• Tidak ada hasil yang ditemukan

Program Studi Keperawatan Program Diploma Tiga

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "Program Studi Keperawatan Program Diploma Tiga"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

Program Studi Keperawatan Program Diploma Tiga Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Kusuma Husada Surakarta 2021

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN STROKE NON HEMORAGIK DALAM PEMENUHAN KEBUTUHAN AKTIVITAS DAN LATIHAN

1Anisa Dian Anggreini,2Ns.Noor Fitriyani S.Kep., M.Kep

1Mahasiswa Prodi Diploma Tiga Keperawatan Universitas Kusuma Husada Surakarta

2Dosen Prodi Diploma Tiga Keperawatan Universitas Kusuma Husada Surakrta Email Penulis :[email protected]

ABSTRAK

Stroke Non Hemoragik (SNH) merupakan stroke yang terjadi akibat adanya sumbatan pada pembuluh darah di otak. Difungsi pada Nervus XI (assesoris) menyebabkan penurunan fungsi motorik dan muskuloskeletal, salah satu tanda dan gejala yang ditimbulkan adalah kelemahan otot pada anggota gerak tubuh. Tindakan yang tepat untuk melatih kekuatan otot salah satunya dengan latihan ROM aktif genggam bola. Tujuan dari studi kasus ini untuk mengetahui bagaimna gambaran Asuhan Keperawatan Pada Pasien Stroke Non Hemoragik Dalam Pemenuhan Kebutuhan Aktivitas dan Latihan.

Penelitian dengan pendekatan studi kasus. Studi kasus ini menggunakan metode wawancara, observasi dan pemeriksaan fisik pada 1 pasien stroke non hemoragik di ruang flamboyan 3 RSUD Kota Salatiga. Pengambilan kasus dilakukan pada tanggal 20 sampai 25 Februari 2021. Instrumen dalam mengevaluasi hasil tindakan ROM aktif genggam bola pada studi kasus ini menggunakan lembar obervasi sebelum dan sesudah dilakukannya tindakan. Hasil yang diperoleh dari studi kasus ini menunjukkan bahwa setelah dilakukan tindakan latihan ROM aktif genggam bola selama lima hari, didapatkan peningkatan skala kekuatan otot. Pada pengkajian awal skala kekuatan otot tangan kanan pasien yaitu 3 dan setelah diberikan latihan selama lima hari menjadi skala 4. Rekomendasi tindakan latihan ROM aktif genggam bola efektif dilakukan pada pasien stroke non hemoragik yang mengalami kelemahan ektremitas.

Kata kunci : ROM aktif genggam bola, Kekuatan otot, Stroke Non Hemoragik (SNH) .

(2)

Nursing Study Program Diploma Three Faculty of Health Sciences University of Kusuma Husada Surakarta 2021

NURSING IN NON-HEMORRIC STROKE PATIENTS IN THE FULFILLMENT OF ACTIVITY AND EXERCISE NEEDS

1Anisa Dian Anggreini,2Ns.Noor Fitriyani S.Kep., M.Kep

1Student of Nursing Study Program Diploma Three in University of Kusuma Husada Surakarta

2Lecturer of Nursing Study Program Three Diploma in University of Kusuma Husada Surakarta

Email Penulis :[email protected]

ABSTRACT

Non-Hemorrhagic Stroke (SNH) is a stroke that occurs due to the blockage of blood vessels in the brain. Difunction in Nervus XI (accessories) causes a decrease in motor and musculoskeletal function, one of the signs and symptoms caused is muscle weakness in the limbs. The correct action to train muscle strength is one of them with active ROM exercises holding the ball. The purpose of this case study is to find out how the description of Nursing for Non-Hemorrhagic Stroke Patients in Fulfilling Activity and Exercise Needs.

The research was done with a case study approach. This case study used interview, observation and physical examination methods on 1 non-hemorrhagic stroke patient in Flamboyant Room 3 of Salatiga City Hospital. Cases were taken from 20 to 25 February 2021. The instrument in evaluating the results of the ball hand-held active ROM in this case the study used observation sheets before and after the action. The results obtained from this case study showed that after five days of active ROM exercises, hand-held balls were performed, an increase in the muscle strength scale was obtained. In the initial assessment, the scale of the patient's right hand muscle strength was 3 and after being given exercise for five days it became a scale of 4. Recommendations for active hand-held ROM exercises were effective for non-hemorrhagic stroke patients who experienced extremity weakness.

Key words: active ROM, handheld ball, muscle strength, non-hemorrhagic stroke (SNH).

(3)

PENDAHULUAN

Stroke merupakan kehilangan fungsi otak secara tiba-tiba, yang disebabkan oleh gangguan aliran darah ke otak (stroke iskemik) dan pecahnya pembulu darah ke otak atau stroke hemoragik (Nurtanti &

Ningrum, 2018). Stroke merupakan penyakit yang disebabkan karena adanya penyempitan dipembuluh darah di otak sehingga aliran darah dan oksigen ke otak terhambat bahkan terhenti (Faridah et al., 2018). Stroke adalah penyebab kematian nomor tiga dan penyebab kecacatan tertinggi di dunia (Mustikarani &

Mustofa, 2020).

World Stroke Organization (WSO, 2019), melaporkan bahwa ada lebih dari 13,7 juta orang yang terkena stroke setiap tahunnya. Di Indonesia prevalensi stroke pada tahun 2013 mencapai 12,1 per 1000, di tahun 2018 dimana pravalensi stroke mengalami penurunan menjadi 10,9 per 1000 penduduk. Di Provinsi Jawa Tengah prevalensi stroke pada tahun 2018 ada 96.794 penduduk (Kementrian Kesehatan RI, 2018).

Masih tingginya pravalensi stroke di Indonesia dikarenakan kurangnya pengetahuan masyarakat dalam pengertian mengenai tanda dan gejala stroke.Tanda dan gejala stroke antara lain sakit kepala tiba-tiba, pusing, bingung,

berbicara cedal atau pelo, gangguan fungsi otak dan bisa juga mengakibatkan kematian. Stroke sebagian besar disebabkan oleh kombinasi beberapa faktor resiko seperti hipertensi, merokok, penyakit jantung, diabetes melitus, obesitas, usia, riwayat keluarga yang menderita stroke dan kekurangan aktivitas fisik (Azizah & Wahyuningsih, 2020).

Kematian jaringan otak menyebabkan menurunnya bahkan hilangnya fungsi yang dikendalikan oleh jaringan tersebut.

Disfungsi pada Nervus XI (assesoris) menyebabkan penurunan fungsi motorik dan muskuloskeletal, salah satu tanda dan gejala yang ditimbulkan adalah kelemahan otot pada bagian anggota gerak tubuh (Gusti,2015). Kelemahan otot sangat mengganggu seseorang untuk beraktivitas sehingga kekuatan otot sangat penting bagi penderita stroke.

Dampak dari serangan stroke menyebabkan penurunan fungsi ektremitas, dimana fungsi ektremitas merupakan bagian penting dalam melakukan aktivitas sehari-hari (Yuni, 2020).

Aktivitas merupakan kemampuan seseorang dalam mengetahui kemandirian dan keterbatasan dalam

(4)

memenuhi kebutuhan sehari-hari (Azizah

& Wahyuningsih, 2020). Latihan merupakan suatu gerakan tubuh secara aktif yang dibutuhkan untuk menjaga kinerja otot dan mempertahankan postur tubuh (Azizah & Wahyuningsih, 2020).

Stroke merupakan penyakit yang menimbulkan gangguan aktivitas dan latihan maka rehabilitasi yang biasa diberikan pada pasien stroke salah satunya adalah Latihan ROM (range of motion). Latihan ROM terdapat banyak fariasi, salah satunya adalah latihan ROM dengan menggenggam bola. Latihan gerakan ROM dengan mengenggam bola bertujuan untuk merangsang serat-serat otot dengan gejala atau tanda-tanda sesuai dengan daerah yang terganggu (Irfan, 2010). Latihan ROM menggenggam bola dilakukan pada tangan yang mengalami kelemahan dengan menggunakan spherical grip atau memberikan benda berbentuk bulat seperti bola karet dan bola tenis (Budi et al., 2019).

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Umi (2018),yang dilakuakan selama 8 hari didapatkan hasil bahwa kelompok kontrol dengan pemberian ROM exercise bola lebih efektif meningkatkan kekuatan otot atas pasien, dimana sebelum dilakukan latihan diperoleh skala kekutan otot atas pasien skala 3 dan setelah

diberikan latihan didapatkan skala 5.

Penelitian selanjunya juga dilakukan oleh Nur (2020) yang dilakukan selama6 hari dimana didapatakan hasil bahwa penerapan genggam bola mendapatkan perubahan dimana dihari pertama sebelum dilakukan tindakan latihan didapatkan nilai kekuatan otot 1 dan setelah dilakukan tindakan didapatkan nilai kekuatan otot yaitu 3 sehingga dapat diidentifikasi adanya peningkatan kekuatan otot.

Berdasarkan latar belakang diatas penulis tertarik melakukan tindakan latihan ROM aktif genggam bola yang bertujuan untuk mengetahui bagaimanakan gambaran asuhan keperawatan pada pasien stroke non hemoragik dalam pemenuhan kebutuhan aktivitas dan latihan.

METODELOGI PENELITIAN

Penelitian dengan pendekatan studi kasus. Studi kasus ini menggunakan metode wawancara, observasi dan pemeriksaan fisik pada 1 pasien stroke non hemoragik di ruang flamboyan 3 RSUD Kota Salatiga. Pengambilan kasus dilakukan pada tanggal 20 samai 25 Februari 2021. Instrumen dalam mengevaluasi hasil tindakan ROM aktif genggam bola pada studi kasus ini menggunakan lembar obervasi sebelum

(5)

dan sesudah dilakukannya tindakan.

Sebelum dilakukan tindakan, subjek dilakukan pengukuran awal atau pre test untuk menentukan nilai awal kekuatan otot dengan menggunakan skala MMT.

Kemudian dilakukan intervensi dengan memberikan latihan ROM aktif genggam bola karet dan bola tenis, setelah dilakukan tindakan maka dilakukan kembali pengukuran kekutan otot atau post test dengan menggunkan skala MMT. Dilakukannya pre dan post test ini untuk menunjukkan apakah adanya peningkatan kekuatan otot pada pasien stroke non hemoragik dengan kelemahan pada anggota gerak. Latihan ROM aktif genggam bola dilakukan sebanyak 3 kali sehari dalam 5 hari . Pengambilan data studi kasus ini dilakukan dengan menggunakan metode observasi dan wawancara. Dilakukan pada tanggal 21 Februari - 25 Februari2021, di Rumah Sakit Umum Daerah Kota Salatiga.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Subjek dalam studi kasus adalah Tn.B berusia 57 tahun dengan Stroke Non Hemoragik. Dalam studi kasus ini penulis berfokus pada peningkatan kekuatan otot dengan menggunakan metode ROM aktif genggam bola.

Latihan ROM aktif menurut (Nurtanti &

Ningrum, 2018) merupakan latihan yang dilakukan untuk mempertahankan atau

memperbaiki tingkat kesempurnaan kemampuan menggerakkan persendian secara normal dan lengkap untuk meningkatkkan massa otot dan tonus otot. Latihan menggengam bola merupakan salah satu bentuk olahraga khusus yang dapat meningkatkan kekuatan otot ekstremitas atas dan dapat memulihkan fungsi tangan dengan menggunakan benda berbentuk bulat seperti bola karet dan bola tenis (Maryannto et al., 2018). Berikut hasil penelitian dari latihan ROM aktif genggam bola : Evaluasi dilakukan selama 5 hari berturut-turut. Hari pertama sabtu 21 februari 2021, S: keluarga pasien mengatakan pasien tidak dapat menggerakan anggota gerak tubuh bagian kanan. O : pasien tamapak lemah, kekuatan otot tanggan kanan (3) , kaki kanan (3). Pada hari ketiga tanggal 23 februari 2021 pasien menunjukkan perkembangan yang baik yaitu pasien mengalami peningkatakan kekuatan otot pada tanggan kanan skala otot menjadi (4) dan kaki kanan menjadi skala (4).

(6)

Hasil evaluasi masalah keperawatan dengan diagnosis gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan penurnan kekuatan otot pada Tn.B dibangsal Flamboyan 3 RSUD Kota Salatiga yang dilakukan selama 5x24 jam didapatkan hasil pada masalah utama yaitu gangguan mobilitas fisik dapat teratasi dan sesuai dengan tujuan dan kritria hasil yang sudah diharapkan. Didapatkan data subjektif S: keluarga pasien mengatakan pasien sudah mulai aktif menggerakkan tangan kanan nya. Data objektuf O : Paien tampak kooperatif, pasien dapat melakukan latihan selama 2 menit dengan baik sesuai dengan arahan penulis, hasil kekuatan otot tangan kanan pasien Pagi (pk 09.00 WIB, pre : 4, post : 4), (pk 12.00 WIB , pre :4, post :4), (pk 15.00 WIB, pre :4, post :4) . A: masalah gangguan mobilitas fisik teratasi, P:

Hentikan intervensi pasien pulang (edukasi ke keluarga untuk melakukan latihan genggam bola dirumah).

Setelah dilakukan tindakan keperawatan sesuai jurnal penelitian yang telah dilakukan oleh (Budi et al., 2019)

didapatkan hasil bahwa latihan genggam bola dapat meningkatkan kekuatan otot pasien. Peningkatan kekuatan otot tangan kanan pasien adalah dari skala 3 menjadi 4 dihari ke tiga setelah dilakukannya latihan ROM akif genggam bola. Hal ini sesuai dengan penelitian yang telah dilakukan oleh (Maryanto et al., 2018) bahwa ada kefektifan dengan pemberian latihan genggam bola pada pasien stroke yang dilakukan selama 20 hari dalam meningkatkan kekuatan otot pasien stroke.Pemberian latihan ROM aktif genggam bola yang dilakukan penulis didapatkan peningkatan kekuatan otot tangan pasien. Sehingga penulis berpendapat bahwa latihan ROM aktif genggam bola efektif diberikan pada pasien stroke.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan mengenai pengaruh latihan ROM aktif genggam bola pada pasien stroke non hemoragik di ruang flamboyan 3 di RSUD Kota Salatiga, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa latihan ROM aktif genggam bola berpengaruh terhadap peningkatan kekuatan otot yang pada tangan kanan dan kaki kanan dimana awalnya kekuatan otot pasien dari skala 3 dan setelah diberikan latihan menjadi skala 4.

(7)

SARAN

Hasil studi kasus ini dapat digunakan untuk pengembangan ilmu keperawatan mengenai intervensi non farmakologi

berupa latihan ROM ( Range Of Motion )aktif genggam bola untuk meningkatkan derajat kekuatan otot pada pasien stroke non hemoragik yang mengalami kelemahan anggota tubuh (hemiplegia) . DAFTAR PUSTAKA

Aji Seto Arifianto, Moechammad Sarosa, O. S. (2014). Klasifikasi Stroke Berdasarkan Kelainan Patologis dengan Learning Vector Quantiation. Eeccis, 8(2), 117–122.

Azizah, N., & Wahyuningsih, W. (2020).

Genggam Bola Untuk Mengatasi Hambatan Mobilitas Fisik Pada Pasien Stroke Nonhemoragik.

Jurnal Manajemen Asuhan Keperawatan, 4(1), 35–42.

https://doi.org/10.33655/mak.v4i1.

80

Budi, H., Suryarinilsih, Y., & Padang, P.

K. (2019). PENGARUH LATIHAN RANGE OF MOTION ( ROM )

MENGGENGGAM BOLA

TERHADAP KEKUATAN OTOT EKSTREMITAS ATAS PASIEN STROKE ISKEMIK. 14(2), 79–86.

Faridah, U., Sukarmin, & Sri, K. (2018).

Pengaruh Rom Exercise Bola Karet Terhadap Kekuatan Otot Genggam Pasien Stroke Di Rsud Raa Soewondo Pati. Indonesia Jurnal Perawat, 3(1), 36–43.

Irfan. (2010). Fisioterapi bagi Insan Stroke. Journal of Physical Therapy Science.

Kementrian Kesehatan RI. (2018).

Laporan Riskesdas 2018. Laporan Nasional

RIskesdas2018,53(9),181–222.

http://www.yankes.kemkes.go.id/a ssets/downloads/PMK No. 57 Tahun 2013 tentang PTRM.pdf Maryanto, Q., Herisanti, W., Surabaya,

K., Surabaya, K., & Surabaya, K.

(2018). The Effect Of Combination.

7642, 113–123.

Nurtanti, S., & Ningrum, W. (2018).

Efektiffitas Range Of Motion (ROM) Aktif Terhadap Peningkatan Kekuatan Otot Pada Penderita Stroke. Jurnal Keperawatan GSH, 7(1), 14–18.

Tarwoto. 2015. Keperawatan Medikal Bedah Gangguan Sistem Persarafan. Jakarta : Salemba Medika.

(8)

Referensi

Dokumen terkait

Kekuatan Otot Ekstremitas Sebelum Diberikan Latihan ROM Pasif Pada Pasien Stroke Dengan Hemiparase Di Paviliun Flamboyan RSUD Jombang, Hasil ini menunjukan Mean

quasi eksperimen tentang Pengaruh Latihan Range Of Motion (ROM) Pasif Terhadap Peningkatan Kekuatan Otot Pada Pasien Stroke Non Hemoragik Di Ruang Rawat Inap

KESIMPULAN DAN SARAN Pengelolaan asuhan keperawatan pada pasien Stroke Non Hemoragik dalam pemenuhan kebutuhan aktivitas dan latihan : mobilisasi dengan masalah keperawatan hambatan

Hasil studi menunjukkan bahwa pengelolaan asuhan keperawatan pada pasien Stroke Hemoragik dalam pemenuhan kebutuhan aktivitas dan latihan dengan masalah keperawatan gangguan mobilitas

Hasil dari studi kasus ini menunjukkan penurunan frekuensi pernafasan dari 26 x/menit menjadi 20x/menit selama 3 kali latihan dengan selang waktu selama 30 menit, sehingga teknik

KESIMPULAN Berdasarkan hasil studi kasus dan pembahasan mengenai terapi pursed lip breathing maka dapat ditarik kesimpulan bahwa terapi pursed lip breathing sangat efektif dalam

HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan pengkajian yang telah dilakukan pada studi kasus ini penulis mengambil salah satu keluarga sebagai subjek studi kasus yang sesuai kriteria yang telah

Prinsip dari pembahasan ini dengan memperhatikan aspek tahapan proses keperawatan antara lain pengkajian, diagnosa keperawatan, intervensi keperawatan, implementasi dan