• Tidak ada hasil yang ditemukan

Program Studi Keperawatan Program Diploma Tiga

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Program Studi Keperawatan Program Diploma Tiga"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

Program Studi Keperawatan Program Diploma Tiga Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Kusuma Husada Surakarta

2021

ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN CEDERA KEPALA RINGAN DALAM PEMENUHAN KEBUTUHAN AMAN NYAMAN NYERI

Indri Ayu Feronika 1, Anissa Cindy Nurul Afni 2

1Mahasiswa Prodi D3 Keperawatan Universitas Kusuma Husada Surakarta [email protected]

2Dosen Prodi D3 Keperawatan Universitas Kusuma Husada Surakarta [email protected]

ABSTRAK

Cidera kepala ringan adalah cidera karena tekanan benda tumpul yang menyebabkan hilangnya fungsi neurologi sementara atau menurunnya kesadaran sementara di nilai dari nilai GCS yaitu 13-15. Prevalensi Cedera Kepala di dunia sekitar 1,7 juta orang mengeluhkan nyeri. Nyeri termasuk kebutuhan dasar Maslow yang kedua yaitu kebutuhan rasa aman dan nyaman. Pasien dengan keluhan nyeri selain tindakan farmakologi juga dilakukan tindakan non farmakologi yaitu tekhnik guided imagery. Tujuan studi kasus ini untuk mengetahui gambaran asuhan keperawatan pada pasien cedera kepala ringan dalam pemenuhan kebutuhan rasa aman nyaman nyeri.

Jenis penelitian ini adalah deskriptif dengan menggunakan metode pendekatan studi kasus. Subjek studi kasus ini yaitu satu orang pasien dengan keluhan nyeri di ruang IGD. Hasil studi menunjukkan bahwa pengelolaan asuhan keperawatan pada pasien cedera kapala ringan dalam pemenuhan kebutuhan aman nyaman nyeri dengan masalah keperawatan nyeri akut dilakukan tindakan guided imagery selama 1 x 8 jam didapatkan hasil skala nyeri pada pasien menurun dari skala nyeri 6 menjadi skala nyeri 4. Rekomendasi tindakan tekhnik guided imagery efektif dilakukan pada pasien cedera kepala ringan dengan keluhan nyeri.

Kata kunci : Cedera Kepala, Cedera Kepala Ringan, Kebutuhan Dasar Manusia, Nyeri, Guided Imagery Relaxation.

(2)

ABSTRAK

Cidera kepala ringan adalah cidera karena tekanan benda tumpul yang menyebabkan hilangnya fungsi neurologi sementara atau menurunnya kesadaran sementara di nilai dari nilai GCS yaitu 13-15. Prevalensi Cedera Kepala di dunia sekitar 1,7 juta orang mengeluhkan nyeri. Nyeri termasuk kebutuhan dasar Maslow yang kedua yaitu kebutuhan rasa aman dan nyaman. Pasien dengan keluhan nyeri selain tindakan farmakologi juga dilakukan tindakan non farmakologi yaitu tekhnik guided imagery. Tujuan studi kasus ini untuk mengetahui gambaran asuhan keperawatan pada pasien cedera kepala ringan dalam pemenuhan kebutuhan rasa aman nyaman nyeri.

Jenis penelitian ini adalah deskriptif dengan menggunakan metode pendekatan studi kasus. Subjek studi kasus ini yaitu satu orang pasien dengan keluhan nyeri di ruang IGD. Hasil studi menunjukkan bahwa pengelolaan asuhan keperawatan pada pasien cedera kapala ringan dalam pemenuhan kebutuhan aman nyaman nyeri dengan masalah keperawatan nyeri akut dilakukan tindakan guided imagery selama 1 x 8 jam didapatkan hasil skala nyeri pada pasien menurun dari skala nyeri 6 menjadi skala nyeri 4. Rekomendasi tindakan tekhnik guided imagery efektif dilakukan pada pasien cedera kepala ringan dengan keluhan nyeri.

Kata kunci : Cedera Kepala, Cedera Kepala Ringan, Kebutuhan Dasar Manusia, Nyeri, Guided Imagery Relaxation.

PENDAHULUAN

Cedera kepala adalah trauma mekanik pada kepala yang terjadi baik secara langsung atau tidak langsung yang kemudian dapat berakibat kepada gangguan fungsi neurologis, fungsi fisik, kognitif, psikososial, bersifat temporer atau permanen (Awaloei dkk, 2016).

Cedera kepala menjadi salah satu dari banyak penyebab kematian.

Diperkirakan 1,7 juta orang di

Amerika serikat mengalami cedera kepala setiap tahunnya. Lebih dari 52.000 orang meninggal dunia, 275.000 dirawat di rumah sakit, dan hampir 80% dirawat dan dirujuk di Instalasi Gawat Darurat. Gambaran cedera kepala yang menyebabkan kematian yaitu fraktur basis krani, cedera otak difus, hematoma serebral, dan hematoma subdural (Awaloei dkk, 2016).

(3)

Menurut Riskesdas 2018, prevalensi kejadian cedera kepala di Indonesia berada pada angka 11,9%.

Cedera pada bagian kepala menempati posisi ketiga setelah cedera pada anggota gerak bawah dan bagian anggota gerak atas dengan prevalensi masing-masing 67,9% dan 32,7%.

Pada Provinsi Jawa Tengah proporsi yang dapat mengakibatkan cedera sejumlah 132.565 (9,3 %). pada sejumlah 12.213 cedera yang sering dialami yaitu sekitar (10,6) pada bagian kepala (Riskesdas, 2018).

Cidera kepala menyebabkan hilangnya fungsi neurologi sementara atau menurunnya kesadaran sementara, mengeluh pusing, nyeri kepala tanpa adanya kerusakan lainnya (Triyanto, 2013).

Penanganan pada pasien cedera kepala yaitu dengan dilakukannya pemeriksaan umum, pemeriksaan neurologis, pemberian terapi pengobatan. Selain tindakan farmakologi juga dilakukan non farmakologi untuk mengatasi nyeri yaitu teknik relaksasi. tindakan relaksasi mencakup latihan pernafasan diafragma, teknik relaksasi progresif,

guide imagery dan meditasi. Tindakan keperawatan yang dapat diberikan dalam penanganan nyeri yaitu dengan melakukan guide imagery relaxation (Purnama, 2017).

Teknik relaksasi imajinasi terbimbing (guide imagery relaxation) merupakan salah satu teknik merelaksasi menggunakan semua panca indera melalui audio yang diberikan. Yang membantu memenuhi kebutuhan tidur yang terganggu karena faktor nyeri, lingkungan, kecemasan, dan tindakan keperawatan (Deswita dkk, 2014).

Penelitian yang dilakukan Handono dkk (2018) yang berjudul Efektivitas Manajemen Nyeri Dengan Guided Imagery Relaxation Pada Pasien Cedera Kepala Di RSUD DR.Soediran Mangun Sumarso Wonogiri, menyebutkan bahwa tujuan dari terapi ini adalah untuk mengetahui efektivitas manajemen nyeri dengan guided imagery relaxation pada pasien cedera kepala dengan menggunakan audio selama 15-30 menit dilakukan 1 kali selama 2 hari dengan hasil adanya penurunan pada pasien cedera kepala ringan.

(4)

Berdasarkan latar belakang tersebut maka penulis tertarik untuk menyusun karya tulis ilmiah dengan judul “Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Cedera Kepala Ringan Dalam Pemenuhan Kebutuhan Aman Nyaman Nyeri”.

METODE

Jenis penelitian ini adalah diskriptif dengan menggunakan metode pendekatan studi kasus. Studi kasus merupakan rencana penelitian yang disusun sedemikian rupa sehingga peneliti dapat memperoleh jawaban terhadap pertanyaan peneliti (Setiadi, 2013). Studi kasus ini dilakukan untuk mengetahui gambaran asuhan keperawatan pada pasien cedera kepala ringan dalam pemenuhan kebutuhan rasa aman dan nyaman.

Subjek yang digunakan adalah satu orang pasien cedera kepala ringan. Tempat pelaksanaan studi kasus di ruang IGD Klinik Rifda Medica Gondang Sragen selama 2 minggu dimulai pada tanggal 15 sampai 27 Februari 2021.

HASIL DAN PEMBAHASAN Setelah penulis melakukan pengkajian pada Tn.C diperoleh data subjektif klien mengatakan nyeri, P:

nyeri akibat luka robek akibat kecelakaan; Q: nyeri terasa seperti tersayat; R: nyeri terasa pada area kepala; S: skala nyeri 6; T: nyeri terasa hilang timbul, klien mengatakan pusing berputar. Data objektif didapatkan hasil tampak gelisah, tampak meringis, menahan nyeri, terdapat luka robek pada daerah parietal dengan ukuran 7 x 1 x 0,5 cm, TD: 130/80 mmHg, Nadi: 85 x/menit, RR: 20 x/menit, SPO2: 94%, suhu: 36

oC, MAP: 93 mmHg. Pada pemeriksaan Exposure terdapat luka serta perdarahan pada area kulit kepala bagian atas atau parietal, terdapat luka lecet pada area siku kanan dan luka lecet pada kaki kiri.

Data dari pengkajian, penulis merumuskan diagnosis pada Tn.C dengan cedera kepala ringan yaitu nyeri akut berhubungan dengan agen pencedera fisik (luka robek pada kepala) (D.0077). Diagnosa tersebut sesuai dengan batasan karakteristik pada yaitu pasien mengeluh nyeri,

(5)

pasien tampak meringis, dan gelisah (Tim Pokja SDKI PPNI, 2017).

Intervensi yang dilakukan pada Tn.C dengan diagnosa nyeri akut berhubungan dengan agen cedera fisik (luka robek pada kepala) yaitu Perencanaan pertama identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, dan intensitas nyeri; serta identifikasi respon nyeri non verbal, dilakukan untuk mengetahui nyeri yang dirasakan pasien dan mengetahui keadaan umum pasien selama perawatan. Perencanaan kedua berikan tekhnik non farmakologi untuk mengurangi nyeri (tekhnik guided imagery dilakukan 1 x selama

±15 menit) untuk mengurangi nyeri pada pasien dilakukan dengan durasi latihan ±15 menit. Perencanaan ketiga jelaskan strategi meredakan nyeri, dengan cara menjelaskan bagaimana mengurangi nyeri dengan menggunakan tekhnik guided imagery relaxation. Perencanaan keempat kolaborasikan pemberian analgetik untuk mengurangi nyeri (ketorolac 1 ampul/ 8 jam, citicolin 500 mg/8 jam, ondansetron 1 ampul/8 jam) serta

lakukan heating dalam dan luar untuk menutup luka yang robek.

Tindakan keperawatan atau implementasi utama yang digunakan untuk mengatasi nyeri pada pasien cedera kepala ringan adalah dengan tekhnik guided imagery relaxation.

Terapi tersebut dilakukan dengan mendengarkan audio selama ±15 menit.

Secara teoritis tekhnik guided imagery relaxation bertujuan untuk menurunkan skala nyeri dengan menggunakan kekuatan pikiran.

Relaksasi dengan teknik guide imagery akan membuat tubuh lebih rileks dan nyaman. Perasaan rileks akan diteruskan ke hipotalamus untuk menghasilkan corticotropin Releasing Factor (CRF), CRF merangsang kelenjar pituitary untuk meningkatkan produksi Proopioidmelanocortin (POMC) sehingga produksi enkhepalin oleh medulla adrenal meningkat. Kelenjar pituitary juga menghasilkan endoprhin sebagai neurotransmitter yang mempengaruhi suasana hati menjadi rileks (Endrayni, 2010).

(6)

Setelah dilakukan tindakan keperawatan pada diagnosa nyeri akut berhubungan dengan agen pencedera fisik (luka robek pada kepala) pada Tn.C didapatkan data subjektif klien mengatakan nyeri kepala dan pusing berputar berkurang, P: nyeri akibat luka robek, Q: nyeri terasa seperti tersayat berkurang, R: nyeri pada area kepala berkurang, S: skala nyeri 4, T:

nyeri hilang timbul. objektif: gelisah berkurang, meringis berkurang, luka robek pada kepala bagian parietal dengan ukuran 7 x 1 x 0,5 cm, heating dalam 4 dan heating luar 11, TD:

120/80 mmHg, Nadi: 85 x/menit, RR:

20 x/menit. Suhu: 36 OC, MAP: 93 mmHg, SPO2: 97%. assesment:

masalah nyeri akut teratasi. planning:

lanjutkan intervensi. Berikan terapi non farmakologi untuk mengurangi rasa nyeri (guided imagery).

Berdasarkan hasil studi kasus, diketahui bahwa sesudah dilakukan intervensi keperawatan dengan pemberian tekhnik guided imagery relaxation, data skala nyeri seperti tabel 4.1 dan diagram 4.2.

4.1 Tabel Evaluasi Skala Nyeri Pasien Sesudah dilakukan Intervensi Keperawatan dengan Pemberian tekhnik guided imagery relaxation.

No. Jam Skala Nyeri 1. 21:55 6

2. 22:10 4

4.2 Selanjutnya untuk memperjelas kemampuan subjek setelah dilakukan intervensi keperawatan digambarkan pada diagram dibawah ini.

Berdasarkan tabel 4.1 dan diagram 4.2 diketahui bahwa setelah dilakukan tindakan intervensi keperawatan dengan pemberian tekhnik guided imagery relaxation pada hari Selasa, 16 Februari 2020 pada jam 22:10 WIB menunjukkan penurunan terhadap skala nyeri dari skala nyeri 6 menjadi skala nyeri 4.

0 1 2 3 4 5 6 7

Skala Nyeri

21.55 22.10

(7)

KESIMPULAN

Pengelolaan asuhan keperawatan pada pasien cedera kapala ringan dalam pemenuhan kebutuhan rasa aman dan nyaman menggunakan audio dengan tekhnik guided imagery relaxation selama ±15 menit, didapatkan hasil adanya penurunan skala nyeri pada pasien cedera kepala ringan. Dari skala nyeri 6 menjadi skala nyeri 4 (meningkat menjadi menurun) Maka dapat disimpulkan bahwa tekhnik guided imagery relaxation efektif dilakukan pada pasien cedera kepala ringan dengan keluhan nyeri.

SARAN

Setelah penulis melakukan asuhan keperawatan pada pasien dengan diagnosa cedera kepala ringan, penulis memberikan usulan dan masukan yang positif khususnya di bidang kesehatan antara lain :

1. Bagi Rumah Sakit tindakan ini dapat digunakan sebagai salah satu contoh pembelajaran dengan tindakan tekhnik guided imagery relaxation yang diterapkan pada pasien dengan kondisi cidera kepala ringan.

2. Bagi Tenaga Kesehatan Khususnya Perawat dalam memberikan

tindakan keperawatan

nonfarmakologis dapat memberian tindakan guided imagery relaxation sebagai tindakan alternatif untuk menurunkan nyeri pada cedera kepala ringan.

3. Bagi Institusi Pendidikan Menambah pengetahuan tentang ilmu keperawatan terutama dalam penanganan pada kasus pasien yang mengalami cidera kepala ringan.

4. Bagi Penulis diharapkan penulis dapat menerapkan kembali pemberian guided imagery relaxation ini pada pasien cedera kepala ringan dengan baik dan benar yang sesuai dengan standar operasional prosedur serta memperbaruhi kembali ilmu dan pengetahuan.

DAFTAR PUSTAKA

Awaloei, Mallo, Dkk. 2016.

Gambaran Cedera Kepala Yang Menyebabkan Kematian Di Bagian Forensik dan Medikolegal Rsup Prof.Dr..D Kondou. Jurnal E-Clinic (Ecl), Vol.4(2).

(8)

Deswita Dkk, .2014. Pengaruh Teknik Relaksasi Imajinasi Terbimbing (Guided Imagery ) Terhadap Pemenuhan Kebutuhan Tidur Anak Usia Sekolah Di Ruang Rawat Inap Anak Rsud Prof.Dr.Ma. Hanafiah Sm Batusangkar. Ners Jurnal Keperawatan.

Endrayni, Sehono. 2010. Pengaruh Tekhnik Relaksasi Guide Imagery Terhadap Penurunan Nyeri Pada Pasien Pasca Operasi Fraktur Di Rsud Dr. Moewardi Surakarta.

Handono, N.P., dkk. 2018. Efektivitas Manajemen Nyeri Dengan Guided Imagery Relaxation Pada Pasien Cedera Kepala Di Rsud Dr.

Soediran Mangun Sumarso Wonogiri. Jurnal Keperawatan GSH Vol 7 No (1), ISSN 2088- 2734.

Purnama, I. 2017. Diagnosis Dan Penanganan Cedera Kepala Di Daerah Rural. PP. 93-103.

Potter, Perry. 2011. Fundamental of nursing: Consep, Proses and Practice. Edisi 7, Vol.3. Jakarta:

EGC.

PPNI. 2017. Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia, Edisi 1.

Jakarta: DPP PPNI.

PPNI. 2019. Standar Luaran Keperawatan Indonesia: Definisi dan Kriteria Hasil Keperawatan, Edisi 1. Jakarta: DPP PPNI.

PPNI. 2018. Standar Intervensi Keperawatan Indonesia: Definisi dan Tindakan Keperawatan, Edisi 1. Jakarta: DPP PPNI.

Riset Kesehatan Dasar. 2018. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian RI Tahun 2018.

Setiadi. 2013. Konsep dan Penulisan Dokumentasi Asuhan Keperawatan Teori dan Praktek, Edisi 1.

Yogyakarta: Graha Ilmu.

Triyanto, Agus. 2013. Asuhan Keperawatan Pemenuhan Gangguan Rasa Aman dan Nyaman Nyeri Pada Tn.S: Cidera Kepala Ringan Di Ruang Inayah RSU PKU Muhammadiyah Gombong. Karya Tulis Ilmiah. STIKES Muhammadiyah Gombong.

Referensi

Dokumen terkait

Kesimpulan Pengelolaan asuhan keperawatan pasien abdominal pain indikasi hepatitis B dalam pemenuhan kebutuhan rasa aman dan nyaman : nyeri dengan masalah keperawatan nyeri akut yang

Hasil studi menunjukkan bahwa pengelolaan asuhan keperawatan pada pasien ibu hamil dengan hipertensi dalam kehamilan dalam pemenuhan kebutuhan rasa aman nyaman : nyeri dengan masalah

Hasil studi kasus menunjukkan bahwa pengelolaan asuhan keperawatan pada pasien post operasi hernia dalam pemenuhan kebutuhan aman dan nyaman yang dilakukan tindakan keperawatan terapi

KESIMPULAN DAN SARAN Pengelolaan asuhan keperawatan pada pasien cedera kepala ringan dalam pemenuhan kebutuhan rasa aman dan nyaman dengan masalah keperawatan nyeri akut dilakukan

Hasil studi menunjukkan bahwa pengelolaan asuhan keperawatan pada pasien fraktur tertutup ekstermitas bawah dalam pemenuhan kebutuhan aman nyaman : nyeri dengan masalah keperawatan

Hasil studi kasus menunjukkan bahwa pengelolaan asuhan keperawatan pada pasien diare dalam pemenuhan kebutuhan aman nyaman dengan masalah keperawatan ansietas yang dilakukan tindakan

Hasil studi menunjukkan bahwa pengelolaan asuhan keperawatan pada pasien Cedera Kepala Ringan dalam pemenuhan kebutuhan oksigenasi dengan masalah keperawatan Pola Napas Tidak Efektif

KESIMPULAN DAN SARAN Setelah dilakukan pengelolaan asuhan keperawatan pada pasien post operasi fraktur femur dalam pemenuhan kebutuhan aman dan nyaman: nyeri dengan pemberian tindakan