PENYUNTINGAN
Dosen Pengampu : Dr. Kundharu Saddhono, S.S, M.Hum.
Disusun Oleh:
Nur Aini K1217055/A
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA INDONESIA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA
2019
“Penyuntingan”
Di zaman milenial ini, kita akan menemukan berbagai macam informasi dengan sangat mudah, baik cetak maupun noncetak. Setiap orang pasti sudah mengetahui bahwa kita dikelilingi oleh informasi yang bernakeragam. Informasi dalam bentuk cetak misalnya ada koran, surat kabar, majalah, dan lain sebagainya. Sedangkan noncetak dapat melalui televisi, radio, maupun internet.
Hal ini merupakan sebuah bukti bahwa sebuah informasi berkembang sangat mudah dan cepat.
Sehingga dapat tersampaikan kepada masyarakat secara lebih cepat juga. Namun, sebagai penerima informasi kita harus menelaah segala bentuk informasi tersebut dengan baik dan bijak.
Dari hal di atas sangat diperlukan sebuah pembelajaran mengenai penyuntingan, di mana penyuntingan merupakan segala sesuatu yang berhubungan dengan pekerjaan menyunting, pengeditan (KBBI). Selain itu penyuntingan juga dapat diartikan sebuah proses atau cara membaca, mencermati, hingga memperbaiki sebuah naskah atau bacaan yang telah dikirim oleh seorang penulis sampai suatu naskah itu siap untuk dimuat dan diterbitkan oleh sebuah penerbit.
Dan untuk media noncetak, penyuntingan merupakan sebuah proses membaca, mencermati, hingga memperbaiki sebuah naskah yang dikirim oleh penulis sampai naskah tersebut siap untuk disiarkan dan ditayangkan oleh media visual mapun audio. Dalam penyuntingan pun seseorang juga sekaligus dapat mempelajari tentang bahasa. Di mana pembelajaran bahasa memiliki fungsi sebagai sarana untuk meningkatkan kemampuan berpikir, mengungkapkan gagasan, menyampaikan informasi tentang suatu peristiwa, dan untuk memperluas wawasan (Cahyaningrum, 2018). Tulisan diturunkan atau simbol yang menggambarkan grafik yang menggambarkan bahasa yang dapat dipahami oleh seseorang sehingga orang lain dapat membaca dan memahami simbol-simbol grafik (Saddhono, 2017).
Penyuntingan sendiri memiliki beberapa tujuan antara lain, membuat naskah bersih dari kesalahan kebahasaan dan isi materi dengan persetujuan penulis naskah, serta menjadi jembatan (mewakili penerbitatau penyelenggara program siaran) yang dapat menghubungkan ide dan gagasan penulis dengan pembaca, pendengar, dan penonton. Mengingat banyaknya aspek yang dapat diteliti dalam kegiatan analisis kesalahan berbahasa, maka tidak semua aspek digunakan oleh peneliti dalam penelitian ini (Ariningsih, 2012). Jadi, Tugas dari seorang penyunting adalah untuk memperbaiki naskah, sehingga sebuah naskah menjadi lebih mudah dan enak untuk dibaca, dipahami, serta tidak membuat pembaca bingung.
Menjadi seorang penyunting bukanlah hal yang mudah. Tidak semua orang dapat menjadi penyunting naskah, karena utuk menjadi seorang penyunting harus memenuhi beberapa persyaratan. Seperti penguasaan ejaan, di mana seseorang harus mampu menguasai kaidah ejaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Ia harus paham kapan saatnya menggunakan huruf kapital, kapan waktunya menggunakan pemenggalan kata, tanda baca, dan lain sebagainya.
Syarat yang selanjutnya adalah memiliki kepekaan bahasa, maksudnya ialah ia harus tahu mana kalimat yang kasar dan mana kalimat yang halus, mana kalimat atau kata yang harus dihindari dan digunakan. Syarat yang ketiga adalah memiliki pengetahuan luas dengan cara memperbanyak membaca buku, membca koran, majalah, serta menyerap informasi dari media audio-visual. Seorang penyunting juga harus mempunyai ketelitian dan tingkat kesabaran yang ekstra. Meskipun sudah capai bekerja, mengantuk, ia harus tetap teliti dalam menyunting sebuah naskah karena jika tidak, akan terjebak dalam hal-hal yang dapat merugikan dirinya di kemudian hari (Eneste, 2017). Selainitu adanya ketepatan kalimat juga sangat penting untuk diperhatikan guna mempermudah memahami suatu teks atau bacaan. Ketepatan susunan kalimat dapat diwujudkan bila seseorang mempunyai penguasaan kalimat efektif yang baik.Kalimat efektif adalah kalimat yang singkat, padat, dan jelas (Hermawan, 2004:132 dalam Oktaria, 2017).
Menjadi seorang penyunting juga harus memperhatikan kode etik sebelum mulai menyunting sebuah naskah. Agar tidak terjadi persoalan tau permsalahan yang dikhawatirkan akan muncul ketika tidak memperhatikan kode etik yang berlaku. Yang pertama, penyunting naskah wajib mencari informasi mengenai penulis naskkah sebelum memulai menyunting naskah. Cara yang dapat ditempuh yaitu dengan menghubungi pengarang secara langsung baik dengan tatap muka maupun melalui media sosial. Kode etik yang kedua berisi bahwa penyunting naskah bukanlah penulis naskah, jadi penyunting sebaiknya tidak mengambil alih tanggung jawab penulis. Yang ketiga adalah penyunting wajib menghormati gaya penulis naskah, yang keempat, penyunting naskah wajib merahasiakan informasi yang terdapat dalam naskah yang disuntingnya, artinya informasi itu hanya boleh diketahui penulis dan penyuntinng/penerbit.
Yang kelima adalah penyunting naskah wajib mengonsultasikan hal-hal yang mungkin akan diubah dalam naskah. Dan yang terakhir adalah penyunting naskah tidak boleh menghilangkan naskah yang akan, sedang, atau telah disuntingnya (Eneste, 2017). Penyunting harus menyimpan naskah-naskah tersebut dengan baik.
Dari pemaparan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa penyuntingan adalah sebuah proses dan cara membaca, mengamati, hingga memperbaiki sebuah naskah dari seorang penulis sebelum dirtbitkan mapun ditayangkan. Dalam hal ini menjadi seorang penyunting bukanlah hal yang mudah karena harus mememnuhi beberpa persyaratan yang ada seperti, menguasai kaidah ejaan bahasa Indonesia, memiliki kepekaan bahasa, memiliki pengetahuan luas, dan mempunyai ketelitian dan tingkat kesabaran. Selain itu penyunting juga harus senantiasa memperhatikan kode etiknya, seperti , penyunting naskah wajib mencari informasi mengenai penulis naskkah sebelum memulai menyunting naskah, penyunting naskah bukanlah penulis naskah, dan lain sebagainya.
Daftar Pustaka
Ariningsih, N.E., Saddhono, K. (2012). Analisis Kesalahan Berbahasa Indonesia dalam Karangan Eksposisi Siswa Sekolah Menengah Atas.. BASASTRA Jurnal Penelitian Bahasa, Sastra Indonesia dan Pengajarannya, 1 (1). 40-53.
Cahyaningrum, F., Andayani., & Saddhono, K. (2018). Peningkatan Keterampilan Menulis Argumentasi Melalui Model Think Pair Share dan Media Audiovisual pada Siswa Kelas X-10 SMA Negeri Kebakkramat. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, 3 (1). 44-55. DOI:
http://dx.doi.org/10.2432%2Fjpnk.v3i1.605
Eneste, P. (2017). Buku Pintar Penyuntingan Naskah Edisi Ketiga. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Oktaria, D., Andayani,. & Saddhono, K. (2017). Penguasaan Kalimat Efektif sebagai Kunci Peningkatan Keterampilan Menulis Eksposisi. Jurnal Metalingua, 15 (2). 165-177.
DOI:http://dx.doi.org/10.26499/metalingua.v15i2.63
Saddhono, K. (2017). The Argumentative Writing Skill with Multicultural Awareness in Indonesian Language for Foreign Learners. . PONTE: International Scienific Researches Journal., 72 (4). 108-116. https://doi.org/10.31219/osf.io/5fgeb