bersikap protektif dan gelisah, meringis sedikit berkurang, tanda-tanda vital : tekanan darah 110/70 mmHg, nadi 113x/menit, respirasi : 22x/menit, suhu 36,5°C. asessment : masalah belum teratasi, planning : lanjutkan intervensi, monitor nyeri, pemberian teknik non farmakologis (terapi musik religi), kolaborasikan dengan dokter untuk pemberian analgetik.
Diagram 1 Evaluasi setelah diberikan tindakan terapi musik religi.
KESIMPULAN DAN SARAN a. Kesimpulan
Pada bab ini akan menyimpulkan proses keperawatan dimulai dari pengkajian, penentuan diagnosis, intervensi, implementasi, dan evaluasi tentang asuhan keperawatan pada pasien fraktur dalam pemenuhan kebutuhan aman dan nyaman : nyeri di Instalasi Gawat Darurat (IGD)
RSUD Karanganyar dengan
mengaplikasikan hasil studi kasus pemberian terapi musik religi. Hasil evaluasi pada An.B yaitu subjektif : pasien mengatakan nyeri berkurang, P : nyeri
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Pre Terapi Musik Religi
Post Terapi Musik Religi
ketika digerakkan, Q : nyeri kemeng- kemeng nyut-nyutan dan perih di siku kanan, R : nyeri dibagian lengan kiri dan perih pada siku kanan, S : skala nyeri 5, T : nyeri terus menerus, objektif : pasien tampak rileks tidak bersikap protektif dan gelisah, meringis sedikit berkurang, tanda- tanda vital : tekanan darah 110/70 mmHg, nadi 113x/menit, respirasi : 22x/menit, suhu 36,5°C. asessment : masalah belum teratasi, planning : lanjutkan intervensi, monitor nyeri, pemberian teknik non farmakologis (terapi musik religi), kolaborasikan dengan dokter untuk pemberian analgetik.
Mekanisme pemberian terapi musik religi dapat menurunkan nyeri pasien karena suara musik diterima oleh saraf pendengaran, lalu diubah menjadi vibrasi yang kemudian disalurkan oleh sistem limbik. Di dalam sistem limbik (amiglanda dan hipotalamus) memberikan stimulus ke sistem saraf otonom yang berkaitan dengan sistem endokrin yang menurunkan hormon-hormon yang berhubungan dengan stress atau kecemasan dan rasa sakit yang dialami oleh tubuh, kemudian stimulus mengaktifkan hormon endofrin untuk membantu menurunkan rasa sakit, meningkatkan rasa rileks dalam tubuh seseorang (Gusti, 2014).
b. Saran
Setelah penulis melakukan asuhan keperawatan pada pasien dengan diagnosa medis fraktur, penulis memberikan masukan yang positif khususnya di bidang kesehatan antara lain :
1. Bagi Institusi Pelayanan Kesehatan Diharapkan rumah sakit khususnya RSUD Karanganyar dapat memberikan pelayanan kesehatan dan mempertahankan hubungan kerja sama baik antar tim kesehatan maupun dengan pasien serta keluarga pasien, dapat melengkapi saran dan prasarana yang sudah ada secara optimal dalam pemenuhan asuhan keperawatan dengan nyeri akut pada pasien fraktur sehingga dapat meningkatkan kesembuhan pasien khusus nya pasien fraktur.
2. Bagi Institusi Pendidikan
Diharapkan dapat meningkatkan mutu pendidikan yang berkualitas dengan mengupayakan aplikasi riset dalam setiap tindakan yang dilakukan sehingga dapat menghasilkan perawat yang professional, terampil, inovatif dan bermutu dalam memberikan asuhan keperawatan yang komprehensif berdasarkan ilmu dan kode etik keperawatan dan mengetahui manfaat dan pentingnya terapi musik dalam mengatasi nyeri pasien fraktur.
3. Bagi Tenaga Kesehatan Khususnya Perawat
Diharapkan selalu berkoordinasi dengan tim kesehatan lainnya dalam memberikan tindakan keperawatan non farmakologis yaitu terapi musik religi yang bisa diaplikasikan sebagai tindakan alternatif untuk mengurangi nyeri yang dirasakan pasien fraktur.
4. Bagi Penulis
Diharapkan dapat meningkatkan kualitas kesehatan khususnya pada pasien fraktur baik individu, keluarga dan masyarakat serta dapat menjadi manfaat bagi penulis dalam pemberian terapi musik religi untuk mengurangi intensitas nyeri dan dapat memberi asuhan keperawatan pada pasien fraktur secara optimal.
5. Bagi Pembaca Diharapkan setelah membaca karya tulis ini dapat menjadi sumber referensi dalam memberikan pilihan penanganan pasien fraktur dengan pemberian terapi musik religi sesuai dengan standar operasional prosedur yang sudah ada dalam menurunkan intensitas nyeri.
DAFTAR PUSTAKA
Andarmono, Sulistyo. (2013) Konsep Dan Proses Keperawatan Nyeri.
Yogyakarta: Ar-Ruzz Medika
Asikin, dkk. (2016). Keperawatan Medikal dan Sistem Muskuloskeletal.
Jakarta : Erlangga Medical Series.
Black, J dan Hawks. (2014). Keperawatan Medikal Bedah: Manajemen Klinis Untuk Hasil Yang Diharapkan. Jakarta : Salemba Medika.
Dai et.al. (2020). The Effect of Music Therapy on Pain, Anxiety and Depression in Patients After Coronary Artery Bypass Grafting. Journal of Cardiothoracic Surgery.
Dinarti & Muryanti, Y (2017). Bahan Ajar Keperawatan : Dokumentasi Keperawatan.
Https://Bppsdmk.Kemenkes.
Go.Id/Pusdikdmk/Wp- Content/Uploads/2017/11/Pra ktika-Dokumentasi-
Keperawatan-Dafis.Pdf Kasiati, Ni Wayan Rosmalawati. (2016).
Kebutuhan Dasar Manusia 1.
Jakarta : Badan
Pengembangan dan
Pemberdayaan Sumber Daya Manusia
Keliat, B.A. dkk (2015). Keperawatan Kesehatan Jiwa Komunitas.
Jakarta: EGC
Krisanty, Paula, et.al. (2016). Asuhan Keperawatan Gawat Darurat.
Jakarta : Trans Medika Lemone, Priscilla, D. (2017). Buku Ajar
Keperawatan Medical Bedah : Gaangguan Muskuloskeletal.
Jakarta : EGC.
Muhsinah, S., (2020). Efektifitas Terapi Musik Religi Terhadap Nyeri Pada Pasien Fraktur. Health Information Jurnal Penelitian.
Vol.12 No.2 : 201-213 Noor, Zairin. (2017). Buku Ajar Gangguan
Muskuloskeletal. Jakarta : Salemba Medika.
Nursalam, N. (2013) Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan.
Jakarta : Salemba Medika.
Nursalam, N. (2015) Manajemen Keperawatan. Jakarta : Salemba Medika
Platini, H (2020). Karakteristik Pasien Fraktur Ekstremitas Bawah.
Aisyiyah. Vol.7 No.1 : 49-53
Potter & Perry, (2012). Buku Ajar Fundamental Keperawatan : Konsep, Proses dan Praktik.
Jakarta : EGC
PPNI, (2016). Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia:
Definisi dan Indikator Diagnostik, Edisi 1. Jakarta : DPP PPNI
PPNI, (2016). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia:
Definisi dan Tindakan Keperawatan, Edisi 1. Jakarta : DPP PPNI
PPNI, (2016). Standar Luaran Keperawatan Indonesia:
Definisi dan Kriteria Hasil Keperawatan, Edisi 1. Jakarta : DPP PPNI
Suriya, M., & Zuriati. (2019). Buku Ajar Asuhan Keperawatan Medikal Bedah Gangguan Pada Sistem Muskuloskeletal Aplikasi Nanda NIC & NOC.
Padang : Pustaka Galeri Mandiri.